Dewan Para Uskup


Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dalam surat St. Klemens Romanus, pengganti St. Petrus yang ketiga (akhir abad pertama, seangkatan dengan St. Ignatius dari Antiokhia dan St. Yohanes rasul):

“Para rasul menerima Injil untuk kita dari Yesus Kristus; dan Yesus Kristus diutus oleh Allah. Maka Kristus berasal dari Allah, dan para rasul dari Kristus: kedua-duanya datang sebagaimana mestinya, menurut kehendak Allah. Begitulah, para rasul pergi mewartakan kabar gembira, bahwa Kerajaan Allah akan datang dengan segera. Dan sementara mereka mewartakan di desa-desa dan di kota-kota, mereka menunjuk murid mereka yang pertama, setelah diuji oleh Roh, menjadi uskup dan diakon bagi orang yang akan percaya. Dan ini bukan pembaruan, sebab sudah lama Kitab Suci berbicara mengenai uskup dan diakon; beginilah kata Kitab Suci: “Aku akan menunjuk uskup-uskup mereka dalam kebenaran dan diakon-diakon mereka dalam iman” (bdk. Yes 60:17). Rasul-rasul kita juga mengetahui bahwa akan ada perselisihan mengenai jabatan uskup. Oleh sebab itu, karena mereka sudah mengetahui sebelumnya, mereka menunjuk orang seperti yang telah disebut di atas dan menetapkan peraturan, bahwa orang itu, bila sudah meninggal, harus diganti orang lain” (Surat kepada Jemaat Korintus, bab 42 dan 44).

Pada akhir zaman Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul, seperti yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II (LG 20). Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas uskup (karena ada dua belas rasul). Bukan rasul satu per satu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pimpinan Gereja diganti oleh kalangan para uskup. Konsili Vatikan II memberikan keterangan tambahan ini:

“[Oleh Tuhan Yesus] para rasul dibentuk menjadi semacam dewan atau badan yang tetap. Dan seperti St. Petrus dan para rasul lainnya atas penetapan Tuhan merupakan satu Dewan para rasul, begitu pula Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, bersama para uskup, pengganti para rasul, merupakan himpunan yang serupa” (LG 20; 22).

Tegasnya, dewan para uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup, karena diterima ke dalam dewan itu. Itulah tahbisan uskup, “seseorang menjadi anggota Dewan para uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan persekutuan hierarkis dengan Kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai lambang sifat kolegial ini, tahbisan uskup selalu dilakukan oleh paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan para uskup (LG 21), dan hal itu kurang tampak, seandainya ditahbiskan hanya oleh satu uskup saja.

Uskup itu pertama-tama pemimpin Gereja setempat (LG 22; 27). Namun dalam persekutuan Gereja-gereja setempat hiduplah Gereja universal. Begitu juga, dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain, para uskup setempat menjadi pimpinan Gereja universal. Maka juga dikatakan bahwa tugas-tugas seorang uskup “menurut hakikatnya hanya dapat dilaksanakan dalam persekutuan hierarkis dengan Kepala serta para anggota Dewan” (LG 21). “Dewan itu, sejauh terdiri dari banyak orang, mengungkapkan kemacam-ragaman dan sifat universal umat Allah; tetapi sejauh terhimpun di bawah satu kepala, mengungkapkan kesatuan kawanan Kristus” (LG 22). Sifat kesatuan dan kekatolikan Gereja juga terlihat dalam kedudukan dan fungsi para uskup setempat sebagai pemimpin Gereja lokal dan anggota dewan para uskup.

Para Rasul


Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas rasul. Inilah kelompok yang sudah terbentuk waktu Yesus masih hidup bersama mereka. Yudas Iskariot, “yang akan menyerahkan Yesus, dia pun seorang di antara kedua belas murid” (Yoh 6:71). Maka kelompok yang biasanya disebut “keduabelasan” (lih. Mat 10:5; 26: 14.47; dst.) sesudah kematian Yudas disebut “kesebelasan” (Kis 1:26; 2:14; juga Mat 28:16; Mrk 16:14; Luk 24:9.33). Tetapi kata “keduabelasan” tetap terpakai juga (lih. Kis 6:2; 1Kor 15:5), tanda bahwa itu kelompok terkenal. Paulus menyebut kelompok itu “mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku” (Gal 1:17).

Paulus pun seorang rasul, sebagaimana dinyatakan dengan tegas (1Kor 9:1; 15:9; lih. juga Rm 1:1; 1Kor 1:1; 2Kor 1:1, terutama Gal 1:1) karena ia “telah melihat Yesus, Tuhan kita”. Seorang rasul adalah “saksi kebangkitan” (Kis 1:22; 10:41). Yang pertama-tama disebut rasul adalah kelompok dua belas itu, “yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem” (Kis 13:31). Tetapi Paulus pun disebut “rasul”, begitu juga Barnabas dan banyak orang lain (lih. Kis 14:14). Bahkan akhirnya semua “utusan jemaat” disebut rasul (2Kor 8:23; lih. Flp 2:25), karena kata “rasul” (apostolos) memang berarti “utusan” (lih. Luk 9:52), dan secara khusus dipakai untuk “utusan Kristus” (2Kor 5:20). Maka lama-kelamaan kelompok rasul lebih luas daripada kelompok dua belas saja (bdk. 1Kor 15:5 dan 7).

Para rasul di Yerusalem, dan lebih khusus lagi “Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat” (Gal 2:9; bdk. ay. 2 dan 6), rupa-rupanya mempunyai kedudukan dan wewenang yang khas. Sesudah bekerja lama di antara bangsa kafir Paulus merasa perlu membentangkan Injil yang diberitakannya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi “dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang” itu (Gal 2:2). Dari satu pihak Paulus mempertahankan bahwa kerasulannya “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Tetapi dari pihak lain ia mencari hubungan dengan Yerusalem “supaya jangan bekerja dengan percuma” (2:2), dan berjabat tangan dengan pemimpin di Yerusalem dipandangnya sebagai “tanda persekutuan” (2:9). Ia berani berterus-terang dengan Petrus (Gal 2:14), tetapi ia juga menempatkan kesaksiannya bersama dengan pewartaan mereka (1Kor 15:11).

Dengan bangga Paulus menyebut diri “rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi” (Rm 11:13; lih. Gal 1:16), tetapi dengan rajin ia mengumpulkan dana untuk jemaat di Yerusalem, “sebab, jika bangsa-bangsa lain beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah mereka melayani orang Yahudi dengan harta duniawi” (Rm 15:27). Yerusalem tetap dipandang sebagai pusat, demikian juga “mereka yang senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga” (Kis 1:22). Tetapi sesudah Paska, yang terpenting bukan lagi keikutsertaan dengan Yesus dalam karya-Nya di Palestina, melainkan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

Mereka tetap “memberi kesaksian tentang Injil kasih-karunia Allah” (Kis 20:24) dan mewartakan “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” (Kis 1:1). Sesudah Paska tekanan ada pada Yesus sendiri, khususnya pada wafat dan kebangkitan-Nya. “Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:20). Tugas pokok adalah pewartaan, dan pewartaan semakin terpusatkan pada Tuhan yang mulia. Maka dalam jemaat Korintus amat dipentingkan pengalaman akan Roh, sebab “Tuhan adalah Roh” (2Kor 3: 17) dan “tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Jemaat hidup dari pengalaman Roh itu. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7).

Di dalam jemaat masing-masing anggota mempunyai tugas dan perannya sendiri, dan untuk itu ia juga diberi karunia khusus Roh Kudus, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing anggotanya” (1Kor 12:27). Maka “hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu, tetapi semuanya untuk membangun” (1Kor 14:26). Jemaat hidup dari karunia Roh. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur, sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor 14:40.33). Oleh karena itu Paulus terpaksa turun tangan, bila kesopanan dan kesatuan ternyata kurang diindahkan (lih. 1Kor 5:1-13; 7:17; 11:34; 16:1; 2Kor 2:5-11).

Prinsip kesatuan jemaat bukanlah kuasa atau wewenang Paulus, melainkan karunia Roh. Tentu saja Paulus mempunyai wibawa sebagai seorang rasul (lih. 1Kor 3:10; 4:15; 2Kor 10:8; 13:10), dan kiranya kepribadian Paulus amat berarti untuk kehidupan dan kesatuan jemaat. Tetapi Paulus tidak pernah menonjolkan diri sebagai pemimpin jemaat. Sebaliknya, ia menyebut diri hamba jemaat, “Sebab, bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Tugas pokok adalah pewartaan Injil, bukan pengurusan jemaat (lih. 1Kor 1:17; 9:16; 15:1). Mengenai kuasa serta wewenang tidak ada orang yang bertanya.

Semua itu menjadi agak lain, ketika para rasul sudah tidak ada. Dalam Kis 15:2 di samping para rasul juga disebut “penatua-penatua” (lih. juga 11:30). Tidak seluruhnya jelas fungsi dan asal-usul golongan ini, tetapi mungkin sekali bahwa di dalam jemaat Yerusalem diambil alih struktur organisasi yang lazim di kalangan Yahudi (Kis 14:23). Dengan demikian, lama-kelamaan para penatua menggantikan rasul-rasul (lih. mis. Kis 15:6; 20:17.28; 21:18). Paulus dalam suratnya yang paling tua juga berbicara mengenai “mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu” (1Tes 5:12). Kurang jelas apakah mereka mempunyai tugas dan kedudukan tetap, atau hanya ditunjuk sementara. Yang jelas bahwa Ef 4:11 sudah mengenal aneka fungsi dan jabatan “rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar”.

Dalam teks ini pun tidak seluruhnya jelas apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu. Kiranya “rasul” dan “nabi” masih menunjuk situasi awal. Rupa-rupanya mereka kemudian diganti dengan “gembala” dan “pengajar”, yang barangkali sudah menjadi petugas tetap di dalam jemaat. Sedangkan “pemberita-pemberita Injil” mungkin tidak terikat pada satu jemaat tertentu melainkan berkeliling ke mana-mana. Dalam 1Kor 12:28, sebelum dibicarakan aneka karunia Roh, juga disebut dahulu “rasul”, “nabi” dan “pengajar” (bdk. Kis 13:1; Rm 12:6-7).

Kata episkopos (yang kemudian menjadi “uskup”) sebenarnya berarti “penilik” dan jarang dipakai dalam Kitab Suci (Kis 20:28; Flp 1:1; 1Tim 3:2; Tit 1:7). Kata itu sebetulnya sebuah istilah “profan” dari bahasa biasa, dan kurang jelas apa artinya dalam kerangka Gereja dan agama. Sama halnya dengan kata diakonos, yang sebenarnya hanya berarti “pelayan”, tetapi dalam Rm 16:1; Ef 6:21; Flp 1:1; Kol 4:7 dan terutama dalam 1Tim 3:8-13 jelas mempunyai arti gerejawi dan sudah menjadi semacam “tahbisan” (bdk. 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Banyak hal yang tidak jelas dalam proses perkembangan ini. Tetapi pada akhir perkembangannya ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia, yang mengenal “penilik” (episkopos), “penatua” (presbyteros) dan “pelayan” (diakonos). Struktur itu selanjutnya menjadi struktur hierarkis yang terdiri dari uskup, imam dan diakon. Yang penting bukanlah bagaimana kepemimpinan Gereja dibagi atas aneka fungsi dan peran, tetapi bahwa tugas pewartaan para rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat. Hal itu tidak berarti “rebutan kuasa”, tetapi perhatian yang semakin besar untuk jemaat dan urusan jemaat sendiri. Perkembangan ini tidak hanya disebabkan oleh kematian angkatan yang pertama, tetapi juga karena perhatian untuk parousia atau kedatangan Tuhan pada akhir zaman semakin berkurang. Di samping itu muncul aneka ajaran dan gerakan sesat yang merupakan ancaman bagi kehidupan Gereja. Kalau kita membandingkan surat-surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus dengan surat-surat pastoral (1- 2Tim; Tit), ternyata aneka karunia dan fungsi makin dipusatkan dalam tangan satu atau beberapa orang saja. Bentuk organisasi Gereja makin ketat. Bersama dengan itu juga ada perkembangan bahwa bidang sakral atau kultis makin mendapat banyak perhatian.

Dalam hal ini terjadi suatu proses perkembangan yang dapat dibandingkan dengan proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru. Waktu Paulus menulis surat-suratnya kiranya ia tidak berpikir mengenai Kitab Suci. Begitu juga tulisan yang di kemudian hari akan diakui sebagai Injil, semula dianggap sebagai catatan biasa untuk katekese. Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang lain yang dipandang sebagai sarana komunikasi di dalam jemaat. Baru di kemudian hari disadari bahwa di dalamnya iman Gereja perdana terungkap secara otentik dan asli, di bawah penerangan Roh Kudus.

Begitu juga dengan struktur hierarkis Gereja. Dalam Gereja perdana hierarki dipandang sebagai struktur organisasi dan komunikasi yang biasa. Baru kemudian disadari bahwa di dalamnya karya Roh mendapat bentuknya. Maka, menerima Gereja perdana sebagai norma Gereja sekarang tidak hanya berarti menerima Kitab Suci, tetapi juga bentuk organisasinya sebagaimana berkembang dalam periode awal itu. Justru tulisan-tulisan awal Gereja itu diakui sebagai Kitab Suci dalam kerangka jemaat yang semakin terorganisasi. Keduanya kait-mengait, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Bahkan harus dikatakan bahwa Kitab Suci sudah mengandaikan suatu jemaat terorganisasi yang mau menerimanya secara resmi sebagai sabda Allah.

Gereja yang Apostolik


Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef 2:20; bdk. Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul.

Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih. Mat 10:1-4 dsj.).

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat sebagai penggantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya” (1Ptr 3:15).

Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef 4:16). Seperti semua sifat yang lain, begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, Katolik dan apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.

Gereja yang Satu


Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja.

Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok.

Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris, tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah.

Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan, daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain. Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai; perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena rahmat Injil.

Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23).

Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22).