Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan argumen Kebangkitan Yesus Kristus

Setelah adanya tanggapan-tanggapan yang dapat kita beri mengenai argumen-argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus pada halaman-halaman sebelumnya;

1. Kebangkitan Yesus Kristus
2. Arti dari Kebangkitan
3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
7. Tanggapan atas Teori Mitos

maka tidak ada alternatif lain selain pemahaman Kekristenan mengenai kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi yang dapat menjelaskan: keberadaan Injil, asal iman Kristen, kegagalan musuh Kristus untuk memunculkan tubuhnya kembali sebagai bukti bahwa Yesus tidak bangkit, kubur tempat Yesus dimakamkan kosong, batu kuburan Yesus yang berguling jauh, atau mengenai kesaksian penampakan Yesus Kristus setelah kebangkitan. Teori-teori Swoon, Konspirasi, Halusinasi dan Mitos telah terbukti menjadi deretan alternatif yang mencoba menjelaskan kebangkitan Yesus Kristus yang nyata, dan masing-masing teori tersebut telah dibantah dengan penjelasan yang memadai.

Alasan apa yang dapat diberikan pada saat ini bagi siapa saja yang masih menolak untuk percaya? Pada titik ini, keberatan yang muncul lebih bersifat umum daripada keberatan secara khusus. Sebagai contoh :

Keberatan 1 : Sejarah bukanlah ilmu pasti. Sejarah tidak menghasilkan kepastian yang mutlak seperti matematika.

Tanggapan : Ya benar sejarah bukanlah ilmu pasti, tapi mengapa baru sekarang ada yang memberikan penekanan terhadap fakta mengenai sejarah bukanlah ilmu pasti, dan bukan ketika kita berbicara tentang Caesar atau Luther atau George Washington? Sejarah memang tidak tepat, tapi itu sudah cukup. Tidak ada yang meragukan bahwa Caesar menyeberangi Rubicon, mengapa banyak keraguan bahwa Yesus bangkit dari kematian? Bukti yang ada untuk yang Yesus bangkit dari kematian jauh lebih baik daripada untuk bukti dari kisah lainnya seperti Caesar menyeberangi Rubicon.

Keberatan 2 : Kita tidak bisa mempercayai dokumen. Kertas tidak membuktikan apa-apa. Apa pun yang berupa dokumen dapat dipalsukan.

Tanggapan : Keberatan seperti ini hanyalah kebodohan. Tidak mempercayai apa yang dinyatakan dalam dokumen itu seperti tidak mempercayai apa yang ditampilkan oleh teleskop. Bukti tertulis di atas kertas sudah cukup untuk sebagian besar dari apa yang kita percaya, mengapa harus bukti peninggalan dokumen kertas tiba-tiba menjadi yang dipertanyakan di sini?

Keberatan 3 : Karena kebangkitan adalah ajaib, suatu peristiwa mukjizat. Mukjizat adalah inti dari bukti-bukti dalam kisah tersebut yang membuat kisah tersebut menjadi luar biasa.

Tanggapan : Sekarang kita akhirnya memiliki keberatan yang langsung dan terarah – bukan lagi keberatan atas bukti dokumenter, dokumen, atau teks tetapi keberatan atas adanya mukjizat. Keberatan ini merupakan pertanyaan filosofi, bukan ilmiah, bukan pertanyaan sejarah atau tekstual. (akan ada pembahasan lanjut mengenai ini) .

Keberatan 4 : Kebangkitan bukan hanya mukjizat biasa tetapi keajaiban yang sangat khusus dan tidak mudah diterima. Kebangkitan dari kematian adalah peristiwa kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Agama seharusnya lebih mengarah dan bersifat spiritual, bersifat ke dalam, dan etika.

Tanggapan : Jika agama adalah sesuatu yang kita ciptakan, kita bisa membuatnya sesuai dengan yang kita suka. Tetapi jika Agama diciptakan oleh Allah, maka kita harus menerima Agama seperti apa adanya saat kita menemukannya, seperti kita harus menerima alam semesta apa adanya sesuai temuan kita, bukan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Kematian adalah kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Peristiwa Kebangkitan mengimbangi Peristiwa Kematian dimana Kebangkitan dan melampaui Kematian, mengalahkan Kematian, dan mengabstraksikan tentang spiritualitas. Kebangkitan adalah hal yang vulgar sesuai dengan yang dilakukan oleh Allah. Allah juga lah yang membuat lumpur, serangga dan kuku.

Keberatan 5 : Tapi interpretasi harfiah dari kebangkitan mengabaikan dimensi yang mendalam dari makna suatu simbolik, spiritual dan alam mistik yang telah dieksplorasi secara luas dan mendalam oleh agama-agama lain. Mengapa orang Kristen begitu sempit dan eksklusif? Mengapa mereka tidak dapat melihat simbolisme yang mendalam dalam gagasan kebangkitan?

Tanggapan : Orang Kristen dapat melihat simbolisme itu. Namun permasalahannya bukan soal dapat atau tidak-dapat. Kekristenan tidak membatalkan atau meniadakan mitos, melainkan kekristenan mem-validasi mitos, dengan meng-inkarnasikan (inkarnasi tidak sama dengan reinkarnasi, banyak orang yang keliru mengenai ini) mitos. Maka adalah “Mitos menjadi Kenyataan”, seperti judul esai oleh CS Lewis. Mengapa lebih memilih hanya satu lapisan dari suatu kesatuan yang sebenarnya terdiri dari 2 lapisan yang utuh? Mengapa menolak aspek literal-historis atau menolak aspek mistis-simbolis dari peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus? Pihak fundamentalis menolak aspek mistis-simbolis karena mereka telah melihat apa yang telah dilakukan oleh pihak modernis terhadap aspek mitis-simbolis: yaitu menggunakan aspek mistis-simbolis untuk meniadakan aspek literal-historis. Maka muncullah pertanyaan mengapa pihak modernis melakukan itu? Apakah karena menurut mereka ada nasib yang mengerikan menanti mereka jika mereka mengikuti data yang sangat banyak dan berbobot, dan argumen-argumen yang secara alami muncul dari data -data tersebut, seperti yang kita telah dirangkum di sini beberapa tulis sebelum ini?

Sementara jawaban dari pihak modernis tidak jelas, pihak Kristen tradisional sudah mempunyai pegangan, lengkap dengan adorasi Kristus sebagai Tuhan, ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan, ketergantungan pada Kristus sebagai Juru selamat, pengakuan rendah hati akan dosa yang telah mereka perbuat dan upaya yang sungguh-sungguh menghidupi hidup Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya, terlepas dari keinginan duniawi, kebenaran, kekudusan, dan kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan. Bukti sejarah cukup memadai untuk meyakinkan para penanya yang berpikiran terbuka. Dengan analogi dengan peristiwa sejarah lainnya, Kebangkitan  Yesus Kristus memiliki bukti nyata yang sangat kredibel yang menjadi penyokong. Dan bagi orang yang tidak percaya, mereka harus sengaja membuat pengecualian aturan, aturan berstandar ganda untuk digunakan di tempat lain dalam sejarah. Dengan demikian mengapa orang yang tidak percaya ingin melakukan itu?

Bagi orang yang tidak percaya, mereka perlu bertanya kepada diri mereka sendiri; jika mereka berani, dan melihat dan menerima secara jujur ​​dalam hati mereka sebelum mereka menjawab.

Sekian.

Tanggapan atas Teori Konspirasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Tanggapan yang dapat dikemukakan mengenai teori Konspirasi, teori yang menuduh bahwa Kebangkitan Yesus Kristus adalah konspirasi, atau sesuatu yang diatur secara bersama oleh para murid Yesus dengan mengajarkan hal yang tidak sebenarnya kepada orang lain. Berikut adalah tanggapan-tanggapan yang menjelaskan mengapa para murid tidak dapat mengarang, tidak dapat berkonspirasi mengenai peristiwa ini:

  1. Secara psikologi hal konspirasi ini adalah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh para murid, seperti yang dikemukakan oleh seorang matematikawan Blaise Pascal dalam tulisannya The “Pensées”. Dengan beranggapan bahwa para Murid Yesus adalah orang-orang yang tersesat atau yang orang-orang yang menyesatkan, kedua hal tersebut membawa suatu pemikiran yang sulit diterima oleh orang lain untuk membayangkan bahwa seorang manusia telah bangkit dari mati.
    Kalau Yesus masih hidup bersama mereka, mungkin hal ini memungkinkan para murid untuk berwarta dan mengajarkan bahwa Yesus benar bangkit, karena Yesus ada bersama mereka dan dapat menjadi dasar  bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Namun sebaliknya, jika Yesus tidak bersama mereka, siapa dan apakah yang membuat para murid berwarta bahwa Yesus telah bangkit dari mati?
    Pemikiran yang menyudutkan para murid Yesus adalah penipu sebenarnya tidaklah mendasar. Coba ikuti dan bayangkan alur logika, kedua belas orang ini berkumpul setelah kematian Yesus dan berkonspirasi untuk mewartakan bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Hal ini berarti menyerang semua pihak yang berkuasa yang ada, dan bagi para murid hal ini bukanlah perkara yang mudah karena akan mendapat pertentangan yang berat. Dalam pewartaan mengenai kebangkitan Yesus para murid mendapat banyak tekanan, mengingat para murid adalah manusia biasa dan hati mereka rentan terhadap hal yang tidak pasti, terhadap perubahan, terhadap janji, terhadap penyuapan. Seandainya benar hal konspirasi dilakukan oleh para murid, mereka hanya perlu menyangkal pewartaan mereka untuk lari dari tekanan-tekanan pihak lain, dari dorongan/bujukan, dari hukuman penjara, penyiksaan, kematian, dan ancaman kehilangan semua milik mereka.
    Kunci  penentu dari argumen ini adalah fakta sejarah yang tidak mencatat satu pun orang yang mengatakan bahwa warta akan Kebangkitan Yesus Kristus tersebut adalah palsu/hoax, baik dari orang yang kuat atau lemah, santo atau pendosa, Kristen atau penghujat; atau orang yang pernah mengaku secara bebas atau dibawah tekanan, karena disuap atau disiksa. Bahkan ketika para orang-orang yang telah menyerah karena disiksa, orang tersebut akhirnya menyangkal Kristus dan menyembah Kaisar, namun dari orang-orang tersebut tidak pernah didapatkan bahwa Kebangkitan Yesus itu adalah suatu kebohongan atau konspirasi mereka. Karena hal itu dari awal bukanlah kebohongan atau konspirasi. Tidak ada pengikut Kristus (Kristen) yang mempercayai Kebangkitan Yesus adalah konspirasi; jika ada di antara mereka demikian maka mereka tidak akan menjadi Kristen.
  2. Seandainya para murid mengarang semua cerita, mereka haruslah sangat kreatif, cerdas, memiliki intelegensi yang fantastis sepanjang sejarah, jauh melampaui Shakespear atau Dante atau Tolkien. “Cerita nelayan” oleh para murid yang pekerjaan semulanya adalah nelayan ikan tidak pernah seterperinci kisah yang diceritakan di kitab perjanjian baru, tidak menyakinkan, tidak mengubah hidup, mempengaruhi, dan memberikan semangat kepada banyak orang.
  3. Karakter dari setiap para murid sangat keras berpendapat dan hal itu sangat sulit jika dikatakan mereka dapat berkonspirasi, tanpa ada yang membangkang atau melawan. Karakter mereka sederhana, jujur, kampungan, tidak licik, bukan komplotan pembohong. Mereka juga bukan ahli hukum. Ketulusan mereka terbukti dari perkataan dan perbuatan mereka. Mereka mewartakan kebangkitan Yesus Kristus, dan hidup dalam kebangkitan Yesus Kristus. Mereka mau mati demi “konspirasi” mereka (jika itu yang dituduhkan). Kemartiran adalah bukti  dari ketulusan, dan tidak ada bukti yang lebih baik dari kemartiran itu.
    Perubahan dalam hidup para murid dari ketakutan menjadi beriman, dari keputusasaan menjadi percaya-diri, dari kebingungan menjadi pasti, dari pengecut menjadi pemberani yang mantap bertahan walaupun ditekan ancaman dan penyiksaan, bukan hanya membuktikan ketulusan mereka tetapi juga membuktikan kekuatan yang menjadi pendorong mereka. Apakah suatu kebohongan dapat menyebabkan perubahan dalam diri mereka? Apakah kebenaran dan kebaikan dianggap sebagai musuh yang memberikan dampak besar dalam sejarah – yaitu kesucian – berasal dari suatu kebohongan?
    Jika kita bayangkan dan kita nilai dari pandangan kita sendiri, apakah kedua belas orang itu (murid-murid Yesus) yang miskin, selalu dibayangi ketakutan, kebingungan (menurut yang tertulis di kitab) dapat merubah dunia Romawi yang sangat kaku dan keras dengan suatu kebohongan? Hal tersebut sangat sulit diterima.
  4. Tidak ada motif yang melatarbelakangi warta Kebangkitan Yesus Kristus. Kebohongan selalu dikatakan untuk suatu tujuan menguntungkan diri sendiri. Keuntungan apa yang didapat oleh para konspirator, para murid Yesus dengan mewartakan Kebangkitan Yesus Kristus? Yang mereka dapat dari pewartaan itu adalah mereka dibenci, dicemooh, dianiaya, diasingkan, dipenjara, disiksa, dibuang, disalibkan, direbus/dibakar hidup-hidup, dipenggal, dibedah dan dijadikan makanan untuk singa — sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan dari suatu penipuan.
  5. Jika warta Kebangkitan Yesus Kristus adalah kebohongan, orang Yahudi dapat saja menghentikan takhyul yang menghantui mereka dengan mengeluarkan tubuh Yesus dari kubur dan membuktikan Yesus tidak bangkit. Orang Yahudi dapat melakukan ini dengan mudah karena pimpinan Yahudi sepihak dengan tentara Romawi, mereka hanya perlu ke kubur dan bersama dengan tentara Romawi membuka kubur Yesus. Orang Yahudi tidaklah sepihak dengan pengikut Yesus (Kristen). Dan jika ternyata orang Yahudi tidak dapat menemukan tubuh Yesus di kubur karena para murid Yesus yang mencuri, maka muncul pertanyaan bagaimana para murid Yesus melakukannya? Argumen yang menjawab teori Swoon berlaku juga di sini: para murid Yesus yang bukan tentara dan tidak terampil berperang tidak dapat mengalahkan tentara Romawi, atau menggeser batu besar penutup kubur ketika para tentara Romawi tertidur tanpa ketahuan.
  6. Jika Kebangkitan Yesus tersebut adalah kebohongan maka para murid tidak dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus terjadi di Yerusalem – pada rentang waktu yang sama, tempat yang sama, dan penuh dengan saksi mata. Seperti yang dikemukakan oleh penulis William Craig dalam bukunya “Knowing the Truth about the Resurrection“:Teks Perjanjian Baru yang berisikan catatan-catatan ditulis pada selang waktu yang sangat dekat dengan kejadian Kebangkitan Yesus dan secara geografi teks-teks tersebut ditemukan dekat dengan lokasi kejadian, hal tersebut menunjukkan bahwa hampir tidak memungkinkan bahwa teks-teks tersebut adalah hasil karangan kejadian-kejadian tersebut. Fakta menunjukkan bahwa para murid dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus secara terbuka di muka umum, juga di depan orang-orang yang memusuhi mereka setelah Yesus disalibkan (seharusnya jika Yesus tidak bangkit maka para murid akan lari, ketakutan, dan sembunyi dari kejaran orang Yahudi dan tentara Romawi) menunjukkan bahwa apa yang mereka nyatakan adalah benar.
  7. William Craig juga mengemukakan jika benar ada konspirasi mengenai Kebangkitan Yesus Kristus, seharusnya konspirasi tersebut telah terbongkar oleh pihak-pihak yang menentang pewartaan ini, pihak yang mempunyai kepentingan dan kekuasaan untuk menguak semua kebohongan.

Tanggapan atas Teori Swoon (hanya pingsan) terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Berikut adalah 9 (sembilan) tanggapan yang dapat dikemukakan untuk membuktikan teori Swoon tidak benar; teori Swoon yang mengatakan bahwa sebenarnya Yesus Kristus tidaklah mati di kayu salib, hanya pingsan, dengan demikian Yesus Kristus setelah dibawa ke kubur, Dia bangun sadar dan berdiri, bukan bangkit dari mati.

  1. Yesus disalibkan, dan mati di kayu salib, Yesus tidak dapat bertahan hidup pada penyaliban itu.  Prosedur pemerintahan Romawi pada masa itu sangat teliti untuk meniadakan kemungkinan bahwa ada Penyaliban yang gagal. Hukum pemerintahan Romawi bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada setiap prajurit Romawi yang membiarkan atau mengatur pelarian tahanan dalam cara apapun, termasuk kecerobohan dalam mengeksekusi penyaliban. Hal kegagalan/kecorobohan dalam penyaliban oleh prajurit Romawi tidak pernah terjadi.
  2. Fakta bahwa prajurit Romawi yang menyalibkan Yesus tidak mematahkan kakinya Yesus, seperti yang dilakukan kepada dua tahanan lain yang ikut disalibkan di sebelah Yesus (Yohanes 19:31-33), yang berarti bahwa prajurit tersebut yakin Yesus telah mati. Mematahkan kaki tujuannya adalah mempercepat kematian (jika belum mati), agar tubuh tahanan yang telah mati dapat diturunkan dari salib sebelum hari sabat (Yohanes 19:31).
  3. Yohanes, seorang saksi mata, yang memastikan bahwa dia melihat darah dan air mengucur dari lambungnya Yesus (Yohanes 19:34-35). Hal ini menunjukkan bahwa lambungnya Yesus sudah rusak dan Yesus telah mati dengan sesak nafas. Ahli medis dapat mengkonfirmasikan situasi keadaan itu dari gambaran keadaan tubuh Yesus.
  4. Seluruh Tubuh Yesus terbungkus rapi di dalam lilitan kain kafan dan dimakamkan (Yohanes 19:38-42).
  5. Penampakan Yesus setelah Kebangkitan kepada murid-murid, termasuk “Tomas yang tidak percaya”, menyakinkan kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit dan hidup dalam kemuliaan (Yohanes 20:19-29). Secara psikologi tidak mungkin para murid berubah dari takut menjadi pemberani dan percaya diri mewartakan Kebangkitan Yesus jika Yesus yang hadir di depan mereka harus berjuang keluar dari kubur setelah sadar dari pingsan, dan penuh dengan luka bekas penyiksaan penyaliban yang seharusnya membutuhkan pertolongan dokter untuk mengobati.
  6. Bagaimana mungkin prajurit Romawi yang menjaga kubur dapat dikalahkan oleh seseorang yang baru sadar dari pingsan? Atau bagaimana mungkin prajurit Romawi tersebut dapat dikalahkan oleh para murid yang tidak bersenjata. Dan jika diandaikan para murid benar melakukan penyerangan terhadap prajurit Romawi maka para murid telah melakukan penipuan ketika mereka menuliskan kitab, dan kita akan mengarahkan ke teori konspirasi (teori 4), yang akan dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  7. Bagaimana mungkin Yesus yang dianggap baru sadar dari pingsan seorang diri dapat menggeser batu di depan kubur? Siapakah yang dapat menggesernya jika bukan malaikat? Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu. Baik dari pihak Yahudi maupun pihak prajurit Romawi tidak ada yang mau menggeser batu penutup kubur, karena kedua pihak tersebut hanya menginginkan agar kubur itu tetap tertutup; bagi Yahudi seharusnya batu tersebut tetap terletak di sana tidak bergeser, dan bagi prajurit Romawi hukuman mati menanti apabila mereka membiarkan orang yang dihukum “melarikan diri”.
    Cerita yang beredar di kalangan Yahudi, mengatakan bahwa para prajurit Romawi yang menjaga kubur lalai dan ketiduran, dan kemudian para murid datang mencuri tubuh Yesus keluar dari kubur (Matius 28:11-15); cerita tersebut tidak dapat dipercaya. Prajurit Romawi tidak akan lalai dan ketiduran ketika diberi tugas penting seperti menjaga kubur; dan jikapun mereka benar lalai dan tertidur mereka akan kehilangan nyawa mereka. Dan jika pun benar para prajurit Romawi yang menjaga tertidur saat itu, suara berisik dari para murid yang berusaha menggeser batu pasti kedengaran jelas dan membangunkan para prajurit Romawi tersebut. Dan ini mengarahkan ke teori konspirasi juga (teori 4), yang akan  dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  8. Jika Yesus sadar dan bangun dari pingsan, kemana Dia pergi? Karena dengan logika: Yesus dengan tubuh hidup yang sama sebelum disalibkan, bukan tubuh yang mati, bagaimana mungkin bisa menghilang? Tidak satu pun data yang memberikan informasi keberadaan tubuh Yesus setelah disalibkan dan dikubur, baik data dari sepihak atau pun dari pihak yang berseberangan. Bagi seorang tokoh masyarakat yang penting pada masa itu, dengan sejarah perjalanan yang sangat menyedot perhatian banyak pihak, pasti akan meninggalkan jejak yang dapat ditemukan.
  9. Singkatnya, teori Swoon (Pingsan) kesannya beralih menjadi teori konspirasi atau teori halusinasi, karena adanya fakta kesaksian dari para murid Yesus yang membenarkan bahwa Yesus bukan pingsan, melainkan Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit.

Dari kesembilan tanggapan di atas sepertinya melanggar prinsip awal yaitu untuk tidak melakukan asumsi bahwa teks pada kitab menceritakan hal yang sebenarnya, karena kita berargumen berdasarkan data yang ada di teks kitab. Tetapi teori Swoon tidak membenarkan atau menyalahkan cerita yang termuat di dalam teks kitab; teori Swoon hanya menggunakan data tersebut dan menjelaskan (dengan menekankan ‘pingsan’ daripada kebangkitan). Dengan demikian tanggapan kita juga menggunakan teks tersebut.

Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 1 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Empat bantahan dari Fundamentalis

Bantahan 1:

Sepertinya, Allah terlalu liberal.

Tanggapan: Allah tidak mungkin terlalu liberal. Allah memang maha pengasih, memberikan ruang kebebasan bagi manusia namun bagaimana pun juga Allah berkehendak, dan kehendak Allah adalah Kebenaran. Kasih Allah dan Kebenaran Allah tidaklah terbatas dan tidak mengenal kompromi.

Bantahan 2:

Dengan mengatakan bahwa kaum/penganut pagan dapat diselamatkan tanpa menjadi Kristen, berarti bertolak belakang dengan Kitab Suci.

Tanggapan: Penganut pagan tidak dapat diselamatkan dengan penyembahan berhala, melainkan hanya dapat diselamatkan oleh Kristus.

Jika yang dimaksud dengan”pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang menerima Kristus yang sebenarnya (Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga), Yesus Kristus yang Objektif, maka benar bahwa satu-satunya jalan agar diselamatkan adalah menjadi pengikut Yesus. Dan untuk kasus si Socrates, kita tidak mengetahui ada bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Socrates itu adalah bukan pengikut (dalam arti segala jaman) Kristus.

Di lain sisi, jika yang dimaksud “pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang harus memiliki pengetahuan untuk menganut keimanan ortodoks akan Yesus, maka kita tidak harus menjadi seorang Kristen agar dapat diselamatkan, karena jika menjadi suatu keharusan maka Abraham tidak dapat diselamatkan, dan begitu juga semua generasi sebelum Yesus (Yesus yang mulai dikenal sejak dilahirkan oleh Maria) akan tidak dapat diselamatkan karena mempercayai keyakinan yang tidak ortodoks. Keyakinan yang tidak ortodoks yang bagaimana yang akan menyebabkan kita terjatuh ke Neraka? Dimana dapat dilihat batasan jelas antara keyakinan yang ortodoks dan keyakinan yang tidak ortodoks? Allah tidak mengajukan ujian teologi kepada kita agar masuk surga atau jatuh ke neraka?

Bantahan 3:

Dengan mengatakan penganut pagan dapat diselamatkan berarti mengarahkan ketidakpedulian, dan oleh karena itu sepertinya pewartaan Injil tidaklah terlalu penting karena tidak membawa perubahan.

Tanggapan: Tidak benar seperti itu. Baca kembali tentang pembahasan tiga alasan yang mendorong misi pewartaan Injil.

Bantahan 4:

Jika Allah menyelamatkan Socrates, kenapa tidak menyelamatkan orang lain juga? Apakah ada batasan bagi Allah berhenti menyelamatkan manusia? Apakah ada kondisi tertentu bagi Allah untuk menyelamatkan manusia? Tidak ada batasan yang jelas dan tegas. Tapi kalau ukurannya adalah agar diselamatkan harus menjadi Kristen, batasan itu terlihat jelas.

Jawaban: Tidak ada kondisi, syarat, atau batasan bagi Allah untuk berhenti untuk menyelamatkan Manusia. Allah mau menyelamatkan semua orang, walaupun tidak semua orang mau diselamatkan. Batasan objektif dapat dilihat jelas antara orang yang “mau” dan “tidak mau” diselamatkan yaitu menerima Kristus (Yesus Kristus yang Objektif: Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga). Sedangkan batasan subjektif (berdasarkan penilai manusia) tidak dapat dilihat dengan jelas dengan mengukur seberapa eksplisitnya, seberapa lengkapnya imannya seseorang agar dapat diselamatkan. Dan bagi kita manusia batasan itu tidak menjadi keharusan menjadi jelas untuk kita. Hanya Allah yang dapat menilai hati seseorang.