Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!

Katolik dan uraian biblis Protestan mempunyai penekanan yang sama pada hal Kebangkitan badan Yesus Kristus secara harfiah. Namun untuk kesekian kalinya lagi, hanya Katolik yang mengikuti alur tersebut, konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus Kristus. Konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus adalah Kehadiran Yesus Kristus secara nyata, kehadiran badan-Nya yang telah bangkit sebenar-benarnya.

Pengikut Kristus (umat kristen) tidak menyatakan begitu saja bahwa “Kristus telah bangkit”, yang maknanya kejadian masa lampau, melainkan menyatakan “Kristus bangkit”, dengan makna bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu masih berlangsung dan terjadi pada saat ini. Dan konsekuensi Kebangkitan badan Yesus Kristus tersebut bukan hanya terhadap masa depan setelah akhir dari kehidupan kita, tetapi juga pada saat ini, saat hidup kita masih berlangsung kita bertemu dengan Dia (Yesus Kristus) dalam Ekaristi, dimana Dia dengan “tubuh dan darah, jiwa dan keilahian” hadir sebenar-benarnya, total, penuh dan secara harfiah nyata.

Jika doktrin ini tidak benar, maka Katolik dapat dianggap umat yang terbodoh di dunia dan yang paling menghujat Tuhan, karena membungkuk kepada persembahan roti dan anggur, tidak dapat membedakan ciptaan dan Pencipta – bahkan juga tidak dapat membedakan antara makanan (roti dan anggur) dengan Allah! Tetapi jika doktrin ini benar, maka sebagian besar umat Protestan yang tidak mempercayai kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi telah mengabaikan momen pertemuan dan kesatuan dalam kehidupan ini yang paling mendekati,  totalitas, dan paling intim, dengan Allah.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

(Luk 22:19-20)

Bagi siapapun yang penuh semangat dalam mengasihi Yesus Kristus, inti dari doktrin kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi tidak lah sebanyak dan sekompleks argumen-argumen teologi untuk doktrin ini; melainkan yang paling penting bagi mereka adalah Eksistensi, Kehadiran, konsekuensi spirituality dari fakta bahwa: Kristus benar-benar hadir di sini, secara keseluruhan, secara total, secara literal! Yesus Kristus secara nyata hadir dalam Ekaristi. Tubuh dan Darah Kristus yang telah terpisah di Salib, dan di dalam Misa (secara simbolik); yang kemudian dihadirkan kembali untuk sebagai persembahan, persembahan yang telah dipersembahkan oleh Yesus Kristus sendiri – satu kali dan untuk selamanya bagi semua umat-Nya. Dalam ekaristi – perjamuan kudus – tubuh dan darah Kristus disatukan kembali, bukan hanya itu tapi juga jiwa Kristus, dengan kata lain jiwa manusia Yesus. Dan dalam kesatuan itu bukan hanya keseluruhan kodrat manusia Yesus yang hadir namun juga kodrat Ilahi, kedua kodrat yang bersatu sejak Inkarnasi, ketika Yesus dilahirkan oleh bunda Maria ke dunia. Pada tubuh dan darah Yesus lah Allah bersemayam dibalik kesederhanaan yang ditampilkan dalam rupa roti dan anggur, sama halnya ketika Allah yang mau menjadi anak manusia dilahirkan sebagai keluarga tukang kayu di Nazaret.

Apakah jika ada umat Protestan bertemu Yesus secara tatap muka di tengah jalan, apakah umat itu mau langsung menjatuhkan dirinya berlutut seperti “Tomas yang kurang percaya” dan berkata, “Ya Tuhanku dan ALLAHku”? Bukankah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa di saat itu umat tersebut dapat melupakan diri sendiri secara total dan menyembah Yesus Kristus!? Tetapi itu bukan pengandaian atau hipotesis pemikiran – jika mengalami kejadian seperti itu -; itu adalah gambaran fakta. Hanya saja perbedaannya adalah pertemuan dengan Yesus Kristus itu bukan terjadi di sembarang tempat atau di jalan, namun pertemuan itu terjadi di Altar. Anda dan saya (kita umat Kristen) tidak dapat melihat Yesus Kristus di Altar, atau tidak bisa merasakan DIA di sana, tapi Iman bukanlah mengenai penglihatan atau perasaan.

Berikut adalah kutipan dari Santo Tomas Aquinas mengenai  Ekaristi,

Penglihatan, rasa, dan sentuhan kita kepada Allah dapat keliru;

Hanya pendengaran yang dapat dipercaya

Saya percaya Anak Allah telah berkata mengenai semuanya.

Tidak ada kebenaran lain yang lebih benar dari kata-kata dari Allah yang Benar.

10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi

Kekristenan pada umumnya, dan Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi dengan 10 (sepuluh) alasan:

1. Reinkarnasi bertentangan dengan Kitab Suci (Ibrani 9:27).

manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi

2. Reinkarnasi bertentangan dengan tradisi ortodoks di semua gereja.

3. Pemahaman Reinkarnasi akan mengurangi makna Inkarnasi menjadi seperti suatu perwujudan belaka, makna penyaliban menjadi seperti suatu kecelakaan, dan menjadikan Kristus sebagai hanya salah satu filsuf dari kebanyakan filsuf lainnya atau hanya sebagai salah satu ikon. Paham Reinkarnasi juga membingungkan tentang apa yang dilakukan oleh Kristus dan apa yang dilakukan oleh mahluk ciptaan: antara Inkarnasi dan Reinkarnasi.

4. Reinkarnasi mengartikan bahwa Allah pencipta melakukan suatu kesalahan dengan merancang jiwa, roh manusia untuk hidup dalam tubuh, yaitu manusia yang sebenarnya berupa roh murni terpenjara atau seperti malaikat yang mengenakan kostum.

5. Reinkarnasi bertentangan dengan psikologi dan kewajaran, karena reinkarnasi menunjukan bahwa jiwa/roh yang terperangkap dalam tubuh yang asing menolak kesatuan psikosomatis yang alami.

6.Reinkarnasi memberikan pandangan yang sangat rendah terhadap tubuh/badan, sebagai suatu penjara, suatu penghukuman.

7. Reinkarnasi biasanya menyalahkan tubuh/badan atas dosa yang dilakukan manusia, dan juga menyalahkan kuasa tubuh, karena tubuh lah maka pikiran manusia dapat bingung dan gelap. Reinkarnasi menggeser kesalahan dari jiwa kepada tubuh, seperti dari keinginan kepada pikiran, dan mengaburkan perbedaan antara dosa dengan ketidakpedulian.

8. Menurut paham Reinkarnasi, reinkarnasi yang dialami oleh manusia bertujuan agar manusia belajar dari kegagalan yang dialami dalam pengalaman kehidupannya di masa lampau. Hal ini sangat berbeda dengan kewajaran pada umumnya dan juga berbeda dengan psikologi dasar pendidikan. Sebab kita manusia tidak dapat mempelajari sesuatu hal jika tidak adanya kesinambungan ingatan akan hal yang telah kita terima. Kita hanya dapat belajar dari kesalahan kita sendiri jika kita mengingat kesalahan tersebut. Pada kasus umumnya manusia tidak mengingat kehidupan “reinkarnasi” mereka pada masa lalunya.

9. Bukti yang diharapkan dari Reinkarnasi adalah ingatan akan kehidupan masa lalu yang dapat dicoba dengan usaha hipnotis, atau ‘regresi kehidupan masa lalu’, sehingga dapat dijelaskan (jika memang usaha tersebut dapat berhasil) sebagai telepati mental dari mahluk hidup, atau dari roh manusia yang telah mati di dalam purgatory atau neraka, atau bahkan dari iblis. Kemungkinan dari pemahaman ini akan mengarahkan kita menjadi sangat penasaran untuk membuka jiwa kita kepada ‘regresi kehidupan masa lalu’.

10. Reinkarnasi tidak dapat mendefinisikan pemahamannya sendiri. Mengapa jiwa/roh kita terpenjara dalam tubuh-tubuh kita? Apakah karena kesalahan atau perbuatan jahat kita pada ‘reinkarnasi’ kehidupan masa lalu kita? Tetapi mengapa ‘reinkarnasi’ yang sebelumnya perlu terjadi? Apakah semuanya karena alasan yang sama? Lalu bagaimana dengan masa paling awal, masa permulaan proses ‘reinkarnasi’, apakah tiba-tiba jiwa/roh kita langsung terpenjara dalam tubuh yang awal sekali tanpa sebab? seharusnya ada deret tubuh-tubuh yang terdahulu. Jika tanpa sebab, yang pada awalnya jiwa/roh kita masih sangat sempurna, murni, dan suci bagaimana kita dapat melakukan sesuatu kejahatan atau kesalahan sehingga ‘dipenjarakan’ ke dalam tubuh duniawi yang awal. Jika pada awalnya jiwa/roh kita yang sempurna, murni, dan suci itu berada di surga, dan karena disebabkan dosa yang telah kita ‘lakukan’ maka kita mengalami reinkarnasi, maka sebenarnya itu bukan surga sama sekali. Bukankah keadaan proses reinkarnasi seharusnya mengarahkan kita untuk kembali setelah semua hasrat kita yang terkandung sudah berakhir?

Jika jawaban yang diberikan adalah bahwa tubuh kita bukanlah ‘hukuman’ untuk dosa tetapi merupakan ilusi dari kepribadian, yaitu sang ‘Satu’ seperti yang dipahami dalam Panteisme yang menjadi banyak dalam kesadaran manusia, dan tidak ada penjelasan yang diberikan mengenai paham ini. Dan benar demikian, kepercayaan Hindu menyebutnya lila, ‘permainan’ ilahi. Tetapi hal itu tidak mudah diterima. Karena jika sang ‘Satu’ itu adalah kesempurnaan, mengapa kesempurnaan memainkan ‘permainan’ yang tidak sempurna? Semua dosa dan penderitaan yang dialami di dunia disepelekan menjadi tidak mempunyai arti, ‘permainan’ yang tidak dapat dipahami.

Dan jika kejahatan itu sendiri hanya merupakan sesuatu yang ditimbulkan dari angan-angan, bersifat ilusi (menurut pendapat beberapa mistikus), maka eksistensi dari kejahatan itu sendiri adalah nyata dan bukan sekedar kejahatan yang bersifat ilusi. Santo Agustinus dari Hippo menuliskan poin tentang kejahatan:

Kapan sesuatu disebut kejahatan, dan apa sumber dari kejahatan itu, dan bagaimana kejahatan itu bisa merasuki dan mempengaruhi ciptaan? Apa akar dari kejahatan, apa benih dari kejahatan? Dapatkah kejahatan itu adalah suatu  keseluruhan tanpa dijadikan? Tetapi mengapa kita harus takut dan berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak ada? Ataukah jika ketakutan kita tidak berdasar, lalu yang paling kita takutkan itulah sesuatu kejahatan. Oleh karena itu hati kita dibawa dan disiksa tanpa sebab; dan yang paling buruk kejahatan itu adalah jika tidak ada yang perlu ditakutkan namun kita tetap merasa takut. Oleh karena itu apakah kejahatan itu ada makanya kita takut, atau faktanya ketakutan kita itu adalah kejahatan.

7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian

Pada dasarnya ada 7 (tujuh) teori non-kristen yang berpendapat mengenai apa yang terjadi setelah kematian. Tujuh pendapat ini terbentuk berdasarkan pikiran manusia dalam rentang waktu, tempat, dan kultur yang berbeda. Pendapat Gereja mengenai kehidupan setelah kematian berbeda dengan ke-tujuh teori tersebut.

  1. Materialisme-Ateistik: Sebab Tuhan itu tidak ada, maka tidak ada gambaran Tuhan, atau jiwa. Oleh karena itu menurut pendapat ini, kita manusia hanya organisme material, dan ketika tubuh/badan kita mati, semua bagian dari kita mati dan tetap mati, selamanya.
  2. Ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan setelah kematian: Pendapat ini tidak umum, tetapi mungkin ada kepercayaan seperti ini. Pendapat ini muncul karena mungkin ada keyakinan bahwa ada Tuhan yang kurang mengasihi manusia sehingga tidak menyelamatkan mereka, atau karena kurangnya kuasa Tuhan untuk menyelamatkan manusia.
  3. Skeptisme: Pendapat yang memahami bahwa tidak ada yang pernah dapat mengetahui apa yang terjadi setelah kematian.
  4. Pagan jaman kuno: Setelah manusia mati, sifat kemanusiaannya menjadi pudar, berupa bayangan serupa manusia yang masih hidup: hantu, penghuni dunia yang suram, dunia bawah yang gelap.
  5. Platoisme: Berpendapat bahwa hanya jiwa yang tersisa setelah kematian; tubuh manusia mati untuk selamanya, dan jiwa atau roh manusia hidup selamanya. Pendapat Platoisme sering disalahpahami dan dikira sama dengan Kekristenan, tapi paham Kekristenan mengenai ini jelas berbeda dengan Platoisme; akan dibahas mengenai ini pada tulisan Analogi duniawi tentang surga.
  6. Panteisme: Pendapat yang berdasarkan pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, seperti tetesan butiran air dari lautan kosmik, partikel kecil dari Tuhan. Sehingga setelah manusia mati mereka kembali ke alam semesta, seperti tetesan butiran air yang kembali ke lautan kosmik. Yang perlu diperhatikan dalam paham panteisme adalah tidak adanya pribadi, tidak adanya sifat individu nyata pada setiap manusia, sehingga ketika manusia setelah mati, pribadi/sifat individu manusia tidak ada.
  7. Reinkarnasi: Pemahaman yang berpendapat bahwa setelah badan/tubuh manusia mati, jiwa atau roh manusia tersebut akan mendapatkan tubuh/badan lain di bumi, tubuh duniawi. Roh manusia itu berpindah ke tubuh orang yang lain seumpama seperti seorang pemasaran berpindah-pindah dari suatu ruangan ke ruangan lain. (Reinkarnasi biasanya disatukan dengan Panteisme atau Platoisme. Dimana setelah suatu jiwa/roh itu cukup mengalami reinkarnasi sehingga roh mendapat ‘pencerahan’, roh tersebut akan terbebas selamanya dari penjara badan/tubuh). Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi.

Tanggapan atas Teori Halusinasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Ada yang mengatakan bahwa jika kita melihat seseorang yang telah mati berjalan dan berbicara, bukankah kita akan lebih terima jika menyadari bahwa kita sedang mengalami halusinasi daripada menyadari bahwa apa yang kita lihat adalah yang sebenarnya? Lalu kalau demikian kenapa kita tidak berpendapat yang sama tentang Kebangkitan Yesus Kristus?

Berikut adalah tanggapan dan alasan kenapa Kebangkitan Yesus bukan halusinasi.

  1. Terlalu banyak saksi mata yang menyaksikan Yesus disalibkan dan Penampakan Yesus setelah bangkit. Halusinasi hanya bersifat pribadi, individual, dan subjektif. Sedangkan penampakan Yesus Kristus disaksikan oleh Maria Magdalena, kepada para murid (tanpa Tomas), kepada para murid lagi (dengan Tomas), kepada dua murid di Emaus, kepada para nelayan di pinggir danau, kepada Yakobus (saudara sepupu Yesus), dan juga kepada 500 (lima ratus) orang pada saat bersamaan (1 Korintus 15:3-8). Tiga saksi mata dan bahkan masih ada sekitar 500 saksi mata orang yang menyaksikan secara langsung, yang mengundang para pembaca untuk memeriksa kembali kebenaran cerita dengan bertanya kembali kepada para saksi mata tersebut.
  2. Para saksi mata adalah orang-orang yang dapat bertanggung jawab. Mereka sederhana, jujur, dan bermoral yang merupakan pihak pertama yang menyaksikan dan memiliki pengetahuan akan kebenaran fakta cerita mengenai Kebangkitan Yesus Kristus.
  3. 500 (lima ratus) orang saksi mata yang pernah melihat Yesus Kristus, pada tempat yang sama dan pada saat yang sama sangat kuat menjadi bukti fakta dibandingkan 500 (lima ratus) saksi mata secara pribadi (perorangan) atau disebut “halusinasi” pada tempat dan waktu yang terpisah masing-masing.
  4. Halusinasi biasanya terjadi dan berlangsung singkat hanya beberapa detik, atau menit, atau jam. Tetapi “Halusinasi” yang disaksikan oleh 500 saksi mata tersebut secara bersamaan dan pada tempat yang sama berlangsung selama 40 hari. (Kisah Para Rasul 1:3)
  5. Halusinasi biasanya terjadi hanya satu kali, kecuali bagi yang orang yang tidak waras halusinasi yang dialami dapat berulang-ulang. Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit terjadi berulangkali kepada orang-orang yang normal (Yohanes 20:19-21:14; dan Kisah Para Rasul 1:3).
  6. “Halusinasi” Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit yang dialami oleh para murid sangat mengejutkan dan tidak perkirakan (Kisah Para Rasul 1:3, 9); kesan pertama yang dirasakan oleh para murid adalah seperti bertemu dengan seorang manusia yang nyata bukan seperti mengalami mimpi. Bahkan pada saat pertama mereka bertemu Yesus yang sudah bangkit mereka tidak mempercayai “halusinasi” ini, baik Petrus, para perempuan, atau Thomas, dan begitu juga kesebelas murid lainnya. Mereka mengira Yesus yang menampakan diri pada saat pertama itu adalah berupa Roh atau hantu; Dan Yesus membuktikan kepada mereka semua bahwa dia adalah Yesus Kristus yang telah bangkit, benar bangkit dengan makan bersama bahwa dia bukan seperti perkiraan mereka semula yaitu berupa Roh atau hantu. Bahkan pembuktian dengan makan bersama terjadi dua kali (Lukas 24:42-43; Yohanes 21:1-14).
  7. Para murid dapat menyentuh tubuh Yesus yang telah bangkit. Tubuh Yesus nyata dapat disentuh membuktikan dia adalah Yesus Kristus yang benar bangkit.
  8. Bahkan Yesus Kristus pada saat itu berbincang dengan para muridnya, berkomunikasi dua arah; Yesus merespon para murid, dan muridnya dapat merespon balik perbincangan itu selayaknya perbincangan normal.
  9. Para murid tidak dapat mempercayai penampakan Yesus yang telah bangkit (“halusinasi”) jika tubuh Yesus yang sebenarnya masih terbaring di kubur. Jika memang halusinasi benar terjadi pada murid maka seharusnya tubuh Yesus benar masih dikubur, dengan demikian dapat dikatakan para murid mengalami halusinasi karena melihat hal yang tidak benar karena tubuh Yesus sebenarnya masih terbaring di kubur.
  10. Jika para murid mengalami halusinasi dan menyebarkan cerita halusinasi yang mereka percayai, para Yahudi pasti akan menghentikan penyebaran cerita tersebut dengan membuktikan dan menunjukan dalam kubur bahwa tubuh Yesus benar-benar masih ada di bumi, masih kaku, belum bangkit. Jika alasan tubuh Yesus tidak bisa dibuktikan masih ada di bumi, tidak bangkit karena para murid mencuri dan menyembunyikan tubuh Yesus, maka hal ini akan mengarahkan kita kembali ke teori konspirasi.
  11. Sebuah teori halusinasi hanya dapat digunakan untuk mencoba beragumen bahwa kebangkitan Yesus tidaklah benar terjadi, setelah kejadian kebangkitan mulai. Tapi teori halusinasi tidak dapat digunakan untuk berargumen dan menjelaskan bagaimana kubur Yesus kosong, batu penutup pintu kubur Yesus yang terguling sehingga kubur terbuka, dan tidak dapat membuktikan keberadaan tubuh Yesus. Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut kecuali teori bahwa Yesus Kristus benar bangkit.

Perjamuan Terakhir

Kisah perjamuan terakhir, yang terdapat dalam injil sinoptik (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20) dan pada Paulus (1Kor 11:23-25), sebenarnya amat singkat dan tidak persis sama. Walaupun pada dasarnya sama, ada perbedaan perumusan antara Matius-Markus pada satu pihak dan Lukas-Paulus pada pihak yang lain. Sudah tidak diketahui lagi apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kata-kata yang sekarang dipakai dalam Doa Syukur Agung merupakan rumusan yang dibuat atas dasar empat kisah itu, tetapi tidak terjamin keasliannya. Namun demikian, semua kisah mempunyai sepuluh unsur ini:

  1. Yesus mengambil roti.
  2. Yesus mengucap doa syukur.
  3. Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada para murid.
  4. Waktu membagikan roti itu Yesus bersabda: Inilah tubuh-Ku.
  5. Sesudah perjamuan Yesus mengambil piala.
  6. Yesus mengucap syukur lagi.
  7. Piala diberikan kepada para rasul, dan mereka minum dari padanya.
  8. Waktu mengedarkan piala, Yesus bersabda: Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku.
  9. Yesus memberi perintah pengenangan.
  10. Sesudah itu Yesus masih berbicara mengenai Kerajaan Allah.

Betapapun terbatas informasi yang dapat diperoleh dari kisah-kisah ini, jelas bahwa semua ini sesuai dengan perjamuan Yahudi. Doa syukur yang disebut sebelum makan (no. 2) dan sesudahnya (no. 6) adalah doa sebelum dan sesudah makan yang dibawakan oleh pemimpin perjamuan, biasanya bapa keluarga. Para peserta perjamuan menjawab “amin”, lalu makan roti yang dibagikan sebelum perjamuan (no. 3) dan minum dari piala sesudahnya (no. 7). Perlu diperhatikan bahwa pembagian roti terjadi sebelum makan, dan oleh karena itu tidak termasuk perjamuan sendiri. Makan roti dan minum dari piala termasuk doa. Dengan menjawab “amin” dan kemudian makan roti serta minum dari piala, orang mengambil bagian dalam doa yang oleh pemimpin diucapkan atas roti dan anggur.

Doa sebelum makan biasanya pendek, sedangkan doa sesudah makan, yang disebut birkat ha-mazon, cukup panjang dan dapat bervariasi menurut pesta yang dirayakan. Doa itu dirumuskan dengan bebas oleh yang membawakannya. Kita tidak tahu bagaimana doa syukur Yesus; barangkali serupa dengan doa yang biasanya didoakan oleh orang Yahudi, sebab semua memang sesuai dengan adat-istiadat orang Yahudi (termasuk perjamuan sendiri, yang dalam Perjanjian Baru hanya disebut sepintas, no. 5). Yang sangat istimewa ialah sabda Yesus yang diucapkan waktu membagikan roti (no. 4) dan piala (no. 8), sebab biasanya roti dan anggur dibagikan dengan diam-diam, sebagai bagian doa. Sabda Yesus itu tidak tepat sama rumusannya dalam keempat kisah.

Pada kata “Inilah tubuh-Ku” oleh Lukas ditambahkan “yang diserahkan untuk kamu”, sedangkan Paulus menyebutkan: “Tubuh-Ku, yang untukmu”. Kiranya perbedaan ini tidak sepenting seperti dalam sabda atas piala. Kata “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, hanya terdapat pada Paulus dan Lukas (yang terakhir itu masih menambahkan: “yang ditumpahkan untuk kamu”). Tetapi teks Markus berbunyi (dan Matius tidak banyak berbeda): “Inilah darah-Ku Perjanjian, yang ditumpahkan untuk orang banyak” (Matius masih menambahkan: “demi pengampunan dosa”). Banyak ahli lebih cenderung ke arah teks Lukas-Paulus, karena dua alasan: 1. Teks Markus atas piala sangat mirip dengan sabda atas roti, mungkin disesuaikan; 2. rumus Markus sangat aneh: “darah-Ku perjanjian”, yang mungkin dirumuskan dengan latar belakang Kel 24:8: “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu”. Bagaimanapun juga, dari naskah Injil tidak dapat ditentukan dengan pasti, mana sabda Yesus yang asli.

Perintah pengenangan, yang hanya terdapat pada Lukas-Paulus, juga menyimpang dari kebiasaan Yahudi. Begitu juga sabda eskatologis mengenai Kerajaan Allah, tentu sangat khusus untuk situasi Yesus. Maka kemiripan dengan perjamuan Yahudi tidak berarti bahwa Yesus hanya mengadakan perjamuan Yahudi yang biasa. Ada banyak unsur yang sangat istimewa, dan justru itulah yang paling penting untuk perayaan Ekaristi. Namun sabda Yesus itu hanya dapat dimengerti dengan sepenuhnya, kalau ditempatkan dalam kerangka perjamuan Yahudi itu.

Dalam Injil sinoptik (Mat 26:17-19/Mrk 14:12-16/Luk 22:9-13) diceritakan bagaimana para murid mempersiapkan perjamuan Paska. Atas dasar itu biasanya ditarik kesimpulan, bahwa Perjamuan Terakhir berupa perjamuan Paska. Namun dalam Yoh 19:14 dikatakan bahwa Pilatus menghukum Yesus pada “hari persiapan Paska”. Orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam rumah Pilatus (seorang kafir yang najis dalam pandangan mereka), “supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paska” (Yoh 18:28). Maka timbul pertanyaan, bagaimana mungkin Yesus sudah makan perjamuan Paska sebelum itu? Atas pertanyaan itu pun tidak ada jawaban yang jelas. Dan tidak dapat dikatakan dengan pasti, apakah Perjamuan Terakhir adalah perjamuan Paska. Bagaimanapun juga, dalam kisah Perjamuan Terakhir sendiri domba Paska atau upacara pesta itu, tidak disebut-sebut. Atas dasar itu tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paska. Yang jelas, Yesus sendiri atau para pengarang Injil tidak menghubungkan Perjamuan Terakhir (dan Ekaristi) dengan Paska Yahudi. Yesus tidak mengidentifikasikan diri dengan domba Paska (itu baru dibuat oleh Paulus dalam 1Kor 5:7, tetapi secara kiasan).

Yang paling penting tentu sabda Yesus waktu membagikan roti dan anggur. Beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama roti dan anggur itu berfungsi sebagai alat penghubung antara para hadirin yang makan dan minum, dan dia yang membawakan doa syukur (dan dengan demikian dengan doa syukur itu sendiri). Dengan kata lain, sabda Yesus atas roti (dan atas piala) tidak tertuju kepada roti, tetapi kepada orang yang menerimanya. Sabda “Inilah tubuh-Ku” dikatakan mengenai roti, yang sedang diberikan. Selain itu “tubuh-ku” dalam bahasa Aram (bahasa ibu Yesus) berarti “aku” (serupa dengan bahasa Jawa “awak-ku”).

Maka dengan memberikan roti Ia memberikan diri sendiri kepada para rasul. Sama halnya dengan piala. Dengan sabda “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, Yesus mau mengatakan bahwa dengan minum dari piala ini para rasul masuk ke dalam Perjanjian Baru dengan Allah, yang didasarkan pada penumpahan darah Yesus. Sabda Yesus juga tidak pertama-tama ditujukan kepada piala (atau anggur di dalamnya), melainkan kepada mereka yang minum dari padanya. Dengan sabda atas roti dan anggur Yesus mengungkapkan suatu hubungan pribadi yang sangat istimewa.