Doa untuk Persatuan Umat Kristiani

(Khususnya untuk Pekan Doa Sedunia)

Bapa yang maha pengasih dan penyayang, menjelang akhir hidup-Nya, Yesus telah berdoa bagi para murid-Nya, “Semoga mereka semua bersatu, seperti Engkau, ya Bapa, ada dalam Aku dan Aku dalam Dikau; supaya mereka juga bersatu dalam Kita, agar dunia ini percaya bahwa Engkau telah mengutus Aku.”

Maka kami mohon, ya Bapa: Semoga semua orang kristen bersatu padu dan giat mengusahakan kesatuan. Semoga seluruh pemimpin umat-Mu semakin menyadari perlunya kesatuan. Musnahkanlah sandungan akibat perpecahan umat kristen dilenyapkan. Semoga persatuan umat kristen merupakan sumber perdamaian, dan tanda kasih Kristus bagi seluruh umat manusia.

Bapa, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda kepada para rasul, “Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu”: janganlah Kau pandang dosa-dosa kami, melainkan kepercayaan umat-Mu, dan berikanlah damai serta persatuan kepada kami sesuai dengan kehendak-Mu. Pandanglah kawanan domba Yesus. Semoga semua, yang telah dikuduskan oleh satu pembaptisan, dipererat pula oleh persatuan iman dan ikatan kasih. Buatlah kami semua menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-satunya gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad.

(Amin.)

Kebiasaan Umat Kristen

KristenSetiap masyarakat mempunyai tradisi atau kebiasaan, yang mampu menopang dan melestarikan kehidupan dan kesatuan masyarakat itu sendiri. Gereja, sebagai masyarakat kaum beriman, juga memiliki bermacam-macam kebiasaan. Dalam perjalanan sejarah kebiasaan itu telah membentuk, menopang, dan membangun jemaat beriman. Kita ditantang untuk mengamalkan, menyegarkan dan kemudian mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Dalam site ini hanya diambil sejumlah kebiasaan yang pokok mengingat tempat yang tersedia serba terbatas. Di luar ini masih banyak kebiasaan yang baik, yang juga patut dihayati, dilestarikan, dan dikembangkan.

Berhimpun pada hari Minggu

Pada hari Minggu, umat kristen wajib berhimpun untuk Perayaan Ekaristi, atau untuk Perayaan Sabda (lihat KHK 1247-1248). Kebiasaan ini didasarkan pada tradisi para rasul yang berpangkal pada hari kebangkitan Kristus sendiri. Pada hari Minggu, Gereja berkumpul untuk merayakan misteri Paskah, yakni mengenangkan sengsara, wafat, kebangkitan, dan kemuliaan Tuhan Yesus. Dalam pengenangan ini, Gereja mendengarkan sabda Allah dan berpartisipasi dalam Ekaristi; Gereja juga bersyukur kepada Allah yang telah “melahirkan kembali mereka ke dalam hidup yang penuh pengharapan” (lihat 1Ptr 1:3; KL 106).

Membaca Kitab Suci

Gereja menghendaki agar khazanah Kitab Suci dibuka lebih lebar kepada umat (lihat KL 51), sebab di dalam Kitab Suci Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus mewartakan kabar gembira Injil (lihat KL 184). Kitab Suci adalah sumber dan dasar iman kita. Dengan membaca Kitab Suci kita mengenal Kristus. Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus, dan pengenalan akan Yesus Kristus ini lebih mulia daripada segala sesuatu (lihat DV 25). Dengan rajin membaca Kitab Suci, banyak orang telah memperoleh pengalaman serta kekuatan iman yang mengagumkan, terutama mereka yang tidak hanya membaca, tetapi juga mengamalkannya (lihat Yak 1:22).

Melaksanakan Ibadat Harian

Kristus memerintahkan, “Orang harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1). Para rasul mempunyai kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu, baik bersama-sama di Bait Allah (lihat Kis 3:1) maupun secara pribadi di rumah (lihat Kis 10:9.30). Paulus juga menandaskan agar umat berdoa setiap waktu (lihat Ef 6:18). Karena didorong oleh teladan serta nasihat-nasihat itu, Gereja dengan setia dan tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan Gereja menegaskan bahwa “Dengan pengantaraan Yesus, marilah kita selalu mempersembahkan kurban syukur kepada Allah” (Ibr 13:15). Gereja telah mengembangkan Ibadat Harian, yakni ibadat pada jam-jam tertentu setiap hari: Ibadat Bacaan, Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup; atau paling tidak Doa Pagi dan Doa Malam untuk mengawali dan menutup hari dalam nama Tuhan. Dengan berdoa seperti ini, Gereja menguduskan seluruh hari dan seluruh kegiatan manusia (lihat PIH 11).

Berdoa Bersama dalam Keluarga

Keluarga orang beriman adalah “Gereja kecil”. Gereja sungguh terwujud dalam keluarga jika para anggota keluarga berhimpun dalam nama Tuhan. Dalam himpunan ini tergenapilah janji Tuhan kepada umat-Nya, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Doa bersama ini dapat dilakukan dalam dua bentuk: pertama, semua anggota keluarga berkumpul di suatu tempat dan pada saat yang sama untuk berdoa bersama; kedua, mereka berkumpul pada jam yang sama. Bila anggota keluarga tidak mungkin berkumpul (misalnya ada anggota yang sedang bepergian), keluarga dapat menetapkan jam tertentu untuk berdoa, sehingga kendati berjauhan tempat, mereka merasakan adanya kebersamaan dalam doa.

Berdoa secara Pribadi

Di samping Ibadat Harian dan berdoa bersama, umat beriman dianjurkan agar selalu berkanjang dalam doa, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Paulus (lihat 1Tes 5:17). Gereja menandaskan: selain dipanggil untuk berdoa bersama, orang kristen harus juga masuk ke dalam biliknya untuk berdoa secara pribadi seperti dikatakan Yesus sendiri, “Jika Engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (lihat Mat 6:6; KL 12).

Terlibat dalam Kehidupan Jemaat setempat (Lingkungan, Stasi, Paroki)

Kita adalah Tubuh Kristus. Setiap anggota mempunyai tugas dan peran yang khas, yang tak tergantikan (lihat 1Kor 12:12-31). Maka setiap anggota jemaat harus sungguh terlibat dalam semua segi kehidupan Gereja (persekutuan, liturgi, pewartaan dan pelayanan) baik dalam lingkup lingkungan, stasi, maupun paroki. Mereka juga terikat dengan kewajiban membantu memenuhi kebutuhan Gereja (lihat KHK 222).

Terlibat dalam Masyarakat

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita adalah garam dan terang dunia (lihat Mat 5:13-16). Maka setiap orang beriman dituntut sungguh-sungguh melibatkan diri dalam masyarakat, dan lewat keterlibatan ini mengamalkan amanat Yesus menggarami dan menerangi dunia.

Mereka hendaklah sungguh terlibat dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat, terutama yang miskin dan terlantar (lihat OS I).

Berpuasa dan Berpantang

Puasa adalah ungkapan tobat, dan sekaligus merupakan ulah doa yang hangat.

Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya Paskah.

Dalam tradisi Gereja, para katekumen berpuasa sebelum dibaptis. Mendampingi mereka, seluruh umat beriman juga berpuasa. Masa Puasa yang secara resmi ditetapkan Gereja adalah Prapaskah. Tetapi, selama Masa Prapaskah itu hari puasa resmi hanya dua, yakni Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa Paskah harus dipandang keramat dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat Agung. Bila mungkin, puasa ini hendaklah diperpanjang sampai hari Sabtu Suci (lihat KL 110). Namun Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang Paskah meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus. Di samping itu, secara pribadi, umat kristen disarankan untuk berpuasa pada hari-hari yang dipilihnya sendiri, sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa ini juga bermanfaat untuk membangun semangat pengendalian diri dan menumbuhkan semangat setiakawan dengan sesama yang berkekurangan.

Di samping berpuasa, Gereja juga mempunyai kebiasaan berpantang. Pantang dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan hari raya gerejawi (lihat KHK 1251). Pada hari-hari puasa dan pantang umat kristen meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal (lihat KHK 1249). Kecuali itu Gereja juga menetapkan pantang selama satu jam sebelum kita menyambut Sakramen Mahakudus.

Memeriksa Batin

Dewasa ini, manusia semakin sibuk. Untuk mengimbangi kesibukan yang lebih bersifat lahiriah dan badani ini, kita perlu meningkatkan olah batin: mengadakan renungan, mawas diri. Dalam Gereja, pemeriksaan batin ini sering dikaitkan dengan pertobatan karena lewat pemeriksaan batin ini kita dibantu untuk jujur di hadapan Allah: menyadari dan mengakui kekurangan yang tak dapat kita tutupi. Sebab kalau kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita (lihat 1Yoh 1:8).

Pemeriksaan batin dapat membantu kita makin sadar akan kebaikan Allah dan membangkitkan penyesalan yang tulus atas dosa (lihat PUTL 26). Pemeriksaan batin sebaiknya diadakan setiap hari menjelang tidur, atau pada saat-saat khusus: rekoleksi, retret, Perayaan Ekaristi dan lain-lain.

Mengaku Dosa di Hadapan Imam

Inti hidup kristen adalah bertobat: meninggalkan dosa dan kegelapan, lalu hidup sebagai anak-anak terang (lihai Ef 5:8). Orang yang bertobat adalah orang yang dengan tulus menyadari kelemahan dan kedosaannya, dan dengan rindu mendambakan perdamaian kembali dengan Allah dan dengan sesama warga, seperti anak hilang yang kembali kepada bapanya yang penuh kasih (lihat Luk 15:11-32). Yesus sendiri bersabda, “Akan ada suka-cita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:7). Tobat berpuncak pada pengakuan dan pengampunan. Inilah yang disebut rekonsiliasi atau perdamaian kembali. Perdamaian ini merupakan peristiwa suka-cita yang membawa penyegaran dan hidup baru, karena dengan itu Allah sendiri mendamaikan orang berdosa dengan diri-Nya (lihat 2Kor 5:18).

Mengaku dosa di hadapan imam merupakan perwujudan dari tobat. Dengan mengaku dosa, orang berdosa kembali menjalin ikatan yang baik dengan Allah dan sesama warga Gereja.

Sehubungan dengan pengakuan dosa ini, Gereja juga mempunyai kebiasaan Ibadat Tobat Jemaat, yang dimaksudkan untuk membangun dan mengembangkan sikap tobat dalam diri umat.

Perjalanan Hidup Gereja

Gereja bukanlah “kerangka” karya Roh Kudus, melainkan boleh disebut “hasil” karya Roh itu, yang hanya dapat dimengerti dalam kerangka dan proses karya keselamatan Allah. Sejarah Gereja sudah mulai dengan Perjanjian Lama, ketika Tuhan mengumpulkan umat Israel dan membuatnya menjadi bangsa-Nya yang terpilih. Langkah yang lebih jelas ke arah pembentukan Gereja adalah kedatangan Yesus dan penampilan-Nya di tengah-tengah bangsa Israel.

Banyak orang menerima pewartaan-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Banyak pula menolak-Nya mentah-mentah. Kendati demikian, terbentuklah suatu kelompok khusus di sekitar Yesus. Inti kelompok itu mereka yang di kemudian hari “menjadi saksi-Nya bagi umat itu” (Kis 13:32), yaitu kelompok para rasul. Secara khusus mereka dididik dan digembleng oleh Yesus, dan Petrus diangkat menjadi pemimpin mereka (Mat 16:18; Luk 22:32; Yoh 21:15-17). Itu tidak berarti bahwa Petrus dan para rasul mengambil alih tugas dan perutusan Yesus.

Dengan jelas Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali” (Yoh 14:3.28). Dan “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka Ia mengutus Roh itu” ke dalam Gereja (Kis 2:33), sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Maka bukan hanya hubungan historis yang mengikat Gereja kepada Yesus, melainkan terutama kehadiran Tuhan yang mulia yang membuatnya bersatu-padu dengan Kristus, sehingga Paulus menyebut Gereja “tubuh Kristus” (Rm 12:5; 1Kor 12:13.27; Ef 1:23; 4:12). Gereja itu berkembang dalam peredaran zaman. Banyak dosa melekat padanya, tetapi dalam kelemahan dan perjuangan itu Gereja tetap ditopang oleh Roh Kudus yang telah diberikan kepadanya. Roh itu pula yang membantu secara khusus mereka yang diberi tugas mempersatukan umat. Seluruh kehidupan Gereja, pewartaan, perayaan dan pelayanannya, digerakkan dan didorong oleh Roh yang sama. Struktur-struktur organisasi Gereja tidak menjamin kegiatan dan kelestariannya, tetapi di dalam struktur-struktur itu karya Allah terwujudkan dan dilaksanakan, biarpun dalam bentuk yang sangat kurang sempurna. Itulah yang dimaksudkan dengan kepercayaan akan Gereja, yaitu keyakinan bahwa Allah berkarya dalam kekurangan dan keterbatasan kegiatan sekelompok manusia, yang terbentuk dalam sejarah Allah dengan manusia, khususnya sejak Yesus Kristus hidup dan berkarya.

Namun karya Allah tidak terbatas pada Gereja, dan Kerajaan Allah tidak sama dengan Gereja. Kerajaan Allah dimaksudkan untuk seluruh dunia, khususnya untuk manusia yang melarat dan miskin, dan Gereja dipanggil untuk menjadi pewartanya. Di dalam Gereja panggilan Allah disuarakan lagi. Persekutuan umat merupakan awal dan dasar kesatuan seluruh umat manusia. Tujuan dan sasaran karya keselamatan Allah bukan Gereja melainkan dunia. Gereja hanyalah “tanda dan sarana” (LG 1). Semua itu bersama-sama ditambah dengan banyak unsur lain, membentuk yang disebut misteri Gereja. Kepercayaan akan Gereja adalah iman akan misteri itu, yang sekaligus tersembunyi dan tampak dalam tanda.

Gereja Katolik dan Kegiatannya

Yesus hidup dan berkarya dengan daya kekuatan Allah. Ia memperjuangkan Kerajaan Allah. Ia juga memperjuangkan kesejahteraan dan keselamatan manusia, tetapi selalu sebagai karya Allah. Dasar pewartaan Kerajaan Allah adalah kesatuan Yesus dengan Allah secara pribadi. Konsili Vatikan II berkata, “Seperti Kristus berkeliling ke semua kota dan desa sambil melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah, begitu juga Gereja berhubungan dengan orang mana pun, terutama dengan mereka yang miskin dan tertimpa kemalangan” (AG 12). Itu berarti Gereja pun hanya dapat menjalankan tugas perutusan ini karena kesatuan dengan Allah dalam Kristus. Memang “Gereja menerima perutusan mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya di tengah semua bangsa” (LG 5). Ini bukan soal kuasa atau organisasi, melainkan soal iman. Dalam segala kegiatannya menyumbang pada pembangunan dunia dan masyarakat, Gereja selalu terarah kepada Allah sebagai tujuan hidupnya. “Sementara membantu dunia dan menerima banyak dari padanya, Gereja mempunyai satu tujuan saja, yakni supaya Kerajaan Allah datang dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS 45). “Tujuan umat Kristen adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia, untuk selanjutnya disebarluaskan, dan pada akhir zaman diselesaikan oleh-Nya juga” (LG 9).

Berpangkal pada kesatuan dengan Kristus dalam pengharapan-Nya akan kedatangan Kerajaan, Gereja berusaha mewujudnyatakan sikap dan semangat Kristus dalam pelayanannya kepada dunia. Hal ini tidak berarti bahwa kegiatan orang Kristen di dalam dunia hanyalah sarana dan kesempatan membuat amal dan menaati perintah Kristus. Gereja sungguh terlibat dalam perjuangan masyarakat. Ini bukan pura-pura. Konsili menyatakan, “Sungguhpun kemajuan duniawi harus dengan cermat dibedakan dari pertumbuhan Kerajaan Kristus, tetapi kemajuan ini sangat penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik” (GS 39). Sebab “barangsiapa patuh taat kepada Kristus dan pertama-tama mencari Kerajaan Allah, akan menimba dari padanya cinta kasih yang lebih kuat dan lebih jernih guna membantu semua saudaranya, dan terdorong oleh semangat cinta kasih melaksanakan karya keadilan” (GS 72). Karena itu Konsili berani berkata, bahwa khususnya “kaum awam mencari Kerajaan Allah dengan mengurusi hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah” (LG 31). “Di mana-mana dan dalam segalanya kaum awam harus mencari keadilan Kerajaan Allah” (AA 7).

Kerajaan Allah tidak hanya diwartakan dan dilaksanakan oleh Yesus, tetapi sudah hadir dalam diri-Nya dan dalam semua orang yang menerima-Nya. “Di dunia ini Kerajaan itu sudah hadir dalam misteri, tetapi akan mencapai kepenuhannya bila Tuhan datang” (GS 39). Ini tidak hanya berlaku untuk Yesus dan pewartaan-Nya, tetapi juga untuk Gereja yang “merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia.” Sama seperti pada zaman Yesus, “Gereja pun lambat laun berkembang, mendambakan Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan” (LG 5). Sekarang ini Gereja tetap berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”. Gereja meneruskan pewartaan dan karya Kristus, dengan semangat Kristus pula, yakni dengan iman dan bela rasa mendambakan kedatangan Allah dalam kemuliaan.

Sama seperti pada zaman Yesus, Kerajaan Allah sekarang juga harus dimengerti dan dihayati dalam kerangka kehidupan masyarakat yang sedang berjuang mati-matian mencapai taraf kehidupan yang wajar dan pantas. Kerajaan Allah bukan teori, melainkan jawaban Allah atas seruan orang yang mengangkat tangan kepada-Nya. Maka, bukan hanya pada zaman Yesus, melainkan juga sekarang ini Kerajaan Allah harus dimengerti pertama-tama dari perjuangan kaum miskin. Pewartaan Jesus ditandai oleh iman dan belarasa yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Dalam kepercayaan bahwa telah diterima oleh Allah, dalam Anak-Nya Yesus Kristus, Gereja sadar akan kewajibannya untuk saling menerima sebagai saudara. Apa yang diterima sebagai anugerah dari Allah, harus diwujudkan dalam kehidupan bersama. Sebagaimana rahmat Allah baru akan tampak dalam kepenuhannya pada akhir zaman, begitu juga kasih antarmanusia.

Di dunia ini kita tidak hanya “jauh dari Tuhan” (2Kor 5:6), tetapi sering juga jauh dari sesama. Namun, karena rahmat Allah, di antara manusia sekarang ini Kerajaan Allah sudah mulai menjadi kenyataan. Oleh pewartaan Kerajaan, umat manusia senantiasa dikonfrontasikan dengan makna dan tujuan hidupnya sendiri. Dengan menolak tawaran Allah, manusia menolak pula kesejahteraannya sendiri. Sebaliknya, memperjuangkan kesejahteraan itu tanpa Allah dan tanpa iman berarti memaksakan ideologinya sendiri kepada yang lain.

Dasar saling menerima adalah kesadaran bahwa manusia telah diterima oleh Allah pada taraf yang lebih mendalam daripada pembangunan dan perkembangan. Di pihak lain, dengan membangun kesatuan berdasarkan iman dan bela rasa, manusia meletakkan dasar guna membuka diri menuju keterbukaan terhadap bela rasa . Allah yang mengatasi segala pikiran dan ukuran manusia. Kerajaan Allah tidak sama dengan Gereja dan juga tidak sama dengan masyarakat adil dan makmur. Tetapi di dalam Gereja terungkap rahmat Kerajaan yang perwujudannya adalah masyarakat yang damai sejarahtera. Kerajaan Allah adalah Allah yang berkarya. Dunia ini tempat karya Allah mendapat bentuk yang nyata. Dalam rangka itu Gereja diberi tugas dan wewenang menjadi pewarta Kerajaan, yang datang dan diwahyukan dalam Tuhan Yesus Kristus.