Situasi Zaman Yesus

1. Latar Belakang Geografis

Secara geografis, Palestina dibagi dalam dua daerah yang sangat berbeda. Yudea merupakan daerah pegunungan yang terletak di sekitar Yerusalem dan Bait Allah. Lahan daerah ini gersang dan kering. Di sini dibudidayakan buah zaitun dan lain-lainnya, sedangkan peternakan kambing dan domba merupakan kegiatan yang tersebar luas.

Daerah lain adalah Galilea. Daerah ini merupakan bentangan lahan yang subur dan merupakan tanah luas untuk tanaman jagung atau peternakan besar. Di daerah ini terdapat rute perdagangan, satu dari Damsyik menuju ke laut, dan dari Damsyik ke Yerusalem. Pedagang-pedagang asing mempunyai pengaruh besar di daerah ini. Hal ini menjadi salah satu ciri Galilea, yaitu terkenal sebagai daerah dengan penduduk berdarah campuran dan yang dianggap tidak murni oleh bangsa Yahudi (Mat 4: 13). Di sepanjang pantai dan danau terdapat nelayan. Danau Galilea merupakan salah satu sumber hidup bagi masyarakat.

Singkatnya, dipandang dari sudut geografis sosial terdapat perbedaan yang mencolok antara desa-desa yang berswasembada di Galilea dan kota-kota yang telah berkembang di Yudea, terutama Yerusalem, yang menyerap banyak tenaga buruh.

2. Latar Belakang Politik

Setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babilonia, enam abad sebelum Yesus, Palestina tunduk pada kerajaan Persia, Yunani, dan kekaisaran Romawi. Secara internal, masyarakat Palestina dikuasai oleh raja-raja dan pejabat boneka yang ditunjuk oleh penguasa Roma. Selain pejabat-pejabat boneka itu, masih ada kelas pemilik tanah yang kaya raya dan kaum rohaniwan kelas tinggi yang suka menindas rakyat demi kepentingan dan kedudukan mereka. Golongan-golongan ini sering memihak penjajah, supaya mereka tidak kehilangan hak istimewa atau nama baik di mata penjajah, karena Roma mempunyai kekuasaan mencabut hak milik seseorang. Siapa yang tidak takut? Jadi lebih baik bermanis-manis terhadap Roma, biar untuk itu rakyat kecil harus menderita.

Struktur kekuasaan ini dapat digambarkan dengan piramida sebagai berikut: Puncak kekuasaan politik adalah prokurator Yudea. Ia harus seorang Romawi. Ia berwenang menunjuk Imam Agung yang dipilih dari empat kalangan keluarga yang mempunyai pengaruh di dalam masyarakat pada waktu itu. Di Yudea, Imam Agung berperanan politis sebagai raja selain sebagai pemimpin agama. Di Galilea, kekuasaan dipegang oleh raja Herodes Antipas, seorang raja boneka Romawi.

Roma secara tidak langsung mengendalikan kaum aristokrat setempat dan para tuan tanah. Hal ini dapat dengan mudah dilakukan, karena Roma mempunyai kekuasaan mencabut hak milik seseorang seperti yang sudah disinggung di atas. Oleh karena itu para aristokrat (baik sipil maupun rohaniwan) berkepentingan bekerja sama dengan penguasa Romawi. Selain itu ada pejabat-pejabat yang menjadi perantara yang ditunjuk langsung oleh penguasa Romawi dan pada umumnya diambil dari kalangan sesepuh Sanhedrin (Majelis Agung) serta majelis rendah yang diambil dari kelas bawah. Mereka bertanggung jawab mengumpulkan pajak. Dominasi militer terlihat dengan kehadiran tentara Romawi di mana-mana. Mereka diambil dari Siria atau Palestina, tetapi tidak dari kalangan Yahudi.

Kadang-kadang situasi yang menekan tidak tertahankan, sehingga timbul pemberontakan yang umumnya digerakkan oleh kaum Zelot yang bermarkas di Galilea; namun selalu dapat dipadamkan. Biasanya terjadi banjir darah dalam penumpasan itu. Itu sebabnya pengharapan akan datangnya tokoh dan masa mesianis yang nasionalistis bertumbuh subur di kalangan pejuang Zelot.

3. Latar Belakang Ekonomi

Penduduk Palestina pada zaman Yesus diperkirakan berjumlah kurang lebih 500.000 jiwa dan penduduk kota Yerusalem 300.000 jiwa. Berbicara tentang keadaan ekonomi ada baiknya dibedakan antara keadaan di desa-desa dan di kota-kota.

Penduduk desa umumnya memiliki lahan-lahan kecil saja yang menghasilkan hasil pertanian. Sebagian besar tanah dikuasai oleh para tuan tanah kaya yang tinggal di kota-kota. Lahan-lahan luas yang terdapat di Galilea dipergunakan untuk menanam jagung serta peternakan besar; di Yudea untuk menanam buah zaitun dan buah-buahan lain, serta untuk peternakan kambing dan domba, yang secara tidak langsung dikelola para tuan tanah yang tinggal di kota-kota yang terlibat dalam bidang ekonomi kota serta perdagangan internasional. Rakyat kebanyakan menjadi penggarap atau gembala. Selain para petani dan gembala masih terdapat pengrajin-pengrajin kecil yang umumnya mengadakan perdagangan barter. Di kota-kota terdapat tiga sektor ekonomi. Pertama, para pengrajin tekstil, makanan, wangi-wangian, dan perhiasan. Mereka bekerja di sektor pembangunan atau pelayanan. Kedua, mereka yang …. bekerja di bidang konstruksi dalam rangka pembangunan Bait, Allah atau istana-istana para pejabat Romawi atau kaum aristokrat setempat. Diperkirakan pada tahun 60 SM di Yerusalem saja terdapat sekitar 18.000 buruh bangunan. Ketiga, para pedagang. Para pedagang besar memiliki budak, dan menjual-belikan bahan-bahan baku serta hasil pertanian. Pedagang-pedagangan kecil kerap kali pengrajin sendiri atau mereka yang tergolong dalam kelompok sosial yang setara.

Sebagian besar penduduk Palestina adalah rakyat kecil yang keadaan ekonominya cukup parah, karena penghasilan mereka terlalu kecil. Dalam situasi yang parah seperti itu, mereka masih dibebani dengan pelbagai macam pajak dan pungutan untuk pemerintah,

untuk angkatan perang Romawi, untuk para aristokrat setempat, untuk Bait Allah, dsb. Konon pajak dan pungutan itu mencapai 40%, dari penghasilan rakyat.

4. Latar Belakang Sosial

Masyarakat Palestina terbagi dalam kelas-kelas. Di daerah pedesaan terdapat tiga kelas atau kelompok sosial: tuan tanah besar (biasanya mereka tidak tinggal di lahan mereka), pemilik tanah kecil, pengrajin, kaum buruh dan budak.

Di daerah perkotaan terdapat tiga lapisan masyarakat: yang tergolong dalam lapisan tertinggi ialah kaum aristokrat imam yang terdiri dari empat keluarga besar. Prokurator memilih seorang Imam Agung di antara mereka. Dalam lapisan tertinggi terdapat juga pedagang-pedagang besar dan pejabat-pejabat tinggi. Disusul kelas menengah bawah yang terdiri dari para pengrajin, pejabat-pejabat rendah, awam atau imam, dan kaum Lewi. Pada lapisan paling bawah terdapat kaum buruh, yang pada umumnya bekerja di sekitar Bait Allah. Akhirnya terdapat kaum proletar marginal yang tidak terintegrasi dalam kegiatan ekonomi, yang terdiri dari orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat karena suatu sebab yang bukan ekonomis.

Selain kelas-kelas sosial di atas, pada masyarakat Palestina waktu itu terdapat pula berbagai diskriminasi, antara lain:

  • diskriminasi rasial (atau kasta). Yang dianggap sepenuhnya orang Israel adalah keturunan Abraham yang asli. Hanya mereka yang berketurunan asli dapat ikut mengenyam hak-hak yang berasal dari jasa Abraham atau ikut mendapat bagian dalam penyelamatan Mesias. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi di Galilea dihina karena mereka telah ternoda oleh perkawinan campuran dengan orang-orang kafir. Orang-orang Samaria juga tidak diperhitungkan, karena asal-usul Yahudi-kafir mereka;
  • diskriminasi seksual. Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi berpendapat bahwa nafsu seksual tidak dapat dikendalikan dan oleh karena itu mereka berusaha melindungi wanita dan kesusilaan dengan mengucilkan mereka. Kaum wanita tidak ikut serta dalam kehidupan bermasyarakat dan orang lebih suka mereka tinggal di dalam rumah. Dalam kehidupan keagamaan, mereka diklasifikasikan setara dengan budak kafir dan anak-anak yang belum dewasa. Mereka dianggap sebagai saksi yang tidak dapat dipercaya dan tidak bisa menunjukkan bukti di depan pengadilan. Dalam perkawinan hak-hak mereka terbatas. Berbicara dengan wanita di jalan dianggap tidak pantas;
  • diskriminasi dalam pekerjaan. Pada waktu itu juga ada diskriminasi dalam pekerjaan. Sejumlah pedagang seperti pemilik toko dan para dokter selalu dianggap tidak jujur. Beberapa pedagang berbau busuk (pengolah kulit), lainnya (tukang jahit) dicurigai bertindak asusila karena terlibat dalam kontak dengan wanita. Para rentenir dan pemungut pajak tidak pernah bisa menjadi hakim atau saksi di depan pengadilan. Secara sosial mereka terkucil. Para pekerja yang harus berdagang dan berhubungan dengan orang-orang kafir dan siapa saja yang tidak menyisihkan sepersepuluh dari setiap pendapatan atau membersihkan setiap bejana tentulah pelanggar hukum;
  • diskriminasi terhadap anak-anak. Menurut hukum agama Yahudi, anak-anak dianggap tuna rungu dan tuna bicara, cacat mental dan di bawah umur. Mereka diklasifikasikan sama dengan orang-orang kafir, budak wanita, orang lumpuh, buta, sakit, cacat, dan tua. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa para murid mencaci-maki orang-orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk mohon berkat Yesus;
  • diskriminasi terhadap orang menderita. Kelompok lain yang secara sosial dan religius dianggap tabu, yakni penderita kusta, orang-orang sakit, dan orang yang kesurupan.

Dari jumlah penduduk kurang lebih 500.000 orang, terdapat 18.000 orang imam dan Lewi, 6.000 orang Farisi, dan 4.000 orang Eseni. Dengan keluarga mereka, kelompok-kelompok tersebut mencakup 20% dari seluruh penduduk. Sikap para pemimpin agama ini menutup kemungkinan banyak penduduk Palestina menjadi anggota bangsa Tuhan.

5. Latar Belakang Religius

Hukum Taurat sangat mewarnai hidup religius orang-orang Yahudi. Kaum Farisi berusaha menjaga warisan dan jati diri Yahudi itu. Mereka menyoroti ketaatan pada setiap pasal hukum. Bagi mereka menjadi rakyat Tuhan berarti ketaatan yang ketat pada setiap detail hukum. Mereka berusaha menerapkan hukum pada setiap keadaan hidupnya.

Tetapi mereka sendiri sangat memilih-milih dalam ketaatan mereka. Mereka mentaati hukum Tuhan dengan memusatkan perhatian kepada peraturan-peraturan ritual dan ibadah keagamaan. Bagi mereka menjadi murid Tuhan berarti ketaatan yang ketat terhadap setiap pasal hukum. Orang-orang Farisi gemar memperluas tuntutan-tuntutan kebersihan yang berlaku untuk para imam ke seluruh masyarakat Israel. Mereka menafsirkan dan kadang-kadang memanipulasi hukum Taurat demi kepentingan mereka sendiri, sehingga sering mendatangkan beban yang tidak tertahankan bagi rakyat kecil. Dalam konteks sosial dan ekonomi, mereka tidak peduli terhadap pemerintahan Romawi selama hal ini tidak memaksa mereka melanggar hukum Yahudi. Menurut pandangan mereka mengenai hukum, mereka ingin mengaku dirinya sebagai rakyat Tuhan sehingga Tuhan dengan sendirinya akan melakukan apa yang mereka sendiri tidak mampu melakukannya. Tuhan akan membawa keadilan hukum dalam masyarakat dan akan membebaskan Tanah Suci dari orang-orang kafir.

Akhirnya, perlu dicatat bahwa dalam masyarakat seperti Palestina pada waktu itu, fungsi religius melampaui jangkauan kehidupan beragama. Kekuatan adikuasa hadir di mana-mana dan Bait Allah, lambang kehadiran Tuhan, juga merupakan kekuasaan politik dan ekonomi. Dilihat dari perspektif ini kiranya jelas tidak mungkin bertindak di bidang agama, tanpa sekaligus bertindak di bidang lainnya. Pembedaan antara dunia fana dan dunia spiritual, antara politik dan agama dalam lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kegiatan manusia tidak mempunyai makna yang sama bagi masyarakat Palestina pada waktu itu. Oleh karena itu, kiranya sangat keliru menafsirkan tingkah laku seseorang seperti Yesus menurut istilah religius dalam arti modern.

Hal itu tidaklah berarti bahwa kita dapat mendapatkan pembenaran bagi tindakan politik sekarang dalam kata dan tindakan Yesus. Namun hal ini berarti bahwa penafsiran Kitab Suci hanya dapat dilakukan dengan mengingat pengetahuan antropologis dan sosiologis mengenai masyarakat Palestina, tempat Yesus hidup.

Umpamanya, bila Yesus membela kaum miskin, kita harus mengetahui siapakah yang disebut kaum miskin di Palestina pada waktu itu. Suatu penafsiran spiritual belaka merupakan kekeliruan ilmiah. Perlawanan terhadap kaum Saduki dan Farisi tidak boleh diartikan sebagai pertentangan dalam konsep keagamaan saja. Begitu pula pilihan para rasul mempunyai arti simbolis dalam konteks sosial pada waktu itu. Pengutukan secara radikal terhadap kekuasaan agama mengandung implikasi-implikasi politik dan ekonomi.

Pengalaman Religius

Menurut ajaran Konsili Vatikan II beriman berarti “dengan bebas menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah” (DV 5). Inti pokok iman terdapat dalam hubungan pribadi dengan Allah, bukan dalam pengetahuan mengenai Allah. Pengetahuan dan penyerahan terjadi bersama-sama, tetapi tidak berarti bahwa pengetahuan dan penyerahan sama saja. Dalam hal ini kita dapat membedakan pengalaman religius dan iman.

Kedua-duanya, baik iman maupun pengalaman religius, menyangkut hubungan manusia dengan Allah, tetapi arahnya berbeda. Pengalaman religius berpangkal pada manusia sendiri, sedangkan iman bertolak dari sabda Allah. Pengalaman religius mulai dengan kesadaran diri manusia sebagai makhluk, yang mengakui Allah sebagai dasar dan sumber hidupnya. Sebaliknya iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Dalam pengalaman religius manusia dalam keterbatasannya sadar bahwa ia terbuka terhadap Yang Tak Terbatas.

Pengalaman religius pada hakikatnya berarti bahwa manusia mengakui hidupnya sendiri sebagai pemberian dari Allah. Dengan mengakui hidup sebagai pemberian, ia mengakui Allah sebagai “Pemberi Hidup”. Pengalaman ini terjadi dalam kehidupan manusia di tengah-tengah dunia. Dalam pengalaman ini manusia mengalami dirinya sebagai makhluk yang sangat terbatas, yang tidak berdaya, bahkan bukan apa-apa di hadapan Yang Ilahi, Allah, yang menyentuhnya. Allah itulah segala-galanya, dasar dan sumber hidupnya, seluruh keberadaannya. Dalam keterbatasannya manusia merasa ditarik dan terpesona oleh Yang Ilahi, Yang Tak Terbatas, bahkan merasa ada ikatan dengan Yang Tak Terbatas itu, entah dalam bentuk apa.

Memandang hidup sebagai pemberian merupakan penafsiran yang secara positif mengartikan hidup sebagai sesuatu yang pantas disyukuri, sebagai anugerah yang menggembirakan. Sikap positif terhadap hidup ini adalah suatu “pilihan”, suatu sikap yang diambil manusia dengan bebas. Manusia bebas, bebas menghargai hidup dan bebas menerimanya sebagai “nasib”. Pilihan bebas ini tentu amat dipengaruhi oleh pengalaman hidup sendiri. Pengalaman yang membahagiakan kiranya lebih mudah mendorong manusia ke arah sikap positif terhadap hidup. Sedangkan pengalaman kegagalan dan kekecewaan dapat membawa orang kepada keputusasaan dan pemberontakan terhadap hidup. Namun tidak jarang terjadi bahwa justru kesulitan dan perjuangan hidup membuat orang semakin sadar akan keterbatasannya dan mengarahkan hatinya kepada Dia yang diakui sebagai sumber hidup. Juga: dalam sengsara dan penderitaan manusia tetap bebas mengambil sikap positif terhadap hidup. Sikap ini mungkin lebih religius sifatnya daripada sikap yang lahir dari kegembiraan yang dangkal, sebab hanya kalau manusia dapat menerima hidup sebagai pemberian, secara implisit ia juga mengakui Sang Pemberi hidup.

Dengan berefleksi atas pengalamannya sendiri manusia harus mengakui bahwa ia memang mempunyai hidup, tetapi ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Sering kali manusia mengalami dengan pahit sekali bahwa ia tidak dapat melakukan apa yang ingin dilakukan, entah karena kelemahan fisik atau psikis, entah juga karena ketidakberdayaan moral (seperti yang diakui Paulus dalam Rm 7:15). Banyak situasi hidup membuat manusia sadar bahwa ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri.

Tetapi manusia tidak hanya “menemukan” hidupnya. Ia menerimanya sebagai hidupnya sendiri. Oleh karena itu ia juga mengembangkan dan mengarahkan hidup yang diterimanya. Manusia mengembangkan diri dan dunia sekitarnya. Dalam usaha itu ia mengikuti hati nurani atau suara hati. Hati nurani itu bukanlah perintah atau peraturan untuk pekerjaan manusia. Hati nurani adalah kesadaran akan kewajiban dalam mengembangkan hidup. Manusia sadar akan kewajibannya dan akan tuntutan hidup terhadap tindakannya yang konkret. Ia terikat pada arah hidupnya dan dalam tindakan yang konkret (secara implisit) ia mengakui arah hidupnya itu. Perbuatan yang bertanggung jawab berarti per buatan yang taat kepada tuntutan hidup. Pada dasarnya, hati nurani berarti ketaatan kepada hidup sendiri, maka refleksi atas hidup tidak hanya menyangkut persoalan “dari mana” asalnya, tetapi juga “ke mana” arahnya. Keduanya menunjuk kepada sesuatu yang mengatasi diri manusia sendiri.

Kita sering berpikir bahwa dengan cinta manusia untuk istrinya, untuk anak-anaknya, untuk sahabat-sahabatnya, dan dalam arti tertentu untuk negaranya, sudah habis bentuk-bentuk cinta yang biasa. Padahal belum disebut bentuk gairah yang paling asasi, yakni cinta yang mendorong semua unsur semesta satu kepada yang lain dalam gerakan universum yang sedang menuju ke kesempurnaan. Cinta universal tidak hanya mungkin secara psikologis; ini satu-satunya cara cinta penuh dan definitif, yang membuat kita mampu saling mencintai.

Dalam bukunya, Le Milieu Diuin, Teilhard de Chardin berkata, “Melihat Allah, yang hadir di mana-mana, itu berarti suatu visi, suatu perasaan mendalam, semacam intuisi, yang terarah kepada sifat-sifat luhur kenyataan hidup. Pandangan ini tidak mungkin dicapai langsung dengan pikiran atau keterampilan manusia. Sama seperti hidup sendiri begitu juga intuisi, yang merupakan puncak pengetahuan empiris, merupakan suatu anugerah.” Dalam rahim semesta alam, setiap jiwa hidup untuk Allah, dalam Tuhan kita. Tetapi dari pihak lain, segala sesuatu – juga barang material – yang ada di sekitar kita ada untuk jiwa kita, Demikianlah, di sekitar kita segala hal yang konkret – melalui jiwa kita – terarah kepada Allah dalam Tuhan kita,

Manusia mengalami hidupnya sendiri dalam keterarahan kepada kepenuhan, yang disebut Allah. Di situ setiap orang menyadari kehadiran Allah, bukan sebagai objek, melainkan sebagai jawaban terakhir bagi hidup sendiri.