Tuntutan Kerajaan Allah: Sabda Bahagia


Menurut intisarinya, Sabda Bahagia berasal dari Yesus sendiri. Versi yang tertua barangkali termaktub dalam Luk 6:20b-21:

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.”

Yang menarik perhatian yaitu intisari Sabda itu menyatakan sebagai “berbahagia” bukan orang-orang saleh melainkan orang miskin, orang lapar, dan orang yang menangis. Dengan demikian Yesus memaklumkan suatu “revolusi” yang membalikkan nilai-nilai dan tata hubungan. Maksud Sabda Bahagia itu dapat diuraikan sekitar pokok-pokok ini: ketegangan eskatologis yang mewarnainya, yang dituju oleh sabda-sabda ini, serta sikap hidup mereka, dan siapakah yang secara konkret termasuk golongan mereka yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Dan akhirnya harapan yang beralasan.

Ketegangan eskatologis ini terungkap dalam pewartaan bahwa Kerajaan Allah “sudah dekat”. Ungkapan ini berarti rangkap: di satu pihak Kerajaan Allah sudah terasa sekarang ini, tetapi di pihak lain penyelesaiannya belum tiba dan kesempurnaannya masih dinanti-nantikan. Oleh karena itu, terdapat ketegangan antara “sudah” dan “belum”. Sekarang pemerintahan Allah sudah membayangi dunia kita ini, tetapi belum datang dalam kesempurnaannya. Dengan kata lain, masa depan sudah mulai.

Mengapa orang “miskin” atau “sengsara” ini dinyatakan berbahagia oleh Yesus? Ucapan “berbahagialah, hai kamu … ” ada sangkut pautnya dengan sikap hidup atau cara hidup yang dapat dimiliki justru oleh orang-orang semacam itu. Justru mereka yang miskin dan menderita, singkatnya yang tidak memiliki apa-apa dan tak berdaya di dunia ini, paling condong mengharapkan segalanya dari Tuhan. Satu-satunya sandaran mereka ialah Tuhan. Satu-satunya kekayaan dan kekuatan mereka adalah Tuhan. Tuhan adalah segala-galanya untuk mereka. Mereka inilah yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Sebaliknya mereka yang merasa diri mempunyai andil dan mempunyai kekuatan sendiri, misalnya karena kesalehannya, tak terpikirkan oleh Yesus untuk disapa “berbahagia”.

Kiranya jelas yang berbahagia ialah mereka yang menerima Allah sebagai satu-satunya raja mereka. Untuk itu mereka rela melepaskan raja-raja yang lain, seperti harta dan kehormatan, dan rela pula mempertaruhkan segala-galanya, termasuk diri mereka sendiri, demi Sang Raja. Bukankah sikap ini sikap yang dihayati oleh Yesus sendiri? Sikap hidup ini memang menjungkirbalikkan ukuran-ukuran duniawi. Kepada orang-orang yang cara hidupnya sama dengan cara hidup yang dipilih Yesus inilah yang dinyatakan berbahagia. Mengapa? Karena sikap orang-orang ini cocok untuk menantikan kerajaan Allah, malah untuk sekarang pun sudah dibayangi oleh sukacita besar di tengah-tengah lembah duka kehidupan mereka. Allah akan menghibur, memuaskan dan menjadikan mereka anak-anak-Nya.

Tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal, Adakah dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya Yesus mau menganjurkan dan mempertahankan kemiskinan, kelaparan, pengangguran, dan penderitaan di bumi ini? Jelas tidak. Dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya, Yesus mau mengatakan bahwa kekayaan dan kekuatan kita hanya terletak pada Allah. Dengan bersandar pada kekuatan Allah itu, kita harus berjuang menyingkirkan semua penderitaan di dunia ini. Dalam diri Yesus, Allah yang menjadi manusia, Allah mulai mengubah sejarah umat manusia menjadi lebih sejahtera. Yesus berkeliling di Palestina sambil menyembuhkan orang sakit, melegakan orang cemas dan gelisah, membebaskan orang yang tertekan jiwa raganya, bahkan membangkitkan orang mati, dan sebagainya.

Akan tetapi, kapan suasana kasih, adil, dan damai itu tercipta? Ada kesan Allah tidak atau belum memerintah di bumi ini. Ada pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, korupsi, perkelahian, dan sebagainya. Ada perang antar negara, pesawat yang dibajak, orang- orang yang lapar, kecelakaan lalu lintas, banjir dan tanah longsor yang menelan ratusan jiwa, dan sebagainya. Melihat semua itu, kita bisa berkesimpulan: tidak ada kerajaan Allah di bumi ini. Sekurang-kurangnya belum ada.

Memang kerajaan Allah belum terlaksana dengan sepenuh-penuhnya, tetapi sudah mulai nyata. Sebab melalui Yesus, pemerintahan Allah sudah mulai menerobos masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Sejak kedatangan Yesus, lebih-lebih sejak kebangkitan-Nya dari alam maut dan sejak turunnya Roh Kudus atas orang-orang yang percaya kepada-Nya, Allah mulai meraja di bumi ini.

Ia mulai meraja dengan sepenuh-penuhnya baru dalam diri Yesus, sebab hanya Dialah yang seluruhnya dirajai Allah. Tetapi mulai dari Yesus, pemerintahan Allah semakin meluas, sebab setiap langkah yang diambil oleh Yesus (kini melalui Gereja-Nya) menawarkan keselamatan kepada mereka yang dijumpai-Nya. Dengan demikian terbukalah jalan bagi pemerintahan Allah di dunia ini, sehingga kita dapat pula melihat daftar peristiwa-peristiwa cerah yang membawa banyak harapan.