Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Pekan Suci.. tidak meriah?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy.jpgHari minggu kemarin tanggal 13 April 2014, yaitu Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci. Umat Gereja Katolik disibukkan dengan rangkaian persiapan untuk merayakan puncak pekan suci yaitu pada 7 hari kemudian: Minggu Paskah. 5 (lima) rangkaian perayaan khusus pada pekan suci dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Dilihat dari kemeriahan yang nanti pada puncaknya yaitu pada hari Minggu Paskah, atau hari raya Paskah, terkadang bagi teman-teman kita yang bukan non-katolik mengira bahwa hari raya Paskah tidak semeriah natal, karena cenderung terkesan ‘berkabung’.

Ya memang seperti itu kesannya… tapi kita dapat menjawab hari raya Paskah tidak kalah meriahnya dengan hari raya Natal, lebih tepatnya meriah pada hari Minggu Paskah, atau lebih terarah lagi dengan memberi tambahan “Yesus Kristus Bangkit!”.  Namun hari sebelum hari Minggu Paskah yang meriah itu, umat katolik menjalani rangkaian perayaan yang mungkin ‘membingungkan’ bagi teman-teman kita yang non-katolik, apalagi kalau sampai mereka melihat cambuk dan mahkota duri. :)

Coba saja bayangkan apa kira-kira yang mereka amati sepanjang pekan suci ini? Dimulai pada hari Minggu Palma (awal pekan suci) dimana umat yang melambai-lambaikan daun palma bersorak-sorai ‘hosana’ menyambut Yesus sang Raja, mesias yang dinantikan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dan setelah itu umat mengikuti perayaan perjamuan kudus bersama Yesus, dan Yesus membasuh kaki umat-Nya, namun setelah itu umat-Nya tiba-tiba menyelinap meninggalkan perjamuan kudus itu dan mengkhianati Yesus. Kemudian beberapa umat yang mengambil peran dalam jalan salib yang berteriak ‘Salibkan DIA!’, meminta kepada Pilatus agar menyalibkan Yesus. (huh? kok? …). Yesus yang meminta umat-Nya agar tetap tinggal bersama DIA, umat-Nya awalnya berjanji akan setia, tapi umat-Nya ada yang meninggalkan DIA. Yesus ditahan dan didera, Yesus mengampuni umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia, dan umat-Nya lari bersembunyi karena takut bernasib sama. Kemudian Yesus dibunuh, disalibkan – umat-Nya menurunkan Yesus dari salib dan menguburkan-Nya, sambil menangis sedih. Kemudian hari berikutnya umat-Nya kembali mengunjungi kuburnya, namun Yesus tidak ada di dalam kubur. Kemudian Yesus kembali, menampakan diri-Nya kepada umat-Nya dan kemudian… ternyata Yesus Kristus Bangkit dari mati!

Dari gambaran yang coba kita bayangkan itu, maka tidak lah heran bahwa begitu banyak persiapan, dan bacaan, dan lagu, dan pergantian kostum, untuk mengisahkan kejadian itu. Maka tidak heran juga kalau ada yang mengatakan bahwa perayaan Pekan Suci dapat berkesan seperti simbolis dan retorika belaka. Itu juga belum menyinggung soal tali cambuk yang dipegang oleh umat yang berperan sebagai tentara romawi sewaktu mendera Yesus, mahkota duri, jubah yang sobek, pantang dan puasa, ratapan-ratapan, dan nyanyian luapan kegembiraan. Sangat kompleks dan padat. Sangat kontras dengan teman-teman kita yang non-katolik tapi juga merayakan Paskah, dengan membawa tema Kelinci Paskah. :)

Semua rangkaian perayaan panjang dan rumit dalam Pekan Suci itu memberikan banyak hal, dan yang mendasari semua perayaan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus lah yang selalu menggerakkan semua hati umat untuk mau berkumpul bersama-sama – untuk menjadi saksi Kristus, untuk menerima Kristus, dan untuk menjadi Kristus.

Umat menjadi saksi Kristus dalam nyanyian dan kisah sepanjang Pekan Suci. Pada Minggu Palma, umat berkumpul di luar ruangan, di tengah jalan raya, berarak-arak sambil melambaikan daun Palma. (walaupun tidak jarang banyak umat yang merasa agak sungkan, malu, karena dianggap aneh.. )

Umat juga menerima Kristus sepanjang Pekan Suci – bahkan ketika ada jiwa umat yang sedang sakit penuh dengan dosa atau hati umat yang penuh kesedihan berusaha menolak Kristus agar menjauh.

Dan umat juga menjadi Kristus. Kita mengenal perkataan “terberkatilah yang datang atas nama Tuhan”. Setelah umat menerima Kristus, seperti seorang hamba menerima segala sesuatu dari sang Raja; – darah-Nya, tubuh-Nya, jiwa-Nya, roti dan anggur dari DIA diserahkan kepada umat-Nya. Kita mengampuni diri kita sendiri dan sesama, kita melayani, dan masuk ke dalam dan ikut memikul penderitaan-Nya; kita sebagai umat-Nya menawarkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama kita agar kita dapat siap mati dan lahir kembali bersama Kristus.

Oleh karena itu tidaklah mungkin memuatkan semua misteri itu dalam satu kartu ucapan ‘Selamat Pekan Suci’ atau ‘Selamat Paskah’ seperti dalam kartu ucapan ‘Selamat Natal’; tidak ada cara yang ‘cukup’ untuk menyampaikan besarnya Sengsara yang telah dilalui, Kasih, dan Pengorbanan Yesus Kristus, bahkan rangkaian Pekan Suci yang kita lakukan, sepanjang satu minggu, lengkap dengan liturgi yang rumit. Namun dengan adanya Pekan Suci kita mendapat kesempatan untuk sekali lagi menjadi saksi Kristus, menerima Kristus, dan menjadi Kristus. Kapan saja dan dimana saja kita menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, entah ketika kita sedang berjalan di bawah terik matahari, di saat kita sedang benar-benar merasa tenggelam, terduduk berjam-jam dalam merenung dan gundah di tepi tempat tidur kita; atau ketika kita sedang bergembira dengan kelahiran bayi atau sedang berduka atas kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak pernah sendiri, ada Yesus Kristus yang telah melalui semua itu dan DIA lakukan untuk kita. Yesus Kristus menarik kita lebih dekat satu sama lain, lebih dekat kepada Allah, dan lebih dekat, selalu, Paskah.

Salam

Rabu Abu di dalam Gereja Katolik

Rabu Abu: Hari Pertama masa pra-Paskah.

Di dalam Gereja Katolik, Rabu Abu adalah hari pertama dimulainya masa pra-Paskah (dalam bahasa inggris: Lent), yaitu masa persiapan menyambut hari raya Paskah, hari Kebangkitan Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah. (dalam tradisi Gereja Katolik ritus Timur, masa pra-Paskah dimulai lebih awal 2 hari yaitu hari senin – Clean Monday).

Rabu Abu selalu diperingati pada 46 hari sebelum Paskah. Karena Paskah selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, maka begitu juga dengan hari Rabu Abu. Walaupun hari Rabu Abu bukanlah hari raya yang wajib bagi umat Katolik, namun Gereja Katolik sangat mendorong umatnya untuk mau menghadiri misa pada hari Rabu Abu agar menandai dimulainya pekan suci pra-Paskah.

Pembagian, Pemberian Abu:

Dalam misa Rabu Abu, abu diberikan kepada umat. Abu tersebut diperoleh dari hasil pembakaran daun palem yang telah diberkati dan dibagikan pada minggu palma pada 1 tahun sebelumnya; banyak Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia meminta umatnya untuk mengembalikan daun palem yang dibawa pulang ke rumah, daun palem yang sudah mengering agar dapat dibakar dan dijadikan Abu.

Abu itu pada misa Rabu Abu setelah diberkati oleh Pastor dan diperciki dengan air suci, para umat diperbolehkan untuk maju menerima Abu. Pastor mencelupkan ibu-jari ke dalam abu dan memberikan abu tersebut dengan tanda salib pada setiap dahi umat, seraya berkata: “Ingatlah, manusia dari abu kembali menjadi abu, dari debu kembali menjadi debu” (atau ungkapan sejenisnya yang mirip).

Hari Tobat:

Pemberian Abu mengingatkan kita mortalitas (hidup duniawi yang akan berakhir nanti) kita, dan mengajak kita untuk bertobat. Pada masa Gereja awal, Rabu Abu adalah hari yang diperuntukkan bagi para pendosa dan orang-orang yang ingin kembali ke pangkuan Gereja, untuk memulai pertapaan sebagai wujud penyesalan dan tanda tobat. Abu yang kita terima merupakan pengingat akan kedosaan kita, dan banyak umat Katolik yang membiarkan tanda salib dari Abu di dahi kepala mereka sebagai tanda kerendahan hati.

Berpuasa dan berpantang diperlukan:

Gereja Katolik menekankan bahwa pentingnya bentuk penyesalan akan dosa kita nyatakan juga dengan puasa dan berpantang memakan daging. Umat Katolik yang berumur 18 tahun hingga 60 diminta untuk berpuasa, yaitu mereka hanya boleh makan malam dengan lengkap (minus daging) dan hanya 2 porsi yang sedikit pada pagi dan siang hari; dan tidak boleh ada makanan lain selain dari pada itu. Dan bagi umat di atas umur 14 tahun untuk menahan diri untuk memakan daging, atau makanan yang mengandung daging pada hari Rabu Abu.

Mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita:

Berpuasa dan berpantang bukanlah bentuk sederhana dari penyesalan akan dosa kita, namun; keduanya mengajak kita untuk mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita. Dengan masa pra-Paskah, kita seharusnya memberi suatu poin yang perlu kita capai sebelum hari raya Paskah tiba, dan kita memutuskan bagaimana kita akan mencapainya – sebagai contoh: dengan pergi setiap hari jika ada misa jika kita dapat dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa lebih sering.

Mengapa orang Katolik membuat abu di dahi ketika Rabu Abu?

Ash-Wednesday‘Maaf, mengapa ada kotoran abu di dahi kepala kamu?’

Pertanyaan ini mungkin pernah ditanyakan oleh teman-teman kita yang non-Katolik, ketika rabu abu, awal pra-Paskah setiap tahun. Pertanyaan ini mungkin muncul karena rasa ingin tau teman kita, dan bagi kita pertanyaan ini kesempatan kita untuk menjadi ‘pewarta kecil’ dalam memperkenalkan sosok yang terpenting dalam hidup kita: Yesus Kristus.

Lalu jawaban apa yang akan kita katakan mengenai abu di dahi kita?

yang pasti bukan menjawab seperti di bawah ini:

Mama yang suruh saya ke Gereja untuk mendapatkan tanda ini. Saya tidak tau apa artinya tanda ini. (ketidak-pedulian)

Saya sedang protes kebiasaan mandi dengan shower adalah pemborosan air. Hari ini abu, besok lumpur (sarkastik)

Saya sedang menutup jerawat agar tidak kelihatan. Apakah jerawatnya masih kelihatan? (konyol)

Lebih baik kotor di luar daripada kotor di dalam (praktis tapi tidak tepat)

Sebaiknya kita memberi jawaban yang baik seperti:

  1. Secara Kitab Suci:

Ada lebih dari 40-an ayat di Kitab Suci yang berhubungan dengan abu mengenai kesedihan dan kedukaan. Dalam Perjanjian Lama, orang pada saat itu menggunakan abu sebagai tanda pertobatan. Lihat kitab Daniel 9:3-6 sebagai contoh.

Rabu Abu adalah hari pertama masa pra-Paskah, saat dimana kita berhenti sejenak dan mengenakan abu di dahi tanda bahwa kita sedang memperbaharui kesadaran hidup kita berjalan bersama Allah. Masa pra-Paskah membantu kita mengenali kembali area spiritual tempat dimana kita dapat berkembang, dan area kedosaan mana yang harus kita jauhi. Untuk bertobat, sederhananya adalah berpaling dari dosa dan mengarah kepada Allah. Kita menggunakan abu sebagai ekspresi bahwa kita perlu memperbaharui kembali iman kita.

  1. Secara Tradisi Gereja:

Abu adalah simbol kematian jasmani, fisik, seperti ‘abu menjadi abu, debu menjadi debu’. Kita diciptakan dari debu (eksistensi kita yang tidak ada sukacita dan hidup), dan akan kembali menjadi debu, hingga nanti kita dibangkitkan oleh Kristus. Dengan mengenakan abu di dahi dan berani membiarkan abu itu di dahi, kita menyatakan secara terbuka niat kita untuk mati terhadap keinginan duniawi dan lebih hidup dalam gambaran Kristus, dimana kita berfokus dalam masa pra-Paskah ini, masa kelahiran kita kembali (Lent, istilah Latin yang bermakna ‘bersemi kembali’).

  1. Secara Historis:

Sudah lebih dari seribu dua ratus tahun, para pengikut, umat yang beriman melakukan hari rabu abu (dies cinerum), maju mendekati altar dan menerima abu di dahi mereka. Abu tersebut berasal dari daun palem yang dibakar, daun palem yang telah diberkati pada minggu palma tahun sebelumnya.

Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan dan pertapaan dapat ditelusuri prakteknya hingga masa lampau di dunia. Pada hari rabu abu, umat Katolik menerima abu dengan tanda salib di dahi mereka.

  1. Secara simbolik:

Allah menciptakan adam dari ‘debu’ , dapat kita baca di kitab Kejadian 2:7. Dan ada juga kisah dimana Yesus menyembuhkan orang buta dengan mengoleskan tanah kepada mata orang buta, dapat kita baca di kitab Yohanes 9:6. Kita menandai diri kita dengan abu sebagai permulaan masa pra-Paskah, masa ‘bersemi-kembali’, menyambut hidup Yesus Kristus untuk memperbaharui dan menyempurnakan kita kembali.

  1. Secara umum:

Jawaban yang mungkin paling umum, baik, mudah, dan bermakna untuk pertanyaan ‘mengapa Abu di dahi saya?’ adalah: Saya adalah orang berdosa. Saya tidak selalu mengasihi Allah, tidak segenap kemampuan saya, tidak selalu dengan hati saya, tidak seperti yang seharusnya saya lakukan. Rabu abu mengingatkan saya bahwa melalui Allah lah saya memperoleh hidup; Dia memberikan hidup kepada saya.

Rabu abu juga merupakan awal persiapan bagi saya untuk menyambut Pekan Suci, Jalan Salib, dan Kebangkitan Yesus Kristus. Karena Dia lah saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kehidupan kekal di Surga. Rabu abu adalah kesempatan baik untuk saya menjadi lebih baik. Terima kasih telah bertanya :)

Allah mengampuni. Dia mengasihi. Dia selalu memberikan kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat. Salam.

Arti dari Kebangkitan

Apa artinya mempercayai bahwa Yesus “bangkit dari mati”? Salah satunya pengertian yang pasti adalah, bahwa siapa yang mengikuti Dia akan mengalami hal yang sama. Kitab Perjanjian Baru jelas memuat hal itu (lihat, contoh, 1 Korintus 15:12-23.).

Tetapi apa arti dari kata-kata itu? Di satu sisi, kata-kata itu berarti sangat sederhana: Yesus bangkit “dari mati” (atau dengan kata lain, “dari jenazah”, tubuh yang telah mati). Kata-kata yang terdapat di dalam kredo (syahadat) pada masa awal adalah anastasis sarkos dan  anastasis nekron, yang artinya “berdirinya [atau bangunnya] daging” dan “berdirinya tubuh jenazah”. Kedua ekspresi tersebut berusaha menyatakan kenyataan sebisanya. Anastasis merupakan kata untuk merujuk postur badan. Sarkos dan nekron berarti bahwa tubuh yang nyata secara konkrit dari yang telah mati akan bangkit.

Namun muncul pertanyaan yang tidak sederhana; Jenis badan/tubuh yang bagaimana yang dimaksud dalam kebangkitan badan? Kebangkitan badan Yesus menunjukkan bukti yang sangat lain, bagi para muridnya dan teman-teman dekat Yesus pada awalnya mereka tidak mengenali Yesus yang tampak dengan badan yang telah bangkit, tetapi kemudian mengenali setelah Yesus menyatakan kepada mereka. Paulus mengemukakan analogi untuk menjelaskan ini, walaupun tidak dapat menghilangkan misteri yang terkandung. Pada 1 Korintus 15, Paulus menganalogikan tubuh (badan) baru kita, seperti tubuh baru Yesus, adalah berbeda dengan tubuh yang lama yang kita miliki, perbedaan itu layaknya seperti matahari berbeda dengan bulan, hewan berbeda dengan tumbuhan, tumbuhan berbeda dengan benih. Bentuk baru tersebut tidak sesuai dengan kategori dari bentuk yang lama. Namun analogi ini hanya untuk persiapan bagi kita untuk menghadapi jika bentuk baru tersebut adalah karya penciptaan baru dari Allah.

Kita juga tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Yesus bangkit. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian itu secara langsung, yang ada banyak orang yang mengalami dan menyaksikan kejadian setelah Yesus yang bangkit. Tidak ada yang mengetahui teknologi bagaimana yang digunakan Allah. Dalam pengertian ini kita tidak dapat mendefiniskan Kebangkitan. Tetapi kita dapat membedakan Kebangkitan dari 10 (sepuluh) alternatif yang terkadang dapat membingungkan kita.

  1. Yesus yang bangkit bukanlah berupa roh atau hantu. Kebingungan dalam hal ini adalah hal yang pertama muncul di benak para rasul (Lukas 24:36-43). Yesus membuktikan bahwa anggapan di benak para rasul salah dengan menunjukkan luka pada tangan dan kaki-Nya yang berupa daging, dan Yesus juga ikut memakan ikan yang disediakan pada murid-Nya. Roh atau hantu tidak mempunyai wujud badan atau daging; tetapi Yesus yang telah bangkit memiliki tubuh yang nyata; oleh karena itu Yesus yang telah bangkit bukanlah hantu.
  2. Kebangkitan Yesus Kristus (Resurrection) bukanlah resusitasi (Resuscitation), bukan seperti pengembalian tidak sadar menjadi sadar, atau bukan seperti kejadian ‘kebangkitan’ Lazarus yang tertulis di Kitab Perjanjian Baru. Tubuh Lazarus yang keluar dari kuburannya adalah tubuh yang sama ketika Lazarus diantar ke dalam kuburannya. Dia masih tetap mengenakan kain kafan (Yohanes 11:44). Sedangkan kain kafan yang dikenakan Yesus, terlipat rapi di dalam kubur Yesus (Yohanes 20:6-7). Lazarus pada akhir usia tuanya akan meninggal, mati lagi. Sedangkan Yesus tidak (Roma 6:9). Lazarus mirip seperti kebanyakan pasien pada jaman sekarang yang mengalami resusitasi dan kembali sadar dari “pengalaman hampir-mati” atau “pengalaman keluar-dari-tubuh”. Apapun kejadian resusitasi tersebut, adalah bersifat sementara. Sedangkan Kebangkitan Yesus bersifat permanen, kekal, abadi.
  3. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah Reinkarnasi. Reinkarnasi mirip dengan Resusitasi, yang hanya memberikan tubuh yang lain tetapi tetap berupa tubuh  duniawi. Kebangkitan badan/tubuh Yesus adalah kekal, abadi. Tubuh yang dimaksud dalam kebangkitan adalah tubuh yang lama dan sekaligus tubuh yang lebih baru daripada tubuh Yesus ketika dibangkitkan. Tubuh Yesus disebut tubuh yang lama, karena tubuh Yesus masih dapat dikenali oleh para muridnya, dan Tubuh Yesus disebut tubuh yang baru karena tubuh tersebut abadi, kekal.
  4. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari pemahaman mengenai keabadian (immortality) oleh paham plato atau gnostik. Dimana paham plato atau gnostik memahami keabadian/kekekalan sebagai terbebasnya jiwa dari keterikatan dari tubuh. Kebangkitan Yesus bukan untuk dipahami sebagai pencapaian keabadian/kekekalan jiwa. Karena jika kebangkitan Yesus dipahami seperti demikian maka hal tersebut tidak berbeda dengan pemahaman yang sudah biasa dimiliki oleh budaya/daerah pada jaman dahulu seperti Yahudi dan Yunani; yaitu manusia dirasuki oleh suatu “jiwa” yang kemudian nantinya pada saat hidup dari manusia tersebut berakhir “jiwa” tersebut keluar dan menuju suatu dunia bayangan yang dinamakan Sheol (Yahudi) … atau Hades (Yunani) .. atau “heaven” (Budaya saat ini). Doktrin-doktrin yang dipahami oleh pada masa awal budaya Yahudi dan Yunani ini dikenal sebagai doktrin “Keabadian Jiwa” berbeda dan tidak ada hubunganya dengan kisah Kebangkitan Yesus. Kita harus memahami perbedaan pemahaman ini, bahwa Kebangkitan Yesus adalah suatu kejadian yang baru, bukti/fakta yang baru terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus lah yang disebut “buah yang pertama”, “sulung, yang bangkit dari antara orang mati”. Yesus berkuasa membuka pintu yang terkunci sejak kematian manusia yang pertama. Yesus telah bertemu, menghadapi, dan mengalahkan Maut. Dan setelah kemenangan Yesus itu, semua menjadi berbeda karena Dia telah melakukannya.
  5. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Penerangan Jiwa (Enlightenment), atau Nirvana, atau satori, atau moksha — hal-hal serupa yang dikenal dalam agama Hindu atau Budha sebagai hal yang diharapkan sesudah kematian: yaitu hilangnya pribadi individu dan suatu penyerapan kembali ke dalam yang Satu, sang Semesta. Sedangkan Yesus yang telah bangkit adalah individu yang benar-benar berbeda.
  6. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari ‘perpindahan’, ‘pengangkatan’, atau ‘penerimaan’ ke dalam surga. Perpindahan, pengangkatan, dan penerimaan ke dalam surga dalam perjanjian lama terjadi pada nabi Henokh (kakek buyut nabi Nuh), Elia, dan Musa. Gereja Katolik mempercayai hal ini juga terjadi pada Maria ibu Yesus, Maria diangkat ke dalam surga. Tetapi Yesus bukanlah dibawa dari bumi ke surga dengan Kebangkitan-Nya, melainkan dari dunia orang mati Dia kembali ke dunia, dunia orang hidup.
  7. Kebangkitan Yesus Kristus dibedakan dari sebuah ‘pandangan’, ‘penglihatan’ (vision, pengalaman spiritual). Walaupun suatu penglihatan yang diadakan oleh Allah, atau oleh alam bawah sadar kita sendiri, atau oleh roh jahat, sebuah penglihatan pada prinsipnya tetaplah bersifat spiritual dan subjektif; yaitu berada di dalam kesadaran kita sendiri. Tetapi yang terjadi pada Kebangkitan Yesus bukanlah suatu ‘pandangan’ atau ‘penglihatan’, Kebangkitan Badan Yesus telah disaksikan oleh orang-orang banyak, secara terbuka, pada saat yang sama. Bahkan Yesus dapat disentuh dan makan bersama dengan murid-muridnya.
  8. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Legenda. Legenda, walaupun ada bobot nilai kebijaksanaan di dalamnya, adalah tetap suatu fiksi belaka (tidak nyata) yang dibuat oleh pikiran manusia biasa, bukan oleh Allah, dan bukan oleh alam.
  9. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah mitos. JIka kita ingin membedakan mitos dengan legenda, kita dapat menganggap mitos secara simbolik adalah benar. Sebagai contoh, ada suatu agama di Timur Dekat (kawasan Levant atau Sham, Anatolia, Mesopotamia, dan Plato Iran) yang mempercayai adanya banyak dewa gandum, dewa jagung, dan dewa buah-buahan lainnya yang bangkit dari kematian setiap musim semi. Dewa-dewa ini tidak ada sebenarnya, tetapi kehidupan baru buah yang baru benar-benar ada. Dan jika dihubungkan dengan kisah Kebangkitan Yesus, kelihatannya mirip dan pemikiran yang keliru ini dapat menarik kesimpulan bahwa Kebangkitan Yesus juga adalah mitos. Tetapi Kebangkitan Yesus yang sebenarnya tidaklah mirip dengan mitos. Kebangkitan Yesus punya poin-poin penekanan yang merupakan kenyataan, secara spesifik, benar-benar terjadi pada waktu dan tempat sejarah dan dibenarkan oleh saksi mata. Perjanjian baru secara eksplisit membedakan Kebangkitan Yesus dari mitos dan legenda: “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” (2 Petrus 1:16).Para demitolog moderen yang mengatakan bahwa mereka mempercayai Kebangkitan Yesus, tetapi hanya sebatas mitos, melakukan peniadaan klaim, mengaburkan data — sama halnya seperti jika ada orang yang mengklaim sebagai seorang Nazi, dan percaya bahwa ras Aria adalah ras yang unggul dari pemahaman mitologi sementara mereka membantah bahwa ras Aria adalah benar-benar unggul.Para demitolog berusaha membantah ini dengan membedakan heilsge-schichte (sejarah suci) dari yang biasanya, sejarah (sekular); dengan mengatakan bahwa Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi pada awalnya (sejarah suci), dan tidak terjadi pada sejarah (sekular). Namun usaha ini tidak memadai karena jika hal itu benar terjadi, maka hal tersebut benar-benar terjadi waktu lampu sama halnya dengan kelahiran, perang, baik hal yang buruk atau baik. Dan jika tidak benar terjadi, jangan mengatakan hal tersebut sebagai suatu istilah dengan ‘sejarah’, melainkan cukup dengan mengatakan hal tersebut adalah fiksi.
  10. Kebangkitan Yesus Kristus harus benar-benar jelas dibedakan dari apa yang dikemukakan oleh moderenis dalam baris kalimat: “kebangkitan akan iman kebangkitan” dalam hati dan kehidupan para murid. “Iman Kebangkitan ” tanpa Kebangkitan yang sebenarnya adalah suatu kontrakdiksi dan menipu diri sendiri. Iman tersebut adalah iman akan sesuatu yang tidak lebih dari iman itu sendiri. Dan jika hal itu adalah iman, maka kita perlu bertanya: Iman akan iman apa? Iman itu seperti pengetahuan; perlu suatu objek. Jika tidak ada objek, dan hanya iman akan iman itu saja; maka iman itu seperti cermin yang memantulkan cermin yang dihadapannya. Iman dalam iman adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak normal. Sama seperti ingin merasakan daging ayam tanpa memakan daging ayam. Para murid tidak dapat mengalami kebangkitan iman dan harapan tanpa suatu kebangkitan yang nyata. Oleh karena itu, Jika bukan karena Kebangkitan Yesus, lalu siapa yang merubah para murid dari takut jadi pemberani dan mengubah dunia?

Doa Dasar


Tanda Salib

Dalam (Demi) nama Bapa dan Putera dan Roh kudus, Amin..


Bapa Kami

Bapa kami yang ada di dalam surga,
Dimuliakanlah nama-Mu,
Datanglah kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu,
Diatas bumi seperti didalam sorga,
Berilah kami rejeki pada hari ini,
Dan ampunilah kesalahan kami,
Seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami
ke dalam pencobaan,
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.

Baca juga :
Doa Bapa Kami sebagai Sumber Inspirasi dan Kekuatan
Memahami Doa Bapa Kami
Seluk-beluk Doa Bapa Kami


Salam Maria

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau diantara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati.
Amin.


Kemuliaan

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad.
Amin.


Doa Harapan

Allah, Bapa di surga, kasih setia-Mu kekal abadi.
Engkaulah tumpuan hidup dan harapanku.
Tanamkanlah dalam hatiku pengharapan yang teguh akan kasih dan kebaikan-Mu;
pengharapan yang menjiwai seluruh hidup Putra-Mu Yesus Kristus.
Berilah aku pengharapan yang kuat
karena yakin bahwa Engkau selalu besertaku.
Semoga aku selalu menyandarkan diri kepada-Mu dalam suka dan duka.
Aku mohon pengharapan yang teguh supaya aku tidak
mudah putus asa dalam penderitaan dan kekecewaan.

Bapa, semoga pengharapan yang kuat selalu menjiwai seluruh hidupku.
Dalam pengharapan itu aku akan membangun hidup dan masa depanku.
Dalam harapan itu pula aku percaya akan
memperoleh hidup abadi bersama Engkau.
Ya Allah, teguhkanlah pengharapanku.
Amin.


Doa Iman

Allah yang esa, Engkau telah menciptakan semesta alam,
Aku percaya bahwa Engkau adalah Bapa yang pengasih dan penyayang;
Engkau sungguh mengasihiku;

Engkau telah mengutus Yesus, Putra-Mu yang tunggal,
yang telah menjadi manusia, wafat dan bangkit untuk keselamatanku.
Engkau telah mengutus pula Roh Kudus pemberi hidup.

Dia berasal dari Bapa dan Putra.
Dia telah dicurahkan ke atasku dan berdiam di dalam diriku,
sehingga aku menjadi bait Allah.

Dialah penolong sejati,
yang membimbing aku kepada seluruh kebenaran.

Ya Bapa, berilah aku iman yang hidup,
dan jadikanlah aku berani menjadi saksi-Mu
di hadapan sesama manusia sepanjang hayatku.

Ya Allah, tambahkanlah selalu imanku.
Amin.


Doa Kasih

Doa Kasih 1

Allah, sumber segala kasih,
Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus,
agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku,
dan semakin dikenal oleh banyak orang.

Santo Yohanes telah mengajarku,
“Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah,
sebab Allah adalah kasih.”

Semoga karena karunia kasih-Mu itu,
aku mampu mengasihi Engkau lebih dari segala sesuatu,
dengan segenap hati, segenap jiwa, dengan segenap akal budi,
dan dengan segenap kekuatan.

Karena mengasihi Engkau,
semoga akupun mengasihi orang lain
sebagaimana aku mengasihi diriku sendiri.
Ya Allah, kobarkanlah selalu kasihku.
Amin.

Doa Kasih 2

Aku mengasihi Engkau, ya Allah, dengan segenap hati, dengan seutuh jiwa,
dan dengan segala kemampuan, sebab Engkau adalah Kasih.

Bantulah aku mewujudkan kasih akan Dikau dengan
mengasihi sesama seperti aku mengasihi diriku sendiri.
Karena dorong kasih-Mu, semoga aku mengasihi Yesus, Putra-Mu terkasih,
dan mendengarkan sabda-Nya.
Berilah aku rahmat supaya dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya,
yakni mengasihi saudara-saudaraku,
sebagaimana Yesus sendiri telah mengasihi aku.

Semoga Roh Kudus, yang telah Kau curahkan ke atasku,
menyingkirkan dari hatiku kedengkian, iri hati dan dendam.
Ya Bapa, semoga aku hidup dalam kasih dengan semua orang,
supaya dunia mengetahui bahwa aku ini milik-Mu.
Amin.


Doa Masa Adven

Ya Allah, Bapa yang mahakudus kami bersyukur kehadirat-Mu, karena lewat masa penantian ini Engkau menjanjikan Juru selamat yakni Yesus Kristus Putra-Mu. Kedatangan-Nya dinubuatkan oleh para nabi dan dinantikan oleh Perawan Maria dengan cinta mesra. Dialah Adam baru yang memulihkan persahabatan kami dengan Dikau. Ia penolong yang lemah dan menyelamatkan yang berdosa.

Ia membawa damai sejati bagi kami dan membuat semakin banyak orang mengenal Engkau, dan berani melaksanakan kehendak-Mu. Ia datang sebagai manusia biasa, untuk melaksanakan rencana-Mu dan membukakan jalan keselamatan bagi kami. Pada akhir zaman Ia akan datang lagi dengan semarak dan mulia untuk menyatakan kebahagiaan yang kami nantikan.

Kami mohon kelimpahan rahmat-Mu, agar selama hidup di dunia ini kami selalu siap siaga dan penuh harap menantikan kedatangan-Nya yang mulia, agar pada saat Ia datang nanti, kami kau perkenankan ikut berbahagia bersama Dia dan seluruh umat kesayangan-Mu. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa Natal

Allah Bapa di surga, kami memuji Engkau dan bersyukur kepada-Mu karena sabda-Mu yang menjadi manusia dengan lahir ditengah-tengah kami. Ia menjadi manusia lemah agar kami yang rapuh dan fana ini diurapi oleh daya ilahi yang abadi.

Dengan kelahiran-Nya di dunia ini, Engkau yang tak dapat dilihat kini kelihatan sebagai manusia seperti kami, dan cahaya keselamatan-Mu bersinar ditengah kami, mengusir kegelapan yang menguasai kami.

Curahkanlah rahmat-Mu, agar kami yang kini merayakan misteri inkarnasi berani menjadi pembawa damai bagi sesama, dan dengan demikian kami pun menjadi sarana inkarnasi-Mu ditengah-tengah mereka. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa PraPaskah

Allah Bapa yang maha baik, kami bersyukur kepada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan-Mu. Selama Masa Prapaskah ini Engkau melimpahkan rahmat untuk menyegarkan iman kami.

Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Engkau mendorong kami melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana, mensyukuri segala anugerah-Mu, dan membantu orang-orang yang menderita. Karena selama Masa Prapaskah ini Engkau membimbing para calon baptis yang akan bersatu dengan kami melalui Sakramen Baptis. Dan sambil mendampingi mereka, kami pun Kau ajak menyegarkan rahmat Baptisan yang pernah kami terima dari-Mu.

Semoga karena rahmat-Mu yang Kau limpahkan selama Masa Prapaskah ini kami semakin Suci, semakin bersatu sebagai umat kesayangan-Mu, dan berani meneladan Yesus Putra-Mu, yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kami. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Doa Masa Paskah

Allah Bapa yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu karena Yesus Kristus telah bangkit dari Kubur. Dengan kebangkitan-Nya Kau tumbuhkan semangat dan harapan baru dalam hati kami; umat baru Kau ciptakan, dan pintu surga Kau buka bagi kami. Melalui kebangkitan-Nya kuasa dosa Kau hancurkan, kami Kau damaikan dengan Dikau dan sesama, dan alam semesta yang porak poranda Kau pugar kembali.

Dengan kenaikan-Nya Ia merintis jalan ke surga bagi kami, dan menyediakan tempat bagi kami. Semoga karena rahmat kebangkitan-Nya kami menjadi manusia baru, yang penuh harapan, yang gigih melawan dosa dan kejahatan, yang setia mengikuti kehendak-Mu, dan tak gentar akan derita salib. Demi Yesus Kristus, pengantara Kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Kidung Maria

Aku mengagungkan Tuhan
hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku.

Sebab Ia memperhatikan daku,
hamba-Nya yang hina ini.

Mulai sekarang aku disebut yang bahagia,
oleh sekalian bangsa.

Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa,
kuduslah nama-Nya.

Kasih sayang-Nya turun-temurun,
kepada orang yang takwa.

Perkasalah perbuatan tangan-Nya,
dicerai-beraikan-Nya orang yang angkuh hatinya.

Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta,
yang hina dina diangkat-Nya.

Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan,
orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong.

Menurut janji-Nya kepada leluhur kita,
Allah telah menolong Israel hamba-Nya.

Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya,
untuk selama-lamanya.

Kemuliaan …


Kidung Simeon

Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang.
dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu.
yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa;
Cahaya untuk menerangi para bangsa,
dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.

Kemuliaan …


Kidung Zakharia

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.

Ia mengangkat bagi kita seorang Penyelamat yang gagah perkasa.
putra Daud hamba-Nya,

Seperti dijanjikan-Nya dari sedia kala,
dengan pengantaraan para nabi-Nya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita;

Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita,
dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut,
dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang maha tinggi,
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan-Nya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umat-Nya,
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belas kasihan;
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kemuliaan


Malaikat Tuhan (Angelus)

(Di doakan pada pukul 06.00, 12.00 dan 18.00)

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,
Bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria 1x

Aku ini hamba Tuhan,
Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Salam Maria 1x

Sabda sudah menjadi daging,
Dan tinggal diantara kita.

Salam Maria 1x

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, Supaya kami
dapat menikmati janji Kristus.

Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami.

Amin.


Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus

Datanglah, ya Roh Hikmat, turunlah atas diri kami, ajarlah kami menjadi orang bijak, terutama agar kami dapat menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita surgawi. Semoga kami Kau lepaskan dari belenggu dosa dunia ini.

Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami. Terangilah budi kami, agar dapat memahami ajaran Yesus, Sang Putra, dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Datanglah, ya Roh Nasihat, dampingilah kami dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak ini. Semoga kami melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat.

Datanglah, ya Roh Keperkasaan, kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami.

Datanglah, ya Roh Pengenalan akan Allah. Ajarlah kami mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara saja. Bimbinglah kami agar dapat menggunakan hal-hal duniawi untuk kemuliaan-Mu.

Datanglah, ya Roh Kesalehan, bimbinglah kami untuk terus berbakti kepada-Mu. Ajarlah kami untuk menjadi orang yang tahu berterima kasih atas segala kebaikan-Mu dan berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang di sekitar kami.

Datanglah, ya Roh Takut akan Allah, ajarlah kami untuk takut dan tunduk kepada-Mu dimana pun kami berada. Tegakkanlah kami agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Mu.

Amin.


Novena Roh Kudus

Novena Roh Kudus ini dilaksanakan selama sembilan hari, mulai pada hari sesudah kenaikan Yesus ke surga dan berakhir pada hari Sabtu menjelang Pentekosta. Dalam novena ini umat memuji Tuhan yang menjanjikan kedatangan Roh Kudus dan memohon rahmat-Nya agar siap menyambut kedatangan Roh Kudus. Novena ini juga dapat dilaksanakan dalam kesempatan lain.

Hari Pertama

Allah pokok keselamatan kami, karena kebangkitan Kristus kami lahir kembali dalam pembabtisan dan menjalani hidup baru. Arahkanlah hati kami kepada Kristus yang kini duduk di sebelah kanan-Mu. Semoga Roh-Mu menjaga kami sampai Penyelamat kami datang dalam kemuliaan, sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kedua

Allah yang mahabijaksana, Putra-Mu menjanjikan Roh Kudus kepada para rasul dan memenuhi janji itu sesudah Dia naik ke surga. Semoga kami pun Kau anugrahi karunia Roh Kudus. Demi Yesus Kristus, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Ketiga

Allah, Penyelamat kami, kami percaya bahwa Kristus telah bersatu dengan Dikau dalam keagungan. Semoga dalam Roh-Nya, Dia selalu menyertai kami sampai akhir zaman, seperti yang dijanjikan-Nya. Sebab Dialah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Keempat

Allah yang mahakudus, semoga kekuatan Roh-Mu turun atas kami, agar kami mematuhi kehendak-Mu dengan setia dan mengamalkannya dalam cara hidup kami. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kelima

Allah yang mahakuasa dan mahakudus, semoga Roh Kudus turun atas kami dan berdiam dalam diri kami, sehingga kami menjadi kenisah kemuliaan-Nya. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Keenam

Allah yang mahaesa, Engkau telah menghimpun Gereja dalam Roh Kudus. Semoga kami mengabdi kepada-Mu dengan ikhlas dan bersatu padu dalam cinta. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Ketujuh

Allah yang mahakudus, curahkanlah Roh Kudus-Mu ke dalam diri kami, sehingga kami dapat melaksanakan kehendak-Mu dan layak menjadi milik-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kedelapan

Allah sumber cahaya kekal, Engkau telah membukakan bagi kami jalan menuju hidup kekal dengan memuliakan Putra-Mu dan mengutus Roh Kudus. Semoga cinta bakti dan iman kami selalu bertambah. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Dilanjutkan dengan Rosario Roh Kudus …

Hari Kesembilan

Allah yang mahakuasa, kebangkitan Putra-Mu telah menumbuhkan hidup baru dalam diri kami. Semoga karena bantuan Roh-Mu kami mewujudkan rahmat kebangkitan dalam hidup kami sehari-hari. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin


Syukur Atas Pengampunan

Allah yang maharahim, Engkau tidak menghendaki kematian orang berdosa.
Sebaliknya Engkau menghendaki supaya kami bertobat dan hidup.
Maka engkau mengundang orang berdosa supaya bertobat,
dan kepada kami yang bertobat Engkau melimpahkan pengampunan.

Kesalahan kami Engkau hapuskan, dan dosa kami tidak Kau ingat lagi.
(Amin)

Terima kasih, ya Allah, atas pengampunan yang Kau berikan kepada kami.
Semoga sukacita di surga karena satu orang berdosa bertobat juga menjadi sukacita kami.
Semoga sukacita pengampunan ini,
mendorong kami selalu hidup rukun dan damai dengan seluruh umat-Mu.

Ya Allah, perkenankanlah kini kami pergi dalam damai,
dan selalu ingat akan sabda Putra-Mu
yang menghendaki kami tidak berbuat dosa lagi.
(Amin)


Ratu Surga

(Di doakan pada jam 6.00,12.00,15.00 di Masa Paskah)

Ratu surga bersukacitalah, Alleluya, Sebab Ia yang sudi kau kandung, Alleluya
Telah bangkit seperti disabdakan-Nya, Alleluya Doakanlah kami pada Allah, Alleluya !

Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya, Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya Marilah berdoa. (Hening)

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu,Tuhan kami Yesus Kristus.
Kami mohon; perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama bunda-Nya, Perawan Maria.

Demi Kristus, pengantara kami. Amin.