Tradisi

Kita akan bertitik tolak dari syahadat, baik yang singkat maupun yang panjang, yang merumuskan secara padat hasil refleksi umat Kristen pada masa-masa awal berdirinya Gereja.

Syahadat Singkat

Syahadat Panjang

Dan akan Yesus Kristus,Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus,Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar.

Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,

yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus;disalibkan, wafat, dan dimakamkan;

yang turun ke tempat penantian,

dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria; menjadi manusia dan disalibkan untuk kita waktu Ponsius Pilatus. Ia wafat, kesengsaraan, dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit dari. antara orang mati; Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
yang naik ke surga, duduk dl sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati.Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Dari perbandingan antara kedua rumus ini langsung kelihatan bahwa kedua syahadat berbeda. Syahadat Konsili Nisea-Konstantinopel memang berbeda dan jauh lebih panjang. Perbedaan itu menyangkut terutama pasal yang pertama. Yang lain juga berbeda rumusannya, tetapi isinya kurang lebih sama. Kelima pasal terakhir merumuskan peristiwa pokok hidup dan karya Yesus, yakni (1) kelahiran-Nya; (2) sengsara dan wafat; (3) kebangkitan; (4) kenaikan ke surga; dan (5) kedatangan kembali pada akhir zaman. Perbedaan dalam rumusan tidak menyangkut peristiwa-peristiwa itu sendiri. Tambahan seperti “menjadi manusia” atau “kerajaan-Nya takkan berakhir” tidak mengubah isi pokok. Lain halnya dengan tambahan pada pasal yang pertama. Maka pasal itu perlu diberi perhatian khusus.

Pasal pertama syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, sejajar dengan pasal mengenai Allah:

Aku percaya

akan [satu] Allah, Bapa yang maha kuasa, pencipta langit dan bumi, dan akan [satu] Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.

Allah dan Yesus Kristus disebut bersama-sama dalam rumus iman Gereja. Rumus ini, lebih-lebih kalau ditambahkan kata “satu”, amat mirip dengan rumusan 1Kor 8:6:

“Bagi kita (ada)

satu Allah, Bapa, yang dari pada-Nya (berasal) segala-galanya dan kita

menuju Dia, dan

satu Tuhan, Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala-galanya

(dijadikan) dan kita (hidup) oleh Dia.”

Bapa disebut “Allah” sedangkan Yesus “Tuhan”. Kedua kata itu tidak tepat sama. Dalam tulisan St. Paulus Tuhan berarti ”Yang Mulia” dan sebetulnya bukan Allah.

Dalam PB kata “Tuhan” dipakai untuk Allah sendiri hanya dalam kutipan dari PL, mis. Mat 4:7.10 dsj.; 22:37 dsj.; Mrk 12:29; Luk 1:16.32.68; 20:37; Kis 2:39; 3:22; kecuali dalam Kitab Wahyu: 1:8; 4:8.11; 11:17; 15:3; 16:7; 18:8; 19:6;21:22; 22:5.6, yang barangkali berusaha memakai bahasa yang serupa dengan bahasa PL (terutama dalam syair-syair). Dalam hal ini bahasa Kitab Suci (PB) berbeda dengan bahasa yang lazim dipakai.

Syahadat pendek yang lebih tua kurang lebih masih sama rumusannya dengan Kitab Suci. Tetapi syahadat panjang menambahkan keterangan panjang, dan rupa-rupanya dalam tambahan itu “Tuhan” dan “Allah” disamakan: sehakikat dengan Bapa. Kata Yunani homoousios juga dapat diterjemahkan dengan sama-hakikat. Mana terjemahan yang tepat? Untuk itu harus diketahui lebih dahulu maksud Konsili yang merumuskannya dan perlu diperhatikan latar belakang sejarahnya, sebab rumusan keterangan baru ditambahkan hampir 300 tahun sesudah surat-surat St. Paulus ditulis. Dalam kurun waktu tiga abad ada banyak diskusi dan perbedaan pendapat mengenai arti Kitab Suci.

Ada banyak diskusi terutama mengenai arti “Anak Allah”, lebih-lebih ketika agama Kristen bertemu dengan filsafat Yunani. Sudah sejak zaman St. Paulus, Injil diwartakan di dunia helenis (Yunani). Dan St. Paulus sudah mengalami bahwa kata-katanya tidak selalu dimengerti dengan baik (lih. mis. 1Kor). Begitu juga dalam tahun-tahun berikut ada banyak tulisan (terutama yang disebut apokrif) yang tidak memberi gambaran yang seratus persen tepat mengenai Yesus. Pimpinan Gereja biasanya mampu dan siap mengoreksi rumusan-rumusan yang kurang tepat itu. Tetapi ketika mulai dikonfrontasikan dengan para ahli filsafat dan pemikir Yunani, muncul diskusi di kalangan orang Kristen sendiri mengenai rumusan yang tepat.

Orang Kristen harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat Yunani yang tidak selalu mudah. Kata St. Hipolitus (170-236) kepada mereka, “Kami pun menyembah hanya satu. Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Kami berpendapat bahwa Kristus Anak Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Dia menderita dengan cara Dia, wafat dengan cara Dia, dan bangkit pada hari ketiga serta naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa, dan Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Dan itu kami akui sebagaimana “kami diajari”.

Semua orang mengetahui bahwa istilah “Bapa” dan “Anak” kalau dipakai bagi Allah artinya tidak sama seperti kalau dipakai untuk manusia, karena Allah memang lain daripada manusia. Tetapi tidaklah mudah merumuskan hubungan itu dengan tepat. Sementara orang, antara lain seorang imam dari Aleksandria yang bernama Arius, mengambil alih dari filsafat Yunani gagasan bahwa di dalam Allah, khususnya dalam hubungan Allah dengan dunia, ada tingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Allah dalam arti yang penuh dan utuh, di bawahnya ada aneka tingkat dewa dan ilah yang kurang sempurna bila dibandingkan dengan Dia. Gagasan ini oleh Arius diterapkan pada hubungan Kristus dengan Bapa. Arius berkata bahwa Bapa adalah Allah dalam arti penuh, tetapi Sabda hanya makhluk ciptaan saja, biarpun yang paling sempurna. Gagasan Arius ini mengundang reaksi negatif yang hebat sekali. Pada tahun 319 di kota Aleksandria sendiri Arius dan tiga belas orang pengikutnya secara resmi dan tegas dikucilkan dari Gereja dan ajarannya dilarang. Keputusan yang sama diambil oleh suatu sinode di kota Antiokhia. Akhirnya, pada Konsili Nisea (325) ajaran Arius ditolak atas nama seluruh Gereja. Rupa-rupanya dengan demikian soal Arius belum teratasi sepenuhnya. Maka dikemudian hari keputusan Nisea ditegaskan sekali lagi oleh Konsili umum di Konstantinopel (381). Rumusan Konsili itulah yang disebut syahadat panjang.

Arius mengajarkan bahwa Sabda diciptakan. Konsili Nisea (dan Konstantinopel) menangkis: Sabda “bukan dijadikan”, jadi bukan ciptaan, melainkan Ia “sehakikat dengan Bapa”. Ia tidak berada di pihak makhluk, tetapi di pihak Pencipta: “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar”. Kata-kata yang pertama mungkin masih bisa disetujui oleh Arius. Kata “dari Allah”, dan “dari terang” kiranya juga dapat dipakai untuk Sabda sebagai makhluk yang pertama dan utama. Tetapi “Allah benar” sungguh bertentangan dengan ajaran Arius dan tidak disetujuinya. Arius berpendapat bahwa Sabda diciptakan oleh Allah. Itu ditolak oleh Konsili, sebab Sabda bukan ciptaan seperti makhluk-makhluk yang lain.

Dari pihak lain para uskup konsili sadar juga bahwa Anak tidak sama dengan Bapa. Maka dikatakan bahwa “Ia lahir dari Bapa”. Ia memang “bukan dijadikan”, tetapi “dilahirkan”. Dengan tegas Konsili Nisea menyatakan, “Ada orang (yaitu Arius) yang mengatakan, bahwa Ia pernah tidak ada, atau sebelum dilahirkan tidak ada, dan Ia dibuat dari yang belum ada, atau dari bahan atau kodrat lain. Ajaran bahwa Anak Allah dapat diubah atau dibuat lain ditolak mentah-mentah oleh Gereja Katolik dan apostolik”. Ajaran itulah yang mau dilawan dengan istilah homoousios, ‘sehakikat dengan Bapa’. Sementara itu, para bapa konsili juga tidak mengetahui bagaimana hal itu harus dimengerti. Pada pertemuan di Antiokhia beberapa bulan sebelumnya, mereka menegaskan: “dilahirkan dengan cara yang tidak dapat dikatakan atau dilukiskan, sebab yang mengetahui hanyalah Bapa yang melahirkan dan Anak yang dilahirkan, karena ‘tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak’ (Mat 11:27)”.

Eusebius dari Kaisarea (260-340): yang menghadiri Konsili Nisea, memberikan keterangan ini: “Kata-kata ‘Anak sehakikat dengan Bapa’ kalau diselidiki betul-betul ternyata sungguh tepat, bukan dalam arti sebuah badan atau serupa dengan binatang yang fana, juga tidak dengan membagi atau memotong hakikat, juga tidak dengan membuat hakikat Bapa berubah atau menjadi lain; sebab hakikat Bapa yang tidak dilahirkan bebas dari semua itu. Tetapi kata -kata ‘sehakikat dengan Bapa’ berarti bahwa Anak Allah tidak serupa dengan makhluk-makhluk yang diciptakan, melainkan dalam segala hal sama seperti Bapa yang melahirkan-Nya, dan tidak mempunyai hypostasis atau ousia (hakikat) yang lain daripada Bapa. Begitu juga tepat kata ‘dilahirkan, bukan dijadikan’, sebab ‘dijadikan’ dikatakan mengenai segala mahluk lain yang diciptakan oleh Anak; dan Anak sama sekali tidak serupa dengan mereka, sebab Ia tidak diciptakan seperti makhluk-makhluk itu yang diciptakan oleh-Nya; dan bagaimana Ia ‘dilahirkan’ tidak dapat dikatakan atau dilukiskan oleh apa saja yang diciptakan”.

Kalau begitu, mengapa mereka mengatakannya? Karena “Kitab Suci mengatakan bahwa Anak sungguh dan sebenar-benarnya dilahirkan”. Konsili hanya mau menegaskan ajaran Kitab Suci. Namun ajaran itu hendak dirumuskannya dalam rumusan filsafat Yunani sebagai jawaban terhadap ajaran Arius, yang dipandang sebagai penyeleweng, sebab ia memisahkan Yesus dari Allah. Kalau Yesus bukan satu dengan Allah, bagaimana Ia dapat menjadi wahyu Allah? Yesus tidak datang membawa sebuah buku, seperti Musa dan nabi-nabi yang lain. Sabda Yesus sendiri adalah wahyu dari Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27). Yesus adalah Pengantara antara Allah dan manusia. Itu tidak mungkin, kalau Yesus tidak sungguh-sungguh dari Allah.

Dalam syahadat Nisea-Konstantinopel ditekankan keallahan Kristus. Dengan demikian langsung timbul masalah baru: Ada orang yang tidak mengakui kemanusiaan Kristus. Kesulitan itu sebetulnya sudah mulai dengan Arius: Sabda, yang adalah makhluk sendiri, menggantikan jiwa manusia dalam Yesus. Pandangan itu juga diyakini oleh orang lain, misalnya Apolinarius.

Sesudah Konsili Nisea, diakui bahwa dari satu pihak Sabda sungguh ilahi, tetapi dari pihak lain tetap disangkal bahwa Yesus punya jiwa manusia. Dengan demikian Yesus sungguh Allah, tetapi tidak sungguh manusia. Sering kali kurang jelas apa yang dimaksudkan orang-orang itu. Ada yang berkata bahwa dalam Kristus hanya ada satu kodrat; orang itu disebut “monofisit” (monos = satu; physis = kodrat). Orang lain dengan tegas mau membedakan kemanusiaan Kristus dari keallahan-Nya. Sampai-sampai Maria tidak mau disebut “Bunda Allah”, tetapi “Bunda Kristus” saja, sebab Maria hanya melahirkan manusia, bukan Allah. Heboh lagi!

Yang menekankan kesatuan dalam Kristus, antara lain St. Sirilus, uskup-agung Aleksandria (380-444). Lawannya adalah Nestorius, uskup-agung Konstantinopel (381-451). Dia dengan tegas menonjolkan perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan dalam Kristus, sampai memisahkannya. Dalam perselisihan antara kedua tokoh ini tidak hanya paus dan kaisar yang terlibat, tetapi juga hampir seluruh Gereja. Akhirnya, Konsili Efesus (431) mendukung pendapat Sirilus, bahwa “dari Santa Perawan tidak dilahirkan dahulu seorang manusia biasa, yang kemudian dimasuki oleh Sabda; tetapi (yang ilahi dan insani) dipersatukan sejak kandungan ibu-Nya, kemudian Ia mengalami kelahiran sebagai manusia.” Oleh karena itu Konsili “berani menyatakan bahwa Santa Perawan adalah Bunda Allah”.

Dengan demikian, Konsili Efesus sebenarnya hanya menegaskan syahadat Nisea-Konstantinopel: Juga dalam kemanusiaan-Nya Kristus harus disebut ilahi. Dalam diri Kristus keallahan dan kemanusiaan menjadi satu. Bagaimana keallahan dan kemanusiaan dipersatukan, itu tidak dijelaskan. Oleh karena itu, orang belum puas dengan Konsili Efesus.

Dua puluh tahun kemudian Konsili Kalsedon (451) merumuskannya sebagai berikut: “Perbedaan antara kedua kodrat (ilahi dan insani) tidak ditiadakan oleh kesatuan, sebaliknya kekhasan masing-masing kodrat dipertahankan dan bertemu dalam satu pribadi dan satu hypostasis (yang berdikari); jadi tidak dibagi atau dipisahkan menjadi dua pribadi, tetapi yang satu dan sama adalah Sabda, Anak Tunggal, Allah, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan oleh para nabi sejak semula mengenai Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan kepada kita, dan diteruskan kepada kita oleh syahadat para bapa”.

Akhirnya, Konsili Kalsedon berhasil merumuskan iman Kristen dalam istilah-istilah filsafat Yunani. Dalam pertemuan antara agama Kristen dan kebudayaan Yunani perumusan filosofis itu perlu dan tidak dapat dihindari. Namun dengan demikian isi iman Kristen tidak menjadi lebih jelas. Kesaksian iman para Rasul yang disampaikan dalam kata-kata sederhana, sekarang dirumuskan dalam bentuk rumus padat dan peraturan tegas, serta dengan refleksi teologis yang ilmiah. Maka Kalsedon terpaksa memakai kata “kodrat” dan “pribadi” serta hypostasis yang sulit diterjemahkan.

Soal pokok sebenarnya terletak pada bahasa. Yang sesungguhnya mau dikatakan hanyalah, bahwa keallahan Kristus tidak sama dengan kemanusiaan-Nya: Kristus mempunyai dua “kodrat”, yang ilahi dan yang insani. Sebagai Allah Ia tidak dapat menderita dan mati; sebagai manusia sesungguhnya Ia tidak dapat membuat mukjizat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa ada dua Kristus, satu ilahi dan satu insani. Kalau ditanya siapa Dia sebetulnya, maka jawabannya hanya satu: Anak Allah. Tetapi justru Anak Allah itu lahir di dunia sebagai anak Maria. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara yang ilahi dan yang insani, sehingga dengan demikian Anak Allah itu tetap sama dengan anak Maria. Terhadap pertanyaan “Yesus itu apa?” jawabnya adalah memang ada dua kodrat ilahi dan insani. Terhadap pertanyaan “Yesus itu siapa?” jawabnya adalah hanya ada satu pribadi, yakni pribadi Anak Allah. Rumusan Konsili tegas, meski tidak sangat jelas.

“Kodrat” berarti sesuatu seperti identitas, kekhasan, sifatnya yang khusus. Tetapi bukan identitas pribadi, sebab kodrat tidak berdikari. Kodrat menjadi konkret dalam pribadi atau hypostasis, yang berarti “sesuatu yang berdiri sendiri”. Keunikannya dirumuskan dengan kata “pribadi”, yang dalam bahasa Yunani sebetulnya berarti “topeng”, sebab dalam pribadi kodrat menampilkan diri.

Kekurangan yang paling mencolok dalam rumusan ini, ialah sifatnya yang abstrak. Tidak terasa lagi kenyataan hidup Yesus, yang penuh kegiatan dan ketegangan, yang bisa diraba dan dirasa. Sejarah keselamatan hilang. Kalsedon sebenarnya hanya merumuskan inti misteri penjelmaan, bahwa “Sabda menjadi daging” (Yoh 1:14). Tetapi bagaimana semua itu terjadi dan berkembang, tidak dikatakan. Rumusan Kalsedon dapat memberi kesan bahwa Yesus terus-menerus pindah dari satu kodrat ke dalam kodrat yang lain, seolah-olah yang ilahi berdiri di samping yang insani. Padahal “kodrat” hanya mau mengatakan bahwa Kristus sekaligus Allah dan manusia. Allah dan manusia tidak dapat dijumlah, karena tidak sejenis. Tetapi kalau Allah dan manusia menjadi satu, khususnya dalam pribadi Sabda, maka di dalam kepribadian Kristus tidak hanya ada keallahan, tetapi juga kemanusiaan. Rumusnya kurang jelas. “Allah yang tak terbatas dan tak terukur tidak dapat dimengerti atau diterangkan dengan beberapa kata saja dalam bahasa manusia”, kata St. Hilarius (315″367).

Konsili berkata bahwa Yesus yang adalah Anak Allah juga anak Maria. Kiranya hal itu juga dapat dibalik: Yesus yang adalah anak Maria juga Anak Allah. Yesus adalah seorang manusia, tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam hati; bukan hanya secara kodrat, tetapi seluruhnya. Sebetulnya semua itu lebih jelas dirumuskan di dalam Kitab Suci. Oleh sebab itu, guna memahami rumus Kalsedon dengan sepenuhnya, rumusan itu perlu dihubungkan dengan Kitab Suci. St. Hilarius juga berkata, bahwa sebelum ia mendengar mengenai istilah “homoousios” (sehakikat) “Injil-Injil dan para Rasul sudah mengajarkannya kepadaku”. Istilahnya memang baru, tetapi maksudnya sama dengan yang diajarkan oleh Kitab Suci. Dari pihak lain, St. Hilarius menegaskan bahwa istilah-istilah itu memang perlu dan tidak dapat dihindari dalam dialog dengan kaum bidaah zaman itu:

“Kejahatan kaum bidaah dan penghujat memaksa kita membuat sesuatu yang sebetulnya tidak tepat: mencari hal-hal yang terlampau tinggi, bicara mengenai hal-hal yang tak dapat dikatakan, dan memasuki bidang yang bukan bidang kita. Seharusnya kita menjalankan dengan iman saja apa yang diperintahkan, yakni menyembah Bapa, menghormati Anak bersama Dia, dan berlimpah-limpah dengan (rahmat) Roh Kudus; namun terpaksa kita meluaskan pembicaraan kita yang sederhana ini sampai kepada hal-hal yang tak dapat dikatakan; karena kesalahan orang lain (kaum Arian) kita terpaksa bersalah dan apa yang seharusnya disimpan dalam renungan budi kita, sekarang diserahkan kepada bahaya pembicaraan manusia.”

Hasilnya memang tidak memuaskan seluruhnya. “Tetapi,” kata St. Hilarius, “kalau dirasa perlu menambahkan suatu keterangan, hendaklah dibicarakan bersama”. Yang mengikat bukan rumus, melainkan iman yang diungkapkan di dalamnya.

Kata-kata “sehakikat dengan Bapa” tidak ada dalam Kitab Suci, baru dirumuskan berabad-abad kemudian. Kata “Allah” juga jarang dipakai untuk Yesus. Yang ada “Anak Allah” dan kata itu pun belum tentu tepat sama artinya dengan “dilahirkan dari Bapa”. Tiga kali. Yesus dengan jelas disebut “Allah” dalam Perjanjian Baru:

Yoh 1:1 Firman itu Allah.
Yoh 20:28 Tomas menjawab: Ya Tuhanku dan Allahku.
Ibr 1:8 Tentang Anak-Nya [Allah] berkata: Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.

Masih ada sembilan teks lain, yakni Yoh 1:18; Kis 20:28; Rm 9:5; Gal 2:20; Kol 2:2; 2Tes 1:12; Tit 2:13; 2Ptr 1:1; 1Yoh 5:20. Tetapi teks-teks ini tidak seluruhnya jelas, entah karena keadaan naskah aslinya, entah karena kalimat Yunani sulit dimengerti dan dapat diartikan secara lain.

Dari ayat-ayat itu jelas bahwa Gereja perdana memakai kata “Allah” bagi Yesus. Tidak ada teks Kitab Suci yang memperlihatkan bahwa Yesus sendiri memandang diri sebagai Allah. Tetapi tentu saja, Gereja perdana juga tidak menyebut Yesus Allah tanpa alasan. Ada dua alasan mengapa Gereja perdana mengakui Yesus sebagai Allah, yakni pengalaman akan kebangkitan, dan sikap serta cara berbicara Yesus sendiri pada waktu masih bergaul dengan mereka.

Kedua alasan itu harus dilihat bersama-sama. Dalam terang kebangkitan cara berbicara dan sikap Yesus jelas memperlihatkan keunikan Yesus.

Dua Sumber Utama untuk Mengenal Yesus Kristus

Tradisi dan Kitab Suci diuraikan secara khusus dalam konstitusi dogmatis Dei Verbum, yang diresmikan oleh Konsili Vatikan II pada 18 November 1968. Di dalamnya dikatakan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). Proses komunikasi iman dari satu angkatan kepada angkatan berikut dan di antara orang sezaman disebut Tradisi. “Tradisi” berarti penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus. Tradisi bukan sesuatu yang “kolot” atau dari zaman dahulu, melainkan sesuatu yang masih terjadi sekarang ini juga. Gereja yang hidup dan berkembang, itulah Tradisi. Gereja dan Tradisi sama. Tradisi adalah paham Gereja yang dinamis.

Dalam Tradisi itu ada satu kurun waktu yang istimewa, yakni zaman Yesus dan para rasul. Pada periode yang juga disebut zaman Gereja perdana itu Tradisi sebelumnya dipenuhi dan diberi bentuk yang baru, dan selanjutnya menjadi dasar dan inti pokok untuk Tradisi berikut, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:20). Maka perumusan pengalaman iman Gereja perdana, yang disebut Perjanjian Baru merupakan pusat dan sumber seluruh Tradisi, bukan karena tulisan atau rumusannya, melainkan karena iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Pengalaman iman itu memang “ditulis dengan ilham Roh Kudus” (DV 11) dan itu berarti bahwa “buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan, kebenaran yang oleh Allah mau dicantumkan di dalamnya demi keselamatan kita”. Maka kesucian Kitab Suci datang dari iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Iman itu iman akan karya keselamatan Allah, yang mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, tetapi yang sudah mulai dilaksanakan dalam sejarah Israel, sebagaimana dirumuskan dalam Perjanjian Lama. Buku itu pun suci, bukan karena kata-kata atau perumusannya, tetapi karena karya Allah yang tetap aktual. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan ungkapan dan rumusan Tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Maka seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman.

Kitab Suci merupakan kumpulan karangan yang berasal dari zaman yang berbeda-beda dengan latar belakang kebudayaan, politik dan juga agama yang berlain-lainan. Karangan yang ditulis antara tahun 1000 SM dan 100 M berangsur-angsur dikumpulkan, dan sejak abad keempat dibuat menjadi satu buku. Jumlah karangan atau “buku” ada 72 yang terdiri dari 45 buku Perjanjian Lama (atau 46 kalau Yeremia dan Ratapan dihitung tersendiri) dan 27 buku Perjanjian Baru.
PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I-II Samuel, I-II Raja, I-II Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, I-II Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus bin Sirakh, Yesaya, Yeremia (+ Ratapan), Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
PB: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah para Rasul, Surat-surat kepada umat dl Roma, I-II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I-II Tesalonika, Surat-surat kepada Timotius I-II, Titus, Filemon, Surat kepada umat Ibrani, Surat Yakobus, I-II Petrus, I-II-III Yohanes, Yudas, Kitab Wahyu.

Jadi, bagi umat Kristen Kitab Suci bukanlah buku yang didiktekan atau ditulis oleh Tuhan. Kitab Suci merupakan ungkapan iman umat Israel dan terutama iman Gereja perdana. Oleh iman itu pengarang suci bersatu dengan Allah dan menuliskan apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Dalam proses penulisan itu ia dianugerahi rahmat khusus (yang biasanya disebut ilham), supaya yang dituliskannya itu benar-benar wahyu Tuhan dan bukan pikirannya sendiri. Karena yang menulis itu bukan satu orang, melainkan banyak pengarang suci yang berbeda zaman dan kebudayaannya, iman yang sama itu pun diungkapkan dalam rumusan yang berbeda-beda, yang kadang-kadang dapat memberi kesan seolah-olah tidak cocok satu sama lain.

Sesudah Gereja perdana, Tradisi mengolah dan memperdalam ungkapan iman yang terdapat dalam Kitab Suci. “Sebab berkembanglah pengertian tentang kenyataan-kenyataan serta kata-kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati, merenungkan serta mempelajarinya, maupun karena mereka menyelami secara mendalam pengalaman-pengalaman rohani mereka, ataupun juga berkat pewartaan mereka yang sebagai pengganti para rasul dalam martabat uskup menerima karunia kebenaran yang pasti” (DV 8). Pengalaman iman, sebagaimana dirumuskan dalam Kitab Suci, selalu aktual dan punya arti bagi zaman sekarang dan senantiasa harus dibaca, direnungkan, dan dimengerti secara baru. Dalam proses itu seluruh umat mengambil bagian, Konsili Vatikan II malah mengajarkan:

“Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh (Roh) Yang Kudus, tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman segenap umat, bila – dari uskup hingga para awam beriman yang terkecil – secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Pernyataan kebenaran oleh umat terjadi menurut struktur umat sendiri, berarti “di bawah mereka yang mempunyai wewenang mengajar yang suci”, yaitu para uskup. Ini tidak berarti bahwa umat hanya mengamini apa yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi bahwa proses permenungan dan pemahaman sabda Allah dilaksanakan di bawah bimbingan mereka yang diangkat menjadi pemimpin di dalam Gereja. Dan sebagaimana umat seluruhnya “tidak dapat sesat dalam beriman”, begitu juga hierarki tidak dapat sesat dalam memberi bimbingan.

Perlu diperhatikan bahwa anugerah ketidak-sesatan tidak diberikan kepada orang perorangan, melainkan kepada umat seluruhnya. Begitu juga ketidak-sesatan dalam bimbingan tidak dimiliki oleh uskup-uskup perorangan, juga tidak oleh paus, melainkan oleh para uskup bersama sebagai dewan pimpinan Gereja dan paus sebagai kepala dewan itu. Hal itu diterangkan dengan cukup jelas dan mendetail dalam LG 25. Di situ ditetapkan juga bahwa pernyataan pemimpin itu selalu harus bersifat resmi, dan disampaikan secara resmi pula; maksudnya, sebagai pernyataan dan kesadaran seluruh umat. Maka pernyataan seperti itu tanpa arti, kalau umat tidak terlibat dalam proses pengolahannya.

Oleh karena itu Konsili berkata, “Jelaslah bahwa Tradisi suci, Kitab Suci dan wewenang mengajar Gereja saling berhubungan dan berpadu” (DV 10). Tradisi mempunyai titik beratnya dalam Kitab Suci tetapi tidak terbatas pada Kitab Suci. Sebaliknya, Tradisi berusaha terus menghayati dan memahami kekayaan iman yang terungkap dalam Kitab Suci. Proses penghayatan dan pemahaman itu terlaksana di bawah terang Roh Kudus di dalam Gereja, dibimbing oleh pimpinan Gereja. Kalau Kitab Suci dilepaskan dari Tradisi, ia kehilangan arti dan fungsinya. Begitu juga, atau lebih lagi, mengenai wewenang mengajar pimpinan Gereja. Kalau dewan para uskup, dengan paus sebagai kepalanya, merumuskan kebenaran iman dalam bentuk dogma, maka ajaran resmi itu tidak berarti suatu ajaran baru, apalagi wahyu yang lain, melainkan perumusan kembali sesuai dengan tuntutan zaman – iman yang dihayati Gereja sejak zaman para rasul. Gereja harus terus-menerus menekuni dan mempelajari kembali apa yang sejak dahulu sudah menjadi keyakinan imannya. Sebab “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8); tetapi dunia berubah terus-menerus. Maka supaya sabda Kristus tetap berarti, perlu dirumuskan kembali dan diaktualkan bagi angkatan baru.

Aneka Bentuk Doa

Karena isi doa begitu luas, tidak mengherankan bahwa orang menghadap Tuhan dengan aneka cara dan kata. Di dalam kebiasaan Gereja dibedakan dua bentuk doa yang pokok, yakni puji-syukur dan permohonan. Puji-syukur, yang dalam bahasa kuno disebut eukharistia, merupakan tanggapan manusia atas segala anugerah Tuhan. Puji-syukur itu tidak sama dengan “terima kasih”. Puji-syukur pertama-tama mengungkapkan rasa heran dan kagum atas kebaikan Tuhan. Maka dalam “Kemuliaan” Gereja juga dapat berdoa: “Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar”. Gereja bersyukur karena kemuliaan Tuhan, bukan karena anugerah yang telah diterimanya. Puji-syukur merupakan kegembiraan bahwa ada Tuhan: Syukur, ada Tuhan! Tentu saja, kebaikan Tuhan diketahui manusia terutama karena anugerah-anugerah, yang telah diberikan oleh-Nya, mulai dengan penciptaan dan kemudian dalam seluruh sejarah keselamatan. Anugerah Allah yang paling besar adalah Putra-Nya, Yesus Kristus, serta Roh yang diutus-Nya dari Bapa. Atas semua anugerah itu orang Kristiani memuji dan memuliakan Tuhan.

Tetapi ternyata manusia berbalik dan jatuh kepada kemalangannya sendiri, dan memohon kepada Allah, supaya “memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:48), sebab Allah itu “tempat perlindungan bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya” (Yes 25:4). Doa permohonan bukanlah minta-minta. Puji-syukur berarti memuliakan kebaikan dan keluhuran Allah; dalam permohonan diakui dan dinyatakan kelemahan dan kemiskinan manusia. Maka yang pertama-tama dimohon adalah pengampunan dan belas kasihan Tuhan, sebab dosa manusia merupakan sumber kemalangan yang terbesar. Tetapi tidak hanya itu. Sering juga manusia ditimpa malapetaka, yang membuat hidupnya gelap dan membingungkan. Ia mengetahui bahwa semua itu termasuk struktur dunia sebagaimana ada. Maka ia juga tidak minta supaya Tuhan menciptakan dunia yang lain, melainkan supaya Tuhan memberikan kekuatan untuk berjuang terus dalam dunia yang malang ini. Itu berarti ia mohon pengharapan. Manusia memohon kekuatan untuk menerima hidup seadanya, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Berdoa untuk orang lain berarti mengambil bagian dalam perjuangan orang lain di hadapan Allah. Doa tidak lain daripada berjuang di dunia ini, yang tetap diterima dan diakui sebagai anugerah Allah. Permohonan dan puji-syukur tidak bertentangan, melainkan merupakan dua segi dari satu kenyataan hidup. Maka tepatlah nasihat ini: “Bertekunlah dalam doa dan berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kol 4:2).

Berdoa berarti dengan jujur menyatakan isi hati, hati orang beriman, di hadapan Tuhan. Tidak penting apakah orang berdoa sendiri atau bersama orang lain, diucapkan dengan mulut atau direnungkan dalam hati. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh 3:1). Bisa dengan cara begini, bisa dengan bentuk begitu. Dalam Tradisi Kristen, khususnya dalam tradisi kebiaraan, ditentukan waktu untuk kehidupan doa. Itu baik dan teruji dalam praktik, Tetapi dalam sejarah doa juga timbul kebiasaan merenungkan sabda Tuhan dalam hati, seorang diri. Itu pun baik, dan terbukti berguna. Dalam doa batin malah dibedakan renungan dengan mengutamakan pikiran budi (yang disebut meditasi) dan renungan yang mau memandang dengan hati dan diam di muka rahasia Tuhan (yang disebut kontemplasi). Semua itu baik, dan merupakan hasil perjuangan orang. Gereja mempunyai pengalaman doa berabad-abad. Aneka bentuk dan cara bermunculan dan itu semua dipakai. Semua itu baik sejauh menolong guna menemukan Tuhan. Cara-cara itu dapat dipakai sejauh menolong, dan dibiarkan sejauh merupakan rintangan. Doa ialah pertemuan dengan Tuhan. Kalau orang mencari Tuhan, ia juga akan menemukan Dia (lih. Yer 29:13). Yang pokok, harus mencari. “Ujilah segala sesuatu, dan peganglah yang baik” (1Tes 5:21). Bentuknya tidak mengikat, tetapi isinya, puji-syukur dan permohonan, itu yang harus ada.

Iman dan Agama

Iman, lebih-lebih kalau telah berkembang menjadi pengharapan dan kasih, merupakan suatu sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Dalam hidup manusia sikap batin itu harus dinyatakan keluar, pertama-tama dalam kasih kepada sesama. Tetapi tidak hanya itu. Ketika Musa berhadapan dengan Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semak berduri, didengarnya suara yang berkata, “Jangan datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasut dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Tuhan adalah kudus, dan tempat Tuhan berkenan bertemu dengan manusia, itu pun kudus. Bahkan segala sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan, disebut kudus, Maka ada tempat yang kudus, juga waktu yang kudus, bahasa yang kudus, pakaian kudus, alat kudus, bahkan orang yang kudus, yakni orang yang secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Tuhan. Perjanjian Lama mengenal peraturan rinci mengenai barang dan orang, yang dikhususkan bagi Tuhan dan oleh karenanya disebut kudus (lih. Kel 25-31; Im 17-26). Ini bukan sesuatu yang hanya terdapat pada Israel. Semua bangsa dan kebudayaan mempunyai bidang kudus ini, yang biasanya disebut bidang agama atau juga bidang sakral.

Perlu dicatat bahwa garis pemisah antara yang sakral dan yang profan tidak selalu jelas. Dalam agama Kristen, seperti juga dalam agama Yahudi dan Islam, garis pemisah itu cukup tajam. Tetapi dalam agama-agama lain bidang keagamaan tidak terlampau terpisah dari bidang hidup sehari-hari. Paham agama sebagai bidang yang khusus, terbedakan dari hidup yang profan, berkaitan dengan paham Allah yang transenden. Di mana lebih ditekankan imanensi Allah, di situ juga agama menjadi bagian yang lebih integral dari hidup, dan tidak terlalu dibedakan antara profan dan sakral, Namun, agama-agama itu juga mengenal tempat, waktu dan upacara, dan terutama orang yang “khusus”, guna menyatakan kebaktian kepada Allah.

Jelas sekali, bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat lahiriah melulu, dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi. Oleh karena itu yang pokok bukanlah hal-hal yang lahiriah. Namun tanpa bentuk yang nyata komunikasi iman tidak mungkin. Biarpun sikap batin paling penting, namun tanpa pengejawantahan yang jelas iman tidak sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan agama. Dalam praktik tidak ada iman tanpa agama, tetapi tentu saja bentuk agama berbeda-beda.

Perbedaan pokok berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Kalau ditekankan keluhuran dan kedahsyatan Allah, maka agama akan mencari bentuk-bentuk yang khusus dan istimewa. Sebaliknya, kalau lebih diperhatikan Tuhan yang hadir dalam ciptaan-Nya, maka segala sesuatu dengan sendirinya sudah mempunyai warna agama. Oleh karena itu amat sulit membuat suatu definisi agama yang berlaku umum. Iman dan agama kait-mengait, dan iman tidak pernah bersifat umum.

Pada tahun 1952, dalam kerangka pembicaraan mengenai kedudukan aliran-aliran kepercayaan dalam negara dan masyarakat Indonesia. Departemen Agama pernah mengusulkan suatu definisi agama, dengan menyebut beberapa syarat-syarat mutlak, seperti: adanya nabi atau rasul, kitab suci dan pengakuan sebagai agama di luar negeri. Agama Hindu-Bali mengajukan keberatan terhadap definisi itu. Maka selanjutnya definisi itu ditarik kembali dan tidak terpakai lagi. Dalam Penpres no. 1 thn 1965 ( Undang-Undang no. 5 thn 1969) Konfusianisme disebut sebagai agama juga; tetapi kemudian tidak pernah disebut-sebut lagi. Agama “yang diakui pemerintah” ada lima: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Aliran kepercayaan juga diakui, tetapi tidak sebagai agama (sehingga juga tidak ada di bawah wewenang Departemen Agama, melainkan ditempatkan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Tetapi ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Tidak ada dua golongan agama, yang satu diakui pemerintah dan yang lain tidak, Pengakuan oleh pemerintah sebenarnya hanya berarti bahwa agama-agama itu mendapat pelayanan khusus dari Departemen Agama.

Kendatipun tidak mungkin memberikan suatu definisi umum mengenai agama, dapat disebut sejumlah gejala atau unsur yang pada umumnya didapati dalam agama-agama. Di bawah ini disebutkan lima unsur: jemaat, tradisi, ibadat, tempat ibadat, dan petugas ibadat.

1. Jemaat

Yang pertama-tama harus disebut ialah umat beragama sendiri. Umat beragama bukanlah suatu kumpulan umat yang biasa. Yang mengikat mereka bukan pertama-tama organisasi, melainkan ikatan batin. Bagaimana ikatan batin itu diterangkan atau digambarkan, berbeda pada masing-masing agama. Biasanya umat beragama merasa diri dipersatukan bukan hanya atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka. Pada umumnya persatuan itu tidak untuk sesaat saja, walaupun juga dalam hal ini agama yang satu berbeda dengan yang lain. Ada yang membatasi umat pada saat perayaan, ada yang menghubungkan keanggotaan dengan seluruh hidup. Pada umumnya umat dan anggota-anggotanya dikenal, tetapi juga ada kelompok agama rahasia. Bisa juga terjadi di dalam umat sendiri ada kelompok-kelompok khusus, Semua itu berhubungan juga dengan unsur-unsur yang lain.

2. Tradisi

Unsur kedua ini luas sekali, dan mencakup beberapa unsur yang’ lain. Yang umum ialah, bahwa semua agama mempunyai sejarah. Khususnya sejarah awal, dengan tokoh-tokohnya, mempunyai arti yang khusus. Banyak agama mengenal seorang nabi atau rasul atau pendiri agama. Tetapi dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam agama-agama. Tidak semua agama menghargai dan mengakui tokoh awal itu dengan cara yang sama. Bahkan, tidak semua agama mempunyai paham sejarah yang sama. Sering kali dalam kisah awal tercampur banyak unsur mitologi, yakni ungkapan simbolis kisah awal

Salah satu unsur tradisi yang amat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun-temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran moral, dan ajaran ibadat. Ajaran keselamatan pertama-tama mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan manusia, kemudian juga mengenai sejarah dan organisasi agama itu sendiri, serta bagaimana melalui agama orang dapat bertemu dengan Allah dan diselamatkan. Ini merupakan bagian yang khusus untuk masing-masing agama. Ajaran moral sering bersifat lebih umum, karena mengambil alih banyak unsur dari kebiasaan etis masyarakat. Sebaliknya, ajaran mengenai ibadat hiasanya amat khusus dan kadang-kadang juga dipandang sebagai yang paling pokok. Tradisi ajaran itu biasanya diteruskan tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui buku-buku suci. Dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam arti dan bobot yang diberikan kepada buku-buku itu.

3. Ibadat

Walaupun ibadat ada di dalam semua agama, namun khusus dalam ibadatlah nampak perbedaan antara agama. Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam hal ini juga ada perbedaan yang amat besar – dipakai simbol-simbol atau tanda yang khusus dalam ibadat, karena baik untuk pengungkapan iman maupun untuk tanda kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekpresi yang biasa dianggap kurang memadai. Misteri Allah dan penyelamatan-Nya hanya dapat ditunjuk dengan tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh manusia

Ibadat adalah kegiatan manusia. Cara umat mengambil bagian dalam ibadat itu, berbeda dari satu agama ke agama yang lain. Biasanya ada petugas agama yang memimpin ibadat. Tetapi baik peranan mereka maupun partisipasi umat yang lain, amat khusus bagi masing-masing agama. Peraturan ibadat juga amat berbeda-beda. Ada ibadat yang lebih bercorak upacara dengan peraturan yang ketat. Ada juga yang lebih bersifat perayaan dengan warna spontan dan bahkan kharismatis. Semua itu tidak hanya berhubungan dengan sikap batin para peserta, tetapi juga dengan “ajaran” mengenai keselamatan dan ibadat. Ada yang lebih menekankan pengalaman ‘para peserta, ada yang lebih mementingkan pengabdian serta kewajiban.

4. Tempat Ibadat

Ada agama yang di dalamnya arti dan bobot ibadat langsung berhubungan dengan tempat, misalnya pura dalam agama Hindu. Dalam agama Kristen atau Islam, tempat ibadat bersifat sekunder. Orang dapat melakukan ibadat di mana-mana. Namun itu tidak berarti bahwa dengan demikian tempat ibadat tidak dipandang sebagai tempat yang suci. Sebaliknya, karena merupakan tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan, tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang suci. Juga kalau ibadat tidak langsung dikaitkan dengan tempat-tempat tertentu, semua agama mempunyai tempat yang dipandang sebagai “bait Allah”, dalam arti mana pun. Di samping atau di dalam tempat itu, ada banyak hal lain yang dikhususkan juga, dan oleh karena itu dipandang sebagai barang suci pula.

5. Petugas Ibadat

Sebetulnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Tetapi cukup sering urut-urutannya dibalik: petugas dipandang sebagai orang yang mempunyai daya kesucian (atau kesaktian), yang dalam ibadat dibagikan kepada yang lain. Amat kerap tugas ibadat, yang sebetulnya hanya fungsi, dibuat menjadi status, sehingga orang itu diberi tempat dan kehormatan yang istimewa. Oleh karena itu tidak jarang fungsi, dan terutama kuasa petugas itu diperluas meliputi bidang-bidang lain, sehingga dari petugas ia menjadi pemimpin agama dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam hal ini juga ada perbedaan-perbedaan besar antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.