Sakramentali

Bidang liturgi Gereja tidak terbatas pada sakramen dan Ibadat Harian saja. “Selain itu, Bunda Gereja telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentali juga menandakan karunia-karunia, khususnya yang bersifat rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja” (SC 60). Perbedaan antara sakramen dan sakramentali, ialah bahwa sakramen menyangkut Gereja seluruhnya dan merupakan pelaksanaan diri Gereja dalam bidang perayaan; sedangkan sakramentali selalu bersifat khusus, merupakan perwujudan doa Gereja bagi orang tertentu, entah pribadi entah secara kelompok. Oleh karena itu sakramentali bukanlah perwujudan kehadiran Kristus di dalam Gereja dalam arti sesungguhnya, melainkan bentuk doa permohonan Gereja yang konkret.

Maka ada banyak sekali upacara atau simbol-simbol yang disebut sakramentali, misalnya doa-doa tertentu, tanda salib, jalan salib, segala macam berkat, pengusiran setan, juga patung, khususnya salib, medali, air suci, abu (pada Rabu Abu), palma (pada Minggu Palma). Beberapa sakramentali berhubungan langsung dengan perayaan sakramen, mis. pemberkatan air baptis, juga pemberian lilin baptis dan pakaian putih, malahan pengurapan sesudah permandian; dalam sakramen perkawinan: doa atas cincin perkawinan dan pemberkatan kedua mempelai. Tetapi juga ada yang mempunyai arti khusus dalam hidup orang seperti kaul kebiaraan, pemberkatan busana kebiaraan, pemberkatan ladang dan panen. Pendeknya, untuk segala situasi kehidupan yang penting, yang pantas disertai doa permohonan Gereja, kiranya ada sakramentali. Sebab “bila manusia menggunakan benda-benda dengan pantas, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang tak dapat dimanfaatkan untuk menguduskan manusia dan memuliakan Allah” (SC 61). Tentang peraturan mengenai hak dan wewenang mengadakan sakramentali lihat KHK kan. 1166-1172.

Sakramentali harus dipahami dalam kerangka hidup liturgis Gereja, bukan sebagai tindakan lepas, yang mempunyai arti dalam dirinya sendiri. Ada yang dengan jelas termasuk bidang liturgis, karena kaitannya dengan sakramen atau dengan perayaan gerejawi. Tetapi segala macam sakramentali dalam lingkungan keluarga juga harus dihubungkan dengan doa Gereja. Sakramentali tidak mempunyai daya ilahi dari dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh merupakan perwujudan sikap doa Gereja. Karena itu sakramentali janganlah dipandang hanya sebagai sarana untuk memperoleh rahmat, tetapi juga dan terutama sebagai upacara keagamaan yang mau menghormati dan meluhurkan Tuhan.

Pembaptisan

Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci

Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah “penemuan” Tuhan Yesus. Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.

Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang “sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau mempersiapkan orang menghadapi “murka yang akan datang” (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan dalam upacara pembaptisan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4). Maka “sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan” (Mat 3:6).

Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa ”Yesus pergi ke tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa ”Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya. Petrus menambahkan dua hal: “dalam nama Yesus Kristus” dan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi “karunia Roh Kudus”, yang “bersaksi bersama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan “Kristus Yesus, Juru Selamat kita” (Tit 1:4), yang memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” (Kis 2:33).

Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen pembaptisan: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya – sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa – demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: “Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: “Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai “inisiasi Kristen”, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay. 11).

Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita “karena rahmat-Nya oleh pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Itulah yang oleh Yohanes disebut “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus sebagai Anak Allah: “Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak, maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus, tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan langsung dapat ditarik kesimpulan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Dalam Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja

Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. “Tempat pembaptisan” itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada malam Paska:

Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?

Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di sisi kanan Bapa yang mahakuasa?

Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?

Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: ”Ya, saya percaya”. Sesudah itu, ia ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi “sakramen iman”, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku “Inisiasi Kristen” menetapkan:

“Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:

… (disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.

Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya kepada baptisan baru.” .

Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus (lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27, “mengenakan Kristus”, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.

Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebut Didahke atau “Pengajaran Kedua Belas Rasul”. Di dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: “Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis, berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya”.

Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang menjelaskan arti sakramen.

Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:

“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (SC 6).

Mereka menjadi “penyembah sejati” dalam Gereja, sebab “dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen” (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak

Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa kepala penjara Filipi “memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya” (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anak-anak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke “pinggir” neraka saja).

Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin”. Mereka dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: “Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu”.

Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, “Dalam upacara pembaptisan kanak-kanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis”.

“Wali baptis” sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua “pembantu” calon baptis: penjamin dan wali baptis. “Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis. Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara ‘pemilihan'”, Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai “sponsor” atau “penanggung jawab”. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah “dari luar” (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis “mendampingi katekumen pada hari ‘pemilihan’, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa ‘mistagogi‘, artinya ia menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya.” Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi “penjamin” tidak perlu, dan fungsi “wali baptis” lebih dipegang oleh orangtuanya.

Oleh karena itu, pada saat “penolakan setan dan pengakuan iman” pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: “Maukah saudara supaya anak ini dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?”. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri (yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi, tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Mengenai perayaan Ekaristi St. Paulus berkata: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Ekaristi merupakan “kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus” (SC 47), dan “kurban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus itu, yang dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi” (PO 2). Dalam Ekaristi, Gereja “secara tak berdarah dan sakramental” mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa. Tetapi akan datang saatnya ketika orang dipanggil mengikuti jejak Kristus, bukan hanya secara sakramental, melainkan dengan sungguh menghadapai “musuh yang terakhir, ialah maut” (1Kor 15:26). Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus. Sebab “jika kita mati bersama Kristus, kita juga akan hidup bersama Dia” (2Tim 2:11). Itu terjadi dengan sakramen pengurapan orang sakit.

Sejarah Perkembangannya

Pengurapan orang sakit dalam dunia Perjanjian Lama biasa sekali, dan dimaksudkan sebagai obat (lih. Yes 1:6; Yer 8:22; Luk 10:34). Maka tidak mengherankan bahwa para rasul juga “mengoles banyak orang dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk 6:13). Belum tentu bahwa di situ terjadi mukjizat; bisa jadi bahwa itu penyembuhan biasa dengan “obat tradisional”. Tetapi perbatasan antara “yang biasa” dan “yang dikerjakan oleh Allah” tidak selalu jelas. Dan tidak jarang pengobatan seperti itu disertai doa-doa, seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus:

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila didoakan dengan yakin, sangat besar kuasanya (Yak 5:14-16).

Langsung kelihatan bahwa doa malah menjadi yang paling penting, bukan hanya dalam ayat-ayat ini saja, melainkan juga dalam ayat-ayat yang mendahului (ay. 13) dan yang menyusul, yang menampilkan Elia sebagai “tokoh doa” (ay.17-18). St. Yakobus berbicara mengenai daya kekuatan doa. Dalam kerangka itu ia juga berbicara mengenai doa jemaat untuk orang yang sakit. Apakah doa dengan pengurapan itu sudah merupakan suatu sakramen? Sulit ditentukan. Yang jelas bahwa ini doa resmi, sebab yang membawakannya “para penatua jemaat”, yang dipanggil secara khusus. Dan keistimewaannya, dilakukan sambil “mengoles dengan minyak dalam nama Tuhan”. Pengolesan dengan minyak bukan pengobatan biasa, sebab dilakukan “dalam nama Tuhan” dan disertai doa resmi. Semua itu sudah amat jelas menunjuk ke arah “sakramen” walaupun upacaranya belum sangat jelas. Rupa-rupanya umat perdana mengenal pengurapan orang sakit, yang bersifat keagamaan.

Tetapi apakah upacara ini berasal dari Yesus atau dikehendaki oleh Yesus? Jawaban atas pertanyaan ini ialah, bahwa dalam hal ini – sama seperti dengan Ekaristi – Yesus rupa-rupanya mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Dari mazmur-mazmur kentara bahwa orang Yahudi mempunyai kebiasaan berdoa kepada Tuhan, mohon penyembuhan dari sakit (lih. Sir 38:9). Mungkin dalam kerangka pemikiran yang sama. Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya agar secara khusus memperhatikan orang sakit (Mrk 6:13). Para rasul menaati perintah Yesus itu, dalam kerangka adat-kebiasaan bangsa Yahudi. Yesus mendukung tradisi Yahudi. Sebagaimana untuk perayaan Ekaristi Ia tidak memberikan banyak petunjuk khusus, begitu juga untuk upacara pengurapan orang sakit secara Kristiani tidak ada banyak instruksi. Upacara itu berkembang lambat-laun dalam tradisi Kristen sendiri.

Praksis umat perdana dijalankan terus di dalam Gereja. Tetapi kesadaran bahwa upacara ini sebuah sakramen, baru dirumuskan dengan jelas dalam abad ke-12. Upacara liturgis juga berkembang langkah demi langkah dalam tradisi Gereja. Dalam abad kelima Paus Inosensius I mengatakan mengenai Yak 5:14-16:

Jelas sekali bahwa teks ini harus diterima dan dimengerti dalam hubungan dengan orang sakit, yang dapat diurapi dengan minyak krisma suci, yang telah dipersiapkan oleh uskup. Minyak itu boleh dipakai untuk mengurapi tidak hanya oleh para imam tetapi oleh semua orang Kristen, bila mereka sendiri atau orang sekeluarga membutuhkannya.

Tampaknya pada waktu itu yang pokok malah minyak, yang diberkati oleh uskup. Setiap orang boleh mengoleskannya, barangkali juga pada dirinya sendiri. Dalam abad ke-9 peraturan diubah lagi. Yang boleh menerimakan sakramen ini hanyalah para imam saja, dengan menggunakan minyak yang telah diberkati oleh uskup dan dengan memakai upacara dan doa-doa yang telah ditetapkan. Penerimaan sakramen juga dibatasi. Lama-kelamaan sakramen ini hanya diterimakan kepada orang yang sakit keras, hampir mati. Sejak itu orang berbicara mengenai “pengurapan terakhir”. Pada tahun 1972 upacara diubah lagi dan disebut “pengurapan orang sakit”, sebab menurut peraturan baru itu, sakramen ini diberikan kepada orang beriman “bila ia sakit berat, entah karena usia lanjut entah karena penyakit”. Kecuali itu ditambahkan penjelasan ini: “Untuk mengetahui, apakah seseorang sakit berat atau tidak, cukuplah penilaian umum dan bijaksana; dalam hal ini pertimbangan seorang dokter sering dapat menolong”. Jadi, sakit berarti “sakit berat”, tetapi tidak berarti “bahaya maut”. Dari pihak lain harus dikatakan bahwa “sakit berat” selalu mengandung bahaya maut atau setidak-tidaknya sudah dibayangi oleh kegelapan maut. Maka sebetulnya sakramen ini lebih baik disebut sakramen pengharapan, entah mengharapkan penyembuhan entah mengharapkan kekuatan untuk menghadapi maut.

Pastoral Orang Sakit

Maksud sakramen pengurapan orang sakit dijelaskan oleh Konsili Vatikan II sebagai berikut:

Melalui perminyakan suci dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan, yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, dan dengan demikian memberi sumbangan kesejahteraan kepada umat Allah (LG 11).

Yang pokok adalah persatuan dengan Kristus, yang dilakukan dalam iman. Oleh karena itu peraturan tahun 1972 menegaskan bahwa “orang sakit akan diselamatkan berkat imannya dan berkat iman Gereja, yang berdasarkan wafat dan kebangkitan Kristus sebagai sumber kekuatan, dan yang terarah kepada Kerajaan yang akan datang, yang dilambangkan dalam sakramen-sakramen”. Pengurapan orang sakit itu sakramen iman, bahkan menjadi sakramen pengharapan.

Oleh karena itu, Gereja menghendaki supaya sakramen pengurapan orang sakit tidak menjadi upacara lepas, melainkan merupakan bagian pastoral orang sakit. Liturgi orang sakit mulai dengan mengunjungi orang sakit dan berdoa bersama mereka. Komuni orang sakit mempunyai tempatnya di sini, sebagai bukan hanya “bekal suci” (viaticum), yakni “komuni terakhir”, melainkan jauh sebelumnya hendaknya orang sakit secara khusus dilayani dengan Ekaristi. Melalui komuni si sakit dapat mengambil bagian dalam doa Gereja dan mempersatukan diri dengan Kristus yang wafat dan bangkit. Sebagai tanda doa Gereja ia juga dapat diberi berkat khusus. Ini salah satu sakramentali yang secara khusus mewujudkan doa Gereja bagi yang sakit.

Akhirnya dalam rangkaian itu ada sakramen pengurapan orang sakit, yang dapat dilayani dengan aneka cara dan perayaan. Pelayanan sakramen itu janganlah ditunda sampai saat si sakit sudah tidak cukup kuat untuk ikut menghayatinya. Banyak orang “takut” menerima sakramen ini, karena berpendapat bahwa pengurapan orang sakit mendatangkan maut. Ini tentu pendapat yang keliru, yang perlu dikoreksi dalam suatu katekese pastoral yang sekaligus bersifat penerangan dan penghiburan. Kalau sakramen ini bisa diterima dalam keadaan yang belum “parah”, si sakit benar-benar dapat menghayatinya dan ikut merayakannya. Lalu sakramen ini juga mungkin dirayakan dengan kehadiran kelompok jemaat yang sedikit lebih besar. Bahkan liturgi membuka kemungkinan bahwa sakramen ini diberikan selama perayaan Ekaristi, khususnya bagi mereka yang sudah lanjut usia. Bagaimanapun juga, seluruh liturgi orang sakit harus memperlihatkan bahwa orang sakit tetap dipandang dan diperlakukan sebagai anggota jemaat, yang mempunyai kedudukan khusus dalam jemaat, karena kedekatan fisik dengan sengsara dan wafat Kristus. Partisipasi dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan panggilan seluruh Gereja. Maka anggota yang sehat, hendaknya memperlihatkan kepada si sakit bahwa ia tetap satu dari mereka, dalam mengikuti jejak Kristus.