Bagaimana kita diselamatkan?

Setelah kita melihat dengan jelas bahwa Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma oleh Allah  agar kita terima dengan keyakinan, bukan dengan sesuatu yang kita usahakan dengan perbuatan baik dan berharap bahwa imbalan yang didapat adalah Keselamatan; maka secara wajar muncullah empat pendapat yang keberatan dengan pemahaman tersebut dan biasanya diajukan oleh kelompok orang yang tidak percaya.


Keberatan 1:

Keselamatan kelihatannya seperti kesewenangan. ” Jika kamu percaya, kamu akan diselamatkan; tetapi jika kamu tidak percaya, kamu akan binasa.” Baris tersebut jelas dan diambil dari Kitab suci. Tetapi hal itu kesannya sewenang-wenang seperti seorang bapak yang berkata kepada anaknya: “Jika kamu percaya bahwa saya berumur 3.000 tahun, memiliki darah berwarna hijau, dan datang dari Mars, maka saya akan memberikan sepuluh mobil mewah.” Dari contoh itu kelihatan bahwa tidak ada lagi makna, alasan atau hubungan antara mempercayai kebenaran mengenai Yesus dengan memperoleh upah Kebahagiaan Kekal dibandingkan dengan mempercayai hal yang serupa mengenai ‘bapak’ dan mendapatkan sepuluh mobil tadi.

Jawaban: Argumen keberatan di atas gagal mengenali dua istilah penting dari formulasi “iman -> keselamatan”. Iman bukan hanya kepercayaan intelektual, dan Keselamatan bukan hanya upah yang akan diterima. Iman adalah membiarkan Allah masuk ke jiwa kita; dan Keselamatan, atau Kehidupan Kekal adalah memiliki Allah di dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya mengapa Keselamatan bukan mengenai ukuran: kecukupan karya, kecukupan ketulusan, kecukupan kekonservatifan. Tidak ada takaran dengan suatu kesewenangan, seperti sistem penilaian ujian di sekolah. Keselamatan itu seperti pengalaman seorang ibu sedang mengandung; seorang ibu tidak bisa mengandung setengah-setengah. Yang ada hanya kita mengalami hidup baru atau tidak. Hanya satu hal yang dapat memungkinkan kita tidak menerima berkat Kehidupan Kekal ini adalah: penolakan kita. Iman bukan hanya saja percaya kepada Allah tetapi juga menerima Allah (Yoh 1:12). Iman bukan seperti menyetujui suatu perjanjian atau lulus dari suatu ujian, tetapi lebih mirip seperti sedang mengandung.


Keberatan 2:

Sepertinya tidak adil bahwa upah kekal dan hukuman kekal ditentukan berdasarkan pilihan-pilihan sementara (duniawi). Bagaimana bisa sesuatu sebab yang keberlangsungannya hanya sementara dapat mengakibatkan efek yang harus ditanggung untuk selamanya?

Jawaban A: Sama halnya seperti membuka sebuah keran dapat mengalirkan air, atau membuat sebuah retakan pada bendungan dapat menyebabkan banjir, atau membuka jendela menyebabkan udara segar masuk ke ruangan. Iman adalah hanya membiarkan Allah untuk masuk ke jiwa manusia, dimana Allah sebenarnya sudah hadir “di luar” jiwa (karena manusia belum beriman, manusia belum menerima Allah).

Jawaban B: Kita dapat menggunakan dua metafora untuk Keselamatan (selama kita memahami dan mengingat bahwa itu metafora): kita dapat berbicara mengenai “masuk ke” surga atau “memasuki” surga, atau juga kita dapat berbicara mengenai Surga (atau hidup kekal, atau kehidupan Allah) yang dapat dipahami serupa halnya seperti “memasuki” jiwa kita. Kitab Perjanjian Baru menggunakan dua pernyataan: kita ada “di dalam” Kristus dan Kristus ada “di dalam” kita. Tidak jarang pernyataan kedua (Kristus ada “di dalam” kita) adalah cara untuk menjelaskan pernyatan pertama (kita ada “di dalam” kita). Dan mungkin cara ini juga dapat membantu untuk menjelaskan dalam jawaban ini. Keselamatan bukan seperti memasuki suatu arena/ruangan dengan membeli sebuah tiket jika kita mempunyai uang yang cukup (= keadilan); Keselamatan lebih dipahami seperti kita mengijinkan (membiarkan) seorang tamu untuk masuk ke rumah dengan mempercayai dia orang baik-baik (= iman) dengan membukakan pintu.

Jawaban C: Keselamatan itu seperti pernikahan. Pernikahan adalah komitmen permanen, dengan tidak adanya suatu perjanjian sebelumnya yang menentukan kapan berakhirnya atau lamanya suatu pernikahan. Dimana Pernikahan itu dapat terjadi karena suatu pilihan yang dalam rentang waktu tertentu namun menjadikan komitmen untuk selamanya. Begitu juga halnya persatuan kita dengan Allah, kita menerima kehadiran Allah di hati dan jiwa kita juga berdasarkan pilihan untuk suatu Kebahagiaan Kekal, atau sebaliknya.

Jawaban D: Dengan waktu hidup kita yang terbatas, Allah yang kita terima dengan iman atau menolaknya dengan dosa adalah Allah yang abadi, yang tidak terbatas. Penerimaan kita akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas, akan mengarahkan kita ke kekayaan yang tidak terbatas (bukan kekayaan materi, tetapi kekayaan rohani). Sedangkan penolakan akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas akan mengakibatkan kerugian yang tidak terbatas.


Keberatan 3:

Mengapa Allah menuntut kita harus beriman dalam Yesus agar dapat diselamatkan? Hampir semua orang merasa bahwa cukup hanya dengan ketulusan agar dapat diselamatkan oleh Allah, tidak harus beriman dalam Yesus. Karena sangat tidak toleran bagi si A ‘orang yang tidak percaya akan Allah tapi memiliki ketulusan berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di neraka; sedangkan si B ‘orang yang percaya akan Allah tapi kurang tulus berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di surga. Apa yang Allah harapkan dari manusia selain ketulusan hati manusia itu? Seandainya dilihat dari sisi manusia, itulah yang diharapkan. Nah kenapa Allah mempunyai moralitas, keinginan, tuntutan yang berbeda jika dibandingkan dengan kita.

Jawaban: Tidak ada bidang kehidupan selain dari bidang keagamaan yang dapat menerima bahwa cukup hanya dengan ketulusan dari manusia. Ketulusan mungkin dibutuhkan, tetapi itu tidak mencukupi. Sebagai contoh: Bagi anda cukupkah dengan hanya bermodalkan ketulusan dari seorang dokter bedah akan menjadmin anda dapat sembuh/selamat? atau cukupkah dengan hanya ketulusan dari seorang agen perjalanan anda yakin dapat sampai ditempat tujuan dengan selamat? Apakah cukup dengan hanya ketulusan kita dapat sembuh dari penyakit kanker, kebangkrutan, kecelakaan, atau kematian? dan kiranya jawaban yang sewajarnya adalah Tidak. Dengan demikian mengapa kita dapat mengira bahwa cukup hanya dengan ketulusan dapat menyelamatkan kita dari neraka.

Pendapat keberatan ini bermula dari suatu perubahan pola pikir yang terjadi pada akhir abad ke 1900+. Hampir semua kepercayaan kuno (bukan hanya Kristen) bahwa agama merupakan kebenaran objektif (kebenaran atas suatu kepercayaan), sama halnya kebenaran objektif pada bidang medis atau ekonomi atau geografi. Kebenaran Objektif yang merupakan kebenaran atas suatu objek atas keberadaan objek tersebut. Namun pada perubahan pola pikir yang pada masa akhir abad 1900+ tersebut yaitu pada kelompok moderen tidak melihat bahwa agama merupakan kebenaran objektif, melainkan sebaliknya dan  jauh berbeda dengan kelompok sebelumnya.

Berikut adalah tipe dari kelompok yang memiliki 4 (empat) cara radikal yang berbeda jauh daripada kelompok sebelum moderen.

  1. Kelompok moderen melihat agama bersifat subjektif daripada subjektif, melihat lebih ke arah bahwa  agama merupakan sesuatu yang ada di dalam kita dan dibawah kesadaran kita; daripada melihat ke arah bahwa agama merupakan sesuatu yang menaungi (menjadi ruang) kita dimana keberadaan kita dan kesadaran kita berada di dalamnya. Pengajar keagamaan moderen lebih sedikit berbicara mengenai Allah, dan lebih banyak berbicara perilaku dan pengalaman kehidupan beragama.
  2. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai praktek daripada sebagai teori, hanya melihat ‘kebaikkan’ daripada ‘kebenaran’, hanya melihat sisi moral daripada teologika, hanya melihat ‘suatu cara menjalani hidup’ daripada ‘suatu peta fakta kenyataan’. Oleh karena itu bagi kelompok moderen, agama menjadi pragmatis dan relatif: ‘jika yang diajarkan agama itu berguna bagi kamu, gunakan itu’.
  3. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai hasil karya-manusia dariada hasil karya-Allah, lebih melihat agama sebagai ‘sesuatu yang kita ciptakan’ daripada ‘sesuatu yang kita temukan’, lebih melihat agama sebagai ‘jalan kita menuju kepada Allah’ daripada ‘Jalan Allah untuk menyelamatkan kita’.
  4. Kelompok moderen melihat agama sebagai pendukung keinginan manusia, bukan sebagai pengurang/pembatas keinginan manusia; lebih melihat agama sebagai pengembangan-diri (self-growth) daripada penyangkalan-diri (self-death); lebih melihat agama seperti ‘latihan’ untuk memyehatkan tubuh, bukan seperti ‘operasi/pengobatan’ untuk menyehatkan dari penyakit. Karena bagi kelompok moderen, tidak ada yang namanya penyakit (sesuatu yang buruk) di dalam diri manusia; yang disebut dosa.

Dari ke-4 (empat) cara radikal di atas, sebagian besar kelompok moderen berpendapat bahwa cukup hanya dengan ‘ketulusan’, manusia dapat selamat. Tetapi ada beberapa hal yang bertentangan dengan pendapat dari kelompok moderen ini yaitu:

  1. Ketulusan subjektif belaka dari seseorang tidak cukup bagi orang tersebut apabila berhadapan dengan sesuatu kenyataan secara objektif. Misalnya ketulusan dari seorang dokter ahli bedah tidaklah cukup untuk mengobati pasiennya, dokter tersebut harus benar-benar melakukan operasi bedah yang diperlukan agar pasien tersebut dapat sembuh. Dua hal yang kita butuhkan dalam menghadapi kenyataan secara objektif adalah: kita perlu ketulusan kehendak dalam pencarian, dan benar-benar menjalaninya, melakukan usaha menemukannya.
  2. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan juga tidak mencukupi untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan, dan seandainya jalan yang diajarkan itu tidak benar, tidak berguna juga.
  3. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan tidak dapat menemukan jalan yang telah dirintis oleh seseorang, namun dengan ketulusan itu dapat mengingatkan jalan apa yang telah ditempuh.
  4. Dan Ketulusan belaka tidak cukup untuk menghapus dosa, sama halnya ketulusan tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit kanker. Sebagai contoh: Kita memerlukan seorang dokter yang benar-benar dokter. Kita tidak dapat melakukannya sendiri. Tangan kita gemetar; bagaimana kita dapat membedah tangan kita sendiri? Atau seadainya kita terjatuh ke lumpur hidup yang menyedot kita tenggelam, tidak ada batu pijakan yang dapat membantu kita dapat menyelamatkan diri. Atau seandainya diri kita dijual sebagai budak dan kita tidak mempunyai uang untuk membayar pembebasan kita sendiri. Kita memerlukan lebih dari Ketulusan; kita memerlukan Penolong, Penyelamat. Ketulusan tetap diperlukan agar dapat selamat – karena hanya merekah yang tulus mencari akan menemukan – tetapi Ketulusan tidaklah mencukupi.

Keberatan 4:

Kelihatannya tidak adil bagi seorang penganut pagan untuk dapat Keselamatan, dia harus mengimani Yesus Kristus. Seharusnya seorang pagan yg baik seperti Socrates lebih pantas masuk Surga daripada orang kristen awam yang belum tentu baik.

Jawaban A: Bagaimana kita dapat mengetahui siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak masuk? Apakah kita Tuhan? Apakah Surga adalah hadiah yang dapat kita berikan kepada orang lain? Apakah hidup adalah suatu permainan yang peraturannya kita tentukan sendiri?

Jawaban B: Bagaimana kita tahu bahwa si Socrates tidak di dalam Surga? atau mengetahui bahwa orang kristen itu tidak di dalam Surga?

Jawaban C: Keberatan ini menolak data berdasarkan teori, menolak yang telah diketahui berdasarkan ketidaktahuan. Kita tidak tahu siapa yang pantas diselamatkan – kita tidak diberitahu mengenai ini – tetapi kita tahu bagaiman supaya diselamatkan – kita diberitahu mengenai ini, Kita juga mengatahui bahwa Allah tidak bermula. Kita mungkin tidak bisa mengenai Allah secara jelas, terang benerang, kita mengenal Allah sebatas kemampuan kita (karena kita terbatas). Kebijaksanaan Allah juga tampak samar-samar oleh kita karena kita dibatasi waktu dan melihat “melalui kacamata yang buram”. Hanya dari tempat maha tinggi dan sucilah yang dapat melihat keseluruhan dengan jelas.

(sekian)

Apa itu Keselamatan

Keselamatan adalah (1) suatu kenyataan yang  menjadi latar belakang banyak frasa di Kitab Suci yang berbeda-beda dan terkadang membingungkan, (2) salah satu dari dua kemungkinan dari suatu akhir, (3) Kebahagiaan kekal, dan (4) dapat berarti secara bersamaan “pembenaran” dan “pengudusan”.

Perbedaan Gambaran dan Istilah dalam Kitab Suci mengenai Keselamatan

Seperti yang telah ditulis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa banyak gambaran dan frasa (ungkapan) mengenai Keselamatan, ada beberapa dalam Injil, dan ada juga yang tidak tertulis langsung ‘keselamatan’ (Yesus sering menggunakan penggambaran untuk mengajarkan tentang keselamatan, yang sering Yesus sebut sebagai ‘Kerajaan Surga’, dalam perumpamaan-Nya). Istilah-istilah (terminologi) yang digunakan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Di kalangan Teolog Protestan terkenal menggunakan istilah ‘lahir kembali’ (regeneration), sedangkan di kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah ‘rahmat pengudusan’ (sanctifying grace), yang keduanya merupakan hal yang sama. Dan selain itu masih ada lagi istilah-istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ‘Keselamatan’. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, sama halnya seperti memperdebatkan istilah apa yang gunakan  antara ‘jaket pelampung’ dan ‘alat pengapung’ ketika ada orang membutuhkan pertolongan karena di tengah laut.

 Dua Jalan

Satu hal yang melatarbelakangi semua istilah dan gambaran yang berbeda-beda itu adalah bahwa ada dua penghujung yang menanti pada akhir jalan hidup manusia. Kitab Mazmur 1 meringkaskan; Ada satu jalan menuju Allah dan berakhir pada kebahagiaan, dan selain itu ada jalan lain yang arahnya menjauhkan manusia dari Allah dan berakhir pada kebinasaan. Dalam dunia fisik, semua jalan tidak dapat menuju kepada satu tempat. Kita tidak dapat jalan dari Jakarta ke Jayapura dengan bergerak dari arah timur ke barat, hanya dari arah barat ke timur yang benar. Kita dapat menyimpulkan bahwa semua A adalah C dari pendasaran alasan bahwa semua A adalah B dan semua B adalah C; kita tidak dapat mendapat kesimpulan lain berdasarkan alasan tersebut. Atau dengan kata lain, kita tidak dapat mencapai tujuan keadilan dan kebenaran dengan melalui cara yang salah seperti mencuri, dan kita juga tidak dapat mencapai tujuan ketidak jujuran apabila kesetiaan dan ketaatan dari kesadaran kita.

Dunia jasmani, dunia intelektual, dan dunia moral semuanya mempunyai sasaran pencapaian yang tersusun sesuai dengan dunianya masing-masing, dengan batasan yang jelas. Sasaran tujuan pencapaian tiap dunia itu bukanlah dirancang tau dibuat oleh kita, tapi untuk dicari dan ditemukan oleh kita. Jika hidup kita sesuai dengan jalan yang benar, maka kita akan berhasil; jika tidak, kita akan gagal. Begitu juga halnya dalam keagamaan. Jika memang ada Allah yang sebenarnya (dan jika ada agama yang mengatakan bahwa tidak ada Allah yang sebenarnya, agama itu adalah suatu kebohongan dan kepalsuan), maka pastinya ada jalan yang mengarahkan kepada Allah yang sebenarnya dan ada juga jalan lain yang menjauhkan kepada Allah. Jadi gambaran yang sangat populer yang menyatakan bahwa semua jalan pada akhirnya akan bertemu pada puncak gunung adalah tidak benar. Bukan hanya ketidakbenaran yang sederhana, tapi kesalahan yang dapat menyebabkan malapetaka. Kebohongan itu mengorbankan jiwa. Ada beberapa jalan yang mengarah  ke bawah, bukannya ke atas.

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang yang telah mempelajari secara luas dan dalam mengenai tingkah laku manusia, mulai dari Aristoteles hingga Freud, memberikan catatan tersendiri bahwa kita bertindak untuk tujuan akhir yang ingin dicapai; dan juga itulah satu-satunya akhir dan tujuan yang selalu memotivasi semua orang. Jadi alasan kenapa Keselamatan itu penting karena Keselamatan sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan yang dibahas disini bukan dalam arti dangkal, subjektifitas, dan realitifitas pada pengertian moderen, yang terkesan kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang dimaksud Kebahagiaan tersebut adalah dalam arti jaman dahulu akan pengertian “Terberkati”: nyata, keberhasilan pada akhir perjalanan, kesempurnaan manusia, kesuksesan yang sebenarnya, kesehatan jiwa. Terberkati adalah kepuasaan yang sebenarnya dari keinginan yang benar, bukan hanya sekedar kepuasaan atas perpenuhinya suatu keinginan sesuai  dengan yang kita harapkan, atau Terberkati juga bukan perasaan kepuasan subjektif. Dalam pengertian jaman dahulu, pemahaman mendalam mengenai kebahagiaan, Keselamatan sama dengan Kebahagiaan Kekal.

Iman dan Perbuatan

Munculnya perdebatan dan adanya perbedaan pemahaman mengenai Keselamatan dimulai oleh Reformasi Protestan dan memisahkan diri dari Gereja. Perdebatan mengenai hal Keselamatan oleh Protestan dan Katolik pada saat itu terlihat bahwa adanya perbedaan pengajaran injil, dua agama, dua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Apa yang saya lakukan agar dapat selamat? Jawaban untuk pertanyaan itu dari pihak Katolik, bahwa untuk selamat anda perlu melakukan dua hal secara bersamaan yaitu percaya (iman) dan melakukan pekerjaan yang baik (perbuatan). Sedangkan oleh Luther, Calvin, Wycliffe, dan Knox (pihak Protestan) berkeras bahwa hanya percaya (iman) yang menyelamatkan. Perdebatan ini telah berlangsung dari 450 tahun yang silam. Tetapi ada ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa secara prinsip (esensinya) perbedaan ini dikarenakan kesalahpahaman dan dari bukti-bukti tersebut telah dimulai usaha untuk mencari penjelasannya.

Kedua pihak baik dari pihak Katolik maupun Protestan, menggunakan istilah-istilah penting yaitu Iman dan Keselamatan, tetapi dalam pemahaman yang berbeda.

  1. Katolik menggunakan istilah Keselamatan untuk merujuk kepada keseluruhan proses, mulai dari awal munculnya kepercayaan manusia kepada Allah, kemudian melalui hidup Kristiani karya cinta di bumi, hingga akhirnya di Surga. Bagi Luther, Keselamatan yang dia maksud adalah langkah inisiasi (langkah awal) – seperti di kisah Nabi Nuh; memasuki bahtera Nuh agar selamat – bukan merujuk ke keseluruhan perjalanan.
  2. ‘oleh Iman’ yang dimaksud oleh Katolik adalah salah satu dari tiga yang diperlukan “Keutamaan Teologi” (iman, kasih, dan pengharapan), iman merupakan keyakinan intelektual. Bagi Luther, iman berarti menerima Yesus dengan sepenuh hati dan jiwa.

Dengan demikian sejak Katolik menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih besar dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih kecil, di lain pihak Luther menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih kecil dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih besar; oleh karena itu pemahaman yang mengatakan “kita diselamatkan hanya oleh iman” sudah sepatutnya tidak menerima oleh kalangan Katolik, sedangkan diterima oleh Luther.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Keselamatan bukan hanya mencakup iman, sama halnya seperti sebuah tumbuhan yang bukan hanya terdiri dari akar. Seumpamanya tumbuhan hidup terdiri dari akar, batang, dan buah; Keselamatan terdiri dari iman, harapan, dan kasih. Sedangkan Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak dapat membeli (mendapatkan upah) Keselamatan, semua yang perlu diperlukan dan semua yang dapat dilakukan agar selamat adalah menerima Keselamatan itu, menerima Sang Penyelamat, dengan beriman.

Kedua pihak mengatakan kebenaran. Dan karena kebenaran tidak dapat berlawanan dengan kebenaran, dua sisi itu sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan pada pertanyaan mengenai Keselamatan. Penaksiran mungkin terdengar terlampau optimistik, tetapi apa yang dikemukakan secara esensi oleh teolog-teolog Katolik dan Lutheran pada Pernyataan Bersama secara terbuka mengenai Dasar Kebenaran ketika Paus Paulus Yohanes II mengatakan hal yang serupa kepada Uskup Lutheran Jerman; kedua pihak  tercengang dan gembira.

Sama halnya kesepahaman antara Katolik dan Protestan walaupun terlihat adanya ketidakcocokan merupakan bukan hal aneh. Karena keduanya menerima data masukan yang sama, yaitu Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan dua   pokok hal mengenai Keselamatan: Protestan menitik beratkan pada Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, yang bukan didapat dari perbuatan baik dengan taat terhadap hukum, dan Katolik memahami bahwa iman merupakan awal/pencetus/pendorong perbuatan baik dari kehidupan kristiani, yang mengarahkan perbuatan tersebut menjadi benar (karena dengan Allah perbuatan manusia dibenarkan/dibetulkan/diarahkan menjadi benar), jika perbuatan itu nyata maka akan mengarahkan “pengudusan” orang tersebut (menjadi bersih, kudus, dan baik), itulah “Iman tanpa Perbuatan adalah mati

Sehubungan dengan point terakhir, Pengkotbah Presbyterian Skotlandia George MacDonald pernah menulis bahwa pemahaman keselamatan oleh Yesus merupakan keselamatan dari hukuman atas dosa kita adalah pemahaman yang jahat, pemahaman yang egois, dan pemikiran yang dangkal. Yesus disebut Penyelamat karena dia mau menyelamatkan kita dari dosa kita.

Ajaran resmi dari pemahaman Katolik (untuk membedakan dengan pemahaman yang salah) menyatakan bahwa Keselamatan adalah suatu pemberian cuma-cuma (tanpa syarat) yang kita peroleh tanpa harus melakukan sesuatu.

Dekrit tentang pembenaran yang disahkan oleh Konsili Trente pada tanggal 13 Januari 1547, dimaksudkan sebagai penolakan posisi para reformator sekaligus penjelasan tentang pembenaran dan peranan iman di dalam pembenaran. Mengenai pembenaran, Trente menegaskan (sama seperti pendapat para reformator; Luther) bahwa pembenaran sungguh-sungguh merupakan karya Allah demi keselamatan manusia, tetapi Konsili tidak menerima kesimpulan bahwa manusia sama sekali pasif dan tidak turut serta dalam proses pembenaran. Manusia juga terlibat secara aktif sebab ia menerima hadiah dari Allah itu secara bebas. Dengan kata lain, ia juga bisa menolaknya (bdk. Dekrit Konsili Trente no. 1929). “Siapa yang percaya dan dibaptis diselamatkan dan siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16).

Dan mengenai iman, Konsili sepaham dengan kaum Skolastik (Thomas Aquinas) yang mengerti iman sebagai persetujuan intelek kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Iman itu perlu demi pembenaran, tetapi iman itu saja tidak cukup. Pembenaran tidak menjadi sola fide, melainkan iman harus dilengkapi dengan harapan dan cinta.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa “keselamatan adalah pemberian cuma-cuma” untuk diterima dengan iman dan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang dimaksud adalah “kasih”, dan kasih berarti “tindakan karena cinta”, bagi orang Kristen kasih (agape) bukanlah suatu perasaan, seperti berupa kata cinta (eros, storage, philia); karena jika kasih itu yang dimaksud hanya berupa perasaan maka kasih itu tidak dapat diperintahkan (oleh Yesus: kasihilah sesamamu).