Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?

Pertanyaan judul di atas merupakan pertanyaan selanjutnya menanggapi pemahaman maksud dari Keselamatan yang sudah dibahas sebelumnya. Maka pertanyaan ini diajukan untuk mencoba menggugat pemahaman yang telah terbentuk, yaitu: Siapakah yang Menyelamatkan? (atau setara dengan pertanyaan ‘Siapa Penyelamat?’) Apakah hanya Yesus yang menyelamatkan? Jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ bahwa Yesus-lah yang menyelamatkan, atas pertanyaan itu kedua jawaban tersebut sepertinya menjadi dilema (serba kurang tepat).

Jika kita menjawab ‘Ya, hanya Yesus-lah Sang Penyelamat’ maka keberatan akan muncul: Berarti semua orang yang non-kristen akan masuk neraka, bahkan seorang pagan yang baik seperti Socrates. Apakah ada kesalahan Socrates (contoh dari kelompok orang baik pagan) yang tidak hidup pada waktu yang tepat sehingga tidak bertemu Yesus atau tidak mendapat pewartaan tentang Yesus? tidak ada kesalahan pada Socrates yang pada masa hidupnya tidak bertemu Yesus atau mendapatkan pewartaan tentang Yesus. Maka akan muncul pendapat bahwa Allah itu sangat tidak adil dan tidak mengasihi bagi kelompok non-Kristen ini, sehingga sebagian besar akan masuk neraka.

Tetapi jika kita memberikan jawaban lain yaitu bahwa orang-orang non-Kristen yang baik seperti Socrates akan diselamatkan juga, lalu akan muncul lagi pertanyaan baru: lalu mengapa perlu menjadi Kristen? Karena jika si Socrates sudah cukup melakukan perbuatan baik agar dapat diselamatkan dan masuk ke Surga, mengapa harus menambah sempit klaim bahwa hanya Yesus-lah jalan Keselamatan?

Dengan kata lain jika si Scorates benar tidak diselamatkan, maka Allah bukanlah seperti yang diyakini bahwa Allah maha pengasih dan adil. Di lain sisi jika si Scorates benar diselamatkan, maka Yesus bukanlah satu-satunya jalan Keselamatan.

Untuk membahas lebih lanjut maka perlu dibahas kembali apa yang dimaksud sebenarnya Penyelamatan secara objektif berdasarkan data (Kitab Suci); dan menakar subjektifitas atau seberapa jauh pemahaman yang berkembang dari sisi orang kristen dan non-kristen.


Objektif Keselamatan dibandingkan dengan Sukjektif Pemahaman akan Keselamatan

Dilema jawaban di atas bukan hanya rumit, teknikal, masalah teologi, dan bukan juga mengenai Socrates. Ini merupakan hal penting bagi semua pertanyaan dan semua orang. Untuk menjawab ini, kita perlu membuat pemisahaan yang krusial (sangat teliti) antara dimensi objektif dan dimensi subjektif dari pertanyaan tersebut. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan kejelasan, yang pasti dan tidak dapat dikompromikan, memberikan jawaban yang sangat spesifik (khusus) bagi pertanyaan yang objektif, tetapi tidak kepada pertanyaan yang subjektif.

Secara objektif, Kitab Suci Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus sendiri menegaskan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.'” (Yohanes 14:6). Orang Kristen percaya Yesus adalah sang Penyelamat dan satu-satunya karena Yesus yang mengatakan demikian. Jika hal tersebut tidak benar maka, Ia bukan Penyelamat, tapi semua adalah kebohongan, penghujatan dan penipuan yang sangat egois.

Secara subjektf (menurut pandangan dari kita masing-masing), apakah benar kita perlu diselamatkan? Kitab Suci Perjanjian Baru menyatakan kita memerlukan iman dalam Dia (Yesus) agar dapat diselamatkan, tetapi apa yang dimaksud dari pernyataan itu? Jenis iman yang bagaimana yang dimaksud? Yang pasti; tidak ada Yesus lain yang dimaksud, hanya satu Yesus, tapi banyak keyakinan iman yang berbeda-beda. Batasan pembeda antara Yesus dan orang lainnya jelas digambarkan, dapat diketahui dengan jelas perbedaan Allah-manusia dan manusia fana. Namun perbedaan antara Kepastian iman yang dimiliki oleh Petrus dan Ketidakpastian iman yang dimiliki Socrates tidak dapat dilihat dengan jelas.

Apakah itu berarti ada kemungkinan si Socrates sebenarnya memiliki iman dalam Kristus? Bukankah untuk beriman dalam Kristus harus diawali dengan pengenalan akan Kristus? Bagaimana mungkin si Socrates pernah mengenal Kristus? Ada jawaban yang berlaku untuk kasus Socrates dan juga untuk semua orang, yaitu seperti yang tertulis di Kitab Suci Perjanjian Baru: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:8). Yang maksudnya adalah Yesus sudah hadir sebelumnya, sebelum inkarnasi sabda menjadi daging; menjadi Allah-manusia yang dikenal bernama Yesus Kristus; Yesus Kristus sebelumnya adalah Logos (dari bahasa Yunani yang berarti sabda) Allah, Kata Ilahi (Firman), Terang, atau Sumber Kebenaran.

Tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Kristus (Yohanes 1:18; Lukas 10:22). Tetapi kaum pagan telah mengenal Allah (Kisah Para Rasul 17:28; Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:19-20; 2:11-16). Dengan demikian dapat diketahui bahwa pagan mengenal Kristus, yang dikenal sebelum kelahiran bayi Yesus, yang dikenal sebagai Terang, sebagai Firman, sebagai Alasan Kebenaran; yang pada masa pagan yang diceritakan di Kisah Para Rasul, dan Surat Paulus, mereka kelompok pagan belum mengetahui ‘nama’, atau ‘Logos’, atau ‘gambaran’ (wujud) Allah inkaranasi sebagai manusia yaitu Yesus.

Kristus bukanlah hanya seorang Yahudi yang berumur 33 tahun dan dikenal sebagai tukang kayu. Dia adalah yang Kedua dari Tritunggal Maha Agung, secara penuh, melalui wahyu, atau gambaran, dari sang Bapa (Kolose 1:15, 19; Yohanes 14:9). Hubungan dia dengan Allah seumpama sinar matahari dengan sang matahari. Dia bagaikan “cahaya yang menerangi setiap manusia” melalui akal budi dan suara hati. Oleh karena itulah doktrin dari Keilahian Kristus – diklasifikasikan  sebagai “konservatif” atau “tradisional” oleh kelompok liberal – sebab doktrin inilah yang mendasar harapan yang dimiliki oleh kelompok liberal bahwa penganut pagan juga mungkin dapat diselamatkan.

Jadi secara objektif, benarlah hanya Kristus yang dapat menyelamatkan penganut pagan juga. Tetapi secara subjektif, jenis keyakinan bagaimana yang mungkin menyelamatkan penganut pagan, atau penganut agama Hindu, atau penganut agnostik? Apakah seperti jenis keyakinan berikut?

  1. Keyakinan yang tidak jelas, samar, yang digeneralisasikan dengan kejujuran dan ketulusan?
  2. Keyakinan yang berkomitmen sepenuhnya terhadap Kebenaran, Kebenaran yang bukan sesuatu dapat ditemukan di beberapa hal, tetapi Kebenaran yang absolut, yang secara implisitnya merupakan sifat dari Allah?
  3. Keyakinan yang mencari bukan hanya Kebenaran tetapi juga Kebajikan, moral yang benar, secara garis besar keyakinan ini merupakan pilihan mendasar untuk kebaikan daripada kejahatan?
  4. Keyakinan atas kasih dari Kebaikan, yang bukan sesuatu berasal dari pihak lain, melainkan hanya sepenuhnya merupakan sifat dari Allah?
  5. Keyakinan akan pertobatan akan dosa, walaupun tidak ada kejelasan konsep Tuhan yang ditujukan oleh penganut pagan dengan melakukan penyesalan?
  6. Keyakinan dalam Tuhan, Allah dari ilham, Allah dari terang budi, sang Intelektual yang merancang alam dan sumber Kesucian suara hati?
  7. Keyakinan yang penuh dengan kehati-hatian, ketelitian, dimana kebebasan dan suara hati dipergunakan secara teliti menanggapi kasih Ilahi, akan tetapi samar-samar dimengerti oleh penganutnya?

Semua poin-poin tersebut diperlihatkan juga oleh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru sebagai hal yang diperlukan juga.

Tetapi pengetahuan eksplisit (pengetahuan yang benar-benar mutlak menuntut kejelasan) akan Inkarnasi Yesus bukan suatu keharusan syarat untuk keselamatan. Contohnya adalah Abraham, Musa, dan Elia yang tidak memiliki pengetahuan eksplisit akan Yesus Kristus, dan mereka juga telah diselamatkan. (Kita dapat mengetahui itu dengan membaca Matius 17:3 dan Lukas 16:22-23.) Orang yang sama – Yang Kedua dari Tritunggal Maha Kudus – keduanya adalah Logos yang dikenal pada masa prainkarnasi (sebelum inkarnasi sabda menjadi daging), yang “menerangi setiap manusia”, dan berinkarnasi sebagai Yesus, yang telah dilihat oleh beberapa orang. Mereka mengenali salah satu dari kedua itu (Yesus; prainkarnasi dan setelah inkarnasi) mengenali yang satunya lagi, karena keduanya adalah orang yang sama.

Jika kita bertanya kepada Abraham, “Apakah kamu percaya dalam Yesus, Dia sebagai Penyelamatmu?” Abraham tidak dapat menjawab ‘ya’. Jawaban ‘ya’ dari Abraham hanya bersifat implisit dalam sebatas pengetahuan yang dipunya oleh Abraham, tetapi ‘ya’ dari Abraham adalah jawaban bahwa dia pernah benar-benar secara nyata bertatap muka dengan Yesus yang nyata. Dan karena Abraham menjawab ‘ya’ kepada Kristus dan demikian dia diselamatkan. Oleh karena itu ketidakmampuan Abraham menjawab ‘ya’ secara eksplisit terhadap pertanyaan tersebut bukan berarti otomatis kita tidak diselamatkan. Begitu juga bagi Socrates, dia tidak otomatis tidak diselamatkan. Apapun dan bagaimana Socrates memiliki hubungan kontak dengan Kristus selaku Logos adalah tetap masih pertanyaan yang belum terjawab. Secara abstrak, usaha pencapaian intelektual dari kebenaran tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita. Namun kesalahan intelektual cukup untuk membuat kita gagal untuk mempersiapkan agar kita diselamatkan.

Allah tidak memberikan kita ujian akhir teologi layaknya ujian akhir sekolah ketika kita meninggal sebagai syarat untuk masuk ke surga. Jika Allah melakukan itu, kita semua akan gagal pada ujian itu. Dan kemudian akan muncul permasalahan kewenangan penentuan batas poin lulus atau gagal. Lalu apa yang menjadikan iman dari seorang seperti Socrates dapat membuat dia diselamatkan? Apa makna dari bagi Socrates untuk mengimani Kristus yang dia kenal sebagai Logos? Apa yang dapat dia lakukan agar diselamatkan?

Untuk itu kita perlu kembali mengkonsultasikan kembali data yang kita punya, yaitu Kitab Suci. Terdapat tiga jawaban dalam Kitab Suci: Kita harus mencari Allah, menyesali dosa kita, dan mengimani Allah. Lalu dari data itu dapat kita mengenali beberapa parameter dari tiga syarat yang sifat universal untuk Keselamatan.

1. Mencari Kebenaran sebagai Keilahian Mutlak dapat dengan mencari Allah karena Allah adalah Kebenaran.

Kebenaran adalah bagian dari Allah, seumpama Matahari terdiri dari sinar dan energi. Kebenaran ini lebih dari kebenaran mental biasa. Pencarian Kebenaran dimotivasi oleh keinginan, kehendak. Pencarian Kebenaran merupakan kebebasan kehendak dari keinginan, dari hati – cinta akan Kebenaran – itulah yang membuat orang mulai mencari Kebenaran. Dan pencarian sudah merupakan suatu jenis Iman. Pencarian adalah iman yang diarahkan untuk masa depan; yaitu dikenal sebenarnya sebagai Harapan. Harapan adalah suatu “nilai plus dari teologi”, sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Kita telah dijanjikan bahwa semua yang mencari (Allah), akan menemukan (Allah) (lihat Matius 7:7-8);

Dalam mencari Allah menunjukkan bahwa kasih ilahi telah hadir dalam jiwa setiap orang yang mencari. Santo Augustin menggambarkan bahwa Allah berkata kepadanya, “Ambil hati, anakku. Kamu tidak akan mencari saya sebelum Saya menemukan kamu terlebih dahulu.” Dan sebuah semboyan tua dalam bahasa Inggris pernah berbunyi: “I sought the Lord, and afterward I knew / He moved my soul to seek him, seeking me. / It was not I that found, O Savior true; / No, I was found Thee.”

Pascal pernah berkata bahwa ada tiga tipe orang di dunia: (1) mereka yang mencari Allah dan menemukan-Nya, (2) mereka yang mencari Allah tetapi belum menemukan-Nya, (3) mereka yang tidak mencari Allah dan tidak menemukannya. Pascal menyebut tipe yang pertama sebagai “menggunakan-akal (bijaksana) dan bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan bahagia karena menemukan apa yang mereka cari. Pascal menyebut tipe yang kedua sebagai “menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan tidak-bahagia karena mereka belum menemukan. dan Pascal menyebut tipe yang ke tiga sebagai “tidak-menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – tidak-menggunkan-akal karena mereka tidak mencari, dan tidak-bahagia karena mereka tidak menemukan.

Perbedaan yang terbesar adalah bukan antara mereka yang telah menemukan dan mereka yang belum menemukan. Perbedaan yang telah dan belum menemukan merupakan perbedaan yang sementara, karena semua yang tergolong tipe kedua akan naik menjadi tipe pertama; karena semua yang mencari akan menemukan. Dan yang menjadi perbedaan terbesarnya terletak antara mereka yang mencari dan yang tidak mencari, karena perbedaan itu merupakan perbedaan yang selamanya. Tidak ada tipe yang ke empat, dimana orang yang tidak mencari, tidak selamanya tidak menemukan.

2. Mengenai Penyesalan dosa, dalam Kitab Yesaya tertulis:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”

Sehingga dapat kita ketahui bahwa pencarian harus disertai dengan penyesalan. Semua dapat menyesali, bagi semua orang yang mengenal hukum moral (Roma 1-2) dan demikian juga dosa milik mereka. Pada dasarnya pencarian kebenaran dan bahkan kebaikan saja tidak cukup, karena mungkin saja pencarian itu dimotivasi, didorong oleh rasa harga diri (kehormatan diri sendiri) dan pembenaran diri sendiri (mencari agar melihat diri sendiri sudah benar), agar menjadi baik sesuai dengan ukuran nilai baik oleh dirinya sendiri, bukan dimotivasi oleh kehormatan Allah, kebenaran menurut Allah, dan Nilai baik menurut Allah. Dan untuk menggarisbawahi mengenai penyesalan dosa, ada satu pertanyaan penting: Apakah saya (kita) akan menyerah (menyerahkan semua keinginan, kehormatan, kebenaran, kebaikan) kepada Allah, jika saya (kita) bertemu dengan Allah?

3. Iman, yaitu; mempercayai dan menerima Allah, kasih Allah dan hidup Allah.

Iman merupakan hal yang ketiga yang diperlukan agar diselamatkan, tetapi bagaimana kita dapat mempercayai dan menerima Allah jika kita tidak mengenal Dia? Kita tidak bisa melakukan itu. Tetapi kita semua mengenal dia (Roma 1). Bagaimana kita bisa mengenal dia tanpa Kristus? Kita tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa Kristus lah Sang Terang, Firman, Logos (Yohanes 1:9).

Lalu harus seberapa banyak pengetahuan kita akan Allah agar dapat memiliki iman dan dapat diselamatkan? Jumlah atau besaran tidak menentukan, layaknya seperti fakta statistik. Namun, kita tahu  (Roma 1-2) bahwa kita semua mempunyai pengetahuan yang cukup akan Allah yang untuk membuat kita bertanggung jawab di hadapan Allah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan akan Allah yang bagaimana yang memadai agar dapat memilih untuk mempercayai atau tidak dapat dijawab dengan memperhatikan perbedaan antara pemahaman kata ‘mengetahui’ dan ‘mengenal’. ‘Mengetahui’ berhubungan fakta, yang berkisar pengenalan secara objektif fakta-fakta yang dapat terukur. Sedangkan ‘Mengenali’ lebih bersifat subjektif. Seberapa banyak pun fakta yang kita ketahui (‘mengetahui’) tidak berpengaruh dengan pengenalan kita terhadap seseorang. Semua orang mengenal Allah, walaupun mereka tidak tahu banyak mengenai Allah (lihat Roma 1 dan Kisah Para Rasul 17).

Dengan demikian untuk meringkaskan kesimpulan: Socrates (atau penganut pagan manapun) dapat mencari Allah, dapat menyesali dosanya, dan tersirat bahwa ada kepercayaan dan penerimaan akan kehadiran Allah walaupun hanya sebagian dan agak kabur, dan karena itu dia dapat diselamatkan- atau sebaliknya dia akan binasa apabila dia menolak untuk mencari, menyesali dosa, dan mempercayai. Terdapat terang dan kesempatan yang mencukupi, pengetahuan dan kebebasan kehendak yang mencukupi, yang menjadikan setiap manusia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah. Allah mengadili manusia berdasarkan pengetahuan setiap manusia, bukan berdasarkan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia itu.


Keberatan terhadap “Keselamatan bagi penganut Pagan”

Kelompok konservatif sering keberatan atas penempatan pemahaman “Keselamatan bagi penganut Pagan”, dimana dalam pemahaman tersebut ada kemungkinan bagi penganut Pagan untuk diselamatkan, dan oleh karena pemahaman ini mengurangi motivasi usaha misi, misi pewartaan Injil. Karena pemahaman ini, muncul beberapa pertanyaan keberatan dari pihak konservatif: Kalau demikian mengapa kami harus menghabiskan hidup, mempertaruhkan hidup, untuk mewartaan Yesus Kristus kepada dunia jika mereka (orang yang belum mengenal Yesus) dapat diselamatkan tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Yesus? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Kita perlu menanggapi pertanyaan ini dengan jawaban yang memuaskan dan jelas.

Terdapat tiga alasan yang mungkin mendorong misi pewartaan dilangsungkan; misi mengkabarkan kepada orang lain tentang Injil, kabar baik dari Yesus Kristus. (dan perlu kita ingat bahwa setiap umat kristen diutus untuk menjadi pewartaan (Matius 28:18-20), dan bukan hanya tugas para biarawan, bukan hanya tugas orang yang berlabel “pendeta” atau “pastor”.) Tiga alasan tersebut adalah:

  1. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok fundamentalis: Kami mengetahui bahwa dunia akan jatuh ke neraka, kecuali jika orang-orang menerima Kristus sebagai Penyelamatnya.
  2. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok moderen: “Kami hanya ingin mengasihi sesama (orang lain) dan membagikan apa yang kami punya kepada mereka (orang lain), melaksanakan tugas sosial yang sangat besar.” Kami tidak percaya akan adanya neraka, dan seandainya pun neraka itu ada, kami tidak percaya bahwa semua orang akan jatuh ke sana, dan apabila sekalipun benar ada yang jatuh ke neraka kami perkirakan hanya orang-orang tertentu seperti Hitler atau Stalin. Kami tidak mengurusi Keselamatan.
  3. Alasan yang sudah sering digunakan sejak Gereja Perdana (tradisi): “Kami tidak tahu dengan pasti siapa yang akan jatuh ke neraka; oleh karena itu kami mengkhawatirkan semua orang perlu diselamatkan.” Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya yang bermain di dahan-dahan pohon, meneriaki mereka untuk segera turun dari pohon agar tidak celaka terjatuh. Bagi ibu tersebut yang terpenting bukanlah bagaimana anak-anak itu pandai memanjat atau dahan pohon yang kuat sehingga mereka tidak jatuh celaka; melainkan yang terpenting adalah bahwa biasanya kalau anak-anak itu jatuh, mereka celaka. Kelompok ini (kelompok tradisional/gereja perdana/tradisi) tahu bahwa semua orang dapat jatuh ke dalam neraka, karena Yesus yang mengatakannya. Jadi kelompok ini bukanlah kelompok moderen. Bagi kelompok ini tidak dapat diketahui dengan pasti siapa saja yang mungkin akan jatuh ke neraka, karena Yesus tidak mengatakan kepada kita. Oleh karena itu kelompok gencar menyerukan pewartaan agar semua orang mengenal Yesus agar diselamatkan, berusaha sebisa mungkin mencegah orang jatuh ke dalam neraka, menjauhkan orang dari jurang neraka, memelihara hidup setiap orang di dunia sama giatnya dan intensif seperti kelompok fundamentalis.

Tiga alasan di atas secara tidak langsung juga selaras dengan pandangan terhadap tindakan Aborsi (pengguguran kandungan).  Ada tiga kemungkinan etika di masyarakat dunia terhadap tindakan aborsi, yang selaras dengan tiga alasan yang telah dijelaskan di atas mengenai misi pewartaan keselamatan. Tiga kemungkinan etika yang sudah dikenal luas di masyarakat dunia:

  1. Etika yang mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia, dan oleh karena tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  2. Etika yang mengklaim bahwa tidak benar bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi maka tidak benar juga tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  3. Etika yang tidak mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia.

Dari ketiga etika di atas, yang paling sering diterima oleh kelompok skeptis (yang tidak ingin mengklaim) adalah etika yang ke tiga. Etika ketiga ini banyak diterima oleh kelompok orang mendukung kebebasan pilihan dari setiap orang, dan bagi etika ketiga ini juga menarik bagi kelompok orang yang mendukung mempertahankan-hidup (kandungan). Karena bagi kedua kelompok ini jika kita tidak mengetahui dengan pasti bahwa bayi yang belum lahir adalah bukan digolongkan manusia dan tidak mempunyai jiwa; maka berdasarkan alasan itu tindakan aborsi adalah dinilai sangat buruk dan tidak bertanggung jawab karena mempertaruhkan kemungkinan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan! Tindakan itu sama halnya seperti kita melempar batu bata dari gedung yang tinggi ke arah suatu pemukiman dengan mengharapkan bahwa batu itu tidak mengenai dan melukai orang yang mungkin ada atau tidak ada di bawah gedung.

Ketidakpedulian dan Kekhawatiran dapat mempengaruhi alasan kita atas suatu tindakan yang kita perbuat, sama halnya dengan Pengetahuan dan Kepastian juga dapat mempengaruhi alasan kita. Contohnya; Jika saya mengira bahwa anak saya yang sedang sakit mungkin (karena pengetahuan saya akan kemungkinan akibat penyakit tersebut) akan meninggal, saya akan dengan secepatnya mencari dokter; begitu juga sama cepatnya saya akan mencari dokter  jika saya mengetahui pasti (karena saya menyaksikan anak saya sedang sekarat). Dengan demikian, kelompok orang skeptis liberal yang berpikiran terbuka dan kelompok orang yang sepenuhnya membaktikan diri sebagai fundamentalis sangat bersesuaian.

Masih ada hal lain yang perlu diketahui mengenai motivasi misi pewartaan Injil, hal yang lebih penting dari perhitungan dan kemungkinan-kemungkinan yang telah dibahas di atas. Motivasi kita mewartakan Injil bukan hanya untuk menambah jumlah populasi penghuni Surga, dan mengurangi populasi penghuni Neraka; tetapi juga untuk mengundang orang lain untuk ikut hidup dalam rohani yang lebih mendalam: memahami hubungan khusus dan cinta dari Kristus yang membawa ke pendalaman iman, harapan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian. Tanpa pengetahuan eksplisit (pewartaan) akan Kristus, hal pendalaman kehidupan rohani mungkin tidak akan tercapai. Dan tanpa pewartaan, walaupun masih ada kemungkinan keselamatan bagi orang lain yang tidak mengenal Kristus, tetapi jaminan bahwa keselamatan dapat terdengar oleh orang lain tidak mungkin tercapai tanpa pewartaan.

(sekian)

Pewarta Sabda

Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu?

Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam. Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang memadai.

Sabda Allah dalam Pewartaan Aktual Gereja

Ada perbedaan antara Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Sabda Allah dalam khotbah pewartaan aktual Gereja. Oleh karena wahyu selesai dengan kematian para rasul, dasar normative juga sudah diletakkan. Segala pewartaan selanjutnya tergantung pada norma itu. Tugas pewartaan tidak lain kecuali mengaktualisasi apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul.

Dengan demikian, Sabda Allah sungguh datang kepada manusia dan menyelamatkan mereka yang mendengarkan pewartaan Gereja. Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekadar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus yang mulia. Di dalamnya Kristus menyelamatkan, menyembuhkan hati setiap orang yang mendengar dan membuka diri terhadap Sabda yang disampaikan itu. Kristus membebaskan kita dari dosa melalui Sabda-Nya.

Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif

Pewartaan para rasul ternyata mengalami proses peralihan kepada pewartaan Gereja. Proses itu dibarengi dengan suatu proses yang penting sekali untuk kehidupan Gereja, yakni Sabda Allah menjadi “Kitab Suci”.

Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah.

Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang juga berasal dari pewartaan para rasul.

Bentuk-Bentuk Sabda Allah dalam Gereja

Sabda yang merupakan hakikat Gereja mendapat wujudnya dalam bermacam-macam bentuk. Ada tiga bentuk Sabda Allah dalam Gereja yaitu: sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun Gereja, Sabda Allah dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif, dan Sabda Allah dalam pewartaan aktual Gereja sepanjang zaman.

Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara.

Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.

Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah.

Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.