Yesus disalibkan, wafat, dan dimakamkan

Yesus rupanya sadar bahwa “bencana” yang maha dahsyat akan menimpa-Nya tanpa ampun. Sebagai manusia Ia tentu takut, bahkan takut sekali. Ia sedemikian takut sampai keringat dingin mengucur bercampur darah. Pada saat itulah, di taman Zaitun, tercipta sebuah doa yang paling indah yang pernah diucapkan oleh seorang anak manusia di bumi ini: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).

Lalu Yesus dikhianati oleh sahabat-Nya dengan ciuman. Ia dijual dengan harga 30 perak. Karena sudah dijual, Ia ditangkap. Ia dihadapkan ke pengadilan agama. Ia didakwa bertubi-tubi, ia berdiri di sana tanpa seorang pembela pun. Malahan di luar pengadilan itu, seorang sahabat kepercayaan-Nya dengan bersumpah mengatakan secara terbuka bahwa ia tidak mengenal Yesus. Apa yang menimpa Yesus pada malam itu? Bencana tidak hanya berhenti di situ saja. Atas nama seluruh bangsa, para rohaniwan menyerahkan Dia kepada pemerintah penjajah supaya diadili. Mereka sudah mengatur skenarionya: Yesus harus mati. Dan itu terjadi. Pengadilan di depan Pilatus itu hanya untuk memenuhi formalitas saja. Semua sudah diatur. Pemerintah penjajah pun tidak keberatan. Demi kepentingan politik dan stabilitas, apalah artinya satu nyawa dihilangkan! Yesus akhirnya dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaan hukuman mati itu pun berjalan mulus. Itulah akhir perjalanan hidup Yesus.

Apa yang anda pikirkan?