Yesus Tokoh Pendoa

Suri teladan doa bagi semua orang tetap Yesus sendiri. Pada umur dua belas tahun Ia sudah berkata kepada Maria-dan Yusuf, bahwa Ia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Hubungan dengan Allah sebagai Bapa-Nya menentukan seluruh hidup-Nya dan terungkap dalam doa-doa-Nya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, bahwa semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Betapapun sibuk hidup-Nya dengan pewartaan dan pelayanan orang, Ia selalu menemukan kesempatan untuk “naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri” (Mat 14:23). Setiap saat penting dalam hidup-Nya disertai doa: pembaptisan-Nya (Luk 3:21), panggilan para rasul-Nya (Luk 6:12), pengakuan oleh para murid (Luk 9:18), dan terutama sengsara dan wafat-Nya (Mat 26:36). Seluruh hidup Yesus ditentukan oleh kesatuan-Nya dengan Allah, Bapa-Nya tercinta yang tidak hanya dihayati dalam hati, tetapi juga tampak di luar, seperti pada pemuliaan di atas gunung. Waktu itu Yesus juga “naik ke atas gunung untuk berdoa” (Luk 9:28). Doa merupakan penghayatan kesatuan sempurna dengan Bapa. Di kebun zaitun Yesus berulang kali mencoba menemukan ketenteraman hati dalam kesatuan dengan Bapa, “Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap-tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut” (Ibr 5:7). Akhirnya, Ia menemui kedamaian juga dalam ketaatan total kepada Bapa. “Oleh Roh yang kekal Ia mempersembahkan diri kepada Allah” (Ibr 9:14). Roh Allah memampukan Dia agar senantiasa menemukan kesatuan dengan Bapa: “Bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Luk 10:21; bdk. Yoh 11:41). Memang “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38; lih. Mat 4:1; Luk 4:1.14). Maka dengan sewajarnya Roh Kudus disebut “Roh Yesus” (Kis 16:7; lih. Rm 8:9; Flp 1:19; 1Ptr 1:11). Yesus, yang oleh Roh selalu bersatu dengan Allah, oleh Roh yang sama selalu didorong mencari tempat dan kesempatan berdoa. Doa menduduki tempat sentral dalam hidup Yesus. Dan kepada orang lain Ia “menegaskan, bahwa harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1).