Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif

Pewartaan para rasul ternyata mengalami proses peralihan kepada pewartaan Gereja. Proses itu dibarengi dengan suatu proses yang penting sekali untuk kehidupan Gereja, yakni Sabda Allah menjadi “Kitab Suci”.

Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah.

Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang juga berasal dari pewartaan para rasul.

Pewartaan Para Rasul sebagai Daya yang Membangun Gereja

Dasar eksistensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan. Tetapi secara empiris-historis Gereja dibangun oleh para rasul dalam kuasa Roh Kudus. Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak Allah berdasarkan peristiwa penyelamatan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu mereka juga disebut dasar Gereja. Sabda yang disampaikan kepada mereka supaya diteruskan dalam pewartaan ialah bagian asasi karya pendirian Gereja.

Memang dalam arti tertentu Gereja sebagai hasil karya penyelamatan Kristus telah ada sebelum para rasul. Bahkan mereka sendiri adalah Gereja. Tetapi mereka mempunyai peranan fundamental dalam proses pengembangan Gereja yang pada intinya sudah ada sebelumnya. Hubungan mereka dengan Yesus Kristus dan dengan Gereja menyebabkan pewartaan/sabda para rasul menjadi sangat fundamental bagi pembangunan Gereja. Yesus Kristus itu sabda sejati. Gereja merupakan gema sabda itu dalam rupa-rupa bentuk. Salah satu bentuk yang paling fundamental dari antaranya adalah sabda rasul yang mengembangkan dan membangun Gereja. Bentuk historis Kristus-Sabda sebagai dasar Gereja adalah sabda rasul-rasul. Bahkan kita mengenal Kristus, Sang Sabda, hanya melalui kesaksian – kesaksian mereka.

Sabda para rasul itu bukan sekedar memberi keterangan, melainkan berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu merupakan sabda Allah dalam sabda manusia dan tetap melaksanakan apa yang diungkapkan. Hal ini dimungkinkan, karena sama seperti seorang nabi, seorang rasul pun hidup dalam suatu panggilan khusus dan diberi kuasa khusus mewartakan Sabda Allah secara berwenang. Berdasarkan panggilan khusus ini, Roh Kudus menjamin kebenaran dan daya guna pewartaan rasul-rasul. Dengan demikian, menjadi pewarta resmi tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Sabda tetap berkuasa atas pewarta, dan pewarta tidak bisa lebih daripada menjadi pelayan Sabda. Bahkan seluruh eksistensinya dituntut oleh tugas pewartaan.

Sebagai dasar Gereja, sabda rasul-rasul membawa suatu konsekuensi lain lagi. Sabda rasul harus dipertahankan Gereja sebagai norma dan sumber hidup. Hal ini hendaknya dilihat dalam kerangka perkembangan jabatan gerejawi di dalam fungsinya mempertahankan ajaran yang benar. Soal ini muncul karena de facto, pewartaan Gereja sesudah rasul-rasul bercorak lain dari pewartaan para rasul. Pewartaan otoritatif dari kesaksian para rasul ditafsirkan dan disaksikan kembali oleh Gereja sekarang, tetapi daya guna Sabda Allah dalam pewartaan Gereja tidak kurang daripada dalam pewartaan para rasul. Daya guna itu dijamin oleh Roh Kudus yang hidup di dalam Gereja dan yang tetap sama.

Paus

Dalam uraian mengenai dewan para uskup, Konsili menegaskan:

“Adapun Dewan atau Badan para Uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai Kepalanya, dan selama kekuasaan Primatnya terhadap semua, baik para Gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya. Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (LG 22).

Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Kristus “mengangkat St. Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Dalam diri Petrus itu Ia menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul. Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup. Di sini timbul dua pertanyaan: a) bagaimana Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul; dan b) mengapa paus itu pengganti Petrus?

Yang paling mudah ialah pertanyaan yang kedua. Petrus, menurut kesaksian tradisi, adalah uskup Roma yang pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Maka menurut keyakinan tradisi, uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Yang penting sebenarnya bukan kedudukan di Roma, sebab paus itu pemimpin Gereja universal sebagai pengganti Petrus. Hubungannya dengan Petrus dilambangkan dengan kedudukannya sebagai uskup Roma. Yang pokok ialah pengganti Petrus. Tetapi apa tugas dan kuasa Petrus?

Jelas sekali dari Perjanjian Baru bahwa Petrus memang mempunyai kedudukan yang istimewa di antara para rasul. Hal itu dapat diterangkan dari watak dan pembawaannya, serta dari kedudukannya sebagai orang yang sudah berkeluarga. Tetapi oleh tradisi Mat 16:16-19 dan Yoh 21:15-19 diartikan sebagai kisah penyerahan kuasa kepemimpinan kepada Petrus. Dengan demikian Petrus diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para rasul menghimpun Gereja semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas St. Petrus, ketua mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri menjadi batu sendinya” (LG 19).

Sebetulnya harus dikatakan, seperti dalam hal prinsip hierarkis pada umumnya, bahwa sulit dibedakan antara Yesus dan Gereja perdana. Dasar kedudukan paus sebagai pengganti Petrus bukan hanya Perjanjian Baru yang berasal dari Gereja perdana, melainkan juga penafsiran dan pemahaman tulisan itu dalam tradisi Gereja selanjutnya.

Di sini pun dapat ditarik kesimpulan bahwa, kendatipun segala kesulitan yang ada (lih. Gal 2:11-14), Petrus oleh Gereja perdana diakui sebagai pemimpin umum. Justru kesulitan-kesulitan itu memperlihatkan bahwa dasar pengakuan itu bukanlah pribadi Petrus sendiri, melainkan tugas dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan Yesus. Seandainya tidak ada sabda Yesus yang jelas dan tegas, mereka tidak akan memberikan begitu banyak perhatian kepada kedudukan Petrus. Maka fungsi dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin seluruh Gereja – dengan tetap mengakui tugas dan wewenang dewan – diakui pula sebagai unsur yang termasuk prinsip hierarkis, yang akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Itulah dasar tugas dan wewenang paus, sebagai pengganti Petrus.

Dewan Para Uskup

Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dalam surat St. Klemens Romanus, pengganti St. Petrus yang ketiga (akhir abad pertama, seangkatan dengan St. Ignatius dari Antiokhia dan St. Yohanes rasul):

“Para rasul menerima Injil untuk kita dari Yesus Kristus; dan Yesus Kristus diutus oleh Allah. Maka Kristus berasal dari Allah, dan para rasul dari Kristus: kedua-duanya datang sebagaimana mestinya, menurut kehendak Allah. Begitulah, para rasul pergi mewartakan kabar gembira, bahwa Kerajaan Allah akan datang dengan segera. Dan sementara mereka mewartakan di desa-desa dan di kota-kota, mereka menunjuk murid mereka yang pertama, setelah diuji oleh Roh, menjadi uskup dan diakon bagi orang yang akan percaya. Dan ini bukan pembaruan, sebab sudah lama Kitab Suci berbicara mengenai uskup dan diakon; beginilah kata Kitab Suci: “Aku akan menunjuk uskup-uskup mereka dalam kebenaran dan diakon-diakon mereka dalam iman” (bdk. Yes 60:17). Rasul-rasul kita juga mengetahui bahwa akan ada perselisihan mengenai jabatan uskup. Oleh sebab itu, karena mereka sudah mengetahui sebelumnya, mereka menunjuk orang seperti yang telah disebut di atas dan menetapkan peraturan, bahwa orang itu, bila sudah meninggal, harus diganti orang lain” (Surat kepada Jemaat Korintus, bab 42 dan 44).

Pada akhir zaman Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul, seperti yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II (LG 20). Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas uskup (karena ada dua belas rasul). Bukan rasul satu per satu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pimpinan Gereja diganti oleh kalangan para uskup. Konsili Vatikan II memberikan keterangan tambahan ini:

“[Oleh Tuhan Yesus] para rasul dibentuk menjadi semacam dewan atau badan yang tetap. Dan seperti St. Petrus dan para rasul lainnya atas penetapan Tuhan merupakan satu Dewan para rasul, begitu pula Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, bersama para uskup, pengganti para rasul, merupakan himpunan yang serupa” (LG 20; 22).

Tegasnya, dewan para uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup, karena diterima ke dalam dewan itu. Itulah tahbisan uskup, “seseorang menjadi anggota Dewan para uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan persekutuan hierarkis dengan Kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai lambang sifat kolegial ini, tahbisan uskup selalu dilakukan oleh paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan para uskup (LG 21), dan hal itu kurang tampak, seandainya ditahbiskan hanya oleh satu uskup saja.

Uskup itu pertama-tama pemimpin Gereja setempat (LG 22; 27). Namun dalam persekutuan Gereja-gereja setempat hiduplah Gereja universal. Begitu juga, dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain, para uskup setempat menjadi pimpinan Gereja universal. Maka juga dikatakan bahwa tugas-tugas seorang uskup “menurut hakikatnya hanya dapat dilaksanakan dalam persekutuan hierarkis dengan Kepala serta para anggota Dewan” (LG 21). “Dewan itu, sejauh terdiri dari banyak orang, mengungkapkan kemacam-ragaman dan sifat universal umat Allah; tetapi sejauh terhimpun di bawah satu kepala, mengungkapkan kesatuan kawanan Kristus” (LG 22). Sifat kesatuan dan kekatolikan Gereja juga terlihat dalam kedudukan dan fungsi para uskup setempat sebagai pemimpin Gereja lokal dan anggota dewan para uskup.

Para Rasul

Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas rasul. Inilah kelompok yang sudah terbentuk waktu Yesus masih hidup bersama mereka. Yudas Iskariot, “yang akan menyerahkan Yesus, dia pun seorang di antara kedua belas murid” (Yoh 6:71). Maka kelompok yang biasanya disebut “keduabelasan” (lih. Mat 10:5; 26: 14.47; dst.) sesudah kematian Yudas disebut “kesebelasan” (Kis 1:26; 2:14; juga Mat 28:16; Mrk 16:14; Luk 24:9.33). Tetapi kata “keduabelasan” tetap terpakai juga (lih. Kis 6:2; 1Kor 15:5), tanda bahwa itu kelompok terkenal. Paulus menyebut kelompok itu “mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku” (Gal 1:17).

Paulus pun seorang rasul, sebagaimana dinyatakan dengan tegas (1Kor 9:1; 15:9; lih. juga Rm 1:1; 1Kor 1:1; 2Kor 1:1, terutama Gal 1:1) karena ia “telah melihat Yesus, Tuhan kita”. Seorang rasul adalah “saksi kebangkitan” (Kis 1:22; 10:41). Yang pertama-tama disebut rasul adalah kelompok dua belas itu, “yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem” (Kis 13:31). Tetapi Paulus pun disebut “rasul”, begitu juga Barnabas dan banyak orang lain (lih. Kis 14:14). Bahkan akhirnya semua “utusan jemaat” disebut rasul (2Kor 8:23; lih. Flp 2:25), karena kata “rasul” (apostolos) memang berarti “utusan” (lih. Luk 9:52), dan secara khusus dipakai untuk “utusan Kristus” (2Kor 5:20). Maka lama-kelamaan kelompok rasul lebih luas daripada kelompok dua belas saja (bdk. 1Kor 15:5 dan 7).

Para rasul di Yerusalem, dan lebih khusus lagi “Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat” (Gal 2:9; bdk. ay. 2 dan 6), rupa-rupanya mempunyai kedudukan dan wewenang yang khas. Sesudah bekerja lama di antara bangsa kafir Paulus merasa perlu membentangkan Injil yang diberitakannya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi “dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang” itu (Gal 2:2). Dari satu pihak Paulus mempertahankan bahwa kerasulannya “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Tetapi dari pihak lain ia mencari hubungan dengan Yerusalem “supaya jangan bekerja dengan percuma” (2:2), dan berjabat tangan dengan pemimpin di Yerusalem dipandangnya sebagai “tanda persekutuan” (2:9). Ia berani berterus-terang dengan Petrus (Gal 2:14), tetapi ia juga menempatkan kesaksiannya bersama dengan pewartaan mereka (1Kor 15:11).

Dengan bangga Paulus menyebut diri “rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi” (Rm 11:13; lih. Gal 1:16), tetapi dengan rajin ia mengumpulkan dana untuk jemaat di Yerusalem, “sebab, jika bangsa-bangsa lain beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah mereka melayani orang Yahudi dengan harta duniawi” (Rm 15:27). Yerusalem tetap dipandang sebagai pusat, demikian juga “mereka yang senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga” (Kis 1:22). Tetapi sesudah Paska, yang terpenting bukan lagi keikutsertaan dengan Yesus dalam karya-Nya di Palestina, melainkan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

Mereka tetap “memberi kesaksian tentang Injil kasih-karunia Allah” (Kis 20:24) dan mewartakan “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” (Kis 1:1). Sesudah Paska tekanan ada pada Yesus sendiri, khususnya pada wafat dan kebangkitan-Nya. “Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:20). Tugas pokok adalah pewartaan, dan pewartaan semakin terpusatkan pada Tuhan yang mulia. Maka dalam jemaat Korintus amat dipentingkan pengalaman akan Roh, sebab “Tuhan adalah Roh” (2Kor 3: 17) dan “tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Jemaat hidup dari pengalaman Roh itu. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7).

Di dalam jemaat masing-masing anggota mempunyai tugas dan perannya sendiri, dan untuk itu ia juga diberi karunia khusus Roh Kudus, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing anggotanya” (1Kor 12:27). Maka “hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu, tetapi semuanya untuk membangun” (1Kor 14:26). Jemaat hidup dari karunia Roh. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur, sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor 14:40.33). Oleh karena itu Paulus terpaksa turun tangan, bila kesopanan dan kesatuan ternyata kurang diindahkan (lih. 1Kor 5:1-13; 7:17; 11:34; 16:1; 2Kor 2:5-11).

Prinsip kesatuan jemaat bukanlah kuasa atau wewenang Paulus, melainkan karunia Roh. Tentu saja Paulus mempunyai wibawa sebagai seorang rasul (lih. 1Kor 3:10; 4:15; 2Kor 10:8; 13:10), dan kiranya kepribadian Paulus amat berarti untuk kehidupan dan kesatuan jemaat. Tetapi Paulus tidak pernah menonjolkan diri sebagai pemimpin jemaat. Sebaliknya, ia menyebut diri hamba jemaat, “Sebab, bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Tugas pokok adalah pewartaan Injil, bukan pengurusan jemaat (lih. 1Kor 1:17; 9:16; 15:1). Mengenai kuasa serta wewenang tidak ada orang yang bertanya.

Semua itu menjadi agak lain, ketika para rasul sudah tidak ada. Dalam Kis 15:2 di samping para rasul juga disebut “penatua-penatua” (lih. juga 11:30). Tidak seluruhnya jelas fungsi dan asal-usul golongan ini, tetapi mungkin sekali bahwa di dalam jemaat Yerusalem diambil alih struktur organisasi yang lazim di kalangan Yahudi (Kis 14:23). Dengan demikian, lama-kelamaan para penatua menggantikan rasul-rasul (lih. mis. Kis 15:6; 20:17.28; 21:18). Paulus dalam suratnya yang paling tua juga berbicara mengenai “mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu” (1Tes 5:12). Kurang jelas apakah mereka mempunyai tugas dan kedudukan tetap, atau hanya ditunjuk sementara. Yang jelas bahwa Ef 4:11 sudah mengenal aneka fungsi dan jabatan “rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar”.

Dalam teks ini pun tidak seluruhnya jelas apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu. Kiranya “rasul” dan “nabi” masih menunjuk situasi awal. Rupa-rupanya mereka kemudian diganti dengan “gembala” dan “pengajar”, yang barangkali sudah menjadi petugas tetap di dalam jemaat. Sedangkan “pemberita-pemberita Injil” mungkin tidak terikat pada satu jemaat tertentu melainkan berkeliling ke mana-mana. Dalam 1Kor 12:28, sebelum dibicarakan aneka karunia Roh, juga disebut dahulu “rasul”, “nabi” dan “pengajar” (bdk. Kis 13:1; Rm 12:6-7).

Kata episkopos (yang kemudian menjadi “uskup”) sebenarnya berarti “penilik” dan jarang dipakai dalam Kitab Suci (Kis 20:28; Flp 1:1; 1Tim 3:2; Tit 1:7). Kata itu sebetulnya sebuah istilah “profan” dari bahasa biasa, dan kurang jelas apa artinya dalam kerangka Gereja dan agama. Sama halnya dengan kata diakonos, yang sebenarnya hanya berarti “pelayan”, tetapi dalam Rm 16:1; Ef 6:21; Flp 1:1; Kol 4:7 dan terutama dalam 1Tim 3:8-13 jelas mempunyai arti gerejawi dan sudah menjadi semacam “tahbisan” (bdk. 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Banyak hal yang tidak jelas dalam proses perkembangan ini. Tetapi pada akhir perkembangannya ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia, yang mengenal “penilik” (episkopos), “penatua” (presbyteros) dan “pelayan” (diakonos). Struktur itu selanjutnya menjadi struktur hierarkis yang terdiri dari uskup, imam dan diakon. Yang penting bukanlah bagaimana kepemimpinan Gereja dibagi atas aneka fungsi dan peran, tetapi bahwa tugas pewartaan para rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat. Hal itu tidak berarti “rebutan kuasa”, tetapi perhatian yang semakin besar untuk jemaat dan urusan jemaat sendiri. Perkembangan ini tidak hanya disebabkan oleh kematian angkatan yang pertama, tetapi juga karena perhatian untuk parousia atau kedatangan Tuhan pada akhir zaman semakin berkurang. Di samping itu muncul aneka ajaran dan gerakan sesat yang merupakan ancaman bagi kehidupan Gereja. Kalau kita membandingkan surat-surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus dengan surat-surat pastoral (1- 2Tim; Tit), ternyata aneka karunia dan fungsi makin dipusatkan dalam tangan satu atau beberapa orang saja. Bentuk organisasi Gereja makin ketat. Bersama dengan itu juga ada perkembangan bahwa bidang sakral atau kultis makin mendapat banyak perhatian.

Dalam hal ini terjadi suatu proses perkembangan yang dapat dibandingkan dengan proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru. Waktu Paulus menulis surat-suratnya kiranya ia tidak berpikir mengenai Kitab Suci. Begitu juga tulisan yang di kemudian hari akan diakui sebagai Injil, semula dianggap sebagai catatan biasa untuk katekese. Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang lain yang dipandang sebagai sarana komunikasi di dalam jemaat. Baru di kemudian hari disadari bahwa di dalamnya iman Gereja perdana terungkap secara otentik dan asli, di bawah penerangan Roh Kudus.

Begitu juga dengan struktur hierarkis Gereja. Dalam Gereja perdana hierarki dipandang sebagai struktur organisasi dan komunikasi yang biasa. Baru kemudian disadari bahwa di dalamnya karya Roh mendapat bentuknya. Maka, menerima Gereja perdana sebagai norma Gereja sekarang tidak hanya berarti menerima Kitab Suci, tetapi juga bentuk organisasinya sebagaimana berkembang dalam periode awal itu. Justru tulisan-tulisan awal Gereja itu diakui sebagai Kitab Suci dalam kerangka jemaat yang semakin terorganisasi. Keduanya kait-mengait, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Bahkan harus dikatakan bahwa Kitab Suci sudah mengandaikan suatu jemaat terorganisasi yang mau menerimanya secara resmi sebagai sabda Allah.

Hierarki dan Keanggotaan Gereja Katolik

Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG 31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup khusus yang dijalani oleh biarawan-biarawati, ada fungsi dan corak hidup keduniaan yang menjadi medan khas para awam. Tetapi yang pokok adalah iman yang sama akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting daripada yang khusus. Berturut-turut akan dibicarakan tentang hierarki, lalu tentang hidup bakti dan awam.

Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik “di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat”, lebih khusus lagi sebagai suatu “serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis” (LG 8). Menurut ajaran resmi Gereja struktur hierarkis termasuk hakikat kehidupannya juga. Maka Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (LG 20). “Konsili suci ini mengajarkan dan menyatakan, bahwa Yesus Kristus, Gembala kekal, telah mendirikan Gereja kudus, dengan mengutus para rasul seperti Ia sendiri diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21). Para pengganti mereka, yakni para uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir zaman” (LG 18).

Struktur hierarkis bukanlah sesuatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam sejarah Gereja saja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II struktur itu dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak semua orang Kristen dapat menerima ajaran Katolik ini. Ternyata struktur hierarkis Gereja merupakan kendala paling besar bagi kesatuan jemaat-jemaat Kristen.

Pertanyaan yang paling pokok ialah, di mana dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus mendirikan hierarki sebagaimana terdapat di dalam Gereja sekarang? Struktur hierarkis Gereja sekarang terdiri dari dewan para uskup dengan paus sebagai kepalanya, dan para imam serta diakon sebagai pembantu para uskup. Dalam Kitab Suci belum ada struktur kepemimpinan yang terdiri dari uskup, imam, dan diakon. Peranan Petrus di antara para rasul tidak sama dengan kuasa dan kedudukan paus sekarang ini.

 

Prinsip Hierarki

Maka pernyataan “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul” harus dimengerti dengan baik. Yang dimaksudkan ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam Gereja perdana atau Gereja para rasul, yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi, dalam kurun waktu antara kebangkitan Yesus dan kemartiran St. Ignatius dari Antiokhia pada awal abad kedua, secara prinsip terbentuklah hierarki Gereja sebagaimana dikenal dalam Gereja sekarang.