Pewarta Sabda

Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu?

Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam. Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang memadai.

Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara.

Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.

Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah.

Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.