Apa maksud dari Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga”? Menghakimi atau Melindungi?

Minggu, 27 Agustus 2017

Dalam Bacaan I (Yesaya 22:19-23) digambarkan, bahwa kunci rumah raja yang kokoh akan diserahkan oleh Tuhan/Allah kepada Daud. Dalam Bacaan II (Roma 11: 33-36) Paulus menegaskan, bahwa segalanya berasal dari Allah, berada karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…! Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga!” (Matius 16:13-20). Pemberitahuan dari Allah bahwa Yesus adalah Almasih sebagai Anak Allah hanya ditujukan kepada Simon Petrus (ay.17). Ia menjadi batu karang, di mana Yesus mendirikan Gereja-Nya (ay.18). Petrus adalah murid-Nya, yang otoritasnya di dalam Gereja di dunia ini diakui dan teguhkan di surga oleh Allah (ay.19).

Di dalam komunitas yang disebut Gereja, Kristus menduduki tempat utama. Tiada orang lain yang dapat menggantikan-Nya, para uskup tidak dan Sri Paus pun tidak. Petrus dan pengganti-penggantinya mendapat tugas dari Kristus sendiri untuk memelihara kerukunan di dalam Gereja-Nya dan mengusahakan cinta kasih persaudaraan. Dan seperti Yesus pula Petrus dan pengganti-panggantinya adalah hamba, pelayan semua orang, dan kita sesama saudara bertugas membantu dan melayani Gereja dan dunia. Kekuasaan Gereja adalah kekuatan pelayan untuk membantu semua bangsa. Semoga pertemuan kita ini mendorong kita untuk lebih bersatu, lebih rukun dan lebih melayani Gereja dan umat manusia.

 

BATU KARANG DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut. Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks.
Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa. Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.(Romo Agustinus Gianto SJ)

Santo Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Bagaimana hal ini dipahami? Ingat tulisan ini : “Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dikutipan ini kita fokuskan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus, dan Petrus menafsirkan semua yang diketahui (bukanlah hasil pengetahuan manusia) berasal dari Allah.

Dengan demikian Petrus diberi kuasa untuk menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan. (Romo Yohanes Gunawan Pr)

Semoga membantu menambah pemahaman kita…

Teologi

Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau, agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya untuk mengadakan penyelidikan, mengembangkan pemikiran serta mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenaran-kebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44).

Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan perumusan yang berasal dari refleksi teologis.

Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar, yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan. 812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas gerejawi.

Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu; perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja” (AG 22).

Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi. Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja, tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam rangka tugas kepemimpinan.

Magisterium atau Wewenang Mengajar

Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki-lah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar tidak sama dengan mewartakan.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“.

Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat:

  1. Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan;
  2. Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus;
  3. Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat);
  4. Disepakati bersama.

Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan.

Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru. Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman. Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).