Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)

Berikut adalah beberapa keberatan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tidak mempercayai atau meragukan konsep Surga yang diajarkan oleh Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci:

Keberatan 1: Konsep mengenai Surga adalah konsep yang pra-ilmiah dan takhayul.

Tanggapan A: Keberatan tersebut tidak secara ilmiah. Cara menyampaikan keberatan secara ilmiah atas suatu konsep adalah dengan bukti, bukan dengan menjelekkan dengan tanpa dasar.

Tanggapan B: Tidak jarang konsep-konsep pra-ilmiah yang valid, benar, dan penting, bukan takhayul – sebagai contoh, kelahiran, kematian, kehidupan, kebaikan, kejahatan, keindahan, keburukan, kesenangan, penderitaan, bumi, udara, api, air, kasih, kebencian, kebahagiaan.

Keberatan 2: Tidak ada bukti ilmiah mengenai Surga.

Tanggapan A: Begitu juga untuk banyak konsep lainnya yang diakui valid oleh semua orang, bahkan oleh ilmuwan. Ketika seorang ilmuwan menutup laboratorium-nya dan pulang ke rumahnya, dan mencium istri dan anak-anaknya, ilmuwan tersebut tidak mempercayai bahwa hanya ada hormon, neuron, dan molekul.

Tanggapan B: Tidak ada fakta ilmiah yang menunjukan bahwa: tidak ada yang ‘benar-benar ada’ kecuali telah dibuktikan oleh fakta ilmiah. Atau dengan kata lain, ‘sesuatu’ tidak dapat dikatakan ‘tidak nyata’ kalau hanya berdasarkan ‘tidak ada bukti ilmiah’ dari sesuatu itu. Hal bertentangan dengan pendapat (asumsi) dari pihak keberatan pada poin 2 yaitu: bahwa segala sesuatu tidak nyata kalau tidak ada bukti ilmiahnya. Namun sayangnya tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pendapat (asumsi) dari pihak keberatan itu; karena ketidak-beradaan surga tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Pendapat dari pihak keberatan tersebut secara sederhananya merupakan suatu asumsi (suatu lompatan kesimpulan) – yang sebenarnya, pendapat seperti itu suatu kesimpulan yang sewenang-wenang, dan kesimpulan itu disebabkan karena nafsu dari pihak keberatan untuk menyempitkan batas-batas realitas menjadi batas-batas metodologi ilmiah. Oleh karena itu kesimpulan yang dikemukakan oleh pihak keberatan tersebut merupakan keputusan yang berdasarkan ‘keinginan’, ‘kehendak’ dari pihak itu sendiri, bukan secara intelektual.

Keberatan 3: Surga ternyata adalah suatu prinsip berpikir pengharapan. Jika surga tidak ada, kita perlu menciptakannya. Karena surga itu adalah “mimpi yang diperlukan”.

Tanggapan A: Konsep Surga yang ada di dalam Kitab Suci bukan disesuaikan dengan impian atau keinginan dalam benak kita. Konsep Surga itu tersebut suatu konsep yang tidak mementingkan atau diperuntukkan untuk suatu pribadi, kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri, tanpa pamrih atas pengorbanan yang telah dilakukan; konsep yang bukan dimotivasi karena keinginan pengesahan diri sendiri melainkan karena telah matinya rasa egoisme; konsep yang lebih condong kekudusan daripada pengampunan dosa, konsep yang lebih ke adorasi dan penyembahan kepada Allah tanpa mempedulikan keinginan diri sendiri atau bukan didorong karena memenuhi hasrat diri sendiri; konsep yang lebih ke arah cinta kasih secara spiritual, daripada cinta kasih secara fisik.

Tanggapan B: Detil bentuk dan simbol mengenai Surga tidak sesuai dengan gambaran yang diperkirakan oleh orang banyak pada umumnya. Walaupun kita meneliti dan memperhatikan semua detil mengenai Surga di dalam Kitab Suci, atau detil-detil yang diberikan oleh para Santo, Mistikus, atau kesaksian kontemporer dari orang-orang yang mengalami keadaan hampir-mati, dalam semua kasus pengalaman akan Surga semuanya menyatakan ke-tercengang-an dan “diluar-perkiraan”.

Tanggapan C: Walaupun ada kesesuaian antara keinginan lahiriah kita dengan konsep Surga, kesesuaian tersebut dapat dijelaskan sebagai Kehendak Allah mengarahkan keinginan lahiriah kita agar menuju ke Surga; bukan kebalikannya seperti kita yang mendesain Surga untuk diri kita sendiri.

Tanggapan D: Ada kekeliruan pada pemikiran dari pihak yang keberatan. Ia berargumen: Jika surga itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu); dan kita benar-benar (harus) mempercayai ‘suatu’ surga itu; oleh karena surga itu sebenarnya tidak ada. Inilah salah satu contoh dari kekeliruan dalam menegaskan suatu konsekuen. Sama halnya seperti berargumen bahwa jika bumi itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu);

Tanggapan E: Jika suatu akibat tidak dapat melebihi penyebabnya, bagaimana bisa suatu konsep surga yang sempurna dan indah seperti yang kita percayai, berasal dari kita sebagai manusia yang memiliki pikiran tidak sempurna, dapat tersesat, dan terbatas?

Keberatan 4: Seperti yang dikisahkan di kitab Wahyu 21:21, terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas. Dari segi bentuk atau struktur konsep surga merupakan suatu hal mistik atau legenda, merupakan versi lain dari happy hunting grounds (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan suku Indian asli amerika) atau Elysian Fields (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan Yunani).

Tanggapan A: Keberatan ini melakukan pemisahan gambaran dari substansi yang sebenarnya. Gambaran dalam Kitab Suci bukanlah untuk dipahami secara harfiah (literal). Ketidakpercayaan akan konsep surga dengan cara keliru yaitu memahami suatu gambaran secara harfiah adalah suatu kebodohan, seperti hal tidak mempercayai kebenaran bahwa bulan itu ada karena keliru memahami “manusia” secara harfiah (manusia hidup di bumi, bukan di bulan; sehingga bulan tidak ada) dalam baris “manusia di atas bulan”.

Tanggapan B: Keberatan ini secara tidak langsung mengemukakan bahwa faktanya semua agama dan budaya mempunyai suatu ‘surga’ menurut kepercayaan masing-masing, suatu yang dapat dijadikan ‘bukti untuk’, bukan berlawanan, melainkan kenyataannya. Jika semua orang (atau hampir semua orang) mempercayai suatu kisah, maka hanya orang yang angkuh yang mau menyimpulkan kisah tersebut cenderung tidak benar daripada ‘mungkin’ benar.

Tanggapan C: Pemahaman surga berdasarkan Kitab Suci berbeda dari pemahaman yang berdasarkan kepercayaan populer lainnya, yang menurut Kitab Suci bahwa surga tidak mempunyai daya tarik duniawi, atau pemenuhan hasrat pribadi.

Keberatan 5: Percaya akan surga berarti pelarian.

Tanggapan A: Jawaban yang paling mudah untuk menanggapi tuduhan sebagai pelarian adalah seperti pertanyaan C.S. Lewis: “Siapa yang paling lantang menentang “pelarian”? Pengekang.”

Tanggapan B: Apakah disebut pelarian bagi bayi yang belum lahir membayangkan tentang kehidupan nanti setelah ia lahir? Apakah disebut pelarian bagi pencarian seorang peziarah akan tujuan hidupnya yang suci? Apakah disebut pelarian bagi seorang pelaut yang memimpikan sebuah daratan karena dia lelah terapung lolos dari kapalnya yang karam? Apakah disebut pelarian bagi sebuah benih yang akan berubah menjadi bunga? Ulat bulu yang akan menjadi kupu-kupu? Surga bukan sebuah pelarian karena surga dipenuhi pemenuhan semua cita-cita yang baik di dunia.

Tanggapan C: Surga bukanlah pelarian, karena surga itu nyata. Suatu konsep dikatakan sebagai “pelarian” hanya jika konsep itu sebuah kebohongan, tidak nyata. Tujuan mengatakan surga sebagai pelarian adalah wujud dari paham ateis yang tidak berani menyatakan dengan berani dan lantang penolakannya. Oleh karena itu jika surga adalah nyata, maka yang disebut pelarian adalah mereka yang tidak memikirkan mengenai surga itu. Karena surga itu adalah suatu kenyataan yang perlu dituju dan dicapai.
Namun pertanyaan yang muncul pertama kali mengenai suatu konsep bukanlah dikarenakan ‘apakah konsep itu suatu pelarian?’ melainkan ‘apakah konsep itu nyata?’. Bahkan jika memang suatu konsep itu adalah konsep pelarian, hal itu tidak menjadikan konsep itu suatu yang tidak nyata. Contohnya: konsep sebuah terowongan bawah tanah di penjara, sudah pasti konsep itu adalah pelarian (untuk melarikan diri), tetapi hal itu bukan menjadikan konsep tersebut tidak nyata.
Orang hanya dapat mempercayai suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep tersebut benar, dan hanya akan menolak suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep itu tidak benar, tidak ada hubungannya dengan pelarian. Label pelarian itu sendiri merupakan suatu pelarian; karena orang yang menggunakan label tersebut sebenarnya berusaha untuk lari dari tanggung jawabnya untuk membuktikan suatu konsep salah seperti menurut orang tersebut.

Keberatan 6: Surga merupakan suatu pengalihan. Tidak peduli apakah konsep surga itu benar atau tidak, yang pasti konsep itu mengalihkan kita dari tugas kita saat ini.

Tanggapan A: Surga bukan suatu pengalihan jika surga itu adalah nyata. Karena surga jika surga nyata, dan jika surga merupakan tujuan akhir kita, maka tugas kita saat ini seharusnya adalah mengarahkan kita ke tujuan akhir kita, tujuan utama kita, yaitu surga. Itu makanya mengapa kita diingatkan untuk “carilah dahulu Kerajaan Allah” (Matius 6:33) dan jangan pikiran kita “semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”, karena “kewargaan kita adalah di dalam sorga” (Filipus 3:19-20).

Tanggapan B: Kepedulian akan hal-hal surgawi tidak membuat berkurangnya nilai dan makna kepedulian akan hal-hal duniawi. Sama halnya seperti seorang ibu yang sedang mengandung mempedulikan masa depan bayinya kelak, ibu itu bukannya tidak peduli atau teralihkan perhatiannya dari keadaan bayi saat ini. Kontrasnya: jika ibu hamil itu mempercayai bahwa bayi yang dikandungnya itu akan mati nanti ketika lahir, atau jika ibu itu menginginkan bayinya mati (seandainya ibu itu berniat melakukan aborsi), maka kemudian kehidupan bayi tersebut lagi diperhatikan dan ibu itu akan berhenti mempedulikan masa depan bayinya.

Tanggapan C: Sepanjang sejarah manusia, kita dapat melihat bahwa mereka-mereka yang sangat percaya akan adanya surga lah yang dapat membuat hal-hal baik yang besar dan hebat bagi dunia, termasuk Yesus Kristus sendiri. Kebalikan dari Stereotip dari para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang akan berkhotbah mengenai kesuraman dan kehancuran dan menantikan hari kiamat dimana orang banyak akan mati sebagai imbalan karena menolak mereka (para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang), para fanatik tersebut bukannya berkotbah mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari para umat pendengarnya.

Keberatan 7: Surga tidak relevan dengan keadaan di dunia saat ini. Kita dapat menyukai atau membenci dunia ini, tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau ketidakpercayaan akan apa yang akan didapati setelah dunia ini.

Tanggapan: Surga bukan hanya relevan melainkan sangat relevan dengan keadaan di dunia masa sekarang; dan sebenarnya surga dimulai sejak saat ini. Sukacita surgawi dapat mulai dirasakan pada masa sekarang bagi orang yang percaya, karena sukacita itu pada dasarnya adalah pengalaman kesadaran orang-orang percaya Kristus benar-benar hadir, dan telah dimulai pada saat ini juga, seperti yang telah Dia janjikan (Matius 28:20; Yohanes 15:9-11). Bahkan jika kita tidak sadar akan sukacita itu, sukacita itu tetap berada; kehidupan surgawi bukanlah sesuatu “gaya hidup” yang abstrak melainkan nyata mendarah daging, seperti getah pokok anggur yang mengalir hingga ke cabang-cabangnya (Yohanes 15:4-5).
Kenyataannya, jika hidup surgawi tidak menjadi bagian kita pada saat ini, maka untuk selamanya tidak akan menjadi bagian kita, surga adalah dimana Allah hadir. Allah lah yang menentukan keberadaan surga, bukan sebaliknya. Allah “memenuhi” surga, seumpama suatu pergelaran seni memenuhi keseluruhan panggung pentas. Surga bukan membatasi, mengekang Allah. Jika saat ini Allah hadir dalam jiwa kita, melalui iman, maka hidup surgawi ada di hidup kita dan berlangsung pada saat ini, meskipun terkesan sangat kecil dan tidak kelihatan namun itu adalah “biji sesawi” surgawi (Matius 13:31-32). Surga atau Kerajaan Allah adalah hal sangat penting yang diwartakan oleh Yesus, menjadi topik utama dan diajarkan berulang kali melalui banyak perumpamaan – “Kerajaan Surga”. Surga adalah “mutiara yang sangat berharga” (Matius 13:45-46), sesuatu yang menjadikan semua keduniawian menjadi sangat kecil dan tidak berharga (Markus 8:36). Namun surga itu pemberian yang gratis! (Wahyu 22:17). Apakah ada hal lain selain surga yang lebih “relevan” atau dapat membuat perubahan yang lebih besar? Bagi umat Kristen, pewartaan tentang surga itu seperti seorang pengemis yang kelaparan mengatakan kepada sesama pengemis yang kelaparan lainnya bahwa di sana ada makanan gratis.

Keberatan 8: Surga itu seperti uang suap. Surga membuat agama menjadi mementingkan diri sendiri. Mereka yang percaya surga bekerja untuk upah mereka di surga, bukan untuk cinta kasih murni. Dengan demikian mereka itu adalah berkarya karena upahan.

Tanggapan A: Apakah yang dilakukan Romeo untuk menikahi Juliet karena upahan? Apakah yang dilakukan suatu tim yang bekerja sama sekuat tenaga untuk menang adalah karena upahan? Apakah bagi pelajar yang ingin menguasai bahasa asing agar dapat lancar membaca dan menulis karena menantikan upahan? Tidak! Karena tidak semua penghargaan adalah berupa upahan melainkan suatu kewajaran dan hak. Mereka (yang disebut di atas sebagai contoh) tidak bertindak untuk melakukan perbuatan baik karena dipicu secara rekayasa, seperti yang dilakukan tempat pendidikan yaitu memberikan nilai, poin, grade; melainkan tindakan itu sendiri yang berlangsung dalam kesempurnaan.

Keberatan 9: Surga terlalu dogmatis. Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu mengenai surga? Jika “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia”, maka surga itu belum masuk ke dalam hati kita. :Konsep Surga itu dapat dipahami hanya dengan iman atau spekulasi, bukan dengan pengetahuan.

Tanggapan A: Pengetahuan Analogi dan Analogi-Negatif adalah Pengetahuan. Mengetahui rupa ‘sesuatu hal’ itu bagaimana, dan mana yang bukan; adalah suatu Pengetahuan.

Tanggapan B: “Hanya dengan iman atau spekulasi”? Tetapi iman bukanlah fantasi; iman adalah pengetahuan. Iman adalah penerimaan fakta/data dengan penerangan ilahi. Dan Spekulasi dapat digolongkan menjadi pengetahuan juga, jika spekulasi itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Penalaran secara psikologi dapat mengarahkan kita ke kebenaran, secara pasti – kecuali jika kita seorang yang berpandangan skeptis.

Keberatan 10: Konsep Surga terlalu egoistik. Apakah tidak disebut arogan jika berpikir bahwa kita diciptakan untuk menjadi mempelai secara rohani kepada Allah?

Tanggapan: Allah lah yang mengatakan itu, bukan kita. Memang hal itu sangat luar biasa. Allah sangat luar biasa.

Keberatan 11: Konsep Surga itu terlalu mementingkan diri sendiri. Surga merupakan konsep kebahagiaan yang tidak terbatas dan abadi. Apa yang membuat ego kita yang kecil begitu penting atau ego kita itu pantas mendapat kebahagiaan surgawi?

Tanggapan: Konsep Surga tidak mementingkan diri sendiri dan melupakan diri sendiri – dalam tingkatan yang sangat tinggi sehingga para mistikus sering menggunakan bahasa yang seolah-olah bermakna bahwa diri-sendiri manusia adalah ilusi atau sesuatu yang perlu dihancurkan. Hal demikian adalah kesalahpahaman atau terlalu berlebihan – karena yang dimaksud adalah egoisme (mementingkan diri sendiri), bukan ego (diri), egoisme lah yang tidak baik, ilusi, dan perlu dihancurkan secara total. Namun kesalahpahaman ini adalah yang berawal dari kesalahpahaman kebenaran: bahwa di surga pada setiap orang secara mental mereka berada di luar dirinya sendiri dalam keadaan tidak-menyadari diri sendiri. Semua orang di situ sangat mengasihi Allah dan sesama, dan mereka tidak memperhitungkan diri sendiri.

Keberatan 12: Konsep Surga itu terlalu tidak mementingkan diri sendiri, dalam kasus tersebut – terlalu spiritual, terlalu bersifat mistik untuk selera manusia biasa.

Tanggapan: Jawaban untuk keberatan ini adalah sisi lain dari paradoks yang terbesar sepanjang sejarah manusia. Paradoks yang dimaksud adalah “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”. Dengan kata lain , cinta kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri adalah suka cita kita yang terbesar. Ini lah kita yang sebenarnya karena kita diciptakan sesuai gambaran Allah dimana pada essensinya, pada dasarnya adalah memberikan cinta-kasih yang memberikan dirinya sendiri. Tanggapan untuk keberatan nomor 11 adalah pemenuhan diri surgawi hanya dapat dicapai dengan melalui penyangkalan diri sendiri; dan tanggapan untuk keberatan nomor 12 adalah dengan penyangkalan diri sendiri akan membawa kita kepada pemenuhan diri surgawi. Ini adalah paradoks yang paling aneh dan paling mudah diuji kapan saja, dan dimana saja, sepanjang hidup.

bersambung ke bagian 2…

Apa yang anda pikirkan?