Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya


Ada banyak orang mempertanyakan siapakah sebenarnya Yesus Barabbas yang disebut dalam Mat 27:17-26 , yang telah dipilih oleh orang-orang Yahudi untuk dibebaskan, dan Tuhan Yesus Kristus dihukum mati menggantikan dia.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth, menjelaskan tentang Yesus Barabbas ini, demikian:

“Di puncak pengadilan Yesus, Pilatus menghadirkan pilihan kepada orang banyak, antara Yesus dengan Barabbas. Satu dari antara mereka akan dibebaskan. Tetapi siapakah Barabbas? Biasanya perkataan dalam Injil Yohanes yang akan muncul di pikiran: “Barabas adalah seorang penyamun” (Yoh 18:40). Tetapi bahasa Yunani untuk “penyamun” telah mempunyai arti khusus dalam situasi politik yang terjadi pada zaman itu di Palestina. Kata itu menjadi persamaan kata dengan “pemberontak”. Barabbas mengambil bagian dalam pemberontakan (lih. Mrk 15:7) dan lebih lagi -dalam konteks itu- telah dituduh sebagai pembunuh (lih. Luk 23:19, 25). Ketika Matius menyebutkan bahwa Barabbas adalah “penjahat yang terkenal” (Mat 27:16), ini adalah bukti bahwa ia adalah pemberontak yang ternama, sesungguhnya kemungkinan adalah pemimpin sesungguhnya dari pemberontakan itu.

Dengan kata lain, Barabbas adalah seorang tokoh mesianis. Pilihan antara Yesus vs Barabbas bukan merupakan kebetulan: dua orang tokoh mesias, dua bentuk kepercayaan mesianis saling berhadapan di sini. Ini menjadi semakin jelas ketika kita memperhatikan bahwa nama Bar-Abbas berarti “anak dari bapa”. Ini adalah gelar mesianis yang tipikal, nama ideal bagi pemimpin utama bagi gerakan mesianis. Pemberontakan Yahudi besar yang terakhir di tahun 132 dipimpin oleh Bar-Kokhba, “anak bintang”. Bentuk namanya sama, dan muncul dengan maksud yang sama.

Origen, seorang Bapa Gereja, memberi kita detail lain yang menarik. Sampai abad ke-tiga, banyak manuskrip Injil mengacu kepada orang yang dipermasalahkan ini sebagai “Yesus Barabbas”- “Yesus, anak bapa”. Barabbas di sini adalah sebagai kebalikan dari Yesus, yang membuat klaim yang sama tetapi memahaminya dengan cara yang sangat berbeda sama sekali. Maka pilihannya adalah antara seorang Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata, yang menjanjikan kemerdekaan dan kerajaaan sendiri, dengan Yesus yang penuh misteri, yang mengajarkan bahwa jalan menuju kehidupan adalah dengan kehilangan nyawanya/ menyerahkan hidupnya. Apakah mengherankan jika orang banyak memilih Barabbas? ……

Jika kita harus memilih sekarang ini, apakah Yesus dari Nazareth, anak Maria, Anak Bapa, dapat memperoleh kesempatan? Apakah kita benar-benar mengenal Yesus? Apakah kita memahami-Nya? Apakah kita tidak, mungkin harus berusaha, sekarang ini dan selalu, untuk mengenal Dia lagi dan lagi? Sang penggoda tidak begitu kejam untuk menganjurkan kita secara langsung bahwa kita harus menyembah setan. Ia hanya menganjurkan bahwa kita memilih keputusan yang masuk akal, bahwa kita memilih untuk memberi prioritas kepada dunia yang terencana dan teratur secara menyeluruh, di mana Tuhan mendapat tempat-Nya sebagai perhatian privat tetapi tidak boleh mempengaruhi maksud-maksud dasar kita…..

Petrus, berbicara atas nama para murid, telah mengaku bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Kristus, Putera Allah yang hidup. Dengan ini, ia telah menyatakan dengan perkataan, iman yang membangun Gereja dan meresmikan komunitas baru akan iman yang berdasarkan Kristus. Pada saat yang penting ini, ketika pengetahuan yang berbeda dan definitif tentang Yesus memisahkan para pengikut-Nya dengan pendapat umum, dan mulai menentukan mereka sebagai keluarga-Nya yang baru, sang penggoda muncul – mengancam untuk membalikkan semuanya menjadi kebalikannya. Tuhan secara langsung menyatakan bahwa konsep Mesias harus dipahami dengan pengertian keseluruhan pesan para Nabi – itu bukan kekuatan dunia, tetapi Salib itu, dan komunitas yang berbeda secara radikal, yang terbentuk melalui Salib itu…. ” (Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (New York: Double Day, 2007), p. 40-42)

Penjelasan ini membuka mata hati kita, bahwa bukan suatu kebetulan bahwa penjahat yang dipilih untuk dibebaskan sebagai ganti Yesus Kristus, juga bernama Yesus, bahkan Yesus Barabbas. Pembebasan Barabbas menunjukkan bahwa lebih mudah orang memilih pengertian mesias menurut dunia, daripada pengertian Mesias, yang dikehendaki Allah. Semoga oleh tuntunan Roh Kudus, kita mampu memilih yang benar, ketika dihadapkan atas pilihan ini: kejayaan duniawi, ataukah salib menuju kejayaan surgawi? Yesus Barabbas ataukah Yesus Kristus dari Nazareth?

Semoga bersama Rasul Petrus, kita dapat berkata dengan iman kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”! (Mat 16:18)

Tulisan di atas diambil dari http://www.katolisitas.org.

Sumber: SIAPA ITU YESUS BARABBAS? (MAT 27:17)

Doa untuk Paus


Allah, Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat kudus, yakni Gereja. Dengan penuh kasih la sendiri menggembalakan Gereja. Dialah Kepala Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah membangkitkan begitu banyak pemimpin umat untuk ambil bagian dalam karya kegembalaan Kristus sendiri. Maka kami mohon berkat-Mu bagi para pemimpin umat-Mu, terutama paus kami…, hamba para hamba-Mu. Dampingilah dia agar tetap setia akan panggilan suci-Mu. Semoga ia selalu berusaha meneladan Tuhan Yesus, yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

Anugerahkanlah kesehatan dan kebijaksanaan kepada Paus kami. Semoga pelayanan kebapaannya menyuburkan iman kami, sehingga kami semakin berani melaksanakan tugas perutusan sebagai saksi Kristus, menjadi terang bagi masyarakat di sekitar kami.

Semoga Paus kami mampu mempersatukan para gembala umat di seluruh dunia, agar mereka semua sehati sepikir melayani umat-Mu. Semua ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)

Magisterium atau Wewenang Mengajar


Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki-lah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar tidak sama dengan mewartakan.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“.

Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat:

  1. Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan;
  2. Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus;
  3. Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat);
  4. Disepakati bersama.

Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan.

Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru. Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman. Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Uskup


Pada dasarnya paus juga seorang uskup. Kekhususannya sebagai paus, bahwa dia ketua dewan para uskup. Kekhususan para uskup ialah mereka selalu berkarya dalam persekutuan dengan uskup-uskup yang lain dan dengan mengakui paus sebagai kepala. Apa sebenarnya karya seorang uskup? Konsili Vatikan II merumuskannya dengan jelas, “Masing-masing uskup menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya” (LG 23). Mengenai paus dikatakan yang sama untuk seluruh Gereja, “asas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para uskup maupun segenap kaum beriman”.

Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri dan paus bagi seluruh Gereja adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas itu boleh disebut tugas kepemimpinan, dan para uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27). Namun Konsili menegaskan bahwa “tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya, sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab Suci disebut diakonia atau pelayanan” (LG 24). Karena Gereja itu komunikasi iman, maka tugas pemersatu hanya dapat dijalankan dengan memajukan komunikasi itu, bukan dengan paksaan atau indoktrinasi. Suatu kesatuan yang dipaksakan dari atas bukanlah kesatuan iman.

Tugas pemersatu itu selanjutnya dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja. Komunikasi iman Gereja terjadi dalam pewartaan, perayaan dan pelayanan. Maka dalam tiga bidang itu para uskup, dan paus untuk seluruh Gereja, menjalankan tugas kepemimpinannya. “Di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Selanjutnya uskup “diserahi tugas mempersembahkan ibadat agama Kristen kepada Allah yang mahaagung, dan mengaturnya menurut perintah Tuhan dan hukum Gereja” (LG 26). Akhirnya “para uskup membimbing Gereja-gereja yang dipercayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan Gereja uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi iman.

Paus


Dalam uraian mengenai dewan para uskup, Konsili menegaskan:

“Adapun Dewan atau Badan para Uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai Kepalanya, dan selama kekuasaan Primatnya terhadap semua, baik para Gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya. Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (LG 22).

Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Kristus “mengangkat St. Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Dalam diri Petrus itu Ia menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul. Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup. Di sini timbul dua pertanyaan: a) bagaimana Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul; dan b) mengapa paus itu pengganti Petrus?

Yang paling mudah ialah pertanyaan yang kedua. Petrus, menurut kesaksian tradisi, adalah uskup Roma yang pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Maka menurut keyakinan tradisi, uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Yang penting sebenarnya bukan kedudukan di Roma, sebab paus itu pemimpin Gereja universal sebagai pengganti Petrus. Hubungannya dengan Petrus dilambangkan dengan kedudukannya sebagai uskup Roma. Yang pokok ialah pengganti Petrus. Tetapi apa tugas dan kuasa Petrus?

Jelas sekali dari Perjanjian Baru bahwa Petrus memang mempunyai kedudukan yang istimewa di antara para rasul. Hal itu dapat diterangkan dari watak dan pembawaannya, serta dari kedudukannya sebagai orang yang sudah berkeluarga. Tetapi oleh tradisi Mat 16:16-19 dan Yoh 21:15-19 diartikan sebagai kisah penyerahan kuasa kepemimpinan kepada Petrus. Dengan demikian Petrus diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para rasul menghimpun Gereja semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas St. Petrus, ketua mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri menjadi batu sendinya” (LG 19).

Sebetulnya harus dikatakan, seperti dalam hal prinsip hierarkis pada umumnya, bahwa sulit dibedakan antara Yesus dan Gereja perdana. Dasar kedudukan paus sebagai pengganti Petrus bukan hanya Perjanjian Baru yang berasal dari Gereja perdana, melainkan juga penafsiran dan pemahaman tulisan itu dalam tradisi Gereja selanjutnya.

Di sini pun dapat ditarik kesimpulan bahwa, kendatipun segala kesulitan yang ada (lih. Gal 2:11-14), Petrus oleh Gereja perdana diakui sebagai pemimpin umum. Justru kesulitan-kesulitan itu memperlihatkan bahwa dasar pengakuan itu bukanlah pribadi Petrus sendiri, melainkan tugas dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan Yesus. Seandainya tidak ada sabda Yesus yang jelas dan tegas, mereka tidak akan memberikan begitu banyak perhatian kepada kedudukan Petrus. Maka fungsi dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin seluruh Gereja – dengan tetap mengakui tugas dan wewenang dewan – diakui pula sebagai unsur yang termasuk prinsip hierarkis, yang akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Itulah dasar tugas dan wewenang paus, sebagai pengganti Petrus.

Gereja yang Satu


Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja.

Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok.

Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris, tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah.

Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan, daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain. Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai; perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena rahmat Injil.

Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23).

Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22).

Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja


Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).