Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Tanggapan atas Teori Mitos terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Teori Mitos merupakan salah satu teori yang paling populer sering dikemukakan oleh para moderenis dalam membahas kejadian-kejadian yang tertulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru. Para Moderenis mencoba mengarahkan bahwa yang tertulis di dalam Alkitab merupakan hanya berupa mitos, sembari menjelaskan argumen mereka kejadian yang ‘sebenarnya’ yang dihubungkan dengan pendapat mereka sendiri seperti Alien dan lain-lain. Dalam pembahasan ini khusus dibahas tanggapan yang dapat kita beri mengenai Kebangkitan Yesus Kristus yang disangkakan merupakan hanya mitos oleh pihak-pihak yang mengemukakan teori mitos.

1. Gaya penceritaan dan penggambaran kejadian-kejadian dalam Alkitab sangat radikal dan jelas berbeda dengan gaya penceritaan semua mitos.

Alkitab menceritakan suatu kejadian dengan tidak secara membesar-besarkan, dan tidak secara kekanak-kanakan. Tidak secara bebas. Semua yang diceritakan di Alkitab sesuai dengan situasi saat itu. Semuanya mempunyai makna. Setiap cerita di Alkitab mempunyai kedalaman makna psikologis yang sangat dalam. Sedangkan cerita dalam mitos mempunyai makna psikologi yang dangkal. Gaya penceritaan dalam Alkitab juga memiliki ciri-ciri penggambaran kesaksian, gambaran kejadian oleh saksi mata penulis Kitab. Seperti sedikit detil pada kisah ketika Yesus menulis, menggores pasir ketika Dia ditanya ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mengenai pendapatnya untuk melempari perempuan yang berbuat zinah. Tidak ada yang tahu mengapa ada tertulis mengenai Yesus menulis di atas pasir; tidak ada kelanjutan dari detail yang kecil itu. Satu-satunya penjelasan adalah penulis menuliskan apa yang dia lihat, apa yang dia saksikan.

2. Masalah ke-2 bagi teori mitos adalah bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mitos terbentuk.

Para de-mitologi pada masa awal, menitikkan pekerjaan mereka pada penanggalan masa akhir abad ke-2 untuk penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru; sedangkan agar suatu elemen mitologi dapat ditambahkan, kemudian disalahpahami dan dapat dipercaya sebagai suatu fakta harus melalui beberapa generasi saksi mata dahulu. Jika terdapat kisah yang versinya mengandung elemen mitos, saksi mata pada waktu itu di sekitar itu akan mendiskreditkan dan menolak versi tersebut. Pada kasus lain dimana mitos dan legenda dari suatu keajaiban terbentuk pada masa yang sama pendiri suatu agama – contohnya: Budha, Lao-tzu, dan Muhammad. Dimana setiap kasus lain tersebut, mitos-mitos tersebut yang terbentuk telah melalui banyak generasi terlebih dahulu. Penelitian waktu (penanggalan) penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru telah digeser mundur hingga mendekati waktu masa hidup Yesus dengan ditemukannya naskah-naskah secara empiris; hanya hipotesis abstrak yang memajukan penanggalan ke depan. Hampir tidak ada peneliti yang berpendidikan pada saat ini yang masih sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bultmann, yaitu agar dapat mempercayai bahwa kisah yang pada Kitab Perjanjian Baru adalah teori mitos, bahwa tidak ada bukti suatu teks, naskah pada abad ke-1 mengenai Kekristenan yang dimulai dari keilahian dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan sebagai manusia biasa yang telah mati.

3. Teori Mitos mempunyai dua lapisan.

Lapisan pertama adalah historis Yesus, Yesus yang tidak ilahi, Yesus yang tidak mengklaim keilahian, Yesus yang  tidak mengadakan mujizat, dan Yesus yang tidak bangkit dari kematian. Lapisan yang kedua dari teori mitos adalah lapisan berikutnya yang ‘di-mitos-kan’ yaitu Injil seperti yang kita miliki, yaitu Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, Yesus yang mengadakan mujizat dan bangkit dari kematian. Permasalahan teori mitos ini adalah bahwa tidak ada sedikit pun bukti nyata mengenai keberadaan yang mendukung teori mitos seperti yang ada pada lapisan pertama. Teori dua-lapisan ini seperti teori kue yang terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama yang seluruhnya terbuat dari udara dan lapisan lapisan kedua terbuat dari udara panas pada saat itu. Teori mitos merupakan suatu teori yang terdiri dari kedua lapisannya yang tidak mempunyai bukti nyata.Teori Mitos berbeda dengan Injil, Injil selain memiliki merupakan bukti tulisan dari saksi mata terdapat juga bukti lain yang memperkuatnya.

Injil adalah kisah yang luar biasa, dan kita tidak memiliki kisah lain yang diturunkan kepada kita selain yang terkandung dalam Injil ….Surat-surat Barnabas dan Clement mengacu mujizat dan kebangkitan Yesus. Polikarpus menyebutkan kebangkitan Kristus, dan Irenaeus menceritakan bahwa ia mendengar Polikarpus menceritakan mukjizat Yesus. Ignatius berbicara tentang kebangkitan. Quadratus melaporkan bahwa orang-orang yang masih hidup yang telah disembuhkan oleh Yesus. Justin Martyr menyebutkan mukjizat Kristus. Tidak pernah ada kisah non-ajaib (kisah yang biasa-biasa) yang mempunyai peninggalan (relik). Sedangkan agar suatu kisah mengalami korupsi (atau pengurangan) mengharuskan cerita asli terlebih dahulu hilang dan kemudian digantikan oleh yang lain, bahkan prinsip ini juga berlaku bagi tradisi lisan. Namun fakta-fakta yang disebut di atas menunjukkan bahwa kisah dalam Injil adalah substansi kisah yang sama yang dialami oleh orang Kristen masa awal. Ini berarti … bahwa kebangkitan Yesus selalu menjadi bagian dari kisah tersebut.”

4. Sebuah detail kecil, yang jarang diperhatikan, namun hal yang signifikan dalam membedakan Injil dari Mitos yaitu: saksi pertama yang mengetahui kebangkitan Yesus Kristus adalah perempuan.

Pada abad pertama Yudaisme, perempuan memiliki status sosial yang rendah dan tidak ada berhak untuk melayani sebagai saksi. Jika kubur yang kosong adalah suatu legenda dikarang, maka pengarangnya pasti akan tidak mengarang bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pertama kali ditemukan oleh perempuan, yang kesaksian dari perempuan itu akan dianggap tidak berharga. Namun jika di sisi lain, para penulis itu hanya melaporkan apa yang mereka lihat, mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun yang terjadi tersebut di luar dari kebiasaan sosial dan hukum pada saat itu.

5. Kitab Suci Perjanjian Baru tidak bisa disalahartikan sebagai mitos dan dibingungkan dengan kenyataan karena secara khusus Kitab Suci Perjanjian Baru membedakan fakta dan mitos dan tak mau mengakui interpretasi mitos/dongeng (2 Petrus 1:16).

Karena secara eksplisit dalam 2 Petrus 1:16 mengatakan bahwa yang ditulis adalah bukan mitos, jika tulisan tersebut adalah mitos maka tulisan itu sebenarnya adalah suatu kebohongan yang disengaja dan bukan mitos. Ini merupakan suatu dilema. Apakah kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Baru itu suatu kebenaran atau kebohongan, apakah disengaja (konspirasi) atau tidak-disengaja (halusinasi). Tidak ada jalan keluar dari titik dilema ini. Sama halnya; sekali seorang anak menanyakan apakah Santa Claus adalah nyata, jawaban ‘Ya’ dari Anda akan menjadi sebuah kebohongan, jawaban tersebut bukan menjadikan Santa Claus sebagai mitos, jika ia tidak benar-benar nyata. Begitu juga pada Kitab Perjanjian Baru, sekali Perjanjian Baru dipilah-pilah bahwa ada sebagian kisah adalah mitos dan sebagian adalah kenyataan, maka Kitab Suci Perjanjian Baru akan menjadi suatu kebohongan jika kebangkitan tidak benar-benar nyata.

6. William Lane Craig telah merangkum argumen tradisi tertulis dengan penjelasan, yang dikutip disini. Berikut adalah argumen (untuk Mengetahui Kebenaran Tentang Kebangkitan) membuktikan dua hal: pertama, bahwa Injil ditulis oleh para murid, bukan oleh pembuat-mitos setelahnya, dan kedua, bahwa Injil yang kita miliki saat ini pada dasarnya sama dengan aslinya.

6.A. Bukti bahwa Injil ditulis oleh saksi mata:

6.A.1. Bukti internal, yang terdapat di dalam Injil itu sendiri:

  1. Gaya penulisan dalam Injil sifatnya sederhana dan hidup, apa yang kita harapkan dari penulis mereka diterima secara tradisional.
  2. Selain itu, karena Injil Lukas ditulis sebelum Kitab Kisah Para Rasul, dan karena Kitab Kisah Para Rasul ditulis sebelum kematian Paulus, maka Lukas memiliki penanggalan yang lebih awal, yang menunjukkan ke-otentikannya.
  3. Kitab Injil juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya pada tahun 70. Kitab Injil penuh dengan nama-nama yang tepat, tanggal, rincian budaya, peristiwa sejarah, dan adat istiadat, dan opini-opini yang beredar pada saat itu.
  4. Nubuat Yesus tentang peristiwa (kehancuran Yerusalem) sudah pasti telah ditulis sebelum jatuhnya Yerusalem, karena kalau tidak demikian maka gereja akan memaknai unsur apokaliptik terpisah dari nubuat Yesus itu, sehingga seolah-olah nubuat tersebut hanya menyangkut akhir dunia. Dan karena akhir dunia tidak terjadi ketika Yerusalem dihancurkan, maka jika nubuat Yesus tentang kehancuran Yerusalem tersebut benar-benar tertulis setelah kota Yerusalem hancur maka nubuat tersebut tidak memperlihatkan kejadian kehancuran Yerusalem itu berhubungan erat dengan akhir dunia. Oleh karena itu, Injil sudah pasti ditulis sebelum tahun 70.
  5. Kisah-kisah mengenai kelemahan sisi manusia Yesus dan kesalahan para murid juga menyatakan keakuratan Injil.
  6. Dengan demikian, tidak mungkin bagi pemalsu untuk memasukkan hal-hal yang tidak sesuai bersama dengan narasi yang sangat konsisten seperti yang kita temukan di dalam Injil. Kitab-kitab Injil tidak mencoba untuk mensamarkan perbedaan antara Kitab-kitab Injil, hal tersebut menunjukkan orisinalitas kitab (ditulis oleh masing-masing saksi mata). Tidak ada upaya harmonisasi antara Injil, seperti yang kita harapkan jika berasal dari pemalsu.
  7. Kitab-kitab Injil tidak mengandung anakronisme, tidak ditemukan ketidaksesuaian baik pada setiap tokoh, atau latar. Para Penulis kitab Injil dapat dikenali sebagai kaum Yahudi abad pertama yang menjadi saksi peristiwa.

Kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada alasan lagi untuk meragukan bahwa Injil berasal dari penulis tradisional, yang mengandung kisah kesaksian peristiwa-peristiwa supranatural.

6.A.2 Bukti eksternal:

  1. Para rasul pastinya meninggalkan beberapa tulisan, berhubung karena mereka dalam memberikan pelajaran dan konseling kepada orang-orang percaya yang secara geografis letaknya jauh, dan tulisan-tulisan tersebut berisikan apa jika bukan Injil dan surat-surat dari para rasul itu sendiri? Karena bagaimana pun juga para rasul perlu dan harus mempublikasikan narasi akurat mengenai sejarah Yesus, sehingga setiap upaya pemalsuan dapat didiskreditkan, disingkirkan dan keaslian Injil dapat dijaga.
  2. Ada banyak saksi mata yang masih hidup ketika buku-buku itu ditulis, dan mereka bisa bersaksi apakah buku-buku tersebut berasal dari penulis yang diakui mereka atau tidak.
  3. Kesaksian-kesaksian di luar alkitabiah menjadi pelengkap Injil akan ke-tradisional para penulis kitab, seperti:  Surat Barnabas, Surat Clement, Gembala Hermes, Teofilus, Hippolytus, Origen, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polikarpus, Justin Martyr, Dionysius, Tertullian, Siprianus, Tatian, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius di AD 315; bahkan juga kesaksian-kesaksian dari lawan kekristenan yang mengakui ke-tradisionalan para penulis, seperti: Celsus, Porphyry, Kaisar Julian.
  4. Dengan satu pengecualian, tidak ada Injil apokrif yang pernah dikutip oleh penulis kitab Injil selama tiga ratus tahun setelah Kristus. Pada kenyataannya tidak ada ditemukan bukti yang menunjukan adanya keberadaan Injil yang tidak otentik di abad pertama, di mana keempat Injil dan Kisah Para Rasul ditulis.

6.B. Bukti bahwa Injil yang kita miliki saat ini adalah sama dengan Injil asli yang pernah ditulis:

  1. Karena keperluan untuk memberikan petunjuk dan kebaktian pribadi, tulisan-tulisan Injil pasti disalin berkali-kali, yang meningkatkan kemungkinan teks asli dapat terlestari.
  2. Bahkan, tidak ada karya tulisan kuno selain Injil yang salinannya tersebar begitu banyak dan dalam berbagai bahasa, dan semua salinan dalam berbagai versi itu mempunyai kesamaan isi.
  3. Teks-teks Injil juga tetap terjaga keasliannya dari penambahan-penambahan yang sesat. Salinan-salinan Injil begitu banyak terdistribusi secara geografis yang luas, dan salinan-salinan itu menunjukkan bahwa teks tersebut hanya mengalami perbedaan yang sangat kecil ketika ditransmisikan. Perbedaan yang memang ada cukup kecil dan merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disengaja.
  4. Kutipan-kutipan dari kitab-kitab Perjanjian Baru oleh para Bapa Gereja masa awal semuanya serupa, cocok, dan tepat.
  5. Injil tidak dapat dirusak, dirubah, atau dikorupsikan tanpa protes besar dari sebagian besar pihak Kristen ortodoks.
  6. Tidak ada yang dapat merusak, merubah, atau mengorupsikan semua naskah kitab.
  7. Tidak ada celah waktu yang bagi pemalsuan bisa terjadi, karena seperti yang telah kita lihat, kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikutip oleh para Bapa Gereja dalam deret rentang waktu yang rapat. Teks tidak mungkin dipalsukan di masa sebelum ada banyak kesaksian eksternal yang muncul, dan pada masa itu para rasul masih hidup dan bisa menolak gangguan percobaan pemalsuan jika ada.
  8. Setiap penggalan Naskah Perjanjian Baru layaknya sama seperti teks dari karya-karya klasik kuno. Untuk menanggalkan sepenggal tekstual dari Injil akan membalikkan semua aturan kritik dan menolak semua karya kuno, karena teks dari karya-karya kuno kurang pasti dibandingkan dengan Injil.

… untuk disimpulkan.

Kebangkitan Yesus Kristus

Setiap pewartaan yang dikabarkan oleh setiap pengikut Kristus yang diceritakan dalam Kitab Perjanjian Baru selalu berkisar mengenai hal Kebangkitan Yesus Kristus. Injil atau Kabar Baik, intinya merupakan berita (kabar baru) mengenai Kebangkitan Kristus. Suatu pesan yang terdengar dengan lantang dari jaman dahulu kala, yang membakar semangat, mengubah hidup setiap manusia dan memutarbalikkan dunia bukanlah hanya berupa berita dengan isi pesan “kasihilah sesamamu”. Karena setiap orang yang moralnya baik telah mengetahui hal mengenai “kasihilah sesamamu”; dan hal itu bukanlah berita yang baru. Yang dimaksud berita baru, Kabar Baik, adalah bahwa ada seorang manusia yang menyatakan dirinya Anak Allah dan sang Penyelamat dunia, dan yang telah bangkit dari mati.

Ada satu pewartaan kebangkitan Yesus Kristus yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 17:18) oleh Paulus yang mewarta kepada golongan filsafat Stoa dan Epikuros di Atena. Kedua golongan filsafat itu mengira Paulus mewarta mengenai 2 (dua) Dewa yang baru yaitu Yesus dan Anastasis (Kebangkitan dalam bahasa Yunani).  Pada Kisah Para Rasul 17:18 itu terdapat pewartaan yang penting oleh Paulus mengenai Kebangkitan, dan pertentangan oleh para filsuf dan cendikiawan Atena karena pewartaan itu membingungkan bagi mereka. (Dan mungkin sampai sekarang).

Tantangan logika yang dihadapi oleh para filsuf dan cendekia pada kisah itu (dapat kita golongkan mewakili orang-orang yang skeptis) adalah: Jika pewartaan oleh Paulus itu dapat dibuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari mati, apakah kita dapat mempercayai dalam Dia kita juga akan diselamatkan? Karena jika Yesus benar-benar bangkit, hal itu mengesahkan, membuktikan bahwa ke-illahian-Nya benar bukan hanya manusia biasa, tetapi juga Allah (100% Manusia, 100% Allah), karena kematian di kayu salib membuktikan Dia adalah Manusia, dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Allah, dan ke-illahian-Nya itu mengesahkan semua hal yang pernah Dia katakan, sebab Allah tidak berkata bohong.

Ada seseorang filsuf  (Rudolf Bultmann) berlatarbelakang lutheran yang mengatakan seandainya ditemukan suatu bukti yang menunjukan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit; bukti objektif semisalnya tulang-belulang dari tubuh Yesus, hal tersebut tidak akan mengubah inti dari Kekristenan (dia menulis Demitologisasi terhadap Pesan Perjanjian Baru, berupa kritik yang upaya untuk membuat realitas ajaran-ajaran Yesus lebih dapat dipahami oleh para pembaca modern yang terdidik). Pemikiran dari Rudolf Bultmann ini bertolakbelakang dengan Paulus, dan kurang memahami kenapa begitu penting bukti kebangkitan Yesus Kristus bagi iman dan ajaran Kristen.

Karena menurut Paulus, Jika Kristus tidak bangkit, maka :

  1. Pewartaan kita akan Yesus Kristus akan sia-sia.
  2. dan Iman kita akan Yesus Kristus akan sia-sia
  3. Kita bahkan akan dikenal sebagai orang yang salah mengrepresentasikan Allah; karena kita bersaksi bahwa Allah telah membangkitkan Kristus, tetapi jika bukti menunjukan Dia tidak bangkit memberi kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit.
  4. Pengharapan kita dalam Yesus Kristus untuk dapat diselamatkan dari dosa dan kebinasaan juga sia-sia.
  5. Semua orang yang meninggal dalam iman akan Yesus Kristus juga akan sia-sia.

Membandingkan pendapat Rudolf Bultmann dengan Paulus, maka kita dapat mengetahui bahwa Rudolf Bultmann keliru menilai Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang kurang penting. Apakah menurut kita, Rudolf Bultmann seorang yang hidup pada masa jauh setelah Yesus dan bukan seorang Yahudi (melainkan Jerman) lebih mengetahui Yesus berdasarkan buku lebih menyakinkan daripada Paulus seorang Pewarta Yahudi yang hidup pada masa Yesus?

Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang sangat penting karena hal tersebut melengkapi keselamatan kita. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian (kematian adalah konsekuensi dari dosa). (Roma 6:23).

Kebangkitan juga merupakan pembeda yang jelas antara Yesus dengan tokoh agama lainnya. Relik tulang dari tubuh Abraham, Muhammad, Budha, dan Confusius, Lao-tzu, dan Zoroaster masih tetap berada di bumi, sedangkan Kubur Yesus kosong.

Konsekuensi adanya kebangkitan Yesus Kristus berimbas ke kehidupan manusia tidak dapat diukur. Kebangkitan Yesus tersebut merupakan bukti empiris, konkrit, dan faktual bahwa kehidupan mempunyai harapan dan makna; “cinta kasih lebih besar dari kematian”; kebaikan dan kekuatan saling bersatupadu, bukan bertentangan; kehidupan kekal merupakan kemenangan pada akhir jaman; Allah telah mengulurkan tanggan-Nya kepada kita dan mengalahkan musuh terakhir kita yaitu maut; dan kita bukanlah ‘yatim piatu’ di semesta alam karena Dia-lah Allah Bapa kita. Dan konsekuensi adanya kebangkitan Yesus ini juga dapat dilihat dengan membandingkan keberadaan para murid sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus. Sebelum kebangkitan (dimulai ketika Yesus ditangkap dan didera) para murid dipenuhi rasa ketakutan, menyangkal Guru (Yesus), dan bersembunyi di balik pintu yang terkunci rapat. Dan setelah kebangkitan Yesus Kristus, para murid berubah dari sekelompok orang yang ketakutan menjadi orang suci (santo) yang penuh percaya diri, misionaris yang merubah dunia, martir yang gagah berani dan penuh kebahagiaan mewartakan Yesus Kristus.

Hal yang terpenting dari kebangkitan Yesus Kristus bukan terletak pada masa lampau – “Kristus telah bangkit” – tetapi pada saat ini – “Kristus bangkit.” Malaikat yang muncul di kubur Yesus bertanya kepada para wanita yang mencari Yesus, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Pertanyaan yang sama dapat juga ditanyakan kepada sejarahwan dan peneliti jaman ini. Jika kita tidak menyimpan kabar gembira, tidak membiarkan “Dia” hanya dalam catatan “sejarah” atau “Apologetik”, dan kita tidak berdiam diri, DIA saat ini dapat membebaskan dan memberi semangat hidup kita sedasyat yang pernah Dia lakukan  pada 2000 tahun yang lalu; dan dengan kebebasan dan semangat yang diberikan kepada kita dapat mencengangkan dan menarik perhatian semua orang yang belum mengenal Dia, mengembalikan kepercayaan orang-orang yang pernah berbalik dan takut. Itulah pentingnya adanya Kebangkitan Yesus Kristus.

Perjamuan Terakhir

Kisah perjamuan terakhir, yang terdapat dalam injil sinoptik (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20) dan pada Paulus (1Kor 11:23-25), sebenarnya amat singkat dan tidak persis sama. Walaupun pada dasarnya sama, ada perbedaan perumusan antara Matius-Markus pada satu pihak dan Lukas-Paulus pada pihak yang lain. Sudah tidak diketahui lagi apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kata-kata yang sekarang dipakai dalam Doa Syukur Agung merupakan rumusan yang dibuat atas dasar empat kisah itu, tetapi tidak terjamin keasliannya. Namun demikian, semua kisah mempunyai sepuluh unsur ini:

  1. Yesus mengambil roti.
  2. Yesus mengucap doa syukur.
  3. Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada para murid.
  4. Waktu membagikan roti itu Yesus bersabda: Inilah tubuh-Ku.
  5. Sesudah perjamuan Yesus mengambil piala.
  6. Yesus mengucap syukur lagi.
  7. Piala diberikan kepada para rasul, dan mereka minum dari padanya.
  8. Waktu mengedarkan piala, Yesus bersabda: Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku.
  9. Yesus memberi perintah pengenangan.
  10. Sesudah itu Yesus masih berbicara mengenai Kerajaan Allah.

Betapapun terbatas informasi yang dapat diperoleh dari kisah-kisah ini, jelas bahwa semua ini sesuai dengan perjamuan Yahudi. Doa syukur yang disebut sebelum makan (no. 2) dan sesudahnya (no. 6) adalah doa sebelum dan sesudah makan yang dibawakan oleh pemimpin perjamuan, biasanya bapa keluarga. Para peserta perjamuan menjawab “amin”, lalu makan roti yang dibagikan sebelum perjamuan (no. 3) dan minum dari piala sesudahnya (no. 7). Perlu diperhatikan bahwa pembagian roti terjadi sebelum makan, dan oleh karena itu tidak termasuk perjamuan sendiri. Makan roti dan minum dari piala termasuk doa. Dengan menjawab “amin” dan kemudian makan roti serta minum dari piala, orang mengambil bagian dalam doa yang oleh pemimpin diucapkan atas roti dan anggur.

Doa sebelum makan biasanya pendek, sedangkan doa sesudah makan, yang disebut birkat ha-mazon, cukup panjang dan dapat bervariasi menurut pesta yang dirayakan. Doa itu dirumuskan dengan bebas oleh yang membawakannya. Kita tidak tahu bagaimana doa syukur Yesus; barangkali serupa dengan doa yang biasanya didoakan oleh orang Yahudi, sebab semua memang sesuai dengan adat-istiadat orang Yahudi (termasuk perjamuan sendiri, yang dalam Perjanjian Baru hanya disebut sepintas, no. 5). Yang sangat istimewa ialah sabda Yesus yang diucapkan waktu membagikan roti (no. 4) dan piala (no. 8), sebab biasanya roti dan anggur dibagikan dengan diam-diam, sebagai bagian doa. Sabda Yesus itu tidak tepat sama rumusannya dalam keempat kisah.

Pada kata “Inilah tubuh-Ku” oleh Lukas ditambahkan “yang diserahkan untuk kamu”, sedangkan Paulus menyebutkan: “Tubuh-Ku, yang untukmu”. Kiranya perbedaan ini tidak sepenting seperti dalam sabda atas piala. Kata “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, hanya terdapat pada Paulus dan Lukas (yang terakhir itu masih menambahkan: “yang ditumpahkan untuk kamu”). Tetapi teks Markus berbunyi (dan Matius tidak banyak berbeda): “Inilah darah-Ku Perjanjian, yang ditumpahkan untuk orang banyak” (Matius masih menambahkan: “demi pengampunan dosa”). Banyak ahli lebih cenderung ke arah teks Lukas-Paulus, karena dua alasan: 1. Teks Markus atas piala sangat mirip dengan sabda atas roti, mungkin disesuaikan; 2. rumus Markus sangat aneh: “darah-Ku perjanjian”, yang mungkin dirumuskan dengan latar belakang Kel 24:8: “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu”. Bagaimanapun juga, dari naskah Injil tidak dapat ditentukan dengan pasti, mana sabda Yesus yang asli.

Perintah pengenangan, yang hanya terdapat pada Lukas-Paulus, juga menyimpang dari kebiasaan Yahudi. Begitu juga sabda eskatologis mengenai Kerajaan Allah, tentu sangat khusus untuk situasi Yesus. Maka kemiripan dengan perjamuan Yahudi tidak berarti bahwa Yesus hanya mengadakan perjamuan Yahudi yang biasa. Ada banyak unsur yang sangat istimewa, dan justru itulah yang paling penting untuk perayaan Ekaristi. Namun sabda Yesus itu hanya dapat dimengerti dengan sepenuhnya, kalau ditempatkan dalam kerangka perjamuan Yahudi itu.

Dalam Injil sinoptik (Mat 26:17-19/Mrk 14:12-16/Luk 22:9-13) diceritakan bagaimana para murid mempersiapkan perjamuan Paska. Atas dasar itu biasanya ditarik kesimpulan, bahwa Perjamuan Terakhir berupa perjamuan Paska. Namun dalam Yoh 19:14 dikatakan bahwa Pilatus menghukum Yesus pada “hari persiapan Paska”. Orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam rumah Pilatus (seorang kafir yang najis dalam pandangan mereka), “supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paska” (Yoh 18:28). Maka timbul pertanyaan, bagaimana mungkin Yesus sudah makan perjamuan Paska sebelum itu? Atas pertanyaan itu pun tidak ada jawaban yang jelas. Dan tidak dapat dikatakan dengan pasti, apakah Perjamuan Terakhir adalah perjamuan Paska. Bagaimanapun juga, dalam kisah Perjamuan Terakhir sendiri domba Paska atau upacara pesta itu, tidak disebut-sebut. Atas dasar itu tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paska. Yang jelas, Yesus sendiri atau para pengarang Injil tidak menghubungkan Perjamuan Terakhir (dan Ekaristi) dengan Paska Yahudi. Yesus tidak mengidentifikasikan diri dengan domba Paska (itu baru dibuat oleh Paulus dalam 1Kor 5:7, tetapi secara kiasan).

Yang paling penting tentu sabda Yesus waktu membagikan roti dan anggur. Beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama roti dan anggur itu berfungsi sebagai alat penghubung antara para hadirin yang makan dan minum, dan dia yang membawakan doa syukur (dan dengan demikian dengan doa syukur itu sendiri). Dengan kata lain, sabda Yesus atas roti (dan atas piala) tidak tertuju kepada roti, tetapi kepada orang yang menerimanya. Sabda “Inilah tubuh-Ku” dikatakan mengenai roti, yang sedang diberikan. Selain itu “tubuh-ku” dalam bahasa Aram (bahasa ibu Yesus) berarti “aku” (serupa dengan bahasa Jawa “awak-ku”).

Maka dengan memberikan roti Ia memberikan diri sendiri kepada para rasul. Sama halnya dengan piala. Dengan sabda “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, Yesus mau mengatakan bahwa dengan minum dari piala ini para rasul masuk ke dalam Perjanjian Baru dengan Allah, yang didasarkan pada penumpahan darah Yesus. Sabda Yesus juga tidak pertama-tama ditujukan kepada piala (atau anggur di dalamnya), melainkan kepada mereka yang minum dari padanya. Dengan sabda atas roti dan anggur Yesus mengungkapkan suatu hubungan pribadi yang sangat istimewa.