Jadi, Kristus itu apa?

paint_jesus_christ_ivan_glazun

Sepanjang sejarah hanya ada dua orang yang keberadaannya banyak dipertanyakan, dan pertanyaan yang diajukan kepada kedua orang itu bukanlah ‘siapakah dia?’ melainkan ‘dia itu apa?’; kedua orang tersebut adalah Yesus Kristus dan Budha. Jawaban yang muncul untuk masing-masing kedua orang ini sangatlah bertolak belakang. Budha secara tegas dan jelas mengatakan bahwa dia adalah benar-benar hanya manusia biasa, bukan Tuhan, atau Dewa. Sedangkan Yesus Kristus mengklaim dengan banyak cara yang menunjukan keilahian-Nya.

Problema identitas Yesus muncul dari data-data. Data-data tersebut adalah keempat Injil, dimana keempat Injil tersebut memberikan informasi kepada kita mengenai perbuatan Yesus yang mengklaim keilahian-Nya dan juga kesaksian orang lain yang mengklaim keilahian Yesus. Klaim-klaim mengenai keilahian Yesus sangatlah mengejutkan. (Lihat Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus)

Yesus menyebut dirinya sendiri adalah “Anak Allah” – yaitu mempunyai kodrat yang sama dengan Allah. Seorang anak mempunyai kodrat, spesies, dan esensi yang sama dengan Bapaknya. Yesus memanggil Allah sebagai Bapaknya: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 14:9).

Yesus mengklaim bahwa Dia tidak memiliki dosa sama sekali: “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46). Dia juga mengklaim dapat mengampuni dosa-dosa manusia – segala jenis dosa, terhadap semua orang. Orang-orang Yahudi pada waktu itu banyak yang memprotes Dia: “Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”; namun jika dibandingkan dengan para modernis jaman sekarang yang sering merasa “alergi” terhadap klaim tersebut, orang-orang Yahudi jaman itu merupakan para teolog yang lebih jernih berpikir dibanding mereka. Yang berhak dan dapat mengampuni segala dosa hanya ada satu dan Dialah yang terhina oleh dosa-dosa tersebut yaitu Allah. Jika dicontoh ke diri kita sendiri: kita hanya dapat mengampuni mereka untuk dosa mereka terhadap kita, tetapi bukan dosa mereka terhadap orang lain. Hanya Allah yang dapat mengampuni segala jenis dosa, terhadap semua orang.

Yesus juga mengklaim bahwa Dia datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Dia berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”. Dan Ia juga berkata bahwa Dia datang dari Surga, turun ke Bumi, dan Dia akan datang lagi kembali dari Surga pada akhir jaman untuk mengadili semua orang. Dan untuk itu bagi kita yang sambil menunggu kedatangan Yesus Kristus kembali, Dia memberikan tubuh dan darah-Nya untuk kita supaya kita memperoleh kehidupan kekal.

Yesus juga mengganti nama Simon (murid-Nya) menjadi Petrus. Penggantian nama bagi orang Yahudi adalah wewenang yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, bahwa nama bukan hanya berupa label pengenal bagi manusia, namun diberikan oleh Allah sendiri kepada setiap manusia. Dalam kitab Perjanjian Lama, hanya Allah yang dapat mengganti nama dan takdir seseorang – Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sarah, Jacob menjadi Israel. Bagi Yahudi ortodoks, orang yang mengganti namanya sendiri akan diberi sangksi ekskomunikasi.

Yesus selalu mengatakan agar semua orang mengarah kepada Dia (diri-Nya sendiri), “Datanglah kepada-Ku.” Sedangkan Budha berkata, “Jangan melihat kepada saya, tapi lihatlah kepada dharma-ku (doktrin).” Budha berkata, “Jadilah terang bagi dirimu sendiri.” sedangkan Yesus berkata, “Akulah terang dunia.”

Yesus melakukan mukjizat-mukjizat yang sangat luar biasa, sangat besar, sangat banyak dan kebangkitan dari mati adalah bukti keilahian-Nya.

Dan klaim dari Yesus yang paling jelas dan sangat mengejutkan adalah Dia menyadari bahwa penyaliban (atau hukuman mati) akan ditimpakan kepada-Nya dengan mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58). Yesus menyatakan dan mengklaim nama yang di-sakral-kan yaitu nama dinyatakan oleh Allah kepada nabi Musa, nama yang dikenakan oleh Allah [“Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14)]. Dan seandainya, jika benar Yesus Kristus itu bukan Tuhan, maka tidak ada orang lain yang pernah dalam sejarah selain Yesus yang melakukan penghujatan yang paling besar; dan bagi hukum Yahudi, tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk dihukum mati dengan penyaliban selain Yesus.

Lalu siapakah Yesus Kristus?

Kita tidak dapat mempertanyakan hal ini tanpa secara implisit tanpa memilih sebuah jawaban. Pertanyaan yang sangat panjang penjelasannya baik pada waktu lampau atau saat ini. Untuk orang yang mempercayai klaim yang dinyatakan oleh Yesus dan klaim mengenai Dia akan mengatakan Yesus adalah Tuhan, dulu, saat ini dan selamanya. Karena keilahian tidak akan berubah, mati, atau hilang seiring waktu menjadi masa lampau. Dan oleh karena itu, jika Yesus benar-benar bangkit dari mati, maka Dia masih hidup, dan hingga saat ini Dia masih hidup. 🙂

Salam.

Baca juga: Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Doa orang yang Skeptis

Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Lukas 11:9

Perkataan Yesus di atas yang mengajak semua orang yang sedang mencari-cari Allah, dan semua hal yang berhubungan dengan Allah akan menemukannya. Hal itu dapat kita coba dengan pengalaman melalui percobaan. Jika kita adalah seorang ilmuan yang jujur, ada satu cara untuk mengetahui apakah Kekristenan itu benar atau tidak. Lakukanlah suatu percobaan. Untuk mengetahui apakah benar hipotesis bahwa seseorang di balik pintu yang kita ketuk. Untuk mengetahui apakah benar hipotesis Kekristenan bahwa Kristus yang berada di balik pintu, siap membukakan pintu jika kita mengetuknya.

Lalu bagaimanakah kita mengetuknya? Doa! Katakanlah kepada Kristus bahwa kita sedang mencari kebenaran – mencari DIA, jika DIA-lah sang kebenaran. Mintalah kepada Kristus untuk memenuhi janji-Nya bahwa semua orang yang mencari DIA akan menemukan DIA. ‘akan’, berarti sesuai dengan waktu yang DIA tentukan, pastinya. Kristus berjanji bahwa kita akan menemukan, bukan menjadwalkan kapan akan menemukan. Kristus adalah seorang pengasih, bukan sebuah mesin.

Namun kita mungkin berkilah – “Saya tidak tahu apakah benar atau tidak Kristus itu Tuhan. Saya bahkan tidak tahu apakah benar atau tidak bahwa Tuhan itu ada.” Pemikiran itu normal dan biasa kita temukan dari banyak orang. Oleh karena itu untuk percobaan yang dapat kita lakukan adalah dengan berdoa seperti Doa orang yang skeptis:

Tuhan, saya tidak tahu apakah Kau ada atau tidak. Saya seorang yang tidak percaya, dan meragukan banyak hal. Saya ragu. Saya berpikir mungkin Kau hanyalah sebuah mitos. Namun saya tidak pasti juga (paling tidak kalau kepada diri saya sendiri saya berani berkata jujur). Jadi, jika benar Kau adalah Tuhan dan ada, dan jika Kau benar-benar menjanjikan untuk memberikan hadiah bagi setiap orang yang mencari Engkau, para pencari Kebenaran, apapun itu dan dimanapun itu. Saya ingin mengetahui Kebenaran dan hidup dengan Kebenaran. Jika Engkau adalah kebenaran, tolonglah Saya. Amin.

Jika hipotesis Kekristenan adalah benar, maka DIA akan membantu kita. Sama seperti doa di atas yang tersirat suatu percobaan keilmiahan terhadap hipotesis ‘ajaran’ Kekristenan — yaitu: kita jangan meletakkan atau membuat suatu batasan yang tidak fair, yang tidak netral kepada Tuhan; seperti menuntut adanya suatu pertanda atau mujizat (sesuai dengan ekspetasi, harapan kita, cara kita; bukan karena dan oleh Tuhan, cara Tuhan) atau dengan menentukan deadline, batas waktu — “kalau Tuhan benar ada, besok harus ada jawaban” (sesuai dengan waktu kita; bukan waktu Tuhan). Tuntutan-tuntutan seperti itu yang mengira bahwa Tuhan adalah seperti pelayan kita merupakan percobaan yang tidak fair, yang tidak netral secara ilmiah terhadap suatu hipotesis yang mengajarkan bahwa Tuhan yang ada itu adalah Raja kita, bukan sebaliknya.

Namun keseluruhan percobaan di atas, baik doa, pemahaman, dan pemikiran kita haruslah kita lakukan dengan jujur. Karena hal utama yang diminta oleh Tuhan, Raja itu.. adalah kejujuran kita, bukan kebohongan, bukan pura-pura beriman yang ternyata kita tidak memiliki iman itu sebenarnya. Kejujuran adalah pilihan dari kehendak — pilihan untuk mencari Kebenaran, tidak peduli apa, bagaimana, dan dimana. Pilihan inilah yang merupakan hal yang paling menentukan, paling momentum yang dapat kita lakukan. Pilihan ini merupakan tindakan berpihak kepada terang daripada kegelapan, memilih untuk menuju surga daripada neraka.

Kejujuran merupakan hal yang tidak terbatas dan sangat menentukan dan dapat menjadi pendorong kita, melampaui yang kita perkirakan. Kejujuran juga lebih berat dan susah dari yang kita bayangkan. Karena budaya kita memahami dan membelokkan makna Kejujuran yang sebenarnya menjadi “bagikan pendapat dan perasaan kamu”, dengan mengatakan kepada orang lain tentang hal yang tidak membuat nadi dan hati kita tidak berdebar (kalau menyatakan sesuatu dengan hati berdebar, dan tekanan darah naik berati tidak jujur). Hal yang diyakini dan dipahami oleh budaya kita itu bukanlah bertolak belakang dengan dengan makna sebenarnya dari Kejujuran; melainkan yang dipahami budaya tersebut adalah kebalikan dari rasa malu, atau ketidakmaluan. Kejujuran yang dipahami secara dangkal mengarah ke “berbagi”; Kejujuran yang dipahami secara dalam akan mengarah ke Kebenaran. Kejujuran yang dipahami secara dangkal dinyatakan dihadapan kehadiran orang lain; sedangkan Kejujuran yang dipahami secara dalam dinyatakan dihadapan kehadiran Tuhan (dan sudah pasti dihadapan hati kita sendiri masing-masing).

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)

..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)..

Keberatan 18: Surga itu sifatnya kekal, abadi. Namun karena bersifat kekal abadi maka sepertinya surga itu tidak manusiawi, karena tanpa adanya waktu berjalan di sana maka tidak ada proses, tidak ada perkembangan, tidak ada perubahan, tidak ada karya. Pasif, ibadah penyembahan tanpa henti dan tanpa perubahan mungkin cocok bagi malaikat, tapi tidak cocok bagi kita manusia.

Tanggapan: Siapa yang pernah mengatakan bahwa di surga tidak ada yang namanya waktu, karya, dan perubahan? Keabadian itu lebih dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas mengcakup waktu, karya, dan perubahan saat ini, dan yang akan datang; bukan sebaliknya. Dan karena itu maka waktu yang kita kenal saat ini adalah hanya bagian kecil dari keabadian, dan semua waktu dapat diakses pada saat di surga. Sama halnya dengan ‘karya’, bahwa tetap ada karya yang dapat kita lakukan di Surga, dan karya itu adalah mencintai, mengasihi. Cinta kasih adalah Karya. Sebelum kejatuhan manusia pertama pada dosa asal, berkarya atau berkerja adalah suatu wujud cinta kasih. Hanya saja setelah kejatuhan itu berkarya atau berkerja menjadi hal yang berat, hal yang perlu diusahakan karena ada perasaan berat hati (Kejadian 3:17-19). Surga lah yang akan mengembalikan dan melimpahi semua hal yang baik di dalam taman firdaus (Eden), termasuk semua kebaikan yang ada di dalam karya, perubahan, dan waktu.

Keberatan 19: Jika semua rentang waktu adalah hal terjadi dan berlangsung pada saat itu di Surga, maka tidak ada masa depan, tidak ada hari esok, yang ada hanya saat ini, dan itu menyebabkan tidak ada yang tersisa untuk menjadi ‘bahan’ pengharapan. Dan kita tidak bisa hidup tanpa pengharapan. Karena kita merasa lebih baik ketika dalam perjalanan penuh pengharapan daripada ketika kita tiba pada tempat tujuan.

Tanggapan: Jika hal yang dikemukakan oleh keberatan poin 19 benar, dan pernah di-iyakan kebenarannya, lalu bagaimana bisa semua orang ketika sedang dalam perjalanan mempunyai pengharapan? Karena jika hal yang dikemukan benar maka hanyalah kehampaan yang diharapkan semua orang ketika dalam perjalanan. Untuk itu perlu kita teliti kembali jika “tiba pada tempat tujuan” adalah suatu hal yang membuat perasaan kita kurang lebih baik, menjadi membosankan, dan mengkhawatirkan dibandingkan ketika sedang “berjalan menuju”, maka kita sebaiknya jangan penuh berharap untuk tiba di tempat tujuan. Atau bisa kita andaikan seperti pada seekor harimau yang siap memangsa buruannya lebih baik menahan lapar daripada memakan mangsanya. Begitu juga dengan apakah lebih baik pada masa pacaran yang menahan diri untuk memiliki pasangan daripada menikah agar dapat bersatu seutuhnya? dan juga bagi rasa penasaran dan ketidakpedulian untuk mengetahui dibandingkan dengan rasa puas setelah memahami? Tidak ada lagi pengharapan di dalam Surga dan tidak ada juga di dalam Neraka. Sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan daripada pengharapan ada tersedia di dalam Surga: kepenuhan, penyempurnaan.

Keberatan 20: Hal-hal “Kebangkitan Badan” dan “Bumi Baru” terkesan sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena lebih bersifat mitologis dan antropomorfik (pelekatan ciri/sifat/atribut manusia kepada sesuatu yang lain daripada manusia).

Tanggapan A: Hal-hal itu tidaklah sesuatu yang mustahil, terlebih karena Allah adalah pencipta dari yang tidak ada menjadi ada secara tiba-tiba dan membuat segala sesuatu di semesta dari kehampaan, termasuk bumi ini, maka sudah pasti Allah dapat membuat bumi yang baru, “bumi baru”. Dan jika Allah dapat membuat bumi yang baru, Dia dapat menciptakan suatu keseluruhan tubuh yang baru bagi manusia, “kebangkitan badan”. (lihat 1Korintus 15.)

Tanggapan B: Hal-hal tersebut bukanlah mitologi melainkan kebenaran dari kekeliruan suatu mitos dalam mengenali hal tersebut.

Tanggapan C: Bumi baru dan Tubuh baru adalah kebalikan dari antropomorfik; karena bukannya atribut tubuh manusia atau bumi yang sekarang ini dilekatkan pada tubuh manusia atau bumi yang baru. Melainkan sebaliknya “tubuh baru” dan “bumi baru” sangatlah lebih melampaui kemampuan kita saat ini untuk memahami karena keberadaan kita pada saat ini yaitu tubuh dan bumi saat ini. “Tubuh baru” dan “Bumi baru” tidaklah mirip seperti yang saat ini tetapi merupakan hal yang baru dan sangat berbeda tetapi masih memiliki essensi yang sama; diumpamakan tubuh saat ini adalah tubuh manusia yang sudah dewasa sedangkan tubuh yang baru adalah tubuh manusia yang belum dilahirkan. Atau analogi pendekatan lainnya yang agak mirip: “Tubuh baru” bagi janin (fetus) adalah manusia dewasa, dan “Bumi baru” bagi janin tersebut adalah bumi yang memiliki cahaya, harum, dan memiliki suhu dingin dan panas – yang agak berbeda dengan “Bumi lama” bagi janin yang masih di dalam perut sang ibu.

Keberatan 21: Apakah ketika di Surga kita benar-benar bebas, bebas juga berbuat dosa? Jika benar kita tidak bebas, maka kita seperti sebuah robot yang tidak bebas, tidak memiliki kebebasan yang benar-benar, tidak memiliki kehendak-bebas manusia. Namun jika benar iya kita bebas, maka Surga adalah hal yang berbahaya, sama seperti bumi. Dan jika ada manusia yang memilih untuk berbuat dosa, maka taman Firdaus, kejatuhan manusia seperti dosa asal, dan bumi yang seperti saat ini akan berulang kembali.

Tanggapan: “bebas berbuat dosa” sama halnya seperti “penyakit yang menyehatkan”. Hal itu berarti “kebebasan dari perbudakan”.

Kebebasan berkehendak, atau kebebasan memilih, memiliki makna kebebasan yang jauh lebih tinggi, atau kemerdekaan. Kebebasan yang lebih rendah mempunyai makna kebebasan dari suatu tekanan, atau kondisi yang mengharuskan seseorang ‘terkekang’. Level kebebasan yang lebih tinggi, kebebasan yang paling puncak adalah kebebasan dari iblis.

Di dalam Surga tidak ada seorang pun yang mau berbuat dosa. Semua yang ada di dalam Surga secara bebas sukarela memilih untuk tidak pernah berbuat dosa. Meskipun mereka mempunyai kemampuan, dapat berbuat dosa namun mereka tidak mempunyai motif yang mendorong untuk berbuat dosa. Contohnya: seorang penyanyi yang hebat tidak membuat kesalahan-kesalahan dasar ketika bernyayi dan tidak mau bernyanyi dengan nada yang fals, walaupun penyanyi tersebut mampu dan dapat melakukan jika dia menginginkannya. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang berkehendak demikian? mengapa seseorang mau berbuat dosa? atau mau tergoda untuk berbuat dosa – di dalam Surga? Semua yang akan kita lihat dan alami di Surga adalah keindahan, kebahagiaan, dan ketertarikan kepada Allah dan kebaikan, sedangkan yang berasal dari dosa adalah segala sesuatu yang jelek, buruk, dan kebodohan; dengan demikian jelaslah bahwa di Surga tidak ada kemungkinan adanya motif untuk dosa.

Saat ini kita diperbudak oleh ketidakpedulian. Setiap dosa berasal juga dari ketidakpedulian (ketidakpedulian mengambil peran dalam setiap dosa). Kita mau berbuat dosa karena kita entah bagaimana melihat perbuatan dosa itu seperti sesuatu yang menarik (yang sebenarnya adalah sebaliknya) dan kita juga entah bagaimana melihat kebaikan sebagai sesuatu yang tidak menarik (yang sebanrnya adalah sebaliknya juga). Hal itulah yang dimaksud dengan ‘ketidakpedulian’. Ketidakpedulian merupakan tanggungjawab kita dan sebagai sesuatu dari kita sendiri yang dapat dituntut untuk menjadi kesalahan kita. Dan jika kita tidak melakukan ‘ketidakpedulian’ (kebalikan dari ketidakpedulian) maka akan tidak mau berbuat dosa. Di Surga nanti tidak ada ‘ketidakpedulian’; dengan demikian tidak ada keinginan untuk berbuat dosa. “Pencerahan penuh kebahagiaan” dari wajah Allah kepada setiap wajah di Surga akan meniadakan ‘ketidakpedulian’, selayaknya sinar matahari meniadakan kabut.

Keberatan 22: Jika kita akan menjadi orang kudus yang sempurna di Surga, dimana kepribadiaan kita akan berada? Jutaan jiwa yang merupakan ‘lembaran copy karbon – duplikat – tiruan’ dari Allah terkesan sangat membosankan.

Tanggapan A: Tiruan dari sesama orang lain lah yang membosankan; meniru Allah yang tidak terbatas lah yang sangat menarik. Allah bagaikan sebuah berlian yang mempunyai wajah potongan berbeda yang jumlahnya tidak terhingga. Setiap yang terberkati akan memantulkan dan memancarkan suatu wajah yang berbeda.

Tanggapan B: Bahkan saat ini pun, para orang kudus (santo) adalah individual yang benar-benar pekat dan kental.

Tanggapan C: Kesucian, yaitu membiarkan Allah untuk mengatur jiwa dan hidup kita, karya Allah itu serupa dengan garam: garam itu membuat setiap cita (individual) rasa setiap makanan yang berbeda semakin nyata, semakin pekat, semakin kental. Garam membuat rasa ikan semakin mantap terasa ikan, rasa daging semakin mantap terasa daging, rasa telur semakin mantap terasa telur. Allah lah yang membuat Agustinus menjadi Agustinus yang terkenal dan dicontohi banyak orang, Teresa menjadi Terasa yang terkenal dan dicontohi banyak orang, dan Maria menjadi Bunda Maria yang sangat terkenal dan dicontohi dan dihormati banyak orang.

Tanggapan D: Wahyu 2:17 mengatakan : ” … Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Individual kita di Surga adalah sangat nyata dan hanya Allah yang mengetahui rahasia tersebut.

Apakah ada hal lain yang lebih besar dimiliki seseorang daripada namanya yang baru dan hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri bahkan walaupun sudah berada di Surga nantinya untuk selamanya? Lalu apa artinya kerahasiaan nama barunya ini bagi orang tersebut?

Yang pasti, bahwa setiap orang yang menerima namanya masing-masing dari Allah akan selamanya mengetahui dan mengagungkan Allah dalam suatu aspek tertentu dari keindahan Ilahi, mengetahui dan mengagungkan Allah dengan cara yang lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.

Lalu mengapa ada individu lain yang diciptakan? … Jika individu yang lain itu tidak berguna untuk semua perbedaan yang ada ini, rasanya tidak ada alasan bagi individu lain diciptakan selain yang satu tadi… 

Jiwa setiap manusia itu seperti suatu bentuk rupa yang tertentu, relung yang unik dan dibentuk secara khusus untuk sesuai (cocok) dengan suatu substansi yang akan mengisi relung tersebut. Atau jiwa manusia itu digambarkan sebagai sebuah anak kunci yang dapat membuka sebuah pintu tertentu yang sesuai dengan kunci tersebut di dalam suatu rumah yang terdapat banyak ruangan… Tempat setiap manusia di dalam Surga akan terkesan diperuntukkan hanya untuk setiap manusia secara khusus, karena setiap manusia diciptakan untuk itu – diciptakan setiap bagian dan setiap lekuk selayaknya sebuah sarung tangan yang diciptakan secara khusus agar sesuai dengan tangan yang diperuntukkan.

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)

..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)..

Keberatan 13: Surga terlalu duniawi. Terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas di penggambaran surga mengindikasikan konsep tersebut merupakan proyeksi dan tambahan dari beberapa hal duniawi yang dilestarikan dari budaya masa lampau.

Tanggapan: Keberatan ini tidak dapat membedakan antara gambaran yang relatif terhadap kultur dengan substansi atau essensi dari surga yang tidak relatif terhadap kultur. Gambaran merupakan analogi secara kasar, berupa petunjuk.

Keberatan 14: Surga terlalu jauh dari duniawi, terlalu spiritual. Bagaimana kita sebagai manusia dapat bahagia tanpa hubungan seks, makanan, pakaian – bahkan sedikit tantangan dan tekanan? Kesempurnaan akan sangat menyiksa kita.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa nanti akan “terlalu spiritual” untuk perubahan wujud kita setelah kematian? Mengapa kita membuat batasan terhadap perkembangan manusia? Keberatan yang pada poin ini terlalu membatasi imajinasi dan terlalu terikat kepada kenikmatan duniawi saat ini, seakan-akan nanti tidak ada kemungkinan sukacita yang melebihi saat ini, tapi sebenarnya pada saat ini kita tahu bahwa nanti akan ada sukacita yang lebih.

Keduanya baik keberatan 13 dan keberatan 14 keliru memahami prinsip transformasi. Transformasi surgawi bukanlah kelanjutan dan kesempurnaan, atau pun transendensi dan kemusnahan dari bumi dan kemanusiaan saat ini, melainkan transformasi surgawi mengubah keduanya menjadi sesuatu yang baru, “bumi yang baru”, (Wahyu 21:1) , kemanusiaan yang baru – “tubuh rohaniah” (1Korintus 15:44); seperti ulat bulu menjadi kupu-kupu, atau kecebong menjadi katak, atau katak menjadi pangeran… . Allah mau turun dan mengelilingi bumi untuk menemukan dan mencium katak-katak (kita) agar berubah menjadi pangeran… . Inilah yang pada umumnya di kultur kita, Kebenaran lebih terasa asing daripada cerita dongeng.

Prinsip transformasi adalah jawaban untuk banyak pertanyaan yang serupa: Apakah kita akan memiliki X (hal-hal duniawi) setelah di surga? Sebagai contoh emosi. Apakah kita akan memiliki emosi setelah di surga? jawabannya adalah Ya dan Tidak. Jawaban ‘Ya’ karena emosi bagian dari kemanusiaan secara alami dan diciptakan oleh Allah. Emosi tidak akan hilang atau berkurang dari yang menjadi kodrat kita. Tetapi ‘Tidak’ juga karena jawaban ini menunjukkan bahwa emosi yang awalnya sewaktu kita masih hidup duniawi tidak sama dengan emosi ketika kita sudah di surga, sama halnya dengan kodrat kita yang tidak sama ketika masih duniawi dan setelah di surga. Kita bukan menjadi seperti komputer yang tidak mempunyai emosi atau kecerdasan tanpa tubuh, tetapi emosi nantinya tidak akan mengendalikan kita lagi. Inilah yang menjadi perubahannya; keutamaan emosi yang awalnya dari tubuh menjadi jiwa, emosi akan bersumber terutama dari hasrat jiwa ke tubuh. ‘A body in a soul’. Emosi akan dibangkitkan dari ketidaksadaran menjadi kesadaran. ‘Terang budi’. Emosi akan lebih bersifat pasif, tetapi lebih penuh makna, hasrat, dan tulus.

Sebagai contoh, sukacita. Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa di dalam surga nantinya cinta kasih yang kita terima dari Allah kepada jiwa kita akan dilimpahkan ke kebangkitan tubuh baru kita dalam suatu arus kebahagiaan akan sukacita yang sangat deras. torrens valuptatis. Emosi menjadi sangat kuat dalam kekudusan, bukan melemah.

Keberatan 15: Apakah kita akan menjadi bagian dari Allah di surga atau tidak? Jika benar, maka ini sama halnya dengan panteisme, bukan Kekristenan. Jika tidak, jika kita hanya dapat hampir mendekati dan menyerupai Dia (walau tidak dapat sepenuhnya), hal ini menunjukkan bahwa kita belum cukup karena masih ada cita dan hasrat yang lebih (Allah itu sendiri). Dengan demikian surga bukan tercapainya pemenuhan manusia.

Tanggapan: Kita bukan menjadi Allah, melainkan kita lebih dari pada menyerupai DIA: kita se-citra dengan DIA, dan kita mengambil bagian dari hidup DIA. Dan kita hanya memperoleh ini karena kasih (pemberian) dari Allah, bukan karena kodrat kita. Allah mencurahkan dirinya sendiri kepada kita seperti matahari yang menyinari orang merindukan hangatnya sinar matahari.

Pertanyaan pada keberatan poin ini berasumsi bahwa kita tidak akan benar-benar bahagia jika tidak menjadi Allah. Hal ini kedengarannya seperti dosa yang paling buruk – ‘Harga Diri’ – dan dosa yang paling bebal – ‘Iri Hati’ – satu-satunya dosa yang membuat kita tidak pernah merasa puas. Di dalam surga semua orang akan menjadi bijaksana dan puas dengan dirinya apa adanya. Kita akan tetap sebagai makhluk terbatas, dan kita juga mengambil bagian, “berpartisipasi”, dalam kodrat keilahian Allah (2Petrus 1:4), dipenuhi kelimpahan kasih Allah. Tanggapan ini tidak sepenuhnya jelas mengenai bagaimana hal itu terjadi, namun tanggapan ini jelas menunjukkan bahwa hal itu berada diantara 2 titik dilema yang ditanyakan oleh Keberatan poin 15.

Keberatan 16: Surga akan membosankan. Tidak ada yang dilakukan selain penyembahan – suatu kebaktian yang tidak ada akhirnya. Hanya sedikit orang yang akan senang dengan itu. Dan bahkan jika hal itu membuat sebagian orang itu bahagia, bahagia saja tanpa ketidakbahagiaan adalah membosankan. Kita dapat menghargai setiap suatu hal jika ada perbedaan dengan kebalikan dari hal itu. Kita memerlukan kegelapan untuk menyalakan penerangan, sedikit penderitaan untuk mengapresiasi kebahagiaan. Jika di surga tidak ada penderitaan, kita tidak akan mengapresiasi kebahagiaan.

Tanggapan A: Pada pernyataan di akhir keberatan ini berasumsi bahwa keterbatasan duniawi dan kebodohan akan berlanjut hingga nanti ketika telah di surga. Semakin bijaksana seseorang maka semakin kurang diperlukannya penderitaan agar mengapresiasi kebahagiaan. Allah tidak memerlukan segala sesuatu yang negatif; DIA akan mengajarkan kita “trik”-Nya untuk mengapresiasi hal yang baik secara terpisah dari yang jahat ketika tiba saatnya.

Tanggapan B: Kebosanan adalah salah satu emosi yang khusus bersifat duniawi dan merupakan suatu kegagalan. Kita tidak akan merasa bosan di dalam surga karena kita akan menjadi baik dan bijaksana. Bahkan untuk ukuran duniawi di saat ini, kebosanan adalah hal yang bodoh, sia-sia, dan melelahkan. Para santo tidak pernah merasa bosan.

Tanggapan C: Gambaran bahwa di surga, gereja selalu melakukan kebaktian adalah suatu simbol, simbolik, bukan diartikan secara harfiah. Di kitab Wahyu tertulis bahwa tidak ada ‘Bait Suci’ di dalam surga (Wahyu 21:22) karena Allah lah Bait Sucinya yang menghadirkan diri-Nya sendiri. Gereja mungkin dapat membosankan, tapi Allah tidak dapat membosankan.

Tanggapan D: Surga tidak akan membosankan karena surga itu bukan hanya memuaskan dan menenangkan nafsu belaka. Di surga bukan hanya kepuasan belakang, yang nantinya menjadi terasa membosankan, melainkan perasaan penuh sukacita yang tidak berkesudahan. Sukacita itu penuh semangat, dinamis, dan memotivasi sama seperti hasrat itu sendiri.

Tanggapan E: Surga tidak membosankan karena surga merupakan cinta dan karya yang sempurna. Bahkan Freud (Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka) mengetahui bahwa dua hal yang membuat hidup berarti bagi setiap orang adalah cinta dan karya. Keduanya sebenarnya adalah satu kesatuan, untuk mencintai adalah dengan berkarya, bukan hanya perasaan, dan karya yang baik pastilah karya dari cinta.

Cinta-Karya yang bagaimana nantinya setelah di surga? Ada enam Cinta-Karya yang telah dibahas sebelumnya pada halaman Analogi duniawi tentang surga, yaitu: Mengenal dan mengasihi Allah, sesama, dan diri kita sendiri. Bahkan semasa di dunia, enam kegiatan ini tidak berkesudahan dan tidak membosankan. Ke-enam kegiatan itu ada latihan persiapan kita untuk nanti di surga.

Kegiatan-kegiatan itu tidak berkesudahan karena kemanusiaan tidak berkesudahan juga. Kemanusiaan berkesudahan karena manusia adalah subjek yang bebas, bukan subjek yang dibatasi; subjek yang terbuka, bukan tertutup.

Keberatan 17: Bagaimana kita dapat bahagia di surga jika ada orang yang kita kasihi berada di neraka? Jika kita berhenti mengasihi mereka, kita tidaklah baik; namun jika kita tetap mengasihi mereka, kita tidak bahagia.

Tanggapan A: Untuk menanggapi keberatan ini kita perlu memulai dengan data yang kita ketahui dan mencoba untuk bergerak dari situ untuk menemukan apa yang tidak kita ketahui. Kita tahu bahwa nanti di surga tidak ada kesedihan, walaupun kita tidak mengetahui bagaimana Allah dapat melakukan itu kepada kita. Allah “akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4)

Tanggapan B: Allah tidak akan bersedih dengan cara-Nya yang khusus, bahkan jika ada manusia yang DIA ciptakan dan kasihi berada di neraka – Allah tetap dapat tidak akan bersedih, kita akan berbagi dan mempelajari dengan cara ini. Allah adalah kasih dan sukacita yang tidak terbatas, tetapi walaupun demikian ada juga sebagian orang yang masuk ke neraka. Hal itu dapat terlaksana karena hal itu telah dilaksanakan: Allah melakukan itu. Karena Allah melakukan itu, DIA akan mengajarkan kita bagaimana melakukannya.

Tanggapan C: Beberapa petunjuk mengenai bagaimana Allah melakukan ini adalah pada perumpamaan domba dan kambing yang diajarkan oleh Yesus dan jawaban Yesus kepada sebagian orang yang berseru kepada-Nya “Tuhan”: pada akhirnya, Ia mengatakan kepada yang terkutuk, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Matius 7:23). Dia tidak mengenal, melihat, dan mengkhawatirkan mereka yang terkutuk. Hal ini kedengarannya seolah-olah suatu ketidakpedulian atau penipuan diri sendiri; tapi hal-hal ini tidak sesuai dengan Kemahatahuan. Lalu apa maksud sebenarnya?

Ini bukan suatu kebohongan; ini adalah suatu kebenaran. Dalam beberapa hal mereka yang terkutuk telah kehilangan kenyataan mereka yang sebenarnya. Walaupun mereka ada, mereka berada di dalam “kegelapan yang paling gelap”, bukan di surga. Dan sebaliknya surga merupakan standar dari kenyataan – bukan hanya standar dari semua sukacita dan kebaikan; tetap juga sebagai standar dari kebenaran. Semakin kita dekat dengan surga, diri kita semakin nyata; dan sebaliknya semakin kita jauh dari surga, diri kita semakin tidak nyata. Mereka yang terkutuk bagaikan abu, bukan seperti kayu. Mereka telah kehilangan realitas diri yang sebenarnya, jati diri mereka. Mereka yang terberkati tempatnya di dalam surga, seperti Allah, tidak berduka untuk mereka yang terkutuk – mereka yang terberkati adalah mereka yang seperti kayu (masih memiliki jati diri sebenarnya, bukan abu), pria yang sebenarnya, wanita yang sebenarnya – karena mereka tidak hidup dalam masa lalu.

Jika manusia berada di dalam neraka, dan surga ber-paralel dalam waktu terhadap neraka seperti planet bumi dan planet mars yang ber-paralel dalam dunia, maka sepertinya tidak ada jawaban terhadap keberatan itu. Tetapi neraka merupakan suatu tempat untuk kematian yang abadi, bukan tempat untuk kehidupan abadi; dan mereka yang masuk neraka adalah mereka yang awalnya manusia pada umumnya tetapi setelah di neraka mereka hanya lah ‘sisa-sisa’ dari dirinya. Dan walaupun surga dan neraka ber-paralel – kita tidak bisa berpindah dari yang satu ke yang lain (Lukas 16:26). Dengan demikian asumsi implisit dari keberatan pada poin 17 adalah suatu kekeliruan.

Tanggapan D: Bahkan jika jawaban-jawaban yang telah kita berikan tidak mencukupi, masih ada satu jawaban yang paling baik. Jawaban ini bukanlah suatu solusi teori tetapi suatu jawaban praktis. Jika ada orang yang kita benar-benar cintai dan kenal sangat dalam sehingga kita tidak bisa menerima bagaimana mungkin kita dapat bahagia selamanya tanpa mereka – sebab mereka adalah bagian yang sangat penting dalam hidup kita – maka salah satu tugas yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk hadir dunia adalah untuk melakukan segala upaya kita untuk keselamatan mereka yang kita cintai sama seperti untuk keselamatan kita sendiri. Jika karena pemeliharaan Allah yang membimbing cinta dan kedekatan kita dengan mereka yang kita cintai, maka Allah akan menerima doa-doa dari hati kita yang memohon Allah untuk keselamatan bagi mereka yang kita cintai, sama halnya dengan pemiliharan dan bimbingan Allah untuk keselamatan kita, karena sesama kita (mereka yang kita cintai) adalah bagian yang nyata dari kita, dan Allah menyelamatkan manusia secara menyeluruh, bukan secara terpisah.

Yang perlu kita perhatikan adalah doa kita bukan doa permintaan yang bersifat bujukan atau menuntut, sebaiknya doa permintaan yang bersifat menceritakan keadaan kita yang sebenarnya, fakta yang kita hadapi; seperti contoh permintaan Bunda Maria “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3). Serahkanlah kepada Allah untuk berbuat untuk kita. Cara Allah selalu lebih penuh kasih, lebih bijaksana, dan lebih berkuasa dibandingkan cara yang kita inginkan atau bayangkan (1Korintus 2:9). Percayakanlah kepada Allah untuk menggunakan perasaan cinta duniawi yang kita miliki sebagai saluran kasih karunia untuk teman kita. Dan mungkin saja kepedulian kita kepada teman kita itu adalah petunjuk bahwa Allah meletakkan beban di hati kita agar kita bekerja bersama Allah untuk meringankan dan mengusahakan agar teman kita memperoleh keselamatan.

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)

Berikut adalah beberapa keberatan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tidak mempercayai atau meragukan konsep Surga yang diajarkan oleh Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci:

Keberatan 1: Konsep mengenai Surga adalah konsep yang pra-ilmiah dan takhayul.

Tanggapan A: Keberatan tersebut tidak secara ilmiah. Cara menyampaikan keberatan secara ilmiah atas suatu konsep adalah dengan bukti, bukan dengan menjelekkan dengan tanpa dasar.

Tanggapan B: Tidak jarang konsep-konsep pra-ilmiah yang valid, benar, dan penting, bukan takhayul – sebagai contoh, kelahiran, kematian, kehidupan, kebaikan, kejahatan, keindahan, keburukan, kesenangan, penderitaan, bumi, udara, api, air, kasih, kebencian, kebahagiaan.

Keberatan 2: Tidak ada bukti ilmiah mengenai Surga.

Tanggapan A: Begitu juga untuk banyak konsep lainnya yang diakui valid oleh semua orang, bahkan oleh ilmuwan. Ketika seorang ilmuwan menutup laboratorium-nya dan pulang ke rumahnya, dan mencium istri dan anak-anaknya, ilmuwan tersebut tidak mempercayai bahwa hanya ada hormon, neuron, dan molekul.

Tanggapan B: Tidak ada fakta ilmiah yang menunjukan bahwa: tidak ada yang ‘benar-benar ada’ kecuali telah dibuktikan oleh fakta ilmiah. Atau dengan kata lain, ‘sesuatu’ tidak dapat dikatakan ‘tidak nyata’ kalau hanya berdasarkan ‘tidak ada bukti ilmiah’ dari sesuatu itu. Hal bertentangan dengan pendapat (asumsi) dari pihak keberatan pada poin 2 yaitu: bahwa segala sesuatu tidak nyata kalau tidak ada bukti ilmiahnya. Namun sayangnya tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pendapat (asumsi) dari pihak keberatan itu; karena ketidak-beradaan surga tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Pendapat dari pihak keberatan tersebut secara sederhananya merupakan suatu asumsi (suatu lompatan kesimpulan) – yang sebenarnya, pendapat seperti itu suatu kesimpulan yang sewenang-wenang, dan kesimpulan itu disebabkan karena nafsu dari pihak keberatan untuk menyempitkan batas-batas realitas menjadi batas-batas metodologi ilmiah. Oleh karena itu kesimpulan yang dikemukakan oleh pihak keberatan tersebut merupakan keputusan yang berdasarkan ‘keinginan’, ‘kehendak’ dari pihak itu sendiri, bukan secara intelektual.

Keberatan 3: Surga ternyata adalah suatu prinsip berpikir pengharapan. Jika surga tidak ada, kita perlu menciptakannya. Karena surga itu adalah “mimpi yang diperlukan”.

Tanggapan A: Konsep Surga yang ada di dalam Kitab Suci bukan disesuaikan dengan impian atau keinginan dalam benak kita. Konsep Surga itu tersebut suatu konsep yang tidak mementingkan atau diperuntukkan untuk suatu pribadi, kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri, tanpa pamrih atas pengorbanan yang telah dilakukan; konsep yang bukan dimotivasi karena keinginan pengesahan diri sendiri melainkan karena telah matinya rasa egoisme; konsep yang lebih condong kekudusan daripada pengampunan dosa, konsep yang lebih ke adorasi dan penyembahan kepada Allah tanpa mempedulikan keinginan diri sendiri atau bukan didorong karena memenuhi hasrat diri sendiri; konsep yang lebih ke arah cinta kasih secara spiritual, daripada cinta kasih secara fisik.

Tanggapan B: Detil bentuk dan simbol mengenai Surga tidak sesuai dengan gambaran yang diperkirakan oleh orang banyak pada umumnya. Walaupun kita meneliti dan memperhatikan semua detil mengenai Surga di dalam Kitab Suci, atau detil-detil yang diberikan oleh para Santo, Mistikus, atau kesaksian kontemporer dari orang-orang yang mengalami keadaan hampir-mati, dalam semua kasus pengalaman akan Surga semuanya menyatakan ke-tercengang-an dan “diluar-perkiraan”.

Tanggapan C: Walaupun ada kesesuaian antara keinginan lahiriah kita dengan konsep Surga, kesesuaian tersebut dapat dijelaskan sebagai Kehendak Allah mengarahkan keinginan lahiriah kita agar menuju ke Surga; bukan kebalikannya seperti kita yang mendesain Surga untuk diri kita sendiri.

Tanggapan D: Ada kekeliruan pada pemikiran dari pihak yang keberatan. Ia berargumen: Jika surga itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu); dan kita benar-benar (harus) mempercayai ‘suatu’ surga itu; oleh karena surga itu sebenarnya tidak ada. Inilah salah satu contoh dari kekeliruan dalam menegaskan suatu konsekuen. Sama halnya seperti berargumen bahwa jika bumi itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu);

Tanggapan E: Jika suatu akibat tidak dapat melebihi penyebabnya, bagaimana bisa suatu konsep surga yang sempurna dan indah seperti yang kita percayai, berasal dari kita sebagai manusia yang memiliki pikiran tidak sempurna, dapat tersesat, dan terbatas?

Keberatan 4: Seperti yang dikisahkan di kitab Wahyu 21:21, terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas. Dari segi bentuk atau struktur konsep surga merupakan suatu hal mistik atau legenda, merupakan versi lain dari happy hunting grounds (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan suku Indian asli amerika) atau Elysian Fields (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan Yunani).

Tanggapan A: Keberatan ini melakukan pemisahan gambaran dari substansi yang sebenarnya. Gambaran dalam Kitab Suci bukanlah untuk dipahami secara harfiah (literal). Ketidakpercayaan akan konsep surga dengan cara keliru yaitu memahami suatu gambaran secara harfiah adalah suatu kebodohan, seperti hal tidak mempercayai kebenaran bahwa bulan itu ada karena keliru memahami “manusia” secara harfiah (manusia hidup di bumi, bukan di bulan; sehingga bulan tidak ada) dalam baris “manusia di atas bulan”.

Tanggapan B: Keberatan ini secara tidak langsung mengemukakan bahwa faktanya semua agama dan budaya mempunyai suatu ‘surga’ menurut kepercayaan masing-masing, suatu yang dapat dijadikan ‘bukti untuk’, bukan berlawanan, melainkan kenyataannya. Jika semua orang (atau hampir semua orang) mempercayai suatu kisah, maka hanya orang yang angkuh yang mau menyimpulkan kisah tersebut cenderung tidak benar daripada ‘mungkin’ benar.

Tanggapan C: Pemahaman surga berdasarkan Kitab Suci berbeda dari pemahaman yang berdasarkan kepercayaan populer lainnya, yang menurut Kitab Suci bahwa surga tidak mempunyai daya tarik duniawi, atau pemenuhan hasrat pribadi.

Keberatan 5: Percaya akan surga berarti pelarian.

Tanggapan A: Jawaban yang paling mudah untuk menanggapi tuduhan sebagai pelarian adalah seperti pertanyaan C.S. Lewis: “Siapa yang paling lantang menentang “pelarian”? Pengekang.”

Tanggapan B: Apakah disebut pelarian bagi bayi yang belum lahir membayangkan tentang kehidupan nanti setelah ia lahir? Apakah disebut pelarian bagi pencarian seorang peziarah akan tujuan hidupnya yang suci? Apakah disebut pelarian bagi seorang pelaut yang memimpikan sebuah daratan karena dia lelah terapung lolos dari kapalnya yang karam? Apakah disebut pelarian bagi sebuah benih yang akan berubah menjadi bunga? Ulat bulu yang akan menjadi kupu-kupu? Surga bukan sebuah pelarian karena surga dipenuhi pemenuhan semua cita-cita yang baik di dunia.

Tanggapan C: Surga bukanlah pelarian, karena surga itu nyata. Suatu konsep dikatakan sebagai “pelarian” hanya jika konsep itu sebuah kebohongan, tidak nyata. Tujuan mengatakan surga sebagai pelarian adalah wujud dari paham ateis yang tidak berani menyatakan dengan berani dan lantang penolakannya. Oleh karena itu jika surga adalah nyata, maka yang disebut pelarian adalah mereka yang tidak memikirkan mengenai surga itu. Karena surga itu adalah suatu kenyataan yang perlu dituju dan dicapai.
Namun pertanyaan yang muncul pertama kali mengenai suatu konsep bukanlah dikarenakan ‘apakah konsep itu suatu pelarian?’ melainkan ‘apakah konsep itu nyata?’. Bahkan jika memang suatu konsep itu adalah konsep pelarian, hal itu tidak menjadikan konsep itu suatu yang tidak nyata. Contohnya: konsep sebuah terowongan bawah tanah di penjara, sudah pasti konsep itu adalah pelarian (untuk melarikan diri), tetapi hal itu bukan menjadikan konsep tersebut tidak nyata.
Orang hanya dapat mempercayai suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep tersebut benar, dan hanya akan menolak suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep itu tidak benar, tidak ada hubungannya dengan pelarian. Label pelarian itu sendiri merupakan suatu pelarian; karena orang yang menggunakan label tersebut sebenarnya berusaha untuk lari dari tanggung jawabnya untuk membuktikan suatu konsep salah seperti menurut orang tersebut.

Keberatan 6: Surga merupakan suatu pengalihan. Tidak peduli apakah konsep surga itu benar atau tidak, yang pasti konsep itu mengalihkan kita dari tugas kita saat ini.

Tanggapan A: Surga bukan suatu pengalihan jika surga itu adalah nyata. Karena surga jika surga nyata, dan jika surga merupakan tujuan akhir kita, maka tugas kita saat ini seharusnya adalah mengarahkan kita ke tujuan akhir kita, tujuan utama kita, yaitu surga. Itu makanya mengapa kita diingatkan untuk “carilah dahulu Kerajaan Allah” (Matius 6:33) dan jangan pikiran kita “semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”, karena “kewargaan kita adalah di dalam sorga” (Filipus 3:19-20).

Tanggapan B: Kepedulian akan hal-hal surgawi tidak membuat berkurangnya nilai dan makna kepedulian akan hal-hal duniawi. Sama halnya seperti seorang ibu yang sedang mengandung mempedulikan masa depan bayinya kelak, ibu itu bukannya tidak peduli atau teralihkan perhatiannya dari keadaan bayi saat ini. Kontrasnya: jika ibu hamil itu mempercayai bahwa bayi yang dikandungnya itu akan mati nanti ketika lahir, atau jika ibu itu menginginkan bayinya mati (seandainya ibu itu berniat melakukan aborsi), maka kemudian kehidupan bayi tersebut lagi diperhatikan dan ibu itu akan berhenti mempedulikan masa depan bayinya.

Tanggapan C: Sepanjang sejarah manusia, kita dapat melihat bahwa mereka-mereka yang sangat percaya akan adanya surga lah yang dapat membuat hal-hal baik yang besar dan hebat bagi dunia, termasuk Yesus Kristus sendiri. Kebalikan dari Stereotip dari para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang akan berkhotbah mengenai kesuraman dan kehancuran dan menantikan hari kiamat dimana orang banyak akan mati sebagai imbalan karena menolak mereka (para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang), para fanatik tersebut bukannya berkotbah mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari para umat pendengarnya.

Keberatan 7: Surga tidak relevan dengan keadaan di dunia saat ini. Kita dapat menyukai atau membenci dunia ini, tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau ketidakpercayaan akan apa yang akan didapati setelah dunia ini.

Tanggapan: Surga bukan hanya relevan melainkan sangat relevan dengan keadaan di dunia masa sekarang; dan sebenarnya surga dimulai sejak saat ini. Sukacita surgawi dapat mulai dirasakan pada masa sekarang bagi orang yang percaya, karena sukacita itu pada dasarnya adalah pengalaman kesadaran orang-orang percaya Kristus benar-benar hadir, dan telah dimulai pada saat ini juga, seperti yang telah Dia janjikan (Matius 28:20; Yohanes 15:9-11). Bahkan jika kita tidak sadar akan sukacita itu, sukacita itu tetap berada; kehidupan surgawi bukanlah sesuatu “gaya hidup” yang abstrak melainkan nyata mendarah daging, seperti getah pokok anggur yang mengalir hingga ke cabang-cabangnya (Yohanes 15:4-5).
Kenyataannya, jika hidup surgawi tidak menjadi bagian kita pada saat ini, maka untuk selamanya tidak akan menjadi bagian kita, surga adalah dimana Allah hadir. Allah lah yang menentukan keberadaan surga, bukan sebaliknya. Allah “memenuhi” surga, seumpama suatu pergelaran seni memenuhi keseluruhan panggung pentas. Surga bukan membatasi, mengekang Allah. Jika saat ini Allah hadir dalam jiwa kita, melalui iman, maka hidup surgawi ada di hidup kita dan berlangsung pada saat ini, meskipun terkesan sangat kecil dan tidak kelihatan namun itu adalah “biji sesawi” surgawi (Matius 13:31-32). Surga atau Kerajaan Allah adalah hal sangat penting yang diwartakan oleh Yesus, menjadi topik utama dan diajarkan berulang kali melalui banyak perumpamaan – “Kerajaan Surga”. Surga adalah “mutiara yang sangat berharga” (Matius 13:45-46), sesuatu yang menjadikan semua keduniawian menjadi sangat kecil dan tidak berharga (Markus 8:36). Namun surga itu pemberian yang gratis! (Wahyu 22:17). Apakah ada hal lain selain surga yang lebih “relevan” atau dapat membuat perubahan yang lebih besar? Bagi umat Kristen, pewartaan tentang surga itu seperti seorang pengemis yang kelaparan mengatakan kepada sesama pengemis yang kelaparan lainnya bahwa di sana ada makanan gratis.

Keberatan 8: Surga itu seperti uang suap. Surga membuat agama menjadi mementingkan diri sendiri. Mereka yang percaya surga bekerja untuk upah mereka di surga, bukan untuk cinta kasih murni. Dengan demikian mereka itu adalah berkarya karena upahan.

Tanggapan A: Apakah yang dilakukan Romeo untuk menikahi Juliet karena upahan? Apakah yang dilakukan suatu tim yang bekerja sama sekuat tenaga untuk menang adalah karena upahan? Apakah bagi pelajar yang ingin menguasai bahasa asing agar dapat lancar membaca dan menulis karena menantikan upahan? Tidak! Karena tidak semua penghargaan adalah berupa upahan melainkan suatu kewajaran dan hak. Mereka (yang disebut di atas sebagai contoh) tidak bertindak untuk melakukan perbuatan baik karena dipicu secara rekayasa, seperti yang dilakukan tempat pendidikan yaitu memberikan nilai, poin, grade; melainkan tindakan itu sendiri yang berlangsung dalam kesempurnaan.

Keberatan 9: Surga terlalu dogmatis. Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu mengenai surga? Jika “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia”, maka surga itu belum masuk ke dalam hati kita. :Konsep Surga itu dapat dipahami hanya dengan iman atau spekulasi, bukan dengan pengetahuan.

Tanggapan A: Pengetahuan Analogi dan Analogi-Negatif adalah Pengetahuan. Mengetahui rupa ‘sesuatu hal’ itu bagaimana, dan mana yang bukan; adalah suatu Pengetahuan.

Tanggapan B: “Hanya dengan iman atau spekulasi”? Tetapi iman bukanlah fantasi; iman adalah pengetahuan. Iman adalah penerimaan fakta/data dengan penerangan ilahi. Dan Spekulasi dapat digolongkan menjadi pengetahuan juga, jika spekulasi itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Penalaran secara psikologi dapat mengarahkan kita ke kebenaran, secara pasti – kecuali jika kita seorang yang berpandangan skeptis.

Keberatan 10: Konsep Surga terlalu egoistik. Apakah tidak disebut arogan jika berpikir bahwa kita diciptakan untuk menjadi mempelai secara rohani kepada Allah?

Tanggapan: Allah lah yang mengatakan itu, bukan kita. Memang hal itu sangat luar biasa. Allah sangat luar biasa.

Keberatan 11: Konsep Surga itu terlalu mementingkan diri sendiri. Surga merupakan konsep kebahagiaan yang tidak terbatas dan abadi. Apa yang membuat ego kita yang kecil begitu penting atau ego kita itu pantas mendapat kebahagiaan surgawi?

Tanggapan: Konsep Surga tidak mementingkan diri sendiri dan melupakan diri sendiri – dalam tingkatan yang sangat tinggi sehingga para mistikus sering menggunakan bahasa yang seolah-olah bermakna bahwa diri-sendiri manusia adalah ilusi atau sesuatu yang perlu dihancurkan. Hal demikian adalah kesalahpahaman atau terlalu berlebihan – karena yang dimaksud adalah egoisme (mementingkan diri sendiri), bukan ego (diri), egoisme lah yang tidak baik, ilusi, dan perlu dihancurkan secara total. Namun kesalahpahaman ini adalah yang berawal dari kesalahpahaman kebenaran: bahwa di surga pada setiap orang secara mental mereka berada di luar dirinya sendiri dalam keadaan tidak-menyadari diri sendiri. Semua orang di situ sangat mengasihi Allah dan sesama, dan mereka tidak memperhitungkan diri sendiri.

Keberatan 12: Konsep Surga itu terlalu tidak mementingkan diri sendiri, dalam kasus tersebut – terlalu spiritual, terlalu bersifat mistik untuk selera manusia biasa.

Tanggapan: Jawaban untuk keberatan ini adalah sisi lain dari paradoks yang terbesar sepanjang sejarah manusia. Paradoks yang dimaksud adalah “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”. Dengan kata lain , cinta kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri adalah suka cita kita yang terbesar. Ini lah kita yang sebenarnya karena kita diciptakan sesuai gambaran Allah dimana pada essensinya, pada dasarnya adalah memberikan cinta-kasih yang memberikan dirinya sendiri. Tanggapan untuk keberatan nomor 11 adalah pemenuhan diri surgawi hanya dapat dicapai dengan melalui penyangkalan diri sendiri; dan tanggapan untuk keberatan nomor 12 adalah dengan penyangkalan diri sendiri akan membawa kita kepada pemenuhan diri surgawi. Ini adalah paradoks yang paling aneh dan paling mudah diuji kapan saja, dan dimana saja, sepanjang hidup.

bersambung ke bagian 2…

Penampakan Yesus Kristus telah Bangkit

Sama seperti dalam hal wafat Yesus, begitu juga dalam kebangkitan-Nya harus dibedakan antara fakta dan arti fakta itu bagi kita. Fakta kebangkitan lain sama sekali daripada fakta wafat Yesus. Tidak ada orang yang melihat kebangkitan Yesus. Yang dilihat adalah penampakan dan juga makam kosong. Tetapi dalam penampakan dilihat Yesus yang sudah bangkit, sudah dimuliakan. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang mulia, yang – karena kemuliaan-Nya – sebetulnya tidak bisa dilihat oleh manusia yang fana. Maka penampakan tidak berarti bahwa mereka melihat Yesus kembali seperti yang mereka lihat dahulu, waktu Yesus masih bergaul bersama mereka. Sekarang dengan pertolongan rahmat Allah, mereka boleh menyadari kehadiran Kristus, yang sebetulnya sudah tidak dapat dilihat. Menurut Paulus (1Kor 15:5-8), banyak orang mengalami perjumpaan dengan Yesus yang mulia. Bukan hanya Petrus, Paulus, dan Yakobus, melainkan kelompok dua belas dan semua rasul, bahkan “lebih dari lima ratus saudara”, yang kebanyakan masih hidup pada zaman Paulus dan dapat dimintai keterangan. Injil-Injil masih menyebut sejumlah orang yang lain, khususnya wanita, yang juga memberi kesaksian bahwa mereka “telah melihat Tuhan” (Yoh 21:18).

Pengalaman mereka yang dengan jelas diceritakan dalam Kitab Suci, diartikan secara berbeda-beda selama peredaran zaman. Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh mati (dan oleh karena itu juga tidak sungguh bangkit). Orang lain berpendapat bahwa kisah kebangkitan tidak lain daripada sebuah dongeng, serupa dengan dongeng-dongeng lain yang beredar dalam masyarakat zaman itu. Masih ada orang yang berpendapat bahwa pengalaman para murid merupakan halusinasi (khayalan) atau setidak-tidaknya sesuatu yang subjektif melulu, keluar dari pikiran dan perasaan mereka sendiri. Yang pantas diperhatikan sebetulnya hanya pandangan yang terakhir, mengenai pengalaman subjektif; yang lain tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pendapat pertama berasal dari teologi liberal abad ke-18 dan ke-19. Mereka tidak mau mengakui adanya mukjizat. Karena kebangkitan Kristus dikatakan mukjizat yang paling besar, maka tidak ada jalan lain kecuali menyangkal kebangkitan. Untuk mendasari pendapat itu disangkal pula wafat Yesus: Yesus tidak sungguh mati, Ia hanya tidak sadarkan diri. Dalam makam yang sejuk Ia menjadi sadar kembali dan bangkit. Teori ini terang berlawanan dengan seluruh kesaksian Kitab Suci mengenai wafat Yesus dan oleh karena itu dewasa ini tidak diperhatikan secara serius lagi. Teori ini sebenarnya hanya “dongeng” yang berlagak ilmiah.

Sama halnya dengan teori kedua mengenai mitos dewa yang mati dan bangkit. Teori ini berasal dari aliran perbandingan agama dari zaman yang sama. Teori ini pun tidak diterima lagi, karena tidak ada bukti. Hanya teori saja, tanpa dasar fakta sejarah, Tambahan lagi, kisah kebangkitan dalam Kitab Suci sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri mitologis.

Teori halusinasi sudah dikemukakan pada abad ke-2 (oleh Celsus), dan dihidupkan kembali pada abad ke-19 (oleh teolog liberal D.F. Strauss). Zaman sekarang pun masih ada orang yang – dalam bentuk yang lebih halus – memberikan keterangan yang sama. Pengalaman para murid mau diterangkan secara psikologis, khususnya berdasarkan kekecewaan mereka karena wafat Yesus. Tetapi dengan demikian justru tidak diterangkan arti teologis pengalaman para murid, yang melihat wafat Yesus sebagai hukuman Allah. Mengingat para murid itu orang Yahudi yang saleh, sebuah keterangan psikologis melulu amat tidak masuk akal. Dalam pandangan mereka wafat Yesus berarti bahwa Yesus ditolak oleh Allah. Maka mengatakan bahwa Yesus hidup (karena alasan apapun), sedangkan Allah dengan jelas menyatakan Dia mati, berarti menghujat Allah. Kalaupun benar bahwa para murid kecewa dengan kematian Yesus dan dalam hati kecil mungkin mengharapkan Dia hidup, namun mereka tidak akan pernah berani melawan Allah yang – menurut anggapan Yahudi mereka – dengan jelas menolak dan mengutuk Yesus. Teori ini pun tidak mempunyai dasar sedikit pun dalam teks Kitab Suci. Sebaliknya kisah kebangkitan memperlihatkan bahwa semula para murid sendiri tidak dapat percaya bahwa Yesus, yang mereka anggap ditolak oleh Allah, ternyata diterima dan dimuliakan oleh Allah. Pengalaman ini seluruhnya bertolak belakang dengan pengharapan Yahudi mereka.

Pandangan yang melihat penampakan sebagai pengalaman subjektif para murid, pantas diberi perhatian lebih khusus. Memang benar bahwa kebangkitan Kristus hanya diketahui dari pengalaman para murid, khususnya dari kesaksian mereka mengenai penampakan. Kebangkitan sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci bukanlah pengalaman Yesus melainkan pengalaman para murid-Nya. Tetapi pertanyaan yang muncul ialah, adakah pengalaman itu hanyalah khayalan dan keinginan para murid, ataukah mereka sungguh-sungguh berjumpa dengan Kristus yang mulia? Yang diceritakan adalah pengalaman para murid, namun menurut kesaksian mereka pengalaman itu berupa suatu perjumpaan dengan Kristus yang mulia. Bagaimana perjumpaan semacam itu dapat digambarkan atau dipahami? Tegasnya pertanyaan mengenai penampakan berbunyi: Apa dasar pengalaman para murid?

Kalau kisah-kisah penampakan diteliti dengan saksama, jelaslah bahwa menurut kisah itu:

  1. Inisiatif selalu datang dari Yesus sendiri: Ia menampakkan diri; sebaliknya, dari pihak para murid,
  2. penampakan selalu dialami sebagai “mengenal kembali” (paling jelas dalam Yoh 21:12).

Khususnya dalam khotbah-khotbah Kisah Para Rasul selalu ditekankan bahwa Tuhan yang mulia, yang menampakkan diri, sama dengan Yesus dari Nazaret yang wafat di kayu salib (bdk. Kis 2:23-24.36; 3:13; 4:10; 5:30; 10:39-40; 13:29- 30). Namun iman akan Kristus yang mulia tidak sama dengan kepercayaan kepada nabi dari Nazaret. Pengalaman akan kebangkitan merupakan suatu pengalaman baru (dan bukan hanya penerusan dari pengalaman yang lama). Pengakuan akan kebangkitan justru berarti bahwa bagi mereka perjumpaan dengan Tuhan yang mulia lain daripada pertemuan dengan Yesus waktu berjalan bersama mereka di Palestina.

Oleh karena itu, bagaimana dapat dipahami perjumpaan dengan Tuhan yang mulia itu? Pertanyaan ini tidak berbeda dengan pertanyaan “Bagaimana manusia dapat menerima wahyu dari Allah?” Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia berbeda dengan pertemuan dengan Yesus dahulu, karena Yesus sekarang sudah masuk ke dalam dunia ilahi. Dapatkah manusia yang fana berkomunikasi dengan dunia ilahi itu? Tentu dapat, sebab seandainya tidak bisa, segala wahyu dan iman pada dasarnya tidak mungkin. Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia pada dasarnya tidak lain daripada wahyu Allah kepada manusia. Maka dalam Kis 10:40 juga dikatakan: “Allah berkenan bahwa Ia menampakkan diri’ (harfiah: “Allah memberi bahwa Dia menjadi tampak“). Penampakan merupakan pewahyuan dari Allah, bahwa Yesus yang di dunia ini dialami telah mati, ternyata hidup pada Allah. Itulah sebabnya dalam Kitab Suci biasanya tidak dikatakan “Kristus bangkit”, melainkan “Allah membangkitkan Dia” (Rm 10:9 dll.). Artinya sesuai dengan Kis 10:40, Allah menyatakan bahwa Yesus hidup.

Menurut keyakinan Yahudi, kematian Yesus di salib yang mengerikan itu tanda bahwa Allah tidak menerima Yesus (lagi). Dasar pandangan seperti itu adalah Perjanjian Lama. Kematian seorang muda, lebih lagi kematian yang begitu mengerikan seperti wafat Yesus, dilihat sebagai hukuman dari Allah (bdk. Ul 21:23; Ams 10:27; Ayb 22:16; 36:6.14).

Oleh karena itu, kalau Allah (menurut anggapan mereka) dengan jelas menyatakan penolakan-Nya terhadap Yesus, maka hanya Allah-lah yang dapat membatalkan kesan itu dengan menyatakan Yesus hidup. Oleh karenanya tidak dikatakan bahwa Yesus bangkit (sebab itu mungkin tidak sesuai dengan kehendak Allah), tetapi “Allah membangkitkan Yesus”. Masalahnya bukanlah apakah Yesus bangkit dengan kekuatan-Nya sendiri atau dengan bantuan entah dari mana. Masalahnya malah bukan kebangkitan, melainkan penerimaan oleh Allah. Kebangkitan berarti bahwa Yesus hidup pada Allah. Penampakan tidak lain daripada pewahyuan mengenai hidup Yesus yang baru itu. Ketika manusia berkata bahwa Yesus mati, pada waktu itu Allah menyatakan bahwa Ia hidup, bukan dengan hidup yang biasa, seperti manusia-manusia yang lain. Yesus hidup dengan hidup dari Allah sendiri. Hal itu hanya dapat diketahui oleh manusia, kalau Allah mewahyukannya.