Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Ketika kita menyatakan SYAHADAT (Aku Percaya)

This slideshow could not be started. Try refreshing the page or viewing it in another browser.

Ketika kita menyatakan SYAHADAT,
Apakah kita menyatakan dengan sungguh-sungguh?
Atau kah kita hanya berkata-kata seperti sebuah Robot?
Apakah benar kita mengetahui apa yang kita nyatakan?

Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
lalu apa artinya bagi kita?!

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu Baik!
TETAPI setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”
Yakobus 2:19

Ada perbedaan yang SANGAT BESAR antara percaya bahwa Allah itu ada, dan percaya di dalam Allah.
Iman yang bagaimanakah kamu miliki?

Aku percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus
Putra Allah yang tunggal.
Kamu percaya dengan apa yang telah DIA lakukan untuk keselamatan kita…

 

DIA turun dari surga
DIA menderita sampai wafat dan dimakamkan
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia
pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati
Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus
yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa
Ia akan kembali dengan mulia

…tetapi apakah kita menyadari MENGAPA Yesus menyelamatkan kita dari dosa-dosa yang kita miliki dan memberikan kita sebuah hidup yang baru?

“DIA mengasihi orang-orang yang menjadi milik-Nya di dunia, dan Ia tetap mengasihi mereka sampai penghabisan.”
Yohanes 13:1

“Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal…”
Yohanes 3:16

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15:13

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita…”
1 Yohanes 3:1

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Roma 5:8

“Allah adalah kasih”
1 Yohanes 4:16

Aku percaya akan Roh Kudus
DIA Tuhan yang menghidupkan
namun apakah kamu mengira bahwa ROH KUDUS ada di suatu tempat di luar sana?
ataukah ROH KUDUS ada di dalam hati kita?

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,
Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
1korintus 6:19

“…Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.”
1Korintus 3:17

Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, Katolik, & Apostolik.
GEREJA adalah lebih dari sebuah bangunan.
GEREJA adalah orang-orang milik Allah, Tubuh dari Kristus.

Banyak martir yang telah mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan Syahadat ini.
Syahadat ini lebih dari sebuah proklamasi.
Syahadat ini merupakan DOA yang diserukan oleh para martir dengan penuh iman.
Syahadat ini merupakan DOA yang diserukan oleh orang yang menyesali dosanya dan menemukan harapan mereka.

Di dalam Syahadat inilah kita diingatkan bahwa ALLAH menyatakan kasih-Nya.
oleh karena itu, ketika kita menyatakan Syahadat… Janganlah hanya berkata-kata seperti sebuah Robot.
nyatakanlah dengan SUNGGUH.
jangan hanya dengan mengatakan…,
tetapi; DOA-kan, Cintai, dan Hidupkan SYAHADAT itu.

Gereja Masih Selalu dalam Perjalanan

Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan menuju Kerajaan Allah. Gereja masih dalam perjalanan. Penyadaran akan aspek historis Gereja ini perlu supaya kita bisa lebih bersifat terbuka dan rendah hati. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami jatuh bangun dan berjuang bersama semua manusia yang berkehendak baik membangun Kerajaan Allah itu. Gereja belumlah sempurna. Maka, “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga” (LG 48). Sekarang ini “kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm 8:24). Oleh karena itu dalam syahadat panjang dikatakan: “Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat”. “Menantikan” tidak berarti bahwa kita masih ragu-ragu. Rumus dalam syahadat pendek menjelaskan hal itu.

Aku percaya akan
Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.

Iman akan Roh Kudus, akan Gereja dan akan akhirat dijadikan satu. Dasar pengharapan kita bukanlah keinginan khayal, melainkan karya Roh dalam Gereja, dan kesadaran bahwa apa yang ada sekarang masih bersifat sementara: “Sekarang kita melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (1Kor 13:12), dan iman bahwa “Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11).

Karya keselamatan Allah berjalan terus, sampai kepada kepenuhannya. Mulai dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kemudian perutusan Roh Kudus, pembentukan Gereja, dan akhirnya “kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat”. Allah tidak mengingkari janji. “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:24). Menantikan hidup di akhirat tidak lain dari “menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13). Menantikan akhirat berarti mengharapkan kepenuhan karya penyelamatan.

Aku Percaya akan Gereja

Seperti dalam bagian-bagian yang lain, tema Gereja juga direnungkan berpangkal pada syahadat. Misteri Gereja berhubungan langsung dengan misteri Allah sendiri, khususnya dengan pengutusan Roh Kudus. Dalam kerangka itu, perlu diperhatikan juga perbedaan yang cukup besar antara syahadat pendek dan syahadat panjang.

Syahadat Pendek

Syahadat Panjang

Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja (Katolik) yang kudus
Dan [aku percaya] akan Roh Kudus, …
[aku percaya] akan Gereja, yang satu,
kudus, Katolik, dan apostolik,
persekutuan para kudus,
Aku mengakui satu pembaptisan;
pengampunan dosa
kebangkitan badan,
kehidupan kekal
akan penghapusan dosa
Aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.

Yang paling penting dalam syahadat itu Gereja tidak disebut tersendiri, tetapi dalam hubungan langsung dengan Roh Kudus. Memang di kemudian hari ada yang merasa perlu dengan tajam membedakan iman akan ketiga pribadi ilahi dan kepercayaan akan Gereja. Bagaimanapun juga, rumusan asli tetap dipertahankan sebab Gereja hanya mempunyai arti kalau dilihat sebagai karya Roh. Tanpa Roh, Gereja hanyalah organisasi manusia biasa. Yang membuat kumpulan ini menjadi “Gereja” adalah kegiatan Roh di dalamnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan, “Aku percaya akan Gereja”.

Dalam syahadat yang paling kuno, Gereja belum disebut. Baru sejak abad ke-2 mulai menjadi biasa menyebut Gereja. Di Barat (Roma) dikatakan, “Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja yang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan”, serupa dengan “syahadat pendek” sekarang. Di Timur (Yerusalem) rumusannya lebih panjang dan juga berbeda, “Gereja yang satu, kudus, Katolik”. Syahadat Nisea-Konstantinopel (syahadat panjang, 381) masih menambahkan “apostolik”, Syahadat Konsili Nisea sendiri (325) berakhir dengan “dan akan Roh Kudus”; tidak ada tambahan pada Roh Kudus itu dan juga tidak ada apa-apa sesudahnya, Gereja belum disebut. Dalam “syahadat pendek” di kemudian hari juga dimasukkan “Katolik” dan ditambahkan “persekutuan para kudus”.
Kata “aku percaya” dalam syahadat panjang sebetulnya hanya ada pada awal: “Aku percaya akan satu Allah”; diulangi lagi di sini demi jelasnya terjemahan, tetapi ditempatkan di antara [ ].

Bangkit pada Hari yang Ketiga

Syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, selanjutnya menyatakan bahwa Kristus yang wafat dan dimakamkan, “bangkit pada hari yang ketiga”. Syahadat pendek masih menambahkan keterangan “dari antara orang mati”; dan dalam syahadat panjang dikatakan, “menurut Kitab Suci”. Dalam 1Kor 15:4 ditulis, “Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab-kitab Suci”. Jelaslah, bahwa yang dimaksudkan dalam semua teks itu, yakni bahwa Kristus bangkit, tetapi rumusannya sedikit berbeda-beda. Perbedaan itu perlu diperhatikan. Titik pangkal adalah 1Kor 15:4 “Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab-kitab suci”. Telah dijelaskan arti “sesuai dengan Kitab-kitab Suci”, yakni “sesuai dengan karya atau rencana keselamatan Allah”. Tetapi yang tetap menjadi pertanyaan, ialah arti “pada hari yang ketiga”. Kiranya kata-kata itu sebagai keterangan waktu kurang cocok dengan paralelnya pada wafat Yesus “karena dosa-dosa kita”, yang terang mempunyai arti teologis. Apakah “pada hari yang ketiga” juga mempunyai arti teologis?

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.

Tradisi

Kita akan bertitik tolak dari syahadat, baik yang singkat maupun yang panjang, yang merumuskan secara padat hasil refleksi umat Kristen pada masa-masa awal berdirinya Gereja.

Syahadat Singkat

Syahadat Panjang

Dan akan Yesus Kristus,Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus,Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar.

Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,

yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus;disalibkan, wafat, dan dimakamkan;

yang turun ke tempat penantian,

dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria; menjadi manusia dan disalibkan untuk kita waktu Ponsius Pilatus. Ia wafat, kesengsaraan, dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit dari. antara orang mati; Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
yang naik ke surga, duduk dl sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati.Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Dari perbandingan antara kedua rumus ini langsung kelihatan bahwa kedua syahadat berbeda. Syahadat Konsili Nisea-Konstantinopel memang berbeda dan jauh lebih panjang. Perbedaan itu menyangkut terutama pasal yang pertama. Yang lain juga berbeda rumusannya, tetapi isinya kurang lebih sama. Kelima pasal terakhir merumuskan peristiwa pokok hidup dan karya Yesus, yakni (1) kelahiran-Nya; (2) sengsara dan wafat; (3) kebangkitan; (4) kenaikan ke surga; dan (5) kedatangan kembali pada akhir zaman. Perbedaan dalam rumusan tidak menyangkut peristiwa-peristiwa itu sendiri. Tambahan seperti “menjadi manusia” atau “kerajaan-Nya takkan berakhir” tidak mengubah isi pokok. Lain halnya dengan tambahan pada pasal yang pertama. Maka pasal itu perlu diberi perhatian khusus.

Pasal pertama syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, sejajar dengan pasal mengenai Allah:

Aku percaya

akan [satu] Allah, Bapa yang maha kuasa, pencipta langit dan bumi, dan akan [satu] Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.

Allah dan Yesus Kristus disebut bersama-sama dalam rumus iman Gereja. Rumus ini, lebih-lebih kalau ditambahkan kata “satu”, amat mirip dengan rumusan 1Kor 8:6:

“Bagi kita (ada)

satu Allah, Bapa, yang dari pada-Nya (berasal) segala-galanya dan kita

menuju Dia, dan

satu Tuhan, Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala-galanya

(dijadikan) dan kita (hidup) oleh Dia.”

Bapa disebut “Allah” sedangkan Yesus “Tuhan”. Kedua kata itu tidak tepat sama. Dalam tulisan St. Paulus Tuhan berarti ”Yang Mulia” dan sebetulnya bukan Allah.

Dalam PB kata “Tuhan” dipakai untuk Allah sendiri hanya dalam kutipan dari PL, mis. Mat 4:7.10 dsj.; 22:37 dsj.; Mrk 12:29; Luk 1:16.32.68; 20:37; Kis 2:39; 3:22; kecuali dalam Kitab Wahyu: 1:8; 4:8.11; 11:17; 15:3; 16:7; 18:8; 19:6;21:22; 22:5.6, yang barangkali berusaha memakai bahasa yang serupa dengan bahasa PL (terutama dalam syair-syair). Dalam hal ini bahasa Kitab Suci (PB) berbeda dengan bahasa yang lazim dipakai.

Syahadat pendek yang lebih tua kurang lebih masih sama rumusannya dengan Kitab Suci. Tetapi syahadat panjang menambahkan keterangan panjang, dan rupa-rupanya dalam tambahan itu “Tuhan” dan “Allah” disamakan: sehakikat dengan Bapa. Kata Yunani homoousios juga dapat diterjemahkan dengan sama-hakikat. Mana terjemahan yang tepat? Untuk itu harus diketahui lebih dahulu maksud Konsili yang merumuskannya dan perlu diperhatikan latar belakang sejarahnya, sebab rumusan keterangan baru ditambahkan hampir 300 tahun sesudah surat-surat St. Paulus ditulis. Dalam kurun waktu tiga abad ada banyak diskusi dan perbedaan pendapat mengenai arti Kitab Suci.

Ada banyak diskusi terutama mengenai arti “Anak Allah”, lebih-lebih ketika agama Kristen bertemu dengan filsafat Yunani. Sudah sejak zaman St. Paulus, Injil diwartakan di dunia helenis (Yunani). Dan St. Paulus sudah mengalami bahwa kata-katanya tidak selalu dimengerti dengan baik (lih. mis. 1Kor). Begitu juga dalam tahun-tahun berikut ada banyak tulisan (terutama yang disebut apokrif) yang tidak memberi gambaran yang seratus persen tepat mengenai Yesus. Pimpinan Gereja biasanya mampu dan siap mengoreksi rumusan-rumusan yang kurang tepat itu. Tetapi ketika mulai dikonfrontasikan dengan para ahli filsafat dan pemikir Yunani, muncul diskusi di kalangan orang Kristen sendiri mengenai rumusan yang tepat.

Orang Kristen harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat Yunani yang tidak selalu mudah. Kata St. Hipolitus (170-236) kepada mereka, “Kami pun menyembah hanya satu. Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Kami berpendapat bahwa Kristus Anak Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Dia menderita dengan cara Dia, wafat dengan cara Dia, dan bangkit pada hari ketiga serta naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa, dan Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Dan itu kami akui sebagaimana “kami diajari”.

Semua orang mengetahui bahwa istilah “Bapa” dan “Anak” kalau dipakai bagi Allah artinya tidak sama seperti kalau dipakai untuk manusia, karena Allah memang lain daripada manusia. Tetapi tidaklah mudah merumuskan hubungan itu dengan tepat. Sementara orang, antara lain seorang imam dari Aleksandria yang bernama Arius, mengambil alih dari filsafat Yunani gagasan bahwa di dalam Allah, khususnya dalam hubungan Allah dengan dunia, ada tingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Allah dalam arti yang penuh dan utuh, di bawahnya ada aneka tingkat dewa dan ilah yang kurang sempurna bila dibandingkan dengan Dia. Gagasan ini oleh Arius diterapkan pada hubungan Kristus dengan Bapa. Arius berkata bahwa Bapa adalah Allah dalam arti penuh, tetapi Sabda hanya makhluk ciptaan saja, biarpun yang paling sempurna. Gagasan Arius ini mengundang reaksi negatif yang hebat sekali. Pada tahun 319 di kota Aleksandria sendiri Arius dan tiga belas orang pengikutnya secara resmi dan tegas dikucilkan dari Gereja dan ajarannya dilarang. Keputusan yang sama diambil oleh suatu sinode di kota Antiokhia. Akhirnya, pada Konsili Nisea (325) ajaran Arius ditolak atas nama seluruh Gereja. Rupa-rupanya dengan demikian soal Arius belum teratasi sepenuhnya. Maka dikemudian hari keputusan Nisea ditegaskan sekali lagi oleh Konsili umum di Konstantinopel (381). Rumusan Konsili itulah yang disebut syahadat panjang.

Arius mengajarkan bahwa Sabda diciptakan. Konsili Nisea (dan Konstantinopel) menangkis: Sabda “bukan dijadikan”, jadi bukan ciptaan, melainkan Ia “sehakikat dengan Bapa”. Ia tidak berada di pihak makhluk, tetapi di pihak Pencipta: “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar”. Kata-kata yang pertama mungkin masih bisa disetujui oleh Arius. Kata “dari Allah”, dan “dari terang” kiranya juga dapat dipakai untuk Sabda sebagai makhluk yang pertama dan utama. Tetapi “Allah benar” sungguh bertentangan dengan ajaran Arius dan tidak disetujuinya. Arius berpendapat bahwa Sabda diciptakan oleh Allah. Itu ditolak oleh Konsili, sebab Sabda bukan ciptaan seperti makhluk-makhluk yang lain.

Dari pihak lain para uskup konsili sadar juga bahwa Anak tidak sama dengan Bapa. Maka dikatakan bahwa “Ia lahir dari Bapa”. Ia memang “bukan dijadikan”, tetapi “dilahirkan”. Dengan tegas Konsili Nisea menyatakan, “Ada orang (yaitu Arius) yang mengatakan, bahwa Ia pernah tidak ada, atau sebelum dilahirkan tidak ada, dan Ia dibuat dari yang belum ada, atau dari bahan atau kodrat lain. Ajaran bahwa Anak Allah dapat diubah atau dibuat lain ditolak mentah-mentah oleh Gereja Katolik dan apostolik”. Ajaran itulah yang mau dilawan dengan istilah homoousios, ‘sehakikat dengan Bapa’. Sementara itu, para bapa konsili juga tidak mengetahui bagaimana hal itu harus dimengerti. Pada pertemuan di Antiokhia beberapa bulan sebelumnya, mereka menegaskan: “dilahirkan dengan cara yang tidak dapat dikatakan atau dilukiskan, sebab yang mengetahui hanyalah Bapa yang melahirkan dan Anak yang dilahirkan, karena ‘tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak’ (Mat 11:27)”.

Eusebius dari Kaisarea (260-340): yang menghadiri Konsili Nisea, memberikan keterangan ini: “Kata-kata ‘Anak sehakikat dengan Bapa’ kalau diselidiki betul-betul ternyata sungguh tepat, bukan dalam arti sebuah badan atau serupa dengan binatang yang fana, juga tidak dengan membagi atau memotong hakikat, juga tidak dengan membuat hakikat Bapa berubah atau menjadi lain; sebab hakikat Bapa yang tidak dilahirkan bebas dari semua itu. Tetapi kata -kata ‘sehakikat dengan Bapa’ berarti bahwa Anak Allah tidak serupa dengan makhluk-makhluk yang diciptakan, melainkan dalam segala hal sama seperti Bapa yang melahirkan-Nya, dan tidak mempunyai hypostasis atau ousia (hakikat) yang lain daripada Bapa. Begitu juga tepat kata ‘dilahirkan, bukan dijadikan’, sebab ‘dijadikan’ dikatakan mengenai segala mahluk lain yang diciptakan oleh Anak; dan Anak sama sekali tidak serupa dengan mereka, sebab Ia tidak diciptakan seperti makhluk-makhluk itu yang diciptakan oleh-Nya; dan bagaimana Ia ‘dilahirkan’ tidak dapat dikatakan atau dilukiskan oleh apa saja yang diciptakan”.

Kalau begitu, mengapa mereka mengatakannya? Karena “Kitab Suci mengatakan bahwa Anak sungguh dan sebenar-benarnya dilahirkan”. Konsili hanya mau menegaskan ajaran Kitab Suci. Namun ajaran itu hendak dirumuskannya dalam rumusan filsafat Yunani sebagai jawaban terhadap ajaran Arius, yang dipandang sebagai penyeleweng, sebab ia memisahkan Yesus dari Allah. Kalau Yesus bukan satu dengan Allah, bagaimana Ia dapat menjadi wahyu Allah? Yesus tidak datang membawa sebuah buku, seperti Musa dan nabi-nabi yang lain. Sabda Yesus sendiri adalah wahyu dari Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27). Yesus adalah Pengantara antara Allah dan manusia. Itu tidak mungkin, kalau Yesus tidak sungguh-sungguh dari Allah.

Dalam syahadat Nisea-Konstantinopel ditekankan keallahan Kristus. Dengan demikian langsung timbul masalah baru: Ada orang yang tidak mengakui kemanusiaan Kristus. Kesulitan itu sebetulnya sudah mulai dengan Arius: Sabda, yang adalah makhluk sendiri, menggantikan jiwa manusia dalam Yesus. Pandangan itu juga diyakini oleh orang lain, misalnya Apolinarius.

Sesudah Konsili Nisea, diakui bahwa dari satu pihak Sabda sungguh ilahi, tetapi dari pihak lain tetap disangkal bahwa Yesus punya jiwa manusia. Dengan demikian Yesus sungguh Allah, tetapi tidak sungguh manusia. Sering kali kurang jelas apa yang dimaksudkan orang-orang itu. Ada yang berkata bahwa dalam Kristus hanya ada satu kodrat; orang itu disebut “monofisit” (monos = satu; physis = kodrat). Orang lain dengan tegas mau membedakan kemanusiaan Kristus dari keallahan-Nya. Sampai-sampai Maria tidak mau disebut “Bunda Allah”, tetapi “Bunda Kristus” saja, sebab Maria hanya melahirkan manusia, bukan Allah. Heboh lagi!

Yang menekankan kesatuan dalam Kristus, antara lain St. Sirilus, uskup-agung Aleksandria (380-444). Lawannya adalah Nestorius, uskup-agung Konstantinopel (381-451). Dia dengan tegas menonjolkan perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan dalam Kristus, sampai memisahkannya. Dalam perselisihan antara kedua tokoh ini tidak hanya paus dan kaisar yang terlibat, tetapi juga hampir seluruh Gereja. Akhirnya, Konsili Efesus (431) mendukung pendapat Sirilus, bahwa “dari Santa Perawan tidak dilahirkan dahulu seorang manusia biasa, yang kemudian dimasuki oleh Sabda; tetapi (yang ilahi dan insani) dipersatukan sejak kandungan ibu-Nya, kemudian Ia mengalami kelahiran sebagai manusia.” Oleh karena itu Konsili “berani menyatakan bahwa Santa Perawan adalah Bunda Allah”.

Dengan demikian, Konsili Efesus sebenarnya hanya menegaskan syahadat Nisea-Konstantinopel: Juga dalam kemanusiaan-Nya Kristus harus disebut ilahi. Dalam diri Kristus keallahan dan kemanusiaan menjadi satu. Bagaimana keallahan dan kemanusiaan dipersatukan, itu tidak dijelaskan. Oleh karena itu, orang belum puas dengan Konsili Efesus.

Dua puluh tahun kemudian Konsili Kalsedon (451) merumuskannya sebagai berikut: “Perbedaan antara kedua kodrat (ilahi dan insani) tidak ditiadakan oleh kesatuan, sebaliknya kekhasan masing-masing kodrat dipertahankan dan bertemu dalam satu pribadi dan satu hypostasis (yang berdikari); jadi tidak dibagi atau dipisahkan menjadi dua pribadi, tetapi yang satu dan sama adalah Sabda, Anak Tunggal, Allah, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan oleh para nabi sejak semula mengenai Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan kepada kita, dan diteruskan kepada kita oleh syahadat para bapa”.

Akhirnya, Konsili Kalsedon berhasil merumuskan iman Kristen dalam istilah-istilah filsafat Yunani. Dalam pertemuan antara agama Kristen dan kebudayaan Yunani perumusan filosofis itu perlu dan tidak dapat dihindari. Namun dengan demikian isi iman Kristen tidak menjadi lebih jelas. Kesaksian iman para Rasul yang disampaikan dalam kata-kata sederhana, sekarang dirumuskan dalam bentuk rumus padat dan peraturan tegas, serta dengan refleksi teologis yang ilmiah. Maka Kalsedon terpaksa memakai kata “kodrat” dan “pribadi” serta hypostasis yang sulit diterjemahkan.

Soal pokok sebenarnya terletak pada bahasa. Yang sesungguhnya mau dikatakan hanyalah, bahwa keallahan Kristus tidak sama dengan kemanusiaan-Nya: Kristus mempunyai dua “kodrat”, yang ilahi dan yang insani. Sebagai Allah Ia tidak dapat menderita dan mati; sebagai manusia sesungguhnya Ia tidak dapat membuat mukjizat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa ada dua Kristus, satu ilahi dan satu insani. Kalau ditanya siapa Dia sebetulnya, maka jawabannya hanya satu: Anak Allah. Tetapi justru Anak Allah itu lahir di dunia sebagai anak Maria. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara yang ilahi dan yang insani, sehingga dengan demikian Anak Allah itu tetap sama dengan anak Maria. Terhadap pertanyaan “Yesus itu apa?” jawabnya adalah memang ada dua kodrat ilahi dan insani. Terhadap pertanyaan “Yesus itu siapa?” jawabnya adalah hanya ada satu pribadi, yakni pribadi Anak Allah. Rumusan Konsili tegas, meski tidak sangat jelas.

“Kodrat” berarti sesuatu seperti identitas, kekhasan, sifatnya yang khusus. Tetapi bukan identitas pribadi, sebab kodrat tidak berdikari. Kodrat menjadi konkret dalam pribadi atau hypostasis, yang berarti “sesuatu yang berdiri sendiri”. Keunikannya dirumuskan dengan kata “pribadi”, yang dalam bahasa Yunani sebetulnya berarti “topeng”, sebab dalam pribadi kodrat menampilkan diri.

Kekurangan yang paling mencolok dalam rumusan ini, ialah sifatnya yang abstrak. Tidak terasa lagi kenyataan hidup Yesus, yang penuh kegiatan dan ketegangan, yang bisa diraba dan dirasa. Sejarah keselamatan hilang. Kalsedon sebenarnya hanya merumuskan inti misteri penjelmaan, bahwa “Sabda menjadi daging” (Yoh 1:14). Tetapi bagaimana semua itu terjadi dan berkembang, tidak dikatakan. Rumusan Kalsedon dapat memberi kesan bahwa Yesus terus-menerus pindah dari satu kodrat ke dalam kodrat yang lain, seolah-olah yang ilahi berdiri di samping yang insani. Padahal “kodrat” hanya mau mengatakan bahwa Kristus sekaligus Allah dan manusia. Allah dan manusia tidak dapat dijumlah, karena tidak sejenis. Tetapi kalau Allah dan manusia menjadi satu, khususnya dalam pribadi Sabda, maka di dalam kepribadian Kristus tidak hanya ada keallahan, tetapi juga kemanusiaan. Rumusnya kurang jelas. “Allah yang tak terbatas dan tak terukur tidak dapat dimengerti atau diterangkan dengan beberapa kata saja dalam bahasa manusia”, kata St. Hilarius (315″367).

Konsili berkata bahwa Yesus yang adalah Anak Allah juga anak Maria. Kiranya hal itu juga dapat dibalik: Yesus yang adalah anak Maria juga Anak Allah. Yesus adalah seorang manusia, tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam hati; bukan hanya secara kodrat, tetapi seluruhnya. Sebetulnya semua itu lebih jelas dirumuskan di dalam Kitab Suci. Oleh sebab itu, guna memahami rumus Kalsedon dengan sepenuhnya, rumusan itu perlu dihubungkan dengan Kitab Suci. St. Hilarius juga berkata, bahwa sebelum ia mendengar mengenai istilah “homoousios” (sehakikat) “Injil-Injil dan para Rasul sudah mengajarkannya kepadaku”. Istilahnya memang baru, tetapi maksudnya sama dengan yang diajarkan oleh Kitab Suci. Dari pihak lain, St. Hilarius menegaskan bahwa istilah-istilah itu memang perlu dan tidak dapat dihindari dalam dialog dengan kaum bidaah zaman itu:

“Kejahatan kaum bidaah dan penghujat memaksa kita membuat sesuatu yang sebetulnya tidak tepat: mencari hal-hal yang terlampau tinggi, bicara mengenai hal-hal yang tak dapat dikatakan, dan memasuki bidang yang bukan bidang kita. Seharusnya kita menjalankan dengan iman saja apa yang diperintahkan, yakni menyembah Bapa, menghormati Anak bersama Dia, dan berlimpah-limpah dengan (rahmat) Roh Kudus; namun terpaksa kita meluaskan pembicaraan kita yang sederhana ini sampai kepada hal-hal yang tak dapat dikatakan; karena kesalahan orang lain (kaum Arian) kita terpaksa bersalah dan apa yang seharusnya disimpan dalam renungan budi kita, sekarang diserahkan kepada bahaya pembicaraan manusia.”

Hasilnya memang tidak memuaskan seluruhnya. “Tetapi,” kata St. Hilarius, “kalau dirasa perlu menambahkan suatu keterangan, hendaklah dibicarakan bersama”. Yang mengikat bukan rumus, melainkan iman yang diungkapkan di dalamnya.

Kata-kata “sehakikat dengan Bapa” tidak ada dalam Kitab Suci, baru dirumuskan berabad-abad kemudian. Kata “Allah” juga jarang dipakai untuk Yesus. Yang ada “Anak Allah” dan kata itu pun belum tentu tepat sama artinya dengan “dilahirkan dari Bapa”. Tiga kali. Yesus dengan jelas disebut “Allah” dalam Perjanjian Baru:

Yoh 1:1 Firman itu Allah.
Yoh 20:28 Tomas menjawab: Ya Tuhanku dan Allahku.
Ibr 1:8 Tentang Anak-Nya [Allah] berkata: Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.

Masih ada sembilan teks lain, yakni Yoh 1:18; Kis 20:28; Rm 9:5; Gal 2:20; Kol 2:2; 2Tes 1:12; Tit 2:13; 2Ptr 1:1; 1Yoh 5:20. Tetapi teks-teks ini tidak seluruhnya jelas, entah karena keadaan naskah aslinya, entah karena kalimat Yunani sulit dimengerti dan dapat diartikan secara lain.

Dari ayat-ayat itu jelas bahwa Gereja perdana memakai kata “Allah” bagi Yesus. Tidak ada teks Kitab Suci yang memperlihatkan bahwa Yesus sendiri memandang diri sebagai Allah. Tetapi tentu saja, Gereja perdana juga tidak menyebut Yesus Allah tanpa alasan. Ada dua alasan mengapa Gereja perdana mengakui Yesus sebagai Allah, yakni pengalaman akan kebangkitan, dan sikap serta cara berbicara Yesus sendiri pada waktu masih bergaul dengan mereka.

Kedua alasan itu harus dilihat bersama-sama. Dalam terang kebangkitan cara berbicara dan sikap Yesus jelas memperlihatkan keunikan Yesus.