Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Doa untuk Uskup

Ya Allah, Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Tuhan Yesus telah membangun Gereja, dan telah memanggil begitu banyak pelayan untuk mengajar, menguduskan, dan menggembalakan umat-Mu.

Kami berdoa bagi para uskup, khususnya uskup kami…. Sebagai pemimpin umat Allah, semoga mereka mengusahakan hidup yang tak bercela. Semoga mereka selalu bertindak bijaksana, adil, dan saleh. Bantulah mereka untuk selalu tampil sebagai pendamai, dapat menguasai diri, dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya mereka sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran yang benar.

Bantulah mereka memelihara dan memimpin Gereja dengan baik. Semoga mereka mampu membangun jemaat keuskupan menjadi pengejawantahan Gereja semesta yang esa.

Semoga mereka penuh cinta dan perhatian kepada para imam, rekan kerja mereka dalam melayani umat-Mu. Bantulah mereka memelihara dan memupuk kekudusan para imam, dan membina hubungan serta kerjasama yang baik dengan mereka.

Tumbuhkanlah cinta persaudaraan sejati dalam diri mereka terhadap sesama uskup. Doronglah mereka untuk melindungi dan memajukan kesatuan iman. Semoga mereka memiliki perhatian yang nyata terhadap kesejahteraan seluruh Gereja. Bukalah hati mereka bagi semua orang yang berkehendak baik. Buatlah mereka peka terhadap keprihatinan warga masyarakat, terutama yang miskin dan lemah. Jadikanlah mereka teladan serta pendorong umatnya dalam ikut serta menyejahterakan masyarakat.

Kami berdoa pula bagi para uskup yang mengalami kesulitan dalam melayani keuskupannya. Sudilah Engkau selalu mendampinginya. Limpahilah dia berkat istimewa, agar selalu tabah menghadapi tantangan yang ada.

Semua ini kami mohon kepada-Mu, Bapa, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Imam Agung umat-Mu, kini dan sepanjang masa.

(Amin.)

Sakramen Tahbisan

Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Magisterium atau Wewenang Mengajar

Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki-lah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar tidak sama dengan mewartakan.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“.

Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat:

  1. Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan;
  2. Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus;
  3. Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat);
  4. Disepakati bersama.

Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan.

Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru. Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman. Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Hidup Bakti Biarawan-Biarawati

Bruder dan suster bukan anggota hierarki, dan semua biarawan-biarawati tidak termasuk hierarki. Hanya saja ada biarawan yang ditahbiskan imam. Mereka sekaligus anggota kelompok kebiaraan dan pembantu uskup, tetapi hidup membiara sendiri bukan fungsi gerejawi, melainkan corak kehidupan. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II mengajarkan, “Meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis Gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja” (LG 44), sebab hidup membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan “nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan” (LG 43). Tetapi apa yang berupa nasihat dari Yesus, oleh usaha “pimpinan Gereja, di bawah bimbingan Roh Kudus” berkembang menjadi “bentuk-bentuk penghayatan nasihat Injil yang tetap”. Namun “status religius itu bukanlah jalan tengah antara perihidup para imam dan kaum awam”. Prinsipnya lain. “Di antara para anggota umat Allah terdapat perbedaan, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti menuju kesucian” (LG 13). Lalu masih ada “semua orang Kristen lain yang tidak termasuk golongan imam atau status religius” dan yang lazim disebut “awam” (LG 31). Perbedaan antara awam dan imam itu soal fungsi atau jabatan, sedangkan perbedaan dengan biarawan-biarawati menyangkut “corak kehidupan”. Hidup membiara tidak ditentukan oleh fungsi atau pekerjaan, melainkan oleh corak atau cara kehidupan, khususnya kehidupan yang di dalamnya orang “dengan kaul-kaul atau ikatan suci lainnya mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasihat Injil”, yaitu selibat atau keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan (LG 44).

Selibat atau keperawanan memang merupakan inti atau hakikat hidup bakti, sebab dengan kaul itu orang membaktikan diri secara total dan menyeluruh kepada Kristus. Kebaktian permandian, yang merupakan sikap penyerahan setiap orang Kristen, dengan kaul keperawanan atau selibat dinyatakan dalam seluruh hidup dan setiap seginya sebagai bentuk atau corak kehidupan. Akibat pembaktian total itu adalah “kewajiban bertarak sempurna dalam selibat” (KHK kan, 599). Namun selibat tidak sama dengan tidak-kawin. Itu bukan inti-pokok hidup membiara. Yang pokok adalah penyerahan total kepada Kristus, yang dinyatakan dengan meninggalkan segala-galanya demi Kristus dan juga dengan terus-menerus semakin mengarahkan diri kepada Kristus, khususnya dalam hidup doa.

Kaul kemiskinan ditetapkan “menurut peraturan hukum masing-masing tarekat” (KHK kan. 600). Ternyata kaul kemiskinan mempunyai dua aspek, yang satu lebih asketis dan berarti gaya hidup yang sederhana; yang lain lebih apostolis dan berarti kerelaan menyumbangkan apa-apa saja demi kerasulan. Yang terakhir itu tidak hanya, bahkan tidak pertama-tama menyangkut harta benda, melainkan tenaga, waktu, keahlian dan ketrampilan, pendek kata segala kemampuan dan seluruh kehidupan.

Dalam kaul ketaatan dapat dibedakan antara aspek asketis dan apostolis. Dalam kerangka askese atau latihan hidup rohani ketaatan berarti kepatuhan kepada guru rohani; berhubung dengan kerasulan kaul ketaatan berarti kerelaan membaktikan diri kepada hidup dan terutama kerasulan bersama. Ketaatan berhubungan dengan hidup bersama, sebab juga “hidup persaudaraan menjadi ciri masing-masing tarekat” (KHK kan. 602; 607 §2). Dalam hal ini mereka yang disebut “lembaga-lembaga religius” berbeda dengan “lembaga-lembaga sekular”, sebab para anggota lembaga sekular “hidup di dunia ramai” (KHK kan. 710), “sendirian atau dalam keluarga masing-masing atau dalam kelompok hidup persaudaraan” (KHK kan. 714). Mereka juga mengikrarkan tiga nasihat injili (KHK kan. 723) tetapi, khususnya dalam hal kemiskinan dan ketaatan ikatan pada kelompok, lain daripada dalam lembaga-lembaga religius atau hidup membiara. Mereka “berusaha melaksanakan pengudusan dunia terutama dari dalam” (KHK kan, 710) dengan hidup bersama para anggota masyarakat yang lain. Secara lahiriah mereka sedapat mungkin tidak membedakan diri dari para awam “biasa”. Di sini perlu diingat bahwa kesucian memang tidak tergantung pada bentuk atau corak kehidupan. Tetapi suatu cara hidup tertentu dapat membantu dan menyokong pengarahan diri yang lebih jelas dan mantap kepada Kristus. “Maka dari itu hendaklah setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasihat-nasihat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi kesuburan kesucian Gereja, serta kemuliaan Allah Tritunggal” (LG 47). Singkat kata, biarawan-biarawati itu merupakan suatu golongan tertentu yang menuntut atau mengejar kesempurnaan secara khas.

Pembantu Uskup: Imam dan Diakon

Uskup itu pemimpin Gereja lokal, tetapi ia jarang kelihatan di tengah-tengah umat. Tampaknya uskup seorang “administrator” saja. Sebelum Konsili Vatikan II banyak orang berpendapat bahwa dengan tahbisan imam seseorang sudah menerima kepenuhan imamat, sedangkan tahbisan uskup sebetulnya hanya upacara administratif saja. Ajaran Konsili Vatikan II lain: “Konsili suci mengajarkan, bahwa dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yakni yang disebut imamat tertinggi, keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Kepenuhan imamat tidak diberikan dengan tahbisan imam, tetapi dengan tahbisan uskup.

Anggapan (umum) bahwa tahbisan imam sudah berarti kepenuhan imamat, berhubungan dengan pandangan yang melihat tugas imam melulu dalam kaitan dengan Ekaristi (dan sakramen tobat). Seorang imam dipandang orang yang diberi kuasa mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dan mengampuni dosa. Pandangan salah ini mempunyai dasar dalam ajaran Konsili Trente, yang menegaskan tugas sakramental imam dalam jawabannya terhadap ajaran Protestan. Oleh karena Trente hanya mau menanggapi ajaran Reformasi, maka juga hanya menyebut hal-hal yang dipersoalkan oleh Reformasi. Ajaran Trente tidak lengkap. Oleh karena itu Konsili Vatikan II melengkapi ajaran Trente dengan mengajarkan bahwa tugas pokok uskup [dan imam] adalah kepemimpinan. Tugas itu kemudian dijabarkan dalam tiga tugas khusus. Yang pertama tugas pewartaan, selanjutnya bidang sakramen, dan akhirnya seluruh kehidupan jemaat. Kecuali itu, dengan mengikuti Kitab Suci, Konsili Vatikan II dengan menekankan tugas kepemimpinan juga menegaskan fungsi uskup sebagai pemimpin yang sesungguhnya dan mengajarkan bahwa para imam merupakan pembantunya.

Uskup sekarang jarang tampil di tengah-tengah umat. Ini berhubungan dengan “ukuran” keuskupan. Zaman dahulu, sampai abad ke-6, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada yang sekarang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala” pada zaman itu, dan imam-imam “pastor pembantu”. Lama kelamaan para pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan. Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup semakin diserap oleh tugas organisasi dan administrasi. Tetapi semua itu sebetulnya tidak menyangkut tugasnya sendiri sebagai uskup, melainkan cara melaksanakannya.

Dengan perkembangan itu para imam makin menjadi wakil uskup. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG 28). Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi”. Bagi mereka juga berlaku bahwa “umat Allah pertama-tama dihimpun oleh sabda Allah yang hidup. Maka para imam sebagai rekan-rekan sekerja para uskup, pertama-tama wajib mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4). Baru kemudian disebut tugas liturgis dan organisatoris (PO 5; 6), sebab “termasuk tugas para imam sebagai pembina iman, mengusahakan supaya orang beriman masing-masing dibimbing dalam Roh Kudus guna menghayati panggilannya sendiri menurut Injil, secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur, dan hidup dalam kebebasan yang dikaruniakan oleh Kristus” (PO 6).

“Semua imam adalah pembantu uskup dan mengambil bagian dalam tugas membangun jemaat. Tetapi tugas membantu uskup dalam kepemimpinan keuskupan secara khusus dipercayakan kepada dewan imam yang merupakan suatu senat uskup dan sekaligus mewakili para imam dalam suatu keuskupan” (KHK kan. 495).

Konsili Vatikan II mengakhiri uraiannya mengenai hierarki dengan para diakon: “Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan ‘bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan’ (LG 29). Mereka juga pembantu uskup, tetapi tidak mewakilinya. Para uskup mempunyai dua macam pembantu: pembantu umum (disebut imam) dan pembantu khusus (disebut diakon). Bisa juga dikatakan bahwa diakon “pembantu dengan tugas terbatas”. Oleh karena itu dia ada “pada tingkat hierarki yang lebih rendah”. Diakon juga anggota hierarki, oleh karena itu mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan. Hanya saja agak sulit mengkhususkan tugas itu. Dalam organisasi Gereja sekarang ini semua tugas itu sudah dilakukan oleh imam atau oleh awam. Maka tidak ada banyak orang yang ditahbiskan menjadi diakon. Hanya karena dikatakan bahwa “diakonat dapat diterimakan kepada pria yang sudah berkeluarga”, maka kadang-kadang ada orang ditahbiskan menjadi diakon untuk tugas gerejawi. Banyak tugas itu dijalankan oleh awam tidak-tertahbis. Maka, karena kekurangan imam ada kalanya ditahbiskan orang menjadi diakon, dengan tugas terbatas.

Kardinal bukan tingkatan atau fungsi khusus dalam kerangka hierarki, Seorang kardinal adalah uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih paus baru, bila ada seorang paus meninggal. Karena paus adalah uskup Roma, maka paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya oleh pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (= cardinalis). Karena tugas dan wewenang paus tidak lagi pertama-tama terkaitkan dengan urusan keuskupan Roma saja, maka yang memilihnya juga bukan lagi pastor-pastor kota Roma. Dewasa ini para kardinal dipilih dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama-kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Para kardinal diangkat oleh paus. Sejak abad ke-13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.