Warta Malaikat kepada Maria

Dengan singkat Lukas menceritakan peristiwa kelahiran Yesus:

“Ketika mereka di situ (Betlehem), tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:6-7).

Tekanan ada pada kemiskinan-Nya sebagai anak orang miskin (lih. juga ay. 12 dan 16). Mengenai keagungan-Nya sebagai Anak Allah, Lukas bercerita dalam warta malaikat kepada Maria, Luk 1:26-38. Kisah itu sebetulnya semacam kisah panggilan, serupa dengan warta kepada Zakharia (Luk 1:5-25), yang dirumuskan dengan gaya Perjanjian Lama.

Misalnya, warta kepada Hagar (Kej 16:11-12) ataupun Sara (Kej 17:19-20), juga kepada ibu Simson (Hak 13:3-5) dan terutama nubuat kepada raja Ahas (Yes 7:14-17); juga Hak 6:14-18: Panggilan Gideon” (bdk. Kel 3:10-12: Musa, dan Yer 1:4-12: Panggilan Yeremia). Penampakan malaikat juga mirip dengan Perjanjian Lama, khususnya Dan 8:16-18; 9:20-23 dan (terutama) 10:8-21.

Malaikat masuk, lalu terjadilah dialog dengan Maria dalam dua tahap: “Engkau akan mengandung dan melahirkan,” dan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Dalam jawaban malaikat kepada Maria terungkap seluruh misteri kesatuan Kristus dengan Allah, sebab warta malaikat tidak lain daripada wahyu Allah sendiri.

Kata malaikat berarti “utusan”, Sering kali mereka juga disebut “anak-anak Allah” atau bahkan “ilah”. Mereka diutus dengan aneka ragam tugas, sesuai dengan kebutuhan. Sering mereka menyampaikan wahyu Allah. Karena mereka tampil sebagai utusan Allah, maka mengenai para malaikat sendiri tidak dikatakan banyak dalam Kitab Suci. Dan ternyata sering tidak jelas perbedaan antara malaikat dan Allah sendiri (lih. Kej 16:7-11 dan 13; begitu juga Kej 21:15-21; 22:11-12; 31:11-13; Kel 3:2-6; Hak 6:11″24 dan banyak teks lain). Dengan demikian kiranya mau dinyatakan bahwa Tuhan memang berbicara kepada manusia, tetapi dari pihak lain manusia tidak dapat melihat Allah secara langsung. Kadang-kadang Tuhan menyapa manusia secara langsung (lih. Kej 15), di lain tempat hanya disebut malaikat-Nya (1Raj 19). Dalam Kel 14:19 malaikat Tuhan tampaknya sama dengan “tiang awan”, yang tidak berbeda dengan Tuhan sendiri (13:21). Tetapi dalam Kel 33:2-3 Tuhan bersabda: “Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, sebab Aku (sendiri) tidak akan berjalan di tengah-tengahmu”. Malaikat tidak pernah bekerja sendiri, tetapi selalu sebagai utusan Allah untuk menyampaikan sabda atau rahmat dan perlindungan Allah.

Dalam warta pertama, yang menyatakan bahwa Maria akan menjadi ibu, juga dijelaskan bagaimana anaknya nanti:

“Ia akan menjadi besar .
dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi,
Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa
leluhur-Nya,
dari ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya
dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Yesus disebut “besar” karena Ia akan menjadi Mesias yang dinanti-nantikan. Malaikat menyampaikan kepada Maria, bahwa apa yang dijanjikan kepada Daud (2Sam 7:13-16; lih. Yes 9:6) sekarang akan menjadi kenyataan. Maka “Anak Allah” juga masih harus diartikan sesuai dengan 2Sam 7:14 sebagai “anak mas” Allah, yang dikasihi dan dirahmati.

Reaksi Maria atas sabda malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami”. Jawab malaikat,

“Roh Kudus akan turun atasmu, dan
Kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau;
sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Maria bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Ini mustahil. Malaikat menjawab: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (ay. 37). Ini akan terjadi oleh kuasa Allah, “kuasa Allah akan menaungi engkau”. Dengan perkataan lain, “Roh Kudus akan turun atasmu”. Roh Kudus sama dengan kuasa Allah (seperti dikatakan dalam Kis 1:8). Sebab Anak ini akan lahir karena kuasa Allah, maka Ia juga akan menjadi “kudus” sebagai sifat Allah yang khas (lih. Hos 11:9; Yes 55:5). Oleh karenanya, kata “Anak Allah” tidak hanya berarti Mesias, melainkan juga Dia yang boleh mengambil bagian dalam kekudusan Allah sendiri (bdk. Mrk 1:24 = Luk 4:34; Yoh 6:69; Kis 3:14; Why 3:7).

Apa yang anda pikirkan?