Yesus Kristus dan Karya Penyelamatan-Nya

Bagi orang kristen paling penting bukanlah bagaimana orang Kristen mengungkapkan atau menyatakan iman mereka, melainkan bagaimana menghayatinya dan terutama apa isi iman Kristen itu?

Dalam iman Kristen ada tiga hal yang dapat dibedakan, yaitu pengalaman, pandangan, dan praktik kehidupan. Dilihat dari sudut lahiriah ada banyak hal yang serupa antara agama Kristen dan agama-agama yang lain. Perwujudan iman dalam hidup sehari-hari tentu saja amat sedikit memperlihatkan ciri-ciri yang khas Kristiani, sebab kekhasan itu terdapat tidak pertama-tama dalam bentuk lahiriahnya, tetapi dalam penghayatan batin.

Iman Kristen adalah pertama-tama suatu pengalaman pribadi. Itu tidak berarti bahwa iman Kristen ialah pengalaman batin melulu. Dasarnya ialah peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus Kristus dan kesaksian angkatan murid yang pertama mengenai hal itu. Oleh karena itu St. Paulus juga berkata, “Iman timbul dari pendengaran” (Rm 10:17). Tanpa pewartaan mengenai Yesus Kristus, tidak mungkin ada iman akan Yesus Kristus.

Isi pokok pewartaan mengenai Yesus Kristus dan karya-Nya; tetapi bukan hanya pewartaan dari kelompok murid yang pertama, karena sejarah Kristen tidak berhenti dengan wafat dan kebangkitan Kristus, melainkan berjalan terus sampai hari ini.

Iman Kristen sebagaimana diwartakan oleh Gereja perdana dirumuskan kembali, terus-menerus sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Oleh karena itu, tidak hanya Kitab Suci, khusus: nya Perjanjian Baru, yang menjadi pegangan orang Kristen dalam, penghayatan iman. Rumusan oleh Gereja selanjutnya, lebih-lebih yang bersifat “resmi” (konsili, paus, dsb.), juga perlu diperhatikan seluruhnya. Sama seperti pembahasan mengenai Allah dan agama (bagian kedua) bertitik tolak pada rumusan syahadat, begitu juga perumusan iman dari Konsili Nisea dan Konstantinopel itu akan menjadi titik pangkal uraian ini.

Perlu diperhatikan bahwa iman Kristen bukanlah suatu rumus yang otomatis sudah jelas. Yang pokok ialah peristiwa dan pengalaman, yang sedapat-dapatnya dirangkum dan ditegaskan dalam rumusan iman. Oleh karena itu, rumus-rumus gerejawi itu selalu harus dilihat dalam kerangka kisah Perjanjian Baru, yang juga perlu disoroti dan diterangi oleh wahyu Tuhan dalam Perjanjian Lama. Kisah Injil tidak berarti “riwayat hidup” Yesus, melainkan pengalaman iman para murid dalam pergaulan dan pergumulan bersama Yesus yang diakui sebagai Kristus.

Penjelasan mengenai Yesus Kristus dan karya-Nya, sebagaimana dilihat dan dihayati oleh para murid-Nya. Yang disajikan bukan sejarah saja (walaupun ada banyak unsur sejarah didalamnya) atau ajaran iman saja (walaupun hal yang pokok adalah penghayatan iman, baik dari kerabat Yesus yang pertama maupun dari Gereja selanjutnya). Pembaca diajak melihat pribadi dan hidup Yesus Kristus, baik dengan budi maupun dengan hati. Tentu saja diharapkan bahwa di dalam pribadi dan hidup Yesus Kristus itulah pembaca dapat menemukan makna hidup. Yesus Kristus itu pemberi makna hidup. Ia adalah Penyelamat hidup kita.

Semua manusia mengharapkan juru selamat bagi hidupnya. Hampir setiap suku dan bangsa memiliki mitologi tentang seorang penyelamat. Misalnya pada suku Jawa ada Ratu Adil, pada suku Irian ada Fanseren Manggudi, dsb. Harapan, akan seorang juru selamat merupakan suatu impian universal.

Jadi, adakah Yesus Kristus dapat memenuhi harapan universal umat manusia itu? Siapa sebenarnya Dia? kita akan mencoba lebih mengenal-Nya