Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Dua Sumber Utama untuk Mengenal Yesus Kristus

Tradisi dan Kitab Suci diuraikan secara khusus dalam konstitusi dogmatis Dei Verbum, yang diresmikan oleh Konsili Vatikan II pada 18 November 1968. Di dalamnya dikatakan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). Proses komunikasi iman dari satu angkatan kepada angkatan berikut dan di antara orang sezaman disebut Tradisi. “Tradisi” berarti penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus. Tradisi bukan sesuatu yang “kolot” atau dari zaman dahulu, melainkan sesuatu yang masih terjadi sekarang ini juga. Gereja yang hidup dan berkembang, itulah Tradisi. Gereja dan Tradisi sama. Tradisi adalah paham Gereja yang dinamis.

Dalam Tradisi itu ada satu kurun waktu yang istimewa, yakni zaman Yesus dan para rasul. Pada periode yang juga disebut zaman Gereja perdana itu Tradisi sebelumnya dipenuhi dan diberi bentuk yang baru, dan selanjutnya menjadi dasar dan inti pokok untuk Tradisi berikut, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:20). Maka perumusan pengalaman iman Gereja perdana, yang disebut Perjanjian Baru merupakan pusat dan sumber seluruh Tradisi, bukan karena tulisan atau rumusannya, melainkan karena iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Pengalaman iman itu memang “ditulis dengan ilham Roh Kudus” (DV 11) dan itu berarti bahwa “buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan, kebenaran yang oleh Allah mau dicantumkan di dalamnya demi keselamatan kita”. Maka kesucian Kitab Suci datang dari iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Iman itu iman akan karya keselamatan Allah, yang mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, tetapi yang sudah mulai dilaksanakan dalam sejarah Israel, sebagaimana dirumuskan dalam Perjanjian Lama. Buku itu pun suci, bukan karena kata-kata atau perumusannya, tetapi karena karya Allah yang tetap aktual. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan ungkapan dan rumusan Tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Maka seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman.

Kitab Suci merupakan kumpulan karangan yang berasal dari zaman yang berbeda-beda dengan latar belakang kebudayaan, politik dan juga agama yang berlain-lainan. Karangan yang ditulis antara tahun 1000 SM dan 100 M berangsur-angsur dikumpulkan, dan sejak abad keempat dibuat menjadi satu buku. Jumlah karangan atau “buku” ada 72 yang terdiri dari 45 buku Perjanjian Lama (atau 46 kalau Yeremia dan Ratapan dihitung tersendiri) dan 27 buku Perjanjian Baru.
PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I-II Samuel, I-II Raja, I-II Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, I-II Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus bin Sirakh, Yesaya, Yeremia (+ Ratapan), Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
PB: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah para Rasul, Surat-surat kepada umat dl Roma, I-II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I-II Tesalonika, Surat-surat kepada Timotius I-II, Titus, Filemon, Surat kepada umat Ibrani, Surat Yakobus, I-II Petrus, I-II-III Yohanes, Yudas, Kitab Wahyu.

Jadi, bagi umat Kristen Kitab Suci bukanlah buku yang didiktekan atau ditulis oleh Tuhan. Kitab Suci merupakan ungkapan iman umat Israel dan terutama iman Gereja perdana. Oleh iman itu pengarang suci bersatu dengan Allah dan menuliskan apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Dalam proses penulisan itu ia dianugerahi rahmat khusus (yang biasanya disebut ilham), supaya yang dituliskannya itu benar-benar wahyu Tuhan dan bukan pikirannya sendiri. Karena yang menulis itu bukan satu orang, melainkan banyak pengarang suci yang berbeda zaman dan kebudayaannya, iman yang sama itu pun diungkapkan dalam rumusan yang berbeda-beda, yang kadang-kadang dapat memberi kesan seolah-olah tidak cocok satu sama lain.

Sesudah Gereja perdana, Tradisi mengolah dan memperdalam ungkapan iman yang terdapat dalam Kitab Suci. “Sebab berkembanglah pengertian tentang kenyataan-kenyataan serta kata-kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati, merenungkan serta mempelajarinya, maupun karena mereka menyelami secara mendalam pengalaman-pengalaman rohani mereka, ataupun juga berkat pewartaan mereka yang sebagai pengganti para rasul dalam martabat uskup menerima karunia kebenaran yang pasti” (DV 8). Pengalaman iman, sebagaimana dirumuskan dalam Kitab Suci, selalu aktual dan punya arti bagi zaman sekarang dan senantiasa harus dibaca, direnungkan, dan dimengerti secara baru. Dalam proses itu seluruh umat mengambil bagian, Konsili Vatikan II malah mengajarkan:

“Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh (Roh) Yang Kudus, tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman segenap umat, bila – dari uskup hingga para awam beriman yang terkecil – secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Pernyataan kebenaran oleh umat terjadi menurut struktur umat sendiri, berarti “di bawah mereka yang mempunyai wewenang mengajar yang suci”, yaitu para uskup. Ini tidak berarti bahwa umat hanya mengamini apa yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi bahwa proses permenungan dan pemahaman sabda Allah dilaksanakan di bawah bimbingan mereka yang diangkat menjadi pemimpin di dalam Gereja. Dan sebagaimana umat seluruhnya “tidak dapat sesat dalam beriman”, begitu juga hierarki tidak dapat sesat dalam memberi bimbingan.

Perlu diperhatikan bahwa anugerah ketidak-sesatan tidak diberikan kepada orang perorangan, melainkan kepada umat seluruhnya. Begitu juga ketidak-sesatan dalam bimbingan tidak dimiliki oleh uskup-uskup perorangan, juga tidak oleh paus, melainkan oleh para uskup bersama sebagai dewan pimpinan Gereja dan paus sebagai kepala dewan itu. Hal itu diterangkan dengan cukup jelas dan mendetail dalam LG 25. Di situ ditetapkan juga bahwa pernyataan pemimpin itu selalu harus bersifat resmi, dan disampaikan secara resmi pula; maksudnya, sebagai pernyataan dan kesadaran seluruh umat. Maka pernyataan seperti itu tanpa arti, kalau umat tidak terlibat dalam proses pengolahannya.

Oleh karena itu Konsili berkata, “Jelaslah bahwa Tradisi suci, Kitab Suci dan wewenang mengajar Gereja saling berhubungan dan berpadu” (DV 10). Tradisi mempunyai titik beratnya dalam Kitab Suci tetapi tidak terbatas pada Kitab Suci. Sebaliknya, Tradisi berusaha terus menghayati dan memahami kekayaan iman yang terungkap dalam Kitab Suci. Proses penghayatan dan pemahaman itu terlaksana di bawah terang Roh Kudus di dalam Gereja, dibimbing oleh pimpinan Gereja. Kalau Kitab Suci dilepaskan dari Tradisi, ia kehilangan arti dan fungsinya. Begitu juga, atau lebih lagi, mengenai wewenang mengajar pimpinan Gereja. Kalau dewan para uskup, dengan paus sebagai kepalanya, merumuskan kebenaran iman dalam bentuk dogma, maka ajaran resmi itu tidak berarti suatu ajaran baru, apalagi wahyu yang lain, melainkan perumusan kembali sesuai dengan tuntutan zaman – iman yang dihayati Gereja sejak zaman para rasul. Gereja harus terus-menerus menekuni dan mempelajari kembali apa yang sejak dahulu sudah menjadi keyakinan imannya. Sebab “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8); tetapi dunia berubah terus-menerus. Maka supaya sabda Kristus tetap berarti, perlu dirumuskan kembali dan diaktualkan bagi angkatan baru.

Keadilan melalui Pembebasan

Ajaran sosial Gereja itu bukan teori. Keutamaan sosial itu masalah praksis. Untuk memperingati delapan puluh tahun Rerum Novarum Paus Paulus VI dalam Octogesima Adveniens (1971) mendorong pelaksanaan pembaruan sosial. Paus menyapa khususnya orang-orang awam dalam Gereja, supaya secara aktif dan bertanggung jawab menjalankan tugas mereka yang demokratis dan sosial. Pada tahun 1971 itu juga, para wakil konferensi-konferensi uskup yang berkumpul di Roma untuk Sinode Uskup-uskup Sedunia yang ketiga, merangkum hasil perundingan mereka dalam pernyataan mengenai “Keadilan di Dunia” (Justitia in Mundo), “Bagi kami, keterlibatan dalam penegakan keadilan dan partisipasi dalam perubahan dunia merupakan unsur konstitutif pewartaan kabar gembira, yakni perutusan Gereja untuk penebusan umat manusia dan untuk pembebasannya dari segala penindasan.” Gereja dan dunia tidak lagi dilihat sebagai dua bidang tersendiri, yang terpisah satu sama lain. Iman yang diungkapkan dalam Gereja harus diwujudkan dalam dunia. Tapi Sinode juga tidak ingin mengaburkan perbedaan antara Gereja dan dunia. Jadi Sinode mengakui otonomi dunia sepenuhnya dan sekaligus mengingatkan bahwa orang beriman mempunyai tugas konkret – atas dasar iman sendiri- di dalam dunia.

Orang beriman bertugas menegakkan keadilan. Hal itu bisa dicapai hanya dengan perjuangan demi pembebasan. Maka amat mendesaklah tugas membangun suatu budaya pembebasan. Gereja sendiri harus memulainya dengan membina budaya pembebasan dalam lingkungannya sendiri. Sinode Uskup-uskup sedunia yang berikutnya (1974) membicarakan tema pewartaan. Paus Paulus VI merangkum hasil pembicaraan para uskup dalam Himbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi (1975), yang membahas tugas pewartaan Injil: “Pusat pewartaan injil” adalah “warta pembebasan”. Allah Penyelamat mau terlibat dalam sejarah manusia dan oleh sebab itu injil harus diwartakan kepada manusia yang bergulat dengan masalah sosial. Orang beriman yang menanggapi panggilan Allah, mesti ikut juga dalam perjuangan pembebasan, karena yakin akan pembebasan dan penebusan oleh Allah. Allah Pembebas itu menantang semua penindasan manusia. Adalah tugas Gereja untuk “mewartakan Injil karena Injil itu adalah ragi untuk pembebasan dan perubahan sosial. Dunia Asia memerlukan nilai-nilai Kerajaan Allah dan nilai-nilai yang berasal dari Kristus, supaya terciptalah perkembangan, keadilan, perdamaian, dan keserasian dengan Tuhan di antara berbagai bangsa dan dengan semua ciptaan. Semuanya itu dirindukan oleh semua bangsa di Asia” (Sidang Paripurna Federasi Konferensi para Uskup Asia, Bandung 1990).

Keadilan Sosial Memberantas Kemiskinan

Ketimpangan sosial tidak terbatas pada konflik antara modal dan kerja. Pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII dalam ensiklik Mater et Magistra menyebut tiga hal lain. (1) Perbedaan antara sektor-sektor produksi: antara bidang industri dan pertanian, antara taraf hidup di kota dan di desa. Padahal, kesamaan umat manusia seharusnya tercerminkan juga dalam kesempatan hidup yang sama. (2) Perbedaan taraf hidup antara bangsa-bangsa: kesenjangan kesejahteraan pada tingkat internasional. Padahal, kemerdekaan negara-negara yang baru saja melepaskan diri dari penjajahan, hanya mempunyai arti, kalau negara baru juga dapat mandiri secara sosio-ekonomi. Jangan sampai ketergantungan ataupun bantuan ekonomi menjadi semacam penjajahan yang baru. (3) Pertumbuhan penduduk yang pesat di banyak daerah miskin mempertajam kesenjangan taraf hidup. Padahal, bumi cukup kaya untuk menjamin hidup semua orang. Masalah sosial itu mencakup hampir semua aspek hidup manusia dan meliputi seluruh dunia. Dan keadilan untuk semua manusia dapat tercapai, kalau ada perubahan, kemajuan, perkembangan.

Populorum Progressio (1967) dari Paus Paulus VI kiranya boleh disebut “ensiklik pembangunan” sebab pada saat itu pembangunan sosial .. ekonomi mulai diusahakan oleh semua bangsa, sebagaimana disaksikan oleh Paus sendiri pada kunjungannya ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ensiklik ini berbicara mengenai perkembangan di negara-negara miskin dan menekankan bahwa pembangunan integral harus menunjang perkembangan setiap manusia dan seluruh manusia. Perkembangan sejati adalah perkembangan diri, yang diusahakan dan dipertanggungjawabkan oleh manusia sendiri. Pembangunan merupakan kewajiban pribadi dan tugas sosial, yang menyangkut baik ekonomi maupun etika. Paus Paulus VI membalik prinsip Marx: bukan pertentangan kelas yang memajukan perkembangan, melainkan inisiatif dan tanggung jawab pribadi. Bukan aturan produksi melainkan struktur masyarakat sendiri yang menentukan hidup bersama dalam masyarakat. Struktur masyarakat itulah yang memungkinkan perkembangan-perkembangan, juga dalam bidang ekonomi. Perhatian tidak lagi dipusatkan pada hubungan kerja, tetapi pada hubungan sosial dan politik antara daerah kaya dan daerah miskin. Semua orang ataupun kelompok harus memberi sumbangannya masing-masing. Sementara mereka yang belum berkembang harus diberi bantuan dan sekaligus diberi kesempatan agar mereka dapat mengambil inisiatif sendiri. Jadi, pembangunan itu adalah masalah humanisme.

Dua puluh tahun sesudah Populorum Progressio, ensiklik sosial yang kedua dari Paus Yohanes Paulus II, Sollicitudo Rei Socialis (1987), mengangkat kembali tema pembangunan dan perkembangan (terutama karena dua puluh tahun usaha pembangunan ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan dan daerah miskin ternyata makin miskin dan makin tergantung). Paus Yohanes Paulus II menunjuk pada penindasan dan eksploitasi yang menghalangi segala perkembangan. Cita-cita daerah miskin sering berkiblat pada cita-cita daerah yang kaya, dan kepentingan negara miskin diabdikan pada kepentingan ekonomi dan politik negara kaya. Usaha perkembangan yang dikuasai oleh cita-cita orang kaya berakibat pemiskinan untuk daerah miskin, Supaya dapat terjadi perkembangan, dibutuhkan politik baru, yang berawal dan bertujuan pada kepentingan orang miskin.

Setelah melihat begitu banyak rintangan untuk pembangunan, semacam “faktor negatif yang menghalangi orang untuk menyadari kepentingan bersama dan merintangi mereka untuk melibatkan diri pada kepentingan bersama”, Sollicitudo Rei Socialis lalu berbicara mengenai “struktur-struktur dosa” sebab semua rintangan itu melawan “kehendak Allah yang mahakudus, rencana-Nya dengan manusia, keadilan dan kerahiman-Nya” (SRS 35). Melawan semua kendala itu, dinamika kasih dan keadilan Allah harus dilibatkan dalam usaha perkembangan manusia. Manusia membutuhkan tobat dalam wujud solidaritas atau “tekad mantap dan terus-menerus, untuk bekerja bagi kepentingan umum, bagi kesejahteraan semua orang dan setiap orang, karena kita bertanggung jawab untuk semua” (SRS 38). Untuk melawan kemiskinan dan memajukan perkembangan, dibutuhkan suatu politik keadilan yang “memihak” pada orang miskin dan melawan penindasan dan struktur-struktur dosa dengan percaya akan penebusan dan pembebasan.

Keadilan dengan Hormat akan Kerja

Dengan Rerum Novarum (1891), Paus Leo XIII ingin membela kaum buruh dan oleh sebab itu, kerja dan permasalahan kaum buruh menjadi tema perdana dalam ajaran sosial Gereja. Guna mengatasi kemiskinan kaum buruh dan guna membebaskan mereka dari penindasan, Paus Leo XIII mengemukakan ajaran moral: (1) majikan-majikan tidak boleh memperlakukan buruh-buruh sebagai budak. Oleh sebab itu, mereka terutama wajib membayar upah yang adil, yang menjamin hidup layak para buruh; (2) para buruh berhak bergabung dalam perserikatan buruh, supaya dapat mengemukakan tuntutan mereka yang wajar dengan lebih tegas, dan supaya dapat mendesak pelaksanaannya bahkan dengan pemogokan.

Paus Leo XIII yakin, asal semua pihak yang bersangkutan (terutama kaum buruh dan majikan, namun juga pemerintah) menjalankan kewajiban masing-masing, masalah sosial dengan sendirinya akan selesai. Melawan pandangan liberalis, paus mengingatkan kewajiban pemerintah melindungi kepentingan para buruh; melawan tuntutan sosialisme untuk meniadakan hak milik pribadi, paus membela hak buruh akan milik, sebagai hasil kerja dan tabungan mereka. Paus mengecam sosialisme (marxis) karena materialismenya.

Empat puluh tahun sesudah itu, Paus Pius XI menjelaskan lebih lanjut ajaran Paus Leo XIII itu. Pertama-tama, soal upah yang adil: tidak setiap kontrak kerja dengan sendirinya adil meskipun sudah disetujui oleh buruh. Kontrak kerja antara pemilik modal, majikan, dan buruh baru dapat disebut adil kalau ada kesepakatan mengenai upah yang adil, dan kalau para buruh diberi kesempatan ikut menentukan arah kebijakan perusahaan. Menurut Quadragesimo Anno, upah harus mencukupi kebutuhan buruh sendiri dan keluarganya, kebutuhan material (seperti makan dan kesehatan) maupun kebutuhan budaya (seperti pendidikan dan rekreasi).

Upah mendapat perhatian utama sebab hanya melalui kerja dan upah, orang kebanyakan dapat mengambil bagian dalam kekayaan dunia yang diperuntukkan bagi semua orang. Selain itu, mulai disadari pula bahwa masalah sosial hanya dapat diatasi, kalau pertentangan antara kelas buruh dan pemilik modal dapat diatasi sehingga mereka dapat membina kerjasama. Untuk itu, Quadragesimo Anno mengusulkan supaya dalam masyarakat industri dibentuk institusi-institusi pengantara yang menjalin kerjasama antara buruh dan majikan dalam satu proyek. Paus Pius XI juga mengoreksi salah paham, seakan-akan menurut ajaran sosial Gereja hak milik itu suci. Ditegaskannya bahwa hak milik bersifat sosial. Khususnya modal besar harus dipakai demi kesejahteraan umum dan negara, dan pemerintah harus mengawasi hal itu. “Modal tidak boleh dipakai melawan kepentingan kerja” (LE).

Konsili Vatikan II juga berbicara mengenai kerja, namun terutama mengenai nilai “kegiatan manusia, baik perorangan maupun kolektif, yaitu usaha raksasa yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak orang untuk memperbaiki kondisi hidup manusia”. Usaha manusia itu “sesuai dengan rencana Allah” dan “kemenangan-kemenangan bangsa manusia menandakan keagungan Allah” (GS 34). Kerja manusia itu luhur, juga kerja para buruh. Maka sambil memuji prestasi kemajuan ekonomi, Konsili menegaskan bahwa dalam usaha-usaha ekonomi “kerja manusia … lebih unggul daripada faktor-faktor ekonomi lainnya yang hanya bersifat sarana” (GS 67). Oleh sebab itu, harus diusahakan kondisi kerja yang sesuai dengan martabat manusia, upah yang memadai, dan partisipasi karyawan dalam menentukan kebijakan perusahaan dan ekonomi nasional.

Ajaran sosial Gereja tidak mengutuk ekonomi kapitalis, beserta bentuk perusahaan, manejemen dan cara kerjanya. Namun ditegaskan bahwa perusahaan merupakan persatuan manusia, bukan persatuan uang saja. Ajaran sosial Gereja mengecam pemikiran kapitalis yang mengutamakan kepentingan modal di atas kepentingan buruh, politik kapitalis yang mempekerjakan buruh guna meraih keuntungan semata-mata, sehingga buruh dianggap sebagai “tenaga kerja” saja. Maka masalah kerja lebih luas daripada masalah upah. Sistem kerja dan sistem berpikir harus diubah, supaya dunia kerja menjadi lebih demokratis.

“Kepentingan kerja di atas kepentingan modal” menjadi semboyan dalam ensiklik Laborem Exercens. Di sini Paus Yohanes Paulus II mengajak agar manusia mengatasi cara pikir dan sistem ekonomi kapitalis, yang memperlawankan modal dan kerja, sebab dalam bentuk mana pun (entah sebagai uang atau mesin, entah sebagai pengetahuan atau sebagai ketrampilan) modal adalah hasil kerja. Maka tata perusahan hanya tepat (artinya: benar dan secara moral baik) kalau pada dasarnya mengatasi pertentangan antara kerja dan modal, dan kalau terarah guna mewujudkan prinsip yang disebut di atas. Kepentingan kerja ditempatkan di atas kepentingan modal.

Modal tidak pernah dapat dilawankan dengan kerja. Hak milik pribadi ditempatkan di bawah hak umum atas kesejahteraan. Namun, dari pihak lain dipegang teguh prinsip bahwa manusia bukan alat masyarakat. Kesejahteraan umum harus memberi tempat dan peluang untuk perkembangan pribadi dan inisiatif manusia. Paus Yohanes Paulus II mengembangkan semacam pluralisme dalam tata ekonomi: tidak segala keputusan dalam tangan pemilik kapital (modal), tetapi juga tidak semua diatur oleh pemerintah. Di samping peranan majikan, diperhatikan juga pengaruh dari apa yang oleh Paus Yohanes Paulus disebut “majikan-tidak-langsung”, yakni segala peraturan kerja, kondisi produksi, pemasaran, pendidikan, pendeknya segala faktor kemasyarakatan yang mempengaruhi situasi kerja dan untuk sebagian harus diarahkan atau diatur oleh pemerintah. Oleh sebab itu, dalam hal kerja dan modal tidak lagi berlaku keadilan individual, melainkan segalanya ditentukan dalam rangka hidup bersama oleh manusia yang berdaulat dalam masyarakat.

Nilai kerja tidak hanya dikhianati dengan upah yang tidak cukup untuk hidup. Nilai kerja dikhianati lebih keras lagi, kalau orang yang mencari kerja tidak mendapat tempat kerja. Terutama bagi orang yang tidak mempunyai ketrampilan khusus, tertutuplah pintu pada dunia kerja dan dengan demikian juga pada kekayaan bumi yang dimaksudkan untuk semua. “Sementara kekayaan alam yang raksasa tidak dimanfaatkan, ada lautan orang yang menganggur atau setengah menganggur dan yang menderita kelaparan. Hal itu membuktikan dengan jelas, bahwa dalam negara-negara kita dan dalam hubungan antar-negara, pada tingkat kontinental dan tingkat dunia, ada sesuatu yang tidak tepat dalam tata kerja dan hubungan kerja” (LE 18). Ajaran sosial Gereja mengajak semua, supaya mengerahkan keahlian ekonomi dan inisiatif para usahawan bersama keinginan kaum buruh untuk maju. Dengan demikian, diharapkan bahwa orang yang mau bekerja memperoleh pekerjaan dan jaminan hidup. Kesempatan kerja adalah tuntutan keadilan yang dasariah.