Apa maksud dari Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga”? Menghakimi atau Melindungi?

Minggu, 27 Agustus 2017

Dalam Bacaan I (Yesaya 22:19-23) digambarkan, bahwa kunci rumah raja yang kokoh akan diserahkan oleh Tuhan/Allah kepada Daud. Dalam Bacaan II (Roma 11: 33-36) Paulus menegaskan, bahwa segalanya berasal dari Allah, berada karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…! Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga!” (Matius 16:13-20). Pemberitahuan dari Allah bahwa Yesus adalah Almasih sebagai Anak Allah hanya ditujukan kepada Simon Petrus (ay.17). Ia menjadi batu karang, di mana Yesus mendirikan Gereja-Nya (ay.18). Petrus adalah murid-Nya, yang otoritasnya di dalam Gereja di dunia ini diakui dan teguhkan di surga oleh Allah (ay.19).

Di dalam komunitas yang disebut Gereja, Kristus menduduki tempat utama. Tiada orang lain yang dapat menggantikan-Nya, para uskup tidak dan Sri Paus pun tidak. Petrus dan pengganti-penggantinya mendapat tugas dari Kristus sendiri untuk memelihara kerukunan di dalam Gereja-Nya dan mengusahakan cinta kasih persaudaraan. Dan seperti Yesus pula Petrus dan pengganti-panggantinya adalah hamba, pelayan semua orang, dan kita sesama saudara bertugas membantu dan melayani Gereja dan dunia. Kekuasaan Gereja adalah kekuatan pelayan untuk membantu semua bangsa. Semoga pertemuan kita ini mendorong kita untuk lebih bersatu, lebih rukun dan lebih melayani Gereja dan umat manusia.

 

BATU KARANG DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut. Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks.
Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa. Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.(Romo Agustinus Gianto SJ)

Santo Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Bagaimana hal ini dipahami? Ingat tulisan ini : “Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dikutipan ini kita fokuskan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus, dan Petrus menafsirkan semua yang diketahui (bukanlah hasil pengetahuan manusia) berasal dari Allah.

Dengan demikian Petrus diberi kuasa untuk menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan. (Romo Yohanes Gunawan Pr)

Semoga membantu menambah pemahaman kita…

Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Paus

Dalam uraian mengenai dewan para uskup, Konsili menegaskan:

“Adapun Dewan atau Badan para Uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai Kepalanya, dan selama kekuasaan Primatnya terhadap semua, baik para Gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya. Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (LG 22).

Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Kristus “mengangkat St. Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Dalam diri Petrus itu Ia menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul. Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup. Di sini timbul dua pertanyaan: a) bagaimana Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul; dan b) mengapa paus itu pengganti Petrus?

Yang paling mudah ialah pertanyaan yang kedua. Petrus, menurut kesaksian tradisi, adalah uskup Roma yang pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Maka menurut keyakinan tradisi, uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Yang penting sebenarnya bukan kedudukan di Roma, sebab paus itu pemimpin Gereja universal sebagai pengganti Petrus. Hubungannya dengan Petrus dilambangkan dengan kedudukannya sebagai uskup Roma. Yang pokok ialah pengganti Petrus. Tetapi apa tugas dan kuasa Petrus?

Jelas sekali dari Perjanjian Baru bahwa Petrus memang mempunyai kedudukan yang istimewa di antara para rasul. Hal itu dapat diterangkan dari watak dan pembawaannya, serta dari kedudukannya sebagai orang yang sudah berkeluarga. Tetapi oleh tradisi Mat 16:16-19 dan Yoh 21:15-19 diartikan sebagai kisah penyerahan kuasa kepemimpinan kepada Petrus. Dengan demikian Petrus diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para rasul menghimpun Gereja semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas St. Petrus, ketua mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri menjadi batu sendinya” (LG 19).

Sebetulnya harus dikatakan, seperti dalam hal prinsip hierarkis pada umumnya, bahwa sulit dibedakan antara Yesus dan Gereja perdana. Dasar kedudukan paus sebagai pengganti Petrus bukan hanya Perjanjian Baru yang berasal dari Gereja perdana, melainkan juga penafsiran dan pemahaman tulisan itu dalam tradisi Gereja selanjutnya.

Di sini pun dapat ditarik kesimpulan bahwa, kendatipun segala kesulitan yang ada (lih. Gal 2:11-14), Petrus oleh Gereja perdana diakui sebagai pemimpin umum. Justru kesulitan-kesulitan itu memperlihatkan bahwa dasar pengakuan itu bukanlah pribadi Petrus sendiri, melainkan tugas dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan Yesus. Seandainya tidak ada sabda Yesus yang jelas dan tegas, mereka tidak akan memberikan begitu banyak perhatian kepada kedudukan Petrus. Maka fungsi dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin seluruh Gereja – dengan tetap mengakui tugas dan wewenang dewan – diakui pula sebagai unsur yang termasuk prinsip hierarkis, yang akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Itulah dasar tugas dan wewenang paus, sebagai pengganti Petrus.

Gereja yang Satu

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja.

Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok.

Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris, tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah.

Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan, daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain. Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai; perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena rahmat Injil.

Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23).

Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22).