Apa itu Keselamatan

Keselamatan adalah (1) suatu kenyataan yang  menjadi latar belakang banyak frasa di Kitab Suci yang berbeda-beda dan terkadang membingungkan, (2) salah satu dari dua kemungkinan dari suatu akhir, (3) Kebahagiaan kekal, dan (4) dapat berarti secara bersamaan “pembenaran” dan “pengudusan”.

Perbedaan Gambaran dan Istilah dalam Kitab Suci mengenai Keselamatan

Seperti yang telah ditulis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa banyak gambaran dan frasa (ungkapan) mengenai Keselamatan, ada beberapa dalam Injil, dan ada juga yang tidak tertulis langsung ‘keselamatan’ (Yesus sering menggunakan penggambaran untuk mengajarkan tentang keselamatan, yang sering Yesus sebut sebagai ‘Kerajaan Surga’, dalam perumpamaan-Nya). Istilah-istilah (terminologi) yang digunakan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Di kalangan Teolog Protestan terkenal menggunakan istilah ‘lahir kembali’ (regeneration), sedangkan di kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah ‘rahmat pengudusan’ (sanctifying grace), yang keduanya merupakan hal yang sama. Dan selain itu masih ada lagi istilah-istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ‘Keselamatan’. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, sama halnya seperti memperdebatkan istilah apa yang gunakan  antara ‘jaket pelampung’ dan ‘alat pengapung’ ketika ada orang membutuhkan pertolongan karena di tengah laut.

 Dua Jalan

Satu hal yang melatarbelakangi semua istilah dan gambaran yang berbeda-beda itu adalah bahwa ada dua penghujung yang menanti pada akhir jalan hidup manusia. Kitab Mazmur 1 meringkaskan; Ada satu jalan menuju Allah dan berakhir pada kebahagiaan, dan selain itu ada jalan lain yang arahnya menjauhkan manusia dari Allah dan berakhir pada kebinasaan. Dalam dunia fisik, semua jalan tidak dapat menuju kepada satu tempat. Kita tidak dapat jalan dari Jakarta ke Jayapura dengan bergerak dari arah timur ke barat, hanya dari arah barat ke timur yang benar. Kita dapat menyimpulkan bahwa semua A adalah C dari pendasaran alasan bahwa semua A adalah B dan semua B adalah C; kita tidak dapat mendapat kesimpulan lain berdasarkan alasan tersebut. Atau dengan kata lain, kita tidak dapat mencapai tujuan keadilan dan kebenaran dengan melalui cara yang salah seperti mencuri, dan kita juga tidak dapat mencapai tujuan ketidak jujuran apabila kesetiaan dan ketaatan dari kesadaran kita.

Dunia jasmani, dunia intelektual, dan dunia moral semuanya mempunyai sasaran pencapaian yang tersusun sesuai dengan dunianya masing-masing, dengan batasan yang jelas. Sasaran tujuan pencapaian tiap dunia itu bukanlah dirancang tau dibuat oleh kita, tapi untuk dicari dan ditemukan oleh kita. Jika hidup kita sesuai dengan jalan yang benar, maka kita akan berhasil; jika tidak, kita akan gagal. Begitu juga halnya dalam keagamaan. Jika memang ada Allah yang sebenarnya (dan jika ada agama yang mengatakan bahwa tidak ada Allah yang sebenarnya, agama itu adalah suatu kebohongan dan kepalsuan), maka pastinya ada jalan yang mengarahkan kepada Allah yang sebenarnya dan ada juga jalan lain yang menjauhkan kepada Allah. Jadi gambaran yang sangat populer yang menyatakan bahwa semua jalan pada akhirnya akan bertemu pada puncak gunung adalah tidak benar. Bukan hanya ketidakbenaran yang sederhana, tapi kesalahan yang dapat menyebabkan malapetaka. Kebohongan itu mengorbankan jiwa. Ada beberapa jalan yang mengarah  ke bawah, bukannya ke atas.

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang yang telah mempelajari secara luas dan dalam mengenai tingkah laku manusia, mulai dari Aristoteles hingga Freud, memberikan catatan tersendiri bahwa kita bertindak untuk tujuan akhir yang ingin dicapai; dan juga itulah satu-satunya akhir dan tujuan yang selalu memotivasi semua orang. Jadi alasan kenapa Keselamatan itu penting karena Keselamatan sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan yang dibahas disini bukan dalam arti dangkal, subjektifitas, dan realitifitas pada pengertian moderen, yang terkesan kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang dimaksud Kebahagiaan tersebut adalah dalam arti jaman dahulu akan pengertian “Terberkati”: nyata, keberhasilan pada akhir perjalanan, kesempurnaan manusia, kesuksesan yang sebenarnya, kesehatan jiwa. Terberkati adalah kepuasaan yang sebenarnya dari keinginan yang benar, bukan hanya sekedar kepuasaan atas perpenuhinya suatu keinginan sesuai  dengan yang kita harapkan, atau Terberkati juga bukan perasaan kepuasan subjektif. Dalam pengertian jaman dahulu, pemahaman mendalam mengenai kebahagiaan, Keselamatan sama dengan Kebahagiaan Kekal.

Iman dan Perbuatan

Munculnya perdebatan dan adanya perbedaan pemahaman mengenai Keselamatan dimulai oleh Reformasi Protestan dan memisahkan diri dari Gereja. Perdebatan mengenai hal Keselamatan oleh Protestan dan Katolik pada saat itu terlihat bahwa adanya perbedaan pengajaran injil, dua agama, dua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Apa yang saya lakukan agar dapat selamat? Jawaban untuk pertanyaan itu dari pihak Katolik, bahwa untuk selamat anda perlu melakukan dua hal secara bersamaan yaitu percaya (iman) dan melakukan pekerjaan yang baik (perbuatan). Sedangkan oleh Luther, Calvin, Wycliffe, dan Knox (pihak Protestan) berkeras bahwa hanya percaya (iman) yang menyelamatkan. Perdebatan ini telah berlangsung dari 450 tahun yang silam. Tetapi ada ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa secara prinsip (esensinya) perbedaan ini dikarenakan kesalahpahaman dan dari bukti-bukti tersebut telah dimulai usaha untuk mencari penjelasannya.

Kedua pihak baik dari pihak Katolik maupun Protestan, menggunakan istilah-istilah penting yaitu Iman dan Keselamatan, tetapi dalam pemahaman yang berbeda.

  1. Katolik menggunakan istilah Keselamatan untuk merujuk kepada keseluruhan proses, mulai dari awal munculnya kepercayaan manusia kepada Allah, kemudian melalui hidup Kristiani karya cinta di bumi, hingga akhirnya di Surga. Bagi Luther, Keselamatan yang dia maksud adalah langkah inisiasi (langkah awal) – seperti di kisah Nabi Nuh; memasuki bahtera Nuh agar selamat – bukan merujuk ke keseluruhan perjalanan.
  2. ‘oleh Iman’ yang dimaksud oleh Katolik adalah salah satu dari tiga yang diperlukan “Keutamaan Teologi” (iman, kasih, dan pengharapan), iman merupakan keyakinan intelektual. Bagi Luther, iman berarti menerima Yesus dengan sepenuh hati dan jiwa.

Dengan demikian sejak Katolik menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih besar dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih kecil, di lain pihak Luther menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih kecil dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih besar; oleh karena itu pemahaman yang mengatakan “kita diselamatkan hanya oleh iman” sudah sepatutnya tidak menerima oleh kalangan Katolik, sedangkan diterima oleh Luther.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Keselamatan bukan hanya mencakup iman, sama halnya seperti sebuah tumbuhan yang bukan hanya terdiri dari akar. Seumpamanya tumbuhan hidup terdiri dari akar, batang, dan buah; Keselamatan terdiri dari iman, harapan, dan kasih. Sedangkan Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak dapat membeli (mendapatkan upah) Keselamatan, semua yang perlu diperlukan dan semua yang dapat dilakukan agar selamat adalah menerima Keselamatan itu, menerima Sang Penyelamat, dengan beriman.

Kedua pihak mengatakan kebenaran. Dan karena kebenaran tidak dapat berlawanan dengan kebenaran, dua sisi itu sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan pada pertanyaan mengenai Keselamatan. Penaksiran mungkin terdengar terlampau optimistik, tetapi apa yang dikemukakan secara esensi oleh teolog-teolog Katolik dan Lutheran pada Pernyataan Bersama secara terbuka mengenai Dasar Kebenaran ketika Paus Paulus Yohanes II mengatakan hal yang serupa kepada Uskup Lutheran Jerman; kedua pihak  tercengang dan gembira.

Sama halnya kesepahaman antara Katolik dan Protestan walaupun terlihat adanya ketidakcocokan merupakan bukan hal aneh. Karena keduanya menerima data masukan yang sama, yaitu Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan dua   pokok hal mengenai Keselamatan: Protestan menitik beratkan pada Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, yang bukan didapat dari perbuatan baik dengan taat terhadap hukum, dan Katolik memahami bahwa iman merupakan awal/pencetus/pendorong perbuatan baik dari kehidupan kristiani, yang mengarahkan perbuatan tersebut menjadi benar (karena dengan Allah perbuatan manusia dibenarkan/dibetulkan/diarahkan menjadi benar), jika perbuatan itu nyata maka akan mengarahkan “pengudusan” orang tersebut (menjadi bersih, kudus, dan baik), itulah “Iman tanpa Perbuatan adalah mati

Sehubungan dengan point terakhir, Pengkotbah Presbyterian Skotlandia George MacDonald pernah menulis bahwa pemahaman keselamatan oleh Yesus merupakan keselamatan dari hukuman atas dosa kita adalah pemahaman yang jahat, pemahaman yang egois, dan pemikiran yang dangkal. Yesus disebut Penyelamat karena dia mau menyelamatkan kita dari dosa kita.

Ajaran resmi dari pemahaman Katolik (untuk membedakan dengan pemahaman yang salah) menyatakan bahwa Keselamatan adalah suatu pemberian cuma-cuma (tanpa syarat) yang kita peroleh tanpa harus melakukan sesuatu.

Dekrit tentang pembenaran yang disahkan oleh Konsili Trente pada tanggal 13 Januari 1547, dimaksudkan sebagai penolakan posisi para reformator sekaligus penjelasan tentang pembenaran dan peranan iman di dalam pembenaran. Mengenai pembenaran, Trente menegaskan (sama seperti pendapat para reformator; Luther) bahwa pembenaran sungguh-sungguh merupakan karya Allah demi keselamatan manusia, tetapi Konsili tidak menerima kesimpulan bahwa manusia sama sekali pasif dan tidak turut serta dalam proses pembenaran. Manusia juga terlibat secara aktif sebab ia menerima hadiah dari Allah itu secara bebas. Dengan kata lain, ia juga bisa menolaknya (bdk. Dekrit Konsili Trente no. 1929). “Siapa yang percaya dan dibaptis diselamatkan dan siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16).

Dan mengenai iman, Konsili sepaham dengan kaum Skolastik (Thomas Aquinas) yang mengerti iman sebagai persetujuan intelek kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Iman itu perlu demi pembenaran, tetapi iman itu saja tidak cukup. Pembenaran tidak menjadi sola fide, melainkan iman harus dilengkapi dengan harapan dan cinta.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa “keselamatan adalah pemberian cuma-cuma” untuk diterima dengan iman dan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang dimaksud adalah “kasih”, dan kasih berarti “tindakan karena cinta”, bagi orang Kristen kasih (agape) bukanlah suatu perasaan, seperti berupa kata cinta (eros, storage, philia); karena jika kasih itu yang dimaksud hanya berupa perasaan maka kasih itu tidak dapat diperintahkan (oleh Yesus: kasihilah sesamamu).

Ajaran Gereja mengenai Ekaristi

Konsili Vatikan II tidak memberikan banyak penjelasan atau ajaran mengenai Ekaristi. Ajaran resmi Gereja mengenai Ekaristi berasal dari Konsili Trente (1545-1563), yang tidak lengkap, karena Konsili Trente menanggapi ajaran Reformasi (Protestan) yang dianggap kurang sesuai. Konsili Trente hanya berbicara mengenai dua hal saja, yakni kehadiran Kristus dalam Ekaristi, khususnya dalam rupa roti dan anggur, dan mengenai Ekaristi sebagai kurban.

Ajaran Trente mengenai kehadiran Kristus dalam Ekaristi berbunyi: “Dalam sakramen Ekaristi yang mahakudus ada secara sungguh, riil dan substansial, tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus, bersama dengan jiwa dan keallahan-Nya, jadi seluruh Kristus”. Tidak “tinggal substansi roti-dan-anggur bersama dengan tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus”, sebab tubuh dan darah Kristus hadir karena “perubahan seluruh substansi roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah, sedang yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, ialah perubahan yang oleh Gereja Katolik dengan tepat disebut trans-substansiatio” (DS 1651-2).

Ajarannya mengenai kurban: “Dalam Misa dipersembahkan kepada Allah kurban sungguh-sungguh dalam arti yang sebenarnya”. Maka kurban itu bukan “hanya kurban pujian dan syukur, atau semata-mata pengenangan saja akan kurban salib”, tetapi “kurban pelunas sendiri” (DS 1751; 1753).

Konsili Vatikan II sedikit banyak melengkapi keterbatasan rumusan Trente ini:

Dalam perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban ekaristis tubuh dan darah-Nya, untuk melangsungkan kurban salib selama peredaran abad sampai Ia datang kembali. Dengan demikian Ia mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang tercinta, pengenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya; sakramen kasih sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta-kasih, perjamuan Paska, di mana Kristus disantap, jiwa dipenuhi rahmat, dan diberikan jaminan kemuliaan kelak (SC 47).

Ajaran ini, khususnya mengenai kurban, diulangi lagi dalam LG 28 (lih. juga LG 3; SC 2). Tetapi untuk menghindari salah paham mengenai hubungan antara kurban salib dan kurban Ekaristi diberikan penjelasan ini: “Kurban Misa menghadirkan serta menerapkan satu-satunya kurban Perjanjian Baru, yakni kurban Kristus, yang mempersembahkan diri satu kali sebagai kurban tak bernoda kepada Bapa (lih. Ibr 9:11-28)”. Memang dinyatakan bahwa ada kurban, tetapi kurban itu satu dan sama dengan kurban salib.

Tindakan pengenangan menjelaskan hal itu. “Setiap kali perjamuan Tuhan disantap, wafat Tuhan diwartakan” (SC 6; lih. PO 4). Itulah disebut “merayakan misteri Paska” (lih. CD 15). Pewartaan sakramental itu tidak hanya memaklumkan misteri Paska, tetapi juga menghayatinya. Inilah kekhususan Ekaristi sebagai sakramen, “Melalui sabda yang diwartakan dan perayaan sakramen, yang pusat dan puncaknya adalah Ekaristi mahakudus, Gereja membuat Kristus, sumber keselamatan, menjadi hadir” (AG 9). Sabda yang diwartakan adalah ungkapan iman dalam rangka komunikasi iman. Sabda mempersatukan orang dengan Kristus dan membuat Kristus, lebih khusus kurban Kristus, menjadi nyata kembali.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II juga mempunyai pengertian yang lebih luas mengenai kehadiran Kristus. Hal itu dengan jelas dirumuskan dalam Konstitusi mengenai Liturgi: “Kristus hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, maupun terutama dalam rupa Ekaristi (roti dan anggur). Ia hadir oleh kekuatan-Nya, Ia hadir dalam sabda-Nya. Akhirnya Ia hadir bila Gereja bermohon dan bermazmur” (SC 7). Kehadiran Kristus tidak terbatas pada roti dan anggur saja. Bahkan kehadiran-Nya dalam rupa Ekaristi itu tidak disebut yang paling pertama. Kristus hadir dalam Gereja, dalam perayaan Gereja dan dalam semua peserta perayaan itu. Akhirnya, Ia hadir pula dalam apa yang boleh disebut “alat penghubung” dalam perayaan itu, yakni roti dan anggur. Perlu dicatat pula bahwa roti dan anggur “diubah menjadi tubuh dan darah mulia” (GS 38).

Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur bukan dalam keadaan seperti dahulu di Palestina. Ia hadir dalam kemuliaan surgawi-Nya. Maka Kristus “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Kehadiran Kristus berarti kehadiran misteri Paska, yaitu “misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, tetapi teristimewa dalam perayaan liturgi” (SC 35). Oleh karena itu komuni juga mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya menyambut tubuh dan darah Kristus. “Komuni” berasal dari kata Latin communio yang berarti “kesatuan”. Bukan hanya kesatuan dengan Kristus dalam rupa roti dan anggur, melainkan juga kesatuan dengan jemaat. Bahkan “komuni” pertama-tama berarti kesatuan dengan perayaan, yang pusatnya adalah Doa Syukur Agung. Dalam hal ini tetap dipertahankan kerangka perjamuan Yahudi, yakni para hadirin mengambil bagian dalam doa yang dibawakan oleh pemimpin dengan cara makan roti dan minum dari piala. Dalam Ekaristi kesatuan dengan doa itu berarti kesatuan dengan Kristus, yang dijumpai melalui iman Gereja yang terungkap dalam Doa Syukur Agung.

Dengan demikian, perayaan Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja, bukan pengungkapan iman satu orang saja. Mengambil bagian dalam perayaan sama dengan partisipasi dalam jemaat. Komuni juga mempunyai arti eklesial atau gerejawi, dan justru segi itulah yang amat ditekankan oleh Konsili Vatikan II. Ekaristi “melambangkan serta memperbuahkan kesatuan Gereja” (UR 2); “dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman” (LG 3). Oleh karena itu Konsili juga amat mementingkan partisipasi aktif umat dalam perayaan itu sendiri: “Orang beriman harus yakin bahwa penampilan Gereja terutama terletak dalam peran-serta penuh dan aktif seluruh umat” (SC 41; lih juga 30 dan 48).

Pembantu Uskup: Imam dan Diakon

Uskup itu pemimpin Gereja lokal, tetapi ia jarang kelihatan di tengah-tengah umat. Tampaknya uskup seorang “administrator” saja. Sebelum Konsili Vatikan II banyak orang berpendapat bahwa dengan tahbisan imam seseorang sudah menerima kepenuhan imamat, sedangkan tahbisan uskup sebetulnya hanya upacara administratif saja. Ajaran Konsili Vatikan II lain: “Konsili suci mengajarkan, bahwa dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yakni yang disebut imamat tertinggi, keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Kepenuhan imamat tidak diberikan dengan tahbisan imam, tetapi dengan tahbisan uskup.

Anggapan (umum) bahwa tahbisan imam sudah berarti kepenuhan imamat, berhubungan dengan pandangan yang melihat tugas imam melulu dalam kaitan dengan Ekaristi (dan sakramen tobat). Seorang imam dipandang orang yang diberi kuasa mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dan mengampuni dosa. Pandangan salah ini mempunyai dasar dalam ajaran Konsili Trente, yang menegaskan tugas sakramental imam dalam jawabannya terhadap ajaran Protestan. Oleh karena Trente hanya mau menanggapi ajaran Reformasi, maka juga hanya menyebut hal-hal yang dipersoalkan oleh Reformasi. Ajaran Trente tidak lengkap. Oleh karena itu Konsili Vatikan II melengkapi ajaran Trente dengan mengajarkan bahwa tugas pokok uskup [dan imam] adalah kepemimpinan. Tugas itu kemudian dijabarkan dalam tiga tugas khusus. Yang pertama tugas pewartaan, selanjutnya bidang sakramen, dan akhirnya seluruh kehidupan jemaat. Kecuali itu, dengan mengikuti Kitab Suci, Konsili Vatikan II dengan menekankan tugas kepemimpinan juga menegaskan fungsi uskup sebagai pemimpin yang sesungguhnya dan mengajarkan bahwa para imam merupakan pembantunya.

Uskup sekarang jarang tampil di tengah-tengah umat. Ini berhubungan dengan “ukuran” keuskupan. Zaman dahulu, sampai abad ke-6, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada yang sekarang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala” pada zaman itu, dan imam-imam “pastor pembantu”. Lama kelamaan para pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan. Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup semakin diserap oleh tugas organisasi dan administrasi. Tetapi semua itu sebetulnya tidak menyangkut tugasnya sendiri sebagai uskup, melainkan cara melaksanakannya.

Dengan perkembangan itu para imam makin menjadi wakil uskup. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG 28). Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi”. Bagi mereka juga berlaku bahwa “umat Allah pertama-tama dihimpun oleh sabda Allah yang hidup. Maka para imam sebagai rekan-rekan sekerja para uskup, pertama-tama wajib mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4). Baru kemudian disebut tugas liturgis dan organisatoris (PO 5; 6), sebab “termasuk tugas para imam sebagai pembina iman, mengusahakan supaya orang beriman masing-masing dibimbing dalam Roh Kudus guna menghayati panggilannya sendiri menurut Injil, secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur, dan hidup dalam kebebasan yang dikaruniakan oleh Kristus” (PO 6).

“Semua imam adalah pembantu uskup dan mengambil bagian dalam tugas membangun jemaat. Tetapi tugas membantu uskup dalam kepemimpinan keuskupan secara khusus dipercayakan kepada dewan imam yang merupakan suatu senat uskup dan sekaligus mewakili para imam dalam suatu keuskupan” (KHK kan. 495).

Konsili Vatikan II mengakhiri uraiannya mengenai hierarki dengan para diakon: “Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan ‘bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan’ (LG 29). Mereka juga pembantu uskup, tetapi tidak mewakilinya. Para uskup mempunyai dua macam pembantu: pembantu umum (disebut imam) dan pembantu khusus (disebut diakon). Bisa juga dikatakan bahwa diakon “pembantu dengan tugas terbatas”. Oleh karena itu dia ada “pada tingkat hierarki yang lebih rendah”. Diakon juga anggota hierarki, oleh karena itu mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan. Hanya saja agak sulit mengkhususkan tugas itu. Dalam organisasi Gereja sekarang ini semua tugas itu sudah dilakukan oleh imam atau oleh awam. Maka tidak ada banyak orang yang ditahbiskan menjadi diakon. Hanya karena dikatakan bahwa “diakonat dapat diterimakan kepada pria yang sudah berkeluarga”, maka kadang-kadang ada orang ditahbiskan menjadi diakon untuk tugas gerejawi. Banyak tugas itu dijalankan oleh awam tidak-tertahbis. Maka, karena kekurangan imam ada kalanya ditahbiskan orang menjadi diakon, dengan tugas terbatas.

Kardinal bukan tingkatan atau fungsi khusus dalam kerangka hierarki, Seorang kardinal adalah uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih paus baru, bila ada seorang paus meninggal. Karena paus adalah uskup Roma, maka paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya oleh pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (= cardinalis). Karena tugas dan wewenang paus tidak lagi pertama-tama terkaitkan dengan urusan keuskupan Roma saja, maka yang memilihnya juga bukan lagi pastor-pastor kota Roma. Dewasa ini para kardinal dipilih dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama-kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Para kardinal diangkat oleh paus. Sejak abad ke-13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.