Kecewakah Tuhan, jika kita mengeluh?

Tuhan tidak kecewa ketika kita mengeluh. Bukankah BundaNya Yesus yaitu Maria pernah bertanya kepada Yesus “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?” Dan Yesus sendiri ketika disalib mengeluh “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Jika Yesus saja pernah mengeluh kepada Allah Bapa, dan Maria juga pernah mengeluh kepada Yesus – mengapa Kita tidak boleh mengeluh juga? Namun hendaklah keluhan kita sampaikan kepada Tuhan, bukan kepada Manusia. Dan di akhir keluh kesah kita dalam doa, kita katakan ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaku.’

Mereka yang mengeluh kepada sesamanya, tidak dapat melihat kehendak Tuhan. Tetapi mereka yang mengeluh kepada Tuhan, menemukan semangat untuk mengabdi, seperti keluhan Yesus yang berubah menjadi cinta kasih.

terjemahkan bebas dari “THE DIVINE HEALER” – Uskup Agung Fulton Sheen

Refleksi Pribadi – Jalan Salib

Yesus disalibkan

Aku bisa saja berkata bahwa aku mengasihi Tuhan, Yesus yang telah berkorban demi cinta-Nya untuk ku. Tapi apakah aku mau meneladani contoh yang ditunjukkan Yesus? Dapatkah aku berkata bahwa aku sudah mengasihi sesama ku? Sudahkah aku berkorban demi mereka? Apakah aku mau mengingat kembali tujuan aku dibaptis, yaitu agar dapat mengambil bagian memikul Salib? Memikul beban demi sesama ku? Mengikuti seperti yang Yesus lakukan dengan Jalan Salib – Agar aku dapat serupa dengan Yesus; Agar aku dapat diselamatkan; Agar sesama ku juga dapat diselamatkan… Siapakah sesama ku?

Ya Yesus Tuhan ku, sadarkan aku agar selalu mengingat Engkau – dan ingatkan aku agar tidak melupakan sesama ku. Amin.