Pekan Suci.. tidak meriah?


cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy.jpgHari minggu kemarin tanggal 13 April 2014, yaitu Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci. Umat Gereja Katolik disibukkan dengan rangkaian persiapan untuk merayakan puncak pekan suci yaitu pada 7 hari kemudian: Minggu Paskah. 5 (lima) rangkaian perayaan khusus pada pekan suci dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Dilihat dari kemeriahan yang nanti pada puncaknya yaitu pada hari Minggu Paskah, atau hari raya Paskah, terkadang bagi teman-teman kita yang bukan non-katolik mengira bahwa hari raya Paskah tidak semeriah natal, karena cenderung terkesan ‘berkabung’.

Ya memang seperti itu kesannya… tapi kita dapat menjawab hari raya Paskah tidak kalah meriahnya dengan hari raya Natal, lebih tepatnya meriah pada hari Minggu Paskah, atau lebih terarah lagi dengan memberi tambahan “Yesus Kristus Bangkit!”.  Namun hari sebelum hari Minggu Paskah yang meriah itu, umat katolik menjalani rangkaian perayaan yang mungkin ‘membingungkan’ bagi teman-teman kita yang non-katolik, apalagi kalau sampai mereka melihat cambuk dan mahkota duri. :)

Coba saja bayangkan apa kira-kira yang mereka amati sepanjang pekan suci ini? Dimulai pada hari Minggu Palma (awal pekan suci) dimana umat yang melambai-lambaikan daun palma bersorak-sorai ‘hosana’ menyambut Yesus sang Raja, mesias yang dinantikan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dan setelah itu umat mengikuti perayaan perjamuan kudus bersama Yesus, dan Yesus membasuh kaki umat-Nya, namun setelah itu umat-Nya tiba-tiba menyelinap meninggalkan perjamuan kudus itu dan mengkhianati Yesus. Kemudian beberapa umat yang mengambil peran dalam jalan salib yang berteriak ‘Salibkan DIA!’, meminta kepada Pilatus agar menyalibkan Yesus. (huh? kok? …). Yesus yang meminta umat-Nya agar tetap tinggal bersama DIA, umat-Nya awalnya berjanji akan setia, tapi umat-Nya ada yang meninggalkan DIA. Yesus ditahan dan didera, Yesus mengampuni umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia, dan umat-Nya lari bersembunyi karena takut bernasib sama. Kemudian Yesus dibunuh, disalibkan – umat-Nya menurunkan Yesus dari salib dan menguburkan-Nya, sambil menangis sedih. Kemudian hari berikutnya umat-Nya kembali mengunjungi kuburnya, namun Yesus tidak ada di dalam kubur. Kemudian Yesus kembali, menampakan diri-Nya kepada umat-Nya dan kemudian… ternyata Yesus Kristus Bangkit dari mati!

Dari gambaran yang coba kita bayangkan itu, maka tidak lah heran bahwa begitu banyak persiapan, dan bacaan, dan lagu, dan pergantian kostum, untuk mengisahkan kejadian itu. Maka tidak heran juga kalau ada yang mengatakan bahwa perayaan Pekan Suci dapat berkesan seperti simbolis dan retorika belaka. Itu juga belum menyinggung soal tali cambuk yang dipegang oleh umat yang berperan sebagai tentara romawi sewaktu mendera Yesus, mahkota duri, jubah yang sobek, pantang dan puasa, ratapan-ratapan, dan nyanyian luapan kegembiraan. Sangat kompleks dan padat. Sangat kontras dengan teman-teman kita yang non-katolik tapi juga merayakan Paskah, dengan membawa tema Kelinci Paskah. :)

Semua rangkaian perayaan panjang dan rumit dalam Pekan Suci itu memberikan banyak hal, dan yang mendasari semua perayaan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus lah yang selalu menggerakkan semua hati umat untuk mau berkumpul bersama-sama – untuk menjadi saksi Kristus, untuk menerima Kristus, dan untuk menjadi Kristus.

Umat menjadi saksi Kristus dalam nyanyian dan kisah sepanjang Pekan Suci. Pada Minggu Palma, umat berkumpul di luar ruangan, di tengah jalan raya, berarak-arak sambil melambaikan daun Palma. (walaupun tidak jarang banyak umat yang merasa agak sungkan, malu, karena dianggap aneh.. )

Umat juga menerima Kristus sepanjang Pekan Suci – bahkan ketika ada jiwa umat yang sedang sakit penuh dengan dosa atau hati umat yang penuh kesedihan berusaha menolak Kristus agar menjauh.

Dan umat juga menjadi Kristus. Kita mengenal perkataan “terberkatilah yang datang atas nama Tuhan”. Setelah umat menerima Kristus, seperti seorang hamba menerima segala sesuatu dari sang Raja; – darah-Nya, tubuh-Nya, jiwa-Nya, roti dan anggur dari DIA diserahkan kepada umat-Nya. Kita mengampuni diri kita sendiri dan sesama, kita melayani, dan masuk ke dalam dan ikut memikul penderitaan-Nya; kita sebagai umat-Nya menawarkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama kita agar kita dapat siap mati dan lahir kembali bersama Kristus.

Oleh karena itu tidaklah mungkin memuatkan semua misteri itu dalam satu kartu ucapan ‘Selamat Pekan Suci’ atau ‘Selamat Paskah’ seperti dalam kartu ucapan ‘Selamat Natal’; tidak ada cara yang ‘cukup’ untuk menyampaikan besarnya Sengsara yang telah dilalui, Kasih, dan Pengorbanan Yesus Kristus, bahkan rangkaian Pekan Suci yang kita lakukan, sepanjang satu minggu, lengkap dengan liturgi yang rumit. Namun dengan adanya Minggu Palma kita mendapat kesempatan untuk sekali lagi menjadi saksi Kristus, menerima Kristus, dan menjadi Kristus. Kapan saja dan dimana saja kita menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, entah ketika kita sedang berjalan di bawah terik matahari, di saat kita sedang benar-benar merasa tenggelam, terduduk berjam-jam dalam merenung dan gundah di tepi tempat tidur kita; atau ketika kita sedang bergembira dengan kelahiran bayi atau sedang berduka atas kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak pernah sendiri, ada Yesus Kristus yang telah melalui semua itu dan DIA lakukan untuk kita. Yesus Kristus menarik kita lebih dekat satu sama lain, lebih dekat kepada Allah, dan lebih dekat, selalu, Paskah.

Salam

Rabu Abu di dalam Gereja Katolik


Rabu Abu: Hari Pertama masa pra-Paskah.

Di dalam Gereja Katolik, Rabu Abu adalah hari pertama dimulainya masa pra-Paskah (dalam bahasa inggris: Lent), yaitu masa persiapan menyambut hari raya Paskah, hari Kebangkitan Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah. (dalam tradisi Gereja Katolik ritus Timur, masa pra-Paskah dimulai lebih awal 2 hari yaitu hari senin – Clean Monday).

Rabu Abu selalu diperingati pada 46 hari sebelum Paskah. Karena Paskah selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, maka begitu juga dengan hari Rabu Abu. Walaupun hari Rabu Abu bukanlah hari raya yang wajib bagi umat Katolik, namun Gereja Katolik sangat mendorong umatnya untuk mau menghadiri misa pada hari Rabu Abu agar menandai dimulainya pekan suci pra-Paskah.

Pembagian, Pemberian Abu:

Dalam misa Rabu Abu, abu diberikan kepada umat. Abu tersebut diperoleh dari hasil pembakaran daun palem yang telah diberkati dan dibagikan pada minggu palma pada 1 tahun sebelumnya; banyak Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia meminta umatnya untuk mengembalikan daun palem yang dibawa pulang ke rumah, daun palem yang sudah mengering agar dapat dibakar dan dijadikan Abu.

Abu itu pada misa Rabu Abu setelah diberkati oleh Pastor dan diperciki dengan air suci, para umat diperbolehkan untuk maju menerima Abu. Pastor mencelupkan ibu-jari ke dalam abu dan memberikan abu tersebut dengan tanda salib pada setiap dahi umat, seraya berkata: “Ingatlah, manusia dari abu kembali menjadi abu, dari debu kembali menjadi debu” (atau ungkapan sejenisnya yang mirip).

Hari Tobat:

Pemberian Abu mengingatkan kita mortalitas (hidup duniawi yang akan berakhir nanti) kita, dan mengajak kita untuk bertobat. Pada masa Gereja awal, Rabu Abu adalah hari yang diperuntukkan bagi para pendosa dan orang-orang yang ingin kembali ke pangkuan Gereja, untuk memulai pertapaan sebagai wujud penyesalan dan tanda tobat. Abu yang kita terima merupakan pengingat akan kedosaan kita, dan banyak umat Katolik yang membiarkan tanda salib dari Abu di dahi kepala mereka sebagai tanda kerendahan hati.

Berpuasa dan berpantang diperlukan:

Gereja Katolik menekankan bahwa pentingnya bentuk penyesalan akan dosa kita nyatakan juga dengan puasa dan berpantang memakan daging. Umat Katolik yang berumur 18 tahun hingga 60 diminta untuk berpuasa, yaitu mereka hanya boleh makan malam dengan lengkap (minus daging) dan hanya 2 porsi yang sedikit pada pagi dan siang hari; dan tidak boleh ada makanan lain selain dari pada itu. Dan bagi umat di atas umur 14 tahun untuk menahan diri untuk memakan daging, atau makanan yang mengandung daging pada hari Rabu Abu.

Mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita:

Berpuasa dan berpantang bukanlah bentuk sederhana dari penyesalan akan dosa kita, namun; keduanya mengajak kita untuk mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita. Dengan masa pra-Paskah, kita seharusnya memberi suatu poin yang perlu kita capai sebelum hari raya Paskah tiba, dan kita memutuskan bagaimana kita akan mencapainya – sebagai contoh: dengan pergi setiap hari jika ada misa jika kita dapat dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa lebih sering.

Mengapa orang Katolik membuat abu di dahi ketika Rabu Abu?


Ash-Wednesday‘Maaf, mengapa ada kotoran abu di dahi kepala kamu?’

Pertanyaan ini mungkin pernah ditanyakan oleh teman-teman kita yang non-Katolik, ketika rabu abu, awal pra-Paskah setiap tahun. Pertanyaan ini mungkin muncul karena rasa ingin tau teman kita, dan bagi kita pertanyaan ini kesempatan kita untuk menjadi ‘pewarta kecil’ dalam memperkenalkan sosok yang terpenting dalam hidup kita: Yesus Kristus.

Lalu jawaban apa yang akan kita katakan mengenai abu di dahi kita?

yang pasti bukan menjawab seperti di bawah ini:

Mama yang suruh saya ke Gereja untuk mendapatkan tanda ini. Saya tidak tau apa artinya tanda ini. (ketidak-pedulian)

Saya sedang protes kebiasaan mandi dengan shower adalah pemborosan air. Hari ini abu, besok lumpur (sarkastik)

Saya sedang menutup jerawat agar tidak kelihatan. Apakah jerawatnya masih kelihatan? (konyol)

Lebih baik kotor di luar daripada kotor di dalam (praktis tapi tidak tepat)

Sebaiknya kita memberi jawaban yang baik seperti:

1. Secara Kitab Suci:

Ada lebih dari 40-an ayat di Kitab Suci yang berhubungan dengan abu mengenai kesedihan dan kedukaan. Dalam Perjanjian Lama, orang pada saat itu menggunakan abu sebagai tanda pertobatan. Lihat kitab Daniel 9:3-6 sebagai contoh.

Rabu Abu adalah hari pertama masa pra-Paskah, saat dimana kita berhenti sejenak dan mengenakan abu di dahi tanda bahwa kita sedang memperbaharui kesadaran hidup kita berjalan bersama Allah. Masa pra-Paskah membantu kita mengenali kembali area spiritual tempat dimana kita dapat berkembang, dan area kedosaan mana yang harus kita jauhi. Untuk bertobat, sederhananya adalah berpaling dari dosa dan mengarah kepada Allah. Kita menggunakan abu sebagai ekspresi bahwa kita perlu memperbaharui kembali iman kita.

2. Secara Tradisi Gereja:

Abu adalah simbol kematian jasmani, fisik, seperti ‘abu menjadi abu, debu menjadi debu’. Kita diciptakan dari debu (eksistensi kita yang tidak ada sukacita dan hidup), dan akan kembali menjadi debu, hingga nanti kita dibangkitkan oleh Kristus. Dengan mengenakan abu di dahi dan berani membiarkan abu itu di dahi, kita menyatakan secara terbuka niat kita untuk mati terhadap keinginan duniawi dan lebih hidup dalam gambaran Kristus, dimana kita berfokus dalam masa pra-Paskah ini, masa kelahiran kita kembali (Lent, istilah Latin yang bermakna ‘bersemi kembali’).

3. Secara Historis:

Sudah lebih dari seribu dua ratus tahun, para pengikut, umat yang beriman melakukan hari rabu abu (dies cinerum), maju mendekati altar dan menerima abu di dahi mereka. Abu tersebut berasal dari daun palem yang dibakar, daun palem yang telah diberkati pada minggu palma tahun sebelumnya.

Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan dan pertapaan dapat ditelusuri prakteknya hingga masa lampau di dunia. Pada hari rabu abu, umat Katolik menerima abu dengan tanda salib di dahi mereka.

4. Secara simbolik:

Allah menciptakan adam dari ‘debu’ , dapat kita baca di kitab Kejadian 2:7. Dan ada juga kisah dimana Yesus menyembuhkan orang buta dengan mengoleskan tanah kepada mata orang buta, dapat kita baca di kitab Yohanes 9:6. Kita menandai diri kita dengan abu sebagai permulaan masa pra-Paskah, masa ‘bersemi-kembali’, menyambut hidup Yesus Kristus untuk memperbaharui dan menyempurnakan kita kembali.

5. Secara umum:

Jawaban yang mungkin paling umum, baik, mudah, dan bermakna untuk pertanyaan ‘mengapa Abu di dahi saya?’ adalah: Saya adalah orang berdosa. Saya tidak selalu mengasihi Allah, tidak segenap kemampuan saya, tidak selalu dengan hati saya, tidak seperti yang seharusnya saya lakukan. Rabu abu mengingatkan saya bahwa melalui Allah lah saya memperoleh hidup; Dia memberikan hidup kepada saya.

Rabu abu juga merupakan awal persiapan bagi saya untuk menyambut Pekan Suci, Jalan Salib, dan Kebangkitan Yesus Kristus. Karena Dia lah saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kehidupan kekal di Surga. Rabu abu adalah kesempatan baik untuk saya menjadi lebih baik. Terima kasih telah bertanya :)

Allah mengampuni. Dia mengasihi. Dia selalu memberikan kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat. Salam.

Arti dari Kebangkitan


Apa artinya mempercayai bahwa Yesus “bangkit dari mati”? Salah satunya pengertian yang pasti adalah, bahwa siapa yang mengikuti Dia akan mengalami hal yang sama. Kitab Perjanjian Baru jelas memuat hal itu (lihat, contoh, 1 Korintus 15:12-23.).

Tetapi apa arti dari kata-kata itu? Di satu sisi, kata-kata itu berarti sangat sederhana: Yesus bangkit “dari mati” (atau dengan kata lain, “dari jenazah”, tubuh yang telah mati). Kata-kata yang terdapat di dalam kredo (syahadat) pada masa awal adalah anastasis sarkos dan  anastasis nekron, yang artinya “berdirinya [atau bangunnya] daging” dan “berdirinya tubuh jenazah”. Kedua ekspresi tersebut berusaha menyatakan kenyataan sebisanya. Anastasis merupakan kata untuk merujuk postur badan. Sarkos dan nekron berarti bahwa tubuh yang nyata secara konkrit dari yang telah mati akan bangkit.

Namun muncul pertanyaan yang tidak sederhana; Jenis badan/tubuh yang bagaimana yang dimaksud dalam kebangkitan badan? Kebangkitan badan Yesus menunjukkan bukti yang sangat lain, bagi para muridnya dan teman-teman dekat Yesus pada awalnya mereka tidak mengenali Yesus yang tampak dengan badan yang telah bangkit, tetapi kemudian mengenali setelah Yesus menyatakan kepada mereka. Paulus mengemukakan analogi untuk menjelaskan ini, walaupun tidak dapat menghilangkan misteri yang terkandung. Pada 1 Korintus 15, Paulus menganalogikan tubuh (badan) baru kita, seperti tubuh baru Yesus, adalah berbeda dengan tubuh yang lama yang kita miliki, perbedaan itu layaknya seperti matahari berbeda dengan bulan, hewan berbeda dengan tumbuhan, tumbuhan berbeda dengan benih. Bentuk baru tersebut tidak sesuai dengan kategori dari bentuk yang lama. Namun analogi ini hanya untuk persiapan bagi kita untuk menghadapi jika bentuk baru tersebut adalah karya penciptaan baru dari Allah.

Kita juga tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Yesus bangkit. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian itu secara langsung, yang ada banyak orang yang mengalami dan menyaksikan kejadian setelah Yesus yang bangkit. Tidak ada yang mengetahui teknologi bagaimana yang digunakan Allah. Dalam pengertian ini kita tidak dapat mendefiniskan Kebangkitan. Tetapi kita dapat membedakan Kebangkitan dari 10 (sepuluh) alternatif yang terkadang dapat membingungkan kita.

  1. Yesus yang bangkit bukanlah berupa roh atau hantu. Kebingungan dalam hal ini adalah hal yang pertama muncul di benak para rasul (Lukas 24:36-43). Yesus membuktikan bahwa anggapan di benak para rasul salah dengan menunjukkan luka pada tangan dan kaki-Nya yang berupa daging, dan Yesus juga ikut memakan ikan yang disediakan pada murid-Nya. Roh atau hantu tidak mempunyai wujud badan atau daging; tetapi Yesus yang telah bangkit memiliki tubuh yang nyata; oleh karena itu Yesus yang telah bangkit bukanlah hantu.
  2. Kebangkitan Yesus Kristus (Resurrection) bukanlah resusitasi (Resuscitation), bukan seperti pengembalian tidak sadar menjadi sadar, atau bukan seperti kejadian ‘kebangkitan’ Lazarus yang tertulis di Kitab Perjanjian Baru. Tubuh Lazarus yang keluar dari kuburannya adalah tubuh yang sama ketika Lazarus diantar ke dalam kuburannya. Dia masih tetap mengenakan kain kafan (Yohanes 11:44). Sedangkan kain kafan yang dikenakan Yesus, terlipat rapi di dalam kubur Yesus (Yohanes 20:6-7). Lazarus pada akhir usia tuanya akan meninggal, mati lagi. Sedangkan Yesus tidak (Roma 6:9). Lazarus mirip seperti kebanyakan pasien pada jaman sekarang yang mengalami resusitasi dan kembali sadar dari “pengalaman hampir-mati” atau “pengalaman keluar-dari-tubuh”. Apapun kejadian resusitasi tersebut, adalah bersifat sementara. Sedangkan Kebangkitan Yesus bersifat permanen, kekal, abadi.
  3. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah Reinkarnasi. Reinkarnasi mirip dengan Resusitasi, yang hanya memberikan tubuh yang lain tetapi tetap berupa tubuh  duniawi. Kebangkitan badan/tubuh Yesus adalah kekal, abadi. Tubuh yang dimaksud dalam kebangkitan adalah tubuh yang lama dan sekaligus tubuh yang lebih baru daripada tubuh Yesus ketika dibangkitkan. Tubuh Yesus disebut tubuh yang lama, karena tubuh Yesus masih dapat dikenali oleh para muridnya, dan Tubuh Yesus disebut tubuh yang baru karena tubuh tersebut abadi, kekal.
  4. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari pemahaman mengenai keabadian (immortality) oleh paham plato atau gnostik. Dimana paham plato atau gnostik memahami keabadian/kekekalan sebagai terbebasnya jiwa dari keterikatan dari tubuh. Kebangkitan Yesus bukan untuk dipahami sebagai pencapaian keabadian/kekekalan jiwa. Karena jika kebangkitan Yesus dipahami seperti demikian maka hal tersebut tidak berbeda dengan pemahaman yang sudah biasa dimiliki oleh budaya/daerah pada jaman dahulu seperti Yahudi dan Yunani; yaitu manusia dirasuki oleh suatu “jiwa” yang kemudian nantinya pada saat hidup dari manusia tersebut berakhir “jiwa” tersebut keluar dan menuju suatu dunia bayangan yang dinamakan Sheol (Yahudi) … atau Hades (Yunani) .. atau “heaven” (Budaya saat ini). Doktrin-doktrin yang dipahami oleh pada masa awal budaya Yahudi dan Yunani ini dikenal sebagai doktrin “Keabadian Jiwa” berbeda dan tidak ada hubunganya dengan kisah Kebangkitan Yesus. Kita harus memahami perbedaan pemahaman ini, bahwa Kebangkitan Yesus adalah suatu kejadian yang baru, bukti/fakta yang baru terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus lah yang disebut “buah yang pertama”, “sulung, yang bangkit dari antara orang mati”. Yesus berkuasa membuka pintu yang terkunci sejak kematian manusia yang pertama. Yesus telah bertemu, menghadapi, dan mengalahkan Maut. Dan setelah kemenangan Yesus itu, semua menjadi berbeda karena Dia telah melakukannya.
  5. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Penerangan Jiwa (Enlightenment), atau Nirvana, atau satori, atau moksha — hal-hal serupa yang dikenal dalam agama Hindu atau Budha sebagai hal yang diharapkan sesudah kematian: yaitu hilangnya pribadi individu dan suatu penyerapan kembali ke dalam yang Satu, sang Semesta. Sedangkan Yesus yang telah bangkit adalah individu yang benar-benar berbeda.
  6. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari ‘perpindahan’, ‘pengangkatan’, atau ‘penerimaan’ ke dalam surga. Perpindahan, pengangkatan, dan penerimaan ke dalam surga dalam perjanjian lama terjadi pada nabi Henokh (kakek buyut nabi Nuh), Elia, dan Musa. Gereja Katolik mempercayai hal ini juga terjadi pada Maria ibu Yesus, Maria diangkat ke dalam surga. Tetapi Yesus bukanlah dibawa dari bumi ke surga dengan Kebangkitan-Nya, melainkan dari dunia orang mati Dia kembali ke dunia, dunia orang hidup.
  7. Kebangkitan Yesus Kristus dibedakan dari sebuah ‘pandangan’, ‘penglihatan’ (vision, pengalaman spiritual). Walaupun suatu penglihatan yang diadakan oleh Allah, atau oleh alam bawah sadar kita sendiri, atau oleh roh jahat, sebuah penglihatan pada prinsipnya tetaplah bersifat spiritual dan subjektif; yaitu berada di dalam kesadaran kita sendiri. Tetapi yang terjadi pada Kebangkitan Yesus bukanlah suatu ‘pandangan’ atau ‘penglihatan’, Kebangkitan Badan Yesus telah disaksikan oleh orang-orang banyak, secara terbuka, pada saat yang sama. Bahkan Yesus dapat disentuh dan makan bersama dengan murid-muridnya.
  8. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Legenda. Legenda, walaupun ada bobot nilai kebijaksanaan di dalamnya, adalah tetap suatu fiksi belaka (tidak nyata) yang dibuat oleh pikiran manusia biasa, bukan oleh Allah, dan bukan oleh alam.
  9. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah mitos. JIka kita ingin membedakan mitos dengan legenda, kita dapat menganggap mitos secara simbolik adalah benar. Sebagai contoh, ada suatu agama di Timur Dekat (kawasan Levant atau Sham, Anatolia, Mesopotamia, dan Plato Iran) yang mempercayai adanya banyak dewa gandum, dewa jagung, dan dewa buah-buahan lainnya yang bangkit dari kematian setiap musim semi. Dewa-dewa ini tidak ada sebenarnya, tetapi kehidupan baru buah yang baru benar-benar ada. Dan jika dihubungkan dengan kisah Kebangkitan Yesus, kelihatannya mirip dan pemikiran yang keliru ini dapat menarik kesimpulan bahwa Kebangkitan Yesus juga adalah mitos. Tetapi Kebangkitan Yesus yang sebenarnya tidaklah mirip dengan mitos. Kebangkitan Yesus punya poin-poin penekanan yang merupakan kenyataan, secara spesifik, benar-benar terjadi pada waktu dan tempat sejarah dan dibenarkan oleh saksi mata. Perjanjian baru secara eksplisit membedakan Kebangkitan Yesus dari mitos dan legenda: “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” (2 Petrus 1:16).Para demitolog moderen yang mengatakan bahwa mereka mempercayai Kebangkitan Yesus, tetapi hanya sebatas mitos, melakukan peniadaan klaim, mengaburkan data — sama halnya seperti jika ada orang yang mengklaim sebagai seorang Nazi, dan percaya bahwa ras Aria adalah ras yang unggul dari pemahaman mitologi sementara mereka membantah bahwa ras Aria adalah benar-benar unggul.

    Para demitolog berusaha membantah ini dengan membedakan heilsge-schichte (sejarah suci) dari yang biasanya, sejarah (sekular); dengan mengatakan bahwa Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi pada awalnya (sejarah suci), dan tidak terjadi pada sejarah (sekular). Namun usaha ini tidak memadai karena jika hal itu benar terjadi, maka hal tersebut benar-benar terjadi waktu lampu sama halnya dengan kelahiran, perang, baik hal yang buruk atau baik. Dan jika tidak benar terjadi, jangan mengatakan hal tersebut sebagai suatu istilah dengan ‘sejarah’, melainkan cukup dengan mengatakan hal tersebut adalah fiksi.

  10. Kebangkitan Yesus Kristus harus benar-benar jelas dibedakan dari apa yang dikemukakan oleh moderenis dalam baris kalimat: “kebangkitan akan iman kebangkitan” dalam hati dan kehidupan para murid. “Iman Kebangkitan ” tanpa Kebangkitan yang sebenarnya adalah suatu kontrakdiksi dan menipu diri sendiri. Iman tersebut adalah iman akan sesuatu yang tidak lebih dari iman itu sendiri. Dan jika hal itu adalah iman, maka kita perlu bertanya: Iman akan iman apa? Iman itu seperti pengetahuan; perlu suatu objek. Jika tidak ada objek, dan hanya iman akan iman itu saja; maka iman itu seperti cermin yang memantulkan cermin yang dihadapannya. Iman dalam iman adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak normal. Sama seperti ingin merasakan daging ayam tanpa memakan daging ayam. Para murid tidak dapat mengalami kebangkitan iman dan harapan tanpa suatu kebangkitan yang nyata. Oleh karena itu, Jika bukan karena Kebangkitan Yesus, lalu siapa yang merubah para murid dari takut jadi pemberani dan mengubah dunia?