Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Gereja

Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.

Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.

Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.

Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang.

Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.

Sifat-Sifat Allah

Perkembangan pengetahuan mengenai Allah itu tidak bertujuan menambah pengetahuan saja. Mzm 27 menyatakan, “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan; jangan menyembunyikan wajah-Mu kepadaku” (ay. 8-9). Yang dicari bukan pengetahuan yang lebih luas, melainkan pengenalan yang lebih mendalam. Dalam pertemuan dengan Allah, yang pertama-tama mengesan ialah bahwa Tuhan jauh di atas segala yang lain. Kalaupun Allah bisa disebut baik, adil, bijaksana, mulia, dan apa saja, selalu harus dikatakan bahwa sifat-sifat-Nya itu tak mengenal batas. Maka dikatakan bahwa Tuhan itu mahabaik, mahaadil, dan seterusnya. Allah itu mahasempurna dalam segala hal. Artinya, Tuhan mempunyai semua sifat yang baik tanpa batas, yang tidak bisa dibayangkan.

Kata “maha” itu sebetulnya mengungkapkan perbedaan Allah dengan makhluk-Nya, Allah bukanlah seperti makhluk. Tetapi dengan mengatakan bahwa Allah itu baik, dan adil, dan bijaksana, dan seterusnya, maka dinyatakan bahwa segala kebaikan dan keadilan dan kebijaksanaan yang ada di dunia bersumber pada Allah. Kata maha mengungkapkan perbedaannya, tetapi dengan kata sifat di belakangnya dinyatakan kesatuan Allah dengan makhluk-Nya. Hal itu paling kentara pada kata “hidup”. Allah hidup dan manusia hidup. Tetapi hidup manusia terbatas, hidup Allah tak terbatas, kekal atau abadi. Lagi pula, hidup Allah tidak dapat dibayangkan. Allah.dan manusia sama-sama hidup, tetapi mempunyai hidup yang sama sekali saling berlainan.

Namun dengan segala sifat yang berbeda itu Allah tidak menjadi kabur atau tak jelas, sebab Allah yang berbeda itu menyapa manusia secara pribadi. Maka dari satu pihak Allah itu jauh, tak terjangkau; tetapi dari pihak yang lain Ia mempunyai hubungan langsung, sebagai pribadi dengan pribadi. Seperti yang dikatakan Yesus pada perjamuan terakhir, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (Yoh 17 :6). Allah mempunyai nama dan nama itu adalah Bapa. Sebab “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8.16). Kasih itu bukan sifat Allah. Kasih itu jatidiri-Nya, Maka Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam Anak-Nya Yesus Kristus.

Sebelumnya tidak demikian: “Oleh Musa diberikan hukum Taurat, tetapi kasih-karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Gambaran dan pengetahuan Perjanjian Lama lain, maka nama Allah juga lain: Yahweh, nama yang tidak boleh diucapkan oleh manusia. Perjanjian Lama masih menekankan perbedaan dan jarak. Yesus mengajarkan orang supaya menyapa Allah dengan “Bapa kami yang ada di surga”. Siapa pun nama-Nya, Allah diakui dan dihormati sebagai pribadi, bukan hanya sebagai suatu daya-kekuatan. Maka juga dikatakan bahwa Tuhan itu di satu pihak marah, menyesal, dan kecewa, namun di pihak lain melihat yang baik, berkenan kepada manusia, mencintai dunia. Sering kali dipakai kata yang sangat manusiawi, seperti “cemburu”, “benci’ atau “kesal”. Yang mau dinyatakan dengan kata-kata itu bukanlah bahwa Allah sama atau serupa dengan manusia, melainkan bahwa manusia mengimani Allah sebagai pribadi, yang mempunyai “hati” bagi manusia, yang merupakan sumber dan arah hidup manusia, dan bahwa berpaling dari-Nya berarti kehancuran dan kematian.

Transenden dan Imanen

Dua kata secara khusus harus diperhatikan, karena kedua kata itu mencoba mengungkapkan sifat-sifat khas Allah, yakni kata transenden dan imanen. Kata “transenden” sebetulnya berarti melampaui, unggul dan mau mengungkapkan bahwa Tuhan mengatasi segala-sesuatu (seperti juga dikatakan dengan sebutan maha-). Maka dengan kata “transenden” lebih ditekankan perbedaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18).

Sifat “transenden” itu perlu dilengkapi dengan sifat “imanen”, sebab seandainya Allah hanya transenden saja, seolah-olah Ia tidak berhubungan lagi dengan dunia. Padahal, dalam refleksi atas pengalaman hidup, Allah justru dikenal sebagai Yang-Memberi-Hidup. Memisahkan Allah secara total dari dunia, biarpun karena hormat kepada Allah, menutup segala kemungkinan berhubungan dengan Allah, bahkan mengenal Allah secara pribadi. Oleh sebab itu sifat transenden harus dilengkapi dari diimbangi dengan sifat imanen. Secara harfiah kata “imanen” berarti “yang tinggal di dalam”. Jadi mau menyatakan bahwa Allah tidak hanya mengatasi makhluk-makhluk-Nya, tetapi juga “tinggal di dalam” mereka. Bagaimana caranya? Lagi, manusia tidak dapat membayangkannya, sebagaimana sebetulnya juga tidak dapat digambarkan transendensi Allah.

Allah memang berbeda dengan dunia, tetapi tidak terpisah dari-Nya. Karena sifat-sifat Allah tidak mengenal batas, maka kehadiran-Nya tak terbatas. Allah hadir di mana-mana. Tuhan ada di surga, di bumi, dan di segala tempat. Dalam arti ini kita menerima panenteisme. Allah hadir dan berada dalam segala-galanya, tetapi bukan segala-galanya adalah Allah (panteisme). Allah tidak hadir seperti manusia atau makhluk lain. Tuhan hadir di mana-mana secara ilahi. Itu disebut “imanensi”. Maka “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Karena Allah hadir pada kita, maka kita hadir pada Allah. Karena Allah ada dalam diri kita, maka kita berada dalam Allah.

Yang Maha Esa

Sifat Allah yang disebut dalam Pancasila ialah “maha esa”. Apa artinya? “Esa” berarti satu, tunggal: Lalu apa arti “maha-satu” dan “maha-tunggal”? Mungkinkah lebih satu daripada satu, atau lebih tunggal daripada tunggal? Menurut GBHN 1978 kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa bukan merupakan agama. Oleh karena itu kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa juga tidak harus dimengerti menurut keterangan suatu agama tertentu. Dalam pidato kenegaraan tahun itu juga dijelaskan, bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa adalah “kenyataan budaya yang hidup dan dihayati oleh sebagian bangsa kita; warisan dan kekayaan rohaniah rakyat kita”. Maka sila pertama tidak berbicara mengenai ketuhanan yang mahaesa menurut perumusan atau pengertian agama, melainkan sebagai pengalaman manusia yang umum. Manusia mengalami Allah sebagai sumber hidup yang paling dasariah. Di dalam Allah ditemukan seluruh kekayaan hidup. Di luar Allah tidak ada hidup. Allah adalah satu-satunya yang menyelenggarakan seluruh kehidupan.

Iman Kristen mengakui “Allah itu esa”, tetapi “esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4). “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, melainkan juga “dalam Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah, oleh iman kepada-Nya” (Ef 3:12). Iman akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3). Maka bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa “Tuhan itu esa” (Mrk 12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus sebagai Dia “yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36). Orang yang percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja, melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh karena anugerah Roh Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.

Pengakuan akan Allah Tritunggal sudah ada sejak Gereja perdana. Dan secara khusus Gereja berpegang pada perintah Tuhan untuk membaptis orang “atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Tetapi sekaligus Gereja juga berpegang pada ajaran Yesus, yang menyapa Allah sebagai “Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25). Maka St. Ignatius dari Antiokhia († thn 100) mengajarkan: “Ada satu Allah, yang mewahyukan diri oleh Yesus Kristus Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya” (ad Magn. 8,2). Seorang pengarang lain, juga dari awal abad ke-2, berkata: “Pertama-tama kita percaya bahwa ada satu Allah, yang telah menciptakan dan mengatur segala sesuatu, dan yang membuat yang tidak ada menjadi ada, yang mencakup segala-galanya, namun hanya Dia yang tidak dicakup oleh apa-apa” (Pastor Hermas, Mand, I, 26). Pada dasarnya hal itu sama dengan ajaran Kitab Suci: “Penguasa satu-satunya, yang penuh bahagia, Raja segala raja dan Tuan segala tuan; satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, yang tak pernah dilihat seorang manusia dan yang juga tidak dapat dilihat” (1Tim 6:15-16). Ajaran mengenai Allah yang satu, mahakuasa dan mahamulia, tidak pernah terasa bersaing dengan iman akan Allah Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus.