Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda


Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara.

Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.

Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah.

Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.