Apa itu Keselamatan

Keselamatan adalah (1) suatu kenyataan yang  menjadi latar belakang banyak frasa di Kitab Suci yang berbeda-beda dan terkadang membingungkan, (2) salah satu dari dua kemungkinan dari suatu akhir, (3) Kebahagiaan kekal, dan (4) dapat berarti secara bersamaan “pembenaran” dan “pengudusan”.

Perbedaan Gambaran dan Istilah dalam Kitab Suci mengenai Keselamatan

Seperti yang telah ditulis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa banyak gambaran dan frasa (ungkapan) mengenai Keselamatan, ada beberapa dalam Injil, dan ada juga yang tidak tertulis langsung ‘keselamatan’ (Yesus sering menggunakan penggambaran untuk mengajarkan tentang keselamatan, yang sering Yesus sebut sebagai ‘Kerajaan Surga’, dalam perumpamaan-Nya). Istilah-istilah (terminologi) yang digunakan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Di kalangan Teolog Protestan terkenal menggunakan istilah ‘lahir kembali’ (regeneration), sedangkan di kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah ‘rahmat pengudusan’ (sanctifying grace), yang keduanya merupakan hal yang sama. Dan selain itu masih ada lagi istilah-istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ‘Keselamatan’. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, sama halnya seperti memperdebatkan istilah apa yang gunakan  antara ‘jaket pelampung’ dan ‘alat pengapung’ ketika ada orang membutuhkan pertolongan karena di tengah laut.

 Dua Jalan

Satu hal yang melatarbelakangi semua istilah dan gambaran yang berbeda-beda itu adalah bahwa ada dua penghujung yang menanti pada akhir jalan hidup manusia. Kitab Mazmur 1 meringkaskan; Ada satu jalan menuju Allah dan berakhir pada kebahagiaan, dan selain itu ada jalan lain yang arahnya menjauhkan manusia dari Allah dan berakhir pada kebinasaan. Dalam dunia fisik, semua jalan tidak dapat menuju kepada satu tempat. Kita tidak dapat jalan dari Jakarta ke Jayapura dengan bergerak dari arah timur ke barat, hanya dari arah barat ke timur yang benar. Kita dapat menyimpulkan bahwa semua A adalah C dari pendasaran alasan bahwa semua A adalah B dan semua B adalah C; kita tidak dapat mendapat kesimpulan lain berdasarkan alasan tersebut. Atau dengan kata lain, kita tidak dapat mencapai tujuan keadilan dan kebenaran dengan melalui cara yang salah seperti mencuri, dan kita juga tidak dapat mencapai tujuan ketidak jujuran apabila kesetiaan dan ketaatan dari kesadaran kita.

Dunia jasmani, dunia intelektual, dan dunia moral semuanya mempunyai sasaran pencapaian yang tersusun sesuai dengan dunianya masing-masing, dengan batasan yang jelas. Sasaran tujuan pencapaian tiap dunia itu bukanlah dirancang tau dibuat oleh kita, tapi untuk dicari dan ditemukan oleh kita. Jika hidup kita sesuai dengan jalan yang benar, maka kita akan berhasil; jika tidak, kita akan gagal. Begitu juga halnya dalam keagamaan. Jika memang ada Allah yang sebenarnya (dan jika ada agama yang mengatakan bahwa tidak ada Allah yang sebenarnya, agama itu adalah suatu kebohongan dan kepalsuan), maka pastinya ada jalan yang mengarahkan kepada Allah yang sebenarnya dan ada juga jalan lain yang menjauhkan kepada Allah. Jadi gambaran yang sangat populer yang menyatakan bahwa semua jalan pada akhirnya akan bertemu pada puncak gunung adalah tidak benar. Bukan hanya ketidakbenaran yang sederhana, tapi kesalahan yang dapat menyebabkan malapetaka. Kebohongan itu mengorbankan jiwa. Ada beberapa jalan yang mengarah  ke bawah, bukannya ke atas.

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang yang telah mempelajari secara luas dan dalam mengenai tingkah laku manusia, mulai dari Aristoteles hingga Freud, memberikan catatan tersendiri bahwa kita bertindak untuk tujuan akhir yang ingin dicapai; dan juga itulah satu-satunya akhir dan tujuan yang selalu memotivasi semua orang. Jadi alasan kenapa Keselamatan itu penting karena Keselamatan sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan yang dibahas disini bukan dalam arti dangkal, subjektifitas, dan realitifitas pada pengertian moderen, yang terkesan kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang dimaksud Kebahagiaan tersebut adalah dalam arti jaman dahulu akan pengertian “Terberkati”: nyata, keberhasilan pada akhir perjalanan, kesempurnaan manusia, kesuksesan yang sebenarnya, kesehatan jiwa. Terberkati adalah kepuasaan yang sebenarnya dari keinginan yang benar, bukan hanya sekedar kepuasaan atas perpenuhinya suatu keinginan sesuai  dengan yang kita harapkan, atau Terberkati juga bukan perasaan kepuasan subjektif. Dalam pengertian jaman dahulu, pemahaman mendalam mengenai kebahagiaan, Keselamatan sama dengan Kebahagiaan Kekal.

Iman dan Perbuatan

Munculnya perdebatan dan adanya perbedaan pemahaman mengenai Keselamatan dimulai oleh Reformasi Protestan dan memisahkan diri dari Gereja. Perdebatan mengenai hal Keselamatan oleh Protestan dan Katolik pada saat itu terlihat bahwa adanya perbedaan pengajaran injil, dua agama, dua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Apa yang saya lakukan agar dapat selamat? Jawaban untuk pertanyaan itu dari pihak Katolik, bahwa untuk selamat anda perlu melakukan dua hal secara bersamaan yaitu percaya (iman) dan melakukan pekerjaan yang baik (perbuatan). Sedangkan oleh Luther, Calvin, Wycliffe, dan Knox (pihak Protestan) berkeras bahwa hanya percaya (iman) yang menyelamatkan. Perdebatan ini telah berlangsung dari 450 tahun yang silam. Tetapi ada ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa secara prinsip (esensinya) perbedaan ini dikarenakan kesalahpahaman dan dari bukti-bukti tersebut telah dimulai usaha untuk mencari penjelasannya.

Kedua pihak baik dari pihak Katolik maupun Protestan, menggunakan istilah-istilah penting yaitu Iman dan Keselamatan, tetapi dalam pemahaman yang berbeda.

  1. Katolik menggunakan istilah Keselamatan untuk merujuk kepada keseluruhan proses, mulai dari awal munculnya kepercayaan manusia kepada Allah, kemudian melalui hidup Kristiani karya cinta di bumi, hingga akhirnya di Surga. Bagi Luther, Keselamatan yang dia maksud adalah langkah inisiasi (langkah awal) – seperti di kisah Nabi Nuh; memasuki bahtera Nuh agar selamat – bukan merujuk ke keseluruhan perjalanan.
  2. ‘oleh Iman’ yang dimaksud oleh Katolik adalah salah satu dari tiga yang diperlukan “Keutamaan Teologi” (iman, kasih, dan pengharapan), iman merupakan keyakinan intelektual. Bagi Luther, iman berarti menerima Yesus dengan sepenuh hati dan jiwa.

Dengan demikian sejak Katolik menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih besar dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih kecil, di lain pihak Luther menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih kecil dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih besar; oleh karena itu pemahaman yang mengatakan “kita diselamatkan hanya oleh iman” sudah sepatutnya tidak menerima oleh kalangan Katolik, sedangkan diterima oleh Luther.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Keselamatan bukan hanya mencakup iman, sama halnya seperti sebuah tumbuhan yang bukan hanya terdiri dari akar. Seumpamanya tumbuhan hidup terdiri dari akar, batang, dan buah; Keselamatan terdiri dari iman, harapan, dan kasih. Sedangkan Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak dapat membeli (mendapatkan upah) Keselamatan, semua yang perlu diperlukan dan semua yang dapat dilakukan agar selamat adalah menerima Keselamatan itu, menerima Sang Penyelamat, dengan beriman.

Kedua pihak mengatakan kebenaran. Dan karena kebenaran tidak dapat berlawanan dengan kebenaran, dua sisi itu sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan pada pertanyaan mengenai Keselamatan. Penaksiran mungkin terdengar terlampau optimistik, tetapi apa yang dikemukakan secara esensi oleh teolog-teolog Katolik dan Lutheran pada Pernyataan Bersama secara terbuka mengenai Dasar Kebenaran ketika Paus Paulus Yohanes II mengatakan hal yang serupa kepada Uskup Lutheran Jerman; kedua pihak  tercengang dan gembira.

Sama halnya kesepahaman antara Katolik dan Protestan walaupun terlihat adanya ketidakcocokan merupakan bukan hal aneh. Karena keduanya menerima data masukan yang sama, yaitu Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan dua   pokok hal mengenai Keselamatan: Protestan menitik beratkan pada Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, yang bukan didapat dari perbuatan baik dengan taat terhadap hukum, dan Katolik memahami bahwa iman merupakan awal/pencetus/pendorong perbuatan baik dari kehidupan kristiani, yang mengarahkan perbuatan tersebut menjadi benar (karena dengan Allah perbuatan manusia dibenarkan/dibetulkan/diarahkan menjadi benar), jika perbuatan itu nyata maka akan mengarahkan “pengudusan” orang tersebut (menjadi bersih, kudus, dan baik), itulah “Iman tanpa Perbuatan adalah mati

Sehubungan dengan point terakhir, Pengkotbah Presbyterian Skotlandia George MacDonald pernah menulis bahwa pemahaman keselamatan oleh Yesus merupakan keselamatan dari hukuman atas dosa kita adalah pemahaman yang jahat, pemahaman yang egois, dan pemikiran yang dangkal. Yesus disebut Penyelamat karena dia mau menyelamatkan kita dari dosa kita.

Ajaran resmi dari pemahaman Katolik (untuk membedakan dengan pemahaman yang salah) menyatakan bahwa Keselamatan adalah suatu pemberian cuma-cuma (tanpa syarat) yang kita peroleh tanpa harus melakukan sesuatu.

Dekrit tentang pembenaran yang disahkan oleh Konsili Trente pada tanggal 13 Januari 1547, dimaksudkan sebagai penolakan posisi para reformator sekaligus penjelasan tentang pembenaran dan peranan iman di dalam pembenaran. Mengenai pembenaran, Trente menegaskan (sama seperti pendapat para reformator; Luther) bahwa pembenaran sungguh-sungguh merupakan karya Allah demi keselamatan manusia, tetapi Konsili tidak menerima kesimpulan bahwa manusia sama sekali pasif dan tidak turut serta dalam proses pembenaran. Manusia juga terlibat secara aktif sebab ia menerima hadiah dari Allah itu secara bebas. Dengan kata lain, ia juga bisa menolaknya (bdk. Dekrit Konsili Trente no. 1929). “Siapa yang percaya dan dibaptis diselamatkan dan siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16).

Dan mengenai iman, Konsili sepaham dengan kaum Skolastik (Thomas Aquinas) yang mengerti iman sebagai persetujuan intelek kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Iman itu perlu demi pembenaran, tetapi iman itu saja tidak cukup. Pembenaran tidak menjadi sola fide, melainkan iman harus dilengkapi dengan harapan dan cinta.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa “keselamatan adalah pemberian cuma-cuma” untuk diterima dengan iman dan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang dimaksud adalah “kasih”, dan kasih berarti “tindakan karena cinta”, bagi orang Kristen kasih (agape) bukanlah suatu perasaan, seperti berupa kata cinta (eros, storage, philia); karena jika kasih itu yang dimaksud hanya berupa perasaan maka kasih itu tidak dapat diperintahkan (oleh Yesus: kasihilah sesamamu).

Bermegah dalam Pengharapan

Mengenai “dunia baru dan surga baru” Konsili Vatikan II menyatakan:

Kita tidak mengetahui, kapan dunia dan umat manusia akan mencapai kepenuhannya; tidak mengetahui pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan yang telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita diberi ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi yang baru, kediaman keadilan dan kebahagiaan, yang memenuhi, bahkan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang pernah timbul dalam hati manusia (GS 39).

Akhirat oleh Konsili dilihat sebagai “penyelesaian” seluruh sejarah dunia, dengan segala cita-cita dan kerinduannya. Memang tidak diketahui cara dan waktunya, tetapi diketahui bahwa semua itu akan datang dari Allah. “Dunia ini dengan keinginannya akan lenyap” (1Yoh 2:17; lih. 1Ptr 1:24; 4:7), tetapi Allah akan menciptakan dunia yang baru. Dunia baru itu akan mengatasi segala cita-cita dan harapan kita: “Yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: itulah yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Pengharapan kita tidak berdasarkan keinginan kita sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kasih Allah akan melampaui segala harapan dan dugaan kita. Maka yang pokok adalah iman akan kebaikan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia, kita juga beroleh jalan masuk – oleh iman – kepada kasih-karunia ini. Di dalam kasih-karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita malah juga bermegah dalam kesengsaraan” (Rm 5:1-2). Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Keterarahan kepada Kerajaan Allah mendasari pengharapan dan kemantapan kita. “Ia yang memanggil kamu adalah setia” (1Tes 5:24). Kesetiaan Tuhan merupakan dasar pengharapan kita. Yang diimani adalah Tuhan, bukan perkembangan dunia, maka segala perubahan dan ketidakjelasan tidak dapat menggoncangkan iman dan pengharapan kita.

Dunia baru tidak hanya memenuhi pengharapan orang perorangan, tetapi kecenderungan dan dinamika dunia seluruhnya. Manusia tidak dapat hidup dan berkembang lepas dari dunia sekitarnya, dan manusia juga tidak dapat beriman sendirian, tetapi dalam Gereja. Maka dengan pengharapannya akan Kerajaan Allah manusia menempatkan diri dalam gerakan Gereja dan dunia. Allah dan Kerajaan-Nya lebih besar dan lebih luas daripada keinginan hati orang perorangan. Penciptaan baru lebih besar dan lebih agung daripada yang pertama. Maka janganlah hidup orang individu dipakai sebagai ukuran bagi Kerajaan Allah. Yang direncanakan Tuhan dan yang dalam kasih-Nya yang besar mau dilaksanakan-Nya itulah pedoman bagi iman dan pengharapan orang.

Pengharapan akan Kerajaan tidak menghilangkan segala pertanyaan dan kesulitan. Manusia harus tetap berjuang dalam dunia ini. Tetapi kita tidak berjuang tanpa motivasi, atau tanpa pengharapan. “Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Dan “Roh itu, bersama dengan roh kita, memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14). Tuhan sendiri meletakkan kerinduan itu dalam hati kita. Karena Roh-Nya, kita terus-menerus ditarik ke arah rumah Bapa. Itu bukan suatu kerinduan kosong, melainkan gerakan hati yang memampukan kita bertahan dalam perjuangan di dunia ini. Pegangan manusia dalam perjalanan hidup di dunia ini ialah hatinya sendiri, tempat ia bertemu dengan Tuhan yang memanggilnya. Itulah daya-tarik dan dinamika hati, yang hanya diketahui oleh Allah dan oleh orang yang dipanggil-Nya. “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan karena Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah wafat bagi kita, supaya kita, entah masih hidup entah sudah meninggal, hidup bersama-sama degan Dia. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan ini” (1Tes 4:18; 5:10).

Akhir Zaman

Bagi manusia perorangan kematian merupakan akhir hidup di dunia ini. Akan tetapi, seluruh dunia pun akan mati. Itu disebut “akhir zaman”. Sebagaimana manusia perorangan baru mencapai tujuan hidupnya dalam pertemuan dengan Allah, begitu juga dunia. Dengan bagus sekali Paulus melukiskan hal itu dalam Rm 8:19-26:

“Dengan sangat rindu makhluk-makhluk menantikan anak-anak Allah dinyatakan. Sebab makhluk-makhluk ditaklukkan kepada kesia-siaan – bukan dengan sukarela, tetapi terpaksa ditaklukkan – namun tidak tanpa pengharapan. Karena juga makhluk-makhluk akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, menuju ke kebebasan kemuliaan anak-anak Allah. Jadi, kita mengetahui bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sakit bersalin sampai sekarang. Tetapi tidak hanya itu. Kita sendiri pun, yang telah menerima karunia-sulung Roh, kita sendiri dalam batin juga mengeluh dan menantikan pengangkatan-sebagai-anak, pembebasan tubuh kita. Sebab baru dalam pengharapan kita diselamatkan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. Sebab siapa masih mengharapkan, apa yang dilihat? Tetapi, bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Begitu juga Roh membantu dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan.”

Yang mencolok adalah kata “mengeluh”. Makhluk-makhluk mengeluh, kita mengeluh, Roh Kudus pun “berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan”. Keluhan ini dihubungkan dengan “menantikan” dan “pengharapan”. Dari satu pihak kita sadar bahwa dunia ini seluruhnya fana dan bersifat sementara, tetapi dari pihak lain kita mengetahui juga bahwa hidup ini menjurus ke hidup yang sejati, yakni “pengangkatan sebagai anak”, sebab hidup yang sejati ialah “mengenal satu -satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” (Yoh 17:3). Dan “apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Mengenal Allah, dan mengenal-Nya sungguh-sungguh, “muka dengan muka” (1Kor 13:12), hanya mungkin kalau kita diperbolehkan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

Yang akan masuk ke dalam dunia Allah, bukan hanya kita, melainkan seluruh ciptaan. Sebagaimana makhluk-makhluk mengambil bagian dalam kedosaan manusia, begitu juga dalam pengharapan. Makhluk-makhluk masih berada dalam keadaan kemalangan. Orang beriman sudah diselamatkan, “telah menerima karunia-sulung Roh” , namun semua sama-sama mengeluh dan menantikan. Sebab kita memang diselamatkan, tetapi “baru dalam pengharapan”.

Pada ayat 15 Paulus berkata, “kamu telah menerima Roh pengangkatan-sebagai-anak”, tetapi hanya “sebagai jaminan untuk semua yang disediakan bagi kita” (2Kor 1:22; 5:5). Dengan “pembebasan tubuh kita” baru akan tercapai “kebebasan kemuliaan anak-anak Allah”, dan tidak hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh ciptaan, yang juga “akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan”. Keselamatan yang masih tersembunyi sudah merupakan dinamika hidup, karena pengharapan, bagi seluruh ciptaan. Yohanes berkata, “Sekarang kita sudah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita mengetahui, bahwa, apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Pada saat itu “Allah menjadi semua dalam semua” (1Kor 15:28). Segala-galanya menuju Allah, tetapi menurut suatu proses historis, langkah demi langkah. Maka dilihat dari sudut dunia, pertemuan penuh dengan Allah disebut “akhir zaman”. Tetapi, “selama kita mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan; sebab hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:6).

Di dunia ini hidup kita masih bersifat perjuangan. Kita memang merasa pasti mengenai tujuan, tetapi sering ragu-ragu mengenai jalannya. Lebih kerap lagi, ketidakjelasan itu menjadi alasan kita menyimpang dari jalan dan tidak lagi terarah kepada pertemuan dengan Allah. Justru karena kepenuhan ini adalah tahap yang terakhir, maka mudah hilang dari pandangan. Orang lebih terpikat oleh yang sekarang terjadi di sekitarnya daripada oleh yang akhirnya dituju. Memang benar bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun, tetapi praktiknya sulit.

“Tuhan-lah tujuan sejarah manusia, titik sasaran segala dambaan sejarah dan kebudayaan manusia; kita yang dihidupkan dan dihimpun dalam Roh-Nya, berziarah menuju pemenuhan sejarah manusia” (GS 45). Maka yang paling penting dalam hidup sekarang ialah mencari keterarahan kepada Tuhan. Pada akhir Kitab Suci dikatakan: “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang awal dan Yang akhir” (Why 22:13). Dunia mulai dengan Kristus, “yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15), dan sejarah dunia akan mencapai tujuannya bila Kristus “menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan” (1Kor 15:24).

Antara awal dan akhir, antara alfa dan omega, ada jarak yang jauh. Bukan hanya jarak, melainkan juga perbedaan yang dahsyat. Dengan tegas Konsili Vatikan II berkata, “kemajuan duniawi harus dibedakan dengan cermat dari pertumbuhan Kerajaan Kristus” (GS 39). Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah bukanlah hasil evolusi atau perkembangan dunia. Gereja tidak menolak secara prinsipiil ajaran teori evolusi, tetapi Kerajaan Allah janganlah dilihat sebagai puncak perkembangan dunia. Seperti halnya kebangkitan adalah karya Allah, dan dengan sewajarnya disebut “ciptaan baru” (lih. 2Kor 5:17), begitu juga akhir zaman. Yohanes menyebutnya bukan hanya “bumi yang baru”, tetapi juga “surga yang baru” (Why 21:1; lih. juga 2Ptr 3:13), sebab “yang duduk di atas takhta, berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (ay. 5). Ciptaan pertama berkembang secara evolutif. Ciptaan baru ialah “Yerusalem yang baru, yang turun dari surga, dari Allah” (ay. 2).

Dunia baru bukanlah pertama-tama pembaruan dunia, melainkan pertemuan seluruh ciptaan dengan Tuhan. Apa yang terjadi dengan manusia dalam kebangkitan, akan menjadi kenyataan dalam seluruh ciptaan: Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya dalam makhluk-makhluk-Nya. Pertemuan dengan Tuhan adalah pertemuan dalam cinta kasih. Maka tidak mungkin menuju Kerajaan Allah, kalau tidak dikembangkan lebih dahulu semangat cinta kasih, yang diwujudnyatakan dalam pelayanan. Itulah sebabnya di dunia ini sikap Gereja yang pokok adalah pelayanan.

Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Mengenai perayaan Ekaristi St. Paulus berkata: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Ekaristi merupakan “kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus” (SC 47), dan “kurban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus itu, yang dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi” (PO 2). Dalam Ekaristi, Gereja “secara tak berdarah dan sakramental” mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa. Tetapi akan datang saatnya ketika orang dipanggil mengikuti jejak Kristus, bukan hanya secara sakramental, melainkan dengan sungguh menghadapai “musuh yang terakhir, ialah maut” (1Kor 15:26). Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus. Sebab “jika kita mati bersama Kristus, kita juga akan hidup bersama Dia” (2Tim 2:11). Itu terjadi dengan sakramen pengurapan orang sakit.

Sejarah Perkembangannya

Pengurapan orang sakit dalam dunia Perjanjian Lama biasa sekali, dan dimaksudkan sebagai obat (lih. Yes 1:6; Yer 8:22; Luk 10:34). Maka tidak mengherankan bahwa para rasul juga “mengoles banyak orang dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk 6:13). Belum tentu bahwa di situ terjadi mukjizat; bisa jadi bahwa itu penyembuhan biasa dengan “obat tradisional”. Tetapi perbatasan antara “yang biasa” dan “yang dikerjakan oleh Allah” tidak selalu jelas. Dan tidak jarang pengobatan seperti itu disertai doa-doa, seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus:

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila didoakan dengan yakin, sangat besar kuasanya (Yak 5:14-16).

Langsung kelihatan bahwa doa malah menjadi yang paling penting, bukan hanya dalam ayat-ayat ini saja, melainkan juga dalam ayat-ayat yang mendahului (ay. 13) dan yang menyusul, yang menampilkan Elia sebagai “tokoh doa” (ay.17-18). St. Yakobus berbicara mengenai daya kekuatan doa. Dalam kerangka itu ia juga berbicara mengenai doa jemaat untuk orang yang sakit. Apakah doa dengan pengurapan itu sudah merupakan suatu sakramen? Sulit ditentukan. Yang jelas bahwa ini doa resmi, sebab yang membawakannya “para penatua jemaat”, yang dipanggil secara khusus. Dan keistimewaannya, dilakukan sambil “mengoles dengan minyak dalam nama Tuhan”. Pengolesan dengan minyak bukan pengobatan biasa, sebab dilakukan “dalam nama Tuhan” dan disertai doa resmi. Semua itu sudah amat jelas menunjuk ke arah “sakramen” walaupun upacaranya belum sangat jelas. Rupa-rupanya umat perdana mengenal pengurapan orang sakit, yang bersifat keagamaan.

Tetapi apakah upacara ini berasal dari Yesus atau dikehendaki oleh Yesus? Jawaban atas pertanyaan ini ialah, bahwa dalam hal ini – sama seperti dengan Ekaristi – Yesus rupa-rupanya mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Dari mazmur-mazmur kentara bahwa orang Yahudi mempunyai kebiasaan berdoa kepada Tuhan, mohon penyembuhan dari sakit (lih. Sir 38:9). Mungkin dalam kerangka pemikiran yang sama. Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya agar secara khusus memperhatikan orang sakit (Mrk 6:13). Para rasul menaati perintah Yesus itu, dalam kerangka adat-kebiasaan bangsa Yahudi. Yesus mendukung tradisi Yahudi. Sebagaimana untuk perayaan Ekaristi Ia tidak memberikan banyak petunjuk khusus, begitu juga untuk upacara pengurapan orang sakit secara Kristiani tidak ada banyak instruksi. Upacara itu berkembang lambat-laun dalam tradisi Kristen sendiri.

Praksis umat perdana dijalankan terus di dalam Gereja. Tetapi kesadaran bahwa upacara ini sebuah sakramen, baru dirumuskan dengan jelas dalam abad ke-12. Upacara liturgis juga berkembang langkah demi langkah dalam tradisi Gereja. Dalam abad kelima Paus Inosensius I mengatakan mengenai Yak 5:14-16:

Jelas sekali bahwa teks ini harus diterima dan dimengerti dalam hubungan dengan orang sakit, yang dapat diurapi dengan minyak krisma suci, yang telah dipersiapkan oleh uskup. Minyak itu boleh dipakai untuk mengurapi tidak hanya oleh para imam tetapi oleh semua orang Kristen, bila mereka sendiri atau orang sekeluarga membutuhkannya.

Tampaknya pada waktu itu yang pokok malah minyak, yang diberkati oleh uskup. Setiap orang boleh mengoleskannya, barangkali juga pada dirinya sendiri. Dalam abad ke-9 peraturan diubah lagi. Yang boleh menerimakan sakramen ini hanyalah para imam saja, dengan menggunakan minyak yang telah diberkati oleh uskup dan dengan memakai upacara dan doa-doa yang telah ditetapkan. Penerimaan sakramen juga dibatasi. Lama-kelamaan sakramen ini hanya diterimakan kepada orang yang sakit keras, hampir mati. Sejak itu orang berbicara mengenai “pengurapan terakhir”. Pada tahun 1972 upacara diubah lagi dan disebut “pengurapan orang sakit”, sebab menurut peraturan baru itu, sakramen ini diberikan kepada orang beriman “bila ia sakit berat, entah karena usia lanjut entah karena penyakit”. Kecuali itu ditambahkan penjelasan ini: “Untuk mengetahui, apakah seseorang sakit berat atau tidak, cukuplah penilaian umum dan bijaksana; dalam hal ini pertimbangan seorang dokter sering dapat menolong”. Jadi, sakit berarti “sakit berat”, tetapi tidak berarti “bahaya maut”. Dari pihak lain harus dikatakan bahwa “sakit berat” selalu mengandung bahaya maut atau setidak-tidaknya sudah dibayangi oleh kegelapan maut. Maka sebetulnya sakramen ini lebih baik disebut sakramen pengharapan, entah mengharapkan penyembuhan entah mengharapkan kekuatan untuk menghadapi maut.

Pastoral Orang Sakit

Maksud sakramen pengurapan orang sakit dijelaskan oleh Konsili Vatikan II sebagai berikut:

Melalui perminyakan suci dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan, yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, dan dengan demikian memberi sumbangan kesejahteraan kepada umat Allah (LG 11).

Yang pokok adalah persatuan dengan Kristus, yang dilakukan dalam iman. Oleh karena itu peraturan tahun 1972 menegaskan bahwa “orang sakit akan diselamatkan berkat imannya dan berkat iman Gereja, yang berdasarkan wafat dan kebangkitan Kristus sebagai sumber kekuatan, dan yang terarah kepada Kerajaan yang akan datang, yang dilambangkan dalam sakramen-sakramen”. Pengurapan orang sakit itu sakramen iman, bahkan menjadi sakramen pengharapan.

Oleh karena itu, Gereja menghendaki supaya sakramen pengurapan orang sakit tidak menjadi upacara lepas, melainkan merupakan bagian pastoral orang sakit. Liturgi orang sakit mulai dengan mengunjungi orang sakit dan berdoa bersama mereka. Komuni orang sakit mempunyai tempatnya di sini, sebagai bukan hanya “bekal suci” (viaticum), yakni “komuni terakhir”, melainkan jauh sebelumnya hendaknya orang sakit secara khusus dilayani dengan Ekaristi. Melalui komuni si sakit dapat mengambil bagian dalam doa Gereja dan mempersatukan diri dengan Kristus yang wafat dan bangkit. Sebagai tanda doa Gereja ia juga dapat diberi berkat khusus. Ini salah satu sakramentali yang secara khusus mewujudkan doa Gereja bagi yang sakit.

Akhirnya dalam rangkaian itu ada sakramen pengurapan orang sakit, yang dapat dilayani dengan aneka cara dan perayaan. Pelayanan sakramen itu janganlah ditunda sampai saat si sakit sudah tidak cukup kuat untuk ikut menghayatinya. Banyak orang “takut” menerima sakramen ini, karena berpendapat bahwa pengurapan orang sakit mendatangkan maut. Ini tentu pendapat yang keliru, yang perlu dikoreksi dalam suatu katekese pastoral yang sekaligus bersifat penerangan dan penghiburan. Kalau sakramen ini bisa diterima dalam keadaan yang belum “parah”, si sakit benar-benar dapat menghayatinya dan ikut merayakannya. Lalu sakramen ini juga mungkin dirayakan dengan kehadiran kelompok jemaat yang sedikit lebih besar. Bahkan liturgi membuka kemungkinan bahwa sakramen ini diberikan selama perayaan Ekaristi, khususnya bagi mereka yang sudah lanjut usia. Bagaimanapun juga, seluruh liturgi orang sakit harus memperlihatkan bahwa orang sakit tetap dipandang dan diperlakukan sebagai anggota jemaat, yang mempunyai kedudukan khusus dalam jemaat, karena kedekatan fisik dengan sengsara dan wafat Kristus. Partisipasi dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan panggilan seluruh Gereja. Maka anggota yang sehat, hendaknya memperlihatkan kepada si sakit bahwa ia tetap satu dari mereka, dalam mengikuti jejak Kristus.

Iman, Pengharapan, dan Kasih

Hampir semua agama mengajarkan dan melandasi diri dengan ajaran dan penghayatan akan iman, harapan, dan kasih, Ketiganya merupakan kebajikan utama banyak agama. Demikian pula dengan agama atau Gereja Katolik.

Gereja menyebut diri “persekutuan iman, harapan dan cinta kasih” (LG 8 dan 65), “yang oleh Roh Kudus dicurahkan dalam hati semua anggota Gereja” (AA 3 dan 4). Ketiga keutamaan ini, yang pada dasarnya satu, merupakan sikap dasar orang beriman. Iman yang menggerakkan hidup, memberi dasar kepada harapan dan dinyatakan dalam kasih. Ketiganya bersatu, tetapi tidak seluruhnya sama. Dalam Kitab Suci dibedakan antara iman yang menyambut Sabda Allah, pengharapan yang terarah kepada karunia keselamatan, dan kasih yang menerima sesama manusia (Kol 1:4-5; 1Tes 5:8; Ibr 10:22-24; 1Ptr 1:21). Kesatuan antara iman dan pengharapan jelas, sebab “Allah adalah Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih-setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya” (Ul 7:9). Tuhan tidak mengingkari janji. Percaya kepada Tuhan berarti “percaya akan kasih-setia-Nya untuk seterusnya dan selamanya” (Mzm 52:10), sebab terhadap setiap orang Allah itu setia pada janji-janji-Nya. “Allah yang memanggil kamu adalah setia”, kata St. Paulus, “dan karena itu Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 1:9; 10:13). Pengharapan berarti kepercayaan pada janji-janji Allah. Oleh karena itu harapan adalah daya-gerak iman. Dengan iman orang menyambut Allah yang datang kepadanya; dengan harapan orang mau mendatangi Allah sendiri. Tentu saja, dari kekuatannya sendiri manusia tidak mampu mendatangi Allah. Akan tetapi, karena ia mengetahui bahwa “Allah yang memanggil adalah setia”, ia berani mengandalkan panggilan Allah dan mengarahkan diri kepada-Nya penuh gairah. Pengharapan adalah iman, yang seolah-olah tidak sabar lagi mengejar rahmat Allah; kalau-kalau dapat menangkapnya, karena dia sendiri sudah ditangkap oleh Allah (bdk. Flp 3:12). Iman disempurnakan dalam pengharapan.

Tanda iman dan harapan adalah kasih. Dalam hal ini paling jelas ajaran St. Yohanes: “Jikalau seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Titik pangkal adalah kasih kepada Allah. Kalau manusia telah menyerahkan diri kepada Allah dalam iman dan pengharapan, itu merupakan awal kasih kepada Allah. Bagi orang beriman, lebih-lebih dalam pengharapan, Allah adalah tujuan dan pegangan hidup. Mudah sekali orang berkata bahwa ia mengasihi Allah, namun toh ternyata hal itu tidak dapat dikontrol. Maka Yohanes berbicara mengenai tanda-bukti bahwa kita benar-benar mengasihi Allah, ialah kasih kepada sesama. Allah jelas mengasihi kita, Seluruh alam ciptaan dan terutama karya penyelamatan-Nya yang memuncak dalam pengutusan Anak-Nya, menjadi bukti. Maka, “jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yoh 4: 11), “bukan dengan perkataan atau dengan lidah, melainkan dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (3: 18). Kasih yang dinyatakan dalam perbuatan adalah sikap pokok hidup orang beriman. Oleh karena itu Paulus dapat berkata: “Tinggal tiga ini, iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1Kor 13:13). Kasih adalah “pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).