Gereja Lokal dan Gereja Universal

Masalah Gereja lokal – Gereja universal secara khusus dibahas oleh Konsili Vatikan II dalam LG 23, yang berjudul “Uskup setempat dan Gereja universal”. Konsili mengajarkan:

“Masing-masing uskup merupakan asas dan dasar kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri, yang terbentuk menurut citra Gereja semesta (universal). Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja setempat itu dan terhimpun dari padanya.”

Di sini terungkap sifat Katolik Gereja: “Gereja Katolik yang satu dan tunggal” sama di mana-mana tetapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam masing-masing Gereja setempat – bagaimanapun juga bentuk khususnya – hadirlah satu Gereja Kristus, Gereja semesta atau universal. Maka, dilihat dari Gereja setempat juga dapat dikatakan bahwa Gereja setempat itu “terbentuk menurut citra Gereja semesta”. Itu tidak berarti bahwa sudah ada Gereja universal dahulu, yang kemudian menjadi “model” Gereja setempat, sebab Gereja universal “terhimpun dari” Gereja-gereja setempat. Di sini juga muncul sifat kesatuan. Sebab Gereja-gereja setempat, yang di dalamnya terwujud Gereja Kristus, bersama-sama membentuk “persekutuan” (communio) dan itulah Gereja semesta.

Secara manusiawi Gereja universal adalah persekutuan Gereja-gereja setempat. Tetapi secara ilahi, sebagai Gereja Kristus, Gereja universal “berada dalam Gereja-Gereja setempat itu”. Gereja itu sekaligus misteri rahmat Allah yang tak-kelihatan, dan sakramen atau tanda dan sarana, yang membuat rahmat ilahi itu menjadi nyata bagi manusia. Gereja universal sesungguhnya bukan hanya kumpulan Gereja-Gereja setempat. Karena sifat misterinya, Gereja universal sudah hadir dan terlaksana dalam setiap umat setempat. Oleh karena itu, bila semua Gereja setempat ber-communio, tidak terjadi banyak Gereja Kristus, melainkan “Gereja Katolik yang satu dan tunggal terhimpun dari padanya”. Namun Gereja universal itu bukan hanya misteri yang tak-kelihatan, melainkan menjadi nyata dalam Gereja semesta, yang tampak dalam communio Gereja-gereja setempat. Dan karena sifat tampak dan manusiawi itu, maka Gereja semesta mempunyai bentuk sendiri, dengan paus sebagai kepala. Tetapi janganlah Gereja semesta itu dilihat sebagai Gereja yang “sesungguhnya”, sedangkan Gereja setempat hanyalah cabang saja. “Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah” (LG 26). Sifat “universal” terjamin oleh persekutuan antara Gereja-gereja. Dengan berintegrasi ke dalam persekutuan Gereja-gereja, masing-masing Gereja setempat merealisasikan diri sebagai kumpulan orang beriman, di mana “sungguh hadir dan berkaryalah Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik” (CD 11).

Penampilan Gereja Sekarang

Soal sifat-sifat Gereja membawa beberapa soal aktual dalam kehidupan Gereja sekarang. Secara khusus dapat disebut:

  1. hubungan antara Gereja lokal (setempat) dan Gereja universal (semesta), khususnya berkaitan dengan kesatuan Gereja;
  2. ekumenisme, yang lebih berhubungan dengan kekatolikan Gereja; dan
  3. misi, khususnya dalam hubungan dengan sifat apostolik.

Dalam tiga persoalan khusus ini kelihatan arti sifat-sifat Gereja yang konkret bagi Gereja sekarang.

Gereja yang Katolik

Kata “Katolik” adalah kata yang sulit. Secara harfiah dengan kata itu dinyatakan bahwa Gereja berkembang “di seluruh dunia”. Memang benar, Gereja tersebar ke mana-mana, namun tidak benar bahwa tidak ada tempat yang tidak ada Gereja. Banyak daerah dan negara tidak mengenal Gereja. St. Ignatius dari Antiokhia, yang untuk pertama kalinya memakai kata ini, berkata, “Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus Yesus, di situ ada Gereja Katolik“. Yang dimaksudkan ialah dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh uskup, hadir bukan hanya jemaat setempat tetapi juga seluruh Gereja. Jadi, gagasan pokok bukanlah bahwa Gereja telah tersebar ke seluruh dunia, melainkan bahwa dalam setiap jemaat setempat hadirlah Gereja seluruhnya. “Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja setempat dan terhimpun daripadanya” (LG 23).

Gereja selalu “lengkap”, penuh. Tidak ada Gereja setengah-setengah atau sebagian. Gereja setempat, entah keuskupan ataupun paroki, bukanlah “cabang” Gereja universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja. Gereja tidak dapat dipotong-potong menjadi “Gereja-Gereja bagian”.

Kata “Katolik” selanjutnya juga dipakai untuk menyebut Gereja yang benar, Gereja universal yang dilawankan dengan sekte-sekte. Dengan demikian kata “Katolik” mendapat arti yang lain: “Gereja disebut Katolik, karena tersebar di seluruh muka bumi dan juga karena mengajarkan secara menyeluruh dan lengkap segala ajaran iman tertuju kepada semua manusia, yang mau disembuhkan secara menyeluruh pula” (St. Sirilus dari Yerusalem). Sejak itu kata “Katolik” tidak hanya mempunyai arti geografis, tersebar ke seluruh dunia, tetapi juga “menyeluruh”, dalam arti “lengkap”, berkaitan dengan ajarannya, serta “terbuka” dalam arti tertuju kepada siapa saja. Pada abad ke-5 masih ditambahkan bahwa Gereja tidak hanya untuk segala bangsa, tetapi juga untuk segala zaman.

Pada zaman Reformasi kata “Katolik” muncul lagi untuk menunjuk pada Gereja yang tersebar ke mana-mana, dibedakan dengan Gereja-gereja Protestan, yang (pada waktu itu) masih terbatas pada daerah Eropa tertentu. Sejak itu dengan kata “Katolik” secara khusus dimaksudkan umat Kristen yang mengakui paus sebagai pemimpin Gereja universal, tetapi dalam syahadat kata “Katolik” masih mempunyai arti asli “universal” atau “umum”. Ternyata universal pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif. Mengenai “Sifat umum dan Katolik Umat Allah yang satu” Konsili Vatikan II berkata:

“Satu Umat Allah itu hidup di tengah segala bangsa di dunia, karena memperoleh warganya dari semua bangsa. Semua orang beriman, yang tersebar di seluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan yang lain. Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; dengan menampung juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya. Gereja yang Katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya” (LG 13).

Di satu pihak dikatakan bahwa Umat Allah “hidup di tengah segala bangsa” serta “memperoleh warganya dari semua bangsa”. Ini segi kuantitatif atau geografis. Di pihak lain juga dikatakan bahwa “Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa”. Inilah segi kualitatifnya, yakni tidak ada sesuatu pun yang tidak diterima oleh Gereja. Kedua aspek itu dirangkum dalam kalimat terakhir “merangkum segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya“. Itu terjadi “di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya”. Yang terakhir ini aspek yang paling pokok. Gereja disebut “Katolik”, karena dengan perantaraannya Roh Kudus hadir di seluruh dunia. Yang hadir di mana-mana serta mengangkat segala kekayaan umat manusia sebetulnya bukan Gereja melainkan Roh yang berkarya dalam dan melalui Gereja.

Konsili Vatikan II tidak lagi memusatkan perhatiannya pada Gereja sebagai sekelompok manusia yang terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. “Kekatolikan” Gereja berarti bahwa pengaruh dan daya-pengudus Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia. Dengan sifat “Katolik” dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di dalamnya. Yang pokok bukanlah bahwa Gereja merangkum atau menerima segala sesuatu, melainkan bahwa ia dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh karena itu, yang “Katolik” bukan hanya Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab di dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja.

“Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang dalam Perjanjian Baru disebut Gereja. Gereja-gereja itu, di tempatnya masing-masing, dengan sepenuhnya merupakan Umat baru yang dipanggil oleh Allah dalam Roh Kudus. Dalam jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah di situ Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik” (LG 26).

Oleh karena itu, setiap anggota jemaat harus menjadi penyiar semangat Kristus. Seperti dalam hal kesatuan, begitu juga kekatolikan terlaksana melalui persekutuan, komunikasi di dalam jemaat sendiri dan di antara para jemaat, baik yang kecil maupun yang besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa kekatolikan berarti bahwa Gereja mampu disebarkan ke seluruh dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Di mana-mana dan dalam bentuk yang berbeda-beda, terwujudkan satu Gereja Kristus. Kekatolikan berarti keterbukaan dan keberanian membuka diri senantiasa bagi bentuk kehidupan yang baru dan berbeda.

Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa kesatuan dan kekatolikan Gereja kait-mengait. Kesatuan berbicara mengenai hubungan antara para anggota dan antara jemaat-jemaat, menjadi satu Gereja dalam persekutuan (communio). Kesatuan menyangkut hubungan luar atau lahir. Sebaliknya kekatolikan mengenai hubungan batin, hubungan jemaat atau anggota yang satu dengan yang lain “dalam Roh”: dalam segalanya berkarya Roh yang sama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekatolikan itu “misteri” kesatuan, atau sebaliknya kesatuan adalah “sakramen” yang menampakkan kekatolikan. Maka kesatuan, yang sebagai “kekompakan” senantiasa menjurus ke arah ketertutupan, harus selalu diimbangi oleh kekatolikan, yang menjamin keterbukaan Gereja.

Justru di sini kelihatan bahwa Gereja itu “Bhineka Tunggal Ika”, bukan hanya de facto (memang demikian), tetapi de iure (karena kesatuan dalam keanekaan dijamin oleh Roh Kudus). Tidak hanya dalam banyak jemaat, tetapi juga dalam banyak rumus iman dan dalam aneka bentuk perayaan liturgis diungkapkan satu iman, karena diinspirasikan oleh Roh Kudus. Justru kesatuan iman itu berarti bahwa keanekaan ekspresi harus mendukung dan menunjang kesatuan penghayatan. Karena Gereja itu sekaligus insani dan ilahi, sudah semestinya kesatuannya tidak hanya menyatakan diri secara manusiawi sebagai organisasi dan institusi, tetapi benar-benar memperlihatkan inspirasi Roh Allah. Oleh karena itu kesatuan Gereja hanya dapat kentara sebagai kesatuan Gereja, kalau diimbangi oleh kekatolikannya.

Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Gereja

Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.

Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.

Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.

Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang.

Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.