Tugas, Hak, dan Kewajiban Keluarga

Dalam pikiran dan bahasa kita, “keluarga” mempunyai banyak arti: tentu saja ibu dan ayah dan saudara-saudara sekandung termasuk “keluarga”; dengan mereka kita hidup bersama-sama sehari-hari. Keluarga juga bisa menjadi besar karena hadirnya sanak saudara lain. Namun “rasa sebagai saudara” tidak mungkin kita batasi pada mereka saja. Di hari-hari bahagia dan di hari-hari kesedihan, banyak saudara ikut gembira dan ikut berdukacita. Sebagaimana “keluarga besar” memberikan dukungan, demikian orang merasa wajib membantu mereka, biarpun mereka hanyalah saudara yang jauh. Bahkan bersama dengan orang yang sama sekali tidak dikenal, kita mencari penyelesaian “secara kekeluargaan” pada saat kita mengalami kecelakaan dan bersama-sama ditimpa musibah. Keluarga besar memberikan rasa aman karena di sana orang dapat memperoleh ruang gerak dan status sosial. “Keluarga inti” menjamin kepastian hidup, karena di sana tugas hidup sehari-hari, yang makin rumit itu, dapat diselesaikan. Kedua bentuk keluarga itu berkaitan satu sama lain.

Namun kini hubungan antara keluarga besar dan keluarga inti cenderung menjadi sulit, khususnya bila hubungan itu meminta terlalu banyak kurban. Rumah tangga, keluarga kecil, makin dibebani tugas-tugas yang baru, terutama tugas mendidik anak-anak. Kini makin mendesaklah bahwa ayah dan ibu menjalankan tugas, hak, dan kewajiban mereka dengan mendidik anak-anak, dan semua orang lain harus menghormati hak dan kewajiban itu. Di lingkungan hidup modern lebih kentara lagi betapa anak-anak “dipercayakan” pada tanggung jawab orangtua; untuk itu, anak-anak harus menghormati orangtua, ayah dan ibu harus mencintai anak-anak mereka dengan kasih tanpa pamrih. Dalam lingkungan kebudayaan tradisional, hidup sosial para petani di desa maupun hidup priyayi di kota langsung melibatkan anak-anak, sehingga dengan sendirinya anak-anak dapat belajar hidup. Tetapi dalam masyarakat modern, terutama di sekolah, anak-anak diberi waktu dan sarana khusus untuk belajar. Anak-anak harus mempersiapkan diri bagi tuntutan-tuntutan baru di dunia kerja, menjadi lincah dalam pergaulan dan komunikasi modern dan berani bertanggung jawab dalam politik. Di sekolah dan dalam organisasi-organisasi, melalui bacaan dan televisi, anak-anak dibina serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Oleh sebab itu, adalah tugas orangtua memperhatikan, agar melalui semua acara pendidikan itu anak-anak berkembang menjadi manusia cerdas dan penuh inisiatif guna membangun hidupnya sendiri di dunia modern. Sementara pengaruh sosial dan aturan negara makin menentukan pendidikan, makin perlulah menegaskan hak orangtua sebagai pendidik perdana dan utama.

Mereka berhak memilih sekolah yang sesuai bagi anak-anak mereka dan berhak mengarahkan pergaulan anak-anak dalam organisasi yang dapat membantu perkembangan si anak. Sebab hanya perhatian orangtua dapat menjamin bahwa pendidikan yang diberikan, baik di sekolah maupun di tempat lain, tidak dipakai untuk “mencetak” anak-anak mereka menjadi “siap pakai” demi kepentingan ekonomi atau politik. Adalah tanggung jawab utama orangtua, bahwa anak-anak mereka dapat membangun keyakinan nilai dan meneguhkan tekad moral serta memperoleh segala yang dapat membuat hidup menjadi bermakna dan bahagia. Khususnya pendidikan religius hendaknya dapat berlangsung terutama di dalam keluarga. Gereja dan jemaat setempat hanya dapat memberi dukungan supaya mengenal Allah dan hidup bersama dalam persaudaraan.

Hormat kepada orangtua tidak cukup diucapkan dengan bibir saja. Tuhan sendiri menuntut: “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Ams 3:9). Hormat harus mendapat bentuk yang nyata. Hormat yang basa-basi, baik terhadap Tuhan maupun terhadap orangtua, tidak ada artinya. Tuhan Yesus mencela orang Yahudi yang “mengesampingkan perintah Allah, supaya dapat memelihara adat-istiadat mereka sendiri” (Mrk 7:9). Sebagai contoh diberikan-Nya perintah yang ke-empat: “Musa telah berkata: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu!’ Tetapi kalau seorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: ‘Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk kurban,’ maka ia sudah tidak usah membuat apa-apa lagi untuk bapanya dan ibunya” (Mrk 7:10-12). Orang benci terhadap ayahnya dan tidak mau memberi uang kepadanya. Maka uang itu dipersembahkan kepada kenisah, yang akan dibangun kembali. Padahal pada zaman Yesus jelas bahwa kenisah tidak pernah akan dibangun kembali. Namun karena uang itu diserahkan dengan kaul, maka ayah tidak dapat menuntutnya lagi. Hal itu dicela oleh Yesus, sebab perintah Allah supaya menghormati orangtua mendahului segala macam kebaktian, khususnya kalau orang-tua sudah lanjut usia dan membutuhkan bantuan.

Hormat kepada orangtua tidak berarti sopan-santun atau rukun saja. Keluarga adalah sumber hidup untuk anak-anak dan ruang hidup untuk orangtua juga, khususnya kalau mereka sudah lemah. Oleh karena itu, perintah yang keempat tidak mengajarkan etika keselarasan dalam ketaatan melainkan suatu etika pemeliharaan dan perlindungan hidup, yang lahir dari rasa sayang akan hidup. Dalam hal ini bukan saja para anggota keluarga, melainkan juga mereka yang tidak mempunyai keluarga lagi – para janda dan anak-anak yatim piatu – harus memperoleh perlindungan (bdk. Yes 1:17-23; 10:1-2). Dalam Perjanjian Lama ada perintah bahwa gadaian orang miskin harus dibeli kembali oleh saudaranya yang mampu; utang orang miskin yang diperbudak harus dilunasi oleh keluarganya yang disebut “penebus” (lih. Im 25:25.47-49). Tuhan sendiri malah mau disebut “Penebus” bangsa-Nya (Ayb 19:25; Mzm 19:15; 78:35; Yer 50:34 dst.), karena Ia sayang akan hidup. Demi Tuhan itu, kita pun harus menyayangi hidup, sebab hidup merupakan alas yang paling dasar bagi segala kegiatan manusia. “Bukan orang-orang mati akan memuji Tuhan”, kata pemazmur (Mzm 115:17). Hidup harus dipelihara dahulu, baru orang boleh memikirkan hal lain. Oleh karena itu, perintah mengenai hidup mulai dengan firman menghormati orangtua, sebab di dalam keluarga orang belajar sayang akan hidup dan berkurban karena kasih.

Apa yang anda pikirkan?