Sekilas mengenai Jenis aliran kepercayaan

Secara sosiologi kita dapat memilah berbagai agama yang ada dengan membedakan jenis kepercayaan yang ada di dalam setiap agama. Jenis Kepercayaan dalam suatu agama bukanlah membedakan antara agama, melainkan membedakan yang ada di dalam setiap agama. Berikut adalah jenis-jenis kepercayaan:

jenis-kepercayaan

  1. Agnostik bersebelahan dengan Aliran kepercayaan. Dimana pihak Agnostik akan berprinsip bahwa “Karena tidak tahu akan adanya atau tidak adanya Dewa/Tuhan” maka mereka tidak memilih sebagai pihak yang Percaya. Dan di lain pihak, Aliran kepercayaan mempunyai prinsip bahwa “Karena mengetahui sesuatu informasi, dan mengklaim bahwa dengan mengetahui informasi tersebut” maka mereka memilih sebagai pihak yang percaya. Percaya yang dimaksud di sini adalah percaya bahwa tidak adanya Tuhan/Dewa, atau percaya bahwa adanya Tuhan/Dewa.
  2. Di dalam jenis Aliran Kepercayaan ada Ateisme bersebelahan dengan Teisme. Dimana pihak Ateisme percaya dan berprinsip bahwa “Tidak ada Tuhan/Dewa”. Sedangkan Teisme percaya dan berprinsip “Ada Tuhan/Dewa”.
  3. Di dalam jenis kepercayaan Teisme dapat dibedakan 3 pihak yang bersebelahan yaitu (1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas), (2) Politeisme, (3) Monoteisme.(1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas) percaya bahwa ada semacam Dewa/Tuhan namun informasi yang mereka miliki kurang tegas, dan jelas.
    (2) Politeisme pecaya bahwa adanya beberapa Dewa/Tuhan yang berbeda-beda.
    (3) Monoteisme percaya bahwa ada satu Tuhan.
  4. Di dalam jenis Monoteisme (secara besar), dapat dipilah secara lebih rinci terdapat 2 (dua) yaitu Panteisme dan Monoteisme yang sebenarnya. Panteisme percaya adanya satu Tuhan dan Tuhan = Segala Makhluk di Dunia, dan Segala Makhluk di Dunia = Tuhan, dan Tuhan tersebut imanen tetapi tidak transenden. Sedangkan Monoteisme yang sebenarnya atau dikenal juga dengan Supranaturalisme percaya ada satu Tuhan, Tuhan yang imanen dan transenden.
  5. Di dalam jenis Monoteisme yang sebenarnya, dapat dipilah lebih rinci menjadi 2 pihak yaitu Deisme dan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu. Perbedaan kedua pihak ini terletak dari pemahaman interaksi Tuhan terhadap makhluk ciptaannya (manusia). Deisme mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, namun tidak dapat berinteraksi dengan manusia, dan tidak mengungkapkan diri-Nya (Tuhan) kepada manusia – tidak mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Sedangkan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, dapat berinteraksi dengan manusia dan mengungkapkan diri kepada manusia – mewahyukan diri-Nya kepada manusia.
  6. Di dalam jenis Monoteisme yang berdasarkan Wahyu dapat dipilah lagi lebih rinci menjadi 2 (dua) yaitu Unitarianisme dan Trinitarianisme. Keduanya mempercayai ada satu Tuhan, namun Unitarianisme mempercayai Tuhan hanya mewahyukan diri-Nya kepada manusia sebagai satu pribadi dan Unitarianisme menolak bahwa Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai pribadi lain; sedangkan Trinitarian mempercayai Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada manusia dengan (3) tiga tahap dan dapat dikenali ada 3 (tiga) pribadi dalam satu Tuhan, yaitu: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.

Dengan demikian ada 6 (enam) jenis kepercayaan yang non-kristen yaitu: (1) agnostikisme, (2) ateisme, (3) politeisme, (4) panteisme, (5) deisme, dan (6) unitarianisme. Dan Agama Kristen merupakan aliran kepercayaan Trinitarianisme.

Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?

Pertanyaan judul di atas merupakan pertanyaan selanjutnya menanggapi pemahaman maksud dari Keselamatan yang sudah dibahas sebelumnya. Maka pertanyaan ini diajukan untuk mencoba menggugat pemahaman yang telah terbentuk, yaitu: Siapakah yang Menyelamatkan? (atau setara dengan pertanyaan ‘Siapa Penyelamat?’) Apakah hanya Yesus yang menyelamatkan? Jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ bahwa Yesus-lah yang menyelamatkan, atas pertanyaan itu kedua jawaban tersebut sepertinya menjadi dilema (serba kurang tepat).

Jika kita menjawab ‘Ya, hanya Yesus-lah Sang Penyelamat’ maka keberatan akan muncul: Berarti semua orang yang non-kristen akan masuk neraka, bahkan seorang pagan yang baik seperti Socrates. Apakah ada kesalahan Socrates (contoh dari kelompok orang baik pagan) yang tidak hidup pada waktu yang tepat sehingga tidak bertemu Yesus atau tidak mendapat pewartaan tentang Yesus? tidak ada kesalahan pada Socrates yang pada masa hidupnya tidak bertemu Yesus atau mendapatkan pewartaan tentang Yesus. Maka akan muncul pendapat bahwa Allah itu sangat tidak adil dan tidak mengasihi bagi kelompok non-Kristen ini, sehingga sebagian besar akan masuk neraka.

Tetapi jika kita memberikan jawaban lain yaitu bahwa orang-orang non-Kristen yang baik seperti Socrates akan diselamatkan juga, lalu akan muncul lagi pertanyaan baru: lalu mengapa perlu menjadi Kristen? Karena jika si Socrates sudah cukup melakukan perbuatan baik agar dapat diselamatkan dan masuk ke Surga, mengapa harus menambah sempit klaim bahwa hanya Yesus-lah jalan Keselamatan?

Dengan kata lain jika si Scorates benar tidak diselamatkan, maka Allah bukanlah seperti yang diyakini bahwa Allah maha pengasih dan adil. Di lain sisi jika si Scorates benar diselamatkan, maka Yesus bukanlah satu-satunya jalan Keselamatan.

Untuk membahas lebih lanjut maka perlu dibahas kembali apa yang dimaksud sebenarnya Penyelamatan secara objektif berdasarkan data (Kitab Suci); dan menakar subjektifitas atau seberapa jauh pemahaman yang berkembang dari sisi orang kristen dan non-kristen.


Objektif Keselamatan dibandingkan dengan Sukjektif Pemahaman akan Keselamatan

Dilema jawaban di atas bukan hanya rumit, teknikal, masalah teologi, dan bukan juga mengenai Socrates. Ini merupakan hal penting bagi semua pertanyaan dan semua orang. Untuk menjawab ini, kita perlu membuat pemisahaan yang krusial (sangat teliti) antara dimensi objektif dan dimensi subjektif dari pertanyaan tersebut. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan kejelasan, yang pasti dan tidak dapat dikompromikan, memberikan jawaban yang sangat spesifik (khusus) bagi pertanyaan yang objektif, tetapi tidak kepada pertanyaan yang subjektif.

Secara objektif, Kitab Suci Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus sendiri menegaskan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.'” (Yohanes 14:6). Orang Kristen percaya Yesus adalah sang Penyelamat dan satu-satunya karena Yesus yang mengatakan demikian. Jika hal tersebut tidak benar maka, Ia bukan Penyelamat, tapi semua adalah kebohongan, penghujatan dan penipuan yang sangat egois.

Secara subjektf (menurut pandangan dari kita masing-masing), apakah benar kita perlu diselamatkan? Kitab Suci Perjanjian Baru menyatakan kita memerlukan iman dalam Dia (Yesus) agar dapat diselamatkan, tetapi apa yang dimaksud dari pernyataan itu? Jenis iman yang bagaimana yang dimaksud? Yang pasti; tidak ada Yesus lain yang dimaksud, hanya satu Yesus, tapi banyak keyakinan iman yang berbeda-beda. Batasan pembeda antara Yesus dan orang lainnya jelas digambarkan, dapat diketahui dengan jelas perbedaan Allah-manusia dan manusia fana. Namun perbedaan antara Kepastian iman yang dimiliki oleh Petrus dan Ketidakpastian iman yang dimiliki Socrates tidak dapat dilihat dengan jelas.

Apakah itu berarti ada kemungkinan si Socrates sebenarnya memiliki iman dalam Kristus? Bukankah untuk beriman dalam Kristus harus diawali dengan pengenalan akan Kristus? Bagaimana mungkin si Socrates pernah mengenal Kristus? Ada jawaban yang berlaku untuk kasus Socrates dan juga untuk semua orang, yaitu seperti yang tertulis di Kitab Suci Perjanjian Baru: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:8). Yang maksudnya adalah Yesus sudah hadir sebelumnya, sebelum inkarnasi sabda menjadi daging; menjadi Allah-manusia yang dikenal bernama Yesus Kristus; Yesus Kristus sebelumnya adalah Logos (dari bahasa Yunani yang berarti sabda) Allah, Kata Ilahi (Firman), Terang, atau Sumber Kebenaran.

Tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Kristus (Yohanes 1:18; Lukas 10:22). Tetapi kaum pagan telah mengenal Allah (Kisah Para Rasul 17:28; Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:19-20; 2:11-16). Dengan demikian dapat diketahui bahwa pagan mengenal Kristus, yang dikenal sebelum kelahiran bayi Yesus, yang dikenal sebagai Terang, sebagai Firman, sebagai Alasan Kebenaran; yang pada masa pagan yang diceritakan di Kisah Para Rasul, dan Surat Paulus, mereka kelompok pagan belum mengetahui ‘nama’, atau ‘Logos’, atau ‘gambaran’ (wujud) Allah inkaranasi sebagai manusia yaitu Yesus.

Kristus bukanlah hanya seorang Yahudi yang berumur 33 tahun dan dikenal sebagai tukang kayu. Dia adalah yang Kedua dari Tritunggal Maha Agung, secara penuh, melalui wahyu, atau gambaran, dari sang Bapa (Kolose 1:15, 19; Yohanes 14:9). Hubungan dia dengan Allah seumpama sinar matahari dengan sang matahari. Dia bagaikan “cahaya yang menerangi setiap manusia” melalui akal budi dan suara hati. Oleh karena itulah doktrin dari Keilahian Kristus – diklasifikasikan  sebagai “konservatif” atau “tradisional” oleh kelompok liberal – sebab doktrin inilah yang mendasar harapan yang dimiliki oleh kelompok liberal bahwa penganut pagan juga mungkin dapat diselamatkan.

Jadi secara objektif, benarlah hanya Kristus yang dapat menyelamatkan penganut pagan juga. Tetapi secara subjektif, jenis keyakinan bagaimana yang mungkin menyelamatkan penganut pagan, atau penganut agama Hindu, atau penganut agnostik? Apakah seperti jenis keyakinan berikut?

  1. Keyakinan yang tidak jelas, samar, yang digeneralisasikan dengan kejujuran dan ketulusan?
  2. Keyakinan yang berkomitmen sepenuhnya terhadap Kebenaran, Kebenaran yang bukan sesuatu dapat ditemukan di beberapa hal, tetapi Kebenaran yang absolut, yang secara implisitnya merupakan sifat dari Allah?
  3. Keyakinan yang mencari bukan hanya Kebenaran tetapi juga Kebajikan, moral yang benar, secara garis besar keyakinan ini merupakan pilihan mendasar untuk kebaikan daripada kejahatan?
  4. Keyakinan atas kasih dari Kebaikan, yang bukan sesuatu berasal dari pihak lain, melainkan hanya sepenuhnya merupakan sifat dari Allah?
  5. Keyakinan akan pertobatan akan dosa, walaupun tidak ada kejelasan konsep Tuhan yang ditujukan oleh penganut pagan dengan melakukan penyesalan?
  6. Keyakinan dalam Tuhan, Allah dari ilham, Allah dari terang budi, sang Intelektual yang merancang alam dan sumber Kesucian suara hati?
  7. Keyakinan yang penuh dengan kehati-hatian, ketelitian, dimana kebebasan dan suara hati dipergunakan secara teliti menanggapi kasih Ilahi, akan tetapi samar-samar dimengerti oleh penganutnya?

Semua poin-poin tersebut diperlihatkan juga oleh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru sebagai hal yang diperlukan juga.

Tetapi pengetahuan eksplisit (pengetahuan yang benar-benar mutlak menuntut kejelasan) akan Inkarnasi Yesus bukan suatu keharusan syarat untuk keselamatan. Contohnya adalah Abraham, Musa, dan Elia yang tidak memiliki pengetahuan eksplisit akan Yesus Kristus, dan mereka juga telah diselamatkan. (Kita dapat mengetahui itu dengan membaca Matius 17:3 dan Lukas 16:22-23.) Orang yang sama – Yang Kedua dari Tritunggal Maha Kudus – keduanya adalah Logos yang dikenal pada masa prainkarnasi (sebelum inkarnasi sabda menjadi daging), yang “menerangi setiap manusia”, dan berinkarnasi sebagai Yesus, yang telah dilihat oleh beberapa orang. Mereka mengenali salah satu dari kedua itu (Yesus; prainkarnasi dan setelah inkarnasi) mengenali yang satunya lagi, karena keduanya adalah orang yang sama.

Jika kita bertanya kepada Abraham, “Apakah kamu percaya dalam Yesus, Dia sebagai Penyelamatmu?” Abraham tidak dapat menjawab ‘ya’. Jawaban ‘ya’ dari Abraham hanya bersifat implisit dalam sebatas pengetahuan yang dipunya oleh Abraham, tetapi ‘ya’ dari Abraham adalah jawaban bahwa dia pernah benar-benar secara nyata bertatap muka dengan Yesus yang nyata. Dan karena Abraham menjawab ‘ya’ kepada Kristus dan demikian dia diselamatkan. Oleh karena itu ketidakmampuan Abraham menjawab ‘ya’ secara eksplisit terhadap pertanyaan tersebut bukan berarti otomatis kita tidak diselamatkan. Begitu juga bagi Socrates, dia tidak otomatis tidak diselamatkan. Apapun dan bagaimana Socrates memiliki hubungan kontak dengan Kristus selaku Logos adalah tetap masih pertanyaan yang belum terjawab. Secara abstrak, usaha pencapaian intelektual dari kebenaran tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita. Namun kesalahan intelektual cukup untuk membuat kita gagal untuk mempersiapkan agar kita diselamatkan.

Allah tidak memberikan kita ujian akhir teologi layaknya ujian akhir sekolah ketika kita meninggal sebagai syarat untuk masuk ke surga. Jika Allah melakukan itu, kita semua akan gagal pada ujian itu. Dan kemudian akan muncul permasalahan kewenangan penentuan batas poin lulus atau gagal. Lalu apa yang menjadikan iman dari seorang seperti Socrates dapat membuat dia diselamatkan? Apa makna dari bagi Socrates untuk mengimani Kristus yang dia kenal sebagai Logos? Apa yang dapat dia lakukan agar diselamatkan?

Untuk itu kita perlu kembali mengkonsultasikan kembali data yang kita punya, yaitu Kitab Suci. Terdapat tiga jawaban dalam Kitab Suci: Kita harus mencari Allah, menyesali dosa kita, dan mengimani Allah. Lalu dari data itu dapat kita mengenali beberapa parameter dari tiga syarat yang sifat universal untuk Keselamatan.

1. Mencari Kebenaran sebagai Keilahian Mutlak dapat dengan mencari Allah karena Allah adalah Kebenaran.

Kebenaran adalah bagian dari Allah, seumpama Matahari terdiri dari sinar dan energi. Kebenaran ini lebih dari kebenaran mental biasa. Pencarian Kebenaran dimotivasi oleh keinginan, kehendak. Pencarian Kebenaran merupakan kebebasan kehendak dari keinginan, dari hati – cinta akan Kebenaran – itulah yang membuat orang mulai mencari Kebenaran. Dan pencarian sudah merupakan suatu jenis Iman. Pencarian adalah iman yang diarahkan untuk masa depan; yaitu dikenal sebenarnya sebagai Harapan. Harapan adalah suatu “nilai plus dari teologi”, sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Kita telah dijanjikan bahwa semua yang mencari (Allah), akan menemukan (Allah) (lihat Matius 7:7-8);

Dalam mencari Allah menunjukkan bahwa kasih ilahi telah hadir dalam jiwa setiap orang yang mencari. Santo Augustin menggambarkan bahwa Allah berkata kepadanya, “Ambil hati, anakku. Kamu tidak akan mencari saya sebelum Saya menemukan kamu terlebih dahulu.” Dan sebuah semboyan tua dalam bahasa Inggris pernah berbunyi: “I sought the Lord, and afterward I knew / He moved my soul to seek him, seeking me. / It was not I that found, O Savior true; / No, I was found Thee.”

Pascal pernah berkata bahwa ada tiga tipe orang di dunia: (1) mereka yang mencari Allah dan menemukan-Nya, (2) mereka yang mencari Allah tetapi belum menemukan-Nya, (3) mereka yang tidak mencari Allah dan tidak menemukannya. Pascal menyebut tipe yang pertama sebagai “menggunakan-akal (bijaksana) dan bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan bahagia karena menemukan apa yang mereka cari. Pascal menyebut tipe yang kedua sebagai “menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan tidak-bahagia karena mereka belum menemukan. dan Pascal menyebut tipe yang ke tiga sebagai “tidak-menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – tidak-menggunkan-akal karena mereka tidak mencari, dan tidak-bahagia karena mereka tidak menemukan.

Perbedaan yang terbesar adalah bukan antara mereka yang telah menemukan dan mereka yang belum menemukan. Perbedaan yang telah dan belum menemukan merupakan perbedaan yang sementara, karena semua yang tergolong tipe kedua akan naik menjadi tipe pertama; karena semua yang mencari akan menemukan. Dan yang menjadi perbedaan terbesarnya terletak antara mereka yang mencari dan yang tidak mencari, karena perbedaan itu merupakan perbedaan yang selamanya. Tidak ada tipe yang ke empat, dimana orang yang tidak mencari, tidak selamanya tidak menemukan.

2. Mengenai Penyesalan dosa, dalam Kitab Yesaya tertulis:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”

Sehingga dapat kita ketahui bahwa pencarian harus disertai dengan penyesalan. Semua dapat menyesali, bagi semua orang yang mengenal hukum moral (Roma 1-2) dan demikian juga dosa milik mereka. Pada dasarnya pencarian kebenaran dan bahkan kebaikan saja tidak cukup, karena mungkin saja pencarian itu dimotivasi, didorong oleh rasa harga diri (kehormatan diri sendiri) dan pembenaran diri sendiri (mencari agar melihat diri sendiri sudah benar), agar menjadi baik sesuai dengan ukuran nilai baik oleh dirinya sendiri, bukan dimotivasi oleh kehormatan Allah, kebenaran menurut Allah, dan Nilai baik menurut Allah. Dan untuk menggarisbawahi mengenai penyesalan dosa, ada satu pertanyaan penting: Apakah saya (kita) akan menyerah (menyerahkan semua keinginan, kehormatan, kebenaran, kebaikan) kepada Allah, jika saya (kita) bertemu dengan Allah?

3. Iman, yaitu; mempercayai dan menerima Allah, kasih Allah dan hidup Allah.

Iman merupakan hal yang ketiga yang diperlukan agar diselamatkan, tetapi bagaimana kita dapat mempercayai dan menerima Allah jika kita tidak mengenal Dia? Kita tidak bisa melakukan itu. Tetapi kita semua mengenal dia (Roma 1). Bagaimana kita bisa mengenal dia tanpa Kristus? Kita tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa Kristus lah Sang Terang, Firman, Logos (Yohanes 1:9).

Lalu harus seberapa banyak pengetahuan kita akan Allah agar dapat memiliki iman dan dapat diselamatkan? Jumlah atau besaran tidak menentukan, layaknya seperti fakta statistik. Namun, kita tahu  (Roma 1-2) bahwa kita semua mempunyai pengetahuan yang cukup akan Allah yang untuk membuat kita bertanggung jawab di hadapan Allah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan akan Allah yang bagaimana yang memadai agar dapat memilih untuk mempercayai atau tidak dapat dijawab dengan memperhatikan perbedaan antara pemahaman kata ‘mengetahui’ dan ‘mengenal’. ‘Mengetahui’ berhubungan fakta, yang berkisar pengenalan secara objektif fakta-fakta yang dapat terukur. Sedangkan ‘Mengenali’ lebih bersifat subjektif. Seberapa banyak pun fakta yang kita ketahui (‘mengetahui’) tidak berpengaruh dengan pengenalan kita terhadap seseorang. Semua orang mengenal Allah, walaupun mereka tidak tahu banyak mengenai Allah (lihat Roma 1 dan Kisah Para Rasul 17).

Dengan demikian untuk meringkaskan kesimpulan: Socrates (atau penganut pagan manapun) dapat mencari Allah, dapat menyesali dosanya, dan tersirat bahwa ada kepercayaan dan penerimaan akan kehadiran Allah walaupun hanya sebagian dan agak kabur, dan karena itu dia dapat diselamatkan- atau sebaliknya dia akan binasa apabila dia menolak untuk mencari, menyesali dosa, dan mempercayai. Terdapat terang dan kesempatan yang mencukupi, pengetahuan dan kebebasan kehendak yang mencukupi, yang menjadikan setiap manusia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah. Allah mengadili manusia berdasarkan pengetahuan setiap manusia, bukan berdasarkan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia itu.


Keberatan terhadap “Keselamatan bagi penganut Pagan”

Kelompok konservatif sering keberatan atas penempatan pemahaman “Keselamatan bagi penganut Pagan”, dimana dalam pemahaman tersebut ada kemungkinan bagi penganut Pagan untuk diselamatkan, dan oleh karena pemahaman ini mengurangi motivasi usaha misi, misi pewartaan Injil. Karena pemahaman ini, muncul beberapa pertanyaan keberatan dari pihak konservatif: Kalau demikian mengapa kami harus menghabiskan hidup, mempertaruhkan hidup, untuk mewartaan Yesus Kristus kepada dunia jika mereka (orang yang belum mengenal Yesus) dapat diselamatkan tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Yesus? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Kita perlu menanggapi pertanyaan ini dengan jawaban yang memuaskan dan jelas.

Terdapat tiga alasan yang mungkin mendorong misi pewartaan dilangsungkan; misi mengkabarkan kepada orang lain tentang Injil, kabar baik dari Yesus Kristus. (dan perlu kita ingat bahwa setiap umat kristen diutus untuk menjadi pewartaan (Matius 28:18-20), dan bukan hanya tugas para biarawan, bukan hanya tugas orang yang berlabel “pendeta” atau “pastor”.) Tiga alasan tersebut adalah:

  1. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok fundamentalis: Kami mengetahui bahwa dunia akan jatuh ke neraka, kecuali jika orang-orang menerima Kristus sebagai Penyelamatnya.
  2. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok moderen: “Kami hanya ingin mengasihi sesama (orang lain) dan membagikan apa yang kami punya kepada mereka (orang lain), melaksanakan tugas sosial yang sangat besar.” Kami tidak percaya akan adanya neraka, dan seandainya pun neraka itu ada, kami tidak percaya bahwa semua orang akan jatuh ke sana, dan apabila sekalipun benar ada yang jatuh ke neraka kami perkirakan hanya orang-orang tertentu seperti Hitler atau Stalin. Kami tidak mengurusi Keselamatan.
  3. Alasan yang sudah sering digunakan sejak Gereja Perdana (tradisi): “Kami tidak tahu dengan pasti siapa yang akan jatuh ke neraka; oleh karena itu kami mengkhawatirkan semua orang perlu diselamatkan.” Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya yang bermain di dahan-dahan pohon, meneriaki mereka untuk segera turun dari pohon agar tidak celaka terjatuh. Bagi ibu tersebut yang terpenting bukanlah bagaimana anak-anak itu pandai memanjat atau dahan pohon yang kuat sehingga mereka tidak jatuh celaka; melainkan yang terpenting adalah bahwa biasanya kalau anak-anak itu jatuh, mereka celaka. Kelompok ini (kelompok tradisional/gereja perdana/tradisi) tahu bahwa semua orang dapat jatuh ke dalam neraka, karena Yesus yang mengatakannya. Jadi kelompok ini bukanlah kelompok moderen. Bagi kelompok ini tidak dapat diketahui dengan pasti siapa saja yang mungkin akan jatuh ke neraka, karena Yesus tidak mengatakan kepada kita. Oleh karena itu kelompok gencar menyerukan pewartaan agar semua orang mengenal Yesus agar diselamatkan, berusaha sebisa mungkin mencegah orang jatuh ke dalam neraka, menjauhkan orang dari jurang neraka, memelihara hidup setiap orang di dunia sama giatnya dan intensif seperti kelompok fundamentalis.

Tiga alasan di atas secara tidak langsung juga selaras dengan pandangan terhadap tindakan Aborsi (pengguguran kandungan).  Ada tiga kemungkinan etika di masyarakat dunia terhadap tindakan aborsi, yang selaras dengan tiga alasan yang telah dijelaskan di atas mengenai misi pewartaan keselamatan. Tiga kemungkinan etika yang sudah dikenal luas di masyarakat dunia:

  1. Etika yang mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia, dan oleh karena tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  2. Etika yang mengklaim bahwa tidak benar bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi maka tidak benar juga tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  3. Etika yang tidak mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia.

Dari ketiga etika di atas, yang paling sering diterima oleh kelompok skeptis (yang tidak ingin mengklaim) adalah etika yang ke tiga. Etika ketiga ini banyak diterima oleh kelompok orang mendukung kebebasan pilihan dari setiap orang, dan bagi etika ketiga ini juga menarik bagi kelompok orang yang mendukung mempertahankan-hidup (kandungan). Karena bagi kedua kelompok ini jika kita tidak mengetahui dengan pasti bahwa bayi yang belum lahir adalah bukan digolongkan manusia dan tidak mempunyai jiwa; maka berdasarkan alasan itu tindakan aborsi adalah dinilai sangat buruk dan tidak bertanggung jawab karena mempertaruhkan kemungkinan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan! Tindakan itu sama halnya seperti kita melempar batu bata dari gedung yang tinggi ke arah suatu pemukiman dengan mengharapkan bahwa batu itu tidak mengenai dan melukai orang yang mungkin ada atau tidak ada di bawah gedung.

Ketidakpedulian dan Kekhawatiran dapat mempengaruhi alasan kita atas suatu tindakan yang kita perbuat, sama halnya dengan Pengetahuan dan Kepastian juga dapat mempengaruhi alasan kita. Contohnya; Jika saya mengira bahwa anak saya yang sedang sakit mungkin (karena pengetahuan saya akan kemungkinan akibat penyakit tersebut) akan meninggal, saya akan dengan secepatnya mencari dokter; begitu juga sama cepatnya saya akan mencari dokter  jika saya mengetahui pasti (karena saya menyaksikan anak saya sedang sekarat). Dengan demikian, kelompok orang skeptis liberal yang berpikiran terbuka dan kelompok orang yang sepenuhnya membaktikan diri sebagai fundamentalis sangat bersesuaian.

Masih ada hal lain yang perlu diketahui mengenai motivasi misi pewartaan Injil, hal yang lebih penting dari perhitungan dan kemungkinan-kemungkinan yang telah dibahas di atas. Motivasi kita mewartakan Injil bukan hanya untuk menambah jumlah populasi penghuni Surga, dan mengurangi populasi penghuni Neraka; tetapi juga untuk mengundang orang lain untuk ikut hidup dalam rohani yang lebih mendalam: memahami hubungan khusus dan cinta dari Kristus yang membawa ke pendalaman iman, harapan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian. Tanpa pengetahuan eksplisit (pewartaan) akan Kristus, hal pendalaman kehidupan rohani mungkin tidak akan tercapai. Dan tanpa pewartaan, walaupun masih ada kemungkinan keselamatan bagi orang lain yang tidak mengenal Kristus, tetapi jaminan bahwa keselamatan dapat terdengar oleh orang lain tidak mungkin tercapai tanpa pewartaan.

(sekian)

Doa Tahun Iman (2012 – 2013)

YearFaithLogo

DOA TAHUN IMAN (2012-2013)

Ya Allah Tritunggal Mahakudus,
Bapa, Putera dan Roh Kudus,
kami umat-Mu bersyukur atas karunia iman
yang membawa kami pada keselamatan.

Semoga setiap kali merayakan Ekaristi,
iman kami semakin diteguhkan.
Semoga iman kami mendorong kami
untuk mewujudkan persaudaraan dengan sesama
dan melayani dengan tulus dan rendah hati.

Semoga kami tekun mendalami iman
dan makin meyakini
Tuhan Yesus Kristus sebagai
Jalan, Kebenaran dan Hidup kami

Bunda Maria, bunda kami semua,
doakanlah kami
agar kami makin setia pada Puteramu
dan makin berbakti kepada
masyarakat dan bangsa.

Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

(Imprimatur: Vikjen KAJ, RD. Y. Subagyo)

Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Allah Tritunggal Maha Esa

Sesudah hari raya Pentekosta Gereja Katolik merayakan pesta Tritunggal Mahakudus. Pesta itu merupakan rangkuman seluruh tahun liturgi. Dan memang tepat, sebab dogma atau ajaran mengenai Allah Tritunggal merupakan rangkuman seluruh iman dan ajaran Kristen. Iman akan Allah Tritunggal bukanlah titik pangkal, melainkan kesimpulan dan rangkuman dari seluruh sejarah pewahyuan Allah, serta tanggapan iman manusia,

Cukup menarik bahwa semula Paus Alexander II (1061-1073) menolak mengadakan hari raya khusus bagi Tritunggal Mahakudus. Alasannya, bahwa Gereja sudah setiap hari menghormati Tritunggal Mahakudus, khususnya dalam doa “Kemuliaan”. Kendati demikian pada tahun 1334 diadakan hari raya khusus. Iman akan Allah Tritunggal yang memang terungkap dalam seluruh hidup Gereja, begitu penting, sehingga pantas diberi perhatian khusus. Namun perlu diperhatikan bahwa pada hari raya ini tidak ada peristiwa keselamatan yang dirayakan (seperti pada Natal dan Paskah), melainkan suatu dogma atau ajaran.

Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia. Maka sebaiknya uraian tidak mulai dengan rumus “satu Allah, tiga pribadi”, tetapi dengan Kitab Suci, karena kata (modern) “pribadi” tidak seluruhnya tepat. Bila diartikan menurut paham modern, arti rumus ini tidak jauh dari triteisme atau tiga Allah.

Dalam teks-teks resmi Gereja dipakai kata Yunani (prosopon dan hypostasis) dan Latin (persona). Kata-kata itu tidak mempunyai arti yang tepat sama dengan kata “pribadi”. Bahkan dalam bahasa kuno tidak seluruhnya jelas pembatasan kata itu. Semua kata itu mempunyai arti khusus, sama seperti kata Bapa dan Putra, yang diambil dari bahasa manusia tetapi punya arti yang lain sama sekali kalau dipakai untuk Allah. Titik pangkal bukan kata atau rumus, melainkan fakta sejarah keselamatan, yang kemudian mau dirumuskan sebaik mungkin.


A. Ajaran Kitab Suci

Dalam 2Kor 5:19 Paulus berkata, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” dan dalam Rm 5:5, “Kasih Allah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita”. Allah bertindak, dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Karya Kristus, dan karya Roh Kudus, merupakan karya Allah. Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus, dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana. Dengan singkat seluruh karya Allah ini dirumuskan dalam Ef 1:3-14:

(3)”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga dalam Kristus.
(4)”Sebab dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih;
(5)dengan menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
(6)supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya,
(7)Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa – menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
(8)yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
(9)Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita – sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus,
(10)sebagai persiapan kegenapan waktu – untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.
(11)Di dalam Dialah kami [turunan Yahudi] mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya –
(12)supaya kami ini, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus [karena ajaran Perjanjian Lama], boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya,
(13)Di dalam Dia kamu [turunan Yunani] juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – ketika kamu percaya, kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu.
(14)Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh keseluruhannya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Jelaslah bahwa yang melakukan karya keselamatan adalah Allah, yang di sini disebut “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Karya keselamatan itu secara konkret-historis terlaksana dalam Kristus. Sebelum pengarang berbicara mengenai penebusan yang diperoleh karena salib Kristus (ay, 7), dikatakan lebih dulu bahwa “dari semula”, yaitu “sebelum dunia dijadikan” Allah sudah menetapkan rencana keselamatan itu “dalam Kristus”. Kristus itu jalan keselamatan Allah menurut rencana dari semula. Sebagai inti karya Allah itu disebut pewahyuan rencana Allah dalam Kristus (ay. 9). Tetapi dengan karya Kristus saja, karya Allah belum lengkap. Karya itu diteruskan oleh Roh Kudus yang merupakan “jaminan” kepenuhan penebusan pada akhir zaman.

Jelas sekali bahwa ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori, yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul, melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Oleh karena itu perlu diperhatikan secara lebih rinci, bagaimana Allah berkarya dalam Kristus dan Roh Kudus. Lalu kelihatan juga bagaimana hubungan Kristus, dan Roh Kudus, dengan Allah yang mengutus dan melaksanakan karya keselamatan-Nya.

1. Yesus

Yesus tidak pernah “menerangkan” diri sendiri. Pewartaan Yesus tidak mengenai diri-Nya sendiri, melainkan mengenai Allah, khususnya mengenai Kerajaan Allah. Mengenai Kerajaan Allah Yesus juga tidak memberi banyak keterangan. Pembicaraan Yesus mengenai Kerajaan adalah pewartaan yang bukan sekadar keterangan, melainkan yang menantang dan mengejutkan. Pewartaan itu didukung dan diisi oleh seluruh penampilan Yesus, baik sewaktu hidup-Nya maupun sesudah wafat-Nya, ketika Ia menampakkan diri dalam kemuliaan. Malah sebetulnya Yesus dikenal terutama dari penampakan sesudah kebangkitan. Penampakan itu berarti bahwa para murid mengenal-Nya kembali. Dengan demikian penampakan itu tidak bisa dilepaskan dari seluruh pergaulan Yesus dengan mereka, “mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang dimaklumkan oleh Yohanes” (Kis 10:37). Oleh karena itu perlu diingat kembali semua yang telah diuraikan oleh Gereja mengenai hidup dan karya Yesus.

Dua hal yang hendak digarisbawahi di sini ialah pergaulan Yesus dengan orang berdosa dan pandangan Yesus sendiri terhadap kematian-Nya, sebagaimana terungkapkan terutama pada perjamuan terakhir.

Seluruh penampilan Yesus terutama pergaulan-Nya dengan orang berdosa menimbulkan protes dari pihak orang Yahudi, khususnya kaum Farisi. Dengan demikian Yesus sungguh menyimpang dari adat kebiasaan. Yesus bergaul dengan “orang pinggiran”, yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi; dengan orang miskin, orang kusta, orang kerasukan setan, dengan wanita dan anak kecil, dan juga dengan pemungut bea dan orang berdosa. Ia malah makan bersama mereka (Mrk 2:16-17 dsj.; lih. Mat 11:19 dsj.; Luk.15:1; 19:7).

Dengan demikian Ia memperlihatkan suatu “solidaritas” dengan mereka, yang oleh Paulus akan dikembangkan sebagai pokok karya penebusan. Dengan demikian Ia juga memperlihatkan sikap-Nya terhadap peraturan mengenai tahir dan najis: Yesus tidak merasa diri terikat pada peraturan Yahudi itu. Malahan lebih daripada itu, dengan bergaul bersama orang yang terang-terangan melanggar hukum, Yesus menawarkan rahmat dan pengampunan Allah sebelum orang itu memperlihatkan tanda-tanda pertobatan yang meyakinkan (bdk. Luk 15:11-32; juga 7:41-43). Yesus datang membawa belas-kasihan Allah kepada manusia. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan; karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13 dsj.; 12:7). Bukan hanya Paulus, melainkan Yesus sendiri berkata bahwa di dalam diri-Nya rahmat Allah ditawarkan kepada manusia. Tawaran itu hanya dalam Dia, sehingga “barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33 dsj.; Mrk 8:38 dsj.).

Solidaritas Yesus dengan kaum pendosa mencapai puncaknya dalam wafat-Nya di kayu salib, sebagaimana berulang kali dan dengan amat jelas dikatakan oleh St. Paulus (lih. 1Kor 15:3). Yesus sendiri telah membicarakan arti kematian-Nya dengan cukup jelas. Dari satu pihak Yesus tidak menghindari konfrontasi dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi (lih. Mrk 11:27-33 dsj.); dari pihak lain Ia juga tidak mencari kuasa, tetapi datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45; lih. Luk 22:27). Maka tidak mengherankan bahwa Yesus menyadari sepenuhnya “bahwa seorang nabi harus dibunuh di Yerusalem” (Luk 13:33; bdk. 11:47-51). Pada perjamuan terakhir Ia juga menyatakan nasib-Nya dengan terus terang.

Pada pertemuan terakhir dengan para murid-Nya itu Yesus tetap menunjuk pada pokok pewartaan-Nya, yaitu Kerajaan Allah: “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang” (Luk 22:18; lih. 22:30 dan Mrk 14:25). Sabda-Nya kepada Yudas (Luk 22:21-23) memperlihatkan bahwa Yesus sadar akan situasi yang gawat. Tetapi itu tidak mengubah keyakinan-Nya bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Oleh karena itu Ia juga berani berbicara mengenai “perjanjian baru oleh darah-Ku” (Luk 22:20; 1Kor 11:25; lih. Mrk 14:24 dsj.). Wafat-Nya akan menjadi awal tata keselamatan yang baru. Di muka ancaman maut Yesus tetap berani berbicara mengenai keselamatan dan menawarkannya dalam bentuk roti dan anggur. Darah-Nya “ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:24 dsj.), dan Matius menambahkan: “untuk pengampunan dosa” (26:28). Yesus sadar bahwa Ia bukan hanya pewarta keselamatan seperti nabi-nabi yang lain (lih. Mat 11:41-42 dsj.), melainkan pembawa dan penawar keselamatan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20 dsj.). Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus Allah mendatangi umat-Nya.

2. Roh Kudus

Oleh Roh-Nya Allah hadir di dalam kita. “Kita ketahui, bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, karena Allah telah memberikan dari Roh-Nya sendiri kepada kita” (1Yoh 4:13). Kristus disebut “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24), tetapi Kristus tidak pernah disebut “Roh Allah”, walaupun Paulus mengakui bahwa “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2Kor 3:17; lih. 1Kor 15:45; Rm 8:9.10). Oleh karenanya ia juga tidak terlalu membedakan antara “Roh Allah” dan “Roh Kristus” (Rm 8:9). Bahkan “dalam Kristus” (Rm 8:1) rupa-rupanya sama dengan “dalam Roh” (ay. 9; lih. 9:1; 1Kor 6:11).

Sesuai dengan pikiran Perjanjian Lama (lih. Mzm 51:13; 139:7; Yes 11:2; 61:1; Yeh 36:26-27; 37:5.14) Roh Allah diartikan sebagai kehadiran Allah yang menggerakkan dan membarui manusia. Lebih khusus lagi dapat dikatakan bahwa Roh Allah merupakan lingkup karya Allah, khususnya dalam Kristus. Karya Allah di dalam manusia dilaksanakan “dengan pertolongan Roh Yesus Kristus” (Flp 1:19). Atau dengan kata lain, karya Allah dalam Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. “Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh” (Ef 3:4-5). Bagi Paulus “Kerajaan Allah” adalah “kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Roh Kudus “diam” dalam orang beriman (Rm 8:9.11; 1Kor 3:16; 6:19); oleh karena itu hidup iman tidak lain dari “buah Roh” (Gal 5:22). Beriman sama dengan “hidup dalam Roh” (Rm 8:9; lih. 15:13), “dalam kebenaran Roh” (Rm 7:6), “disucikan dalam Roh Kudus” (Rm 15:16; 1Kor 6:11).

Pandangan ini tidak terbatas pada surat-surat Paulus saja. Dengan lebih jelas Yohanes dan Lukas berbicara mengenai karya Roh. Oleh Yohanes ditekankan secara khusus hubungan Roh Kudus dengan Kristus (lih. Yoh 7:39; 14:26; 16:13; 1Yoh 5:7-8). Roh Kudus adalah “Roh kebenaran” (Yoh 14:17; 15:26; 1Yoh 4:6), yang memampukan orang beriman masuk ke dalam misteri Allah (16:13; 1Yoh 5:6). Serupa dengan sabda Yesus dalam Injil Yohanes (14:16). Akhir Injil Lukas: “Aku akan mengirim kepadamu yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk 24:49), yakni “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis 1:8). Yesus yang dimuliakan mengutus Roh-Nya kepada Gereja (Kis 2:33). Roh Kristus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjalanannya. Secara khusus Lukas menekankan karya Roh dalam Gereja.


B. Ajaran Gereja

Dasar ajaran Gereja adalah ajaran Kitab Suci, khususnya bahwa dalam Kristus dan dalam Roh-Nya Allah hadir. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mau mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan dalam Roh-Nya, Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Allah tidak menganugerahkan “sesuatu” kepada manusia, Ia memberikan diri-Nya sendiri. Hakikat wahyu ialah bahwa “dari kelimpahan cinta kasih-Nya Allah menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka didalamnya”; “dengan wahyu ilahi Allah mau menampakkan dan membuka diri-Nya sendiri serta keputusan kehendak-Nya yang abadi tentang keselamatan manusia, untuk mengikut-sertakan manusia dalam harta-harta ilahi” (DV 2 dan 6).

Pada hakikatnya wahyu ilahi tidak lain dari Allah yang menghubungi manusia. Maka Konsili Vatikan II juga mengajarkan bahwa Kristus “menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita” (DV 4). Yesus adalah “Immanuel, yang berarti Allah beserta kita” (Mat 1:23). Inilah kebenaran pokok. Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan hal yang serupa. Kebenaran pokok ini dirumuskan secara khusus mengenai Kristus dahulu, baru kemudian mengenai Roh Kudus.

1. Kristus

Kesadaran bahwa Allah hadir dalam Kristus, seolah-olah dengan sendirinya menimbulkan suatu konflik dengan iman akan Allah yang esa. Murid-murid Yesus yang pertama semua dididik dalam agama Yahudi dan mengakui bahwa “Tuhan (YHWH) adalah Allah kita, dan hanya Tuhan (YHWH) saja”; “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Ul 6:4; 5:7). Maka kesulitan mereka ialah merumuskan keunikan Kristus dengan tetap mempertahankan monoteisme (kepercayaan akan satu Allah). Pokok persoalan ialah bahwa dari satu pihak mau dipertahankan keilahian wahyu: Allah sungguh mewahyukan diri dalam Kristus. Tetapi dari pihak lain tidak mau disangkal pula perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan Yesus Kristus. Usaha perumusan yang pertama menekankan perbedaan itu dan praktis menyangkal keilahian Kristus.

Di atas sudah dijelaskan yang disebut Arianisme yang merupakan bidaah yang paling besar pengaruhnya. Masih ada ajaran lain, yang serupa. Misalnya, monarkianisme yang mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah “penampakan” dari keallahan yang abstrak dan transenden. Serupa dengan itu adalah modalisme, yang membedakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai “cara” Allah menampakkan diri. Modalisme itu juga disebut sabelianisme. Sebelum Arius banyak orang sudah mengajarkan suatu subordinasianisme, yakni bahwa ada tingkatan dalam Allah: Yang sungguh, dengan sepenuhnya Allah, hanyalah Bapa; Putra dan Roh Kudus ada pada taraf yang lebih rendah (jadi bukan Allah dalam arti penuh).

Konsili Nisea (325) menegaskan keilahian Kristus itu dengan rumus “sehakikat dengan Bapa”. Tidak ada “Allah tingkat dua”. Tetapi dengan menekankan kesamaan, kurang jelas perbedaan dan kekhasan Bapa dan Putra. Maka dalam surat yang setahun sesudah Konsili Konstantinopel I (381) oleh para uskup dikirim ke Roma, dikatakan: “Kami percaya bahwa Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus mempunyai satu keilahian dan kuat-kuasa dan hakikat (ousia), mempunyai keluhuran yang harus diberi kehormatan yang sama, dan sama abadi dalam kekuasaan, dalam tiga pribadi (hypostasis) atau tiga penampakan (prosopon) yang sempurna”. Sejak itu misteri Allah Tritunggal dirumuskan secara singkat: “Satu Allah, tiga pribadi”. Tetapi tetap ada pertanyaan, yaitu apa yang dimaksudkan dengan “pribadi”? Lebih-lebih karena dalam Tritunggal “pribadi” mengungkapkan kekhasan dan keunikan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam diri Kristus paham “pribadi” dipakai sebagai dasar kesatuan untuk kodrat ilahi dan insani.

2. Roh Kudus

Yang diajarkan mengenai Kristus dalam arti tertentu juga berlaku untuk Roh Kudus, sebab dari satu pihak juga karya Roh Kudus adalah karya Allah (lih. Rm 5:5) dan dari pihak lain Roh Kudus tidak sama dengan Kristus (lih. Yoh 16:7-15 dan Mat 28:19). Maka dari itu Roh Kudus terbedakan dari Kristus (dan tentu juga dari Allah Bapa), tetapi Roh Kudus juga harus dikatakan Allah, sama seperti Kristus. Keallahan-Nya sama, kepribadian-Nya lain. Sebab, seandainya Roh Kudus hanya makhluk saja atau “sesuatu” yang bukan ilahi, maka manusia sesungguhnya tidak benar-benar tersentuh oleh Allah melalui Roh Kudus. Rahmat Allah berarti bahwa kita sungguh-sungguh bertemu dengan Allah. Kalau dikatakan, dalam Kitab Suci, bahwa pertemuan itu terjadi oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus sendiri bersifat “tak tercipta” atau ilahi. “Allah telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita” (2Kor 1:22).

Oleh karena itu Konsili Konstantinopel I (381) menambahkan pada syahadat Konsili Nisea (325) kata-kata ini: “[dan akan Roh Kudus], Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan, yang bersabda dengan perantaraan para nabi”. Di kemudian hari, di Barat (dalam bahasa Latin), masih ditambahkan satu kata lagi: “berasal dari Bapa dan Putra”. Tambahan ini menimbulkan banyak kesulitan dan pertikaian antara Gereja Barat dan Gereja Timur (Ortodoks). Soal ini rumit sekali dan tidak dari semula disadari arti dan akibatnya. Para ahli teologi Barat, mulai dengan St. Agustinus (354-430), biasanya mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra (karena hubungan antara Roh Kudus dan Kristus). Tetapi secara resmi hal itu dimasukkan ke dalam syahadat (bahasa Latin) baru oleh Konsili Lyon II (1274). Pada tahun 1981 (perayaan 1600 tahun Konsili Konstantinopel 1) Paus Yohanes Paulus II memberi izin menghilangkan kata-kata “dan Putra” dari syahadat Latin itu. Sebab dalam syahadat Yunani (dari 381 itu) memang tidak ada kata “dan Putra”. Gereja Timur berpegang teguh pada pendapat bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, sama seperti Putra.

Sebetulnya Gereja Barat secara prinsip juga tidak berkeberatan terhadap rumus Timur. Konsili Florence (1442) menyatakan: “Apa pun Bapa dan apa pun milik-Nya, Ia tidak punya dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri, Ia adalah dasar tanpa dasar. Apa pun Putra dan apa pun milik-Nya, Ia punya dari Bapa, Ia adalah dasar dari dasar. Apa pun Roh Kudus dan apa milik-Nya, Ia punya dari Bapa bersama dengan Putra. Tetapi Bapa dan Putra bukanlah dua dasar bagi Roh Kudus, melainkan satu dasar”.


C. Soal Perumusan

Seluruh persoalan mengenai dogma Allah Tritunggal sebenarnya menyangkut perumusan. Bukan soal kata-kata saja, sebab kata-kata dipilih (dengan saksama) untuk mengungkapkan dan merumuskan pandangan dan keyakinan tertentu. Keyakinan iman itu menyangkut Allah dan pewahyuan-Nya. Dan karena itu sebetulnya di luar jangkauan bahasa manusia. Namun, seandainya manusia sama sekali tidak dapat berbicara mengenai wahyu Allah, wahyu itu sesungguhnya tidak mempunyai arti, karena tidak (bisa) dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu manusia tidak hanya boleh, tetapi harus berusaha mencari kata-kata yang kiranya cocok guna mengungkapkan dan merumuskan pandangan iman. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa rumus-rumus itu mencoba merumuskan keyakinan iman, yang lebih luas daripada keterbatasan kata-kata dan bahasa. Maka selalu harus ditanyakan, apa latarbelakang dan apa maksud mereka yang merumuskan iman dengan kata-kata itu? Titik pangkal bukanlah kata atau pembatasan kata, baik dalam bahasa kuno maupun dalam pengertian modern, melainkan keyakinan iman mereka yang menciptakan rumusan iman ini.

1. Pribadi

Masalah rumusan dogma Allah Tritunggal yang pertama menyangkut istilah “pribadi”. Kata itu sekarang mempunyai arti lain dibandingkan dengan arti pada zaman Konsili Konstantinopel dan Kalsedon. Sekarang pun kala itu di Barat (Latin) dan di Timur (Yunani) lain artinya.

Kata Latin persona (seperti kata Yunani prosopon) semula berarti “topeng” (yang dipakai dalam sandiwara dan tarian) dan dengan demikian mengungkapkan sesuatu yang “khusus”, yang “unik”, keistimewaan peran yang mau dimainkan. Di Timur (Yunani) kata itu juga mempunyai arti “wajah”, “penampakan”. Di Barat (Latin) kata persona lebih mendapat arti hukum: subjek yang mempunyai hak dan kewajiban. Kadang-kadang di Timur kata prosopon dapat berarti “subjek”, dengan arti “individu”. Dan berkembanglah arti “penampilan”. Tetapi di Timur tekanan tetap ada pada arti “keunikan”, “kekhususan”. Dengan arti itu kata prosopon juga dipakai untuk membedakan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tetapi kata yang lebih biasa untuk Tritunggal adalah kata hypostasis, yang dengan lebih jelas mengungkapkan keunikan masing-masing; bukan hanya sebagai penampilan, melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama – yaitu “hakikat ilahi” (Yunani: ousia; Latin: substantia, essentia). Kekhasan itu adalah perbedaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, sehingga sebetulnya hanya mau dikemukakan perbedaan atau kekhususan dalam hubungan antara ketiganya. Tetapi Kata hypostasis sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, maka di Barat tetap dipakai kata persona (Yunani: prosopon). Agustinus amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai; maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata Yunani hypostasis dan Latin persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.

Kendatipun ada cukup banyak perbedaan dalam istilah yang dipakai di Timur dan di Barat, akhirnya orang terbiasa berbicara mengenai “satu Allah, tiga pribadi”, tanpa cukup memperhatikan ciri khas dan latar belakang istilah itu. Namun, bila kata “pribadi” dimengerti secara modern, sebagai subjek dan pusat kegiatan dan kehidupan, maka dengan demikian dinyatakan bahwa dalam Allah ada tiga pusat semacam itu. Itu tidak tepat, karena kalau demikian sebetulnya berarti bahwa ada tiga Allah. Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. “Subjek” kegiatan adalah keallahan. Kendati demikian, walaupun juga dalam filsafat modern pribadi tidak diartikan sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan yang mendapat kekhasannya dalam hubungan dengan pribadi lain, tidak dapat disangkal bahwa istilah “pribadi” mudah menimbulkan salah paham.

Kalaupun diakui bahwa komunikasi sosial antarmanusia mempunyai dasar dan titik pangkalnya dalam komunikasi Allah sendiri, tidak dapat disangkal pula bahwa hubungan dan komunikasi dalam Allah lain daripada antarmanusia. Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah tidak statis, tertutup. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri. Tetapi karena Allah tetap Allah, maka pewahyuan itu tetap sulit dirumuskan dengan kata-kata manusia.

2. Kristus dan Roh

Masalah kedua dalam perumusan dogma Allah Tritunggal menyangkut hubungan antara Kristus dan Roh Kudus. Masalah itu terungkap antara lain dalam perselisihan sekitar rumus “dan Putra”, tetapi sebetulnya soal itu lebih luas daripada sekadar rumus itu saja. Dalam Injil Yohanes (7:39) dikatakan: “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”. Itu berarti, kedatangan Roh Kudus menyusul sesudah kebangkitan Kristus. Tetapi Yesus sendiri “dikandung dari Roh Kudus” (syahadat, sesuai dengan Mat 1:18; Luk 1:35). Pada pembaptisan juga dikatakan bahwa “Roh turun atas-Nya dalam rupa burung merpati” (Mrk 1:10 dsj.).

Jadi lama sebelum Yesus dibangkitkan sudah ada Roh Kudus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus sudah disebut. Menurut Injil sinoptik Roh Kudus tidak tergantung pada Yesus, tetapi justru sebaliknya: “Penuh Roh Kudus Yesus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (Luk 4:1; lih. ay. 14). Surat Ibrani malah menggambarkan wafat Yesus sebagai “mempersembahkan diri kepada Allah oleh Roh yang kekal” (Ibr 9:14). Mengenai kebangkitan-Nya Paulus berkata: “menurut Roh kekudusan dinyatakan Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati” (Rm 1:4). Dan kalau dikatakan bahwa “semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), maka jelaslah bahwa Roh menghubungkan kita dengan Allah serupa dengan karya-Nya yang menghubungkan kemanusiaan Kristus dengan Allah. Yesus dan semua manusia lain dipersatukan dengan Allah oleh Roh Kudus. Bagaimana lalu dapat dipertahankan bahwa Roh Kudus tergantung pada Kristus dan kedatangan-Nya baru mungkin, bila Yesus sudah dimuliakan?

Di sini kiranya perlu diperhatikan secara khusus Injil Yohanes. Pada perjamuan terakhir sampai tiga kali Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, tetapi setiap kali janji itu dirumuskan secara lain:

  1. “Roh Kudus akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (14:26; lihat juga ay. 16);
  2. “Penghibur akan Ku utus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa” (15:26);
  3. “Aku akan mengutus Penghibur kepadamu” (16:7).

Dua kali dengan jelas dikatakan bahwa Yesus sendiri mengutus Roh Kudus, dan selanjutnya masih ditegaskan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (16:7). Namun dikatakan pula bahwa Yesus akan mengutus Roh Kudus “dari Bapa”, dengan keterangan “yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa”.

Yesus tidak mengutus Roh dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa. Oleh karena itu pada akhir dikatakan: “Ia (Roh Kudus) akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala yang dimiliki Bapa adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (16:14-15). Kristus mengutus Roh, yang diterima-Nya dari Bapa. Maka juga dapat dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh, tetapi tidak lepas dari Kristus juga. Bapa itu Bapa, karena ada Putra. Maka, kalau dikatakan bahwa Bapa yang mengutus Roh Kudus, itu tidak lepas dari Kristus; Ia mengutus Roh sebagai Bapa dari Putra. Bapa tidak pernah lepas dari Putra, dan Putra “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Putra” (Yoh 5:19).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, namun tidak sebagai dua sumber tersendiri, melainkan sebagai kesatuan dari Bapa dan Putra. Tetapi betul juga, bila dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh melalui atau oleh Putra, dan Yesus baru dapat ikut mengutus Roh Kudus, bila dengan sepenuhnya, juga dalam kemanusiaan-Nya, Ia dipersatukan dengan Bapa dalam kebangkitan, menjadi “Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4).


D. Arti Dogma Allah Tritunggal

Kalau dogma Allah Tritunggal begitu sulit dirumuskan dan lebih sulit dimengerti, mengapa Gereja berpegang teguh pada dogma dan ajaran itu? Gereja berpegang teguh pada dogma ini karena ini merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi dogma ini bukan teori, melainkan praktik kehidupan. Isinya tidak pertama-tama mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Kalau hanya “dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr 1:1), belum Allah sendiri. Maka akhirnya “dengan perantaraan Anak-Nya, yang ditetapkan-Nya sebagai pewaris segala-galanya, karena oleh Dia dibuat-Nya alam semesta” (ay. 2).

Keyakinan dasar ialah bahwa makhluk mana pun tidak dapat menjadi perantara. Harus ada hubungan langsung. Kalau tidak, manusia tidak sungguh “kena”. Oleh karena itu karya keselamatan Allah juga tidak selesai dengan perutusan Putra saja. Manusia baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh “yang menghidupkan”: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lihat juga 6:19). Karena Allah memberikan diri, maka karya keselamatan Allah adalah sekaligus pewahyuan hidup Allah sendiri. Atas dasar yang dibuat Allah terhadap manusia dapat dimengerti (sedikit) bagaimana hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, tetapi yang pokok bukan itu. Wahyu bukan pertama-tama pembagian ilmu, melainkan pemberian hidup. Manusia dianugerahi mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri, yakni dalam cinta Bapa dan Putra dalam Roh Kudus.

Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa liturgi dan doa Gereja itu lebih daripada rumus-rumus ajaran. Gereja selalu berdoa kepada Bapa, dengan perantaraan Putra, oleh Roh Kudus. “Dengan perantaraan Putra” berarti bersama dengan Putra, dan dengan mengikuti teladan-Nya, Sebagaimana Kristus seluruhnya terarah kepada Bapa, begitu juga mereka yang percaya kepada-Nya. Tetapi itu hanya mungkin “oleh Roh Kudus”, sebab “Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan” (Rm 8:26), maksudnya dengan kata-kata ilahi yang tak mungkin dimengerti, jangan lagi diucapkan, oleh manusia. Tetapi “Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (ay. 27), artinya untuk orang-orang beriman.


E. Tritunggal dan Agama-agama Lain

Trimurti dalam agama Hindu, yaitu penjelmaan Brahman dalam tiga dewa, Brahma, Siva dan Vishnu, kadang-kadang dibandingkan dengan Tritunggal. Kiranya itu tidak tepat, pertama-tama karena Trimurti bukanlah suatu rumusan dogmatis dari sejarah keselamatan. Terutama Trimurti sesungguhnya bukan Brahman (bukan Allah), tetapi penampakannya saja. Maka di sini ada sesuatu yang bisa dibandingkan, bukan dengan Tritunggal, melainkan dengan aneka bentuk modalisme. Selain itu hubungan antara ketiga dewa itu tidak berkaitan dengan karya atau sejarah keselamatan, melainkan masing-masing merupakan penampakan Brahman sendiri, tanpa hubungan jelas satu dengan yang lain. Khususnya antara Siva dan Vishnu tidak ada hubungan langsung. Sesungguhnya harus dikatakan bahwa keserupaan antara Trimurti dan Tritunggal tidak lebih daripada rumus “tri” yang terdapat dalam kedua kata itu. Kecuali itu harus diingat bahwa ajaran agama Hindu mengenai Trimurti berbeda-beda.

Agama Islam menolak mentah-mentah segala pikiran mengenai Allah Tritunggal. Ditolak bahwa Allah mempunyai Anak, dan lebih lagi bahwa ada lebih dari satu pribadi dalam Allah. Penolakan ini terdapat dalam Al-Qur’an sendiri, dan berkaitan dengan pokok iman agama Islam akan Tawhid, Allah wahid wa-ahad (Allah itu esa dan tunggal), yang berarti pula bahwa Allah terpisah total dari segala makhluk. Sejak zaman nabi Muhammad sampai hari ini, ajaran mengenai Tritunggal tetap merupakan titik perselisihan yang pokok antara kaum muslimin dan orang Kristen. Walaupun semula orang Islam hanya mengenal Tritunggal melalui rumusan populer, lama kelamaan mereka mulai memperhatikan latar belakang rumusan Konsili-konsili. Kendati demikian, diskusi sering kali tetap berpusat pada rumus saja, tanpa masuk ke dalam pokok persoalan. Padahal, sejauh ajaran mengenai Tritunggal mau merumuskan hubungan Allah dengan manusia, secara langsung menyangkut soal wahyu, dan mempunyai arti bagi kaum muslimin juga. Kiranya pokok persoalan terletak dalam “pengantara” antara Allah dan manusia. Agama Islam melihat Al-Qur’an sebagai pengantara itu, sedangkan bagi orang Kristen “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5).

Sifat-Sifat Allah

Perkembangan pengetahuan mengenai Allah itu tidak bertujuan menambah pengetahuan saja. Mzm 27 menyatakan, “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan; jangan menyembunyikan wajah-Mu kepadaku” (ay. 8-9). Yang dicari bukan pengetahuan yang lebih luas, melainkan pengenalan yang lebih mendalam. Dalam pertemuan dengan Allah, yang pertama-tama mengesan ialah bahwa Tuhan jauh di atas segala yang lain. Kalaupun Allah bisa disebut baik, adil, bijaksana, mulia, dan apa saja, selalu harus dikatakan bahwa sifat-sifat-Nya itu tak mengenal batas. Maka dikatakan bahwa Tuhan itu mahabaik, mahaadil, dan seterusnya. Allah itu mahasempurna dalam segala hal. Artinya, Tuhan mempunyai semua sifat yang baik tanpa batas, yang tidak bisa dibayangkan.

Kata “maha” itu sebetulnya mengungkapkan perbedaan Allah dengan makhluk-Nya, Allah bukanlah seperti makhluk. Tetapi dengan mengatakan bahwa Allah itu baik, dan adil, dan bijaksana, dan seterusnya, maka dinyatakan bahwa segala kebaikan dan keadilan dan kebijaksanaan yang ada di dunia bersumber pada Allah. Kata maha mengungkapkan perbedaannya, tetapi dengan kata sifat di belakangnya dinyatakan kesatuan Allah dengan makhluk-Nya. Hal itu paling kentara pada kata “hidup”. Allah hidup dan manusia hidup. Tetapi hidup manusia terbatas, hidup Allah tak terbatas, kekal atau abadi. Lagi pula, hidup Allah tidak dapat dibayangkan. Allah.dan manusia sama-sama hidup, tetapi mempunyai hidup yang sama sekali saling berlainan.

Namun dengan segala sifat yang berbeda itu Allah tidak menjadi kabur atau tak jelas, sebab Allah yang berbeda itu menyapa manusia secara pribadi. Maka dari satu pihak Allah itu jauh, tak terjangkau; tetapi dari pihak yang lain Ia mempunyai hubungan langsung, sebagai pribadi dengan pribadi. Seperti yang dikatakan Yesus pada perjamuan terakhir, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (Yoh 17 :6). Allah mempunyai nama dan nama itu adalah Bapa. Sebab “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8.16). Kasih itu bukan sifat Allah. Kasih itu jatidiri-Nya, Maka Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam Anak-Nya Yesus Kristus.

Sebelumnya tidak demikian: “Oleh Musa diberikan hukum Taurat, tetapi kasih-karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Gambaran dan pengetahuan Perjanjian Lama lain, maka nama Allah juga lain: Yahweh, nama yang tidak boleh diucapkan oleh manusia. Perjanjian Lama masih menekankan perbedaan dan jarak. Yesus mengajarkan orang supaya menyapa Allah dengan “Bapa kami yang ada di surga”. Siapa pun nama-Nya, Allah diakui dan dihormati sebagai pribadi, bukan hanya sebagai suatu daya-kekuatan. Maka juga dikatakan bahwa Tuhan itu di satu pihak marah, menyesal, dan kecewa, namun di pihak lain melihat yang baik, berkenan kepada manusia, mencintai dunia. Sering kali dipakai kata yang sangat manusiawi, seperti “cemburu”, “benci’ atau “kesal”. Yang mau dinyatakan dengan kata-kata itu bukanlah bahwa Allah sama atau serupa dengan manusia, melainkan bahwa manusia mengimani Allah sebagai pribadi, yang mempunyai “hati” bagi manusia, yang merupakan sumber dan arah hidup manusia, dan bahwa berpaling dari-Nya berarti kehancuran dan kematian.

Transenden dan Imanen

Dua kata secara khusus harus diperhatikan, karena kedua kata itu mencoba mengungkapkan sifat-sifat khas Allah, yakni kata transenden dan imanen. Kata “transenden” sebetulnya berarti melampaui, unggul dan mau mengungkapkan bahwa Tuhan mengatasi segala-sesuatu (seperti juga dikatakan dengan sebutan maha-). Maka dengan kata “transenden” lebih ditekankan perbedaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18).

Sifat “transenden” itu perlu dilengkapi dengan sifat “imanen”, sebab seandainya Allah hanya transenden saja, seolah-olah Ia tidak berhubungan lagi dengan dunia. Padahal, dalam refleksi atas pengalaman hidup, Allah justru dikenal sebagai Yang-Memberi-Hidup. Memisahkan Allah secara total dari dunia, biarpun karena hormat kepada Allah, menutup segala kemungkinan berhubungan dengan Allah, bahkan mengenal Allah secara pribadi. Oleh sebab itu sifat transenden harus dilengkapi dari diimbangi dengan sifat imanen. Secara harfiah kata “imanen” berarti “yang tinggal di dalam”. Jadi mau menyatakan bahwa Allah tidak hanya mengatasi makhluk-makhluk-Nya, tetapi juga “tinggal di dalam” mereka. Bagaimana caranya? Lagi, manusia tidak dapat membayangkannya, sebagaimana sebetulnya juga tidak dapat digambarkan transendensi Allah.

Allah memang berbeda dengan dunia, tetapi tidak terpisah dari-Nya. Karena sifat-sifat Allah tidak mengenal batas, maka kehadiran-Nya tak terbatas. Allah hadir di mana-mana. Tuhan ada di surga, di bumi, dan di segala tempat. Dalam arti ini kita menerima panenteisme. Allah hadir dan berada dalam segala-galanya, tetapi bukan segala-galanya adalah Allah (panteisme). Allah tidak hadir seperti manusia atau makhluk lain. Tuhan hadir di mana-mana secara ilahi. Itu disebut “imanensi”. Maka “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Karena Allah hadir pada kita, maka kita hadir pada Allah. Karena Allah ada dalam diri kita, maka kita berada dalam Allah.

Yang Maha Esa

Sifat Allah yang disebut dalam Pancasila ialah “maha esa”. Apa artinya? “Esa” berarti satu, tunggal: Lalu apa arti “maha-satu” dan “maha-tunggal”? Mungkinkah lebih satu daripada satu, atau lebih tunggal daripada tunggal? Menurut GBHN 1978 kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa bukan merupakan agama. Oleh karena itu kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa juga tidak harus dimengerti menurut keterangan suatu agama tertentu. Dalam pidato kenegaraan tahun itu juga dijelaskan, bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa adalah “kenyataan budaya yang hidup dan dihayati oleh sebagian bangsa kita; warisan dan kekayaan rohaniah rakyat kita”. Maka sila pertama tidak berbicara mengenai ketuhanan yang mahaesa menurut perumusan atau pengertian agama, melainkan sebagai pengalaman manusia yang umum. Manusia mengalami Allah sebagai sumber hidup yang paling dasariah. Di dalam Allah ditemukan seluruh kekayaan hidup. Di luar Allah tidak ada hidup. Allah adalah satu-satunya yang menyelenggarakan seluruh kehidupan.

Iman Kristen mengakui “Allah itu esa”, tetapi “esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4). “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, melainkan juga “dalam Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah, oleh iman kepada-Nya” (Ef 3:12). Iman akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3). Maka bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa “Tuhan itu esa” (Mrk 12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus sebagai Dia “yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36). Orang yang percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja, melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh karena anugerah Roh Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.

Pengakuan akan Allah Tritunggal sudah ada sejak Gereja perdana. Dan secara khusus Gereja berpegang pada perintah Tuhan untuk membaptis orang “atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Tetapi sekaligus Gereja juga berpegang pada ajaran Yesus, yang menyapa Allah sebagai “Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25). Maka St. Ignatius dari Antiokhia († thn 100) mengajarkan: “Ada satu Allah, yang mewahyukan diri oleh Yesus Kristus Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya” (ad Magn. 8,2). Seorang pengarang lain, juga dari awal abad ke-2, berkata: “Pertama-tama kita percaya bahwa ada satu Allah, yang telah menciptakan dan mengatur segala sesuatu, dan yang membuat yang tidak ada menjadi ada, yang mencakup segala-galanya, namun hanya Dia yang tidak dicakup oleh apa-apa” (Pastor Hermas, Mand, I, 26). Pada dasarnya hal itu sama dengan ajaran Kitab Suci: “Penguasa satu-satunya, yang penuh bahagia, Raja segala raja dan Tuan segala tuan; satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, yang tak pernah dilihat seorang manusia dan yang juga tidak dapat dilihat” (1Tim 6:15-16). Ajaran mengenai Allah yang satu, mahakuasa dan mahamulia, tidak pernah terasa bersaing dengan iman akan Allah Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus.