Yesus Pembawa Berita Gembira

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (= Kabar gembira)” (Mrk 1:15).

Sebelum ada Injil mengenai Yesus, telah diwartakan Injil oleh Yesus, yakni kabar gembira mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera. Yesus tidak hanya mengatakan hal itu, Ia juga mulai melaksanakannya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28).

Mukjizat Yesus adalah pewartaan nyata bahwa Kerajaan Allah telah datang. Dalam arti sesungguhnya mukjizat bukanlah “bukti” untuk mendukung pewartaan Yesus. Ketika kaum Farisi minta bukti yang nyata, Yesus malah menolak membuat mukjizat (lih. Mrk 8:11 dsj.), Yesus juga tidak pernah melakukan mukjizat demi diri-Nya sendiri (perhatikanlah ejekan musuh-musuh-Nya di bawah salib: Mat 27:42-23 dsj. Dan juga jawaban Yesus kepada setan di padang gurun: Mat 4:1-11 dsj.). Mukjizat itu tanda Kerajaan Allah, bukan bukti yang harus mendasari wibawa Yesus. Kerajaan Allah berarti turun-tangan Allah, tidak untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Maka dalam mukjizat Yesus, khususnya dalam mukjizat penyembuhan, kasih dan perhatian Allah itu ternyatakan.

Oleh karena itu dalam Injil, mukjizat amat kerap dihubungkan dengan iman. Sering kali Yesus bersabda, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (lih. Mrk 5:34 dsj.; 10:52 dsj.; Mat 9:29; Luk 17:19). Ini tidak berarti bahwa iman adalah syarat untuk mukjizat, sebab Yesus mengatakan itu sesudah menyembuhkan orang. Dari pihak lain, kalau tidak ada iman, “Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun” (Mrk 6:5 dsj.).

Dalam iman, orang mempersatukan diri dengan Yesus dan itu berarti bahwa Kerajaan Allah mulai berkuasa di dalam dirinya. Maka yang penting di sini adalah iman Yesus sendiri, sebagaimana tampak dari Mrk 9:22-23: Atas pertanyaan orang adakah Yesus “dapat berbuat sesuatu”, Yesus menjawab bahwa “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” dan yang dimaksud adalah diri-Nya sendiri (lih. juga Ibr 12:2). Oleh karena itu Ia senantiasa mendorong orang supaya percaya, “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberikan iman kepada orang. Iman tersebut berkaitan dengan pengharapan dan berlawanan dengan fatalisme (nasib). Iman yang berarti kekuatan, karena percaya akan kebaikan Allah.

Yesus bersikap optimis dan menafsirkan tanda-tanda zaman (yang serba menakutkan pada waktu itu, lih. Luk 3:7-9 dsj) sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah (lih. Mat 11:4-5). Yesus percaya akan kedatangan Kerajaan Allah, Ia percaya akan Allah yang datang untuk menyelamatkan. Allah yang diimani Yesus ialah Bapa yang mempunyai “bela rasa” (lih. Luk 15:11-20). Maka Yesus dapat memastikan bahwa Kerajaan Allah akan datang, bahwa manusia akan percaya terhadap kebaikan Allah, dan dengan demikian kebaikan akan menang atas kejahatan. Sebagai ganti kehancuran, Kerajaan Allah akan datang. Allah akan menampakkan kebaikan-Nya, kalau manusia mau menerima-Nya.

Yesus mengajak orang supaya percaya akan kebaikan Allah, untuk beriman dan berbela rasa. “Segala sesuatu mungkin bagi Allah” kata Yesus (Mrk 10:27). Karena itu juga “segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). Yesus mau menularkan iman-Nya yang percaya akan daya kekuatan Kerajaan Allah, dan sekaligus mengajak orang meneladan Allah dalam bela rasa-Nya: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:36).

Yesus mencita-citakan masyarakat yang tidak berdasarkan kuasa. Ia mengharapkan supaya Kerajaan Allah bisa menjadi daya kekuatan Allah dalam hidup sosial, melalui iman dan bela rasa, khususnya dengan menghapuskan penindasan terhadap orang kecil (baik oleh orang asing maupun oleh para penguasa bangsa Yahudi sendiri). Dua kali Yesus menolak menerima kuasa politik (Yoh 6:15 dan Mrk 8:32 dsj.). Ia berpegang pada prinsip bahwa dunia baru harus datang dengan iman dan bela rasa. Untuk itu Ia memberi kesaksian sampai mati. Ia tidak hanya menolak kuasa politik, tetapi sama sekali tidak pernah mau memakai atau menuntut wewenang atas dasar kekuatan manapun. Ia mau menjadi senasib dengan orang kebanyakan, dan oleh karena itu Ia selalu tampil sebagai manusia biasa saja.

Wibawa Yesus tidak tergantung pada gelar atau kedudukan tertentu, melainkan pada pribadi-Nya, pada cara Ia bertindak dan berbicara. Yesus itu orang yang bebas-berani. Ia tidak tergantung pada siapa pun dan tidak mau menyesuaikan diri begitu saja. Ia juga tidak mau menerima gelar kehormatan. Ia hanya menuntut bahwa orang taat kepada kebenaran Allah, sama seperti Dia sendiri taat kepada sabda dan perintah Bapa. Oleh karena itu Yesus tidak pernah membela diri, tetapi selalu mengkonfrontasikan orang dengan kebenaran yang dibawa oleh-Nya.