Wahyu

Pada awal surat Ibrani dikatakan, “Setelah, pada zaman dahulu, Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Banyak orang Katolik menaruh perhatian penuh kepada bagian kedua ayat ini dan sedikit melupakan bagian yang pertama. Padahal amat perlu memperhatikan sabda Allah “dengan perantaraan nabi-nabi” guna memahami wahyu Allah “dengan perantaraan Anak-Nya”. Yesus sendiri berkata: “Kamu sesat, karena kamu tidak mengerti Kitab Suci” (Mrk 12:24), dan apa yang dimaksudkan-Nya tentu saja Kitab Suci Perjanjian Lama, sebab pada waktu itu belum ada Perjanjian Baru. Paulus juga menegaskan bahwa sejarah Israel “dituliskan sebagai peringatan bagi kita, yang telah mengalami zaman akhir” (1Kor 10:11). Dan Konsili Vatikan II menyatakan, “Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama terbuka dalam Perjanjian Baru”. (DV 16). Secara khusus Konsili mengajarkan bahwa Perjanjian Lama “mengungkapkan kesadaran yang hidup akan Allah” serta “mencantumkan ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah” (DV 15). Perjanjian Baru mengandaikan Perjanjian Lama. Oleh karena itu, uraian haruslah dimulai. dengan sabda Allah yang disampaikan “dengan perantaraan nabi-nabi”.

Sejarah pewahyuan Allah dalam Perjanjian Lama dimulai dengan pewahyuan kepada Abraham.

“Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur” (Kej 12:1).

Tidak dikatakan, bagaimana Tuhan bersabda kepada Abraham. Hanya dikatakan, bahwa Tuhan bersabda dan bahwa Abraham taat. “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kej 12:2). Abraham pergi ke dalam kegelapan, meninggalkan tanah air dan pergi ke tempat yang tidak dikenal olehnya, tanpa bekal yang lain kecuali sabda Tuhan, Abraham yakin betul akan sabda Allah itu. “Percayalah Abraham kepada Tuhan” (Kej 15:6).

Allah bersabda kepada Abraham, maka Abraham tidak hanya tahu mengenai Allah secara samar-samar saja. Abraham bertemu dengan Allah dan ia percaya kepada-Nya. Keesaan Allah bukan teori, melainkan menjadi nyata dalam tuntutan supaya menaati Tuhan secara penuh. Abraham tidak mengakui allah lain selain Tuhan. Seluruh hidupnya ditentukan oleh janji Allah itu. Misteri wahyu Allah dan iman Abraham adalah misteri pertemuan Abraham dengan Allah.

Sejarah pewahyuan itu berjalan terus, dari Abraham ke Musa, dari Musa ke zaman para raja dan nabi; sesudah pembuangan, melalui sejarah Yahudi sampai kepada Yesus dan Gereja, dan akhirnya sampai kepada kita. Pada akhir uraiannya mengenai hakikat wahyu, Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menjadi pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu”. Atau dengan kata-kata dari surat Ibrani,”Pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Dia yang adalah Anak-Nya” (Ibr 1:2). Dalam diri Yesus pewahyuan Allah mencapai puncak keakraban dan kedekatannya. Musa mengatakan dengan bangga, “Bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, dekat pada kita setiap kali kita memanggil kepada-Nya?” (Ul 4:7). Namun “dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang” (Ibr 10:1). Kesempurnaan dan kepenuhan wahyu datang dalam Yesus Kristus, yang tidak hanya “menyampaikan firm an Allah” (Yoh 3 :34), tetapi yang adalah “Firman Allah” sendiri (Yah 1:1; Why 19:13). Yesus adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23). Dalam diri Yesus Allah memberikan diri secara penuh kepada manusia. Maka Yesus adalah wahyu Allah yang penuh dan menentukan.

Menurut iman Kristiani Yesus tidak hanya menyampaikan wahyu Allah, tetapi mewujudkan wahyu itu dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Wahyu Allah bukanlah pertama-tama suatu ajaran, melainkan janji Allah mengenai karya keselamatan-Nya. Keselamatan itu tidak lain dari kesatuan Allah dengan manusia dan terlaksana dengan sepenuhnya dalam diri Yesus Kristus.

Apa yang anda pikirkan?