Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Novena Roh Kudus

novenarohkudus

Umat kristen mempunyai kebiasaan mengadakan doa Novena Roh Kudus. Ini dilaksanakan selama sembilan hari (novena = sembilan), mulai pada hari sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dan berakhir pada hari sabtu menjelang Pentekosta. Dalam doa ini umat kristen memuji Tuhan yang menjanjikan kedatangan Roh Kudus dan memohon rahmat Allah agar siap menyambut kedatangan Roh Kudus. Doa ini juga bisa dilaksanakan pada kesempatan lain yang cocok. Yang tersaji di sini lebih dimaksudkan untuk didoakan dalam kelompok; kalau didoakan secara pribadi, dapat disesuaikan seperlunya.

Kalau Novena ini dipadukan dengan Perayaan Ekaristi, sesudah Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus menyusul Liturgi Ekaristi (persembahan, Doa Syukur Agung, dan seterusnya)

Hari Pertama

Allah pokok keselamatan kami, karena kebangkitan Kristus kami lahir kembali dalam pembaptisan dan menjalani hidup baru. Arahkanlah hati kami kepada Kristus yang kini duduk di sebelah kanan-Mu. Semoga Roh-Mu menjaga kami sampai Penyelamat kami datang dalam kemuliaan, sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

 

Hari Kedua

Allah yang mahabijaksana, Putra-Mu menjanjikan Roh Kudus kepada para rasul dan memenuhi janji itu sesudah Dia naik ke surga. Semoga kami pun Kau anugerahi karunia Roh Kudus. Demi Yesus Kristus, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Hari Ketiga

Allah, Penyelamat kami, kami percaya bahwa Kristus telah bersatu dengan Dikau dalam keagungan. Semoga dalam Roh-Nya, Dia selalu menyertai kami sampai akhir zaman, seperti yang dijanjikan-Nya. Sebab Dialah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus .

 

Hari Keempat

Allah yang mahakudus, semoga kekuatan Roh-Mu turun atas kami, agar kami mematuhi kehendak-Mu dengan setia dan mengamalkannya dalam cara hidup kami. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Hari Kelima

Allah yang mahakuasa dan mahakudus, semoga Roh Kudus turun atas kami dan berdiam dalam diri kami, sehingga kami menjadi kenisah kemuliaan-Nya. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Hari Keenam

Allah yang mahaesa, Engkau telah menghimpun Gereja dalam Roh Kudus. Semoga kami mengabdi kepada-Mu dengan ikhlas dan bersatu padu dalam cinta. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus

Hari Ketujuh

Allah yang mahakudus, curahkanlah Roh Kudus-Mu ke dalam diri kami, sehingga kami dapat melaksanakan kehendak-Mu dan layak menjadi milik-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Hari Kedelapan

Allah sumber cahaya kekal, Engkau telah membukakan bagi kami jalan menuju hidup kekal dengan memuliakan Putra-Mu dan mengutus Roh Kudus. Semoga cinta bakti dan iman kami selalu bertambah. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Hari Kesembilan

Allah yang mahakuasa, kebangkitan Putra-Mu telah menumbuhkan hidup baru dalam diri kami. Semoga karena bantuan Roh-Mu kami mewujudkan rahmat kebangkitan dalam hidup kami sehari-hari. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus.

Rosario Roh Kudus

Rosario Roh Kudus disusun pada tahun 1892 oleh seorang biarawan Fransiskan Kapusin di Inggris sebagai sarana bagi umat beriman untuk menghormati Roh Kudus. Doa ini kemudian memperoleh persetujuan apostolik dari Paus Leo XIII pada tahun 1902. Rosario ini dimaksudkan sebagai sarana untuk menghormati Roh Kudus, sama seperti Rosario Bunda Maria di maksudkan para rahib Dominikan untuk menghormati Bunda Maria.

Rosario ini terdiri atas 5 kelompok manik-manik. Tiap kelompok terdiri dari 7 manik. Sebelum dan sesudah tiap kelompok terdapat 2 butir manik besar, sehingga seluruhnya ada 35 butir manik kecil dan 12 butir manik besar. Sebagai tambahan, terdapat 3 manik kecil pada bagian permulaan. Pada ketiga manik kecil ini dibuat tanda salib, lalu di daraskan doa tobat dan himne datanglah Roh Pencipta.

Dalam tiap kelompok manik, diucapkan doa kemuliaan pada ketujuh manik kecil, dan 1 doa Bapa Kami serta 1 Salam Maria pada kedua manik besar. Pada 2 manik besar yang tersisa di bagian akhir, diucapkan Sahadat Para Rasul (Aku percaya …..), doa Bapa Kami dan Salam Maria untuk mendoakan Bapa Suci.

Pada doa ini terdapat 5 misteri: masing-masing misteri direnungkan pada setiap kelompok manik-manik. Angka lima merupakan penghormatan atas lima Luka Suci Yesus yang merupakan sumber rahmat yang dibagikan Roh Kudus untuk seluruh umat manusia.

Tata Cara Berdoa Rosario Roh Kudus

rosario-roh-kudus1

 
Rosario Roh Kudus

  1. Tanda Salib

  2. Doa Tobat : Saya Mengaku…

  3. Doa “Datanglah Ya Roh Pencipta”

Datanglah hai Roh Pencipta kunjungilah jiwa kami semua penuhilah dengan rahmat-Mu hati kami ciptaan-Mu. Gelar-Mu ialah penghibur rahmat Allah yang mahaluhur Sumber Hidup, Api Kasih dan Pengurapan Ilahi. Engkaulah sumber sapta karunia jemari tangan Sang Ilahi. Engkaulah janji sejati Allah Bapa yang mempergandakan bahasa. Terangilah akal budi, curahkan cinta di setiap hati. Segala kelemahan kami semoga Kau lindungi dan Kau kuatkan. Jauhkanlah semua musuh segera, anugrahkanlah kedamaian jiwa, dengan Engkau sebagai penuntun kami kejahatan tak’kan mempengaruhi. Perkenalkanlah kami kepada Bapa ajarilah agar mengakui Putra serta Engkau, Roh dari Keduanya yang kami imani dan puji selamanya.Segala kemuliaan bagi Allah Bapadan bagi Sang Putrayang telah bangkit dari matiserta bagi-Mu Roh Kudus pulasepanjang segala abad.Amin

  1. Misteri Pertama:”Dari Roh Kuduslah Yesus dikandung Perawan Maria.”

(Renungan Luk 1:35 )
Ujud khusus: Dengan tekun, mintalah bantuan dari Roh Ilahi serta perantaraan Bunda maria untuk mengikuti kebajikan-kebajikan Yesus Kristus, contohlah segala kebajikan-Nya, sehingga kita dapat menjadi serupa dengan citra Putra Allah.
Renungan dan doa pribadi …Bapa Kami …Salam Maria …Kemuliaan … (7x)

  1. Misteri Kedua:”Roh Allah turun atas Yesus.”

(Renungan Mat 3:16 )
Ujud khusus: Peliharalah dengan penuh kesungguhan anugrah yang tak ternilai, rahmat pengudusan yang dicurahkan dan ditanamkan dalam jiwa kita oleh Roh Kudus pada saat pembabtisan. Peganglah dengan teguh janji baptis yang telah kita ucapkan: tingkatkan iman, harapan dan cinta kasih melalui tindakan nyata, serta hiduplah sebagai anak-anak Allah dan anggota Gereja Allah yang sejati agar kelak kita dapat memperoleh warisan surgawi.
Renungan dan doa pribadi …Bapa Kami …Salam Maria …Kemuliaan … (7x)

  1. Misteri Ketiga:”Oleh Roh Kudus, Yesus dibimbing menuju padang gurun untuk dicobai.”

(Renungan Luk 4:1-2)
Ujud khusus: Bersyukurlah selalu atas ketujuh karunia Roh Kudus yang dicurahkan pada kita saat menerima Sakramen Penguatan: Roh kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan, dan rasa takut akan Allah. Serahkan diri kita dengan setia kepada bimbingan Ilahi-Nya, sehingga di atas segala godaan dan pencobaan hidup kita berlaku secara perkasa sebagai seorang Kristen sejati dan prajurit Kristus yang berani.
Renungan dan doa pribadi …Bapa Kami …Salam Maria …Kemuliaan … (7x)

  1. Misteri Keempat:”Peranan Roh Kudus dalam Gereja.”

(Renungan Kis 2:2, Kis 2:4, Kis 2:11 )
Ujud khusus: Bersyukurlah kepada Tuhan karena Ia menjadikan kita sebagai anggota Gereja-Nya yang selalu dijiwai dan diarahkan oleh Roh Kudus, Roh yang diturunkan ke dunia untuk tugas itu pada hari Pentekosta. Dengarlah dan patuhilah Takhta Suci, wakil Roh Kudus yang tidak dapat salah, serta Gereja, pilar dan dasar kebenaran. Junjunglah ajaran-ajarannya dan belalah hak-haknya.
Renungan dan doa pribadi …Bapa Kami …Salam Maria …Kemuliaan … (7x)

  1. Misteri Kelima:”Roh Kudus dalam jiwa-jiwa orang beriman.”

(Renungan 1Kor 6:19, 1Tes 5:19, Ef 4:30 )
Ujud khusus: Sadarilah keberadaan Roh Kudus dalam diri kita, peliharalah dengan seksama kemurnian tubuh dan jiwa, ikutilah dengan setia bimbingan Ilahi-Nya, sehingga kita dapat menghasilkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, iman, kerendahan hati, penguasaan diri, dan kemurnian.
Renungan dan doa pribadi …Bapa Kami …Salam Maria …Kemuliaan … (7x)

  1. Aku Percaya …Bapa Kami …Salam Maria ..

Doa Penerangan Roh Kudus

Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati umat-Mu, dan menyalakan di dalamnya api cinta-Mu.

P   Utuslah Roh-Mu,
maka semuanya akan dicipta kembali.
U   Dan Engkau akan membaharui muka bumi.

Marilah kita berdoa. (Hening)

Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya. Demi Kristus, Tuhan kami.

(Amin)

Krisma

Menurut buku liturgi, “proses inisiasi Kristen dilanjutkan dalam sakramen krisma. Dalam sakramen krisma itu orang beriman menerima Roh Kudus yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Berkat anugerah Roh Kudus ini, orang beriman menjadi lebih serupa dengan Kristus dan dikuatkan untuk memberi kesaksian tentang Kristus, demi pembangunan tubuh-Nya dalam iman dan cinta kasih”. Di sini terletak kesulitan sakramen krisma: Roh Kudus itu sudah diterima dalam pembaptisan, yang merupakan kelahiran kembali dari air dan Roh (lih. Yoh 3:6; Kis 2:38).

Peristiwa Paska dan Pentekosta

Perlu diperhatikan bahwa dalam sakramen Krisma orang beriman “diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa” (LG 11). Keistimewaan itu ditunjuk dengan pengkhususan Roh Kudus, yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Pembaptisan dan Krisma dibedakan (dan berhubungan!) seperti Paska dan Pentekosta. Pada hari Paska, Allah “membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga” (Ef 1:20). Kemudian pada hari Pentekosta, Kristus “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka mencurahkan-Nya” kepada para rasul (Kis 2:33) dengan tujuan agar “kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Paska berarti Yesus dengan ke-manusiaan-Nya masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Pentekosta berarti Roh Kudus, “yang keluar dari Bapa” (Yoh 15:27), diutus ke dalam dunia.

“Perbedaan arah” ini juga kentara dalam kedua kisah mengenai kenaikan Yesus ke surga. Pada akhir Injilnya Lukas menceriterakan bagaimana Yesus “memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51). Sebaliknya pada awal Kisah Para Rasul dikatakan: “Kamu akan menjadi saksi-Ku. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9). Masih ditambahkan teguran dua malaikat: “Hai orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis 1:11). Mereka diutus ke dunia, maka harus melihat ke depan, tidak ke atas.

Begitu juga dengan Pembaptisan dan Krisma. Pembaptisan, yang disebut “pintu” (LG 11) untuk “masuk menjadi anggota umat Allah” (PO 5), mengarah ke dalam. Sebaliknya Krisma, yang mewajibkan orang “menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati” (LG 11), mengarah ke luar. Tentu saja “dengan baptis dan penguatan/krisma orang ditugaskan untuk kerasulan” (LG 33; lih. AG 36). Dengan demikian, kelihatan bahwa inisiasi merupakan proses: masuk kemudian diutus. Tentu saja, seseorang tidak masuk Gereja untuk “mapan” di situ, melainkan supaya diutus. Oleh karena itu kedua sakramen bersama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam arti penuh. Tetapi karena arahnya yang berbeda, kedua sakramen ini pantas dibedakan,

Pembaptisan dan Krisma

Dalam buku Inisiasi Kristen dikatakan bahwa ketiga sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi) sebaiknya dirayakan bersama-sama dalam satu upacara, sedapat-dapatnya pada malam Paska. Namun upacara Krisma boleh juga dirayakan pada akhir masa mistagogi (pengantar ke dalam praktik kehidupan Kristiani), misalnya pada hari raya Pentekosta. Ketetapan ini bukan hanya perkara praktis atau soal pembagian waktu. Masalah satu atau dua upacara mencerminkan sejarah upacara Krisma, yang masih dapat dilihat pada upacara sekarang. Di atas sudah dikatakan bahwa baptisan baru, sesudah pembaptisan, diurapi. Itu sudah menjadi kebiasaan kuno, barangkali mulai abad ketiga. Tetapi ditetapkan bahwa pengurapan itu hanya dilakukan “jika tidak mungkin sakramen Krisma dirayakan dalam upacara ini”. Rupa-rupanya ada hubungan antara pengurapan sesudah pembaptisan dan sakramen Krisma. Sejarah ini tidak seluruhnya jelas.

Semula memang seluruh upacara inisiasi dilakukan oleh uskup (sebab pada waktu itu hampir setiap “paroki” dikepalai oleh seorang uskup). Dalam abad-abad berikut tetap ada pengurapan oleh uskup, yang disebut Krisma, tetapi juga ada pengurapan oleh imam (atau petugas lain) langsung sesudah pembaptisan. Krisma dipandang sebagai sakramen, sedangkan pengurapan oleh imam merupakan sakramentali. Ketika semua itu masih dilakukan oleh uskup, terang ada satu upacara, dan juga dipandang sebagai satu sakramen, yakni sakramen inisiasi. Dengan adanya dua upacara juga timbul kesadaran bahwa ada dua sakramen, yakni Baptis dan Krisma. Maka sekarang timbul pertanyaan: dua sakramen atau satu sakramen? Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, lebih-lebih karena Perjanjian Baru tidak mengenal upacara pengurapan dalam hubungan dengan pembaptisan, entah langsung sesudahnya entah lebih kemudian.

Sering kali Kis 8:14-17 (Petrus dan Yohanes yang meletakkan tangan atas orang yang baru dibaptis oleh Filipus) dan 19:1-7 (Paulus yang meletakkan tangan atas orang yang hanya menerima pembaptisan Yohanes), dilihat sebagai “awal” sakramen Krisma, karena yang melakukannya adalah rasul-rasul dan karena diberikan Roh Kudus. Tetapi barangkali harus dikatakan bahwa dengan upacara itu para rasul mau “melengkapi” pembaptisan yang telah diterima. Kalau orang yang dibaptis belum menerima Roh Kudus, pembaptisan belum lengkap. Kiranya di sini Pembaptisan dan Krisma justru tidak dibedakan.

Kesadaran ini baru muncul pada zaman Tertulianus (160-220). Bersama dengan itu berkembang terus arti Pentekosta sebagai saat Gereja mendapat perutusannya dari Tuhan yang mulia. Perkembangan dalam pemahaman akan arti perutusan itu serta penguatan khusus untuk itu oleh Roh Kudus, terungkap juga dalam liturgi inisiasi. Dua upacara dalam inisiasi memang baru dikenal sejak abad ketiga, tetapi kesadaran akan perbedaan antara Paska dan Pentekosta sudah ada dalam Kitab Suci (lih. Yoh 7:39 “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”). Menghubungkan dua tahap dalam proses kelahiran Gereja dengan proses inisiasi, baru terjadi dalam perkembangan tradisi Gereja. Tahap kedua inisiasi sekarang disebut “Krisma”, guna membedakan pengurapan itu dari pembaptisan. Kedua sakramen ini dibedakan menurut kekhususan upacaranya. Lama sekali Krisma disebut “sakramen penguatan”. Nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan upacara liturgisnya, tetapi menunjuk kepada isi dan artinya: dikuatkan untuk tampil sebagai saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun (terutama) dengan corak kehidupan.

Pembaptisan

Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci

Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah “penemuan” Tuhan Yesus. Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.

Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang “sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau mempersiapkan orang menghadapi “murka yang akan datang” (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan dalam upacara pembaptisan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4). Maka “sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan” (Mat 3:6).

Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa ”Yesus pergi ke tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa ”Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya. Petrus menambahkan dua hal: “dalam nama Yesus Kristus” dan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi “karunia Roh Kudus”, yang “bersaksi bersama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan “Kristus Yesus, Juru Selamat kita” (Tit 1:4), yang memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” (Kis 2:33).

Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen pembaptisan: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya – sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa – demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: “Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: “Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai “inisiasi Kristen”, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay. 11).

Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita “karena rahmat-Nya oleh pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Itulah yang oleh Yohanes disebut “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus sebagai Anak Allah: “Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak, maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus, tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan langsung dapat ditarik kesimpulan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Dalam Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja

Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. “Tempat pembaptisan” itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada malam Paska:

Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?

Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di sisi kanan Bapa yang mahakuasa?

Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?

Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: ”Ya, saya percaya”. Sesudah itu, ia ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi “sakramen iman”, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku “Inisiasi Kristen” menetapkan:

“Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:

… (disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.

Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya kepada baptisan baru.” .

Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus (lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27, “mengenakan Kristus”, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.

Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebut Didahke atau “Pengajaran Kedua Belas Rasul”. Di dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: “Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis, berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya”.

Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang menjelaskan arti sakramen.

Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:

“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (SC 6).

Mereka menjadi “penyembah sejati” dalam Gereja, sebab “dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen” (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak

Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa kepala penjara Filipi “memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya” (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anak-anak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke “pinggir” neraka saja).

Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin”. Mereka dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: “Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu”.

Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, “Dalam upacara pembaptisan kanak-kanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis”.

“Wali baptis” sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua “pembantu” calon baptis: penjamin dan wali baptis. “Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis. Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara ‘pemilihan'”, Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai “sponsor” atau “penanggung jawab”. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah “dari luar” (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis “mendampingi katekumen pada hari ‘pemilihan’, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa ‘mistagogi‘, artinya ia menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya.” Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi “penjamin” tidak perlu, dan fungsi “wali baptis” lebih dipegang oleh orangtuanya.

Oleh karena itu, pada saat “penolakan setan dan pengakuan iman” pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: “Maukah saudara supaya anak ini dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?”. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri (yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi, tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

Epiklese

Menyerahkan diri secara efektif kepada Allah mengatasi kemampuan dan kemungkinan seorang manusia, dan hanya mungkin dalam Roh Kudus (lih Rm 8:14.27; 1Kor 2:11; Gal 4:6; Ef 6:18). Maka juga Doa Syukur Agung Gereja tidak mungkin tanpa pertolongan Roh Kudus. Oleh karena itu, di samping anamnese selalu ada suatu epiklese dalam doa ekaristi. Yang dimaksudkan dengan “epiklese” ialah doa permohonan supaya Roh Kudus turun. Dalam kebanyakan Doa Syukur Agung ada dua epiklese, satu supaya roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus (epiklese konsekrasi), dan kedua supaya mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan menjadi Tubuh Kristus yang mistik (epiklese komuni). Jadi permohonan supaya roti dan anggur benar-benar menjadi “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah”, dan permohonan kedua supaya oleh perayaan ini umat juga dipersatukan sendiri satu sama lain. Dengan demikian epiklese menjadi doa permohonan yang paling pokok dan sekaligus awal segala permohonan yang lain. “Anamnese” termasuk puji-syukur, “epiklese” adalah pokok dan awal permohonan. Dari satu pihak diikuti adat kebiasaan orang Yahudi, dari pihak lain sekarang pengenangan dipusatkan pada wafat dan kebangkitan Kristus, dan permohonan ditujukan terutama pada rahmat Roh Kudus.