Tanggapan atas Teori Halusinasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Ada yang mengatakan bahwa jika kita melihat seseorang yang telah mati berjalan dan berbicara, bukankah kita akan lebih terima jika menyadari bahwa kita sedang mengalami halusinasi daripada menyadari bahwa apa yang kita lihat adalah yang sebenarnya? Lalu kalau demikian kenapa kita tidak berpendapat yang sama tentang Kebangkitan Yesus Kristus?

Berikut adalah tanggapan dan alasan kenapa Kebangkitan Yesus bukan halusinasi.

  1. Terlalu banyak saksi mata yang menyaksikan Yesus disalibkan dan Penampakan Yesus setelah bangkit. Halusinasi hanya bersifat pribadi, individual, dan subjektif. Sedangkan penampakan Yesus Kristus disaksikan oleh Maria Magdalena, kepada para murid (tanpa Tomas), kepada para murid lagi (dengan Tomas), kepada dua murid di Emaus, kepada para nelayan di pinggir danau, kepada Yakobus (saudara sepupu Yesus), dan juga kepada 500 (lima ratus) orang pada saat bersamaan (1 Korintus 15:3-8). Tiga saksi mata dan bahkan masih ada sekitar 500 saksi mata orang yang menyaksikan secara langsung, yang mengundang para pembaca untuk memeriksa kembali kebenaran cerita dengan bertanya kembali kepada para saksi mata tersebut.
  2. Para saksi mata adalah orang-orang yang dapat bertanggung jawab. Mereka sederhana, jujur, dan bermoral yang merupakan pihak pertama yang menyaksikan dan memiliki pengetahuan akan kebenaran fakta cerita mengenai Kebangkitan Yesus Kristus.
  3. 500 (lima ratus) orang saksi mata yang pernah melihat Yesus Kristus, pada tempat yang sama dan pada saat yang sama sangat kuat menjadi bukti fakta dibandingkan 500 (lima ratus) saksi mata secara pribadi (perorangan) atau disebut “halusinasi” pada tempat dan waktu yang terpisah masing-masing.
  4. Halusinasi biasanya terjadi dan berlangsung singkat hanya beberapa detik, atau menit, atau jam. Tetapi “Halusinasi” yang disaksikan oleh 500 saksi mata tersebut secara bersamaan dan pada tempat yang sama berlangsung selama 40 hari. (Kisah Para Rasul 1:3)
  5. Halusinasi biasanya terjadi hanya satu kali, kecuali bagi yang orang yang tidak waras halusinasi yang dialami dapat berulang-ulang. Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit terjadi berulangkali kepada orang-orang yang normal (Yohanes 20:19-21:14; dan Kisah Para Rasul 1:3).
  6. “Halusinasi” Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit yang dialami oleh para murid sangat mengejutkan dan tidak perkirakan (Kisah Para Rasul 1:3, 9); kesan pertama yang dirasakan oleh para murid adalah seperti bertemu dengan seorang manusia yang nyata bukan seperti mengalami mimpi. Bahkan pada saat pertama mereka bertemu Yesus yang sudah bangkit mereka tidak mempercayai “halusinasi” ini, baik Petrus, para perempuan, atau Thomas, dan begitu juga kesebelas murid lainnya. Mereka mengira Yesus yang menampakan diri pada saat pertama itu adalah berupa Roh atau hantu; Dan Yesus membuktikan kepada mereka semua bahwa dia adalah Yesus Kristus yang telah bangkit, benar bangkit dengan makan bersama bahwa dia bukan seperti perkiraan mereka semula yaitu berupa Roh atau hantu. Bahkan pembuktian dengan makan bersama terjadi dua kali (Lukas 24:42-43; Yohanes 21:1-14).
  7. Para murid dapat menyentuh tubuh Yesus yang telah bangkit. Tubuh Yesus nyata dapat disentuh membuktikan dia adalah Yesus Kristus yang benar bangkit.
  8. Bahkan Yesus Kristus pada saat itu berbincang dengan para muridnya, berkomunikasi dua arah; Yesus merespon para murid, dan muridnya dapat merespon balik perbincangan itu selayaknya perbincangan normal.
  9. Para murid tidak dapat mempercayai penampakan Yesus yang telah bangkit (“halusinasi”) jika tubuh Yesus yang sebenarnya masih terbaring di kubur. Jika memang halusinasi benar terjadi pada murid maka seharusnya tubuh Yesus benar masih dikubur, dengan demikian dapat dikatakan para murid mengalami halusinasi karena melihat hal yang tidak benar karena tubuh Yesus sebenarnya masih terbaring di kubur.
  10. Jika para murid mengalami halusinasi dan menyebarkan cerita halusinasi yang mereka percayai, para Yahudi pasti akan menghentikan penyebaran cerita tersebut dengan membuktikan dan menunjukan dalam kubur bahwa tubuh Yesus benar-benar masih ada di bumi, masih kaku, belum bangkit. Jika alasan tubuh Yesus tidak bisa dibuktikan masih ada di bumi, tidak bangkit karena para murid mencuri dan menyembunyikan tubuh Yesus, maka hal ini akan mengarahkan kita kembali ke teori konspirasi.
  11. Sebuah teori halusinasi hanya dapat digunakan untuk mencoba beragumen bahwa kebangkitan Yesus tidaklah benar terjadi, setelah kejadian kebangkitan mulai. Tapi teori halusinasi tidak dapat digunakan untuk berargumen dan menjelaskan bagaimana kubur Yesus kosong, batu penutup pintu kubur Yesus yang terguling sehingga kubur terbuka, dan tidak dapat membuktikan keberadaan tubuh Yesus. Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut kecuali teori bahwa Yesus Kristus benar bangkit.