Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Doa untuk Orang yang Tidak Setia pada Iman

Allah, Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Tuhan Yesus telah menghimpun umat kudus bagi-Mu. Kami prihatin bahwa ada anggota jemaat yang begitu lemah semangat imannya, yang kurang dapat menghargai martabat luhur yang Kau karuniakan kepada mereka. Terlebih kami sangat prihatin akan mereka yang meninggalkan kawanan, (khususnya …). Mereka itu seperti murid Yesus yang mengundurkan diri karena mendengar sabda Yesus yang keras dan tuntutan iman yang berat. Ya Bapa, mereka telah menerima terang Roh Kudus; mereka pernah mengecap karunia surgawi, dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus. Mereka pernah mengecap firman yang Kau ucapkan, namun kini telah mengundurkan diri.

Bapa, kami mohon ampun atas kejadian ini, karena mungkin o!eh kesalahan kami jugalah ada saudara yang lemah dan tidak setia pada iman. Kami kurang berdoa, kami kurang dekat dengan Dikau, kami kurang tekun mewujudkan persaudaraan sejati di antara kami. Semoga peristiwa ini semakin mendorong kami untuk lebih setia kepada-Mu.

Bagi saudara kami yang telah meninggalkan Gereja-Mu kami mohon berkat-Mu. Tuntunlah langkahnya di jalan yang benar. Semoga benih iman dan sabda yang pernah tertabur dalam hatinya tidak mati dengan sia-sia. Bimbinglah mereka supaya selalu berusaha hidup baik. Semoga mereka tetap dibimbing oleh Roh Kudus dan dapat menemukan Yesus Kristus, pangkal keselamatan semua orang. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami.

(Amin.)

Sakramen Perkawinan

Dengan sakramen tobat orang diterima kembali sebagai anggota Gereja; atau, kalau dibebani oleh dosa kecil saja, ia semakin menyadari rahmat boleh ikut dalam perayaan Gereja. Sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dan dalam arti itu merupakan syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Hal itu langsung kentara, kalau membandingkan dua pasang suami-istri: yang satu sudah dibaptis sebelum menjadi suami istri, yang lain sudah berkeluarga waktu menerima sakramen pembaptisan. Orang yang sudah berkeluarga waktu dibaptis, tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi; orang yang belum berkeluarga ketika dibaptis, perlu menerima sakramen perkawinan.

Perkawinan menurut Kitab Suci

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami” (sebagaimana dengan jelas diungkapkan dalam Im 18:18). Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5 dan Mrk 10:7-8:

“Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Hubungan dengan Kristus sebagai bujang atau gadis tidak memadai lagi dan harus diganti dengan persatuan dengan Kristus selaku suami-istri.

Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

“Karena itu laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dan keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar; aku memaksudkannya berhubung dengan Kristus dan jemaat” (Ef 5:31-32).

Sesudah kutipan Kej 2:24 dikatakan “Rahasia itu besar”, yang juga dapat diterjemahkan: Itu misteri agung. Kata “misteri”, khususnya dalam surat Efesus, berarti rencana keselamatan Allah, yang lama tersembunyi tetapi sekarang dinyatakan melalui Gereja (Ef 1:9; 3:3.9; 6:19). Kesatuan suami-istri termasuk misteri Allah itu. Kesatuan mereka mempunyai dasar dalam rencana Allah. Menurut ay. 32 rencana itu baru menjadi jelas dengan sepenuhnya, kalau dikaitkan dengan hubungan Kristus dan Gereja. Kesatuan suami-istri bukan hanya luhur dan mulia, tetapi bersifat ilahi, karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja. Jelas sekali bahwa pengarang memakai bahasa kiasan, dan berbicara mengenai makna terdalam pernikahan. Ia tidak berbicara mengenai suatu upacara sakramental.

Namun tidak salah pula, kalau ajaran surat Efesus dihubungkan dengan sakramen perkawinan, sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Tetapi dalam Ef 5:11-33 ditunjukkan bahwa cinta Kristus kepada Gereja-Nya merupakan dasar yang sesungguhnya bagi kesatuan suami-istri yang telah dibaptis. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Perkembangan Upacara Sakramen Perkawinan

Selama kurang lebih seribu tahun Gereja tidak mempunyai pandangan lain dari yang terungkap dalam surat Efesus. Perkawinan orang Kristen terjadi dengan cara yang lazim dalam masyarakat. Tidak ada upacara khusus. Perkawinan sipil atau dalam kampung dan keluarga diakui oleh Gereja. Ada banyak nasihat dan petuah, tetapi tidak ada upacara khusus. Paling-paling diminta berkat dari Gereja.

Perkawinan itu urusan pemerintah atau masyarakat, yang diberi doa restu oleh Gereja. Baru ketika urusan pemerintah di Eropa Barat agak kacau, Gereja menjadi lebih aktif dalam mengatur perkawinan. Ini terjadi sekitar abad ke-12. Pada waktu itu juga dikembangkan pikiran mengenai sifat sakramental perkawinan. Baru pada tahun 1274, pada Konsili di Florence, untuk pertama kalinya dengan jelas perkawinan disebut di antara sakramen-sakramen Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa sejak Reformasi di kalangan Protestan perkawinan tidak diakui sebagai sakramen. Bukan hanya karena di dalam Kitab Suci tidak ada petunjuk yang jelas, tetapi juga karena dalam kehidupan Gereja sendiri berabad-abad lamanya tidak diketahui bahwa ada sakramen perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai soal kemasyarakatan saja, oleh karena itu bersifat profan dan tidak sakral. Tetapi hal itu sebetulnya kurang sesuai dengan ajaran surat Efesus. Biarpun tidak dikenal suatu upacara khusus, tidak berarti bahwa tidak ada kesadaran mengenai arti rohani, bahkan ilahi, perkawinan.

Melalui cinta perkawinan, rahmat Allah diberikan kepada suami-istri dan anak-anak mereka. Sifat sakramental perkawinan tidak terbatas pada upacara saja, melainkan menyangkut hidup berkeluarga seluruhnya. Karena kesatuan suami-istri dengan Kristus, seluruh hidup mereka – yang adalah satu – menjadi perwujudan rahmat. Tanda rahmat ini ialah janji perkawinan, yang mengikat mereka untuk sehidup semati. Justru karena perkawinan itu semacam “peneguhan” pembaptisan, maka janji itu tidak hanya mengungkapkan kesetiaan mereka satu sama lain, tetapi juga terhadap Kristus.

Perkawinan juga “sakramen iman”, di dalamnya dinyatakan iman akan kasih Kristus sebagai dasar dan kekuatan ikatan perkawinan. Barangkali boleh dikatakan, bahwa bagi orang yang dibaptis waktu masih bayi atau anak, janji baptis menjadi lebih nyata dalam janji perkawinan, yang diucapkan di muka Gereja, yang diwakili oleh imam. Perkawinan dan keluarga menjadi tempat pengungkapan iman. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II berani berbicara mengenai “Gereja-keluarga” (LG 11). Perkawinan dan hidup keluarga sendiri bagi umat beriman menjadi sarana mengungkapkan imannya dan dengan demikian juga menghayatinya. Keistimewaan sakramen perkawinan tidak terletak dalam bentuk upacaranya, tetapi dalam pengungkapan iman itu.

Sebagai upacara ditetapkan dalam buku Upacara Perkawinan tahun 1976: “Pria dan wanita menyatakan saling menyerahkan diri secara bebas, seutuhnya dan untuk selama-lamanya”. Janji nikah adalah bentuk sakramen perkawinan di muka Gereja. Dan ditegaskan lagi: “Justru kesatuan dalam cinta setia yang diangkat oleh Kristus menjadi martabat sakramen”. Pada dasarnya upacara perkawinan orang beriman tidak berbeda secara prinsipial dari upacara perkawinan umum. Tetapi bentuk yang umum itu menjadi sarana pengungkapan iman bagi orang yang percaya akan Kristus. Sama seperti bagi orang lain, begitu juga bagi orang beriman “cinta perkawinan diarahkan kepada penyempurnaan suami-istri secara menyeluruh, termasuk pula kelahiran dan pendidikan anak demi kebahagiaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat”. Bagi orang beriman semua itu mendapat kesempurnaan dalam perkembangan hidup bersatu dengan Kristus, baik untuk suami-istri sendiri, maupun untuk anak-anak mereka.

Perkawinan Campur

Apa yang terjadi kalau orang Katolik menikah dengan pihak lain yang bukan Katolik? Kalau pihak lain itu sudah dibaptis, perkawinan mereka tetap merupakan sakramen karena kedua orang itu satu iman dalam Kristus (KHK kan. 1055). Gereja menegaskan bahwa perkawinan itu pun tidak dapat diceraikan (KHK kan. 1061, 1141). Hanya saja, karena salah satu pasangan belum bersatu penuh dengan Gereja Katolik, biasanya perkawinan itu tidak diteguhkan dalam perayaan ekaristi (meski dalam hal ini tidak ada peraturan atau ketetapan yang mutlak dan umum).

Lain halnya kalau pihak yang lain belum dibaptis. Dengan izin khusus dari pimpinan Gereja, perkawinan itu dimungkinkan. Namun demikian, karena tidak sepenuhnya dilakukan dalam lingkup Gereja, sulit ditentukan nilai gerejawi perkawinan itu. Kiranya perkawinan seperti itu tidak merupakan sakramen, karena tidak ada kesatuan iman. Akan tetapi, karena pihak yang Katolik bersatu dengan Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, perkawinan ini pun pasti tidak di luar rencana Allah. Bagaimana persisnya semua itu terjadi, hanya Allah yang tahu.