Doa mohon Rahmat Persaudaraan

Allah, Bapa kami yang maha pengasih dan penyayang. Engkau telah menanamkan benih kasih dalam hati semua orang. Bahkan Engkau telah memberikan Roh-Mu sendiri tinggal dalam hati setiap insan. Dan Engkau menghendaki agar kami saling mengasihi sebagaimana kami mengasihi diri kami sendiri.

Kami bersyukur kepada-Mu atas kasih-Mu. Engkau telah mengangkat semua orang menjadi anak-Mu dan mengasihi mereka semua dengan kasih yang sama. Maka semoga kami selalu saling mengasihi dan hidup rukun sebagai saudara. Lebih-lebih kami bersyukur karena Yesus selalu berdoa bagi semua orang, agar mereka bersatu seperti Yesus sendiri bersatu dengan Dikau.

Kami mohon: Curahkanlah rahmat persaudaraan kepada semua orang agar mereka tekun mengusahakan kedamaian, kerukunan, dan ketenteraman. Bebaskanlah umat-Mu dari hal-hal yang melemahkan semangat persaudaraan: cekcok, iri, dengki, fitnah, dan sikap hanya mementingkan diri sendiri. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. (Amin.)

Sakramen

Sakramen adalah tanda rahmat keselamatan yang kelihatan, yang menghadirkan rahmat yang tidak kelihatan. Sakramen adalah kehadiran Allah dalam hidup manusia. Yesus Kristus adalah SAKRAMEN DASAR, karena seluruh hidup Yesus Kristus menghadirkan Allah kepada manusia. Rahmat dan kasih Allah menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus.

Rahmat dalam sakramen hanya akan menjadi efektif jika penerima sakramen memiliki iman dan keadaan batin yang siap dalam pelaksanaannya. Ada 7 Sakramen dalam Gereja Katolik. Angka 7 sebagai simbol kesempurnaan kehadiran Allah di dunia. Kehadiran dalam seluruh dimensi dan siklus kehidupan manusia.

7 Sakramen Dalam Gereja Katolik:

  1. Sakramen Baptis
  2. Sakramen Krisma
  3. Sakramen Ekaristi
  4. Sakramen Pengakuan Dosa
  5. Sakramen Imamat
  6. Sakramen Pernikahan
  7. Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Sakramen-Sakramen ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Sakramen Inisiasi: Baptis, Krisma, dan Ekaristi
  2. Sakramen Penyembuh: Pengakuan Dosa dan Minyak Suci
  3. Sakramen Panggilan: Perkawinan dan Imamat

Sakramen yang hanya dapat diterimakan satu kali seumur hidup:

  1. Sakramen Baptis
  2. Sakramen Krisma
  3. Sakramen Imamat

Sakramen mempunyai 3 Aspek Simbolis:

  1. Aspek Antropologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan sifat manusiawi atau kemanusiaan manusia. Dalam setiap sakramen ada Materi (Tanda / Perbuatan) dan Forma (kata) yang dapat dipahami (atau diindera) manusia.
  2. Aspek Kristologis; Adalah aspek yang bersumber pada Kristus sebagai asal dari semua sakramen, karena Kristus adalah Sakramen Dasar.
  3. Aspek Eklesiologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan Gereja sebagai pelaksana sakramen berdasarkan perintah Kristus dan sebagai jemaat. Gereja adalah sakramen keselamatan karena Gereja adalah tanda persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja menghadirkan Kristus, Kristus menghadirkan Allah.

Kematian

“Di sini kita tidak mempunyai tempat-tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Ini bukan hanya iman Kristen. Semua orang mengetahui itu: “Masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kita kuat, delapan puluh” (Mzm 90:10). Cepat atau lambat, hidup kita berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, sekarang ini pun, setiap saat kehidupan, kita berada “dalam bahaya maut sepanjang hari” (Mzm 44:23) dan “menjadi incaran maut sejak kecil” (Mzm 88:16). Maut bukanlah sesuatu yang entah kapan akan menimpa kita. Maut itu kenyataan keterbatasan hidup kita. Hidup kita mempunyai awal dan mempunyai akhir. Dengan demikian segala sesuatu yang kita lakukan bersifat terbatas dan fana, tetapi tidak tanpa arti. Dalam hidup di dunia ini hidup rahmat yang abadi sudah dimulai. Kita harus “mempergunakan waktu yang ada” (Ef 5:16), sebab justru dalam waktu ini kita membentuk sikap kita terhadap Tuhan. Di dunia ini kita membuktikan kepercayaan kita, tanpa melihat (bdk. Rm 8:24-25).

Kesadaran akan kefanaan hidup ini dapat menjadi alasan sewaktu-waktu sadar bahwa kita hidup di hadapan Tuhan. Maut membawa ke dalam hidup kita kesadaran akan tujuan hidup yang sejati. Hidup ini memang bersifat sementara, tetapi sikap hidup yang kita ambil sekarang bersifat definitif. “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33). Arti hidup manusia ditentukan di dunia ini. Kematian berarti penyelesaian “pengembaraan” manusia (lih. Ibr 11:13; 1Ptr 1:1; 2:11).

Itu tidak berarti bahwa manusia mengambil keputusan definitifnya pada saat kematian. Selama seluruh masa “pengembaraan” ia mengambil sikap, lama sebelum kematian. Kematian memang penting dalam hidup manusia, tetapi bukan yang terpenting . Akhir hidup belum tentu sama dengan “penyelesaian hidup”. Bahkan sebaliknya, kalau manusia mulai surut kekuatannya, ia juga sulit mengambil keputusan dengan penuh kesadaran dan ketegasan. Paling-paling boleh diharapkan bahwa ia setia kepada keputusan yang telah diambil. Ia akan menyelesaikan hidupnya menurut arah dan dinamika yang sudah terletak di dalamnya. Tentu saja pelimpahan rahmat pertobatan pada akhir hidup tidak mustahil, tetapi juga bukan yang paling biasa.

Sakramen

Semua yang dikatakan mengenai liturgi sebagai doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus berlaku secara istimewa untuk upacara-upacara liturgi yang disebut “sakramen”. Boleh dikatakan bahwa tujuh sakramen merupakan liturgi dalam arti yang paling padat

Konsili Vatikan II mengajarkan juga bahwa “Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian” (SC 83). Artinya, liturgi tidak terbatas pada bidang sakramen saja, tetapi mencakup juga Ibadat Harian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa liturgi terdiri dari perayaan sakramen (lengkap dan dengan segala upacara-perayaan yang menyertainya) dan Ibadat Harian. Tetapi Ibadat Harian sesungguhnya tidak “umum” di dalam Gereja. Yang wajib merayakan Ibadat Harian dalam koor (bersama-sama), ialah

  1. dewan pembantu uskup, para rahib dan rubiah, serta para imam biarawan lainnya, yang terikat pada Ibadat Harian bersama menurut hukum atau konstitusi tarekat;
  2. dewan para imam katedral atau para penasihat uskup untuk sebagian (SC 95).

“Para rohaniwan, yang tidak terikat kewajiban doa koor (bersama), bila sudah menerima tahbisan tinggi, setiap hari wajib mendoakan seluruh Ibadat Harian, entah bersama-sama, entah sendiri-sendiri” (SC 96; KHK kan. 1174).

Kekhususan sakramen kiranya dapat dimengerti dengan lebih jelas, bila dibandingkan dengan tugas pengajaran Gereja. Dikatakan bahwa “keseluruhan kaum beriman tidak dapat sesat dalam beriman” (LG 12). Ketidak-sesatan itu paling “terjamin” bila iman dirumuskan secara resmi oleh pimpinan Gereja menurut syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan liturgi. Liturgi senantiasa merupakan doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam perayaan liturgi yang paling resmi, yakni dalam sakramen-sakramen, Kristus diimani kehadiran-Nya secara istimewa. St. Agustinus menyebut sakramen “rahmat yang tak kelihatan dalam bentuk yang kelihatan” (DS 1639).

Dalam bagian mengenai ‘rahmat‘ sudah dikatakan bahwa “rahmat” berarti kasih Allah kepada manusia. Dengan sewajarnya disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” untuk kasih Allah itu. Oleh dosanya manusia malah semakin tidak mempunyai dasar untuk mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah misteri kasih pribadi Allah, yang mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia. Rahmat berarti manusia diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus, dan selanjutnya bersatu-padu dengan Kristus – oleh Roh Kudus – dalam penyerahan-Nya kepada Bapa.

Justru karena merupakan kasih Allah, rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Jawaban manusia itu adalah iman. Maka dilihat dari sudut manusia, rahmat adalah iman. Tidak mengherankan bahwa Konsili Vatikan II memakai kata “sakramen iman”, sebab “sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan, dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut sakramen iman” (SC 59; lih. PO 4). Entah dilihat sebagai pernyataan kasih Allah, entah sebagai pengungkapan iman manusia, sakramen selalu berarti penampakan kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya, dengan cara yang berbeda-beda, sehingga ada tujuh sakramen. Dalam arti sesungguhnya sebenarnya hanya ada satu sakramen saja, yakni Gereja sendiri.

Gereja sebagai keseluruhan “menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah kepada manusia” (GS 45). Yang disebut “tujuh sakramen” sebenarnya adalah upacara-perayaan yang di dalamnya Gereja mewujudkan diri secara khusus. Bidang liturgi pada umumnya, sakramen-sakramen pada khususnya adalah bidang penghayatan iman Gereja yang khusus (di samping bidang pewartaan dan bidang pelayanan). Gereja itu Gereja antara lain dengan mengungkapkan imannya dalam perayaan tujuh sakramen, khususnya sakramen Ekaristi.

Rahmat

Maka harus disimpulkan bahwa karya Roh tidak lain daripada yang lazim disebut “rahmat”, sebab memang dengan “rahmat” atau “kasih-karunia” sebetulnya dimaksudkan kasih Allah kepada manusia, yang tanpa jasa, tanpa hak, menerima kasih itu. Oleh kasih Allah itu manusia diajak dan dimampukan guna mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Karena kasih Allah itu, manusia makin menyadari ketidakpantasannya dan sekaligus berani membuka diri untuk kebaikan dan kekudusan Allah itu. “Rahmat” berarti bahwa “kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”; mengakui bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:16), dan bahwa “kasih Allah itu telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Kasih itu disebut “rahmat”, karena merupakan pemberian diri Allah yang bebas dan berdaulat. Ini bukan kebaikan Allah pada umumnya.

Rahmat berarti kasih pribadi Allah bagi seorang manusia. Dengan sewajarnya itu disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” atas kasih Allah itu. Bahkan harus dikatakan bahwa oleh dosanya manusia semakin tidak mempunyai dasar mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah kasih Allah yang sungguh tidak disangka-sangka dan tidak diduga-duga. Bahkan rahmat itu, sebagai misteri kasih pribadi Allah, mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya
dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia
harus menggantikannya?” (Rm 11:33-35).

Yang paling sulit ditangkap ialah, bahwa Allah tetap Allah namun sungguh bersatu dengan manusia. Manusia kena oleh kasih Allah, dan karenanya juga berubah. Manusia “bukan lagi hamba, melainkan anak; dan oleh karena itu juga ahli-waris, oleh Allah” (Gal 4:7). Anak dan ahli-waris, melulu oleh karena kasih dan kerahiman Allah. Maka hubungan rahmat berbeda dan lebih akrab daripada hubungan makhluk dengan Penciptanya. Rahmat berarti bahwa Pencipta mau menjadi Bapa bagi makhluk, yang diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus.

Dengan demikian, sudah sewajarnya Roh Kudus disebut “rahmat tak-tercipta”. Roh Kudus itu Roh Allah (Rm 8:9) dan oleh karena itu bukan makhluk, melainkan “tak-tercipta”. Roh Kudus itu diberikan kepada kita. Dan “semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8: 14). Kehadiran Roh mengubah kita menjadi anak Allah, maka Roh itu adalah sumber rahmat dan pantas disebut “rahmat dasar”. Karena karya Roh, rahmat menjadi kenyataan manusiawi, dialami, diwujudkan dan dihayati bersama.

Rahmat berarti hidup manusia, seluruh hidup manusia dengan segala segi dan aspeknya, yang diterima dari Allah. Itu berarti bahwa rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Memang, manusia tidak pernah bebas seluruhnya, melainkan selalu tergantung pada situasi dan kondisi kehidupannya. Tetapi karena ia dipanggil secara pribadi oleh Allah, maka ia juga harus menjawab secara pribadi dan itu berarti secara bebas-merdeka, tidak lepas dari situasi dunia sekitarnya juga. Ia tidak hanya terikat pada dunia itu, tetapi juga bertanggung jawab untuknya. Manusia menghadap Allah, juga dalam rahmat, dalam kesatuan dengan sesama manusia dan seluruh dunia sekitarnya.

Aneka ragam kata dipakai dalam Kitab Suci untuk “rahmat”. Biasanya dikatakan “kasih karunia” (lih. mis. Luk 1:30; Rm 1:5). Itu memang tepat, sebab dari satu pihak rahmat adalah “kasih” Allah, dan dari pihak lain merupakan “karunia” yang diberikan dengan cuma-cuma, tanpa hak apa pun dari pihak kita. Dipakai juga kata “karunia” saja (mis. Kis 6:8; Rm 5:15), dan itu pun tepat, asal tidak dimengerti semata-mata sebagai “hadiah” atau “pemberian”, lepas dari Allah sendiri. Yang dikaruniakan oleh Allah adalah Roh-Nya sendiri. Rahmat itu sikap Allah (“kasihan” kata 1Ptr 5:5). Oleh karena itu dipakai beberapa kata kiasan juga untuk rahmat, khususnya oleh Paulus.

Paulus melukiskan rahmat dengan tiga metafor atau kata kiasan: gambaran “perdamaian”, yang dikembangkan terutama dalam Rm 5:10-11 dan 2Kor 5:18-20. Dalam Rm 3:25 gambaran itu dihubungkan dengan tema “pembenaran”. Di situ juga disebut metafor yang ketiga, yakni “penebusan” (lih. terutama Rm 3:24; 8:23; 1Kor 1:30). Perdamaian, pembenaran, dan penebusan adalah kiasan, perbandingan yang kalau diteliti sungguh sebetulnya tidak seratus persen tepat. Dikatakan bahwa “Allah dengan perantaraan Kristus mendamaikan kita dengan diri-Nya” (2Kor 5:18), padahal yang salah kita. Jadi seharusnya yang “berdamai” kita. Tetapi ternyata yang menawarkan perdamaian justru yang tidak salah, yaitu Allah sendiri.

Dalam metafor “penebusan” tekanan ada pada Kristus dan Paulus jarang memakai kata penebusan. Tetapi dalam Mrk 10:45 (lih. Mat 20:28) dikatakan bahwa Kristus “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan” (lih. juga 1Tim 2:6). Memberikan nyawanya kepada siapa? Seharusnya dikatakan: kepada setan. Tetapi itu tentu tidak mungkin. Maka jelaslah bahwa ini bahasa kiasan saja, yang mau menyatakan bahwa Kristus membebaskan kita dari dosa (lih. Ef 1:7.14; Kol 1:14; Why 1:5). Kata terakhir, “pembenaran” melihat rahmat sebagai perubahan dalam hidup manusia. Kata ini pun bersifat kiasan, sebab kata “pembenaran” berasal dari dunia kehakiman dan membenarkan berarti “menyatakan siapa yang benar dan siapa yang, salah” (Ul 25:1). Tentu saja dari si hakim diharapkan bahwa yang bersalah akan dinyatakan salah, dan yang tidak bersalah dinyatakan benar. Tetapi Allah “membenarkan orang durhaka” (Rm 4:5). Inilah inti pokok rahmat: orang berdosa dan orang durhaka diterima oleh Allah sebagai anak-Nya dan dengan demikian dinyatakan “benar”. Oleh Allah manusia berdosa “dibenarkan dengan cuma-cuma oleh kasih karunia karena penebusan dalam Kristus” (Rm 3:24), sebab Allah “membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (3:26).

Mengenai “pembenaran” ini pernah ada perbedaan pendapat besar antara orang Katolik dan orang Protestan. Kata “membenarkan” adalah sebuah kata yang khas untuk bahasa Kitab Suci. Dalam bahasa Indonesia yang biasa, kata “membenarkan” berarti:

  1. membuat supaya benar; meluruskan, melencangkan;
  2. membetulkan; memperbaiki;
  3. mengatakan benar;
  4. mengiyakan; mengakui;
  5. menyetujui; menganggap benar (baik);
  6. mengizinkan; meluluskan,

Semua arti kata itu tidak ada yang berhubungan dengan pengadilan. Padahal dalam Kitab Suci arti pokok “membenarkan” ialah menyatakan benar seorang terdakwa yang ternyata tidak salah. Di atas sudah dikatakan bahwa pengetrapan kala itu pada Allah agak khusus, sebab Allah menyatakan benar orang yang sebetulnya salah. Tetapi bagaimanapun juga, arti dasar kata itu tetap sama: menyatakan benar. Pada zaman Reformasi, (abad ke-16) terjadi pertengkaran yang hebat mengenai arti kata itu dalam Kitab Suci. Menurut orang Protestan (zaman itu) “menyatakan benar” berarti bahwa sebetulnya orang itu tetap pendosa, tetapi oleh Allah dianggap benar. Orang Katolik mempunyai pendapat lain. Kalau seseorang oleh Allah dinyatakan benar, maka itu berarti bahwa dengan pernyataan itu orang itu juga menjadi benar (dan bukan pendosa lagi). Menurut ajaran Martin Luther kebenaran tidak pernah menjadi milik manusia, tetapi selalu tinggal “kebenaran di luar kita”, yakni kebenaran Kristus yang oleh Allah dikenakan pada manusia pendosa. Dengan demikian, orang’ itu “sekaligus benar dan pendosa” (simus justus et peccator). Lama sekali perbedaan pendapat ini menjadi pertentangan dasariah antara Protestan dan Katolik. Sementara ini pemahaman dari kedua belah pihak telah berkembang. Bukan dalam arti bahwa yang satu mengambil alih pandangan dari yang lain, tetapi bahwa semua menyadari bahwa pembenaran dan rahmat bukanlah sesuatu yang satu kali jadi selesai. Pembenaran merupakan suatu proses. Manusia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan definitif dengan Tuhan, pada akhir hidup dan pada akhir zaman. Dalam proses ini ia tidak hanya pasif saja (seperti dahulu tampaknya dikatakan oleh orang Protestan). Ia juga tidak dapat membanggakan pembenaran yang telah diberikan kepadanya (seperti lama sekali diyakini oleh orang Katolik). Dalam ketaatan kepada Roh Allah dalam dirinya manusia mencoba semakin membuka.diri bagi rahmat Allah. Iman sebetulnya tidak lain daripada menerima bahwa diterima (oleh Allah).

“Pembenaran”, seperti juga “perdamaian” dan “penebusan”, merangkum seluruh proses pendekatan Allah kepada manusia dalam Kristus oleh Roh Kudus. Maka sulit sekali merumuskan arti kata itu dengan singkat, sebab kata-kata ini sudah merupakan semacam “singkatan” untuk seluruh tindakan penyelamatan Allah. Kalau orang berbicara mengenai “pembenaran” (dan juga mengenai “rahmat”) ia tidak boleh melupakan wafat dan kebangkitan Kristus, dosa Adam dan kedosaan setiap orang, iman, tobat dan doa, dan terutama karya Roh dalam hati orang, yang mengarahkan orang beriman kepada kerahiman Allah. Sebab kata “perdamaian” menekankan rahmat dan pengudusan manusia sebagai tindakan Allah, sebagai kasih Allah bagi manusia. Sedangkan proses yang sama, kalau dilihat dari sudut manusia disebut “pembenaran”, dan kalau mau ditekankan karya Kristus, dipakai kata “penebusan”.