Memperingati Santa Perpetua dan Felicitas (martir)

Prapaskah: 7 Maret 2015
Kalender lama: Santo Tomas Aquinas (doktor)

2015-03-07_16h32_47 2015-03-07_16h33_14

Kisah mengenai Santa Perpetua dan Felicitas merupakan salah satu kisah yang terbaik dari sejarah Gereja. Kisah itu menunjukkan secara jelas ketaatan yang luar biasa dari kedua wanita ini ketika mereka mengetahui bahwa mereka dijatuhi hukuman mati dengan dijadikan mangsa binatang buas. Ketika mereka berdua ketakutan dan tidak berdaya, mereka hanya bisa mengandalkan iman mereka akan kuasa Kristus. Dengan ketaatan mereka tetap percaya bersama Kristus yang berjuang bersama mereka, mereka berdua menghadapi kemartiran sebagai perayaan kemenangan, perayaan kemenangan yang diundang oleh Kristus.

Perpetua dan Felicitas adalah dua perempuan Kristen yang mati sebagai martir pada abad ketiga dan dinobatkan sebagai Santa. Mereka berdua berasal dari Kartago, Afrika Utara. Saat itu, kekuasaan politik dipegang kaisar Romawi Septimus Severus yang mewajibkan seluruh penduduk di setiap wilayah kekuasaan Romawi untuk menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi.

Perpetua adalah seorang dari keluarga bangsawan berusia 22 tahun yang telah menikah, sementara Felicitas adalah budaknya yang sedang mengandung. Felicitas kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Perpetua dan Felicitas mengikuti katekisasi dan dibaptis di dalam penjara. Perpetua juga harus menyusui bayinya di dalam penjara.

Perpetua dan Felicitas menolak menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi sebagaimana diperintahkan oleh kaisar. Ayah dari Perpetua sudah berkali-kali membujuknya untuk mengikuti perintah tersebut supaya ia selamat, namun Perpetua menolak. Konsekuensinya, mereka harus menjalani hidupnya di dalam penjara. Selain itu, mereka juga disiksa dengan dimasukkan ke dalam sebuah arena melawan binatang buas. Mereka terluka hebat. Konon, ketika Felicitas akan diterkam oleh binatang buas, Perpetua melemparkan jubahnya ke arah binatang buas tersebut, lalu seketika binatang tersebut mundur dan tidak ingin melawan mereka lagi. Akhirnya, mereka menjalani penderitaan terakhir, yaitu dipancung dengan pedang. Tepat pada 7 Maret 203 (Perpetua genap berusia 26 tahun), mereka mati martir dan dikenang sebagai santa sampai saat ini oleh Gereja Katolik.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)

Lambang atau ikon Katolik yang paling umum di dunia setelah Salib adalah Maria dan Yesus, Maria bersama Putranya. Terkadang kita sering menemukan gambar atau patung Yesus seorang diri tanpa bersama Maria, tetapi jarang menemukan Maria tanpa bersama Yesus. Dan jika pun kita menemukan Maria sedang sendirian, dia sedang menunjukkan kita kepada Yesus. Itulah yang seluruh hasrat hati Maria. Pihak Protestan khawatir kalau Maria akan mengalihkan perhatian umat Kristen dari Yesus Kristus, namun yang sebenarnya adalah tidak ada hal lain atau seorang pun yang lebih Kristus-sentris (berpusat kepada Kristus) dibandingkan dengan Maria. Dalam salam Elisabet yang diucapkannya kepada Maria, bagian dari salam itu yang menyenangkan hati Maria, dan yang paling diperhatikan adalah “diberkatilah buah rahimmu”; atau dalam doa dasar umat Katolik yaitu Salam Maria  ada pada bagian … “terpujilah  buah tubuh mu Yesus” ..

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Lukas 1:42-45)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. (Doa Dasar – Salam Maria)

Oleh karena itu, bagaimana mungkin hal tersebut suatu kesalahan meminta Maria agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Yesus sebesar cintanya Maria kepada Yesus Putranya, atau meminta Yesus agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Maria seperti cinta Yesus kepada Ibu-Nya?

Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik, seperti Konsepsi Tidak Bernoda dan Maria diangkat ke Surga, adalah dogma-dogma yang menjadi batu sandungan yang terbesar dan yang terakhir bagi umat Kristen Protestan yang ingin bersatu kembali ke Gereja Katolik. Bagi umat Katolik hal ini cukup aneh, karena walaupun dogma-dogma tersebut dianggap oleh umat Protestan sebagai “tambahan-tambahan” dari pihak Katolik dan dapat disalahartikan sebagai hal penyebab terganggunya fokus umat kepada Kristus, “menyaingi” Kristus, atau menjadi “pengganti” Kristus; umat Katolik memahami bahwa tidak ada satu hal atau seorang pun yang paling dekat kepada Kristus selain Maria Ibu-Nya (kecuali Allah Bapa-Nya dan Roh Kudus).

Hal-hal alkitabiah yang diutarakan oleh pihak Protestan mengarahkan penegasan Kepenuhan Keilahian Kristus. Pihak Protestan adalah (condong) Kristus-sentris. Tetapi begitu juga dengan Maria, begitu juga doktrin dogma-dogma Gereja mengenai Maria. Satu demi satu dari sekian banyaknya gelar yang diberikan oleh Gereja kepada Maria adalah untuk menjaga dan sebagai pujian dan peng-agung-an terhadap Keilahian Anaknya. Contoh klasiknya adalah “Bunda Allah”. Jika Maria bukanlah “Bunda Allah”, maka begitu juga Kristus bukan Allah (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Keilahian Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Arian); atau jika Maria bukan Ibu dari Yesus Kritus (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Kemanusiaan Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Docetis).

Keagungan Maria adalah pengagungan materi, manusia, penciptaan, Gereja, dan alam. Keagungan tersebut adalah konsekuensi yang paling pertama dari Inkarnasi dan “prinsip inkarnasi” dimana Rahmat Allah menyempurnakan Alam. Konsekuensi ini seperti riak air pada suatu kolam, dimana riak tersebut berbentuk lingkaran dan bergelombang menyebar luas ke luar dari pusat lingkarannya; dan penyebab riak air tersebut adalah suatu Batu yang jatuh dari Surga. Riak air yang disebabkan Batu tersebut bergerak meluas ke luar dari Kristus kepada Maria; kemudian kepada bangsa Israel; kemudian kepada Israel yang Baru, yaitu Gereja; kemudian kepada semua umat manusia; kemudian kepada semua alam, kepada semua hal materi, kepada semua ciptaan, yang kesemuanya itu sejak mulanya dipenuhi oleh Allah dengan hidup-Nya, hidup Allah sendiri seperti yang dikatakan dalam Alkitab kepada kita pada Roma 8:18-23.

Malaikat Allah mendatangi dan menyatakan kepada Maria bahwa dia “yang dikaruniai” (lebih jelas dan tegas dalam Alkitab terjemahan versi Douay-Reihms “full of grace”, atau lebih dikenal oleh umat Katolik dengan istilah “penuh rahmat”). Lalu pertanyaanya adalah seberapa besar karunia yang diberikan? seberapa “penuh” rahmat yang diberikan? Ukuran karunia/rahmat bagaimanakah yang dapat diberikan oleh Allah kepada suatu ciptaan belaka? … untuk menjawab pertanyaan itu: Lihatlah kepada Maria, maka akan terjawab. Apakah benar Allah mau berbaik hati, bermurah hati sedemikian rupa? Lihatlah kepada Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan itu.

Yesus sendiri menyerahkan Ibu-Nya, Maria kepada kita, ketika Yesus disalib, ketika dia berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, dan Yesus menyerahkan kita kepada Maria pada waktu yang sama dengan berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26-27). Untuk mengikuti kehendak Yesus Kristus secara penuh adalah menuruti apa yang Yesus minta hingga pada permintaan-Nya yang terakhir sewaktu Dia masih di dunia sebelum Dia wafat.

Yesus Kristus sebenarnya telah memberikan Ibu-Nya, Maria, kepada kita ketika Kristus belum Inkarnasi (pra-Inkarnasi – Logos), atau Sabda (Pikiran) dari Allah; Kristus telah memilih, menentukan sejak awal (mentakdirkan) Maria untuk menjadi Ibu-Nya. Kristus lah satu-satunya dalam sejarah dapat memilih Ibu-Nya sendiri. Kemudian Maria dengan pernyataanya “menerima” (“…; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Lukas 1:38]) melahirkan Yesus ke dunia dan kemudian Yesus menjadi Juru Selamat untuk kita. Maria secara harfiah adalah juga “pembawa kebahagiaan kita”, dan juga pembawa keselamatan kita, karena: (1) Maria adalah Ibu dari Yesus Kristus, dan (2) seorang Ibu adalah pembawa, yang mendatangkan Yesus, dan (3) Yesus adalah Kebahagiaan kita dan Keselamatan kita.

..bersambung ke Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)..