Krisma

Menurut buku liturgi, “proses inisiasi Kristen dilanjutkan dalam sakramen krisma. Dalam sakramen krisma itu orang beriman menerima Roh Kudus yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Berkat anugerah Roh Kudus ini, orang beriman menjadi lebih serupa dengan Kristus dan dikuatkan untuk memberi kesaksian tentang Kristus, demi pembangunan tubuh-Nya dalam iman dan cinta kasih”. Di sini terletak kesulitan sakramen krisma: Roh Kudus itu sudah diterima dalam pembaptisan, yang merupakan kelahiran kembali dari air dan Roh (lih. Yoh 3:6; Kis 2:38).

Peristiwa Paska dan Pentekosta

Perlu diperhatikan bahwa dalam sakramen Krisma orang beriman “diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa” (LG 11). Keistimewaan itu ditunjuk dengan pengkhususan Roh Kudus, yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Pembaptisan dan Krisma dibedakan (dan berhubungan!) seperti Paska dan Pentekosta. Pada hari Paska, Allah “membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga” (Ef 1:20). Kemudian pada hari Pentekosta, Kristus “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka mencurahkan-Nya” kepada para rasul (Kis 2:33) dengan tujuan agar “kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Paska berarti Yesus dengan ke-manusiaan-Nya masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Pentekosta berarti Roh Kudus, “yang keluar dari Bapa” (Yoh 15:27), diutus ke dalam dunia.

“Perbedaan arah” ini juga kentara dalam kedua kisah mengenai kenaikan Yesus ke surga. Pada akhir Injilnya Lukas menceriterakan bagaimana Yesus “memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51). Sebaliknya pada awal Kisah Para Rasul dikatakan: “Kamu akan menjadi saksi-Ku. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9). Masih ditambahkan teguran dua malaikat: “Hai orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis 1:11). Mereka diutus ke dunia, maka harus melihat ke depan, tidak ke atas.

Begitu juga dengan Pembaptisan dan Krisma. Pembaptisan, yang disebut “pintu” (LG 11) untuk “masuk menjadi anggota umat Allah” (PO 5), mengarah ke dalam. Sebaliknya Krisma, yang mewajibkan orang “menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati” (LG 11), mengarah ke luar. Tentu saja “dengan baptis dan penguatan/krisma orang ditugaskan untuk kerasulan” (LG 33; lih. AG 36). Dengan demikian, kelihatan bahwa inisiasi merupakan proses: masuk kemudian diutus. Tentu saja, seseorang tidak masuk Gereja untuk “mapan” di situ, melainkan supaya diutus. Oleh karena itu kedua sakramen bersama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam arti penuh. Tetapi karena arahnya yang berbeda, kedua sakramen ini pantas dibedakan,

Pembaptisan dan Krisma

Dalam buku Inisiasi Kristen dikatakan bahwa ketiga sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi) sebaiknya dirayakan bersama-sama dalam satu upacara, sedapat-dapatnya pada malam Paska. Namun upacara Krisma boleh juga dirayakan pada akhir masa mistagogi (pengantar ke dalam praktik kehidupan Kristiani), misalnya pada hari raya Pentekosta. Ketetapan ini bukan hanya perkara praktis atau soal pembagian waktu. Masalah satu atau dua upacara mencerminkan sejarah upacara Krisma, yang masih dapat dilihat pada upacara sekarang. Di atas sudah dikatakan bahwa baptisan baru, sesudah pembaptisan, diurapi. Itu sudah menjadi kebiasaan kuno, barangkali mulai abad ketiga. Tetapi ditetapkan bahwa pengurapan itu hanya dilakukan “jika tidak mungkin sakramen Krisma dirayakan dalam upacara ini”. Rupa-rupanya ada hubungan antara pengurapan sesudah pembaptisan dan sakramen Krisma. Sejarah ini tidak seluruhnya jelas.

Semula memang seluruh upacara inisiasi dilakukan oleh uskup (sebab pada waktu itu hampir setiap “paroki” dikepalai oleh seorang uskup). Dalam abad-abad berikut tetap ada pengurapan oleh uskup, yang disebut Krisma, tetapi juga ada pengurapan oleh imam (atau petugas lain) langsung sesudah pembaptisan. Krisma dipandang sebagai sakramen, sedangkan pengurapan oleh imam merupakan sakramentali. Ketika semua itu masih dilakukan oleh uskup, terang ada satu upacara, dan juga dipandang sebagai satu sakramen, yakni sakramen inisiasi. Dengan adanya dua upacara juga timbul kesadaran bahwa ada dua sakramen, yakni Baptis dan Krisma. Maka sekarang timbul pertanyaan: dua sakramen atau satu sakramen? Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, lebih-lebih karena Perjanjian Baru tidak mengenal upacara pengurapan dalam hubungan dengan pembaptisan, entah langsung sesudahnya entah lebih kemudian.

Sering kali Kis 8:14-17 (Petrus dan Yohanes yang meletakkan tangan atas orang yang baru dibaptis oleh Filipus) dan 19:1-7 (Paulus yang meletakkan tangan atas orang yang hanya menerima pembaptisan Yohanes), dilihat sebagai “awal” sakramen Krisma, karena yang melakukannya adalah rasul-rasul dan karena diberikan Roh Kudus. Tetapi barangkali harus dikatakan bahwa dengan upacara itu para rasul mau “melengkapi” pembaptisan yang telah diterima. Kalau orang yang dibaptis belum menerima Roh Kudus, pembaptisan belum lengkap. Kiranya di sini Pembaptisan dan Krisma justru tidak dibedakan.

Kesadaran ini baru muncul pada zaman Tertulianus (160-220). Bersama dengan itu berkembang terus arti Pentekosta sebagai saat Gereja mendapat perutusannya dari Tuhan yang mulia. Perkembangan dalam pemahaman akan arti perutusan itu serta penguatan khusus untuk itu oleh Roh Kudus, terungkap juga dalam liturgi inisiasi. Dua upacara dalam inisiasi memang baru dikenal sejak abad ketiga, tetapi kesadaran akan perbedaan antara Paska dan Pentekosta sudah ada dalam Kitab Suci (lih. Yoh 7:39 “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”). Menghubungkan dua tahap dalam proses kelahiran Gereja dengan proses inisiasi, baru terjadi dalam perkembangan tradisi Gereja. Tahap kedua inisiasi sekarang disebut “Krisma”, guna membedakan pengurapan itu dari pembaptisan. Kedua sakramen ini dibedakan menurut kekhususan upacaranya. Lama sekali Krisma disebut “sakramen penguatan”. Nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan upacara liturgisnya, tetapi menunjuk kepada isi dan artinya: dikuatkan untuk tampil sebagai saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun (terutama) dengan corak kehidupan.

Ajaran Gereja mengenai Ekaristi

Konsili Vatikan II tidak memberikan banyak penjelasan atau ajaran mengenai Ekaristi. Ajaran resmi Gereja mengenai Ekaristi berasal dari Konsili Trente (1545-1563), yang tidak lengkap, karena Konsili Trente menanggapi ajaran Reformasi (Protestan) yang dianggap kurang sesuai. Konsili Trente hanya berbicara mengenai dua hal saja, yakni kehadiran Kristus dalam Ekaristi, khususnya dalam rupa roti dan anggur, dan mengenai Ekaristi sebagai kurban.

Ajaran Trente mengenai kehadiran Kristus dalam Ekaristi berbunyi: “Dalam sakramen Ekaristi yang mahakudus ada secara sungguh, riil dan substansial, tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus, bersama dengan jiwa dan keallahan-Nya, jadi seluruh Kristus”. Tidak “tinggal substansi roti-dan-anggur bersama dengan tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus”, sebab tubuh dan darah Kristus hadir karena “perubahan seluruh substansi roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah, sedang yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, ialah perubahan yang oleh Gereja Katolik dengan tepat disebut trans-substansiatio” (DS 1651-2).

Ajarannya mengenai kurban: “Dalam Misa dipersembahkan kepada Allah kurban sungguh-sungguh dalam arti yang sebenarnya”. Maka kurban itu bukan “hanya kurban pujian dan syukur, atau semata-mata pengenangan saja akan kurban salib”, tetapi “kurban pelunas sendiri” (DS 1751; 1753).

Konsili Vatikan II sedikit banyak melengkapi keterbatasan rumusan Trente ini:

Dalam perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban ekaristis tubuh dan darah-Nya, untuk melangsungkan kurban salib selama peredaran abad sampai Ia datang kembali. Dengan demikian Ia mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang tercinta, pengenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya; sakramen kasih sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta-kasih, perjamuan Paska, di mana Kristus disantap, jiwa dipenuhi rahmat, dan diberikan jaminan kemuliaan kelak (SC 47).

Ajaran ini, khususnya mengenai kurban, diulangi lagi dalam LG 28 (lih. juga LG 3; SC 2). Tetapi untuk menghindari salah paham mengenai hubungan antara kurban salib dan kurban Ekaristi diberikan penjelasan ini: “Kurban Misa menghadirkan serta menerapkan satu-satunya kurban Perjanjian Baru, yakni kurban Kristus, yang mempersembahkan diri satu kali sebagai kurban tak bernoda kepada Bapa (lih. Ibr 9:11-28)”. Memang dinyatakan bahwa ada kurban, tetapi kurban itu satu dan sama dengan kurban salib.

Tindakan pengenangan menjelaskan hal itu. “Setiap kali perjamuan Tuhan disantap, wafat Tuhan diwartakan” (SC 6; lih. PO 4). Itulah disebut “merayakan misteri Paska” (lih. CD 15). Pewartaan sakramental itu tidak hanya memaklumkan misteri Paska, tetapi juga menghayatinya. Inilah kekhususan Ekaristi sebagai sakramen, “Melalui sabda yang diwartakan dan perayaan sakramen, yang pusat dan puncaknya adalah Ekaristi mahakudus, Gereja membuat Kristus, sumber keselamatan, menjadi hadir” (AG 9). Sabda yang diwartakan adalah ungkapan iman dalam rangka komunikasi iman. Sabda mempersatukan orang dengan Kristus dan membuat Kristus, lebih khusus kurban Kristus, menjadi nyata kembali.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II juga mempunyai pengertian yang lebih luas mengenai kehadiran Kristus. Hal itu dengan jelas dirumuskan dalam Konstitusi mengenai Liturgi: “Kristus hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, maupun terutama dalam rupa Ekaristi (roti dan anggur). Ia hadir oleh kekuatan-Nya, Ia hadir dalam sabda-Nya. Akhirnya Ia hadir bila Gereja bermohon dan bermazmur” (SC 7). Kehadiran Kristus tidak terbatas pada roti dan anggur saja. Bahkan kehadiran-Nya dalam rupa Ekaristi itu tidak disebut yang paling pertama. Kristus hadir dalam Gereja, dalam perayaan Gereja dan dalam semua peserta perayaan itu. Akhirnya, Ia hadir pula dalam apa yang boleh disebut “alat penghubung” dalam perayaan itu, yakni roti dan anggur. Perlu dicatat pula bahwa roti dan anggur “diubah menjadi tubuh dan darah mulia” (GS 38).

Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur bukan dalam keadaan seperti dahulu di Palestina. Ia hadir dalam kemuliaan surgawi-Nya. Maka Kristus “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Kehadiran Kristus berarti kehadiran misteri Paska, yaitu “misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, tetapi teristimewa dalam perayaan liturgi” (SC 35). Oleh karena itu komuni juga mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya menyambut tubuh dan darah Kristus. “Komuni” berasal dari kata Latin communio yang berarti “kesatuan”. Bukan hanya kesatuan dengan Kristus dalam rupa roti dan anggur, melainkan juga kesatuan dengan jemaat. Bahkan “komuni” pertama-tama berarti kesatuan dengan perayaan, yang pusatnya adalah Doa Syukur Agung. Dalam hal ini tetap dipertahankan kerangka perjamuan Yahudi, yakni para hadirin mengambil bagian dalam doa yang dibawakan oleh pemimpin dengan cara makan roti dan minum dari piala. Dalam Ekaristi kesatuan dengan doa itu berarti kesatuan dengan Kristus, yang dijumpai melalui iman Gereja yang terungkap dalam Doa Syukur Agung.

Dengan demikian, perayaan Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja, bukan pengungkapan iman satu orang saja. Mengambil bagian dalam perayaan sama dengan partisipasi dalam jemaat. Komuni juga mempunyai arti eklesial atau gerejawi, dan justru segi itulah yang amat ditekankan oleh Konsili Vatikan II. Ekaristi “melambangkan serta memperbuahkan kesatuan Gereja” (UR 2); “dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman” (LG 3). Oleh karena itu Konsili juga amat mementingkan partisipasi aktif umat dalam perayaan itu sendiri: “Orang beriman harus yakin bahwa penampilan Gereja terutama terletak dalam peran-serta penuh dan aktif seluruh umat” (SC 41; lih juga 30 dan 48).