Memperingati Santa Perpetua dan Felicitas (martir)

Prapaskah: 7 Maret 2015
Kalender lama: Santo Tomas Aquinas (doktor)

2015-03-07_16h32_47 2015-03-07_16h33_14

Kisah mengenai Santa Perpetua dan Felicitas merupakan salah satu kisah yang terbaik dari sejarah Gereja. Kisah itu menunjukkan secara jelas ketaatan yang luar biasa dari kedua wanita ini ketika mereka mengetahui bahwa mereka dijatuhi hukuman mati dengan dijadikan mangsa binatang buas. Ketika mereka berdua ketakutan dan tidak berdaya, mereka hanya bisa mengandalkan iman mereka akan kuasa Kristus. Dengan ketaatan mereka tetap percaya bersama Kristus yang berjuang bersama mereka, mereka berdua menghadapi kemartiran sebagai perayaan kemenangan, perayaan kemenangan yang diundang oleh Kristus.

Perpetua dan Felicitas adalah dua perempuan Kristen yang mati sebagai martir pada abad ketiga dan dinobatkan sebagai Santa. Mereka berdua berasal dari Kartago, Afrika Utara. Saat itu, kekuasaan politik dipegang kaisar Romawi Septimus Severus yang mewajibkan seluruh penduduk di setiap wilayah kekuasaan Romawi untuk menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi.

Perpetua adalah seorang dari keluarga bangsawan berusia 22 tahun yang telah menikah, sementara Felicitas adalah budaknya yang sedang mengandung. Felicitas kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Perpetua dan Felicitas mengikuti katekisasi dan dibaptis di dalam penjara. Perpetua juga harus menyusui bayinya di dalam penjara.

Perpetua dan Felicitas menolak menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi sebagaimana diperintahkan oleh kaisar. Ayah dari Perpetua sudah berkali-kali membujuknya untuk mengikuti perintah tersebut supaya ia selamat, namun Perpetua menolak. Konsekuensinya, mereka harus menjalani hidupnya di dalam penjara. Selain itu, mereka juga disiksa dengan dimasukkan ke dalam sebuah arena melawan binatang buas. Mereka terluka hebat. Konon, ketika Felicitas akan diterkam oleh binatang buas, Perpetua melemparkan jubahnya ke arah binatang buas tersebut, lalu seketika binatang tersebut mundur dan tidak ingin melawan mereka lagi. Akhirnya, mereka menjalani penderitaan terakhir, yaitu dipancung dengan pedang. Tepat pada 7 Maret 203 (Perpetua genap berusia 26 tahun), mereka mati martir dan dikenang sebagai santa sampai saat ini oleh Gereja Katolik.

Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Pekan Suci.. tidak meriah?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy.jpgHari minggu kemarin tanggal 13 April 2014, yaitu Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci. Umat Gereja Katolik disibukkan dengan rangkaian persiapan untuk merayakan puncak pekan suci yaitu pada 7 hari kemudian: Minggu Paskah. 5 (lima) rangkaian perayaan khusus pada pekan suci dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Dilihat dari kemeriahan yang nanti pada puncaknya yaitu pada hari Minggu Paskah, atau hari raya Paskah, terkadang bagi teman-teman kita yang bukan non-katolik mengira bahwa hari raya Paskah tidak semeriah natal, karena cenderung terkesan ‘berkabung’.

Ya memang seperti itu kesannya… tapi kita dapat menjawab hari raya Paskah tidak kalah meriahnya dengan hari raya Natal, lebih tepatnya meriah pada hari Minggu Paskah, atau lebih terarah lagi dengan memberi tambahan “Yesus Kristus Bangkit!”.  Namun hari sebelum hari Minggu Paskah yang meriah itu, umat katolik menjalani rangkaian perayaan yang mungkin ‘membingungkan’ bagi teman-teman kita yang non-katolik, apalagi kalau sampai mereka melihat cambuk dan mahkota duri. 🙂

Coba saja bayangkan apa kira-kira yang mereka amati sepanjang pekan suci ini? Dimulai pada hari Minggu Palma (awal pekan suci) dimana umat yang melambai-lambaikan daun palma bersorak-sorai ‘hosana’ menyambut Yesus sang Raja, mesias yang dinantikan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dan setelah itu umat mengikuti perayaan perjamuan kudus bersama Yesus, dan Yesus membasuh kaki umat-Nya, namun setelah itu umat-Nya tiba-tiba menyelinap meninggalkan perjamuan kudus itu dan mengkhianati Yesus. Kemudian beberapa umat yang mengambil peran dalam jalan salib yang berteriak ‘Salibkan DIA!’, meminta kepada Pilatus agar menyalibkan Yesus. (huh? kok? …). Yesus yang meminta umat-Nya agar tetap tinggal bersama DIA, umat-Nya awalnya berjanji akan setia, tapi umat-Nya ada yang meninggalkan DIA. Yesus ditahan dan didera, Yesus mengampuni umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia, dan umat-Nya lari bersembunyi karena takut bernasib sama. Kemudian Yesus dibunuh, disalibkan – umat-Nya menurunkan Yesus dari salib dan menguburkan-Nya, sambil menangis sedih. Kemudian hari berikutnya umat-Nya kembali mengunjungi kuburnya, namun Yesus tidak ada di dalam kubur. Kemudian Yesus kembali, menampakan diri-Nya kepada umat-Nya dan kemudian… ternyata Yesus Kristus Bangkit dari mati!

Dari gambaran yang coba kita bayangkan itu, maka tidak lah heran bahwa begitu banyak persiapan, dan bacaan, dan lagu, dan pergantian kostum, untuk mengisahkan kejadian itu. Maka tidak heran juga kalau ada yang mengatakan bahwa perayaan Pekan Suci dapat berkesan seperti simbolis dan retorika belaka. Itu juga belum menyinggung soal tali cambuk yang dipegang oleh umat yang berperan sebagai tentara romawi sewaktu mendera Yesus, mahkota duri, jubah yang sobek, pantang dan puasa, ratapan-ratapan, dan nyanyian luapan kegembiraan. Sangat kompleks dan padat. Sangat kontras dengan teman-teman kita yang non-katolik tapi juga merayakan Paskah, dengan membawa tema Kelinci Paskah. 🙂

Semua rangkaian perayaan panjang dan rumit dalam Pekan Suci itu memberikan banyak hal, dan yang mendasari semua perayaan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus lah yang selalu menggerakkan semua hati umat untuk mau berkumpul bersama-sama – untuk menjadi saksi Kristus, untuk menerima Kristus, dan untuk menjadi Kristus.

Umat menjadi saksi Kristus dalam nyanyian dan kisah sepanjang Pekan Suci. Pada Minggu Palma, umat berkumpul di luar ruangan, di tengah jalan raya, berarak-arak sambil melambaikan daun Palma. (walaupun tidak jarang banyak umat yang merasa agak sungkan, malu, karena dianggap aneh.. )

Umat juga menerima Kristus sepanjang Pekan Suci – bahkan ketika ada jiwa umat yang sedang sakit penuh dengan dosa atau hati umat yang penuh kesedihan berusaha menolak Kristus agar menjauh.

Dan umat juga menjadi Kristus. Kita mengenal perkataan “terberkatilah yang datang atas nama Tuhan”. Setelah umat menerima Kristus, seperti seorang hamba menerima segala sesuatu dari sang Raja; – darah-Nya, tubuh-Nya, jiwa-Nya, roti dan anggur dari DIA diserahkan kepada umat-Nya. Kita mengampuni diri kita sendiri dan sesama, kita melayani, dan masuk ke dalam dan ikut memikul penderitaan-Nya; kita sebagai umat-Nya menawarkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama kita agar kita dapat siap mati dan lahir kembali bersama Kristus.

Oleh karena itu tidaklah mungkin memuatkan semua misteri itu dalam satu kartu ucapan ‘Selamat Pekan Suci’ atau ‘Selamat Paskah’ seperti dalam kartu ucapan ‘Selamat Natal’; tidak ada cara yang ‘cukup’ untuk menyampaikan besarnya Sengsara yang telah dilalui, Kasih, dan Pengorbanan Yesus Kristus, bahkan rangkaian Pekan Suci yang kita lakukan, sepanjang satu minggu, lengkap dengan liturgi yang rumit. Namun dengan adanya Pekan Suci kita mendapat kesempatan untuk sekali lagi menjadi saksi Kristus, menerima Kristus, dan menjadi Kristus. Kapan saja dan dimana saja kita menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, entah ketika kita sedang berjalan di bawah terik matahari, di saat kita sedang benar-benar merasa tenggelam, terduduk berjam-jam dalam merenung dan gundah di tepi tempat tidur kita; atau ketika kita sedang bergembira dengan kelahiran bayi atau sedang berduka atas kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak pernah sendiri, ada Yesus Kristus yang telah melalui semua itu dan DIA lakukan untuk kita. Yesus Kristus menarik kita lebih dekat satu sama lain, lebih dekat kepada Allah, dan lebih dekat, selalu, Paskah.

Salam

Doa Dasar


Tanda Salib

Dalam (Demi) nama Bapa dan Putera dan Roh kudus, Amin..


Bapa Kami

Bapa kami yang ada di dalam surga,
Dimuliakanlah nama-Mu,
Datanglah kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu,
Diatas bumi seperti didalam sorga,
Berilah kami rejeki pada hari ini,
Dan ampunilah kesalahan kami,
Seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami
ke dalam pencobaan,
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.

Baca juga :
Doa Bapa Kami sebagai Sumber Inspirasi dan Kekuatan
Memahami Doa Bapa Kami
Seluk-beluk Doa Bapa Kami


Salam Maria

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau diantara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati.
Amin.


Kemuliaan

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad.
Amin.


Doa Harapan

Allah, Bapa di surga, kasih setia-Mu kekal abadi.
Engkaulah tumpuan hidup dan harapanku.
Tanamkanlah dalam hatiku pengharapan yang teguh akan kasih dan kebaikan-Mu;
pengharapan yang menjiwai seluruh hidup Putra-Mu Yesus Kristus.
Berilah aku pengharapan yang kuat
karena yakin bahwa Engkau selalu besertaku.
Semoga aku selalu menyandarkan diri kepada-Mu dalam suka dan duka.
Aku mohon pengharapan yang teguh supaya aku tidak
mudah putus asa dalam penderitaan dan kekecewaan.

Bapa, semoga pengharapan yang kuat selalu menjiwai seluruh hidupku.
Dalam pengharapan itu aku akan membangun hidup dan masa depanku.
Dalam harapan itu pula aku percaya akan
memperoleh hidup abadi bersama Engkau.
Ya Allah, teguhkanlah pengharapanku.
Amin.


Doa Iman

Allah yang esa, Engkau telah menciptakan semesta alam,
Aku percaya bahwa Engkau adalah Bapa yang pengasih dan penyayang;
Engkau sungguh mengasihiku;

Engkau telah mengutus Yesus, Putra-Mu yang tunggal,
yang telah menjadi manusia, wafat dan bangkit untuk keselamatanku.
Engkau telah mengutus pula Roh Kudus pemberi hidup.

Dia berasal dari Bapa dan Putra.
Dia telah dicurahkan ke atasku dan berdiam di dalam diriku,
sehingga aku menjadi bait Allah.

Dialah penolong sejati,
yang membimbing aku kepada seluruh kebenaran.

Ya Bapa, berilah aku iman yang hidup,
dan jadikanlah aku berani menjadi saksi-Mu
di hadapan sesama manusia sepanjang hayatku.

Ya Allah, tambahkanlah selalu imanku.
Amin.


Doa Kasih

Doa Kasih 1

Allah, sumber segala kasih,
Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus,
agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku,
dan semakin dikenal oleh banyak orang.

Santo Yohanes telah mengajarku,
“Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah,
sebab Allah adalah kasih.”

Semoga karena karunia kasih-Mu itu,
aku mampu mengasihi Engkau lebih dari segala sesuatu,
dengan segenap hati, segenap jiwa, dengan segenap akal budi,
dan dengan segenap kekuatan.

Karena mengasihi Engkau,
semoga akupun mengasihi orang lain
sebagaimana aku mengasihi diriku sendiri.
Ya Allah, kobarkanlah selalu kasihku.
Amin.

Doa Kasih 2

Aku mengasihi Engkau, ya Allah, dengan segenap hati, dengan seutuh jiwa,
dan dengan segala kemampuan, sebab Engkau adalah Kasih.

Bantulah aku mewujudkan kasih akan Dikau dengan
mengasihi sesama seperti aku mengasihi diriku sendiri.
Karena dorong kasih-Mu, semoga aku mengasihi Yesus, Putra-Mu terkasih,
dan mendengarkan sabda-Nya.
Berilah aku rahmat supaya dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya,
yakni mengasihi saudara-saudaraku,
sebagaimana Yesus sendiri telah mengasihi aku.

Semoga Roh Kudus, yang telah Kau curahkan ke atasku,
menyingkirkan dari hatiku kedengkian, iri hati dan dendam.
Ya Bapa, semoga aku hidup dalam kasih dengan semua orang,
supaya dunia mengetahui bahwa aku ini milik-Mu.
Amin.


Doa Masa Adven

Ya Allah, Bapa yang mahakudus kami bersyukur kehadirat-Mu, karena lewat masa penantian ini Engkau menjanjikan Juru selamat yakni Yesus Kristus Putra-Mu. Kedatangan-Nya dinubuatkan oleh para nabi dan dinantikan oleh Perawan Maria dengan cinta mesra. Dialah Adam baru yang memulihkan persahabatan kami dengan Dikau. Ia penolong yang lemah dan menyelamatkan yang berdosa.

Ia membawa damai sejati bagi kami dan membuat semakin banyak orang mengenal Engkau, dan berani melaksanakan kehendak-Mu. Ia datang sebagai manusia biasa, untuk melaksanakan rencana-Mu dan membukakan jalan keselamatan bagi kami. Pada akhir zaman Ia akan datang lagi dengan semarak dan mulia untuk menyatakan kebahagiaan yang kami nantikan.

Kami mohon kelimpahan rahmat-Mu, agar selama hidup di dunia ini kami selalu siap siaga dan penuh harap menantikan kedatangan-Nya yang mulia, agar pada saat Ia datang nanti, kami kau perkenankan ikut berbahagia bersama Dia dan seluruh umat kesayangan-Mu. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa Natal

Allah Bapa di surga, kami memuji Engkau dan bersyukur kepada-Mu karena sabda-Mu yang menjadi manusia dengan lahir ditengah-tengah kami. Ia menjadi manusia lemah agar kami yang rapuh dan fana ini diurapi oleh daya ilahi yang abadi.

Dengan kelahiran-Nya di dunia ini, Engkau yang tak dapat dilihat kini kelihatan sebagai manusia seperti kami, dan cahaya keselamatan-Mu bersinar ditengah kami, mengusir kegelapan yang menguasai kami.

Curahkanlah rahmat-Mu, agar kami yang kini merayakan misteri inkarnasi berani menjadi pembawa damai bagi sesama, dan dengan demikian kami pun menjadi sarana inkarnasi-Mu ditengah-tengah mereka. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa PraPaskah

Allah Bapa yang maha baik, kami bersyukur kepada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan-Mu. Selama Masa Prapaskah ini Engkau melimpahkan rahmat untuk menyegarkan iman kami.

Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Engkau mendorong kami melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana, mensyukuri segala anugerah-Mu, dan membantu orang-orang yang menderita. Karena selama Masa Prapaskah ini Engkau membimbing para calon baptis yang akan bersatu dengan kami melalui Sakramen Baptis. Dan sambil mendampingi mereka, kami pun Kau ajak menyegarkan rahmat Baptisan yang pernah kami terima dari-Mu.

Semoga karena rahmat-Mu yang Kau limpahkan selama Masa Prapaskah ini kami semakin Suci, semakin bersatu sebagai umat kesayangan-Mu, dan berani meneladan Yesus Putra-Mu, yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kami. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa Paskah

Allah Bapa yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu karena Yesus Kristus telah bangkit dari Kubur. Dengan kebangkitan-Nya Kau tumbuhkan semangat dan harapan baru dalam hati kami; umat baru Kau ciptakan, dan pintu surga Kau buka bagi kami. Melalui kebangkitan-Nya kuasa dosa Kau hancurkan, kami Kau damaikan dengan Dikau dan sesama, dan alam semesta yang porak poranda Kau pugar kembali.

Dengan kenaikan-Nya Ia merintis jalan ke surga bagi kami, dan menyediakan tempat bagi kami. Semoga karena rahmat kebangkitan-Nya kami menjadi manusia baru, yang penuh harapan, yang gigih melawan dosa dan kejahatan, yang setia mengikuti kehendak-Mu, dan tak gentar akan derita salib. Demi Yesus Kristus, pengantara Kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Kidung Maria

Aku mengagungkan Tuhan
hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku.

Sebab Ia memperhatikan daku,
hamba-Nya yang hina ini.

Mulai sekarang aku disebut yang bahagia,
oleh sekalian bangsa.

Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa,
kuduslah nama-Nya.

Kasih sayang-Nya turun-temurun,
kepada orang yang takwa.

Perkasalah perbuatan tangan-Nya,
dicerai-beraikan-Nya orang yang angkuh hatinya.

Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta,
yang hina dina diangkat-Nya.

Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan,
orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong.

Menurut janji-Nya kepada leluhur kita,
Allah telah menolong Israel hamba-Nya.

Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya,
untuk selama-lamanya.

Kemuliaan …


Kidung Simeon

Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang.
dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu.
yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa;
Cahaya untuk menerangi para bangsa,
dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.

Kemuliaan …


Kidung Zakharia

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.

Ia mengangkat bagi kita seorang Penyelamat yang gagah perkasa.
putra Daud hamba-Nya,

Seperti dijanjikan-Nya dari sedia kala,
dengan pengantaraan para nabi-Nya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita;

Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita,
dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut,
dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang maha tinggi,
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan-Nya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umat-Nya,
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belas kasihan;
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kemuliaan


Malaikat Tuhan (Angelus)

(Di doakan pada pukul 06.00, 12.00 dan 18.00)

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,
Bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria 1x

Aku ini hamba Tuhan,
Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Salam Maria 1x

Sabda sudah menjadi daging,
Dan tinggal diantara kita.

Salam Maria 1x

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, Supaya kami
dapat menikmati janji Kristus.

Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami.

Amin.


Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus

Datanglah, ya Roh Hikmat, turunlah atas diri kami, ajarlah kami menjadi orang bijak, terutama agar kami dapat menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita surgawi. Semoga kami Kau lepaskan dari belenggu dosa dunia ini.

Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami. Terangilah budi kami, agar dapat memahami ajaran Yesus, Sang Putra, dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Datanglah, ya Roh Nasihat, dampingilah kami dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak ini. Semoga kami melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat.

Datanglah, ya Roh Keperkasaan, kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami.

Datanglah, ya Roh Pengenalan akan Allah. Ajarlah kami mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara saja. Bimbinglah kami agar dapat menggunakan hal-hal duniawi untuk kemuliaan-Mu.

Datanglah, ya Roh Kesalehan, bimbinglah kami untuk terus berbakti kepada-Mu. Ajarlah kami untuk menjadi orang yang tahu berterima kasih atas segala kebaikan-Mu dan berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang di sekitar kami.

Datanglah, ya Roh Takut akan Allah, ajarlah kami untuk takut dan tunduk kepada-Mu dimana pun kami berada. Tegakkanlah kami agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Mu.

Amin.


Novena Roh Kudus

Novena Roh Kudus ini dilaksanakan selama sembilan hari, mulai pada hari sesudah kenaikan Yesus ke surga dan berakhir pada hari Sabtu menjelang Pentekosta. Dalam novena ini umat memuji Tuhan yang menjanjikan kedatangan Roh Kudus dan memohon rahmat-Nya agar siap menyambut kedatangan Roh Kudus. Novena ini juga dapat dilaksanakan dalam kesempatan lain.

Hari Pertama

Allah pokok keselamatan kami, karena kebangkitan Kristus kami lahir kembali dalam pembabtisan dan menjalani hidup baru. Arahkanlah hati kami kepada Kristus yang kini duduk di sebelah kanan-Mu. Semoga Roh-Mu menjaga kami sampai Penyelamat kami datang dalam kemuliaan, sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kedua

Allah yang mahabijaksana, Putra-Mu menjanjikan Roh Kudus kepada para rasul dan memenuhi janji itu sesudah Dia naik ke surga. Semoga kami pun Kau anugrahi karunia Roh Kudus. Demi Yesus Kristus, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Ketiga

Allah, Penyelamat kami, kami percaya bahwa Kristus telah bersatu dengan Dikau dalam keagungan. Semoga dalam Roh-Nya, Dia selalu menyertai kami sampai akhir zaman, seperti yang dijanjikan-Nya. Sebab Dialah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Keempat

Allah yang mahakudus, semoga kekuatan Roh-Mu turun atas kami, agar kami mematuhi kehendak-Mu dengan setia dan mengamalkannya dalam cara hidup kami. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kelima

Allah yang mahakuasa dan mahakudus, semoga Roh Kudus turun atas kami dan berdiam dalam diri kami, sehingga kami menjadi kenisah kemuliaan-Nya. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Keenam

Allah yang mahaesa, Engkau telah menghimpun Gereja dalam Roh Kudus. Semoga kami mengabdi kepada-Mu dengan ikhlas dan bersatu padu dalam cinta. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Ketujuh

Allah yang mahakudus, curahkanlah Roh Kudus-Mu ke dalam diri kami, sehingga kami dapat melaksanakan kehendak-Mu dan layak menjadi milik-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kedelapan

Allah sumber cahaya kekal, Engkau telah membukakan bagi kami jalan menuju hidup kekal dengan memuliakan Putra-Mu dan mengutus Roh Kudus. Semoga cinta bakti dan iman kami selalu bertambah. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kesembilan

Allah yang mahakuasa, kebangkitan Putra-Mu telah menumbuhkan hidup baru dalam diri kami. Semoga karena bantuan Roh-Mu kami mewujudkan rahmat kebangkitan dalam hidup kami sehari-hari. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin


Syukur Atas Pengampunan

Allah yang maharahim, Engkau tidak menghendaki kematian orang berdosa.
Sebaliknya Engkau menghendaki supaya kami bertobat dan hidup.
Maka engkau mengundang orang berdosa supaya bertobat,
dan kepada kami yang bertobat Engkau melimpahkan pengampunan.

Kesalahan kami Engkau hapuskan, dan dosa kami tidak Kau ingat lagi.
(Amin)

Terima kasih, ya Allah, atas pengampunan yang Kau berikan kepada kami.
Semoga sukacita di surga karena satu orang berdosa bertobat juga menjadi sukacita kami.
Semoga sukacita pengampunan ini,
mendorong kami selalu hidup rukun dan damai dengan seluruh umat-Mu.

Ya Allah, perkenankanlah kini kami pergi dalam damai,
dan selalu ingat akan sabda Putra-Mu
yang menghendaki kami tidak berbuat dosa lagi.
(Amin)


Ratu Surga

(Di doakan pada jam 6.00,12.00,15.00 di Masa Paskah)

Ratu surga bersukacitalah, Alleluya, Sebab Ia yang sudi kau kandung, Alleluya
Telah bangkit seperti disabdakan-Nya, Alleluya Doakanlah kami pada Allah, Alleluya !

Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya, Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya Marilah berdoa. (Hening)

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu,Tuhan kami Yesus Kristus.
Kami mohon; perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama bunda-Nya, Perawan Maria.

Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

Dosa Asal

Wafat Kristus bukanlah hukuman Allah yang khusus, yang dikenakan pada Kristus, sebagai ganti kita semua. Wafat Kristus berarti solidaritas-Nya dengan umat manusia yang harus mati karena dosa. Kristus tidak luput dari situasi kedosaan, dan karena itu mengalami maut. “Situasi kedosaan” ini sering juga disebut dengan istilah dosa asal, walaupun keduanya tidak tepat sama. Dosa asal memang berarti suatu “keadaan dosa”, yang meliputi umat manusia seluruhnya. Situasi kedosaan umat manusia sekarang ini bukan hanya akibat dosa asal, tetapi juga disebabkan oleh sejarah kedosaan manusia. Menurut ajaran Kitab Suci sejarah manusia memang mulai dengan dosa Adam dan Hawa, dan selanjutnya ditandai oleh kedosaan itu, sehingga setiap orang yang lahir di dunia ini terkena oleh situasi kedosaan itu. Maka kata “dosa asal” mempunyai arti ganda: dosa pada awal sejarah umat manusia seluruhnya (Adam dan Hawa) dan dosa pada permulaan sejarah kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini (yang disebut “dosa” bayi). Antara kedua itu ada hubungan kait-mengait. Karena ada dosa pada awal sejarah umat manusia, maka setiap orang yang lahir dalam perkembangan sejarah itu terkena oleh situasi kedosaan. Namun perlu diperhatikan bahwa dosa asal yang didapati setiap orang yang lahir di dunia ini, merupakan dosa dalam arti yang khusus. Dari satu pihak sungguh dosa yang menjauhkan dari Allah, dari pihak lain bukan dosa berdasarkan kesalahannya sendiri. Kekhususan dosa ini tidak mudah dimengerti dan memerlukan keterangan khusus.

Pertama-tama harus ditanyakan: apa itu dosa? Pertanyaan ini biasanya dijawab, dosa itu melanggar perintah Tuhan dengan sengaja. Itu benar, tetapi tidak lengkap, sebab bagaimana orang dapat mengetahui perintah Allah? Santo Paulus sudah berkata, bahwa orang “yang tidak memiliki hukum Taurat, oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat; isi hukum Taurat tertulis dalam hati mereka” (Rm 2:14-15). Tetapi orang merumuskan hukum itu dengan cara yang berbeda-beda. Ternyata suatu norma etis yang abstrak (ialah cita-cita kehidupan yang ideal) belum menjadi motivasi untuk tindakan konkret. Norma kehidupan bukanlah apa yang memajukan perkembangan umat manusia pada umumnya, melainkan apa yang memajukan hidup yang konkret, kini dan di sini. Karena manusia tidak hidup sendirian, norma kehidupan biasanya juga diambil dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melanggar norma at au peraturan itu salah, karena mengganggu hidup bersama manusia. Tetapi dengan kata “dosa” dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah, yang “seharusnya” ada, ternyata tidak ada. Itu bisa karena salah manusia sendiri, atau kesalahan orang lain. Dosa asal berarti bahwa hubungan dengan Allah terhalang oleh dosa Adam. Bukan karena Adam dan Hawa menghilangkan rahmat yang diperuntukkan bagi semua orang, melainkan karena rencana keselamatan Allah menyangkut umat manusia sebagai keseluruhan. “Allah bermaksud menguduskan dan menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya. Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat.” (LG 9). Lebih jelas lagi, “semua orang yang dipilih oleh Allah dari semula, ditentukan-Nya dari semula pula menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29). Seluruh umat manusia diciptakan dalam kesatuan dinamis yang menuju kesamaan dengan Kristus.

Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia, ketika semua sudah kacau oleh dosa Adam. Dari semula Allah mempunyai rencana “untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (Ef 1:10). Maka Kristus juga disebut “yang sulung, yang pertama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Dilihat dari sudut Allah, manusia pertama bukanlah Adam, melainkan Kristus. Adam hanyalah “gambaran dari Dia yang akan datang” (Rm 5:14), sebab Adam diciptakan menurut citra Kristus. Allah menciptakan manusia karena ingin membuat makhluk yang dapat dikasihi-Nya. Oleh karena itu, Ia menciptakan manusia menurut citra Anak yang terkasih. Kristus itu gambaran manusia sebelum segala zaman. Manusia “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah, supaya Ia, Anak Allah itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Rencana Allah ialah sejarah manusia yang menuju keserupaan dengan Kristus.

Akan tetapi, rencana itu tidak terjadi. Semenjak kedosaan Adam, manusia menutup diri dan makin mencari diri sendiri sebagai tujuan hidupnya. Ternyata sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan, yang makin terpusatkan pada diri manusia sendiri dan makin jauh dari Allah dan Kristus. Kalau dikatakan bahwa dari semula manusia berdosa, yang dimaksudkan ialah bahwa seluruh umat manusia, tanpa kecuali adalah pendosa: “Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih-karunia mereka dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:24). Dengan mengikuti jejak Kristus manusia menemukan orientasi kembali kepada Allah. Tetapi dari dirinya sendiri manusia sudah tidak mempunyai orientasi dasar itu. Segala perbuatan jahat pada dasarnya merupakan perwujudan kejahatan dasariah manusia. Orientasi kepada dirinya sendiri, sebagai kejahatan dasariah, dapat membahayakan orientasi manusia kepada Allah dan sering menjadi penghambat iman juga.

Yohanes berkata bahwa Allah sebenarnya hanya memberikan dua perintah saja, yaitu “supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23). Kedua perintah itu kait-mengait. Kenyataan bahwa manusia tidak terorientasi lagi kepada Allah, dan Anak-Nya Yesus Kristus, mengakibatkan bahwa ia juga tertutup terhadap sesamanya. Sebab “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Peperangan dan permusuhan di antara manusia sangat jelas memperlihatkan bahwa manusia tidak lagi terarah kepada Kristus, yang “datang untuk memberitakan damai-sejahtera” (Ef 2:17). Umat manusia tidak lagi mempunyai orientasi kesatuan yang dikehendaki Allah, tetapi terpecah-belah di antara mereka sendiri. Konsili Vatikan II mengatakan,

“Bila melihat dalam diri sendiri, ditemukan bahwa manusia cenderung berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahan hidup yang tepat kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh harmoni dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan” (GS 13).

Situasi kedosaan bukan hanya sesuatu dalam batin manusia, melainkan menyangkut seluruh hidupnya, baik dalam relasi dengan sesama manusia, maupun dengan dunia material seluruhnya.

Apa yang diketahui dari Kitab Suci dan ajaran Gereja, juga jelas dari sejarah manusia sendiri (dan sering menjadi tema dalam kesusasteraan). Dasar segala konflik antara manusia adalah iri hati, yang berpangkal pada persaingan untuk merebut tempat yang paling unggul. Maka sesama yang mau ditiru dan dicontoh, sekaligus menjadi musuh yang mau diungguli dalam persaingan yang ketat. Persaingan dan iri hati itu sering menjadi begitu hebat hingga orang mau melampiaskan emosi kekecewaannya ke mana saja. Agresi yang bertumpuk-tumpuk sering mencari sasaran lain, kalau tidak dapat mengalahkan orang yang disaingi. Massa sudah tidak mengetahui mengapa harus marah dan melampiaskan rasa frustrasinya dalam penghancuran yang membabi-buta. Tidak jarang dicari “tumbar” guna menghilangkan rasa frustrasi kolektif itu dalam pembunuhan tanpa alasan. Kejahatan sering “menular” ke mana-mana sebagai jalan keluar dari tekanan emosi persaingan dan frustrasi. Dalam kejahatan seperti itu, yang berdasarkan ketegangan antara manusia sendiri, sering sudah tidak jelas siapa penjahat dan siapa korban. Maka tidak mengherankan bahwa dia yang dibunuh, kemudian dihormati sebagai pahlawan. Sering orang tidak mengetahui lagi asal-usul kejahatan.

Apa yang mau dinyatakan oleh kisah Adam dan Hawa sebetulnya tidak lain daripada kebenaran, bahwa konflik antara baik dan jahat mengena pada akar-akar hidup manusia. Kejahatan itu tidak datang dari Allah, yang menciptakan manusia demi kebahagiaan, melainkan muncul dari kebebasan hati manusia sendiri. Allah menawarkan kepada manusia supaya menjadi serupa dengan Anak-Nya sendiri. Manusia dapat “menjadi seperti Allah” (Kej 3:5), tetapi keluhuran itu harus diterima dari Allah sebagai anugerah, tidak dirampas sebagai kemenangannya sendiri.

Allah menciptakan manusia supaya menjadi satu dengan-Nya. Tetapi manusia sendiri menolak. Kapan? Setiap saat. Itulah sikap dasar manusia. Ia tidak mau menerima kebahagiaannya dari tangan Allah, tetapi mau membuatnya sendiri, menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Kebahagiaan manusia tergantung pada Allah yang menciptakannya, tetapi juga pada manusia sendiri yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas-merdeka.

Allah tetap menawarkan kebahagiaan kepada manusia, dan manusia tetap diberi kemungkinan menerimanya. Syaratnya, ialah bahwa manusia melepaskan diri dan menyerahkan diri kepada kebaikan Allah. Sekali diciptakan sebagai makhluk yang bebas manusia selalu mempunyai kecenderungan menutup diri dan membuat diri sendiri sumber segala kebahagiaan. Manusia lupa bahwa ia makhluk dan bukan pencipta. Maka akhirnya dosa asal tidak lain daripada misteri kejahatan manusia: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm 7: 19). Misteri dosa asal adalah misteri manusia yang seluruhnya tergantung pada Allah, dan sekaligus seluruhnya “diserahkan kepada keputusannya sendiri” (GS 17). Bebas dalam ketaatan; atau dipanggil agar taat dalam kebebasan.

Mengapa Yesus dihukum Mati ?

“Yesus berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia”, kata Kitab Suci (Kis 10:38). Namun Ia disalibkan sekitar umur 30 tahun sebagai seorang “pemberontak” dan “perampok”. Padahal, Yesus tidak pernah mencita-citakan kekuasaan politik (lih. Yoh 6:15; Mrk 8:29-30). Maka perlu ditanyakan bagaimana mungkin Yesus dihukum mati sebagai tahanan politik? Untuk itu perlu diperhatikan pengadilan Yesus sendiri dan apa yang dituduhkan terhadap Yesus.

Adakah pertemuan Mahkamah Agung merupakan sidang resmi atau tidak, kurang jelas. Dalam Mat 26:3-4 dikatakan, “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia” (lih. juga Mrk 14:1; Luk 22:2). Pertemuan yang terjadi beberapa waktu sebelum Yesus dihukum mati ini rupanya bersifat tidak resmi. Namun mengenai perundingan itu Yohanes (11:47) sudah berkata: “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul”. Sebetulnya orang Farisi tidak berhak ikut Mahkamah Agung. Maka barangkali Yohanes tidak terlalu membedakan antara sidang resmi dan tidak resmi. Begitu juga sidang berikut yang disebut oleh Injil sinoptik (Mat 26:57, Mrk 14:53, Luk 22:66) belum tentu sidang resmi.

Rumus Mat 26:57, Mrk 14:55, “imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agung”, agak kabur; dan sidang resmi pada malam hari (lih. Mat 26:20, Mrk 14:17; Mat 27:11 Mrk 15:1) tidak sah. Maka Lukas (22:66) memindahkannya ke siang hari. Kemungkinan besar bahwa “sidang Mahkamah Agung” tidak lain daripada pertemuan beberapa orang (penting) saja di tempat Kayafas (menurut Yohanes, 18:13-24, “mula-mula kepada Hanas”, sesudah itu “Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas”). Sifat tidak resmi mungkin dapat disimpulkan juga dari jawaban orang Yahudi kepada Pilatus: “Kami tidak diperbolehkan membunuh orang” (Yoh 18:31). Maksudnya mungkin: Kami tidak diperbolehkan menyalibkan orang. Hukuman mati cara Yahudi berarti rajam. Mungkin juga, bahwa Pilatus mau mengontrol hukuman mati. Pendek kata, kemungkinan besar bahwa sidang orang Yahudi bersifat “sementara” saja.

Sama halnya dengan sidang di hadapan Pilatus. Terhadap seorang terdakwa yang bukan warga-negara Roma, Pilatus bisa bertindak menurut kebijakannya sendiri, tidak perlu banyak prosedur. Kalau Pilatus berpendapat bahwa tuduhan terhadap Yesus mempunyai dasar, ia dapat menjatuhkan hukuman. Dari papan di atas salib, jelaslah bahwa Yesus memang dihukum mati oleh Pilatus, dan bahwa alasan yang dibawakan bersifat politik “Raja orang Yahudi”.

Bagaimana Yesus dapat dihukum mati atas tuduhan politik, kalau Ia sendiri menolak segala kehormatan dan kegiatan politik? Kiranya jawaban terdapat dalam pertanyaan imam agung: “Apakah Engkau Mesias?” (Mat 26:63 dst.), artinya “raja Israel” (Mrk 15:30). Gelar “Mesias” mempunyai arti ganda, arti keagamaan dan arti politik. Hal itu ditunjukkan oleh jawaban Yesus kepada Pilatus dalam Injil Yohanes (18:34). Tetapi apa alasan imam agung bertanya kepada Yesus perihal Mesias, itu tidak jelas.

Sebagai suatu hipotesis, mungkin dapat diberikan keterangan yang berikut ini: Yesus mengusir orang dari kenisah (Mrk 11:15-17 dst.; lihat juga Yoh 2:13-17). Hal itu diketahui oleh Pilatus (yang mempunyai istana tepat di samping kenisah). Karena perayaan Paska, yang mengenangkan pembebasan Israel dari Mesir, adalah “hari kemerdekaan” orang Yahudi, maka tidak jarang terjadi unjuk rasa pada hari itu. Bisa jadi bahwa huru-hara di kenisah, yang disebabkan oleh kelompok orang Galilea itu, yakni Yesus dan para rasul-Nya, memberi kesan bahwa ada unjuk rasa atau bahkan pemberontakan. Waktu itu ada suatu persetujuan antara para penjajah dan orang Yahudi, bahwa orang Roma (yang najis dalam pandangan Yahudi) tidak akan menginjak tempat suci. Maka wewenang atas kenisah atau bait Allah telah diserahkan kepada imam agung. Oleh karena itu mungkin sekali bahwa Pilatus minta pertanggung-jawaban dari Kayafas atas huru-hara yang terjadi di kenisah. Kalau demikian, maka pertemuan Kayafas dan kawan-kawannya (Yoh 11:47-50; juga Mrk 11:18 dst.) dimaksudkan untuk membicarakan masalah ini. Mereka mengambil keputusan menyerahkan Yesus kepada Pilatus, sebab sudah lama “mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak menganggap Dia nabi” (Mat 21:46 dst.). Sekarang ada kesempatan: Tentara Pilatus telah menangkap seorang pemberontak, yang namanya Barabas. Mereka minta (barangkali diam-diam) “supaya Barabas dibebaskan” (Mat 27:20 dst.), dan sebagai ganti Barabas mereka menyerahkan Yesus. Mungkin sekali bahwa tuduhan di atas salib semula dimaksudkan untuk Barabas, dan kemudian dikenakan kepada Yesus karena permainan orang Yahudi. Alasannya adalah pembersihan kenisah. Tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap Yesus serta pertanyaan imam agung sebenarnya berhubungan dengan perlawanan yang sudah lama ada antara Yesus dan para pemimpin Yahudi.

Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Mungkin alasan konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.). Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi.

Baca juga : Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya