Salib yang harus kita pikul

Ada pertanyaan yg sering ditanyakan seperti ini : “Yesus mati sekali dan untuk semua, untuk semua orang. Masalah atau kesulitan dalam hidup kita mungkin sebenarnya berasal dari sifat atau kondisi manusia kita. Oleh karena itu jika ada mengatakan bahwa Tuhan memberi kita salib yang harus kita pikul adalah pernyataan yang keliru; karena selain pernyataan itu tidak alkitabiah juga mengerdilkan pengorbanan Yesus di Kalvari. Bahasa kasarnya.. Yesus sudah berkorban memikul salib hingga wafat disalibkan, namun mengapa kita masih memikul salib juga? Apakah kita menganggap pengorbaan Yesus tidak cukup?”

jawab:

Kita sebagai orang kristen, dan khususnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik bisa menjawab sebagai berikut dengan beberapa poin:

1) Siapa bilang pernyataan bahwa kita harus memikul salib tidak Alkitabiah? Lalu bagaimana dengan ayat ini?

“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)”

2) Meskipun benar bahwa masalah dan kesulitan dalam hidup kita berasal dari kondisi kita sebagai manusia, masalah dan kesulitan itu diizinkan oleh Allah karena dengan semua masalah tersebut mempunyai daya dorong untuk menyesuaikan diri kita agar lebih sempurna dan dekat kepada Allah. Memikul salib kita masing-masing bukanlah hal yang keliru atau bertentangan dengan pengorbanan Yesus yang memikul salib-Nya, melainkan sebagai usaha kita (yang tidak dapat dibandingkan dengan  pengorbanan Yesus) untuk menjadi satu dengan Yesus dalam cinta seperti yang telah Yesus tunjukkan kepada kita dalam jalib salib. Kita sebagai manusia mengekspresikan cinta yang paling luhur melalui pengorbanan, sesuai dengan yang ditunjukkan berulang kali di dalam Kitab Suci.

Menghadapi permasalah kejahatan dengan Pengorbanan

Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah …

Ada dua permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita, dimana kejahatan yang dimaksud adalah tindakan yang bertentangan dengan kebenaran yang dilakukan oleh kita sendiri atau orang lain. Permasalahan yang pertama adalah permasalahan teologi, yaitu: Bagaimana bisa ada kejahatan JIKA ada Allah yang hadir dalam kehidupan adalah Allah yang maha baik, maha bijaksana, dan maha kuasa? Permasalahan teologi ini bagi umat Kristen pada umumnya tidak mempunyai jawaban berbeda secara jelas, dan khususnya tidak menyebabkan perbedaan antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik. Tetapi Permasalahan yang kedua lah yang menunjukkan adanya perbedaan yang sangat jelas antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik, yaitu: Apa yang seharusnya kita lakukan terhadap kejahatan itu? Bagaimana cara kita menghadapi kejahatan itu? Pada sisi ajaran Gereja Katolik kita dapat menemukan banyak perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ untuk menghadapi Kejahatan; yang bagi umat Kristen non-Katolik perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ tersebut tidak familiar (kurang dikenal) dan jika pun ada umat Kristen non-Katolik yang mau menggunakan hal-hal tersebut, mereka hanya dapat menggunakan dengan perasaan kurang percaya diri.

Perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ yang dimaksud melingkupi semua hal objek-objek fisik yang berpangkal dari semua sakramen dan sakramentali, yaitu: Misa Ekaristi, Air Suci, Anggur, Roti/Hosti, Minyak Urapan, Liturgi, Doa Orang Kudus, Maria, Biara, Ruang pengakuan Dosa, Altar, Patung, dan juga Prosesi Pengusiran Roh Jahat. Dan selain itu Gereja Katolik juga mengajarkan banyak ‘senjata’ rohani, ‘senjata’ spiritual dan yang ‘senjata’ yang terkuat dari semua adalah Pengorbanan. (umat Katolik melihat Misa Ekaristi secara esensi merupakan sebuah pengorbanan, me-respresentasikan – mengenangkan kembali pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus sendiri di Kalvari.)

Sebuah Pengorbanan, baik yang dilakukan oleh Kristus untuk kita atau yang dilakukan oleh kita untuk Kristus – keduanya adalah suatu transaksi yang nyata. Pengorbanan itu benar-benar menjadikan suatu hal. Pengorbanan tersebut bukan hanya merupakan praktek penyangkalan diri sendiri oleh setiap individu umat Kristen. Namun lebih dari itu, Pengorbanan bermakna penyerahan, persembahan, pemberian.

Hal utama dari pengorbanan, penyerahan, persembahan, dan pemberian bukanlah dalam bentuk materi/fisik, melainkan hati dari yang melakukan pengorbanan, penyerahan, persembahan, atau pemberian itu. Jika kita mengamati ibadah oleh kaum pagan yang mempersembahkan anggur kepada dewa mereka, hanya orang yang berpandangan materialistis sangat dangkal mengira bahwa dewa mereka haus akan minuman alkohol. Sebenarnya yang diinginkan oleh dewa mereka adalah kesetiaan dan kepatuhan dari pemuja mereka. Dan hal mengenai pemberian seperti itu juga benar di dalam Kekristenan, yaitu: Ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga dan hati kita sangat mencintai sesuatu itu (bahkan sering hati kita ada sedikit ‘berat’ melepaskan sesuatu yang sangat berharga itu) kepada Allah, sebenarnya kita mempersembahkan sesuatu dari hati kita kepada Allah. Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah; mempersembahkan cinta kita yaitu mempersembahkan hati kita. (Hati dalam bahasa biblis bermakna ‘keinginan’/’kehendak’, bukan ‘perasaan’.) Dengan demikian pengorbanan dan persembahan adalah suatu cara mematuhi perintah Yesus Kristus yang paling pertama dan yang paling besar, yaitu: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.”

Pengorbanan selalu mengakibatkan beban berat bagi kita, penderitaan bagi kita (walaupun demikian pengorbanan itu juga menyebabkan perasaan bahagia yang sangat dalam jika benar-benar pengorbanan dimotivasi oleh iman dan cinta). Namun bukan penderitaan yang menjadi tanda bahwa persembahan kita bernilai, bukan penderitaan yang memberi nilai/makna terhadap suatu pengorbanan; melainkan pengorbanan lah yang memberikan makna terhadap penderitaan kita. Pengorbanan adalah pilihan hati untuk memilih menyerahkan harta hati kepada Allah, melampaui semua hal-hal lain.

Lalu apa hubungannya Persembahan dan Pengorbanan dalam menjawab permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita?

Dalam ajaran Gereja Katolik, kita diajarkan bahwa penderitaan manusia bersumber dari 3 hal, yaitu: Dunia, Daging, dan Iblis.

“Dunia” yang dimaksud di sini adalah terpuruknya hubungan sosial antara manusia di dunia. Keterpurukan ini adalah sumber kejahatan sosial dan emosional yang berasal dari masyarakat, hubungan sosial, dan institusi-institusi; kejahatan tersebut yang awalnya hanya kesalahpahaman terhadap sesama, berkembang menjadi kebencian terhadap sesama, berkembang lagi menjadi penganiayaan terhadap sesama, pembunuhan terhadap sesama atas nama keyakinan.

“Daging” yang dimaksud di sini adalah kejahatan yang bersumber dari penderitaan yang dialami secara fisik; dan penderitaan yang diakibatkan dari kelemahan kita sendiri, penderitaan dikarena penyakit yang di-‘wariskan’ oleh daging seperti: kanker, kecelakaan, senjata tajam, dan kematian yang perlahan-lahan.

“Iblis” adalah penyebab kejahatan spiritual, terutama mempengarahui manusia ketika menghadapi godaan sehingga menyebabkan manusia itu berbuat dosa. Hal ini juga merupakan penderitaan bagi kita, karena untuk menolak dan menyatakan ‘tidak’ terhadap godaan, kita harus (seperti ada kesan ‘terpaksa’) menyerahkan hal-hal yang tampaknya membahagiakan – yang ditawarkan oleh godaan itu. Karena semua dosa ‘kelihatannya’ adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan ketika kita mulai tergoda; oleh karena itulah makanya kita sering terjatuh dan berbuat dosa. Bila saja dosa tidak terlihat sebagai sesuatu yang membahagiakan/ menyenangkan bagi kita, sudah pasti kita semua akan menjadi santo atau santa. 🙂

Agar manusia dapat menghadapi dan dapat melalui penderitaan-penderitaan tersebut, terdapat rumusan ajaran Gereja Katolik yang telah diajarkan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu: “Persembahan” atau lebih pas jika disebut “Pengorbanan”. Rumusan itu mengajarkan agar umat Katolik menggunakan pengorbanan sebagai senjata untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ajaran rumusan ini mungkin jarang didengar di luar lingkungan Gereja Katolik. Namun Gereja Katolik tetap mengajarkan dan akan terus memperbaharui pemahaman umatnya agar tidak lupa.

“Penyangkalan Diri” merupakan nama lain dari rumusan ajaran Gereja Katolik untuk menghadapi ketiga kejahatan yang telah disebut di atas. Apa yang sebenarnya kita sangkal? Gereja Katolik mengajarkan agar umatnya ‘sangkalkan’ atau ‘menolak’, atau me-‘matikan’ keinginan/hasrat dari hati manusia yang buruk. Dan mempersembahkan apa yang ada di hati kita kepada Allah, bukan sebagai ‘pembayaran’ agar Allah mau campur tangan atau karena pengorbanan darah Yesus Kristus ‘kurang’ cukup; melainkan sebagai cara untuk mempersatukan diri kita dengan tangan Allah (kehendak Allah), dan dengan kurban darah Yesus Kristus dan semua itu berkenan bagi Allah.

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)

..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)..

Keberatan 18: Surga itu sifatnya kekal, abadi. Namun karena bersifat kekal abadi maka sepertinya surga itu tidak manusiawi, karena tanpa adanya waktu berjalan di sana maka tidak ada proses, tidak ada perkembangan, tidak ada perubahan, tidak ada karya. Pasif, ibadah penyembahan tanpa henti dan tanpa perubahan mungkin cocok bagi malaikat, tapi tidak cocok bagi kita manusia.

Tanggapan: Siapa yang pernah mengatakan bahwa di surga tidak ada yang namanya waktu, karya, dan perubahan? Keabadian itu lebih dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas mengcakup waktu, karya, dan perubahan saat ini, dan yang akan datang; bukan sebaliknya. Dan karena itu maka waktu yang kita kenal saat ini adalah hanya bagian kecil dari keabadian, dan semua waktu dapat diakses pada saat di surga. Sama halnya dengan ‘karya’, bahwa tetap ada karya yang dapat kita lakukan di Surga, dan karya itu adalah mencintai, mengasihi. Cinta kasih adalah Karya. Sebelum kejatuhan manusia pertama pada dosa asal, berkarya atau berkerja adalah suatu wujud cinta kasih. Hanya saja setelah kejatuhan itu berkarya atau berkerja menjadi hal yang berat, hal yang perlu diusahakan karena ada perasaan berat hati (Kejadian 3:17-19). Surga lah yang akan mengembalikan dan melimpahi semua hal yang baik di dalam taman firdaus (Eden), termasuk semua kebaikan yang ada di dalam karya, perubahan, dan waktu.

Keberatan 19: Jika semua rentang waktu adalah hal terjadi dan berlangsung pada saat itu di Surga, maka tidak ada masa depan, tidak ada hari esok, yang ada hanya saat ini, dan itu menyebabkan tidak ada yang tersisa untuk menjadi ‘bahan’ pengharapan. Dan kita tidak bisa hidup tanpa pengharapan. Karena kita merasa lebih baik ketika dalam perjalanan penuh pengharapan daripada ketika kita tiba pada tempat tujuan.

Tanggapan: Jika hal yang dikemukakan oleh keberatan poin 19 benar, dan pernah di-iyakan kebenarannya, lalu bagaimana bisa semua orang ketika sedang dalam perjalanan mempunyai pengharapan? Karena jika hal yang dikemukan benar maka hanyalah kehampaan yang diharapkan semua orang ketika dalam perjalanan. Untuk itu perlu kita teliti kembali jika “tiba pada tempat tujuan” adalah suatu hal yang membuat perasaan kita kurang lebih baik, menjadi membosankan, dan mengkhawatirkan dibandingkan ketika sedang “berjalan menuju”, maka kita sebaiknya jangan penuh berharap untuk tiba di tempat tujuan. Atau bisa kita andaikan seperti pada seekor harimau yang siap memangsa buruannya lebih baik menahan lapar daripada memakan mangsanya. Begitu juga dengan apakah lebih baik pada masa pacaran yang menahan diri untuk memiliki pasangan daripada menikah agar dapat bersatu seutuhnya? dan juga bagi rasa penasaran dan ketidakpedulian untuk mengetahui dibandingkan dengan rasa puas setelah memahami? Tidak ada lagi pengharapan di dalam Surga dan tidak ada juga di dalam Neraka. Sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan daripada pengharapan ada tersedia di dalam Surga: kepenuhan, penyempurnaan.

Keberatan 20: Hal-hal “Kebangkitan Badan” dan “Bumi Baru” terkesan sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena lebih bersifat mitologis dan antropomorfik (pelekatan ciri/sifat/atribut manusia kepada sesuatu yang lain daripada manusia).

Tanggapan A: Hal-hal itu tidaklah sesuatu yang mustahil, terlebih karena Allah adalah pencipta dari yang tidak ada menjadi ada secara tiba-tiba dan membuat segala sesuatu di semesta dari kehampaan, termasuk bumi ini, maka sudah pasti Allah dapat membuat bumi yang baru, “bumi baru”. Dan jika Allah dapat membuat bumi yang baru, Dia dapat menciptakan suatu keseluruhan tubuh yang baru bagi manusia, “kebangkitan badan”. (lihat 1Korintus 15.)

Tanggapan B: Hal-hal tersebut bukanlah mitologi melainkan kebenaran dari kekeliruan suatu mitos dalam mengenali hal tersebut.

Tanggapan C: Bumi baru dan Tubuh baru adalah kebalikan dari antropomorfik; karena bukannya atribut tubuh manusia atau bumi yang sekarang ini dilekatkan pada tubuh manusia atau bumi yang baru. Melainkan sebaliknya “tubuh baru” dan “bumi baru” sangatlah lebih melampaui kemampuan kita saat ini untuk memahami karena keberadaan kita pada saat ini yaitu tubuh dan bumi saat ini. “Tubuh baru” dan “Bumi baru” tidaklah mirip seperti yang saat ini tetapi merupakan hal yang baru dan sangat berbeda tetapi masih memiliki essensi yang sama; diumpamakan tubuh saat ini adalah tubuh manusia yang sudah dewasa sedangkan tubuh yang baru adalah tubuh manusia yang belum dilahirkan. Atau analogi pendekatan lainnya yang agak mirip: “Tubuh baru” bagi janin (fetus) adalah manusia dewasa, dan “Bumi baru” bagi janin tersebut adalah bumi yang memiliki cahaya, harum, dan memiliki suhu dingin dan panas – yang agak berbeda dengan “Bumi lama” bagi janin yang masih di dalam perut sang ibu.

Keberatan 21: Apakah ketika di Surga kita benar-benar bebas, bebas juga berbuat dosa? Jika benar kita tidak bebas, maka kita seperti sebuah robot yang tidak bebas, tidak memiliki kebebasan yang benar-benar, tidak memiliki kehendak-bebas manusia. Namun jika benar iya kita bebas, maka Surga adalah hal yang berbahaya, sama seperti bumi. Dan jika ada manusia yang memilih untuk berbuat dosa, maka taman Firdaus, kejatuhan manusia seperti dosa asal, dan bumi yang seperti saat ini akan berulang kembali.

Tanggapan: “bebas berbuat dosa” sama halnya seperti “penyakit yang menyehatkan”. Hal itu berarti “kebebasan dari perbudakan”.

Kebebasan berkehendak, atau kebebasan memilih, memiliki makna kebebasan yang jauh lebih tinggi, atau kemerdekaan. Kebebasan yang lebih rendah mempunyai makna kebebasan dari suatu tekanan, atau kondisi yang mengharuskan seseorang ‘terkekang’. Level kebebasan yang lebih tinggi, kebebasan yang paling puncak adalah kebebasan dari iblis.

Di dalam Surga tidak ada seorang pun yang mau berbuat dosa. Semua yang ada di dalam Surga secara bebas sukarela memilih untuk tidak pernah berbuat dosa. Meskipun mereka mempunyai kemampuan, dapat berbuat dosa namun mereka tidak mempunyai motif yang mendorong untuk berbuat dosa. Contohnya: seorang penyanyi yang hebat tidak membuat kesalahan-kesalahan dasar ketika bernyayi dan tidak mau bernyanyi dengan nada yang fals, walaupun penyanyi tersebut mampu dan dapat melakukan jika dia menginginkannya. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang berkehendak demikian? mengapa seseorang mau berbuat dosa? atau mau tergoda untuk berbuat dosa – di dalam Surga? Semua yang akan kita lihat dan alami di Surga adalah keindahan, kebahagiaan, dan ketertarikan kepada Allah dan kebaikan, sedangkan yang berasal dari dosa adalah segala sesuatu yang jelek, buruk, dan kebodohan; dengan demikian jelaslah bahwa di Surga tidak ada kemungkinan adanya motif untuk dosa.

Saat ini kita diperbudak oleh ketidakpedulian. Setiap dosa berasal juga dari ketidakpedulian (ketidakpedulian mengambil peran dalam setiap dosa). Kita mau berbuat dosa karena kita entah bagaimana melihat perbuatan dosa itu seperti sesuatu yang menarik (yang sebenarnya adalah sebaliknya) dan kita juga entah bagaimana melihat kebaikan sebagai sesuatu yang tidak menarik (yang sebanrnya adalah sebaliknya juga). Hal itulah yang dimaksud dengan ‘ketidakpedulian’. Ketidakpedulian merupakan tanggungjawab kita dan sebagai sesuatu dari kita sendiri yang dapat dituntut untuk menjadi kesalahan kita. Dan jika kita tidak melakukan ‘ketidakpedulian’ (kebalikan dari ketidakpedulian) maka akan tidak mau berbuat dosa. Di Surga nanti tidak ada ‘ketidakpedulian’; dengan demikian tidak ada keinginan untuk berbuat dosa. “Pencerahan penuh kebahagiaan” dari wajah Allah kepada setiap wajah di Surga akan meniadakan ‘ketidakpedulian’, selayaknya sinar matahari meniadakan kabut.

Keberatan 22: Jika kita akan menjadi orang kudus yang sempurna di Surga, dimana kepribadiaan kita akan berada? Jutaan jiwa yang merupakan ‘lembaran copy karbon – duplikat – tiruan’ dari Allah terkesan sangat membosankan.

Tanggapan A: Tiruan dari sesama orang lain lah yang membosankan; meniru Allah yang tidak terbatas lah yang sangat menarik. Allah bagaikan sebuah berlian yang mempunyai wajah potongan berbeda yang jumlahnya tidak terhingga. Setiap yang terberkati akan memantulkan dan memancarkan suatu wajah yang berbeda.

Tanggapan B: Bahkan saat ini pun, para orang kudus (santo) adalah individual yang benar-benar pekat dan kental.

Tanggapan C: Kesucian, yaitu membiarkan Allah untuk mengatur jiwa dan hidup kita, karya Allah itu serupa dengan garam: garam itu membuat setiap cita (individual) rasa setiap makanan yang berbeda semakin nyata, semakin pekat, semakin kental. Garam membuat rasa ikan semakin mantap terasa ikan, rasa daging semakin mantap terasa daging, rasa telur semakin mantap terasa telur. Allah lah yang membuat Agustinus menjadi Agustinus yang terkenal dan dicontohi banyak orang, Teresa menjadi Terasa yang terkenal dan dicontohi banyak orang, dan Maria menjadi Bunda Maria yang sangat terkenal dan dicontohi dan dihormati banyak orang.

Tanggapan D: Wahyu 2:17 mengatakan : ” … Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Individual kita di Surga adalah sangat nyata dan hanya Allah yang mengetahui rahasia tersebut.

Apakah ada hal lain yang lebih besar dimiliki seseorang daripada namanya yang baru dan hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri bahkan walaupun sudah berada di Surga nantinya untuk selamanya? Lalu apa artinya kerahasiaan nama barunya ini bagi orang tersebut?

Yang pasti, bahwa setiap orang yang menerima namanya masing-masing dari Allah akan selamanya mengetahui dan mengagungkan Allah dalam suatu aspek tertentu dari keindahan Ilahi, mengetahui dan mengagungkan Allah dengan cara yang lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.

Lalu mengapa ada individu lain yang diciptakan? … Jika individu yang lain itu tidak berguna untuk semua perbedaan yang ada ini, rasanya tidak ada alasan bagi individu lain diciptakan selain yang satu tadi… 

Jiwa setiap manusia itu seperti suatu bentuk rupa yang tertentu, relung yang unik dan dibentuk secara khusus untuk sesuai (cocok) dengan suatu substansi yang akan mengisi relung tersebut. Atau jiwa manusia itu digambarkan sebagai sebuah anak kunci yang dapat membuka sebuah pintu tertentu yang sesuai dengan kunci tersebut di dalam suatu rumah yang terdapat banyak ruangan… Tempat setiap manusia di dalam Surga akan terkesan diperuntukkan hanya untuk setiap manusia secara khusus, karena setiap manusia diciptakan untuk itu – diciptakan setiap bagian dan setiap lekuk selayaknya sebuah sarung tangan yang diciptakan secara khusus agar sesuai dengan tangan yang diperuntukkan.

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)

..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)..

Keberatan 13: Surga terlalu duniawi. Terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas di penggambaran surga mengindikasikan konsep tersebut merupakan proyeksi dan tambahan dari beberapa hal duniawi yang dilestarikan dari budaya masa lampau.

Tanggapan: Keberatan ini tidak dapat membedakan antara gambaran yang relatif terhadap kultur dengan substansi atau essensi dari surga yang tidak relatif terhadap kultur. Gambaran merupakan analogi secara kasar, berupa petunjuk.

Keberatan 14: Surga terlalu jauh dari duniawi, terlalu spiritual. Bagaimana kita sebagai manusia dapat bahagia tanpa hubungan seks, makanan, pakaian – bahkan sedikit tantangan dan tekanan? Kesempurnaan akan sangat menyiksa kita.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa nanti akan “terlalu spiritual” untuk perubahan wujud kita setelah kematian? Mengapa kita membuat batasan terhadap perkembangan manusia? Keberatan yang pada poin ini terlalu membatasi imajinasi dan terlalu terikat kepada kenikmatan duniawi saat ini, seakan-akan nanti tidak ada kemungkinan sukacita yang melebihi saat ini, tapi sebenarnya pada saat ini kita tahu bahwa nanti akan ada sukacita yang lebih.

Keduanya baik keberatan 13 dan keberatan 14 keliru memahami prinsip transformasi. Transformasi surgawi bukanlah kelanjutan dan kesempurnaan, atau pun transendensi dan kemusnahan dari bumi dan kemanusiaan saat ini, melainkan transformasi surgawi mengubah keduanya menjadi sesuatu yang baru, “bumi yang baru”, (Wahyu 21:1) , kemanusiaan yang baru – “tubuh rohaniah” (1Korintus 15:44); seperti ulat bulu menjadi kupu-kupu, atau kecebong menjadi katak, atau katak menjadi pangeran… . Allah mau turun dan mengelilingi bumi untuk menemukan dan mencium katak-katak (kita) agar berubah menjadi pangeran… . Inilah yang pada umumnya di kultur kita, Kebenaran lebih terasa asing daripada cerita dongeng.

Prinsip transformasi adalah jawaban untuk banyak pertanyaan yang serupa: Apakah kita akan memiliki X (hal-hal duniawi) setelah di surga? Sebagai contoh emosi. Apakah kita akan memiliki emosi setelah di surga? jawabannya adalah Ya dan Tidak. Jawaban ‘Ya’ karena emosi bagian dari kemanusiaan secara alami dan diciptakan oleh Allah. Emosi tidak akan hilang atau berkurang dari yang menjadi kodrat kita. Tetapi ‘Tidak’ juga karena jawaban ini menunjukkan bahwa emosi yang awalnya sewaktu kita masih hidup duniawi tidak sama dengan emosi ketika kita sudah di surga, sama halnya dengan kodrat kita yang tidak sama ketika masih duniawi dan setelah di surga. Kita bukan menjadi seperti komputer yang tidak mempunyai emosi atau kecerdasan tanpa tubuh, tetapi emosi nantinya tidak akan mengendalikan kita lagi. Inilah yang menjadi perubahannya; keutamaan emosi yang awalnya dari tubuh menjadi jiwa, emosi akan bersumber terutama dari hasrat jiwa ke tubuh. ‘A body in a soul’. Emosi akan dibangkitkan dari ketidaksadaran menjadi kesadaran. ‘Terang budi’. Emosi akan lebih bersifat pasif, tetapi lebih penuh makna, hasrat, dan tulus.

Sebagai contoh, sukacita. Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa di dalam surga nantinya cinta kasih yang kita terima dari Allah kepada jiwa kita akan dilimpahkan ke kebangkitan tubuh baru kita dalam suatu arus kebahagiaan akan sukacita yang sangat deras. torrens valuptatis. Emosi menjadi sangat kuat dalam kekudusan, bukan melemah.

Keberatan 15: Apakah kita akan menjadi bagian dari Allah di surga atau tidak? Jika benar, maka ini sama halnya dengan panteisme, bukan Kekristenan. Jika tidak, jika kita hanya dapat hampir mendekati dan menyerupai Dia (walau tidak dapat sepenuhnya), hal ini menunjukkan bahwa kita belum cukup karena masih ada cita dan hasrat yang lebih (Allah itu sendiri). Dengan demikian surga bukan tercapainya pemenuhan manusia.

Tanggapan: Kita bukan menjadi Allah, melainkan kita lebih dari pada menyerupai DIA: kita se-citra dengan DIA, dan kita mengambil bagian dari hidup DIA. Dan kita hanya memperoleh ini karena kasih (pemberian) dari Allah, bukan karena kodrat kita. Allah mencurahkan dirinya sendiri kepada kita seperti matahari yang menyinari orang merindukan hangatnya sinar matahari.

Pertanyaan pada keberatan poin ini berasumsi bahwa kita tidak akan benar-benar bahagia jika tidak menjadi Allah. Hal ini kedengarannya seperti dosa yang paling buruk – ‘Harga Diri’ – dan dosa yang paling bebal – ‘Iri Hati’ – satu-satunya dosa yang membuat kita tidak pernah merasa puas. Di dalam surga semua orang akan menjadi bijaksana dan puas dengan dirinya apa adanya. Kita akan tetap sebagai makhluk terbatas, dan kita juga mengambil bagian, “berpartisipasi”, dalam kodrat keilahian Allah (2Petrus 1:4), dipenuhi kelimpahan kasih Allah. Tanggapan ini tidak sepenuhnya jelas mengenai bagaimana hal itu terjadi, namun tanggapan ini jelas menunjukkan bahwa hal itu berada diantara 2 titik dilema yang ditanyakan oleh Keberatan poin 15.

Keberatan 16: Surga akan membosankan. Tidak ada yang dilakukan selain penyembahan – suatu kebaktian yang tidak ada akhirnya. Hanya sedikit orang yang akan senang dengan itu. Dan bahkan jika hal itu membuat sebagian orang itu bahagia, bahagia saja tanpa ketidakbahagiaan adalah membosankan. Kita dapat menghargai setiap suatu hal jika ada perbedaan dengan kebalikan dari hal itu. Kita memerlukan kegelapan untuk menyalakan penerangan, sedikit penderitaan untuk mengapresiasi kebahagiaan. Jika di surga tidak ada penderitaan, kita tidak akan mengapresiasi kebahagiaan.

Tanggapan A: Pada pernyataan di akhir keberatan ini berasumsi bahwa keterbatasan duniawi dan kebodohan akan berlanjut hingga nanti ketika telah di surga. Semakin bijaksana seseorang maka semakin kurang diperlukannya penderitaan agar mengapresiasi kebahagiaan. Allah tidak memerlukan segala sesuatu yang negatif; DIA akan mengajarkan kita “trik”-Nya untuk mengapresiasi hal yang baik secara terpisah dari yang jahat ketika tiba saatnya.

Tanggapan B: Kebosanan adalah salah satu emosi yang khusus bersifat duniawi dan merupakan suatu kegagalan. Kita tidak akan merasa bosan di dalam surga karena kita akan menjadi baik dan bijaksana. Bahkan untuk ukuran duniawi di saat ini, kebosanan adalah hal yang bodoh, sia-sia, dan melelahkan. Para santo tidak pernah merasa bosan.

Tanggapan C: Gambaran bahwa di surga, gereja selalu melakukan kebaktian adalah suatu simbol, simbolik, bukan diartikan secara harfiah. Di kitab Wahyu tertulis bahwa tidak ada ‘Bait Suci’ di dalam surga (Wahyu 21:22) karena Allah lah Bait Sucinya yang menghadirkan diri-Nya sendiri. Gereja mungkin dapat membosankan, tapi Allah tidak dapat membosankan.

Tanggapan D: Surga tidak akan membosankan karena surga itu bukan hanya memuaskan dan menenangkan nafsu belaka. Di surga bukan hanya kepuasan belakang, yang nantinya menjadi terasa membosankan, melainkan perasaan penuh sukacita yang tidak berkesudahan. Sukacita itu penuh semangat, dinamis, dan memotivasi sama seperti hasrat itu sendiri.

Tanggapan E: Surga tidak membosankan karena surga merupakan cinta dan karya yang sempurna. Bahkan Freud (Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka) mengetahui bahwa dua hal yang membuat hidup berarti bagi setiap orang adalah cinta dan karya. Keduanya sebenarnya adalah satu kesatuan, untuk mencintai adalah dengan berkarya, bukan hanya perasaan, dan karya yang baik pastilah karya dari cinta.

Cinta-Karya yang bagaimana nantinya setelah di surga? Ada enam Cinta-Karya yang telah dibahas sebelumnya pada halaman Analogi duniawi tentang surga, yaitu: Mengenal dan mengasihi Allah, sesama, dan diri kita sendiri. Bahkan semasa di dunia, enam kegiatan ini tidak berkesudahan dan tidak membosankan. Ke-enam kegiatan itu ada latihan persiapan kita untuk nanti di surga.

Kegiatan-kegiatan itu tidak berkesudahan karena kemanusiaan tidak berkesudahan juga. Kemanusiaan berkesudahan karena manusia adalah subjek yang bebas, bukan subjek yang dibatasi; subjek yang terbuka, bukan tertutup.

Keberatan 17: Bagaimana kita dapat bahagia di surga jika ada orang yang kita kasihi berada di neraka? Jika kita berhenti mengasihi mereka, kita tidaklah baik; namun jika kita tetap mengasihi mereka, kita tidak bahagia.

Tanggapan A: Untuk menanggapi keberatan ini kita perlu memulai dengan data yang kita ketahui dan mencoba untuk bergerak dari situ untuk menemukan apa yang tidak kita ketahui. Kita tahu bahwa nanti di surga tidak ada kesedihan, walaupun kita tidak mengetahui bagaimana Allah dapat melakukan itu kepada kita. Allah “akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4)

Tanggapan B: Allah tidak akan bersedih dengan cara-Nya yang khusus, bahkan jika ada manusia yang DIA ciptakan dan kasihi berada di neraka – Allah tetap dapat tidak akan bersedih, kita akan berbagi dan mempelajari dengan cara ini. Allah adalah kasih dan sukacita yang tidak terbatas, tetapi walaupun demikian ada juga sebagian orang yang masuk ke neraka. Hal itu dapat terlaksana karena hal itu telah dilaksanakan: Allah melakukan itu. Karena Allah melakukan itu, DIA akan mengajarkan kita bagaimana melakukannya.

Tanggapan C: Beberapa petunjuk mengenai bagaimana Allah melakukan ini adalah pada perumpamaan domba dan kambing yang diajarkan oleh Yesus dan jawaban Yesus kepada sebagian orang yang berseru kepada-Nya “Tuhan”: pada akhirnya, Ia mengatakan kepada yang terkutuk, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Matius 7:23). Dia tidak mengenal, melihat, dan mengkhawatirkan mereka yang terkutuk. Hal ini kedengarannya seolah-olah suatu ketidakpedulian atau penipuan diri sendiri; tapi hal-hal ini tidak sesuai dengan Kemahatahuan. Lalu apa maksud sebenarnya?

Ini bukan suatu kebohongan; ini adalah suatu kebenaran. Dalam beberapa hal mereka yang terkutuk telah kehilangan kenyataan mereka yang sebenarnya. Walaupun mereka ada, mereka berada di dalam “kegelapan yang paling gelap”, bukan di surga. Dan sebaliknya surga merupakan standar dari kenyataan – bukan hanya standar dari semua sukacita dan kebaikan; tetap juga sebagai standar dari kebenaran. Semakin kita dekat dengan surga, diri kita semakin nyata; dan sebaliknya semakin kita jauh dari surga, diri kita semakin tidak nyata. Mereka yang terkutuk bagaikan abu, bukan seperti kayu. Mereka telah kehilangan realitas diri yang sebenarnya, jati diri mereka. Mereka yang terberkati tempatnya di dalam surga, seperti Allah, tidak berduka untuk mereka yang terkutuk – mereka yang terberkati adalah mereka yang seperti kayu (masih memiliki jati diri sebenarnya, bukan abu), pria yang sebenarnya, wanita yang sebenarnya – karena mereka tidak hidup dalam masa lalu.

Jika manusia berada di dalam neraka, dan surga ber-paralel dalam waktu terhadap neraka seperti planet bumi dan planet mars yang ber-paralel dalam dunia, maka sepertinya tidak ada jawaban terhadap keberatan itu. Tetapi neraka merupakan suatu tempat untuk kematian yang abadi, bukan tempat untuk kehidupan abadi; dan mereka yang masuk neraka adalah mereka yang awalnya manusia pada umumnya tetapi setelah di neraka mereka hanya lah ‘sisa-sisa’ dari dirinya. Dan walaupun surga dan neraka ber-paralel – kita tidak bisa berpindah dari yang satu ke yang lain (Lukas 16:26). Dengan demikian asumsi implisit dari keberatan pada poin 17 adalah suatu kekeliruan.

Tanggapan D: Bahkan jika jawaban-jawaban yang telah kita berikan tidak mencukupi, masih ada satu jawaban yang paling baik. Jawaban ini bukanlah suatu solusi teori tetapi suatu jawaban praktis. Jika ada orang yang kita benar-benar cintai dan kenal sangat dalam sehingga kita tidak bisa menerima bagaimana mungkin kita dapat bahagia selamanya tanpa mereka – sebab mereka adalah bagian yang sangat penting dalam hidup kita – maka salah satu tugas yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk hadir dunia adalah untuk melakukan segala upaya kita untuk keselamatan mereka yang kita cintai sama seperti untuk keselamatan kita sendiri. Jika karena pemeliharaan Allah yang membimbing cinta dan kedekatan kita dengan mereka yang kita cintai, maka Allah akan menerima doa-doa dari hati kita yang memohon Allah untuk keselamatan bagi mereka yang kita cintai, sama halnya dengan pemiliharan dan bimbingan Allah untuk keselamatan kita, karena sesama kita (mereka yang kita cintai) adalah bagian yang nyata dari kita, dan Allah menyelamatkan manusia secara menyeluruh, bukan secara terpisah.

Yang perlu kita perhatikan adalah doa kita bukan doa permintaan yang bersifat bujukan atau menuntut, sebaiknya doa permintaan yang bersifat menceritakan keadaan kita yang sebenarnya, fakta yang kita hadapi; seperti contoh permintaan Bunda Maria “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3). Serahkanlah kepada Allah untuk berbuat untuk kita. Cara Allah selalu lebih penuh kasih, lebih bijaksana, dan lebih berkuasa dibandingkan cara yang kita inginkan atau bayangkan (1Korintus 2:9). Percayakanlah kepada Allah untuk menggunakan perasaan cinta duniawi yang kita miliki sebagai saluran kasih karunia untuk teman kita. Dan mungkin saja kepedulian kita kepada teman kita itu adalah petunjuk bahwa Allah meletakkan beban di hati kita agar kita bekerja bersama Allah untuk meringankan dan mengusahakan agar teman kita memperoleh keselamatan.

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)

Berikut adalah beberapa keberatan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tidak mempercayai atau meragukan konsep Surga yang diajarkan oleh Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci:

Keberatan 1: Konsep mengenai Surga adalah konsep yang pra-ilmiah dan takhayul.

Tanggapan A: Keberatan tersebut tidak secara ilmiah. Cara menyampaikan keberatan secara ilmiah atas suatu konsep adalah dengan bukti, bukan dengan menjelekkan dengan tanpa dasar.

Tanggapan B: Tidak jarang konsep-konsep pra-ilmiah yang valid, benar, dan penting, bukan takhayul – sebagai contoh, kelahiran, kematian, kehidupan, kebaikan, kejahatan, keindahan, keburukan, kesenangan, penderitaan, bumi, udara, api, air, kasih, kebencian, kebahagiaan.

Keberatan 2: Tidak ada bukti ilmiah mengenai Surga.

Tanggapan A: Begitu juga untuk banyak konsep lainnya yang diakui valid oleh semua orang, bahkan oleh ilmuwan. Ketika seorang ilmuwan menutup laboratorium-nya dan pulang ke rumahnya, dan mencium istri dan anak-anaknya, ilmuwan tersebut tidak mempercayai bahwa hanya ada hormon, neuron, dan molekul.

Tanggapan B: Tidak ada fakta ilmiah yang menunjukan bahwa: tidak ada yang ‘benar-benar ada’ kecuali telah dibuktikan oleh fakta ilmiah. Atau dengan kata lain, ‘sesuatu’ tidak dapat dikatakan ‘tidak nyata’ kalau hanya berdasarkan ‘tidak ada bukti ilmiah’ dari sesuatu itu. Hal bertentangan dengan pendapat (asumsi) dari pihak keberatan pada poin 2 yaitu: bahwa segala sesuatu tidak nyata kalau tidak ada bukti ilmiahnya. Namun sayangnya tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pendapat (asumsi) dari pihak keberatan itu; karena ketidak-beradaan surga tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Pendapat dari pihak keberatan tersebut secara sederhananya merupakan suatu asumsi (suatu lompatan kesimpulan) – yang sebenarnya, pendapat seperti itu suatu kesimpulan yang sewenang-wenang, dan kesimpulan itu disebabkan karena nafsu dari pihak keberatan untuk menyempitkan batas-batas realitas menjadi batas-batas metodologi ilmiah. Oleh karena itu kesimpulan yang dikemukakan oleh pihak keberatan tersebut merupakan keputusan yang berdasarkan ‘keinginan’, ‘kehendak’ dari pihak itu sendiri, bukan secara intelektual.

Keberatan 3: Surga ternyata adalah suatu prinsip berpikir pengharapan. Jika surga tidak ada, kita perlu menciptakannya. Karena surga itu adalah “mimpi yang diperlukan”.

Tanggapan A: Konsep Surga yang ada di dalam Kitab Suci bukan disesuaikan dengan impian atau keinginan dalam benak kita. Konsep Surga itu tersebut suatu konsep yang tidak mementingkan atau diperuntukkan untuk suatu pribadi, kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri, tanpa pamrih atas pengorbanan yang telah dilakukan; konsep yang bukan dimotivasi karena keinginan pengesahan diri sendiri melainkan karena telah matinya rasa egoisme; konsep yang lebih condong kekudusan daripada pengampunan dosa, konsep yang lebih ke adorasi dan penyembahan kepada Allah tanpa mempedulikan keinginan diri sendiri atau bukan didorong karena memenuhi hasrat diri sendiri; konsep yang lebih ke arah cinta kasih secara spiritual, daripada cinta kasih secara fisik.

Tanggapan B: Detil bentuk dan simbol mengenai Surga tidak sesuai dengan gambaran yang diperkirakan oleh orang banyak pada umumnya. Walaupun kita meneliti dan memperhatikan semua detil mengenai Surga di dalam Kitab Suci, atau detil-detil yang diberikan oleh para Santo, Mistikus, atau kesaksian kontemporer dari orang-orang yang mengalami keadaan hampir-mati, dalam semua kasus pengalaman akan Surga semuanya menyatakan ke-tercengang-an dan “diluar-perkiraan”.

Tanggapan C: Walaupun ada kesesuaian antara keinginan lahiriah kita dengan konsep Surga, kesesuaian tersebut dapat dijelaskan sebagai Kehendak Allah mengarahkan keinginan lahiriah kita agar menuju ke Surga; bukan kebalikannya seperti kita yang mendesain Surga untuk diri kita sendiri.

Tanggapan D: Ada kekeliruan pada pemikiran dari pihak yang keberatan. Ia berargumen: Jika surga itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu); dan kita benar-benar (harus) mempercayai ‘suatu’ surga itu; oleh karena surga itu sebenarnya tidak ada. Inilah salah satu contoh dari kekeliruan dalam menegaskan suatu konsekuen. Sama halnya seperti berargumen bahwa jika bumi itu tidak ada, kita harus mau mempercayai ‘suatu’ surga itu (karena kita sangat membutuhkan dan menginginkan ‘suatu’ surga itu);

Tanggapan E: Jika suatu akibat tidak dapat melebihi penyebabnya, bagaimana bisa suatu konsep surga yang sempurna dan indah seperti yang kita percayai, berasal dari kita sebagai manusia yang memiliki pikiran tidak sempurna, dapat tersesat, dan terbatas?

Keberatan 4: Seperti yang dikisahkan di kitab Wahyu 21:21, terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas. Dari segi bentuk atau struktur konsep surga merupakan suatu hal mistik atau legenda, merupakan versi lain dari happy hunting grounds (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan suku Indian asli amerika) atau Elysian Fields (konsep tempat setelah kematian menurut kepercayaan Yunani).

Tanggapan A: Keberatan ini melakukan pemisahan gambaran dari substansi yang sebenarnya. Gambaran dalam Kitab Suci bukanlah untuk dipahami secara harfiah (literal). Ketidakpercayaan akan konsep surga dengan cara keliru yaitu memahami suatu gambaran secara harfiah adalah suatu kebodohan, seperti hal tidak mempercayai kebenaran bahwa bulan itu ada karena keliru memahami “manusia” secara harfiah (manusia hidup di bumi, bukan di bulan; sehingga bulan tidak ada) dalam baris “manusia di atas bulan”.

Tanggapan B: Keberatan ini secara tidak langsung mengemukakan bahwa faktanya semua agama dan budaya mempunyai suatu ‘surga’ menurut kepercayaan masing-masing, suatu yang dapat dijadikan ‘bukti untuk’, bukan berlawanan, melainkan kenyataannya. Jika semua orang (atau hampir semua orang) mempercayai suatu kisah, maka hanya orang yang angkuh yang mau menyimpulkan kisah tersebut cenderung tidak benar daripada ‘mungkin’ benar.

Tanggapan C: Pemahaman surga berdasarkan Kitab Suci berbeda dari pemahaman yang berdasarkan kepercayaan populer lainnya, yang menurut Kitab Suci bahwa surga tidak mempunyai daya tarik duniawi, atau pemenuhan hasrat pribadi.

Keberatan 5: Percaya akan surga berarti pelarian.

Tanggapan A: Jawaban yang paling mudah untuk menanggapi tuduhan sebagai pelarian adalah seperti pertanyaan C.S. Lewis: “Siapa yang paling lantang menentang “pelarian”? Pengekang.”

Tanggapan B: Apakah disebut pelarian bagi bayi yang belum lahir membayangkan tentang kehidupan nanti setelah ia lahir? Apakah disebut pelarian bagi pencarian seorang peziarah akan tujuan hidupnya yang suci? Apakah disebut pelarian bagi seorang pelaut yang memimpikan sebuah daratan karena dia lelah terapung lolos dari kapalnya yang karam? Apakah disebut pelarian bagi sebuah benih yang akan berubah menjadi bunga? Ulat bulu yang akan menjadi kupu-kupu? Surga bukan sebuah pelarian karena surga dipenuhi pemenuhan semua cita-cita yang baik di dunia.

Tanggapan C: Surga bukanlah pelarian, karena surga itu nyata. Suatu konsep dikatakan sebagai “pelarian” hanya jika konsep itu sebuah kebohongan, tidak nyata. Tujuan mengatakan surga sebagai pelarian adalah wujud dari paham ateis yang tidak berani menyatakan dengan berani dan lantang penolakannya. Oleh karena itu jika surga adalah nyata, maka yang disebut pelarian adalah mereka yang tidak memikirkan mengenai surga itu. Karena surga itu adalah suatu kenyataan yang perlu dituju dan dicapai.
Namun pertanyaan yang muncul pertama kali mengenai suatu konsep bukanlah dikarenakan ‘apakah konsep itu suatu pelarian?’ melainkan ‘apakah konsep itu nyata?’. Bahkan jika memang suatu konsep itu adalah konsep pelarian, hal itu tidak menjadikan konsep itu suatu yang tidak nyata. Contohnya: konsep sebuah terowongan bawah tanah di penjara, sudah pasti konsep itu adalah pelarian (untuk melarikan diri), tetapi hal itu bukan menjadikan konsep tersebut tidak nyata.
Orang hanya dapat mempercayai suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep tersebut benar, dan hanya akan menolak suatu konsep jika secara jujur akal budinya menilai konsep itu tidak benar, tidak ada hubungannya dengan pelarian. Label pelarian itu sendiri merupakan suatu pelarian; karena orang yang menggunakan label tersebut sebenarnya berusaha untuk lari dari tanggung jawabnya untuk membuktikan suatu konsep salah seperti menurut orang tersebut.

Keberatan 6: Surga merupakan suatu pengalihan. Tidak peduli apakah konsep surga itu benar atau tidak, yang pasti konsep itu mengalihkan kita dari tugas kita saat ini.

Tanggapan A: Surga bukan suatu pengalihan jika surga itu adalah nyata. Karena surga jika surga nyata, dan jika surga merupakan tujuan akhir kita, maka tugas kita saat ini seharusnya adalah mengarahkan kita ke tujuan akhir kita, tujuan utama kita, yaitu surga. Itu makanya mengapa kita diingatkan untuk “carilah dahulu Kerajaan Allah” (Matius 6:33) dan jangan pikiran kita “semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”, karena “kewargaan kita adalah di dalam sorga” (Filipus 3:19-20).

Tanggapan B: Kepedulian akan hal-hal surgawi tidak membuat berkurangnya nilai dan makna kepedulian akan hal-hal duniawi. Sama halnya seperti seorang ibu yang sedang mengandung mempedulikan masa depan bayinya kelak, ibu itu bukannya tidak peduli atau teralihkan perhatiannya dari keadaan bayi saat ini. Kontrasnya: jika ibu hamil itu mempercayai bahwa bayi yang dikandungnya itu akan mati nanti ketika lahir, atau jika ibu itu menginginkan bayinya mati (seandainya ibu itu berniat melakukan aborsi), maka kemudian kehidupan bayi tersebut lagi diperhatikan dan ibu itu akan berhenti mempedulikan masa depan bayinya.

Tanggapan C: Sepanjang sejarah manusia, kita dapat melihat bahwa mereka-mereka yang sangat percaya akan adanya surga lah yang dapat membuat hal-hal baik yang besar dan hebat bagi dunia, termasuk Yesus Kristus sendiri. Kebalikan dari Stereotip dari para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang akan berkhotbah mengenai kesuraman dan kehancuran dan menantikan hari kiamat dimana orang banyak akan mati sebagai imbalan karena menolak mereka (para fanatik suatu agama yang berpandangan-menyimpang), para fanatik tersebut bukannya berkotbah mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari para umat pendengarnya.

Keberatan 7: Surga tidak relevan dengan keadaan di dunia saat ini. Kita dapat menyukai atau membenci dunia ini, tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau ketidakpercayaan akan apa yang akan didapati setelah dunia ini.

Tanggapan: Surga bukan hanya relevan melainkan sangat relevan dengan keadaan di dunia masa sekarang; dan sebenarnya surga dimulai sejak saat ini. Sukacita surgawi dapat mulai dirasakan pada masa sekarang bagi orang yang percaya, karena sukacita itu pada dasarnya adalah pengalaman kesadaran orang-orang percaya Kristus benar-benar hadir, dan telah dimulai pada saat ini juga, seperti yang telah Dia janjikan (Matius 28:20; Yohanes 15:9-11). Bahkan jika kita tidak sadar akan sukacita itu, sukacita itu tetap berada; kehidupan surgawi bukanlah sesuatu “gaya hidup” yang abstrak melainkan nyata mendarah daging, seperti getah pokok anggur yang mengalir hingga ke cabang-cabangnya (Yohanes 15:4-5).
Kenyataannya, jika hidup surgawi tidak menjadi bagian kita pada saat ini, maka untuk selamanya tidak akan menjadi bagian kita, surga adalah dimana Allah hadir. Allah lah yang menentukan keberadaan surga, bukan sebaliknya. Allah “memenuhi” surga, seumpama suatu pergelaran seni memenuhi keseluruhan panggung pentas. Surga bukan membatasi, mengekang Allah. Jika saat ini Allah hadir dalam jiwa kita, melalui iman, maka hidup surgawi ada di hidup kita dan berlangsung pada saat ini, meskipun terkesan sangat kecil dan tidak kelihatan namun itu adalah “biji sesawi” surgawi (Matius 13:31-32). Surga atau Kerajaan Allah adalah hal sangat penting yang diwartakan oleh Yesus, menjadi topik utama dan diajarkan berulang kali melalui banyak perumpamaan – “Kerajaan Surga”. Surga adalah “mutiara yang sangat berharga” (Matius 13:45-46), sesuatu yang menjadikan semua keduniawian menjadi sangat kecil dan tidak berharga (Markus 8:36). Namun surga itu pemberian yang gratis! (Wahyu 22:17). Apakah ada hal lain selain surga yang lebih “relevan” atau dapat membuat perubahan yang lebih besar? Bagi umat Kristen, pewartaan tentang surga itu seperti seorang pengemis yang kelaparan mengatakan kepada sesama pengemis yang kelaparan lainnya bahwa di sana ada makanan gratis.

Keberatan 8: Surga itu seperti uang suap. Surga membuat agama menjadi mementingkan diri sendiri. Mereka yang percaya surga bekerja untuk upah mereka di surga, bukan untuk cinta kasih murni. Dengan demikian mereka itu adalah berkarya karena upahan.

Tanggapan A: Apakah yang dilakukan Romeo untuk menikahi Juliet karena upahan? Apakah yang dilakukan suatu tim yang bekerja sama sekuat tenaga untuk menang adalah karena upahan? Apakah bagi pelajar yang ingin menguasai bahasa asing agar dapat lancar membaca dan menulis karena menantikan upahan? Tidak! Karena tidak semua penghargaan adalah berupa upahan melainkan suatu kewajaran dan hak. Mereka (yang disebut di atas sebagai contoh) tidak bertindak untuk melakukan perbuatan baik karena dipicu secara rekayasa, seperti yang dilakukan tempat pendidikan yaitu memberikan nilai, poin, grade; melainkan tindakan itu sendiri yang berlangsung dalam kesempurnaan.

Keberatan 9: Surga terlalu dogmatis. Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu mengenai surga? Jika “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia”, maka surga itu belum masuk ke dalam hati kita. :Konsep Surga itu dapat dipahami hanya dengan iman atau spekulasi, bukan dengan pengetahuan.

Tanggapan A: Pengetahuan Analogi dan Analogi-Negatif adalah Pengetahuan. Mengetahui rupa ‘sesuatu hal’ itu bagaimana, dan mana yang bukan; adalah suatu Pengetahuan.

Tanggapan B: “Hanya dengan iman atau spekulasi”? Tetapi iman bukanlah fantasi; iman adalah pengetahuan. Iman adalah penerimaan fakta/data dengan penerangan ilahi. Dan Spekulasi dapat digolongkan menjadi pengetahuan juga, jika spekulasi itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Penalaran secara psikologi dapat mengarahkan kita ke kebenaran, secara pasti – kecuali jika kita seorang yang berpandangan skeptis.

Keberatan 10: Konsep Surga terlalu egoistik. Apakah tidak disebut arogan jika berpikir bahwa kita diciptakan untuk menjadi mempelai secara rohani kepada Allah?

Tanggapan: Allah lah yang mengatakan itu, bukan kita. Memang hal itu sangat luar biasa. Allah sangat luar biasa.

Keberatan 11: Konsep Surga itu terlalu mementingkan diri sendiri. Surga merupakan konsep kebahagiaan yang tidak terbatas dan abadi. Apa yang membuat ego kita yang kecil begitu penting atau ego kita itu pantas mendapat kebahagiaan surgawi?

Tanggapan: Konsep Surga tidak mementingkan diri sendiri dan melupakan diri sendiri – dalam tingkatan yang sangat tinggi sehingga para mistikus sering menggunakan bahasa yang seolah-olah bermakna bahwa diri-sendiri manusia adalah ilusi atau sesuatu yang perlu dihancurkan. Hal demikian adalah kesalahpahaman atau terlalu berlebihan – karena yang dimaksud adalah egoisme (mementingkan diri sendiri), bukan ego (diri), egoisme lah yang tidak baik, ilusi, dan perlu dihancurkan secara total. Namun kesalahpahaman ini adalah yang berawal dari kesalahpahaman kebenaran: bahwa di surga pada setiap orang secara mental mereka berada di luar dirinya sendiri dalam keadaan tidak-menyadari diri sendiri. Semua orang di situ sangat mengasihi Allah dan sesama, dan mereka tidak memperhitungkan diri sendiri.

Keberatan 12: Konsep Surga itu terlalu tidak mementingkan diri sendiri, dalam kasus tersebut – terlalu spiritual, terlalu bersifat mistik untuk selera manusia biasa.

Tanggapan: Jawaban untuk keberatan ini adalah sisi lain dari paradoks yang terbesar sepanjang sejarah manusia. Paradoks yang dimaksud adalah “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”. Dengan kata lain , cinta kasih yang tidak memperhitungkan diri sendiri adalah suka cita kita yang terbesar. Ini lah kita yang sebenarnya karena kita diciptakan sesuai gambaran Allah dimana pada essensinya, pada dasarnya adalah memberikan cinta-kasih yang memberikan dirinya sendiri. Tanggapan untuk keberatan nomor 11 adalah pemenuhan diri surgawi hanya dapat dicapai dengan melalui penyangkalan diri sendiri; dan tanggapan untuk keberatan nomor 12 adalah dengan penyangkalan diri sendiri akan membawa kita kepada pemenuhan diri surgawi. Ini adalah paradoks yang paling aneh dan paling mudah diuji kapan saja, dan dimana saja, sepanjang hidup.

bersambung ke bagian 2…