Tugas Melayani

Gereja adalah persekutuan orang beriman, komunikasi iman. Dalam proses komunikasi iman itu dibedakan dua macam: pengajaran dan perayaan. Yang satu komunikasi dengan kata-kata, baik dalam katekese yang biasa maupun dalam pengajaran pimpinan Gereja yang resmi; yang lain komunikasi iman dalam ibadat bersama. Yang pokok bukanlah rumusan iman atau kebaktian, melainkan penghayatan dan pengamalan iman. Bahkan Gereja “wajib mengakui iman di muka orang-orang” (LG 11), sebab “berkat iman kita menerima pengertian tentang makna hidup kita yang fana” (LG 48). “Iman menyinari segala sesuatu dengan cahaya yang baru, dan memaparkan rencana ilahi tentang seluruh panggilan manusia” (GS 11).

Oleh karena itu, pengungkapan iman saja tidak cukup. Gereja sendiri bukan tujuan; “tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia” (LG 9). “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta menjunjung tinggi dinamisme zaman sekarang” (GS 41). “Manusialah, dalam kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya” adalah paras segala kegiatan Gereja (GS 3).

Yesus pernah bersabda: “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya, melainkan Gereja untuk manusia. “Sementara Gereja membantu dunia dan menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah ini: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS 45). Gereja dipanggil supaya melayani manusia, seluruh umat manusia.

Tugas Pengudusan dalam Perayaan

Konsili Vatikan II menyebut Gereja “persekutuan iman, harapan dan cinta” (LG 8), “persekutuan persaudaraan orang yang menerima Yesus dengan iman dan cinta kasih” (GS 32). Maka sesungguhnya “Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam Kristus, sebagai prinsip kesatuan Gereja” (UR 2), sebab oleh Roh Kudus “kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita” (Rm 5:5). Tetapi Konsili juga mengajarkan bahwa Gereja dibentuk “karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Kesatuan Gereja bukan hanya karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antarmanusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara para anggota Gereja. Komunikasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman. Maka dikatakan bahwa “penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah dalam perayaan liturgi” (SC 41). Dan Gereja sendiri disebut “persekutuan keimaman” (LG 11), khususnya “persekutuan di sekitar altar” (LG 26).

Komunikasi iman mengandaikan pengungkapan iman sebagai sarana komunikasi, Pengungkapan iman bukan hanya meliputi perayaan liturgi atau ibadah. Segala pernyataan iman yang khusus dan eksplisit, termasuk perumusan dan pengajaran iman, merupakan pengungkapan iman. Maka pengungkapan iman ini harus dibedakan dari perwujudan iman. Kedua-duanya adalah penghayatan iman. Yang disebut “pengungkapan” iman ialah segala pernyataan iman dalam bentuk yang khusus dan eksplisit, terutama dalam bentuk pewartaan atau pengajaran dan perayaan Gereja. Yang disebut “perwujudan” iman ialah segala perkataan dan tindakan yang memang dijiwai oleh semangat iman, namun tidak secara khusus dan jelas memperlihatkan sikap iman itu. Di situ iman memang dihayati, tetapi tidak menjadi kentara, karena bentuk penghayatan iman merupakan kegiatan dan pergaulan yang “biasa”, yang “umum”, yang tidak memperlihatkan kekhususan iman Kristen dan Katolik. Sebaliknya dalam bidang pewartaan dan perayaan, iman Kristen dinyatakan secara khusus dan jelas. Maka kegiatan gerejawi ini disebut “pengungkapan iman”. Karena iman berarti hubungan dengan Allah, bidang pengungkapan iman itu juga disebut bidang “sakral”, yang dikhususkan bagi Allah. Di dalam bidang pengungkapan iman biasanya masih dibedakan antara bidang pewartaan yang telah dibahas dan bidang perayaan yang akan diuraikan sekarang. Bidang itu adalah bidang doa dan kebaktian.

Pewarta Sabda

Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu?

Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam. Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang memadai.

Teologi

Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau, agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya untuk mengadakan penyelidikan, mengembangkan pemikiran serta mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenaran-kebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44).

Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan perumusan yang berasal dari refleksi teologis.

Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar, yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan. 812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas gerejawi.

Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu; perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja” (AG 22).

Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi. Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja, tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam rangka tugas kepemimpinan.

Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara.

Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.

Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah.

Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.

Uskup

Pada dasarnya paus juga seorang uskup. Kekhususannya sebagai paus, bahwa dia ketua dewan para uskup. Kekhususan para uskup ialah mereka selalu berkarya dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain dan dengan mengakui paus sebagai kepala. Apa sebenarnya karya seorang uskup? Konsili Vatikan II merumuskannya dengan jelas, “Masing-masing uskup menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya” (LG 23). Mengenai paus dikatakan yang sama untuk seluruh Gereja, “asas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para uskup maupun segenap kaum beriman”.

Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri dan paus bagi seluruh Gereja adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas itu boleh disebut tugas kepemimpinan, dan para uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27). Namun Konsili menegaskan bahwa “tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya, sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab Suci disebut diakonia atau pelayanan” (LG 24). Karena Gereja itu komunikasi iman, maka tugas pemersatu hanya dapat dijalankan dengan memajukan komunikasi itu, bukan dengan paksaan atau indoktrinasi. Suatu kesatuan yang dipaksakan dari atas bukanlah kesatuan iman.

Tugas pemersatu itu selanjutnya dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja. Komunikasi iman Gereja terjadi dalam pewartaan, perayaan dan pelayanan. Maka dalam tiga bidang itu para uskup, dan paus untuk seluruh Gereja, menjalankan tugas kepemimpinannya. “Di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Selanjutnya uskup “diserahi tugas mempersembahkan ibadat agama Kristen kepada Allah yang mahaagung, dan mengaturnya menurut perintah Tuhan dan hukum Gereja” (LG 26). Akhirnya “para uskup membimbing Gereja-gereja yang dipercayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan Gereja uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi iman.