Teologi

Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau, agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya untuk mengadakan penyelidikan, mengembangkan pemikiran serta mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenaran-kebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44).

Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan perumusan yang berasal dari refleksi teologis.

Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar, yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan. 812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas gerejawi.

Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu; perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja” (AG 22).

Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi. Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja, tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam rangka tugas kepemimpinan.