Uskup


Pada dasarnya paus juga seorang uskup. Kekhususannya sebagai paus, bahwa dia ketua dewan para uskup. Kekhususan para uskup ialah mereka selalu berkarya dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain dan dengan mengakui paus sebagai kepala. Apa sebenarnya karya seorang uskup? Konsili Vatikan II merumuskannya dengan jelas, “Masing-masing uskup menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya” (LG 23). Mengenai paus dikatakan yang sama untuk seluruh Gereja, “asas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para uskup maupun segenap kaum beriman”.

Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri dan paus bagi seluruh Gereja adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas itu boleh disebut tugas kepemimpinan, dan para uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27). Namun Konsili menegaskan bahwa “tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya, sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab Suci disebut diakonia atau pelayanan” (LG 24). Karena Gereja itu komunikasi iman, maka tugas pemersatu hanya dapat dijalankan dengan memajukan komunikasi itu, bukan dengan paksaan atau indoktrinasi. Suatu kesatuan yang dipaksakan dari atas bukanlah kesatuan iman.

Tugas pemersatu itu selanjutnya dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja. Komunikasi iman Gereja terjadi dalam pewartaan, perayaan dan pelayanan. Maka dalam tiga bidang itu para uskup, dan paus untuk seluruh Gereja, menjalankan tugas kepemimpinannya. “Di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Selanjutnya uskup “diserahi tugas mempersembahkan ibadat agama Kristen kepada Allah yang mahaagung, dan mengaturnya menurut perintah Tuhan dan hukum Gereja” (LG 26). Akhirnya “para uskup membimbing Gereja-gereja yang dipercayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan Gereja uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi iman.

Paus


Dalam uraian mengenai dewan para uskup, Konsili menegaskan:

“Adapun Dewan atau Badan para Uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai Kepalanya, dan selama kekuasaan Primatnya terhadap semua, baik para Gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya. Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (LG 22).

Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Kristus “mengangkat St. Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Dalam diri Petrus itu Ia menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul. Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup. Di sini timbul dua pertanyaan: a) bagaimana Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul; dan b) mengapa paus itu pengganti Petrus?

Yang paling mudah ialah pertanyaan yang kedua. Petrus, menurut kesaksian tradisi, adalah uskup Roma yang pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Maka menurut keyakinan tradisi, uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Yang penting sebenarnya bukan kedudukan di Roma, sebab paus itu pemimpin Gereja universal sebagai pengganti Petrus. Hubungannya dengan Petrus dilambangkan dengan kedudukannya sebagai uskup Roma. Yang pokok ialah pengganti Petrus. Tetapi apa tugas dan kuasa Petrus?

Jelas sekali dari Perjanjian Baru bahwa Petrus memang mempunyai kedudukan yang istimewa di antara para rasul. Hal itu dapat diterangkan dari watak dan pembawaannya, serta dari kedudukannya sebagai orang yang sudah berkeluarga. Tetapi oleh tradisi Mat 16:16-19 dan Yoh 21:15-19 diartikan sebagai kisah penyerahan kuasa kepemimpinan kepada Petrus. Dengan demikian Petrus diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para rasul menghimpun Gereja semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas St. Petrus, ketua mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri menjadi batu sendinya” (LG 19).

Sebetulnya harus dikatakan, seperti dalam hal prinsip hierarkis pada umumnya, bahwa sulit dibedakan antara Yesus dan Gereja perdana. Dasar kedudukan paus sebagai pengganti Petrus bukan hanya Perjanjian Baru yang berasal dari Gereja perdana, melainkan juga penafsiran dan pemahaman tulisan itu dalam tradisi Gereja selanjutnya.

Di sini pun dapat ditarik kesimpulan bahwa, kendatipun segala kesulitan yang ada (lih. Gal 2:11-14), Petrus oleh Gereja perdana diakui sebagai pemimpin umum. Justru kesulitan-kesulitan itu memperlihatkan bahwa dasar pengakuan itu bukanlah pribadi Petrus sendiri, melainkan tugas dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan Yesus. Seandainya tidak ada sabda Yesus yang jelas dan tegas, mereka tidak akan memberikan begitu banyak perhatian kepada kedudukan Petrus. Maka fungsi dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin seluruh Gereja – dengan tetap mengakui tugas dan wewenang dewan – diakui pula sebagai unsur yang termasuk prinsip┬áhierarkis, yang akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Itulah dasar tugas dan wewenang paus, sebagai pengganti Petrus.

Dewan Para Uskup


Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dalam surat St. Klemens Romanus, pengganti St. Petrus yang ketiga (akhir abad pertama, seangkatan dengan St. Ignatius dari Antiokhia dan St. Yohanes rasul):

“Para rasul menerima Injil untuk kita dari Yesus Kristus; dan Yesus Kristus diutus oleh Allah. Maka Kristus berasal dari Allah, dan para rasul dari Kristus: kedua-duanya datang sebagaimana mestinya, menurut kehendak Allah. Begitulah, para rasul pergi mewartakan kabar gembira, bahwa Kerajaan Allah akan datang dengan segera. Dan sementara mereka mewartakan di desa-desa dan di kota-kota, mereka menunjuk murid mereka yang pertama, setelah diuji oleh Roh, menjadi uskup dan diakon bagi orang yang akan percaya. Dan ini bukan pembaruan, sebab sudah lama Kitab Suci berbicara mengenai uskup dan diakon; beginilah kata Kitab Suci: “Aku akan menunjuk uskup-uskup mereka dalam kebenaran dan diakon-diakon mereka dalam iman” (bdk. Yes 60:17). Rasul-rasul kita juga mengetahui bahwa akan ada perselisihan mengenai jabatan uskup. Oleh sebab itu, karena mereka sudah mengetahui sebelumnya, mereka menunjuk orang seperti yang telah disebut di atas dan menetapkan peraturan, bahwa orang itu, bila sudah meninggal, harus diganti orang lain” (Surat kepada Jemaat Korintus, bab 42 dan 44).

Pada akhir zaman Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul, seperti yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II (LG 20). Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas uskup (karena ada dua belas rasul). Bukan rasul satu per satu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pimpinan Gereja diganti oleh kalangan para uskup. Konsili Vatikan II memberikan keterangan tambahan ini:

“[Oleh Tuhan Yesus] para rasul dibentuk menjadi semacam dewan atau badan yang tetap. Dan seperti St. Petrus dan para rasul lainnya atas penetapan Tuhan merupakan satu Dewan para rasul, begitu pula Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, bersama para uskup, pengganti para rasul, merupakan himpunan yang serupa” (LG 20; 22).

Tegasnya, dewan para uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup, karena diterima ke dalam dewan itu. Itulah tahbisan uskup, “seseorang menjadi anggota Dewan para uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan persekutuan hierarkis dengan Kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai lambang sifat kolegial ini, tahbisan uskup selalu dilakukan oleh paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan para uskup (LG 21), dan hal itu kurang tampak, seandainya ditahbiskan hanya oleh satu uskup saja.

Uskup itu pertama-tama pemimpin Gereja setempat (LG 22; 27). Namun dalam persekutuan Gereja-gereja setempat hiduplah Gereja universal. Begitu juga, dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain, para uskup setempat menjadi pimpinan Gereja universal. Maka juga dikatakan bahwa tugas-tugas seorang uskup “menurut hakikatnya hanya dapat dilaksanakan dalam persekutuan hierarkis dengan Kepala serta para anggota Dewan” (LG 21). “Dewan itu, sejauh terdiri dari banyak orang, mengungkapkan kemacam-ragaman dan sifat universal umat Allah; tetapi sejauh terhimpun di bawah satu kepala, mengungkapkan kesatuan kawanan Kristus” (LG 22). Sifat kesatuan dan kekatolikan Gereja juga terlihat dalam kedudukan dan fungsi para uskup setempat sebagai pemimpin Gereja lokal dan anggota dewan para uskup.

Para Rasul


Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas rasul. Inilah kelompok yang sudah terbentuk waktu Yesus masih hidup bersama mereka. Yudas Iskariot, “yang akan menyerahkan Yesus, dia pun seorang di antara kedua belas murid” (Yoh 6:71). Maka kelompok yang biasanya disebut “keduabelasan” (lih. Mat 10:5; 26: 14.47; dst.) sesudah kematian Yudas disebut “kesebelasan” (Kis 1:26; 2:14; juga Mat 28:16; Mrk 16:14; Luk 24:9.33). Tetapi kata “keduabelasan” tetap terpakai juga (lih. Kis 6:2; 1Kor 15:5), tanda bahwa itu kelompok terkenal. Paulus menyebut kelompok itu “mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku” (Gal 1:17).

Paulus pun seorang rasul, sebagaimana dinyatakan dengan tegas (1Kor 9:1; 15:9; lih. juga Rm 1:1; 1Kor 1:1; 2Kor 1:1, terutama Gal 1:1) karena ia “telah melihat Yesus, Tuhan kita”. Seorang rasul adalah “saksi kebangkitan” (Kis 1:22; 10:41). Yang pertama-tama disebut rasul adalah kelompok dua belas itu, “yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem” (Kis 13:31). Tetapi Paulus pun disebut “rasul”, begitu juga Barnabas dan banyak orang lain (lih. Kis 14:14). Bahkan akhirnya semua “utusan jemaat” disebut rasul (2Kor 8:23; lih. Flp 2:25), karena kata “rasul” (apostolos) memang berarti “utusan” (lih. Luk 9:52), dan secara khusus dipakai untuk “utusan Kristus” (2Kor 5:20). Maka lama-kelamaan kelompok rasul lebih luas daripada kelompok dua belas saja (bdk. 1Kor 15:5 dan 7).

Para rasul di Yerusalem, dan lebih khusus lagi “Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat” (Gal 2:9; bdk. ay. 2 dan 6), rupa-rupanya mempunyai kedudukan dan wewenang yang khas. Sesudah bekerja lama di antara bangsa kafir Paulus merasa perlu membentangkan Injil yang diberitakannya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi “dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang” itu (Gal 2:2). Dari satu pihak Paulus mempertahankan bahwa kerasulannya “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Tetapi dari pihak lain ia mencari hubungan dengan Yerusalem “supaya jangan bekerja dengan percuma” (2:2), dan berjabat tangan dengan pemimpin di Yerusalem dipandangnya sebagai “tanda persekutuan” (2:9). Ia berani berterus-terang dengan Petrus (Gal 2:14), tetapi ia juga menempatkan kesaksiannya bersama dengan pewartaan mereka (1Kor 15:11).

Dengan bangga Paulus menyebut diri “rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi” (Rm 11:13; lih. Gal 1:16), tetapi dengan rajin ia mengumpulkan dana untuk jemaat di Yerusalem, “sebab, jika bangsa-bangsa lain beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah mereka melayani orang Yahudi dengan harta duniawi” (Rm 15:27). Yerusalem tetap dipandang sebagai pusat, demikian juga “mereka yang senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga” (Kis 1:22). Tetapi sesudah Paska, yang terpenting bukan lagi keikutsertaan dengan Yesus dalam karya-Nya di Palestina, melainkan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

Mereka tetap “memberi kesaksian tentang Injil kasih-karunia Allah” (Kis 20:24) dan mewartakan “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” (Kis 1:1). Sesudah Paska tekanan ada pada Yesus sendiri, khususnya pada wafat dan kebangkitan-Nya. “Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:20). Tugas pokok adalah pewartaan, dan pewartaan semakin terpusatkan pada Tuhan yang mulia. Maka dalam jemaat Korintus amat dipentingkan pengalaman akan Roh, sebab “Tuhan adalah Roh” (2Kor 3: 17) dan “tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Jemaat hidup dari pengalaman Roh itu. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7).

Di dalam jemaat masing-masing anggota mempunyai tugas dan perannya sendiri, dan untuk itu ia juga diberi karunia khusus Roh Kudus, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing anggotanya” (1Kor 12:27). Maka “hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu, tetapi semuanya untuk membangun” (1Kor 14:26). Jemaat hidup dari karunia Roh. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur, sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor 14:40.33). Oleh karena itu Paulus terpaksa turun tangan, bila kesopanan dan kesatuan ternyata kurang diindahkan (lih. 1Kor 5:1-13; 7:17; 11:34; 16:1; 2Kor 2:5-11).

Prinsip kesatuan jemaat bukanlah kuasa atau wewenang Paulus, melainkan karunia Roh. Tentu saja Paulus mempunyai wibawa sebagai seorang rasul (lih. 1Kor 3:10; 4:15; 2Kor 10:8; 13:10), dan kiranya kepribadian Paulus amat berarti untuk kehidupan dan kesatuan jemaat. Tetapi Paulus tidak pernah menonjolkan diri sebagai pemimpin jemaat. Sebaliknya, ia menyebut diri hamba jemaat, “Sebab, bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Tugas pokok adalah pewartaan Injil, bukan pengurusan jemaat (lih. 1Kor 1:17; 9:16; 15:1). Mengenai kuasa serta wewenang tidak ada orang yang bertanya.

Semua itu menjadi agak lain, ketika para rasul sudah tidak ada. Dalam Kis 15:2 di samping para rasul juga disebut “penatua-penatua” (lih. juga 11:30). Tidak seluruhnya jelas fungsi dan asal-usul golongan ini, tetapi mungkin sekali bahwa di dalam jemaat Yerusalem diambil alih struktur organisasi yang lazim di kalangan Yahudi (Kis 14:23). Dengan demikian, lama-kelamaan para penatua menggantikan rasul-rasul (lih. mis. Kis 15:6; 20:17.28; 21:18). Paulus dalam suratnya yang paling tua juga berbicara mengenai “mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu” (1Tes 5:12). Kurang jelas apakah mereka mempunyai tugas dan kedudukan tetap, atau hanya ditunjuk sementara. Yang jelas bahwa Ef 4:11 sudah mengenal aneka fungsi dan jabatan “rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar”.

Dalam teks ini pun tidak seluruhnya jelas apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu. Kiranya “rasul” dan “nabi” masih menunjuk situasi awal. Rupa-rupanya mereka kemudian diganti dengan “gembala” dan “pengajar”, yang barangkali sudah menjadi petugas tetap di dalam jemaat. Sedangkan “pemberita-pemberita Injil” mungkin tidak terikat pada satu jemaat tertentu melainkan berkeliling ke mana-mana. Dalam 1Kor 12:28, sebelum dibicarakan aneka karunia Roh, juga disebut dahulu “rasul”, “nabi” dan “pengajar” (bdk. Kis 13:1; Rm 12:6-7).

Kata episkopos (yang kemudian menjadi “uskup”) sebenarnya berarti “penilik” dan jarang dipakai dalam Kitab Suci (Kis 20:28; Flp 1:1; 1Tim 3:2; Tit 1:7). Kata itu sebetulnya sebuah istilah “profan” dari bahasa biasa, dan kurang jelas apa artinya dalam kerangka Gereja dan agama. Sama halnya dengan kata diakonos, yang sebenarnya hanya berarti “pelayan”, tetapi dalam Rm 16:1; Ef 6:21; Flp 1:1; Kol 4:7 dan terutama dalam 1Tim 3:8-13 jelas mempunyai arti gerejawi dan sudah menjadi semacam “tahbisan” (bdk. 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Banyak hal yang tidak jelas dalam proses perkembangan ini. Tetapi pada akhir perkembangannya ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia, yang mengenal “penilik” (episkopos), “penatua” (presbyteros) dan “pelayan” (diakonos). Struktur itu selanjutnya menjadi struktur hierarkis yang terdiri dari uskup, imam dan diakon. Yang penting bukanlah bagaimana kepemimpinan Gereja dibagi atas aneka fungsi dan peran, tetapi bahwa tugas pewartaan para rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat. Hal itu tidak berarti “rebutan kuasa”, tetapi perhatian yang semakin besar untuk jemaat dan urusan jemaat sendiri. Perkembangan ini tidak hanya disebabkan oleh kematian angkatan yang pertama, tetapi juga karena perhatian untuk parousia atau kedatangan Tuhan pada akhir zaman semakin berkurang. Di samping itu muncul aneka ajaran dan gerakan sesat yang merupakan ancaman bagi kehidupan Gereja. Kalau kita membandingkan surat-surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus dengan surat-surat pastoral (1- 2Tim; Tit), ternyata aneka karunia dan fungsi makin dipusatkan dalam tangan satu atau beberapa orang saja. Bentuk organisasi Gereja makin ketat. Bersama dengan itu juga ada perkembangan bahwa bidang sakral atau kultis makin mendapat banyak perhatian.

Dalam hal ini terjadi suatu proses perkembangan yang dapat dibandingkan dengan proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru. Waktu Paulus menulis surat-suratnya kiranya ia tidak berpikir mengenai Kitab Suci. Begitu juga tulisan yang di kemudian hari akan diakui sebagai Injil, semula dianggap sebagai catatan biasa untuk katekese. Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang lain yang dipandang sebagai sarana komunikasi di dalam jemaat. Baru di kemudian hari disadari bahwa di dalamnya iman Gereja perdana terungkap secara otentik dan asli, di bawah penerangan Roh Kudus.

Begitu juga dengan struktur hierarkis Gereja. Dalam Gereja perdana hierarki dipandang sebagai struktur organisasi dan komunikasi yang biasa. Baru kemudian disadari bahwa di dalamnya karya Roh mendapat bentuknya. Maka, menerima Gereja perdana sebagai norma Gereja sekarang tidak hanya berarti menerima Kitab Suci, tetapi juga bentuk organisasinya sebagaimana berkembang dalam periode awal itu. Justru tulisan-tulisan awal Gereja itu diakui sebagai Kitab Suci dalam kerangka jemaat yang semakin terorganisasi. Keduanya kait-mengait, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Bahkan harus dikatakan bahwa Kitab Suci sudah mengandaikan suatu jemaat terorganisasi yang mau menerimanya secara resmi sebagai sabda Allah.

Gereja yang Apostolik


Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef 2:20; bdk. Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul.

Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih. Mat 10:1-4 dsj.).

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat sebagai penggantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya” (1Ptr 3:15).

Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef 4:16). Seperti semua sifat yang lain, begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, Katolik dan apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.