Bermegah dalam Pengharapan

Mengenai “dunia baru dan surga baru” Konsili Vatikan II menyatakan:

Kita tidak mengetahui, kapan dunia dan umat manusia akan mencapai kepenuhannya; tidak mengetahui pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan yang telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita diberi ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi yang baru, kediaman keadilan dan kebahagiaan, yang memenuhi, bahkan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang pernah timbul dalam hati manusia (GS 39).

Akhirat oleh Konsili dilihat sebagai “penyelesaian” seluruh sejarah dunia, dengan segala cita-cita dan kerinduannya. Memang tidak diketahui cara dan waktunya, tetapi diketahui bahwa semua itu akan datang dari Allah. “Dunia ini dengan keinginannya akan lenyap” (1Yoh 2:17; lih. 1Ptr 1:24; 4:7), tetapi Allah akan menciptakan dunia yang baru. Dunia baru itu akan mengatasi segala cita-cita dan harapan kita: “Yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: itulah yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Pengharapan kita tidak berdasarkan keinginan kita sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kasih Allah akan melampaui segala harapan dan dugaan kita. Maka yang pokok adalah iman akan kebaikan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia, kita juga beroleh jalan masuk – oleh iman – kepada kasih-karunia ini. Di dalam kasih-karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita malah juga bermegah dalam kesengsaraan” (Rm 5:1-2). Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Keterarahan kepada Kerajaan Allah mendasari pengharapan dan kemantapan kita. “Ia yang memanggil kamu adalah setia” (1Tes 5:24). Kesetiaan Tuhan merupakan dasar pengharapan kita. Yang diimani adalah Tuhan, bukan perkembangan dunia, maka segala perubahan dan ketidakjelasan tidak dapat menggoncangkan iman dan pengharapan kita.

Dunia baru tidak hanya memenuhi pengharapan orang perorangan, tetapi kecenderungan dan dinamika dunia seluruhnya. Manusia tidak dapat hidup dan berkembang lepas dari dunia sekitarnya, dan manusia juga tidak dapat beriman sendirian, tetapi dalam Gereja. Maka dengan pengharapannya akan Kerajaan Allah manusia menempatkan diri dalam gerakan Gereja dan dunia. Allah dan Kerajaan-Nya lebih besar dan lebih luas daripada keinginan hati orang perorangan. Penciptaan baru lebih besar dan lebih agung daripada yang pertama. Maka janganlah hidup orang individu dipakai sebagai ukuran bagi Kerajaan Allah. Yang direncanakan Tuhan dan yang dalam kasih-Nya yang besar mau dilaksanakan-Nya itulah pedoman bagi iman dan pengharapan orang.

Pengharapan akan Kerajaan tidak menghilangkan segala pertanyaan dan kesulitan. Manusia harus tetap berjuang dalam dunia ini. Tetapi kita tidak berjuang tanpa motivasi, atau tanpa pengharapan. “Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Dan “Roh itu, bersama dengan roh kita, memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14). Tuhan sendiri meletakkan kerinduan itu dalam hati kita. Karena Roh-Nya, kita terus-menerus ditarik ke arah rumah Bapa. Itu bukan suatu kerinduan kosong, melainkan gerakan hati yang memampukan kita bertahan dalam perjuangan di dunia ini. Pegangan manusia dalam perjalanan hidup di dunia ini ialah hatinya sendiri, tempat ia bertemu dengan Tuhan yang memanggilnya. Itulah daya-tarik dan dinamika hati, yang hanya diketahui oleh Allah dan oleh orang yang dipanggil-Nya. “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan karena Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah wafat bagi kita, supaya kita, entah masih hidup entah sudah meninggal, hidup bersama-sama degan Dia. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan ini” (1Tes 4:18; 5:10).

Akhir Zaman

Bagi manusia perorangan kematian merupakan akhir hidup di dunia ini. Akan tetapi, seluruh dunia pun akan mati. Itu disebut “akhir zaman”. Sebagaimana manusia perorangan baru mencapai tujuan hidupnya dalam pertemuan dengan Allah, begitu juga dunia. Dengan bagus sekali Paulus melukiskan hal itu dalam Rm 8:19-26:

“Dengan sangat rindu makhluk-makhluk menantikan anak-anak Allah dinyatakan. Sebab makhluk-makhluk ditaklukkan kepada kesia-siaan – bukan dengan sukarela, tetapi terpaksa ditaklukkan – namun tidak tanpa pengharapan. Karena juga makhluk-makhluk akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, menuju ke kebebasan kemuliaan anak-anak Allah. Jadi, kita mengetahui bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sakit bersalin sampai sekarang. Tetapi tidak hanya itu. Kita sendiri pun, yang telah menerima karunia-sulung Roh, kita sendiri dalam batin juga mengeluh dan menantikan pengangkatan-sebagai-anak, pembebasan tubuh kita. Sebab baru dalam pengharapan kita diselamatkan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. Sebab siapa masih mengharapkan, apa yang dilihat? Tetapi, bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Begitu juga Roh membantu dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan.”

Yang mencolok adalah kata “mengeluh”. Makhluk-makhluk mengeluh, kita mengeluh, Roh Kudus pun “berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan”. Keluhan ini dihubungkan dengan “menantikan” dan “pengharapan”. Dari satu pihak kita sadar bahwa dunia ini seluruhnya fana dan bersifat sementara, tetapi dari pihak lain kita mengetahui juga bahwa hidup ini menjurus ke hidup yang sejati, yakni “pengangkatan sebagai anak”, sebab hidup yang sejati ialah “mengenal satu -satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” (Yoh 17:3). Dan “apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Mengenal Allah, dan mengenal-Nya sungguh-sungguh, “muka dengan muka” (1Kor 13:12), hanya mungkin kalau kita diperbolehkan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

Yang akan masuk ke dalam dunia Allah, bukan hanya kita, melainkan seluruh ciptaan. Sebagaimana makhluk-makhluk mengambil bagian dalam kedosaan manusia, begitu juga dalam pengharapan. Makhluk-makhluk masih berada dalam keadaan kemalangan. Orang beriman sudah diselamatkan, “telah menerima karunia-sulung Roh” , namun semua sama-sama mengeluh dan menantikan. Sebab kita memang diselamatkan, tetapi “baru dalam pengharapan”.

Pada ayat 15 Paulus berkata, “kamu telah menerima Roh pengangkatan-sebagai-anak”, tetapi hanya “sebagai jaminan untuk semua yang disediakan bagi kita” (2Kor 1:22; 5:5). Dengan “pembebasan tubuh kita” baru akan tercapai “kebebasan kemuliaan anak-anak Allah”, dan tidak hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh ciptaan, yang juga “akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan”. Keselamatan yang masih tersembunyi sudah merupakan dinamika hidup, karena pengharapan, bagi seluruh ciptaan. Yohanes berkata, “Sekarang kita sudah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita mengetahui, bahwa, apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Pada saat itu “Allah menjadi semua dalam semua” (1Kor 15:28). Segala-galanya menuju Allah, tetapi menurut suatu proses historis, langkah demi langkah. Maka dilihat dari sudut dunia, pertemuan penuh dengan Allah disebut “akhir zaman”. Tetapi, “selama kita mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan; sebab hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:6).

Di dunia ini hidup kita masih bersifat perjuangan. Kita memang merasa pasti mengenai tujuan, tetapi sering ragu-ragu mengenai jalannya. Lebih kerap lagi, ketidakjelasan itu menjadi alasan kita menyimpang dari jalan dan tidak lagi terarah kepada pertemuan dengan Allah. Justru karena kepenuhan ini adalah tahap yang terakhir, maka mudah hilang dari pandangan. Orang lebih terpikat oleh yang sekarang terjadi di sekitarnya daripada oleh yang akhirnya dituju. Memang benar bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun, tetapi praktiknya sulit.

“Tuhan-lah tujuan sejarah manusia, titik sasaran segala dambaan sejarah dan kebudayaan manusia; kita yang dihidupkan dan dihimpun dalam Roh-Nya, berziarah menuju pemenuhan sejarah manusia” (GS 45). Maka yang paling penting dalam hidup sekarang ialah mencari keterarahan kepada Tuhan. Pada akhir Kitab Suci dikatakan: “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang awal dan Yang akhir” (Why 22:13). Dunia mulai dengan Kristus, “yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15), dan sejarah dunia akan mencapai tujuannya bila Kristus “menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan” (1Kor 15:24).

Antara awal dan akhir, antara alfa dan omega, ada jarak yang jauh. Bukan hanya jarak, melainkan juga perbedaan yang dahsyat. Dengan tegas Konsili Vatikan II berkata, “kemajuan duniawi harus dibedakan dengan cermat dari pertumbuhan Kerajaan Kristus” (GS 39). Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah bukanlah hasil evolusi atau perkembangan dunia. Gereja tidak menolak secara prinsipiil ajaran teori evolusi, tetapi Kerajaan Allah janganlah dilihat sebagai puncak perkembangan dunia. Seperti halnya kebangkitan adalah karya Allah, dan dengan sewajarnya disebut “ciptaan baru” (lih. 2Kor 5:17), begitu juga akhir zaman. Yohanes menyebutnya bukan hanya “bumi yang baru”, tetapi juga “surga yang baru” (Why 21:1; lih. juga 2Ptr 3:13), sebab “yang duduk di atas takhta, berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (ay. 5). Ciptaan pertama berkembang secara evolutif. Ciptaan baru ialah “Yerusalem yang baru, yang turun dari surga, dari Allah” (ay. 2).

Dunia baru bukanlah pertama-tama pembaruan dunia, melainkan pertemuan seluruh ciptaan dengan Tuhan. Apa yang terjadi dengan manusia dalam kebangkitan, akan menjadi kenyataan dalam seluruh ciptaan: Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya dalam makhluk-makhluk-Nya. Pertemuan dengan Tuhan adalah pertemuan dalam cinta kasih. Maka tidak mungkin menuju Kerajaan Allah, kalau tidak dikembangkan lebih dahulu semangat cinta kasih, yang diwujudnyatakan dalam pelayanan. Itulah sebabnya di dunia ini sikap Gereja yang pokok adalah pelayanan.

Tanggung Jawab

Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya, akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.).

Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat istimewa.

Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian” (GS 34).

Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa “keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya hidup secara layak” (GS 27).

Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial, membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk. Luk 10:25-37).

Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai anggotanya. Tentu saja, masing-masing menurut kedudukan dan kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama. Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi. Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia.

Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani, sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang. Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja.

Bersama-sama Mencari Arah hidup

Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubah-ubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula.

Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.

Sakramen Tahbisan

Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Sakramen Perkawinan

Dengan sakramen tobat orang diterima kembali sebagai anggota Gereja; atau, kalau dibebani oleh dosa kecil saja, ia semakin menyadari rahmat boleh ikut dalam perayaan Gereja. Sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dan dalam arti itu merupakan syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Hal itu langsung kentara, kalau membandingkan dua pasang suami-istri: yang satu sudah dibaptis sebelum menjadi suami istri, yang lain sudah berkeluarga waktu menerima sakramen pembaptisan. Orang yang sudah berkeluarga waktu dibaptis, tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi; orang yang belum berkeluarga ketika dibaptis, perlu menerima sakramen perkawinan.

Perkawinan menurut Kitab Suci

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami” (sebagaimana dengan jelas diungkapkan dalam Im 18:18). Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5 dan Mrk 10:7-8:

“Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Hubungan dengan Kristus sebagai bujang atau gadis tidak memadai lagi dan harus diganti dengan persatuan dengan Kristus selaku suami-istri.

Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

“Karena itu laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dan keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar; aku memaksudkannya berhubung dengan Kristus dan jemaat” (Ef 5:31-32).

Sesudah kutipan Kej 2:24 dikatakan “Rahasia itu besar”, yang juga dapat diterjemahkan: Itu misteri agung. Kata “misteri”, khususnya dalam surat Efesus, berarti rencana keselamatan Allah, yang lama tersembunyi tetapi sekarang dinyatakan melalui Gereja (Ef 1:9; 3:3.9; 6:19). Kesatuan suami-istri termasuk misteri Allah itu. Kesatuan mereka mempunyai dasar dalam rencana Allah. Menurut ay. 32 rencana itu baru menjadi jelas dengan sepenuhnya, kalau dikaitkan dengan hubungan Kristus dan Gereja. Kesatuan suami-istri bukan hanya luhur dan mulia, tetapi bersifat ilahi, karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja. Jelas sekali bahwa pengarang memakai bahasa kiasan, dan berbicara mengenai makna terdalam pernikahan. Ia tidak berbicara mengenai suatu upacara sakramental.

Namun tidak salah pula, kalau ajaran surat Efesus dihubungkan dengan sakramen perkawinan, sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Tetapi dalam Ef 5:11-33 ditunjukkan bahwa cinta Kristus kepada Gereja-Nya merupakan dasar yang sesungguhnya bagi kesatuan suami-istri yang telah dibaptis. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Perkembangan Upacara Sakramen Perkawinan

Selama kurang lebih seribu tahun Gereja tidak mempunyai pandangan lain dari yang terungkap dalam surat Efesus. Perkawinan orang Kristen terjadi dengan cara yang lazim dalam masyarakat. Tidak ada upacara khusus. Perkawinan sipil atau dalam kampung dan keluarga diakui oleh Gereja. Ada banyak nasihat dan petuah, tetapi tidak ada upacara khusus. Paling-paling diminta berkat dari Gereja.

Perkawinan itu urusan pemerintah atau masyarakat, yang diberi doa restu oleh Gereja. Baru ketika urusan pemerintah di Eropa Barat agak kacau, Gereja menjadi lebih aktif dalam mengatur perkawinan. Ini terjadi sekitar abad ke-12. Pada waktu itu juga dikembangkan pikiran mengenai sifat sakramental perkawinan. Baru pada tahun 1274, pada Konsili di Florence, untuk pertama kalinya dengan jelas perkawinan disebut di antara sakramen-sakramen Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa sejak Reformasi di kalangan Protestan perkawinan tidak diakui sebagai sakramen. Bukan hanya karena di dalam Kitab Suci tidak ada petunjuk yang jelas, tetapi juga karena dalam kehidupan Gereja sendiri berabad-abad lamanya tidak diketahui bahwa ada sakramen perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai soal kemasyarakatan saja, oleh karena itu bersifat profan dan tidak sakral. Tetapi hal itu sebetulnya kurang sesuai dengan ajaran surat Efesus. Biarpun tidak dikenal suatu upacara khusus, tidak berarti bahwa tidak ada kesadaran mengenai arti rohani, bahkan ilahi, perkawinan.

Melalui cinta perkawinan, rahmat Allah diberikan kepada suami-istri dan anak-anak mereka. Sifat sakramental perkawinan tidak terbatas pada upacara saja, melainkan menyangkut hidup berkeluarga seluruhnya. Karena kesatuan suami-istri dengan Kristus, seluruh hidup mereka – yang adalah satu – menjadi perwujudan rahmat. Tanda rahmat ini ialah janji perkawinan, yang mengikat mereka untuk sehidup semati. Justru karena perkawinan itu semacam “peneguhan” pembaptisan, maka janji itu tidak hanya mengungkapkan kesetiaan mereka satu sama lain, tetapi juga terhadap Kristus.

Perkawinan juga “sakramen iman”, di dalamnya dinyatakan iman akan kasih Kristus sebagai dasar dan kekuatan ikatan perkawinan. Barangkali boleh dikatakan, bahwa bagi orang yang dibaptis waktu masih bayi atau anak, janji baptis menjadi lebih nyata dalam janji perkawinan, yang diucapkan di muka Gereja, yang diwakili oleh imam. Perkawinan dan keluarga menjadi tempat pengungkapan iman. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II berani berbicara mengenai “Gereja-keluarga” (LG 11). Perkawinan dan hidup keluarga sendiri bagi umat beriman menjadi sarana mengungkapkan imannya dan dengan demikian juga menghayatinya. Keistimewaan sakramen perkawinan tidak terletak dalam bentuk upacaranya, tetapi dalam pengungkapan iman itu.

Sebagai upacara ditetapkan dalam buku Upacara Perkawinan tahun 1976: “Pria dan wanita menyatakan saling menyerahkan diri secara bebas, seutuhnya dan untuk selama-lamanya”. Janji nikah adalah bentuk sakramen perkawinan di muka Gereja. Dan ditegaskan lagi: “Justru kesatuan dalam cinta setia yang diangkat oleh Kristus menjadi martabat sakramen”. Pada dasarnya upacara perkawinan orang beriman tidak berbeda secara prinsipial dari upacara perkawinan umum. Tetapi bentuk yang umum itu menjadi sarana pengungkapan iman bagi orang yang percaya akan Kristus. Sama seperti bagi orang lain, begitu juga bagi orang beriman “cinta perkawinan diarahkan kepada penyempurnaan suami-istri secara menyeluruh, termasuk pula kelahiran dan pendidikan anak demi kebahagiaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat”. Bagi orang beriman semua itu mendapat kesempurnaan dalam perkembangan hidup bersatu dengan Kristus, baik untuk suami-istri sendiri, maupun untuk anak-anak mereka.

Perkawinan Campur

Apa yang terjadi kalau orang Katolik menikah dengan pihak lain yang bukan Katolik? Kalau pihak lain itu sudah dibaptis, perkawinan mereka tetap merupakan sakramen karena kedua orang itu satu iman dalam Kristus (KHK kan. 1055). Gereja menegaskan bahwa perkawinan itu pun tidak dapat diceraikan (KHK kan. 1061, 1141). Hanya saja, karena salah satu pasangan belum bersatu penuh dengan Gereja Katolik, biasanya perkawinan itu tidak diteguhkan dalam perayaan ekaristi (meski dalam hal ini tidak ada peraturan atau ketetapan yang mutlak dan umum).

Lain halnya kalau pihak yang lain belum dibaptis. Dengan izin khusus dari pimpinan Gereja, perkawinan itu dimungkinkan. Namun demikian, karena tidak sepenuhnya dilakukan dalam lingkup Gereja, sulit ditentukan nilai gerejawi perkawinan itu. Kiranya perkawinan seperti itu tidak merupakan sakramen, karena tidak ada kesatuan iman. Akan tetapi, karena pihak yang Katolik bersatu dengan Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, perkawinan ini pun pasti tidak di luar rencana Allah. Bagaimana persisnya semua itu terjadi, hanya Allah yang tahu.

Sakramen Tobat

Dengan Pembaptisan, dan Krisma, orang menjadi anggota Gereja. Ia tidak dapat kehilangan keanggotaan itu. Tetapi bisa terjadi bahwa seseorang, karena tindakan kejahatan yang amat besar, terkena hukuman Gereja, yaitu “pengucilan” atau “ekskomunikasi“. Orang itu tetap anggota Gereja, namun ia dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi serta dalam perayaan sakramen atau sakramentali yang lain, dan tidak boleh melakukan tugas gerejawi manapun (KHK kan. 1331). Larangan itu sebetulnya dikenakan pada setiap orang yang melakukan dosa besar. Orang itu pun tidak boleh menerima sakramen, kecuali sakramen baptis dan pengurapan orang sakit, karena mempunyai dosa besar. Dengan sakramen tobat tidak hanya dosanya diampuni, tetapi ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja.

(a) Kebiasaan Gereja yang Berubah-ubah

Yohanes Pembaptis tampil dengan seruan, “Bertobatlah!” (Mat 3:2; Luk 3:3) dan awal pewartaan Yesus pun berbunyi, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya jadi diampuni” (Yoh 20:23). Tetapi tidak ada berita mengenai suatu “upacara pengampunan dosa”.

Yang ada hanyalah petunjuk tentang pengucilan, dalam Mat 18:15-20. Pokok petunjuk itu ialah jangan terlampau mudah mengucilkan seseorang: pertama tegurlah dia “di bawah empat mata” dahulu. Kalau itu tidak berhasil, sekali lagi, tetapi dengan satu atau dua saksi; jadi lebih resmi. Kalau itu pun tidak berhasil, baru dikucilkan. Wewenang untuk itu ditegaskan: “Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini, akan terlepas di surga” (ay. 18). Rupa-rupanya dalam hal pengucilan, Gereja perdana mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Tetapi tidak dikatakan apa-apa mengenai cara bagaimana menerima kembali orang yang dikucilkan itu. Hanya dikatakan bahwa pimpinan jemaat berwewenang mengucilkan (“mengikat”, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan jemaat) dan menerima kembali (“melepaskan” ikatan itu). Dalam 1Kor 5:1-13 St. Paulus rupa-rupanya juga hanya berbicara mengenai pengucilan, “Orang itu diserahkan kepada Iblis”.

Tidak dikatakan apa-apa mengenai suatu upacara penerimaan kembali, hanya diharapkan bahwa “rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”, artinya pada hari kiamat. Apa yang terjadi dengan orang itu sekarang tidak jelas. Barangkali boleh diandaikan bahwa orang itu, kalau memperlihatkan tanda-tanda pertobatan, akan diterima kembali. Tetapi tidak ada berita mengenai peristiwa itu, apa lagi mengenai “upacara penerimaan kembali”. Kalau di sini sudah ada awal sakramen tobat, maka barangkali harus disebut “sakramen mengikat dan melepaskan”, yang hanya menyangkut dosa dan kesalahan yang merugikan jemaat, bukan kesalahan pribadi atau sengketa pribadi antara dua orang. Di situ berlaku nasihat Yesus, bahwa orang harus mengampuni “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22), berarti tanpa batas. Maka sikap St. Paulus dalam 1Kor 5:1- 13 dan dalam 2Kor 2:5-11 lain. Pengucilan tidak dimaksudkan sebagai hukuman bagi dosa, melainkan sebagai perlindungan untuk jemaat yang adalah umat Allah yang suci.

Kebiasaan Gereja perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para Bapa Gereja. Pada masa itu dikembangkan suatu upacara khusus, baik untuk mengucilkan seseorang maupun untuk menerimanya kembali di kalangan Gereja. Orang yang memberi sandungan karena perbuatan jahat (membunuh, merampok, zinah, dan murtad), bila mengaku dosanya di hadapan uskup, ditempatkan di kalangan orang yang menjalankan laku tapa. Mereka mempunyai tempat khusus di gedung gereja (atau di mukanya), mempunyai pakaian khusus dan diwajibkan berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah. Mereka tidak boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, dan diperlakukan sebagai “katekumen”, yakni orang yang belum dibaptis dan belum menjadi anggota Gereja.

Setelah selesai masa tobat, yang ditetapkan oleh uskup, mereka – biasanya pada Kamis Putih – diterima kembali di kalangan Gereja, oleh uskup juga. Maka jelas ada suatu upacara khusus, baik untuk pengucilan maupun untuk penerimaan kembali. Yang pokok dalam ibadat suci itu ialah tobat sendiri atau laku tapa. “Sakramen mengikat dan melepaskan” terang berkembang menjadi sakramen tobat. Yang khusus di dalamnya ialah bahwa:

  1. dilakukan secara publik dan terbuka;
  2. dipimpin oleh uskup sendiri; dan 
  3. dibatasi pada dosa-dosa yang memberi sandungan (mungkin hal itu sudah berlaku pada zaman Gereja perdana).

Masih ada satu ciri lain yang perlu diperhatikan, bahwa orang hanya satu kali saja dapat menjalani tobat seperti itu. Seandainya sesudah itu ia jatuh lagi, ia tidak diberi kesempatan kembali menjadi anggota aktif dalam Gereja. Kiranya hal itu pun sudah menjadi kebiasaan dalam Gereja perdana, sebab dalam Ibr 6:4-6 dikatakan:
“Mereka yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibarui lagi, hingga bertobat” (lih. juga 10:26-29; 12:15-17). Satu kali saja, tidak lebih. “Tobat publik” itu sungguh serius, bahkan terasa amat berat dan laku-tapa yang diwajibkan sering kali amat sulit dan lama.

Tobat seperti itu menjadi kebiasaan di daerah sekitar Laut Tengah, tempat Paulus pernah mewartakan Injil. Dari situ tersebar ke seluruh Eropa Selatan dan lebih jauh lagi. Tetapi di Inggris dan Irlandia orang mempunyai kebiasaan lain. Di situ pokok sakramen tobat juga laku tapa, tetapi yang menetapkan laku tapa itu, dan yang sesudahnya menerima kembali dalam Gereja, bukanlah uskup melainkan seorang imam biasa. Laku tapa tidak dilakukan secara terbuka lagi (walaupun biasanya orang mengetahui juga, karena beratnya laku tapa yang harus dilakukan). Karena tidak lagi bersifat publik secara penuh, laku tapa dilakukan juga untuk dosa (berat) pribadi dan boleh diulangi. Kebiasaan yang cukup berbeda ini, kiranya harus diterangkan dari sifat khusus Gereja di Inggris dan Irlandia yang berkembang di sekitar biara-biara. Dalam biara sedari semula orang biasa menjalani laku tapa, juga untuk dosa yang tidak memberi sandungan, bahkan yang tidak diketahui umum. Tobat dan laku tapa itu dibimbing oleh seorang rahib lain bukan oleh uskup. Praktik tobat yang juga dilakukan di luar tembok biara, di antara umat yang biasa, kemudian oleh para misionaris Inggris dan Irlandia dibawa ke Eropa Utara. Dengan demikian ada dua macam sakramen tobat. Karena tobat publik makin terasa terlalu berat, akhirnya tobat privat menjadi umum.

(b) Tobat Publik dan Tobat Privat

Pada pokoknya “tobat privat” tetap sakramen tobat, yang inti pokoknya adalah laku tapa. Semula laku tapa dalam tobat privat tidak kalah berat dengan tobat publik. Yang istimewa hanyalah, bahwa sakramen itu dilayani oleh seorang imam, untuk dosa pribadi juga (tidak hanya untuk yang memberi sandungan), dan boleh diterima lebih dari satu kali. Untuk menghindari kesewenangan dalam menentukan laku tapa, ditetapkan “tarip” yang berlaku untuk seluruh daerah: untuk dosa ini, laku tapanya itu. Orang bertanggung jawab sendiri untuk pelaksanaan laku tapanya. Tetapi bila selesai, sering kali sulit menemukan kembali imam yang menetapkannya. Maka lama kelamaan orang langsung diterima kembali secara “bersyarat”, yakni kalau sudah menyelesaikan laku tapanya. Bahkan lebih kemudian lagi, sudah cukup kalau dia berjanji dan mempunyai niat sungguh untuk melakukan dendanya itu. Pada waktu itu laku tapa sudah bukan pokok lagi, melainkan syarat. Dengan demikian, sebenarnya sakramen tobat sudah berubah menjadi sakramen pengampunan dosa.

Langkah berikutnya ialah bahwa laku tapa atau denda juga tidak lagi seberat zaman dahulu, biasanya berupa doa saja, sebab mengaku dosa sendiri sudah dianggap cukup berat. Sejak itu orang berbicara mengenai sakramen pengakuan dosa. Dari pihak orang yang menerima sakramen, yang pokok adalah pengakuan, sebab yang dipandang sebagai “pelaku utama” bukan lagi orang yang bertobat, tetapi imam yang memberi absolusi sebagai tanda pengampunan dosa. Hanya saja, supaya dapat memberikan denda yang sesuai, imam harus tahu dosanya. Untuk itu perlu pengakuan. Titik berat tergeserkan dari tobat kepada pengakuan, dan dari orang yang bertobat kepada imam yang memberikan pengampunan.

(c) Ajaran Gereja tentang Sakramen Tobat

Konsili Vatikan II meninjau kembali sakramen tobat. Pertama-tama, Konsili memakai lagi istilah “sakramen tobat”. Sebab yang terpenting memang tobat dan “orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan, “Mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja” (LG 11). Oleh karena itu, Konsili juga menghendaki supaya “upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat ditinjau kembali” (SC 72). Itu dilakukan pada tahun 1973.

Dalam pengantar buku “Liturgi Tobat” yang baru itu antara lain dikatakan bahwa orang yang datang ke Sakramen Tobat “pertama-tama harus berpaling kepada Allah dengan segenap hati. Pertobatan batiniah ini dinyatakan lewat pengakuan kepada Gereja, pelaksanaan penitensi (denda) yang ditetapkan dan pembaruan hidup”. Yang pokok adalah tobat. Pengakuan serta denda tidak lain daripada pernyataan sikap tobat itu. Dari pihak lain, “lewat tanda absolusi Allah memberikan ampun kepada si pendosa, yang dengan pengakuan sakramental menyatakan pertobatannya kepada pelayan Gereja”. Tetapi ditegaskan, bahwa “yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh orang beriman sendiri, selaku pentobat” dan “bersama dengan imam ia merayakan liturgi Gereja, yang terus-menerus membarui diri”. Maka sakramen ini tidak lagi disebut “sakramen pengampunan”, tetapi sakramen tobat.

Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam sakramen tobat dua hal: pengakuan dan penitensi (denda). Tetapi hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku-tapa dan matiraga sukarela. Dalam hal ini ia dapat dibantu oleh indulgensi, yakni penghapusan dari hukuman-hukuman sementara karena jasa-jasa anggota Gereja yang lain, khususnya para santo dan santa, bahkan juga karena karya Tuhan Yesus sendiri. Supaya orang dapat mengambil bagian dari khazanah rohani Gereja itu, ditetapkan syarat-syarat tertentu, yang biasanya bersifat doa.

Sakramen tobat tetap terarah kepada penerimaan kembali oleh Allah di dalam Gereja. Tetapi ditekankan bahwa “perayaan Sakramen Tobat selalu merupakan pengakuan iman Gereja”. Sakramen tobat itu “sakramen iman”, di dalamnya secara khusus terungkapkan iman orang berdosa. Ini sebenarnya tidak berbeda total dengan pandangan sebelum Konsili, sebab Gereja selalu sudah yakin, bahwa tobat sungguh merupakan anugerah Allah dan dorongan Roh Kudus.

Oleh rahmat Allah orang sadar akan kemalangannya sendiri, dan menyatakan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sendiri menarik orang berdosa. Dengan mengaku diri orang berdosa, maka manusia menyerahkan diri lagi kepada Allah yang maharahim. Apa yang disebut “pengakuan dosa”, sebetulnya tidak lain daripada mengaku diri orang berdosa. Yang pokok bukan dosa-dosa, melainkan diri orang yang sebagai pendosa mohon belaskasihan Tuhan. Allah senantiasa menawarkan rahmat-Nya kepada pendosa, tetapi manusia harus mau menerimanya. Itu terjadi dalam sakramen tobat. Iman dan tobat tidak dapat dipisahkan. Tobat itu iman orang berdosa. Dan walaupun “Gereja adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG 8).

Oleh karena itu, iman Gereja selalu berupa tobat. Kalaupun orang tidak selalu terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang besar, dosa kecil pun memperlihatkan kedosaan manusia. Maka dengan sewajarnya manusia terus-menerus mengembangkan sikap tobat dalam dirinya, karena dengan demikian ia makin sadar bahwa “karena kasih karunia ia diselamatkan, oleh iman; itu bukan hasil usaha manusia sendiri, tetapi pemberian Allah. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef 2:8-10). Pokok sakramen tobat ialah pengakuan iman terhadap belas kasihan Tuhan. Di samping itu, praktik kehidupan sakramen tobat juga merupakan kesempatan baik untuk meminta bimbingan dan pengarahan dalam menjalankan hidup Kristiani.