Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Tugas Pengudusan dalam Perayaan

Konsili Vatikan II menyebut Gereja “persekutuan iman, harapan dan cinta” (LG 8), “persekutuan persaudaraan orang yang menerima Yesus dengan iman dan cinta kasih” (GS 32). Maka sesungguhnya “Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam Kristus, sebagai prinsip kesatuan Gereja” (UR 2), sebab oleh Roh Kudus “kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita” (Rm 5:5). Tetapi Konsili juga mengajarkan bahwa Gereja dibentuk “karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Kesatuan Gereja bukan hanya karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antarmanusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara para anggota Gereja. Komunikasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman. Maka dikatakan bahwa “penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah dalam perayaan liturgi” (SC 41). Dan Gereja sendiri disebut “persekutuan keimaman” (LG 11), khususnya “persekutuan di sekitar altar” (LG 26).

Komunikasi iman mengandaikan pengungkapan iman sebagai sarana komunikasi, Pengungkapan iman bukan hanya meliputi perayaan liturgi atau ibadah. Segala pernyataan iman yang khusus dan eksplisit, termasuk perumusan dan pengajaran iman, merupakan pengungkapan iman. Maka pengungkapan iman ini harus dibedakan dari perwujudan iman. Kedua-duanya adalah penghayatan iman. Yang disebut “pengungkapan” iman ialah segala pernyataan iman dalam bentuk yang khusus dan eksplisit, terutama dalam bentuk pewartaan atau pengajaran dan perayaan Gereja. Yang disebut “perwujudan” iman ialah segala perkataan dan tindakan yang memang dijiwai oleh semangat iman, namun tidak secara khusus dan jelas memperlihatkan sikap iman itu. Di situ iman memang dihayati, tetapi tidak menjadi kentara, karena bentuk penghayatan iman merupakan kegiatan dan pergaulan yang “biasa”, yang “umum”, yang tidak memperlihatkan kekhususan iman Kristen dan Katolik. Sebaliknya dalam bidang pewartaan dan perayaan, iman Kristen dinyatakan secara khusus dan jelas. Maka kegiatan gerejawi ini disebut “pengungkapan iman”. Karena iman berarti hubungan dengan Allah, bidang pengungkapan iman itu juga disebut bidang “sakral”, yang dikhususkan bagi Allah. Di dalam bidang pengungkapan iman biasanya masih dibedakan antara bidang pewartaan yang telah dibahas dan bidang perayaan yang akan diuraikan sekarang. Bidang itu adalah bidang doa dan kebaktian.

Teologi

Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau, agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya untuk mengadakan penyelidikan, mengembangkan pemikiran serta mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenaran-kebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44).

Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan perumusan yang berasal dari refleksi teologis.

Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar, yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan. 812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas gerejawi.

Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu; perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja” (AG 22).

Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi. Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja, tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam rangka tugas kepemimpinan.

Sabda Allah dalam Pewartaan Aktual Gereja

Ada perbedaan antara Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Sabda Allah dalam khotbah pewartaan aktual Gereja. Oleh karena wahyu selesai dengan kematian para rasul, dasar normative juga sudah diletakkan. Segala pewartaan selanjutnya tergantung pada norma itu. Tugas pewartaan tidak lain kecuali mengaktualisasi apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul.

Dengan demikian, Sabda Allah sungguh datang kepada manusia dan menyelamatkan mereka yang mendengarkan pewartaan Gereja. Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekadar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus yang mulia. Di dalamnya Kristus menyelamatkan, menyembuhkan hati setiap orang yang mendengar dan membuka diri terhadap Sabda yang disampaikan itu. Kristus membebaskan kita dari dosa melalui Sabda-Nya.

Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif

Pewartaan para rasul ternyata mengalami proses peralihan kepada pewartaan Gereja. Proses itu dibarengi dengan suatu proses yang penting sekali untuk kehidupan Gereja, yakni Sabda Allah menjadi “Kitab Suci”.

Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah.

Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang juga berasal dari pewartaan para rasul.

Pewartaan Para Rasul sebagai Daya yang Membangun Gereja

Dasar eksistensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan. Tetapi secara empiris-historis Gereja dibangun oleh para rasul dalam kuasa Roh Kudus. Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak Allah berdasarkan peristiwa penyelamatan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu mereka juga disebut dasar Gereja. Sabda yang disampaikan kepada mereka supaya diteruskan dalam pewartaan ialah bagian asasi karya pendirian Gereja.

Memang dalam arti tertentu Gereja sebagai hasil karya penyelamatan Kristus telah ada sebelum para rasul. Bahkan mereka sendiri adalah Gereja. Tetapi mereka mempunyai peranan fundamental dalam proses pengembangan Gereja yang pada intinya sudah ada sebelumnya. Hubungan mereka dengan Yesus Kristus dan dengan Gereja menyebabkan pewartaan/sabda para rasul menjadi sangat fundamental bagi pembangunan Gereja. Yesus Kristus itu sabda sejati. Gereja merupakan gema sabda itu dalam rupa-rupa bentuk. Salah satu bentuk yang paling fundamental dari antaranya adalah sabda rasul yang mengembangkan dan membangun Gereja. Bentuk historis Kristus-Sabda sebagai dasar Gereja adalah sabda rasul-rasul. Bahkan kita mengenal Kristus, Sang Sabda, hanya melalui kesaksian – kesaksian mereka.

Sabda para rasul itu bukan sekedar memberi keterangan, melainkan berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu merupakan sabda Allah dalam sabda manusia dan tetap melaksanakan apa yang diungkapkan. Hal ini dimungkinkan, karena sama seperti seorang nabi, seorang rasul pun hidup dalam suatu panggilan khusus dan diberi kuasa khusus mewartakan Sabda Allah secara berwenang. Berdasarkan panggilan khusus ini, Roh Kudus menjamin kebenaran dan daya guna pewartaan rasul-rasul. Dengan demikian, menjadi pewarta resmi tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Sabda tetap berkuasa atas pewarta, dan pewarta tidak bisa lebih daripada menjadi pelayan Sabda. Bahkan seluruh eksistensinya dituntut oleh tugas pewartaan.

Sebagai dasar Gereja, sabda rasul-rasul membawa suatu konsekuensi lain lagi. Sabda rasul harus dipertahankan Gereja sebagai norma dan sumber hidup. Hal ini hendaknya dilihat dalam kerangka perkembangan jabatan gerejawi di dalam fungsinya mempertahankan ajaran yang benar. Soal ini muncul karena de facto, pewartaan Gereja sesudah rasul-rasul bercorak lain dari pewartaan para rasul. Pewartaan otoritatif dari kesaksian para rasul ditafsirkan dan disaksikan kembali oleh Gereja sekarang, tetapi daya guna Sabda Allah dalam pewartaan Gereja tidak kurang daripada dalam pewartaan para rasul. Daya guna itu dijamin oleh Roh Kudus yang hidup di dalam Gereja dan yang tetap sama.

Inti Pewartaan Yesus: Kerajaan Allah

Tema pokok pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15). Kerajaan Allah, yaitu Allah yang datang sebagai Raja, sudah dekat.

Orang Yahudi pada zaman Yesus menghindari penyebutan langsung Nama Allah. Maka, sebagai ganti “Allah meraja”, dikatakan “Kerajaan Allah” (seperti juga “sabda Allah” sebagai ganti “Allah bersabda”; atau “kehadiran Allah” ganti “Allah hadir”). Bahkan sebagai ganti “Kerajaan Allah” dikatakan “Kerajaan Surga”. Kata “Kerajaan Allah” atau “Kerajaan Surga” tidak berarti daerah kekuasaan Allah atau surga. “Kerajaan Allah” berarti Allah sendiri yang tampil sebagai Raja. Dari Mzm 145:11-13 dapat disimpulkan bahwa penampilan Allah itu berarti penampilan dalam kemuliaan dan keperkasaan, namun bukan pertama-tama untuk menghukum atau membalas, melainkan untuk menyelamatkan dan memberi perlindungan. Para nabi (mis. Yes 24:21-23; 33:22; 52:7-10; Ob 21; Mi 2:12-13; Zef 3:14-20) melihat kedatangan Allah dalam kemuliaan rajawi sebagai hari penebusan dan penyelamatan Israel. Khususnya pada zaman Yesus pengharapan akan penyelamatan Allah ini amat kuat. Mereka semua mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah dan pewartaan Yesus menjawab pengharapan itu.

Ciri khas pewartaan Yesus ialah bahwa kedatangan Allah sebagai Raja Penyelamat dinyatakan akan terjadi dengan segera. Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk 1:15; 13:29; Mat 10:7), sudah di ambang pintu (Luk 17:20-21.37), tidak akan ditunda-tunda lagi (Luk 10:9 dsj.; 11:20 dsj.). Walaupun pewartaan Kerajaan Allah sudah ada sebelum Yesus, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam agama Yahudi, bagi Yesus pewartaan Kerajaan mempunyai arti yang khusus. Pertama karena Kerajaan Allah paling pokok dalam sabda dan karya Yesus. Tetapi juga karena Kerajaan mempunyai ciri-ciri khas dalam pewartaan Yesus.

Bagi Yesus kedatangan Kerajaan mendesak, karena kemalangan manusia hampir tidak tertahan lagi. Maka belas-kasihan dan kerahiman Allah juga tidak akan tertunda lagi. Bagi Yohanes kemalangan zaman itu berarti hukuman dari Allah (lih. Mat 3:7-8 dsj.), bagi Yesus justru ajakan bertobat (Luk 13:3.5). Kemalangan menjadi tanda kedatangan Allah yang maharahim.

Pewartaan Kerajaan adalah pewartaan kerahiman Allah dan karena itu merupakan warta pengharapan. Kerajaan Allah berarti turun tangan Allah untuk menyelamatkan, untuk membebaskan dunia secara total dari kuasa kejahatan (lih. Luk 10:18). Maka sabda Yesus tertuju kepada orang yang menderita (lih. “Sabda bahagia”: Luk 6:20-23 dsj.). Pewartaan Yesus bukan janji-janji lagi. Dalam diri Yesus, Allah telah datang (Luk 11:20 dsj.). “Bagaimana terjadinya, tidak diketahui” (Mrk 4:27).

“Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah; juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!” (Luk 17:20). Waktu kedatangannya tidak dapat diperhitungkan. Bahkan “tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Maka kata “dekat” tidak pertama-tama harus diartikan secara temporal (“dalam waktu dekat”), tetapi secara personal: Allah sendiri dekat. “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya” (Mzm 145:18). Yesus mengetahui, karena kesatuan-Nya dengan Allah, bahwa Tuhan tidak akan “mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka. Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk 18:7-8).

Khususnya mukjizat Yesus merupakan tanda kehadiran Kerajaan. Seluruh penampilan Yesus, baik pewartaan maupun mukjizat-mukjizat-Nya, merupakan tanda bahwa Kerajaan Allah memang dekat.

Pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah ditujukan kepada pertobatan manusia. Ia memanggil orang supaya siap siaga menerima Kerajaan bila datang. Dalam hubungan ini mengesanlah betapa ditekankan oleh Yesus sifat “rahmat” Kerajaan: “Bapa memberikan Kerajaan” (Luk 12:32; juga 22:29). Oleh karena itu orang harus menerima Kerajaan “seperti kanak-kanak” (Mrk 10:14 dsj.; lih. juga Luk 6:20 dsj.). Tawaran rahmat itu sekaligus merupakan tuntutan mutlak: “Kamu tidak dapat sekaligus mengabdi kepada Allah dan kepada mamon (uang)” (Mat 6:24).

Kerajaan Allah adalah panggilan dan tawaran rahmat Allah, dan manusia harus menerimanya dengan sikap iman yang dinyatakan dalam perbuatan yang baik, sebab Kerajaan Allah, kendatipun berarti Allah dalam kerahiman-Nya, juga merupakan kenyataan bagi manusia. Kerajaan Allah harus diwujudnyatakan dalam kehidupan manusia. Pengharapan akan Kerajaan tidak tertuju kepada suatu peristiwa yang akan terjadi dalam masa yang akan datang, melainkan diarahkan kepada Allah sendiri dan menjadi kenyataan dalam penyerahan itu sendiri, kalau manusia boleh bertemu dengan Allah.

Kerap kali Yesus merumuskan ajaran-Nya mengenai Kerajaan dalam bentuk perumpamaan. Dengan demikian ditekankan bahwa Kerajaan Allah dan kedatangannya berupa misteri bagi manusia. Dalam perumpamaan tentang penabur (Mrk 4:3-9 dsj.), mengenai benih di ladang (Mrk 4:26-29), mengenai biji sesawi (Mrk 4:30-34 dsj.) dan juga mengenai ragi (Luk 13:20-21 dsj.) ditonjolkan perbedaan antara permulaan yang kecil dan hasil yang gemilang. Dengan demikian dinyatakan bahwa dari satu pihak Kerajaan memang suatu misteri yang tak kelihatan, tetapi dari pihak lain merupakan kenyataan hidup yang baru akan menjadi jelas pada akhir zaman. Singkatnya, seluruh pewartaan Yesus mengenai Kerajaan mengungkapkan iman dan pengharapan-Nya sendiri akan kebaikan dan cintakasih Allah.