Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Sakramen Tobat / Pengampunan Dosa

Sakramen pengampunan dosa atau rekonsiliasi adalah salah satu dari dua sakramen penyembuhan (KGK 1423-1424). Sakramen ini adalah sakramen penyembuhan rohani dari seseorang yang telah dibaptis yang terjauhkan dari Allah karena telah berbuat dosa.

Dosa adalah perbuatan melawan cinta kasih Tuhan dan sesama. Setiap dosa berarti manusia menjauhkan diri dari Tuhan. Dosa dilakukan secara sadar, dengan sengaja (diinginkan), dan dalam keadaan bebas, akan berakibat merugikan orang lain dan dirinya sendiri serta merusak hubungan dengan Tuhan. Akibat dosa, manusia kehilangan rahmat Allah yang pernah ia terima dalam sakramen baptis. Dosa ikut mengotori kesucian Gereja Kristus. Relasi dengan sesama pun ikut rusak. Jika seseorang bertobat, maka ia pun berdamai kembali dengan Allah, Gereja, dan sesama.

Gereja melalui mereka yang memiliki kuasa para rasul, menjadi saluran rahmat pengampunan dan pendamaian Allah dalam sakramen pengakuan dosa atau sakramen tobat. Yang dituntut dalam sakramen tobat bukan sekedar rasa sesal dan air mata, melainkan “metanoia“, atau perubahan hati dan seluruh sikap hidup. Yang diminta Allah dari manusia adalah niat baik dan usaha pertobatan yang dilakukan manusia. Allah selalu siap menerima orang yang bertobat.

Langkah-langkah pertobatan seseorang:

  1. Menyadari dan mengakui dosa.
  2. Menyesali dosa.
  3. Berniat untuk tidak berbuat dosa lagi.
  4. Mohon ampun.
  5. Mau menghidupi cara hidup yang baru.

(Pada saat kita memasuki kamar yang telah dipersiapkan, kita berlutut dan menerima berkat pengantar dari Imam. Kemudian membuat tanda salib sebagai pembukaan pertobatan kita).

Kemudian katakanlah:
U: Bapa, Sakramen Tobat yang terakhir saya terima adalah (sebutkan kapan terakhir kali menerima Sakramen Tobat)
(Catatan: jika ini pertama kalinya menerima Sakramen Tobat, katakanlah):

U: Bapa, ini penerimaan Sakramen Tobat saya untuk pertama kalinya.
Kemudian ucapkanlah:

U: Bapa, dari saat terakhir saya menerima Sakramen Tobat sampai saat ini, saya sadari telah melakukan dosa-dosa. Dan oleh karena itu pada saat ini dihadapan Bapa, saya mau mengaku kepada Allah Bapa Yang maha kuasa dan kepada seluruh umat Allah yang kudus, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian, khususnya bahwa saya telah berdosa (sebutkan dosa anda dengan jujur).
Saya sungguh menyesal atas semua dosa saya itu, dan dengan hormat, saya meminta pengampunan serta penitensi yang berguna bagi saya.
(Setelah itu, dengarlah nasihat dari Romo dan apa yang harus anda lakukan sebagai penintensi atas dosa anda dengan seksama. Jika sudah mendapatkan nasihat, Romo akan meminta anda untuk mengucapkan doa tobat sebagai berikut):

Allah yang maha rahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau Yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah Yang maha murah, ampunilah aku orang berdosa ini. Amin
(Pada waktu Imam memberikan absolusi, anda harus membuat tanda salib, mengucapkan kata terima kasih, lalu keluar dari kamar pengakuan. Saat Anda berdoa sesudah pengakuan pribadi, selain mendoakan doa-doa penitensi, berdoa jugalah doa “Syukur Atas Pengampunan” PS. 27)

Sakramen Tobat

Dengan Pembaptisan, dan Krisma, orang menjadi anggota Gereja. Ia tidak dapat kehilangan keanggotaan itu. Tetapi bisa terjadi bahwa seseorang, karena tindakan kejahatan yang amat besar, terkena hukuman Gereja, yaitu “pengucilan” atau “ekskomunikasi“. Orang itu tetap anggota Gereja, namun ia dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi serta dalam perayaan sakramen atau sakramentali yang lain, dan tidak boleh melakukan tugas gerejawi manapun (KHK kan. 1331). Larangan itu sebetulnya dikenakan pada setiap orang yang melakukan dosa besar. Orang itu pun tidak boleh menerima sakramen, kecuali sakramen baptis dan pengurapan orang sakit, karena mempunyai dosa besar. Dengan sakramen tobat tidak hanya dosanya diampuni, tetapi ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja.

(a) Kebiasaan Gereja yang Berubah-ubah

Yohanes Pembaptis tampil dengan seruan, “Bertobatlah!” (Mat 3:2; Luk 3:3) dan awal pewartaan Yesus pun berbunyi, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya jadi diampuni” (Yoh 20:23). Tetapi tidak ada berita mengenai suatu “upacara pengampunan dosa”.

Yang ada hanyalah petunjuk tentang pengucilan, dalam Mat 18:15-20. Pokok petunjuk itu ialah jangan terlampau mudah mengucilkan seseorang: pertama tegurlah dia “di bawah empat mata” dahulu. Kalau itu tidak berhasil, sekali lagi, tetapi dengan satu atau dua saksi; jadi lebih resmi. Kalau itu pun tidak berhasil, baru dikucilkan. Wewenang untuk itu ditegaskan: “Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini, akan terlepas di surga” (ay. 18). Rupa-rupanya dalam hal pengucilan, Gereja perdana mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Tetapi tidak dikatakan apa-apa mengenai cara bagaimana menerima kembali orang yang dikucilkan itu. Hanya dikatakan bahwa pimpinan jemaat berwewenang mengucilkan (“mengikat”, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan jemaat) dan menerima kembali (“melepaskan” ikatan itu). Dalam 1Kor 5:1-13 St. Paulus rupa-rupanya juga hanya berbicara mengenai pengucilan, “Orang itu diserahkan kepada Iblis”.

Tidak dikatakan apa-apa mengenai suatu upacara penerimaan kembali, hanya diharapkan bahwa “rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”, artinya pada hari kiamat. Apa yang terjadi dengan orang itu sekarang tidak jelas. Barangkali boleh diandaikan bahwa orang itu, kalau memperlihatkan tanda-tanda pertobatan, akan diterima kembali. Tetapi tidak ada berita mengenai peristiwa itu, apa lagi mengenai “upacara penerimaan kembali”. Kalau di sini sudah ada awal sakramen tobat, maka barangkali harus disebut “sakramen mengikat dan melepaskan”, yang hanya menyangkut dosa dan kesalahan yang merugikan jemaat, bukan kesalahan pribadi atau sengketa pribadi antara dua orang. Di situ berlaku nasihat Yesus, bahwa orang harus mengampuni “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22), berarti tanpa batas. Maka sikap St. Paulus dalam 1Kor 5:1- 13 dan dalam 2Kor 2:5-11 lain. Pengucilan tidak dimaksudkan sebagai hukuman bagi dosa, melainkan sebagai perlindungan untuk jemaat yang adalah umat Allah yang suci.

Kebiasaan Gereja perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para Bapa Gereja. Pada masa itu dikembangkan suatu upacara khusus, baik untuk mengucilkan seseorang maupun untuk menerimanya kembali di kalangan Gereja. Orang yang memberi sandungan karena perbuatan jahat (membunuh, merampok, zinah, dan murtad), bila mengaku dosanya di hadapan uskup, ditempatkan di kalangan orang yang menjalankan laku tapa. Mereka mempunyai tempat khusus di gedung gereja (atau di mukanya), mempunyai pakaian khusus dan diwajibkan berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah. Mereka tidak boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, dan diperlakukan sebagai “katekumen”, yakni orang yang belum dibaptis dan belum menjadi anggota Gereja.

Setelah selesai masa tobat, yang ditetapkan oleh uskup, mereka – biasanya pada Kamis Putih – diterima kembali di kalangan Gereja, oleh uskup juga. Maka jelas ada suatu upacara khusus, baik untuk pengucilan maupun untuk penerimaan kembali. Yang pokok dalam ibadat suci itu ialah tobat sendiri atau laku tapa. “Sakramen mengikat dan melepaskan” terang berkembang menjadi sakramen tobat. Yang khusus di dalamnya ialah bahwa:

  1. dilakukan secara publik dan terbuka;
  2. dipimpin oleh uskup sendiri; dan 
  3. dibatasi pada dosa-dosa yang memberi sandungan (mungkin hal itu sudah berlaku pada zaman Gereja perdana).

Masih ada satu ciri lain yang perlu diperhatikan, bahwa orang hanya satu kali saja dapat menjalani tobat seperti itu. Seandainya sesudah itu ia jatuh lagi, ia tidak diberi kesempatan kembali menjadi anggota aktif dalam Gereja. Kiranya hal itu pun sudah menjadi kebiasaan dalam Gereja perdana, sebab dalam Ibr 6:4-6 dikatakan:
“Mereka yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibarui lagi, hingga bertobat” (lih. juga 10:26-29; 12:15-17). Satu kali saja, tidak lebih. “Tobat publik” itu sungguh serius, bahkan terasa amat berat dan laku-tapa yang diwajibkan sering kali amat sulit dan lama.

Tobat seperti itu menjadi kebiasaan di daerah sekitar Laut Tengah, tempat Paulus pernah mewartakan Injil. Dari situ tersebar ke seluruh Eropa Selatan dan lebih jauh lagi. Tetapi di Inggris dan Irlandia orang mempunyai kebiasaan lain. Di situ pokok sakramen tobat juga laku tapa, tetapi yang menetapkan laku tapa itu, dan yang sesudahnya menerima kembali dalam Gereja, bukanlah uskup melainkan seorang imam biasa. Laku tapa tidak dilakukan secara terbuka lagi (walaupun biasanya orang mengetahui juga, karena beratnya laku tapa yang harus dilakukan). Karena tidak lagi bersifat publik secara penuh, laku tapa dilakukan juga untuk dosa (berat) pribadi dan boleh diulangi. Kebiasaan yang cukup berbeda ini, kiranya harus diterangkan dari sifat khusus Gereja di Inggris dan Irlandia yang berkembang di sekitar biara-biara. Dalam biara sedari semula orang biasa menjalani laku tapa, juga untuk dosa yang tidak memberi sandungan, bahkan yang tidak diketahui umum. Tobat dan laku tapa itu dibimbing oleh seorang rahib lain bukan oleh uskup. Praktik tobat yang juga dilakukan di luar tembok biara, di antara umat yang biasa, kemudian oleh para misionaris Inggris dan Irlandia dibawa ke Eropa Utara. Dengan demikian ada dua macam sakramen tobat. Karena tobat publik makin terasa terlalu berat, akhirnya tobat privat menjadi umum.

(b) Tobat Publik dan Tobat Privat

Pada pokoknya “tobat privat” tetap sakramen tobat, yang inti pokoknya adalah laku tapa. Semula laku tapa dalam tobat privat tidak kalah berat dengan tobat publik. Yang istimewa hanyalah, bahwa sakramen itu dilayani oleh seorang imam, untuk dosa pribadi juga (tidak hanya untuk yang memberi sandungan), dan boleh diterima lebih dari satu kali. Untuk menghindari kesewenangan dalam menentukan laku tapa, ditetapkan “tarip” yang berlaku untuk seluruh daerah: untuk dosa ini, laku tapanya itu. Orang bertanggung jawab sendiri untuk pelaksanaan laku tapanya. Tetapi bila selesai, sering kali sulit menemukan kembali imam yang menetapkannya. Maka lama kelamaan orang langsung diterima kembali secara “bersyarat”, yakni kalau sudah menyelesaikan laku tapanya. Bahkan lebih kemudian lagi, sudah cukup kalau dia berjanji dan mempunyai niat sungguh untuk melakukan dendanya itu. Pada waktu itu laku tapa sudah bukan pokok lagi, melainkan syarat. Dengan demikian, sebenarnya sakramen tobat sudah berubah menjadi sakramen pengampunan dosa.

Langkah berikutnya ialah bahwa laku tapa atau denda juga tidak lagi seberat zaman dahulu, biasanya berupa doa saja, sebab mengaku dosa sendiri sudah dianggap cukup berat. Sejak itu orang berbicara mengenai sakramen pengakuan dosa. Dari pihak orang yang menerima sakramen, yang pokok adalah pengakuan, sebab yang dipandang sebagai “pelaku utama” bukan lagi orang yang bertobat, tetapi imam yang memberi absolusi sebagai tanda pengampunan dosa. Hanya saja, supaya dapat memberikan denda yang sesuai, imam harus tahu dosanya. Untuk itu perlu pengakuan. Titik berat tergeserkan dari tobat kepada pengakuan, dan dari orang yang bertobat kepada imam yang memberikan pengampunan.

(c) Ajaran Gereja tentang Sakramen Tobat

Konsili Vatikan II meninjau kembali sakramen tobat. Pertama-tama, Konsili memakai lagi istilah “sakramen tobat”. Sebab yang terpenting memang tobat dan “orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan, “Mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja” (LG 11). Oleh karena itu, Konsili juga menghendaki supaya “upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat ditinjau kembali” (SC 72). Itu dilakukan pada tahun 1973.

Dalam pengantar buku “Liturgi Tobat” yang baru itu antara lain dikatakan bahwa orang yang datang ke Sakramen Tobat “pertama-tama harus berpaling kepada Allah dengan segenap hati. Pertobatan batiniah ini dinyatakan lewat pengakuan kepada Gereja, pelaksanaan penitensi (denda) yang ditetapkan dan pembaruan hidup”. Yang pokok adalah tobat. Pengakuan serta denda tidak lain daripada pernyataan sikap tobat itu. Dari pihak lain, “lewat tanda absolusi Allah memberikan ampun kepada si pendosa, yang dengan pengakuan sakramental menyatakan pertobatannya kepada pelayan Gereja”. Tetapi ditegaskan, bahwa “yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh orang beriman sendiri, selaku pentobat” dan “bersama dengan imam ia merayakan liturgi Gereja, yang terus-menerus membarui diri”. Maka sakramen ini tidak lagi disebut “sakramen pengampunan”, tetapi sakramen tobat.

Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam sakramen tobat dua hal: pengakuan dan penitensi (denda). Tetapi hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku-tapa dan matiraga sukarela. Dalam hal ini ia dapat dibantu oleh indulgensi, yakni penghapusan dari hukuman-hukuman sementara karena jasa-jasa anggota Gereja yang lain, khususnya para santo dan santa, bahkan juga karena karya Tuhan Yesus sendiri. Supaya orang dapat mengambil bagian dari khazanah rohani Gereja itu, ditetapkan syarat-syarat tertentu, yang biasanya bersifat doa.

Sakramen tobat tetap terarah kepada penerimaan kembali oleh Allah di dalam Gereja. Tetapi ditekankan bahwa “perayaan Sakramen Tobat selalu merupakan pengakuan iman Gereja”. Sakramen tobat itu “sakramen iman”, di dalamnya secara khusus terungkapkan iman orang berdosa. Ini sebenarnya tidak berbeda total dengan pandangan sebelum Konsili, sebab Gereja selalu sudah yakin, bahwa tobat sungguh merupakan anugerah Allah dan dorongan Roh Kudus.

Oleh rahmat Allah orang sadar akan kemalangannya sendiri, dan menyatakan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sendiri menarik orang berdosa. Dengan mengaku diri orang berdosa, maka manusia menyerahkan diri lagi kepada Allah yang maharahim. Apa yang disebut “pengakuan dosa”, sebetulnya tidak lain daripada mengaku diri orang berdosa. Yang pokok bukan dosa-dosa, melainkan diri orang yang sebagai pendosa mohon belaskasihan Tuhan. Allah senantiasa menawarkan rahmat-Nya kepada pendosa, tetapi manusia harus mau menerimanya. Itu terjadi dalam sakramen tobat. Iman dan tobat tidak dapat dipisahkan. Tobat itu iman orang berdosa. Dan walaupun “Gereja adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG 8).

Oleh karena itu, iman Gereja selalu berupa tobat. Kalaupun orang tidak selalu terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang besar, dosa kecil pun memperlihatkan kedosaan manusia. Maka dengan sewajarnya manusia terus-menerus mengembangkan sikap tobat dalam dirinya, karena dengan demikian ia makin sadar bahwa “karena kasih karunia ia diselamatkan, oleh iman; itu bukan hasil usaha manusia sendiri, tetapi pemberian Allah. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef 2:8-10). Pokok sakramen tobat ialah pengakuan iman terhadap belas kasihan Tuhan. Di samping itu, praktik kehidupan sakramen tobat juga merupakan kesempatan baik untuk meminta bimbingan dan pengarahan dalam menjalankan hidup Kristiani.