Refleksi Pribadi – Jalan Salib


Yesus disalibkan

Aku bisa saja berkata bahwa aku mengasihi Tuhan, Yesus yang telah berkorban demi cinta-Nya untuk ku. Tapi apakah aku mau meneladani contoh yang ditunjukkan Yesus? Dapatkah aku berkata bahwa aku sudah mengasihi sesama ku? Sudahkah aku berkorban demi mereka? Apakah aku mau mengingat kembali tujuan aku dibaptis, yaitu agar dapat mengambil bagian memikul Salib? Memikul beban demi sesama ku? Mengikuti seperti yang Yesus lakukan dengan Jalan Salib – Agar aku dapat serupa dengan Yesus; Agar aku dapat diselamatkan; Agar sesama ku juga dapat diselamatkan… Siapakah sesama ku?

Ya Yesus Tuhan ku, sadarkan aku agar selalu mengingat Engkau - dan ingatkan aku agar tidak melupakan sesama ku. Amin.

Bersama-sama Mencari Arah hidup


Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubah-ubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula.

Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.